if99.net

IF99 ITB

Archive for December, 2012

Fenomena “Silverman” di Perempatan Jalan Kota Bandung

without comments

Beberapa bulan belakangan ini warga kota Bandung sering melihat orang-orang berwarna perak (silverman) mencari sumbangan di perempatan jalan. Seluruh tubuh mereka, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, dicat dengan cat semprot warna perak (silver), hanya mata saja yang tersisa berwarna hitam. Mereka hanya menggunakan celana pendek saja, sehingga tubuh mereka yang kurus tampak terlihat dengan jelas tulang dadanya yang menonjol.

Manusa perak di perempatan jalan.

Manusa perak di perempatan jalan.

Manusia perak itu membawa sebuah kotak sumbangan dari kardus bekas yang bertuliskan “Peduli Yatim Piatu”. Kotak kardus itu juga ikut dicat perak. Mereka bergerilya di perempatan jalan untuk “mengemis” kepada para pengguna jalan –yang katanya– uang itu untuk disumbangkan kepada anak yatim piatu. Mungkin dengan tampil berwarna perak itu mereka berharap menarik perhatian orang-orang.

Manusia perak sedang menunggu lampu berwarna merah.

Manusia perak sedang menunggu lampu berwarna merah.

(Kedua foto di atas diambil dari akun fesbuk Abdul Wahid Abdullah)

Pada mulanya jumlah manusia perak ini sedikit. Pertama kali saya menemukan mereka di Jalan Dago, tetapi sekarang jumlahnya semakin banyak saja. Sepertinya ada pihak yang mengkoordinir mereka, sebab saya pernah melihat mereka dibawa oleh sebuah mobil bak terbuka, mungkin diturunkan di beberapa perempatan jalan strategis di kota Bandung.

Kalau saya amati, sangat jarang pengguna jalan (pengemudi mobil atau motor) melemparkan uang ke dalam kardus itu. Mungkin banyak pengguna jalan meragukan kebenarannya. Apa betul uang yang dikumpulkan mereka itu untuk disumbangkan kepada panti asuhan atau anak yatim piatu? Kalau iya, panti asuhan mana? Di kardus bekas itu tidak ada (atau ada tetapi tidak terbaca dengan jelas?) tulisan nama lembaga atau panti asuhan yang meminta sumbangan. Saya juga tidak tahu siapa atau lembaga apa yang mengkoordinir para silverman ini.

Saya tidak habis pikir dengan manusia perak itu. Mereka rela dicat seluruh tubuhnya dengan cat semprot lalu berpanas-panas ria di tengah jalan dari pagi sampai sore. Saya pikir “pengorbanan” mereka itu tidak gratis, mungkin mereka mendapat bayaran atu komisi dari uang yang berhasil dikumpulkan sehingga mau “mengemis” dengan cara begitu.

Saya tidak tahu apakah ini cara mengemis model baru. Kalau untuk mengumpulkan sumbangan buat yatim piatu tentu ada cara yang lebih pantas, bukan dengan meminta-minta seperti itu. Di toko-toko swalayan sering kita temui kotak amal dari lembaga yatim, masjid, atau panti asuhan. Jelas lagi dari lembaga mana yang mengedarkan kotak amal itu. Nah, kalau yang model begini saya kira lebih pantas daripada mdoel silverman yang berkeliaran di jalan-jalan. Kalau memang ebnar para silverman itu disuruh oleh lembaga yatim piatu tertentu, saya sangat menyayangkan cara mencari sumbangan yang tidak simpatik seperti ini.

Namun, Satpol PP di kota Bandung menganggap para silverman ini merusak keindahan dan kenyamanan kota. Dua minggu lalu dalam suatu operasi razia, para pengemis, pengamen, dan silverman ini terjaring operasi razia dan diangkut oleh Satpol PP dengan mobil bak terbuka, entah kemana.


Written by rinaldimunir

December 28th, 2012 at 2:46 pm

Posted in Seputar Bandung

Aceng

without comments

Gara-gara perilaku Bupati Garut, Aceng Fikri, orang-orang Garut di perantauan terkena imbasnya. Jika mereka ditanya asalnya darimana dan dijawab dari Garut, maka orang-orang langsung tertawa dan mengatakan: Aceng ya? Seolah-olah semua orang Garut kelakuannya seperti Aceng Fikri, padahal tentu saja tidak benar demikian. Orang seperti Aceng Fikri yang memanfaatkan kekuasaan (baca: uang) untuk berbuat semaunya (termasuk urusan seksual, maaf) tentu ada di mana-mana, tidak hanya di Garut. Pejabat yang kawin siri, nikah diam-diam, punya simpanan WIL, sudah tidak terhitung jumlah kasusnya di tanah air kita.

Dalam bahasa Sunda, “Aceng” artinya anak laki-laki. Bukan salah orang Sunda memberi nama Aceng kepada anaknya. Nama Aceng tentu mempunyai makna kebahagiaan, sebab ia mungkin anak laki-laki pertama di dalam keluarga Sunda sehingga diberi nama Aceng. Saya punya mahasiswa asal Garut yang namanya juga Aceng, tetapi sikapnya santun seperti tipikal orang Sunda umumnya, baik, dan sopan. Ketika Aceng Fikri menjadi sorotan nasional dan nama Aceng menjadi tiba-tiba menjadi guyonan orang-orang, saya merasakan mahasiswa saya yang bernama Aceng itu ikut tertunduk malu, seolah-olah dia memikul beban karena menyandang nama Aceng, seolah-olah semua orang Garut mempunyai perilaku seperti Aceng Fikri. Ibarat nila setitik, rusak susu sebelanga, begitu kata peribahasa untuk menggambarkan masyarakat Garut sekarang ini.

DPRD Garut sudah membuat keputusan untuk melengserkan Aceng Fikri. Sekarang semua orang menunggu keputusan MA untuk menelaah keputusan DPRD, sebelum akhirnya Pemerintah (dalam hal ini Mendagri) memberhentikan Aceng Fikri sebagai Bupati Garut.

Namun, Aceng Fikri tidak tinggal diam. Dia melakukan perlawanan dengan mem-PTUN-kan keputusan DPRD itu. Aceng Fikri tetap merasa tidak bersalah karena menikah siri dengan Fani Oktora dan menceraikannya 4 hari kemudian via SMS. Alasan yang selalu dikemukakannya adalah bahwa apa yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan syariat agama Islam, jadi dia merasa tidak ada yang dilangar. Tentu saja yang dikatakannya tidak salah, sebab nikah dan talak yang dia lakukan memang secara hukum agama tidak ada yang dilanggar, meskipun cara dia memperlakukannya istrinya itu (cerai setelah 4 hari menikah, via SMS lagi) secara etika agama tidak dapat dibenarkan, apalagi secara etika umum juga tidak pantas karena dia memperlakukan perempuan sebagai barang, jika tidak puas lalu dicampakkan begitu saja.

Aceng Fikri boleh saja berlindung pada agama untuk membenarkan perbuatannya, namun Aceng Fikri lupa bahwa negara kita bukan negara agama, di negara kita juga berlaku hukum positif seperti UU Perkawinan dan UU Perlindungan Anak. Dalam UU itu perkawinan harus dicatat secara resmi, dan sebagai pejabat publik seharusnya dia memberi contoh teladan dengan mematuhi UU itu. Menurut UU Perlindungan Anak dia juga melanggar karena menikahi Fani yang belum genap berumur 18 tahun (di Indonesia definsi anak di bawah umur adalah berusia di bawah 18 tahun).

Sebenarnya solusi untuk masalah ini sederhana saja agar tidak berlarut-larut. Aceng Fikri sebaiknya mundur saja sebagai Bupati Garut, sebab secara moral dia sudah tercoreng, pun masyarakat Garut sudah tidak mempercayai lagi integritasnya. Bagaimana dia bisa bekerja menjalankan tugasnya jika bawahannya tidak respek kepadanya. Mungkin para bawahannya akan terpaksa belaku hormat supaya tidak dipecat, tetapi di dalam hati mereka sudah tidak respek lagi kepada Bupatinya. Cepat atau lambat dia pasti akan dilengserkan juga. Jika dia terus bertahan sebagai Bupati, maka Garut akan terus dilanda instabilitas sebab masyarakatnya akan selalu berdemo menuntut bupatinya mundur.


Written by rinaldimunir

December 27th, 2012 at 8:29 am

Posted in Indonesiaku

Menjadi Desainer di Informatika

without comments

Setiap kali memeriksa berkas ujian mahasiswa, saya sering menemukan lembar jawaban yang dicorat-coret menggunakan pulpen atau tinta. Mungkin menulisnya salah, tetapi karena ditulis pakai pulpen (pena) atau tinta maka kesalahan itu tidak bisa dihapus, maka dicoretlah dan diganti dengan tulisan yang baru. Kalau dihapus pakai tip-ex perlu menunggu kering dulu sebelum ditimpa tulisan baru, tentu tidak praktis ditengah waktu ujian yang terbatas.

Padahal saya sudah sering kali mengingatkan kepada mahasiswa agar menulis jawaban menggunakan pensil saja. Memakai pensil akan membuat lembar jawaban anda bersih, kalau salah tinggal dihapus dengan penghapus saja. Tetapi, ada alasan yang lebih esensi daripada sekedar bersih saja. Di bawah ini penjelasannya.

Mungkin anda heran mengapa saya lebih suka mahasiswa saya di Informatika ITB memakai pensil saja ketimbang pulpen atau tinta. Bagi kami, profesi di Informatika tidak ubahnya sebagai desainer. Jangan sangka desainer hanya milik orang seni atau perancang mode saja, tetapi seorang enjinir sesusungguhnya adalah seorang desainer. Seorang enjiner merancang model solusi dari proyek yang dikerjakannya, dan dalam pekerjaan merancang itu memerlukan kegiatan mensketsa bagan, diagram, perhitungan, skema, dan sebagainya. Pensil adalah alat tulis yang tepat untuk kegiatan merancang model solusi persoalan.

Secara khas, di Informatika, kegiatan mendesain itu banyak macamnya. Merancang algoritma, kode program, diagram use case, diagram kelas, data flow diagram, model entity-relationship, dan lain-lain, adalah pekerjaan seeorang desainer informatika. Pensil merupakan alat tulis yang cocok untuk kegiatan merancang seperti ini. Meskipun pekerjan merancang seperti itu sudah banyak dikerjakan menggunakan peralatan komputer (ipad, komputer tablet, dll), tetapi menggunakan alat tulis konvensionil seperti pensil dan penghapus tetap tidak bisa tergantikan keluwesannya.

Oleh karena itu, sejak menjadi mahasiswa di Informatika, saya sering membiasakan mahasiswa menjawab ujian menggunakan pensil dan penghapus saja. Dalam ujian di Informatika banyak sekali kegiatan mendesain seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Cukuplah penulisan nama, NIM, dan tanda tangan menggunakan pulpen (karena nama, NIM, dan tanda tangan sudah statik bukan?)


Written by rinaldimunir

December 25th, 2012 at 5:16 pm

Jalan-Jalan ke Pantai Purus, Padang

without comments

Tulisan ini masih merupakan catatan yang tersisa ketika saya mudik ke Padang pada akhir bulan Oktober yang lalu. Berhubung jadwal pesawat saya ke Jakarta pukul 20.30 malam, maka siang hari bersama anak saya menyempatkan jalan-jalan ke Pantai Purus.

Selama ini orang tahunya Pantai Padang yang di Muara. Duduk-duduk di pinggir pantai ini sambil menikmati sunset di sore hari sudah merupakan hal yang biasa. Namun, untuk berenang atau bermain-main di pasir pantai sudah agak susah karena bagian berpasirnya sudah semakin susut akibat terkikis ombak Samudera Hindia yang ganas. Lagipula air lautnya tidak terlalu bersih seba bercampur dengan sampah yang dialirkan oleh Sungau Batang Harau di Muara.

Nah, ada pantai yang cukup landai tidak jauh dari Pantai Padang, namanya Pantai Purus atau lebih dikenal dengan nama Danau Cimpago. Letaknya ke utara sekitar 2 km dari Pantai Padang. Sayangnya pantai Purus tidak dilalui oleh angkutan kota, jadi saya bersama anak naik ojek saja ke sana.

Pantai Purus, Padang, nan landai

Pantai Purus, Padang, nan landai

Pantainya sungguh cantik, landai, dan area pasirnya cukup luas. Banyak tenda dengan kursi santai yang disediakan oleh pedagang di sana. Kalau mau duduk di tenda ini, tidak enak rasanya kalau anda tidak membeli dagangan mereka seperti minuman, makanan, atau snack lainnya.

Tenda-tenda sepanjang pantai

Tenda-tenda sepanjang pantai

Pantainya yang landai dan pasirnya yang halus memang cocok tempat bermain anak-anak, ya mandi-mandi di laut atau bermain pasir.

Asyiknya bermain pasir di Pantai Purus

Asyiknya bermain pasir di Pantai Purus

Menariknya, di pantai ini terjadi pertemuan antara sebuah sungai besar (saya lupa namanya) dengan air laut. Air laut yang berwarna coklat (akibat hujan di daerah hulu) bercampur dengan air laut yang berwarna biru. Kedua jenis air ini tampak tidak bisa bercampur, terlihat jelas batasnya.

Pertemua air sungai dan air laut di Pantai Purus

Pertemua air sungai dan air laut di Pantai Purus

Nah, di tempat berrtemuanya air sungai dan air laut itu, banyak orang yang terlihat asyik memanncing. Mengasyikkan ya menghabiskan waktu dengan memancing.

Memancing

Memancing

Pada siang hari, pantai ini terlihat sepi. Tetapi, jika sore menjelang, pantai semakin ramai saja, dan pada malam hari banyak anak muda di kota Padang menghabiskan waktu di kafe-kafe yang berjejeran di sepanjang jalan raya sepanjang pantai. Sayangnya pantai yang bagus ini menjadi arena berbuat maksiat bagi para anak muda itu. Tenda-tenda yang terletak di sepanjang pantai pada malam hari menjadi tempat mojok asyik masyuk bagi orang yang berpacaran. Saya baca di koran lokal, Walikota Padang sempat marah dengan keberadaan tenda-tenda maksiat tersebut, lalu memerintahkan Stapol PP membakarnya. Ada pengaruhnya kah dengan membakar tenda-tenda itu? Entahlah…

Padang dan Ranah Minang sekarang ini memang sudah jauh berubah. Falsafah “adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah” sepertinya tinggal slogan. Gaya hidup bebas yang tidak mengindahkan norma agama sudah merebak di kalangan anak mudanya, salah satunya dapat anda saksikan di Pantai Cimpago Purus ini pada waktu malam.


Written by rinaldimunir

December 23rd, 2012 at 8:00 pm

Es Durian Pondok Padang yang “Yummy”

without comments

Ini cerita oleh-oleh waktu pulang kampung ke Padang pada akhir bulan Oktober yang lalu. Sudah lama ya, tetapi baru sempat menuliskannya sekarang. Tulisan ini untuk megisi kekosongan blog yang tidak sempat saya isi karena kesibukan pekerjaan.

FYI, kawasan Pondok adalah kawasan pecinan di kota Padang. Tidak jauh dari Pondok terdapat kawasan kota Padang yang lama yang dibangun pada zaman kolonial Belanda pada abad 18 dan 19.

Pondok juga menjadi kawasan wisata kuliner di kota Padang. Nah, yang saya ceritakan di sini adalah es durian Pondok yang sudah terkenal ke mana-mana. Pelopor kedai es durian ini adalah seorang cina Padang yang dipanggil dengan nama Incek Sinyo. Di Padang, pedagang tionghoa sering dipanggil incek, tidak tahu kenapa disebut incek, sebab incek (Bahasa Minang) artinya biji. Nah, kedai es durian pondok itu sekarang bernama Ganti Nan Lamo, terletak di Jalan Pulau Karam No. 103B.

Kedai Es Durian "Ganti Nan Lamo"

Kedai Es Durian “Ganti Nan Lamo”

Kedai Ganti Nan Lamo di kawasan pecinan, Pondok, Padang. Masjid dan kelenteng berdekatan lokasinya.

Kedai Ganti Nan Lamo di kawasan pecinan, Pondok, Padang. Masjid dan kelenteng berdekatan lokasinya.

Ganti Nan Lamo artinya ganti yang lama. Dulunya kedai ini terletak di seberangnya, tetapi sekarang pindah ke tempat yang sekarang. Jangan salah, di dekat sini banyak sekali kedai es durian dengan nama yang mirip-mirip seperti Iko Gantinyo dan Nan Lamo. Meskipun pedagangnya orang tionghoa, tetapi mereka memakai aksen bahasa Minang dalam penamaaannya. Di Padang hubungan orang cina dengan penduduk pribumi cukup erat.

Lukisan es durian di dalam kedai Ganti Nan Lamo

Lukisan es durian di dalam kedai Ganti Nan Lamo

Es durian adalah durian yang ditambah dengan es dan. Aslinya adalah satu gelas yang berisi daging durian (tanpa biji) yang ditambah dengan serutan es (disebut es durian tok), tetapi sekarang sudah banyak varian menu, ada yang memakai tambahan cincau, delima, susu coklat manis, dan sebagainya.

Saya memesan satu porsi es durian, maunya saya sih es durian tok, tetapi karena belum berpengalaman makan es di sana, saya memilih sembarang saja, ternyata es durian yang dicampur dengan cincau, delima, dan susu coklat.

Satu porsi es durian

Satu porsi es durian

Rasanya amboiii… lezat sekali, sangat terasa benar duriannya. Lebih enak lagi minum es durian sambil makan sate padang. Di kedai ini juga tersedia sate padang yang hangat dan berkuah merah kental.

Rahasia kelezatan es durian terletak pada pemilihan duriannya yang berkualitas. Duriannya dipilih yang berdaging tebal dan berwarna kuning. Sumatera Barat adalah penghasil durian yang lezat.

Oh ya, satu porsi es durian itu harganya Rp14.000, tidak terlalu mahal saya kira. Kalau anda mampir ke kota Padang, jangan lupa singgah mencicipi es durian yang legendaris ini.


Written by rinaldimunir

December 22nd, 2012 at 5:28 pm

Dari Bakso Tikus Hingga Bakso Babi

without comments

Pada tahun 2006 yang lalu masyarakat di negara kita pernah dihebohkan dengan bakso tikus (baca tulisan saya terdahulu: Formalin dan Baso Tikus). Sebegitu hebohnya kala itu sehingga selama beberapa waktu penyuka bakso berhenti makan bakso karena merasa jijik dengan bakso dari daging tikus. Efeknya ternyata berantai, para pedagang bakso mengalami masa suram karena dagangan mereka tidak laku. Padahal yang menjual bakso dari daging tikus itu hanya segelintir pedagang, tetapi semua pedagang bakso terkena efeknya.

Kejadian yang serupa terulang lagi, tetapi sekarang baksonya dari daging babi atau campuran daging sapi dengan daging babi. Menyiasati harga daging sapi yang melambung tinggi, produsen bakso berbuat nakal dengan memproduksi bakso yang menggunakan campuran daging babi.

Kata “babi” sangat sensitif bagi orang Islam, sebab daging babi hukumnya haram dimakan. Karena mayoritas orang Indonesia beragama Islam, yang berarti mayoritas penikmat bakso adalah orang Islam, maka tak pelak berita bakso yang terbuat dari daging babi membuat masyarakat resah. Seperti efek bakso tikus, maka dagangan bakso kembali dijauhi orang karena khawatir baksonya terbuat dari daging babi.

Saya tidak akan membahas tentang bakso babi ini. Saya pikir ini tidak hanya kesalahan segelintir produsen bakso, tetapi juga kelalaian Pemerintah dalam menjaga pasokan daging sapi sehingga ada produsen yang tega mencari untung dengan menghalalkan segala cara.

Saya akan membahas mengapa daging babi itu diharamkan di dalam Islam. Al-Quran dengan sangat jelas menyebutkan larangan memakan daging babi. Ayat yang mengharamkan memakan daging babi antara lain terdapat di dalam Surat Al Baqarah ayat 173:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai, darah, daging babi dan binatang-binatang yang disembelih tidak kerana Allah, maka sesiapa yang terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Q.S.2:173)

Ayat-ayat lain yang mengharamkan daging babi dapat dibaca di dalam Surat Al Maa’idah (5) : 3, Al An `Aam (6) : 145, dan An Nahl (16) : 115.

Tidak ada penjelasan lebih rinci di dalam Al-Quran mengapa Allah mengharankan daging babi. Ketika saya kecil, guru agama saya menjelaskan mengapa daging babi diharamkan, dan semua alasan ditinjau dari sudut medis. Antara lain dikatakan oleh guru saya karena babi itu hewan yang kotor, di dalam tubuhnya terdapat cacing pita yang jika termakan oleh manusia dapat menimbulkan penyakit pada liver. Lebih lanjut tinjauan babi diharamkan dari sudut medis dapat dibaca pada tulisan ini dan ini.

Tetapi, argumentasi tentang kebersihan dan cacing pita itu saya pikir tidak cukup kuat dan kurang relevan lagi pada zaman modern ini. Kenyataannya saat ini babi sudah diternakkan secara modern, makanan dan kebersihannya terjaga, sehingga citra babi sebagai hewan kotor tentu bisa dipatahkan oleh kelompok yang menghalalkan daging babi. Begitu juga teknologi pengolahan makanan dari daging babi, teknik memasaknya sudah maju sedemikan rupa sehingga telur dan cacing pita di dalamnya dagingnya (kalau ada) pasti akan mati. Nyatanya banyak orang non-muslim yang biasa makan babi toh tetap sehat-sehat saja.

Kita manusia hanya dapat menduga-duga saja dengan menalar menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberi argumentasi logis (terutama dari sudut medis) mengapa daging babi haram dikonsumsi. Tentu saja cara menalar kita seperti itu sah-sah saja dan saya pikir tidak salah, sebab manusia memang diberi akal dan pikiran untuk menerjemahkan ayat-ayat qauniyah, termasuk untuk memahami mengapa Allah mengharamkan daging babi. Namun, ilmu manusia itu sangat terbatas dalam menerjemahkan Firman Tuhan. Hanya Allah sendiri yang tahu persis alasan mengapa daging babi Dia haramkan.

Saya punya pandangan agak berbeda mengapa memakan daging babi diharamkan, tetapi tidak dari sudut pandang medis. Saya mengambil analogi babi dengan buah khuldi pada kisah Adam dan Hawa yang melanggar larangan Tuhan. Ingatkah anda dengan kisah Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa yang terusir dari syurga gara-gara memakan buah khuldi? Allah membolehkan Adam dan Hawa memakan buah apa saja di dalam surga, kecuali satu, yaitu buah khuldi.

“Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini (khuldi), yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS Al-Baqarah [2]: 35).

Namun, setan (Iblis) selalu membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi itu, sebab menurut Iblis memakan buah khuldi itu dapat membuat Adam dan Hawa kekal di syurga:

“Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS Thaha [20]: 120)

Akhirnya Adam dan Hawa pun tergoda, mereka memakan buah khuldi itu, dan sebagai hukumannya Allah SWT mengusir mereka dari syurga:

“Maka keduanya memakan buah tersebut, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah dia.” (QS Thaha [20]: 121)

Jadi, buah khuldi itu adalah simbol kepatuhan Nabi Adam dan Siti Hawa kepada Allah SWT. Dia menjadikan buah khuldi itu sebagai ujian bagi keduanya, apakah mereka mematuhinjya atau tergoda mencicipinya.

Seperti buah khuldi, daging babi itu juga simbol kepatuhan kita terhadap Allah SWT. Maksudnya, dengan menyebutkan daging babi itu haram, Allah ingin menguji kepatuhan kita, apakah kita mau menaati larangan-Nya itu? Allah ingin tahu siapa dari para hamba-Nya yang mematuhi larangannya memakan daging babi.

Wallahu alam bissawab, hanya Allah yang Maha Tahu, sedangkan saya adalah makhluk yang dhaif.


Written by rinaldimunir

December 21st, 2012 at 9:29 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Dunia (Belum) Akan Kiamat

without comments

Sebagian orang di dunia saat ini dihebohkan dengan berita dunia akan berakhir (kiamat) pada tanggal 21 Desember 2012. Ramalan kiamat itu didasarkan pada akhir kalender suku Maya di Amerika Latin yang menyatakan bahwa tanggal terakhir dunia ini adalah 21 Desember 2012. Tanggal 21 Desember itu bertepatan dengan kelahiran anak saya yang bungsu.

Heboh kiamat tahun 2012 sudah dimulai dua tahun lalu ketika film berjudul “2012″ menjadi topik hangat di seantero dunia. Sebelumnya, umat manusia di dunia sudah sering meramalkan hari kiamat sejak berabad-abad yang lalu (baca ini: 9 Kiamat yang Gagal), namun tidak pernah terbukti.

Saya tidak percaya dengan ramalan-ramalan itu. Sebagai orang Islam –dan kebanyakan orang Islam pun berpandangan sama dengan saya– hari kiamat adalah rahasia Tuhan. Hanya Allah SWT yang tahu kapan terjadinya hari kiamat itu. Jangankan Nabi dan Rasul, para malaikat saja tidak mengetahui kapan akhir dunia ini. Allah berfirman:

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” (QS. Thaha:15).

Saya masih ingat pelajaran agama di sekolah dulu. Guru agama saya menerangkan bahwa sebelum hari kiamat benar-benar akan terjadi, Allah SWT menurunkan tanda-tandanya sebagai peringatan bagi manusia untuk segera bertaubat. Ada tanda-tanda kecil dan ada pula tanda-tanda besar. Tanda-tanda kecil misalnya — seperti dikutip dari laman ini– perzinahan dilakukan terang-terangan dan sudah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat luas, banyak wanita yang berdandan/berpenampilan seperti pria, begitu juga sebaliknya, dan sebagainya. Untuk bacaan lebih lengkap tentang tanda-tanda hari kiamat, sila baca tulisan ini: Tanda-Tanda Hari Kiamat).

Tanda-tanda kecil memang sudah terjadi, tetapi tanda-tanda besar belum. Salah satu tanda besar yang saya ingat dari guru agama saya adalah bahwasanya nanti sebelum hari kiamat tiba, Nabi Isa a.s akan turun ke bumi bersama Imam Mahdi untuk meluruskan ajarannya. Para ulama meyakini bahwa Nabi Isa ketika dikejar oleh penguasa Romawi, dia diselamatkan Tuhan dengan mengangkatnya ke langit, tidak mati seperti yang diyakini oleh saudara-saudara kita dari iman kristiani. Sebagian ulama menafsirkan Nabi Isa itu masih hidup di sisi Allah SWT, dan nanti di suatu masa menjelang Hari Akhir ia akan diturunkan kembali ke bumi. Setelah beberapa tahun di bumi untuk meluruskan ajaran tauhid yang diterimanya dari Allah SWT, Nabi Isa akan diwafatkan oleh Allah SWT secara alami seperti manusia lain umumnya, dan barulah sesudah itu malaikat Israfil membunyikan sangkakala dimulainya kehancuran alam semesta.

Nah, saat ini belum terdengar berita ada orang yang mengaku Nabi Isa dan mewartakan akan meluruskan penyimpangan ajarannya. Itu artinya Nabi Isa belum diturunkan ke bumi, dan artinya belum pertanda dunia akan kiamat dalam waktu dekat ini. Jadi, kenapa ada orang yang mempercayai hari kiamat tanggal 21 Desember 2012? Wallahu alam bissawab, pengetahuan manusia sangat minim.


Written by rinaldimunir

December 19th, 2012 at 1:12 pm

Posted in Agama

Berkunjung ke Korea (Bagian 5): Sudut-Sudut Kota Seoul

without comments

Ini tulisan bagian terakhir dari perjalanan saya ke Korea. Tulisan ini berisi dokumentasi foto-foto pemandangan kota Seoul yang sayang untuk dilewatkan.

1. Gedung-gedung perkantoran di dekat KISA
DSCF0055

2. Kantor Kedubes RI di Seoul
DSCF0063

3. Perkantoran di depan Kedubes RI
DSCF0065

4. Pasar Namdaemoon, semacam pasar murah di Seoul
DSCF0073

5. Suasana pusat berbelanjaan yang ramai
DSCF0075

6. Ruang masuk teater NANTA performance, teater kontemporer yang terkenal di seluruh dunia.
DSCF0078

7. Narsid di teater NANTA
DSCF0080

8. Pasar Insa-dong, pusat penjualan souvenir khas Korea
DSCF0106


Written by rinaldimunir

December 16th, 2012 at 5:45 am

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Korea (Bagian 4): Ke Korea University dan KAIST

without comments

Agenda selanjutnya adalah mengunjungi dua universitas besar di Korea, yaitu Korea University dan Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Tujuan mengunjungi kedua universitas ini adalah untuk studi banding mengenai program graduate tentang Keamanan Informasi.

Korea University adalah universitas swasta yang menemnpati rangking top di Asia dan di dunia. Kalau tidak salah ingat nomor 2 di Asia.

Gerbang kampus Korea University

Gerbang kampus Korea University

Rektorat KU

Rektorat KU

Brrr.... dingin sekali di KU

Brrr…. dingin sekali di KU

Kampusnya super luas, seperti sebuah kota saja. Mahasiswanya sekitar 40 ribu orang dan berasal dari berbagai negara. Ada dua bagian kampus yang dibelah oleh jalan raya.

Narsis di KU

Narsis di KU

Mereka mempunyai program pascasarjana tentang keamanan informasi dengan nama Graduate School of Information Security. Waaah, keamanan informasi saja menjadi satu fakultas sendiri ya, S2 dan S3 lagi.

Gedung fakultas Graduate School of Information Security.

Gedung fakultas Graduate School of Information Security.

Gedung-gedung megah dan besar di kampus KU

Gedung-gedung megah dan besar di kampus KU

Mahasiswa KU melintas dengan jaket tebal. Musim dingin sih.

Mahasiswa KU melintas dengan jaket tebal. Musim dingin sih.

Narsis di pusat keamanan informasi KU

Narsis di pusat keamanan informasi KU

Dari Korea University, keesokan harinya kami mengunjungi perguruan tinggi sains dan teknik yang terkenal di Korea, yaitu KAIST (Korea Advanced Institute of Science and Technology). KAIST terletak di kota Daejeon. Dibutuhkan waktu 3 jam perjalanan dari Seoul ke Daejeon melalui jalan tol yang lebar. Oh ya, tidak seperti di negara kita dimana kendaraan berjalan pada lajur kiri, di Korea kendaraan berjalan pada lajur kanan, sedangkan lajur kiri untuk mendahului.

Gerbang kampus KAIST

Gerbang kampus KAIST

KAIST dapat dianggap sebagai ITB-nya Korea Selatan, dan Korea University dapat dianggap sebagai UI-nya Korea. Ibarat Seoul itu Jakarta dan Daejeon itu Bandung. Kampus KAIST sangat luas, tetapi tidak seluas kampus KU. Di sini hanya ada program studi Sains dan Teknologi saja.

Gedung-gedung fakultas di KAIST. Salju menyelimuti kampus ini.

Gedung-gedung fakultas di KAIST. Salju menyelimuti kampus ini.

Poster kegiatan di KAIST, terpengaruh Gangnam Style juga rupanya, he..he

Poster kegiatan di KAIST, terpengaruh Gangnam Style juga rupanya, he..he

Seperti di KU, d KAIST juga terdapat program pasca sarjana keamanan informasi. Ketika kami beraudiensi di gedung pasca mereka (mirip mal) di sana, seorang mahasiswa pasca keamanan informsi memperagakan teknik hacking yang bisa meng-hack situs web apa saja dengan teknik terbarunya. Hi..hi..hi, dia ternyata berhasil meng-hack situs web ITB (www.itb.ac.id) dan menyisipkan pesan pada salah satu laman web ITB. Gawat! Rupanya situs we ITB mempunyai pertahanan yang lemah, jangan-jangan database nilai mahasiswa ITB juga bisa di-hack dan diubah nilainya. Memang kebutuhan ahli di bidang keamanan informasi sudah sangat mendesak di Indonesia.

Gedung Graduate Program on Informatio Security di KAIST, lebih mirip mal daripada gedung fakultas.

Gedung Graduate Program on Informatio Security di KAIST, lebih mirip mal daripada gedung fakultas.

Oke deh, segitu saja laporan perjalanan kami ke KU dan KAIST. Mudah-mudahan tahun depan program S2 Keamanan Informasi di STEI-ITB bisa segera terwujud dan mulai menerima mahasiswa baru. Amin.


Written by rinaldimunir

December 15th, 2012 at 5:29 am

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Korea (Bagian 3): Susah Makan di Korea

without comments

Saya tidak terlalu menikmati makan di Korea. Apa pasal? Selama makan di luar (setiap hari makan di berbagai restoran, kecuali sarapan pagi di penginapan) pemandu kami selalu mengajak makan dengan menu ala table manner. Jadi, dengan ala table manner itu, makanan dikeluarkan satu per satu, mulai dari makanan pembuka, utama, dan penutup. Nah, kami sering makan di restoran Jepang atau Korea dengan menu daging ikan mentah atau seafood mentah lainnya. Ikannya kelas ikan mahal sih, ada ikan salmon, kerang dalam, gurita, tuna, dan lain-lain.

Saya tidak suka makan ikan mentah, sejak dulu tidak mau, tidak cocok saja dengan lidah saya. Teman saya enak saja tuh makan sayatan ikan mentah, tetapi saya hanya bisa melihat saja. Selain ikan mentah, menu hidangan lainnya juga tidak cocok selera, alhasil saya hanya makan lalap sayur mentah atau nasi saja. Sayang ya, payah benar selera saya ini, padang minded, he..he.

Untunglah tidak selalu makan ikan mentah, ada satu menu masakan yang menjadi favorit saya di sini, yaitu bibimbap. Bibimbap adalah semacam nasi campur yang dihidangkan dalam mangkuk panas. Di dalam mangkuk ada nasi, lalu di atasnya diletakkan sejumlah sayur kukus, ikan, telur setengah matang, dan bumbu-bumbu.

Bibimbap (sebelum diaduk)

Bibimbap (sebelum diaduk)

Cara memakannya, semua nasi dan bahan-bahan di atasnya diaduk rata kira-kira tiga menit. Panas dari mangkuk membuat smeua bahan menjadi matang dan ada kerak nasi yang terbentuk. Setelah itu baru dimakan dalam keadaan panas. Bunyi krenyes-krenyes dari kerak nasi menghasilkan sensasi tersendiri. Rasanya krispi dan gurih.

Bibimbap setelah diaduk-aduk

Bibimbap setelah diaduk-aduk

Selama di Korea, hampir setiap hari saya makan kimchi sampai bosan rasanya. Setiap menu makan di manapun di Korea selalu dihidangkan kimchi sebagai hidangan pembuka. Mernurut saya kimchi itu hampir sama dengan asinanbogor, he..he.

Kimchi

Kimchi

Orang Korea banyak yang sudah tidak tahu lagi cara membuat kimchi (begitu kata pemandu kami). Sekarang imchi juga bisa dibuat secara instan dengan menggunakan peralatan elektronik. Ketiak berjalan-jalan ke toko elektronik, saya menemukan mesin bermerek Samsung sebesar mesin cuci yang rupanya khusus untuk membuat kimchi.

Mesin pembuat kimchi

Mesin pembuat kimchi

Ketika mengunjungi kota Daejeon dalam rangka ke KAIST, kami makan di restoran yang menghidangkan sup ayam ginseng bernama Samgyetang. Sup ayam ini dicampu dengan bubur nasi sehingga makan satu mangkuk saja sudah kenyang. Ayamnya besar sekali bo, saya tidak habis memakannya.

Samgyetang

Samgyetang

Selain ketiga macam makanan di atas, saya juga mencoba bulgogi, yaitu semacam yakiniku pada masakan Jepang. Terakhir, di bawah ini semacam martabak telur kalau di Aceh, tapi dicampur dengan sayuran. Apa namanya ya, lupa, tetapi agak asin.

Martabak telur

Martabak telur

Karena tidak terlalu menikmati makan di Korea, tiba di penginapan saya mengeluarkan makanan pamungkas yang saya bawa dari Indonesia, apalagi kalau bukan pop mie dan bubur ayam instan. Kayaknya ke mana saja ke seluruh dunia orang Indonesia banyak yang membawa mie instan jika patah selera di negeri orang, termasuk saya, he..he.


Written by rinaldimunir

December 13th, 2012 at 7:25 pm

Posted in Cerita perjalanan