if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2012

Bapak Penyabit Rumput

without comments

Laki-laki asal Majalengka ini selalu datang ke rumah saya setiap beberapa bulan sekali. Dia hafal benar kapan rumput di halaman rumah saya sudah memanjang.

“Pak, rumputnya mau dipotong?”, tanyanya dengan wajah mengharap.

Sejenak saya memperhatikan rumput yang sudah panjang, lalu mengangguk setuju. Setelah deal dengan upahnya, lalu saya katakan:

“Silakan, Pak”, kemudian saya masuk kembali ke dalam rumah.

Dia menyabit rumput itu dengan rapi. Halaman rumah saya tidak terlalu luas, dan dalam waktu dua jam dia pun menyelesaikan pekerjaanya dan menerima upahnya dengan bahagia.

Laki-laki seperti dia ada banyak di Bandung. Mereka kebanyakan buruh tani dari Majalengka (sebuah kabupaten di Jawa Barat) seperti Mang Toto. Ketika di kampung sedang tidak ada pekerjaan menggarap sawah, mereka menyerbu kota Bandung dan mencari pekerjaan sebagai buruh gali, tukang sabit rumput, dan pekerjaan kasar lainnya. Mereka menunggu di sudut-sudut jalan sambil berharap ada proyek bangunan yang membutuhkan tenaga mereka. Sebagian dari mereka tidak duduk menunggu, tetapi berjalan menyusuri pemukiman dan menawarkan tenaganya untuk membersihkan halaman rumah penduduk.

Ya, rumput di halaman adalah keindahan rumahmu, tetapi sumber rezeki bagi orang kecil seperti mamang asal Majalengka ini. Barakollah Pak, semoga tetes keringatmu bermanfaat bagi anak istrimu di rumah.


Written by rinaldimunir

October 30th, 2012 at 2:32 pm

Kembalikan Rizkan!

without comments

Semalam ada meeting beberapa alumni IF ITB di Sindang Reret, Bandung. Yang menjadi bintangnya adalah Rizkan Chandra, Direktur Network & Solution PT Telkom Indonesia, salah satu kandidat Ketua IA IF ITB.

Dia orang Madura dengan segala karakternya, isterinya orang Makassar dengan karakter yang tidak jauh berbeda. Apa yang keluar dari mulutnya apa adanya, tampaknya beliau bisa dipercaya dan amanah dengan jabatan dan tanggung jawabnya. Pengalaman bisnisnya cemerlang, meningkatkan penjualan 2 kali lipat, dan membuat anak perusahaan Telkom yang tadinya merugi kini mampu mencetak laba signifikan.

Awalnya perkenalan biasa, kemudian beliau menceritakan background dan perjalanan hidupnya yang penuh hikmah. Dua kali diterima di MIT namun selalu terganjal masalah biaya, tak menjadikannya patah arang. Dengan kesabaran, beliau pun S2 di Singapura dengan beasiswa dobel.

Setiap jabatan yang diperolehnya adalah buah dari prinsip sederhana: kejarlah akhirat, maka dunia akan bertekuk lutut kepadamu. Dengan tegas ia tak mau menggunakan suap maupun jalan pintas lain sebagaimana lazim terdengar dalam mengejar jabatan.

Dalam pencalonannya sebagai ketua IA IF ITB, diceritakan bahwa hal tersebut sudah ditolaknya dengan halus, namun terus saja berdatangan dukungan dan ajakan untuk bersama-sama membuat IF ITB memiliki citra yang sepantasnya, bukan warga kelas 2, tenggelam di tengah dominasi tetangga sebelah departemen/jurusan.

Dia siap menang dan juga belajar ikhlas bila ditakdirkan untuk kalah. Baginya, siapapun yang menjadi ketua, semua alumni seharusnya memberikan kontribusi, bukan hanya bagi IF ITB, atau Bandung, atau Jawa Barat, melainkan bagi Indonesia tercinta. Pikirkan dan berikanlah yang terbaik bagi Indonesia, maka akan selalu ada jalan bagi kita sebagai pribadi maupun kelompok untuk masalah yang kita hadapi.

Untuk IA IF ITB, “Kembalikan Rizkan!” (Update: Karena alasan kesibukan pekerjaan, beliau mengundurkan diri 1 Nov 2012)

H-4 Kongres Alumni IF ITB


Written by arifrahmat

October 30th, 2012 at 10:38 am

Tidak Semua “Chinese Food Halal” itu Halal Lho…

without comments

Ketika melihat daftar menu cah kangkung di sebuah restoran chinese food yang berlabel HALAL, saya pun tergoda memesan untuk dibungkus pulang. Saya sangat suka kangkung dalam bentuk masakan cah, biasanya dicampur dengan seafood seperti udang atau cumi, pakai sambal pedas, wah nendang banget nih, bisa-bisa saya makan nambah lagi.

Karena ada tulisan HALAL di restoran itu maka saya berani untuk membelinya. Tapi tunggu dulu, saya belum yakin 100% apakah benar-benar halal, apakah memang semua bahan bakunya halal? Kebanyakan orang beranggapan chinese food yang halal berarti tidak menjual menu daging babi. Restoran cina biasanya identik dengan daging babi dalam menunya, sehingga kaum muslim enggan makan di sana. Untuk menjaring konsumen muslim, beberapa rumah makan chinese food tidak menghidangkan daging babi dan menuliskan label HALAL pada restorannya. Padahal halal tidak selalu berarti tidak ada daging babi.

Saya memesan seporsi cah kangkung di sebuah rumah makan chinese food halal di kawasan Arcamanik, Bandung. Sambil menunggu pesanan, iseng-iseng saya perhatikan cara memasaknya. Sang koki begitu piawai dalam memasak pesanan saya. Satu per satu bumbu dimasukkannya ke dalam wajan. Ketika dia menuangkan cairan berwarna hitam dari sebuah botol, saya bertanya-tanya dalam hati, itu apa? Kecap kah? Kayaknya bukan kecap karena ada tulisan aksara mandarin pada kemasan botol. Lagipula cah kangkung tidak pakai kecap (saya sudah minta agar tidak pakak kecap kepada pelayannya). Selain cairan yang berwarna hitam, dia juga menuangkan sedikit cairan lain yang warnanya agak merah dan cairan berwarna putih. Kemasan botolnya masih berlabel mandarin.

Saya tidak enak untuk bertanya kepada koki, namun naluri saya mengatakan salah satu cairan yang dituang ke dalam wajan adalah arak. Saya sering mendengar masakan cina biasanya ditambah sedikit arak (angciu) untuk membuat masakan menjadi enak. Arak adalah khamar (minuman yang memabukkan), dan khamar itu hukumnya jelas-jelas haram. Meskipun dalam jumlah sedikit atau banyak, bila khamar dicampur ke dalam makanan maka hukum makanannya tetap haram. Banyak orang mengangap sepele soal arak di dalam masakan cina/jepang, toh cuma sedikit kan tidak apa-apa. Biarpun sedikit tetap saja haram dikonsumsi. Agar lebih jelas tentang hukum arak dalam masakan cina/jepang silakan baca tulisan ini: Arak Dalam Berbagai Masakan dan tulisan tentang angciu: Ang Ciu.

Angciu (arak cina). Sumber foto: http://try2bcoolnsmart.wordpress.com/2012/09/13/ang-ciu/

Karena saya diliputi keraguan, meskipun dalam hati kecil saya yakin itu adalah arak, maka saya jadi ragu untuk memakannya. Dalam ajaran agama jika kita merasa ragu (syubhat) maka sebaiknya ditinggalkan. Setiba di rumah cah kangkung tadi saya buang ke tempat sampah. Saya takut dosa memakan makanan yang tercemar barang haram. Biarlah terbuang uang Rp15.000 daripada memakan yang tidak halal. Hidup tidak barokah karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang dilarang oleh Allah SWT. Lain kali saya akan lebih berhati-hati lagi kalau membeli makanan di chinese food yang berlabel halal sekalipun.


Written by rinaldimunir

October 29th, 2012 at 12:02 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Kisah Pemulung Mengurbankan Dua Ekor Kambing

without comments

Ini masih seputar Idul Adha. Tradisi berkurban dengan menyembelih kambing atau sapi adalah untuk meneladani Nabi Ibrahim a.s yang mematuhi perintah Alah SWT yang menyuruhnya untuk menyembelih anaknya tersayang, Ismail. Meskipun Ismail tidak jadi disembelih, tetapi kepatuhan Nabi Ibrahim berkurban itu diganti dengan penyembelihan seekor domba.

Tradisi menyembelih hewan kurban itu berlaku sampai sekarang. Orang diluar Islam mungkin beranggapan ummat Islam menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha untuk dipersembahkan kepada Tuhan, sama seperti kebiasaan penganut agama politheisme yang mempersembahkan hewan kurban (bahkan manusia) untuk para dewa. Bahkan sebagian umat Islam yang tidak mengerti ada pula yang beranggapan demikian. Anggapan tersebut tentu salah, sebab Allah SWT tidak memerlukan daging maupun darah hewan kurban. Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah SWT, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 37 sebagai berikut:

Daging dan darah binatang korban itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ‘amal yang ikhlas yang berdasarkan taqwa daripada kamu…” (Surah al-Hajj:37)

Dengan menyembelih hewan kurban maka yang sampai kepada Allah adalah amal yang ikhlas karena ketaqwaan hamba-Nya. Menyembelih hewan kurban berarti kita memmatuhi perintah Allah untuk berkurban sebagian harta kita dan membelikannya hewan. Daging hewan kurban itu nantinya tidak ditaruh di tempat-tempat suci agar diterima Allah, tetapi dibagikan kepada fakir miskin yang sehari-hari sangat jarang makan daging karena harganya yang tidak terjangkau oleh mereka. Sedangkan bagi kita orang yang mampu, memakan daging adalah hal yang biasa. Masya Allah, sungguh Hari Raya Idul Adha (atau Idul Qurba) itu bermakna sosial.

Ada sebagian orang Islam yang banyak hartanya tetapi enggan untuk membeli hewa kurban untuk disumbangkan kepada mustahik. Semangat berkurban belum ada pada dirinya. Orang-orang kaya seperti itu seharusnya malu kepada seorang pemulung bernama Mak Yati. Meskipun miskin, tetapi semangat berkurbannya sungguh luar biasa. Selama 3 tahun dia menabung hasil memulung sampah, dan pada Idul Adha tahun ini dia menyumbang kurban dua ekor kambing (baca berita di bawah, dikutip dari detik.com). Masya Allah, sungguh mengharukan. Mudah-mudahan amal shalehnya dibalas Allah SWT dengan syurga di akhirat kelak.

~~~~~~~~~~~~

Kisah Mak Yati, Pemulung yang Menabung 3 Tahun untuk Kurban 2 Kambing

Jakarta. Semangat berkurban di hari raya Idul Adha ternyata dirasakan juga oleh Mak Yati (65), perempuan tua yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung. Wanita yang sehari-harinya bekerja mengumpulkan botol bekas itu menabung selama tiga tahun untuk berkurban dua ekor kambing.

Mak Yati diketahui sering mengumpulkan botol bekas di sekitar wilayah Tebet. Dia juga cukup sering berkunjung ke Masjid Al Ittihad yang ada di wilayah Tebet Barat. Pengurus masjid itu juga mengenalnya.

“Saya sudah kenal Mak Yati 15 tahun, sejak tahun 1997. Pertama saya baru kerja di masjid ini Mak Yati sudah wara-wiri mulung di sini,” kata pengurus masjid bernama Syaiful saat ditemui di Masjid Al Ittihad, Tebet Barat, Jakarta, Jumat (26/10/2012).

Syaiful menuturkan pada Senin (22/10) malam, dengan menumpang bajaj, Mak Yati membuat kaget pengurus masjid. Dia membawa dua ekor kambing beserta rumputnya ke Masjid Al Ittihad untuk berkurban.

“Mak Yati bilang mau menyumbangkan dua ekor kambing untuk disembelih pada hari raya Idul Adha ini,” tutur Syaiful.

Tak ayal hal tersebut membuat pengurus masjid terharu. “Kita nggak nyangka Mak Yati bawa kambing malam itu, ya kita terharu lah. Orang sehari-hari dia cuma mulung, tapi punya niat untuk menyumbangkan hewan kurban untuk lebaran ini,” imbuh Syaiful.

Mak Yati yang ditemui di rumahnya, di kawasan Tebet, mengaku memang sudah lama ingin berkurban. Keinginan itu terus dia pelihara sambil menabung untuk membeli hewan kurban.

“Sudah lama Mak pengen kurban nak. Sejak tiga tahun yang lalu. Tapi kan mak ini kerjaannya cuma mulung, jadi penghasilan nggak jelas. Buat makan sehari saja kadang udah sukur. Jadi Mak ngumpulin dulu duit Rp 1.000, Rp 1.500 sampai tiga tahun, lalu Mak beliin kambing dua ekor. Sampai-sampai penjual kambingnya Mak cegat di tengah jalan saking Mak pengen beli kambing,” ujar Mak Yati sambil tertawa.

Sumber: http://news.detik.com/read/2012/10/27/053103/2073802/10/kisah-mak-yati-pemulung-yang-menabung-3-tahun-untuk-kurban-2-kambing?991101mainnews

~~~~~~~~~~~~~
Mak Yati, Pemulung yang Kurban Dua Kambing Berniat Bersihkan Harta

Jakarta. Rumah ukuran 5×4 m yang berlapis triplek di kawasan Tebet Barat itu terlihat sangat sederhana. Barang rongsokan dan sampah berserakan menghiasi tanah di sekitaran rumah tersebut. Di sinilah Mak Yati (65) menjalani hidupnya selama setahun ini.

detikcom berkesempatan untuk mengunjungi rumah Mak Yati di kawasan Tebet Barat, Jakarta, Jumat (26/10/2012). Di rumahnya, mengenakan pakaian seadanya berupa kaos berwarna hitam dan celana pendek lusuh, Mak Yati yang didampingi suaminya Pak Maman menyambut dengan ramah.

“Yah, disinilah Mak hidup setahun ini nak. dulu masih sering pindah-pindah. Namanya juga pemulung, hidup di tanah orang, kadang diusir pindah ke sini. Terus diusir lagi, pindah lagi. Alhamdulillah, udah setahunan ini Mak tinggal di daerah sin,” ujar Mak Yati memulai obrolan.

Mak Yati mengaku sudah menjadi pemulung sejak tahun 1965 hingga hari ini. Wanita asal Madura ini mengadu nasib ke Jakarta karena terpaan hidup yang bertubi-tubi di kampungnya sehingga ia nekat datang ke Jakarta walau tanpa bekal yang cukup.

“Mak udah lama mulung, sejak tahun 1965. Ya, dihitung saja sudah berapa lama Mak kayak gini. Tapi Alhamdulillah nak, sampai sekarang Mak masih kuat kerja, ini berkat pertolongan Allah SWT juga,” ujar Mak Yati.

Niat untuk berkorban sudah terbersit di benak Mak Yati sejak tiga tahun yang lalu. Niat itu bermula ketika dia mengambil jatah sembako di sebuah kelurahan. Saat itu tiba-tiba muncul sebuah niat di dalam hati Mak Yati untuk bersedekah pada hari raya kurban.

“Sudah lama Mak pengen kurban Nak. Sejak tiga tahun yang lalu. Tapi kan mak ini kerjaannya cuma mulung, jadi penghasilan nggak jelas. Buat makan sehari saja kadang udah sukur. Jadi Mak ngumpulin dulu duit Rp 1.000, Rp 1.500 sampai tiga tahun, lalu Mak beliin kambing dua ekor. Sampai-sampai penjual kambingnya Mak cegat di tengah jalan saking Mak pengen beli kambing,” tutur Mak Yati sambil tertawa.

“Tapi Alhamdulillah Nak, tahun ini niat Mak kesampaian. Mungkin sudah izin dari Allah juga tahun ini Mak bisa nyumbang kambing ke masjid. Jadi penghasilan dari Mak mulung ada faedahnya. Istilahnya bersihin harta, gitu-gitu,” imbuhnya kembali diselingi tawa.

Mak Yati mengejutkan pengurus Masjid Al Ittihad, Tebet, Jumat (26/10) kemarin karena membawa dua kambing untuk dikurbankan di masjid itu. Hal itu membuat terharu pengurus masjid yang tahu keseharian Mak Yati sebagai pemulung.

“Kita nggak nyangka Mak Yati bawa kambing malam itu, ya kita terharu lah. Orang sehari-hari dia cuma mulung, tapi punya niat untuk menyumbangkan hewan kurban untuk lebaran ini,” kata pengurus masjid bernama Syaiful.

Sumber: http://news.detik.com/read/2012/10/27/073539/2073808/10/mak-yati-pemulung-yang-kurban-dua-kambing-berniat-bersihkan-harta


Written by rinaldimunir

October 28th, 2012 at 4:34 pm

Posted in Agama

Bila Hari Raya Idul Fitri/Idul Adha Jatuh pada Hari Jumat

without comments

Hari Raya Idul Adha 1433 H kemarin jatuh pada Hari Jumat. Sebelum melakukan shalat Ied, pengurus DKM masjid mengumumkan bahwa masjid di kompleks kami tidak menyelenggarakan shalat Jumat, bagi jamaah yang ingin shalat Jumat silakan mencari masjid lain yang menyelenggarakan shalat Jumat. Namun, rata-rata masjid sebelah juga tidak mengadakan shalat Jumat.

Shalat Jumat hukumnya wajib bagi laki-laki muslim, namun ketika Hari Raya Idul Adha seperti ini, secara logika masjid tidak menyelenggarakan shalat Jumat dapat dimaklumi. Seusai shalat Ied penyembelihan hewan kurban pun dilakukan. Halaman masjid penuh dengan darah dan kotoran kambing atau sapi. Sementara itu di teras masjid puluhan orang sibuk memotong-motong daging, menimbang dan membungkusnya. Selepas Dhuhur daging itu akan dibagikan kepada mustahik (fakir dan miskin). Halaman dan teras masjid kotor dan bau. Dengan kondisi masjid yang tidak memungkinkan seperti itu maka bisa dimengerti kalau shalat Jumat ditiadakan.

Kegiatan memotong hewan kurban di masjid Baitul Mu’min, Antapani, tahun yang lalu

Tetapi, itu kan baru alasan logis, tentu harus ada alasan syariat yang lebih kuat mengapa shalat Jumat ditiadakan. Ternyata ada rukhsah (keringanan) untuk tidak mengadakan shalat Jumat pada Hari Raya. Dikutip dari sini, ada empat pendapat (ijtihad) ulama berkaitan dengan shalat Jumat pada Hari Raya Idul Fitri/Idul Adha:

Pertama, shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kota (ahlul amshaar / ahlul madinah) yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jumat. Sedang bagi orang yang datang dari kampung atau padang gurun (ahlul badaawi / ahlul ‘aaliyah), yang di tempatnya itu tidak dilaksanakan shalat Jumat, gugur kewajiban shalat Jumatnya. Jadi jika mereka –yakni orang yang datang dari kampung — telah shalat hari raya, boleh mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Inilah pendapat Imam Syafi’i. Ini pula pendapat Utsman dan Umar bin Abdul Aziz.

Kedua, shalat Jumat wajib tetap ditunaikan, baik oleh penduduk kota yang ditempati shalat Jumat maupun oleh penduduk yang datang dari kampung. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Jadi, shalat Jumat tetap wajib dan tidak gugur dengan ditunaikannya shalat hari raya.

Ketiga, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun bagi orang yang ditempati shalat Jumat. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Demikian pendapat Imam Ahmad.

Keempat, zhuhur dan Jumat gugur sama-sama gugur kewajibannya pada hari itu. Jadi setelah shalat hari raya, tak ada lagi shalat sesudahnya selain shalat Ashar. Demikian pendapat ‘Atha` bin Abi Rabbah. Dikatakan, ini juga pendapat Ibnu Zubayr dan ‘Ali.

Seorang muslim tentu boleh mengikuti pendapat mana yang diyakininya. Namun, di antara keempat pendapat di atas, pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, rahimahullah. Rincian hukumnya adalah sebagai berikut (masih dikutip dari laman web tersebut):

Hukum Pertama, jika seseorang telah menunaikan shalat hari raya -yang jatuh bertepatan dengan hari Jumat- gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan shalat Jumat. Dia boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh juga tidak.

Hukum Kedua, bagi mereka yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut, lebih utama dan disunnahkan tetap melaksanakan shalat Jumat.

Hukum Ketiga, jika orang yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan shalat Jumat, wajib melaksanakan shalat zhuhur, tidak boleh meninggalkan zhuhur.

Hukum Keempat, mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya, wajib atasnya untuk menunaikan shalat Jumat, tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat.

Kesimpulannya, masjid yang tidak menyelanggarakan shalat Jumat berarti mengikuti pendapat Imam Ahmad di atas, yaitu shalat Jumat pada Hari Raya hukumnya menjadi tidak wajib (sunnah jika diadakan), namun shalat Dhuhur tetap wajib dilakukan. Namun, saya dengar dari teman ada juga masjid yang tetap menyelenggarakan shalat Jumat. Di sebagian masjid pemotongan hewan kurban dilakukan pada Hari Sabtu atau pada 3 hari tasyrik yang lain sehingga shalat Jumat tetap tidak terhalang diselenggarakan.


Written by rinaldimunir

October 27th, 2012 at 5:59 am

Posted in Agama

“Keajaiban” Angka 9

without comments

Ternyata angka 9 itu memang angka yang sempurna dan ajaib. saya sebut angka yang sempurna karena 9 adalah angka yang terbesar. Orang Cina punya kepercayaan tentang angka 9 sebagai angka pembawa hokie. Rokok “Dji Sam Soe” menggunakan triple angka 234 yang jika dijumlahkan hasilnya 9. Entah kebetulan atau apa, saya membeli sebuah rumah yang nomor rumahnya adalah angka 9, sampai sekarang.

Angka 9 ini “ajaib” karena kalau dikalikan dengan 1, 2, .., 10 menghasilkan susunan angka yang memperlihatkan sifat palindrom (dibaca dari depan dan dari belakang sama).
Mari kita lakukan operasi perkalian:

1 x 9 = 09
2 x 9 = 18
3 x 9 = 27
4 x 9 = 36
5 x 9 = 45
6 x 9 = 54
7 x 9 = 63
8 x 9 = 72
9 x 9 = 81
10 x 9 = 90

Coba anda baca angka pertama hasil perkalian dari atas ke bawah: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Coba anda baca angka kedua hasil perkalian dari bawah ke atas….: 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1, 0
Inilah yang saya maksud dengan palindrom.

Coba anda perhatikan susunan angka dari baris pertama dan dari baris bawah secara bersamaan:
09 —> 90
18 —> 81
27 —> 72
36 —> 63
45 —> 54
Ini juga saya sebut palindrom!

Sekarang coba jumlahkan setiap angka pada hasil perkalian:
09 —-> 0 + 9 = 9
18 —-> 1 + 8 = 9
27 —-> 2 + 7 = 9
36 —-> 3 + 6 = 9
45 —-> 4 + 5 = 9
54 —-> 5 + 4 = 9
63 —-> 6 + 3 = 9
72 —-> 7 + 2 = 9
81 —-> 8 + 1 = 9
90 —-> 9 + 0 = 9

Ho..ho..ho, kenapa saya baru tahunya sekarang?


Written by rinaldimunir

October 25th, 2012 at 2:07 pm

Posted in Gado-gado

“Like This” Buat Novel Karya Ahmad Fuadi (“Negeri 5 Menara” dan “Ranah 3 Warna”)

without comments

Saya lagi suka-sukanya membaca novel trilogi dari Ahmad Fuadi. Novel pertama Negeri 5 Menara dan yang kedua Ranah 3 Warna. Kedua novel ini menjadi best seller dan untuk novel pertama sudah dicetak 15 kali. Wah, penerbitnya pasti untung besar tuh.


Kedua novel Ahmad Fuadi itu sangat inspiratif, kaya dengan kata-kata mutiara dari para gurunya dan kaya dengan hikmah atau pelajaran hidup. Hampir semua kata-kata di dalam buku novel sarat makna.

FYI, kedua novel tersebut menceritakan kisah pribadi penulisnya. Novel pertama, Negeri 5 Menara, berisi kisah kehidupannya selama menjadi santri di pondok pesantren (di dalam novel itu disebut Pondok Madani, Ponorogo, tetapi saya kira itu nama samaran saja sebab semua orang mahfum itu adalah Pesantren Modern Gontor, tempat Fuadi dulu bersekolah). Sedangkan novel kedua, Ranah 3 Warna, berisi kisahnya selama menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Unpad, Bandung, dan kisah serunya semasa mengikuti pertukaran mahasiswa di Kanada.

Yang membuat saya terharu dan terkesan dengan kedua novel itu adalah kenangan primordial. Pertama, kenangan semasa kecil di kampung (Maninjau, Sumbar). Saya juga orang Minang sepeti Fuadi dan dalam beberapa hal saya mempunyai pengalaman masa kecil yang sama dengan Fuadi ketika saya tinggal di Padang dulu. Membaca novel itu saya merasa seolah-olah terlempar ke masa lalu semasa kecil diasuh oleh ayah dan ibu di Ranah Minang.

Kedua, ITB. Fuadi (dalam novel itu bernama Alif) bercita-cita ingin kuliah di ITB seperti temannya, Randai. Itu impiannya sejak SMP, Tetapi, keinginan masuk ITB itu harus kandas karena ibunya lebih menginginkan dia masuk pesantren selepas SMP. ITB adalah tempat saya kuliah dan mengabdi sampai saat ini. Saya tahu benar umumnya siswa pintar di Sumatera Barat ingin kuliah ke Bandung, ke ITB, setelah lulus SMA. Kalau kuliah di Jakarta (UI) kurang diminati karena kotanya terlalu ramai, kalau kuliah di Yogya terlalu jauh, nah kuliah di ITB Bandung adalah pilihan yang pas. Beberapa kali disebut ITB di dalam novel itu, dan ini benar-benar membuat saya terharu. Begitu dalam keinginannya untuk kuliah di ITB.

Ketiga, Bandung. Di dalam novel yang kedua, Fuadi menceritakan kisahnya kuliah di Bandung. Meskipun kandas masuk ITB, tetapi Fuadi tetap merasakan aura Bandung karena dia lulus masuk Unpad. Di dalam novel itu lika-liku kehidupan mahasiswa di Bandung, termasuk kosan di kawasan Pasar Simpang, Tubagus Ismail, Sekeloa, Cisitu, Dago, dan lain-lain diceritakan dengan menarik. Bandung adalah kota tempat saya menetap hingga sekarang. Saya sudah menjadi warga kota Bandung dan mempunyai keturunan di kota ini. Kisah kuliah di Bandung di dalam novel itu mengingatkan saya semasa kuliah dulu. Benar-benar saya hanyut dengan cerita tentang Bandung di dalam novel kedua itu.

Sekarang saya sudah tidak sabar menunggu novel triloginya yang ketiga, yang katanya sedang ditulis di Eropa. Mudah-mudahan tidak lama lagi A.Fuadi menyelesaikan novel ketiganya. I like this.


Written by rinaldimunir

October 23rd, 2012 at 4:44 pm

Posted in Gado-gado

Happy Feet Flash Drawing Tutorial

without comments

Siti Nursalamah sa_salamah [at] yahoo.com It is my first time drawing a picture in Flash. I decided to draw penguins. As we know, penguins life in pole area or snow land. So I draw snow land for the background. Drawing the penguins, I was inspired by looking penguin picture in the internet. Let’s begin…   [...]

Written by Petonx-Animation : Free Educational Flash Animation Download & Tutorial

October 23rd, 2012 at 7:10 am

Kerja saat ‘gak mood’

without comments

Mood jika diterjemahkan artinya adalah suasana hati. Sejauh manakah hubungan antara suasana hati dengan produktivitas kerja? Jawabnya, tergantung seberapa besar pengaruh sebuah kejadian terhadap suasana hati kita. Jika kita merespon sepenuh hati terhadap sebuah masalah maka bisa jadi suasana hati kita sangat terpengaruh dengan hal itu. Sebagai contoh, misalnya tadi sebelum berangkat kerja tiba-tiba si adek menangis tersedu-sedu dan tidak mau dilepaskan dari pelukan, seperti sangat ingin ditemani oleh umminya. Antara ya dan tidak untuk memaksanya melepaskan pelukan. Antara tega dan tidak tega. Antara mendisiplinkan dan memanjakan. Alhasil, rasanya suasana hati saya masih terpengaruh kejadian tadi.  Efeknya, rasanya ingin segera pulang ke rumah.

Lantas, apakah kita biarkan suasana hati menjadikan kita tidak produktif? Tentu tidak. Tentunya, kita sudah punya rencana apa-apa saja yang ingin dikerjakan satu hari ini. Kita tentu sudah punya rencana teknis apa-apa saja yang perlu dilakukan. Kerjakan rencana kita seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Usahakan tercapai apa-apa yang kita targetkan. Memang, kalau terpaksa, bolehlah kita tunda beberapa hal yang memang belum dibutuhkan dalam waktu dekat, asal kita komitmen dan ingat untuk menyelesaikannya di hari lain. Intinya adalah jangan sampai kita tidak melakukan apa-apa dengan alasan ‘lagi gak mood’.


Written by indahgita

October 22nd, 2012 at 1:34 pm

Posted in Bebas

Sumur Tua di Trotoar Jalan Cipaganti

without comments

Kemarin saya jalan-jalan melewati jalan Cipaganti. Jalan Cipaganti adalah jalan favorit saya di Bandung, karena jalannya teduh, banyak pohon-pohon besar yang rindang. Di kiri kanan jalan berderetrumah-rumah tua peninggalan kolonial Belanda masih awet berdiri.

Ada yang menarik perhatian saya ketika melihat sumur tua di sebuah trotoar. Sumur tua itu masih berfungsi. Sumur ini sengaja tidak dimatikan ketika pembuatan trotoar, mungkin karena bersejarah. Waktu saya lihat ke dalam airnya cukup jernih, pastilah di bawahnya ada sumber mata air.

Bagi pejalan kaki hati-hati saja kalau lewat trotoar pada malam hari, khawatir terperosok.

Mudah-mudahan sumur tua ini tidak akan pernah ditutup atau ditimbun, karena keberadaanya banyak membantu warga sekitar pada musim kemarau.


Written by rinaldimunir

October 21st, 2012 at 4:51 pm

Posted in Seputar Bandung