if99.net

IF99 ITB

Archive for November, 2012

Sejenak di Pantai Losari, Makassar

without comments

Hari Rabu yang lalu saya ke Makassar sehari saja dalam rangka mempresentasikan makalah saya pada Makassar International Conference on Electrical Engineering and Informatics 2012 (MICEEI 2012) yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Elektro Universitas Hasanuddin, Makassar.

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar yang megah

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar yang megah

Selesai mempresentasikan makalah, saya pun “kabur” keluar untuk menikmati senja di Pantai Losari yang terkenal itu. Pantai Losari terletak di tengah kota Makassar, karena pusat kota Makassar memang terletak di tepi pantai.

Pemandangan pantai Losari dari Hotel Makassar Golden (tempat konferensi)

Pemandangan pantai Losari dari Hotel Makassar Golden (tempat konferensi)

Pantai? Sebenarnya tidak tepat disebut pantai, tetapi “pelabuhan”, karena tidak ada pasirnya. Air laut langsung berbatasan dengan trotoar jalan raya. Terus berjalan ke utara terdapatlah pelabuhan laut Makassar tempat kapal-kapal berlabuh.

Boulevard di Pantai Losari

Boulevard di Pantai Losari

Banyak orang duduk-duduk pada sore di pinggir Pantai Losari untuk menghabiskan waktu sambil menikmati sunset di ufuk barat.

Sunset di Pantai Losari

Sunset di Pantai Losari

Sunset tampak dari boulevard

Sunset tampak dari boulevard

Di Pantai ini ada dermaga terapung tempat penumpang naik perahu banana boat yang mengantarkan mereka jalan-jalan di laut mengitari pulau terdekat.

Dermaga apung

Dermaga apung

Banana boat 1

Banana boat 1

Banana boat 2

Banana boat 2

Pulau yang padat penghuni, tidak jauh dari Pantai Losari.

Pulau yang padat penghuni, tidak jauh dari Pantai Losari.

Jajanan khas yang “wajib” dicoba di Pantai Losari adalah pisang epe. Pedagang pisang epe berderet-deret di sepanjang Pantai Losari.

Gerobak pedagang pisang epe

Gerobak pedagang pisang epe

Pisang epe terbuat dari sejenis pisang batu, lalu dipipihkan kemudian dibakar. Diatasnya ditaburi keju dan gula merah rasa durian. Seporsinya (ditambah sebotol aqua) Rp10.000. Kemahalan?

Seporsi pisang epe

Seporsi pisang epe

Di seberang Pantai Losari terdapat kawasan kuliner untuk memuaskan selera. Di sini ada Mie Titi yang terkenal itu (tapi saya belum sempat coba).

Kasawan Kuliner Makassar

Kasawan Kuliner Makassar

Adzan Maghrib berkumandang. Tidak usah khawatir mencari tempat shalat. Di pinggir Pantai Losari terdapat masjid terapung yang cantik, ke sanalah saya melangkahkan kaki untuk shalat.

Masjid yang cantik

Masjid yang cantik

Selesai shalat Maghrib perutpun terasa lapar lagi. Saya sudah meniatkan diri wajib makan coto Makassar di tempat asalnya. Dulu saya pernah makan coto di Stadion Persib Bandung, tetapi rasanya kurang enak kata perantau Makassar di Bandung. Saya minta tolong tukang beca di Pantai Losari mengantarkan saya ke kedai coto yang enak di dekat situ. Kata mereka coto yang enak ada di Jalan Gagak. Oke deh, saya diantar tukang beca ke sana.

Seporsi coto Makassar

Seporsi coto Makassar

Makan coto temannya adalah ketupat. Ketupat disendok dari sarangnya lalu dimasukkan ke dalam kuah coto baru kemudian dimasukkan ke… mulut. Hmmm… benar-benar enak coto di tempat asalnya, bumbunya sangat terasa. Isi coto boleh pilih: daging, jeroan, babat, paru. Saya pilih daging saja. dari kuahnay yang berwarna hitam coto Makassar mirip dengan rawon di Jawa.

Selesai makan, saya pun bersiap-siap ke Bandara Hasanuddin guna kembali ke Bandung via Jakarta. Pesawat saya pukul 21.30 WITA, jadi masih punya waktu dua jam menunggu di bandara. Bandara Sultan Hasanuddin interiornya sangat wah, luas dan nyaman, malah lebih bagus daripada bandara di Cengkareng.

Model kapal pinisi di dalam bandara.

Model kapal pinisi di dalam bandara.

Front office bandara

Front office bandara


Written by rinaldimunir

November 30th, 2012 at 4:35 pm

Posted in Cerita perjalanan

Keajaiban Angka 19 di Dalam Al-Quran

without comments

Ketika membereskan buku-buku di dalam lemari, secara tidak sengaja saya menemukan buku lama yang dulu pernah saya beli pada tahun 1987 (hmmm… sudah 25 tahun rupanya). Judulnya One Million Phenomena, ditulis oleh Fahmi Basya. Buku ini berisi penjelasan ilmiah terhadap fenomena-fenomena yang disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Quran.

Salah satu pembahasan yang menarik perhatian saya di dalam buku itu adalah fenomena angka 19. Seorang sarjana pertanian Mesir, Rashad Khalifa, yang mengambil gelar doktor di Amerika, meneliti tentang Al-Quran menggunakan komputer. Ia menganalisis kitab Al-Quran yang ada padanya dan juga kitab Al-Quran tertua yang bernama “Mushaf Utsmani” yang ditemukan di Samarkand, yaitu negeri asal Imam Bukhari di Uzbekistan. Melalui penelitiannya yang dipamerkan pada pameran Islam di London pada tahun 1976, dia menunjukkan bahwa tidak ada satupun huruf yang hilang atau berkurang di dalam Al-Quran meskipun kitab tua itu sudah berusia lebih dari 1400 tahun.

Rashad Khalifa juga menunjukkan fenomena angka 19. Angka 19 di dalam teori bilangan adalah bilangan prima. Jika diteliti secara cermat, ternyata banyak ukuran kuantitatif di dalam Al-Quran yang dinyatakan sebagai kelipatan angka 19. Inilah daftarnya (Sumber: Buku One Million Phenomena yang ditulis oleh Fahmi Basya):

1. Setiap surat di dalam Al-Quran dibuka dengan bacaan basmallah yang berbunyi: “Bismillaahirrahmaanirrahiim“. Dalam aksara Arab, jumlah huruf di dalam bacaan basmallah itu terdiri dari 19 huruf (19 = 1 x 19). Sembilan belas huruf itu adalah ba, sin, mim, alif, lam, lam, hha, alif, lam, ro, ha, mim, nun, alif, lam, ro, ha, ya, mim.

basmallah

2. Kalimat basmallah terdiri dari empat kelompok kata: ism, Allaah, ar-rahmaan, dan ar-rahiim. Marilah kita rinci satu per satu:
- Kata ismu yang artinya “Nama” disebutkan 19 kali di dalam seluruh ayat Al-Quran (19 = 1 x 19).
- Kata Allah di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 2698 kali (2698 = 142 x 19).
- Kata ar-rahmaan yang artinya “Maha Pengasih” disebutkan di dalam Al-Quran sebanyak 57 kali (57 = 3 x 19).
- Kata ar-rahiim yang artinya “Maha Penyayang” disebutkan di dalam Al-Quran sebanyak 114 kali (114 = 6 x 19).

3. Kalimat basmallah di dalam Al-Quran disebutkan 114 kali (114 = 6 x 19). Surat ke-9 tidak dimulai dengan basmallah, surat ke-27 memakai basmallah 2 kali (yaitu pada pembuka dan pada ayat 30).

4. Jumlah surat di dalam Al-Quran seluruhnya 114 surat (114 = 6 x 19).

5. Wahyu pertama turun 19 kata (19 = 1 x 19). Wahyu pertama terdapat pada surat nomor 96 (Al-’alaq) ayat 1 sampai 5.

6. Wahyu kedua turun 38 kata (38 = 2 x 19). Wahyu kedua terdapat pada surat ke-68 ayat 1 sampai 9.

7. Wahyu ketiga turun 57 kata (57 = 3 x 19). Wahyu ketiga terdapat pada surat ke-73 ayat 1 sampai 10.

8. Wahyu terakhir turun 19 kata (19 = 1 x 19). Wahyu terakhir terdapat pada surat ke-110 ayat 1 sampai 3.

9. Surat 96 adalah tempat wahyu pertama. Ternyata surat ini hanya terdiri 19 ayat saja.

10. Surat 96 sebagai tempat wahyu pertama berada pada bilangan ke-19 dari 114 surat jika dihitung dari belakang, yaitu 114, 113, 112, …, 98, 97, 96.

11. Wahyu pertama pada surat 96 itu turun sebanyak 5 ayat (ayat 1 sampai 5). Jumlah huruf di dalam 5 ayat itu adalah 76 buah (76 = 4 x 19).

12. Surat 96 itu seluruhnya terdiri dari 285 huruf (285 = 15 x 19).

13. Pertengahan Al-Quran terletak pada ayat 19 dari surat 18, (19 = 1 x 19).

14. Terdapat 29 surat yang dimulai dengan kata yang terdiri dari huruf tunggal seperti Nun, Qof, Shod, maupun kata yang terdiri dari 2, 3, 4, dan 5 huruf seperti “Alif Lam Mim“, “Alif Lam Ro“, “Kaf Ha Ya ‘Ain Shod“. Kata-kata tersebut secara harafiah tidak mempunyai makna, namun Allah lah yang tahu apa maksudnya. Marilah kita rinci sebagai berikut:

a) Surat ke-2 dimulai dengan “Alif Lam Mim“. Jumlah huruf alif + lam + mim di dalam surat ke-2 itu adalah 4502 + 3202 + 2195 = 9899 = 521 x 19.

b) Surat ke-3 juga dimulai dengan “Alif Lam Mim“. Jumlah huruf alim + lam + mim di dalam surat ke-3 adalah 2521 + 1892 + 1249 = 5662 = 289 x 19.

c) Surat ke-7 dimulai dengan “Alim Lam Mim Shod“. Jumlah huruf alim + lam + mim + shod di dalam surat ke-7 itu adalah 2529 + 1530 + 97 = 5320 = 280 x 19.

d) Surat ke-13 dimulai dengan “Alif Lam Mim Ro“. Jumlah huruf alif + lam + mim + ro di dalam surat ke-13 adalah 605 + 480 + 260 + 137 = 1482 = 72 x 19.

e) Surat ke-19 dimulai dengan “Kaf Ha Ya ‘Ain Shod“. Jumlah huruf kaf + ha + ya + ‘ain + shod di dalam surat ke-19 itu adalah 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798 = 42 x 19.

f) Surat ke-36 (surat Yaasiin) dimulai dengan “Yaa Sin“. Jumlah huruf ya + sin di dalam surat ke-36 itu ada sebanyak 237 + 48 = 285 = 15 x 19.

g) Surat ke-50 dimulai dengan “Qof“. Jumlah huruf qof di dalam surat 50 adalah 57 buah (57 = 3 x 19).

h) Surat ke-68 dimulai dengan “Nun“. Jumlah huruf nun di dalam surat 68 adalah 133 buah. (133 = 7 x 19).

i) Tujuh surat dibuka dengan “Haa Mim“, yaitu surat 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46. Jumlah huruf ha + mim di dalam tujuh buah surat itu adalah 2147 buah. (2147 = 113 x 19), dengan rincian:
- Surat 40, jumlah huruf ha + mim = 64 + 380 = 444
- Surat 41, jumlah huruf ha + mim = 48 + 276 = 324
- Surat 42, jumlah huruf ha + mim = 53 + 300 = 353
- Surat 43, jumlah huruf ha + mim = 44 + 324 = 368
- Surat 44, jumlah huruf ha + mim = 16 + 150 = 166
- Surat 45, jumlah huruf ha + mim = 31 + 200 = 231
- Surat 46, jumlah huruf ha + mim = 36 + 225 = 261
Total = 444 + 324 + 353 + 368 + 166 + 231 + 261 = 2147 = 113 x 19

j) Ada enam buah surat yang dibuka dengan “Alim Lam Mim“. Jumlah huruf alif + lam + mim pada enam buah surat tersebut adalah 19874 buah, (19874 = 1046 x 19), dengan rincian:
- Surat 2, jumlah huruf alif + lam + mim = 4502 + 3202 + 2195 = 9899 = 521 x 19
- Surat 3, jumlah huruf alif + lam + mim = 2521 + 1892 + 1249 = 5662 = 298 x 19
- Surat 29, jumlah huruf alif + lam + mim = 774 + 554 + 344 = 1672 = 88 x 19
- Surat 30, jumlah huruf alif + lam + mim = 554 + 393 + 317 = 1254 = 66 x 19
- Surat 31, jumlah huruf alif + lam + mim = 347 + 297 + 173 = 817 = 43 x 19
- Surat 32, jumlah huruf alif + lam + mim = 257 + 155 + 158 = 570 = 30 x 19
Total = 9899 + 5662 + 1672 + 1254 + 817 + 570 = 19874 = 1046 x 19.

k) Semua surat yang dimulai dengan “Alif Lam Ro“, jumlah huruf alif + lam + ro = 9462 = 498 x 19, dengan rincian sebagai berikut:
- Surat 10, jumlah alif + lam + ro = 1319 + 913 + 257 = 2489 = 131 x 19
- Surat 11, jumlah alif + lam + ro = 1370 + 794 + 325 = 2489 = 131 x 19
- Surat 12, jumlah alif + lam + ro = 1306 + 812 + 257 = 2375 = 125 x 19
- Surat 14, jumlah alif + lam + ro = 585 + 452 + 160 = 1197 = 63 x 19
- Surat 15, jumlah alif + lam + ro = 493 + 323 + 96 = 912 = 48 x 19
Total = 2489 + 2489 + 2375 + 1197 + 912 = 9462 = 498 x 19

Dari paparan angka-angka di atas, dapatkan kita menyatakan bahwa Al-Quran itu diturunkan secara cermat dalam modulo 19 atau kelipatan 19? Semua angka tersebut tampak seperti deretan bilangan acak (random), namun setelah diteliti merupakan kelipatan angka 19.

Subhanallah! Allaahu Akbar! Fenomena angka 19 ini membuktikan bahwa Al-Quran bukanlah buatan manusia, tetapi ia benar-benar berasal dari Allah SWT. Fenomena 19 bukan pula suatu kebetulan atau mengada-ada, tetapi sebagai bukti kebenaran Al-Quran itu sendiri.

Ayat-ayat Al-Quran tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, huruf demi huruf, karena Allah selalu menjaga keasliannya, seperti yang difirmankan dalam dua ayat berikut:

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. (Qur’an Surat Al-An’am ayat 115)

Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami memeliharanya“. (Qur’an Surat Al-Hijr ayat 9)

Maha Benar Allah yang Maha Agung.


Written by rinaldimunir

November 30th, 2012 at 10:22 am

Posted in Agama

Menjadi Mitra Bestari

without comments

Wah..wah..wah, saya sungguh merasa repot akhir-akhir ini. Permintaan menjadi Mitra Bestari dari beberapa jurnal ilmiah d tanah air semakin banyak. Mitra Bestari adalah istilah yang diberikan kepada reviewer makalah (paper) ilmiah. Sebuah jurnal atau prosiding konferensi ilmiah yang barkualitas memang harus melakukan proses peer review terhadap setiap makalah yang dikirim (submit) redaksi jurnal (panitia konferensi). Me-review artinya menilai kelayakan makalah tersebut apakah pantas untuk dimuat atau ditolak, apakah original (bukan plagiarisme), bagaimana kualitasnya, dan sebagainya. Biasanya redaksi jurnal/panitia konferensi sudah memberikan formulir penilaian untuk kita isi.

Sebuah makalah di-review oleh orang yang berkompeten dibidang ilmunya, sesuai dengan subjek makalah tersebut. Yang menggembirakan adalah saat ini di Indonesia jurnal ilmiah bidang keilmuan Teknologi Informasi (Informatika/Ilmu Komputer/Sistem Informasi/Elektro/Telekomunikasi) tumbuh dengan pesat, terlepas dari kualitasnya. Jumlahnya cukup banyak. Ada ghirah (semangat) dari Perguruan Tinggi untuk menerbitkan jurnal imiah secara berkala. Ini fenomena yang menggembirakan, sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang berpendidikan tinggi dan membutuhkan tempat untuk mengaktualisasikan ilmunya melalui tulisan di dalam jurnal atau prosiding.

Yang lebih mencengangkan adalah pertumbuhan konferensi ilmiah dalam bidang TI yang luar biasa. Hampir setiap perguruan tinggi yang punya jurusan komputer, baik PTN maupun PTS, rajin menyelenggarakan konferensi ilmiah tahunan. Dari Sabang sampai Merauke ada belasan konferensi ilmiah yang diselenggarakan oleh PT. Ada yang berhasil mendapatkan ratusan makalah, tetapi ada yang hanya mendapatkan kurang dari tiga puluh makalah saja. Ada yang proses review-nya ketat, ada pula yang sangat longgar sehingga semua makalah yang masuk diterima begitu saja tanpa kritis. Di sebuah konferensi nasional yang saya ikuti saya menemukan makalah yang sangat tidak layak. Isinya membahas tentang perhitungan rumus-rumus fisika dalam membuat gasing. Saya sampai bolak-balik membacanya dan tidak menemukan apa hubungannya dengan bidang TI. Tidak ada bahasan tentang program aplikasi atau bidang ilmu lain di Informatika. Makalah kayak gitu kok bisa lolos dalam sebauh konferensi ilmiah bidang TI? Berarti proses peer review nya asal-asalan tuh.

Dibandingkan proses review makalah untuk prosiding konferensi ilmiah, review makalah untuk jurnal ilmiah jauh lebih ketat, karena jumlah makalah yang akan diterbitkan relatif sedikit (biasanya tidak sampai 10 makalah, bandingkan dengan prosidng konferensi yang bisa memuat puluhan hingga ratusan makalah). Bagi jurnal ilmiah yang berkualitas, tidak sembarang makalah bisa lolos. Ada proses bolak-balik antara penulis dengan reviewer. Jika sebuah makalah dapat diterima tetapi harus diperbaiki, maka penulis memperbaikinya lalu mengirim ulang untuk di-review kembali, begitu seterusnya bisa sampai dua atau tiga kali iterasi.

Bagi jurnal bergengsi seperti jurnal-jurnal internasional milik IEEE (saya belum berhasil menembusnya :-( ), proses review makalah mulai dari submit hingga penerbitan (jika diterima atau accepted) bisa memakan waktu satu hingga dua tahun. Ketika dulu S3 saya pernah mengirim makalah ke sebuah jurnal bergengsi di Kanada, hingga 6 bulan lebih belum juga ada kabar apakah ditolak atau diterima. Setiap kali saya menengok status review di web mereka, tidak ada update status. Akhirnya karena saya punya keterbatasan waktu studi yang tidak mungkin menunggu terlalu lama, saya mengirim makalagh tersebut ke jurnal lain yang proses review-nya lebih cepat (memang tidak sebagus jurnal di Kanada itu) dan alhamdulillah diterima.

Untuk jurnal TI di ITB, proses review biasanya memakan waktu berbulan-bulan (pengalaman pribadi). Proses review yang lama memang sering menjadi keluhan para peneliti atau akademisi. Mungkin sang mitra bestari sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk me-review makalah yang dipercayakan kepadanya. Apakah semakin lama waktu review menunjukkan ukuran kualitas jurnal, wallahu alam.

Saat ini saya menjadi mitra bestari untuk jurnal ilmiah di sebuah perguruan tinggi di Aceh, jurnal sebuah PTS di Jakarta, jurnal sebuah PTN di Yogya, jurnal sebuah PTN di Jawa Timur, dan tentu saja jurnal di ITB sendiri. Mudah-mudahan saya mampu mengemban amanat sebagai mitra bestari yang baik. Ini semua demi kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Insya Allah.


Written by rinaldimunir

November 28th, 2012 at 7:51 am

Selamat Hari Guru

without comments

Kemarin, 23 November 2012, mantan mahasiswa saya mengirim SMS ucapan yang bunyinya begini: “Assalaamualaikum Pak. Selamat Hari Guru, terima kasih atas semua bimbingannya selama saya menjadi mahasiswa”.

Terharu sekali… (tak terasa mata ini seperti mau basah)

Saya sendiri tidak tahu kalau 25 November adalah Hari Guru, tapi mantan mahasiswaku tersebut mengingatkan saya tentang hari itu. Barangkali dia telah merasakan arti guru karena dia sendiri pernah menjadi guru SD di daerah terpencil di Indonesia Timur dalam program “Indonesia Mengajar” yang digagas oleh Anies Baswedan.

Guru adalah orang yang berjasa dalam kehidupan kita. Tanpa guru kita bukan siapa-siapa. Gurulah yang mengajarkan kita menulis, membaca, dan beraneka ilmu. Ketika zaman TVRI masih berjaya, ada sebuah lagu tentang guru yang sangat berkesan bagi saya. Judulnya “Jasamu Guru”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh paduan suara anak SD dan klip videonya diputar berulang-ulang setiap malam. Bunyi syairnya sebegai berikut:

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tau beraneka bidang ilmu dari siapa
Kita jadi pintar dididik pak guru
Kita bisa pandai dibimbing bu guru
Gurulah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara…….

Setiap kali mendengarkan lagu itu saya jadi “merinding”, terbayang jasa para guru yang telah mendidik saya hingga dewasa seperti ini. Saya tidak menemukan lagu aslinya yang di TVRI itu, namun anda dapat mendengarkan versi lagu tersebut pada video di Youtube berikut (klik videonya):

Secara kebetulan, tanggal 25 November 2012 kemarin saya bertemu dengan guru saya waktu SMP dulu (SMP Negeri 8 Padang), yaitu Pak Abdul Lenen. Dia guru matematika kami yang selalu menjadi kenangan para murid karena gaya mengajarnya yang khas dan kocak. Pak Lenen datang dari Padang mengunjungi anaknya yang tinggal di Bandung. Umurnya sekarang 71 tahun tetapi terlihat masih kuat. Saya sempat berfoto ketika mengunjunginya di rumah anaknya di Bandung.

Pak Abdul Lenen (guru SMPN 8 Padang) dan saya

Terima kasih kepada guru-guruku, baik guru TK, SD, SMP, SMA, dan dosen-dosenku di ITB, baik yang masih hidup maupun yang sudah dipanggil oleh Sang Khalik. Sekarang saya juga menjadi Pak Guru tetapi pada aras perguruan tinggi. Namun saya sendiri merasa masih banyak kekurangan menjadi seorang pendidik. Masih banyak harus belajar dari para “suhu” untuk menjadi seorang “guru”.


Written by rinaldimunir

November 26th, 2012 at 11:18 pm

Posted in Pendidikan

Tak Apalah Mahal Sedikit

without comments

Setiap kali pulang dari kantor ke rumah, saya selalu melewati kedai buah-buahan yang dimiliki oleh orangtua teman anak saya (dulu waktu di TK). Sebut saja namanya Mas Hamim, dia mengontrak sebuah rumah pinggir jalan sekaligus tempat usahanya berjualan buah-buahan.

Kadang-kadang saya berhenti untuk membeli buah-buahan di kedainya itu, misalnya mau membeli pisang, terkadang pepaya, melon, atau lengkeng. Harganya sedikit agak mahal dibandingkan harga buah-buahan di supermarket yang tidak jauh dari situ, tetapi saya tetap membeli buah-buahannya. Karena Mas Hamim kenal dengan saya (anak kami dulu satu sekolah di TK), maka dia memperlakukan saya agak “istimewa”. Harga untuk saya dikuranginya dikit, misalnya seharusnya Rp12.000 maka menjadi Rp10.000.

Namun saya tidak suka diperlakukan “istimewa”, saya tetap membayar sesuai label harga. Meskipun dicegah sama dia, saya tetap membayar utuh, tidak mau dikurangi. Saya mengerti Mas Hamim membutuhkan uang untuk biaya kontrakan dan biaya sekolah anaknya. Nggak tega rasanya saya membayar dengan harga yang ia kurangi.

Meskipun harga buah-buahan Mas Hamim sedikit lebih mahal, saya tidak memikirkan mahalnya. Kalau niat kita ikhlas membantu orang kecil, jangan pikirkan beda harga dua ribu hingga lima ribu rupiah. Memang di supermarket harganya lebih murah karena pengusaha supermarket bisa memotong jalur distribusi yang panjang sehingga ongkos barang bisa ditekan. Pengusaha supermarket bisa membeli barang langsung dari distributor atau bahkan langsung dari pabrik, sedangkan pedagang kecil perlu melewati rantai distribusi yang panjang untuk mendapatkan barang (produsen –> distributor –> agen –> sub-agen –> pengecer) sehingga harga barang jatuhnya lebih mahal.

Ada ribuan atau jutaan pedagang kecil seperti Mas Hamim di sekeliling kita yang kalah bersaing dengan pasar modern (Toko Swalayan/supermarket/hypermarket). Ayolah sering-sering membeli dagangan mereka, sebab begitulah cara untuk membantu kelangsungan usahanya.


Written by rinaldimunir

November 24th, 2012 at 2:51 pm

Rasa Kehilangan

without comments

Seandainya, kita punya sebuah benda berharga, sebuah gelang emas misalnya, tiba-tiba kita menyadari bahwa gelang tersebut tidak lagi melingkar di pergelangan tangan kita, apa yang kita rasakan? Kalau itu saya, maka saya akan merasa sangat sedih. Gelang yang dibeli dengan hasil kerja halal selama berbulan-bulan, yang harganya tidak murah, yang sangat kita rawat, yang serasa belum puas memakainya, kemudian tiba-tiba hilang tanpa diketahui di mana atau kapan kejadiannya, saya rasa wajar kalau menjadikan kesedihan hati. Besar atau kecil kehilangan kita? Besar, mungkin.

Seandainya, kita memiliki seorang suami/istri, kemudian karena suatu sebab, kecelakaan misalnya, sehingga pasangan hidup kita menjadi tiada, apa yang kita rasakan? Kalau saya, saya akan sedih tak terkira.  Saya rasa semua orang juga begitu. Seseorang yang kita sayang, kita butuhkan kehadirannya, seorang pasangan hidup, alangkah sedih rasanya jika harus kehilangannya. Rasanya belum puas kita bersama dengannya. Masih banyak hal yang ingin kita bagi bersama dengannya. Apakah kita sanggup melanjutkan hidup tanpanya? Besar atau kecil kehilangan kita? Besar, mungkin.

Coba kita bandingkan dua perumpamaan di atas, menurut anda mana kehilangan yang terbesar? Jika hanya kita lihat secara sempit, maka keduanya terasa besar. Namun, jika kita mau melihat lebih luas, maka kehilangan apapun bisa terasa ringan. Menurut saya, kehilangan sebuah perhiasan tidak ada apa-apanya dibandingkan kehilangan pasangan hidup. Saya malah harus bersyukur karena saya hanya kehilangan perhiasan dan bukan istri/suami saya. Saya masih punya nikmat lain yang tidak hilang dari saya.

Mungkin memang seharusnya begitu ketika menyikapi sebuah kehilangan. Sesuatu yang selalu ada tidak akan terasa maknanya hingga kita kehilangan itu. Namun, ketika pun hilang, tidak seharusnya berlarut-larut memikirkannya. Ada banyak saudara yang kehilangan lebih besar daripada kita. Satu lagi, apapun yang kita miliki di dunia, merupakan titipan dari Allah, milik Allah. Jadi, kapanpun diambil kita harus siap.

 


Written by indahgita

November 22nd, 2012 at 11:31 am

Posted in Bebas

Setengah dari Agama = Menikah

without comments

Seorang pendengar radio mengajukan pertanyaan kepada seorang ustad yang mengasuh acara konsultasi agama Islam di sebuah stasiun radio di Bandung. Pertanyaannya berkaitan dengan sebuah hadis terkenal yang berbunyi begini:

”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (H.R. Baihaqi)

Pendengar tersebut bertanya, apa yang dimaksud dengan menikah itu telah menyempurnakan setengah agama?

Dengan lugas ustad tersebut menjawab dengan perumpamaan bahwa kalau seseorang menikah maka ujiannya lebih berat daripada orang yang tidak menikah. Ujian orang yang menikah tidak hanya terhadap istri/suaminya, tetapi juga ujian terhadap mertua, keluarga istri, ipar, anak, orangtua kandung, dan sebagainya. Sebaliknya orang yang belum (tidak) menikah ujiannya sedikit, paling-paling terhadap orangtua dan adik/kakak.

Ini jawaban yang sederhana tetapi cukup menjelaskan bahwa menikah itu kelihatannya indah namun sebenarnya dibalik itu perjuangan menjalankannya cukup berat. Pertama, kita harus menyesuaikan diri dengan pasangan (istri/suami) yang berbeda karakter dengan kita. Menyatukan dua insan yang berbeda (latar belakang, sifat, perangai, budaya, dll) bukan hal yang mudah. Ada yang membutuhkan waktu penyesuaian yang cepat dan ada pula yang bertahun-tahun. Konflik antara suami istri pasti ada sampai dihasilkan titik temu atau bahkan tidak tercapai penyesuaian yang akhirnya berujung pada perceraian. Itulah ujian pertama.

Ujian berikutnya adalah bagaimana menempatkan diri terhadap mertua sembari tetap memberi perhatian kepada orangtua kandung. Timpang memperhatikan salah satu bisa menimbulkan ujian batin yang berujung pada konflik antara suami dan istri. Terlalu perhatian kepada orangtua kandung bisa menimbulkan kecemburuan istri, sebaliknya terlalu sayang kepada istri/suami atau mertua bisa membuat orangtua merasa tidak dibutuhkan lagi. Termasuk dalam ujian ini adalah keluarga mertua (adik/kakak ipar) dan saudara-saudaranya. Pokoknya pandai-pandai menempatkan diri sajalah.

Kalau sudah mempunyai anak, maka anak tidak hanya sebagai rahmat tetapi juga sekaligus ujian. Macam-macam saja ujiannya, mulai dari ujian kesabaran dalam mendidik anak hingga ujian ekonomi karena kebutuhan keluarga makin besar. Orangtua harus berjuang untuk untuk memenuhi hak anak. Pada saat-saat sulit bisa saja orangtua lupa pada iman sehingga mau melakukan hal-hal yang terlarang guna memenuhi kebutuhan keluarga (misalnya korupsi di kantor).

Memang berkeluarga itu sungguh berat perjuangannya. Nah, apakah anda menjadi takut menghadapi masa depan berkeluarga? Apakah anda akan memilih akan tetap membujang atau menikah? Kalau tetap membujang memang anda akan terhindar dari ujian dan perjuangan yang berat itu, tetapi anda belum menjalankan setengah dari ajaran agama. Mungkin baru seperempat atau sepertiganya saja. Jika menikah maka berarti anda sudah menyempurnakan setengah dari ajaran agama dan setengahnya lagi adalah ketaqwaan dalam menjalankan pernikahan itu. Menikah itu adalah ibadah dan setiap ibadah mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT.

Hidup itu penuh perjuangan dan ujian. Menikah itu berat, tetapi dibalik yang berat itu banyak pula nikmat yang diperoleh, nikmat lahir dan nikmat batin. Orang yang sudah menikah lancar saja rezekinya, dimudahkan saja urusan dan rezekinya oleh Allah SWT. Kadang rezeki itu datang tidak disangka-sangka. Apalagi kalau sudah punya anak, semakin deras saja rezeki mengalir dari-Nya untuk menghidupi si anak. Orang yang mendapat rezeki seringkali mengatakan itu rezeki anaknya yang baru lahir. Rahasia Allah tentang hidup memang misteri.


Written by rinaldimunir

November 20th, 2012 at 12:12 pm

Posted in Agama,Renunganku

Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 4): Jangan Lupa Oleh-oleh dan Makanannya

without comments

Jalan-jalan ke daerah jangan lupa membeli oleh-oleh buat orang di rumah atau teman. Oleh-leh Medan apalagi kalau bukan bika ambon dan sirup markisa. Kalau bika ambon saya kurang suka tuh, bikin enek gitu. Namun saya juga tidak mau membeli sirup markisa brastagi yang banyak dijual di toko swalayan atau supermarket di Bandung. Harus cari sirup markisa yang home made. Untunglah tukang betor mengantarkan saya ke tempat pembuatan markisa yang buatan rumah tangga. Tempatnya di Jalan S.Parman Gang Pasir.

Barisan sirop buatan rumah di Gang Pasir

Si Ibu Lie Lie penjual sirop tidak hanya menjual sirop markisa saja, tetapi segala jus buah ada, mulai dari jus kedondong, jus mangga, jus jambu, jus sirsak, terong belanda, dan lain-lain. Harganya Rp15.000 per botol. Kalau sirop markisa dan terong belanda lebih mahal, harganya Rp30.000 per botol. Mahal ya? Tetapi ini sari buah asli tanpa campuran, hanya ditambah air dan gula pasir. Pembeli bisa mencoba dulu jus buah di sana. Bu Lie Lie mnyediakan es batu dan gelas kecil untuk mencoba semua jenis jus yang bisa dipadukan menjadi jus campuran dengan rasa yang unik. Saya borong deh enam botol.

Deretan botol-botol jus buah

Perburuan berikutnya adalah… bolu meranti di Jalan Meranti. Bolu meranti sebenarnya adalah bolu gulung dengan isi yang bervariasi, ada nanas, keju, dan coklat. Cara pembeliannya cukup cepat karena sudah computerized. Pembeli cukup menyebutkan jenis bolu gulung yang ada di gambar pajangan.

Pilihan rasa bolu meranti

Pegawai mengetik pilihan dan mentransfer datanya ke bagian kasir dan dapur. Kita bayar di kasir, lalu menunggu bolu. Dalam waktu tiga menit pesan bolu kita sudah datang. Cepat sekali.

Kasir

Waahhh… sudah lapar nih. Malam ini saya ingin mencoba nasi soto medan. Tempatnya tidak jauh dari hotel tempat saya menginap.

Kedai nasi soto medan di dekat Hotel Santika

Soto medan mirip dengan soto lamongan di Jawa Timur, pakai santan, dan lauknya bisa dipilih dari ayam, daging sapi, atau jeroan. Rasanya gurih dan hmmm… enak. Maklum lagi lapar berat nih.

Nasi soto medan. Hmmmm….

Wuiih… banyak benar sajiannya, ada nasi, soto, perkedel, sambal, dan jeruk nipis. Minumnya saya pilih jus terong belanda. Kalau di Jawa apa ya nama buah khas Sumatera ini?

Jus terong belanda nan menggoda (mirip seperti jus stoberi)

Alhamdulillah. Sudah kenyang, sudah capek jalan-jalan, sekarang saatnya tidur nyenyak di hotel. Besok siang saya sudah kembali ke Bandung dengan pesawat Lion Air langsung ke Bandara Husein. Enak ya, tidak usah cape-cape via Jakarta.


Written by rinaldimunir

November 17th, 2012 at 10:04 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 3): Istana Maimun yang Indah

without comments

Ke kota Medan jangan lupa mengunjungi tempat wisata sejarah yang satu ini, yaitu Istana Maimun. Ini adalah istana peninggalan kerajaan Melayu Deli. Lokasinya tidak jauh dari Masjid Raya Medan yang saya kunjungi. Istana Maimum terbuat dari kayu namun masih kuat dan kokoh.

Bagus ya Istana Maimun Medan. Saya mencoba foto narsis dulu sejenak di depan istana. Kapan lagi bisa mampir ke istana ini.

Narsis di depan Istana Maimun

Yuk, kita jelajahi sudut demi sudut Istana Maimun nan rancak itu, perpaduan arsitektur Melayu dan Timur Tengah. Berikut foto-fotonya.

Dari tangga Istana Maimun tampaklah pemandangan ke arah Masjid Raya Medan.

Singgasana raja di ruang utama

Foto salah seorang raja Melayu Deli

Teras istana

Sudut kiri istana

Setelah puas menikmati keindahan Istana Maimun, jangan lupa mampir ke sebuah pondok kecil di halaman samping yang di dalamnya terdapat meriam buntung.

Meriam buntung

Menurut legenda (percaya atau tidak), meriam buntung ini adalah penjelmaan adik Putri Hijau dari Kerajaan Deli Tua. Putri Hijau dilamar oleh Raja Iskandar Muda dari Aceh namun pinangannya ditolak oleh Putri Hijau. Raja Iskandar Muda marah lalu prajurit Aceh mengyerang kerajaan Deli Tua. Adik Putri Hijau membela negaranya dengan berubah menjadi meriam (percaya?). Saking panasnya laras menriam karena menembak terus menerus maka meriam itu terbelah menjadi dua. Satu belahannya melayang jatuh di Tanah Karo (di derah Barus), sedangkan potongan lainnya disimpan di Istana Maimun.

Penjelasan hikayat meriam buntung

Bagi orang yang percaya pada hal gaib, meriam buntung itu ditaburi bunga dengan niat untuk apa, entahlah. Yang jelas kita jangan sampai memusyrikkan peninggalan sejarah.

Pengunjung sedang mengamati meriam buntung

Yuk ah sudah hampir malam, saya balik dulu ke hotel tempat menginap.

Cerita selanjutnya: Oleh-oleh Kota Medan.


Written by rinaldimunir

November 16th, 2012 at 9:23 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 2): Masjid Raya Medan yang Anggun

without comments

Ini lanjutan dari tulisan saya yang pertama: Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 1): Dimulai dari SNETE 2012.. Tulisan kedua ini menceritakan pengalaman saya mengunjungi Masjid Raya Medan yang terkenal itu.

Sejak dulu saya hanya bisa melihat foto-foto keindahan Masjid Raya Medan, sekarang saya bisa datang langsung ke sana. Saya ingin sekali shalat di masjid itu. Jika tahun lalu keinginan saya untuk shalat di Masjid Baiturrahman Banda Aceh sudah terwujud, maka tahun ini keinginan saya shalat di Masjid kebanggan orang Medan itu alhamdulillah sudah terkabul.

Di bawah ini foto Masjid Raya Medan dikala rembang petang. Betapa eloknya arsitektur masjid peninggalan kerajaan Melayu Deli itu.

Foto-foto Masjid Raya Medan sering dibidik dari pintu gerbang yang melengkung khas Timur Tengah. Saya pun mencoba mengambil ganbar dari pintu gerbang yang khas itu seperti foto-foto di bawah ini.

Gerbang masjid tampak dari luar

Gerbang masjid tampak dari halaman dalam

Di bawah ini foto saya sedang narsis di pelataran masjid. Halaman masjid sudah dikeramik semua, sudah tidak ada lagi berupa lapangan rumput.

Saya pun mengambil wudhu di tempat yang berjarak sepuluh meter dari masjid. Di pelataran masjid banyak berkeliaran bocah Medan yang menawarkan jasa semir ketika kita melepaskan sepatu untuk berwudhu. Kalau setuju, sepatu kita diambil oleh seorang bocah untuk disemir dan sebagai alas kaki mereka menawarkan sandal jepit untuk berjalan dari tempat wudhu ke tangga masjid.

Saya shalat sunnah tahyatul masjid di sana (sebelumnya saya sudah shalat Ashar di hotel). Interior di dalam masjid penuh dengan ornamen yang menawan, mirip seperti interior masjid di Turki atau daerah Timur Tengah lainnya.

Selesai shalat sunnah, saya berkeling di dalam masjid sambil merekam sudut-sudut lainnya seperti foto di bawah ini.

Koridor masjid

Pintu masjid dari sisi yang lain

Kompleks kuburan keluarga kerajaan Melayu Deli di belakang masjid raya

Menara masjid tampak dari kejauhan

Puas mengabadikan interior masjid, saya pun keluar. Masjid yang indah ini sayang untuk dilewatkan foto-fotonya dari sudut-sudut yang lain. Di bawah ini foto-foto masjid dari berbagai sudut pandang.

Narsis di depan gerbang

Meskipun dikenal dengan nama Masjid Raya Medan, tetapi nama resmi masjid bukanlah itu, melainkan Masjid Raya Al-Mashun seperti tulisan pada papan nama di bawah ini:

Hari sudah semakin sore. Tujuan berikut saya adalah Istana Maimoon yang elok. Sedih rasanya berpisah dengan Masjid Raya Medan, semoga pada lain waktu saya bisa ke sana lagi.

Baca tulisan saya yang ketiga: Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 3): Istana Maimun yang Indah.


Written by rinaldimunir

November 15th, 2012 at 12:13 am

Posted in Cerita perjalanan