if99.net

IF99 ITB

Archive for September, 2012

STEI-ITB Merealisasikan Jurnal Makalah TA

without comments

Wah, saya baru tahu kalau fakultas saya, STEI-ITB, telah meluncurkan jurnal makalah TA. Namanya “Jurnal Sarjana ITB Bidang Teknik Elektro dan Informatika”. Jurnal ini dibuat untuk merealisasikan surat edaran Dirjen Dikti tentang kewajiban publikasi karya ilmiah bagi mahasiswa S1, S2, dan S3 sebagai syarat kelulusan (baca tulisan saya tentang hal ini). Tapi, tentu tidak hanya sekadar mengindahkan surat edaran Dikti tersebut, saya pikir ada tujuan lain yaitu untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di negara kita.

Laman web Jurnal Sarjana ITB Bidang Teknik Elektro dan Informatika

Klik URL http://stei.itb.ac.id/jurnal/index.php untuk masuk ke jurnal tersebut. Ketika tulisan ini dibuat ternyata jurnal sudah memiliki dua nomor edisi. Nomor edisi pertama adalah kumpulan makalah TA periode wisuda April 2012 yang lalu, dan nomor edisi kedua adalah kumpulan makalah TA periode wisuda Juli 2012. Sekarang akan memasuki nomor edisi ketiga untuk wisuda Oktober 2012 nanti. Memang jurnal tersebut “terbit” setiap kali wisuda (di ITB ada kali wisuda dalam satu tahun). Ada lima Pogram Studi di STEI-ITB, dan jurnal tersebut (akan) berisi makalah TA dari kelima Prodi tersebut.

Jurnal Sarjana STEI ini bentuknya daring (online) dan tidak (belum) punya versi cetaknya. Sepertinya memang akan terus dalam bentuk daring supaya bisa terindeks oleh mesin pencari, tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk dibuat dalam bentuk cetak. Meskipun dalam bentuk daring, tetapi jurnal tersebut sudah punya dua ISSN masing-masing untuk versi cetak dan versi daring (Print ISSN: 2302-0040 ; Online ISSN: 2302-0040). Jurnal tersebut bersifat open, jadi siapapun dapat mengunduh makalah (full paper) dalam format pdf.

Mungkin ada yang bertanya, siapa reviewer makalah tersebut? Sebuah jurnal ilmiah yang baik adalah jurnal yang mengalami proses peer review. Sesuai ketentuan di fakultas saya, reviewer adalah dosen pembimbing dan dosen penguji sidang TA. Ketika mahasiswa sidang TA, mereka wajib meyerahkan makalah TA, nanti dosen pembimbing dan dosen penguji yang me-review-nya. Sederhana. Saya pikir untuk makalah setingkat S1 (yang tidak terlalu “seserius” makalah S2 dan S3) proses review sudah cukup seperti itu saja. Kalau melibatkan peer review dari luar cukup merepotkan apalagi makalah yang akan di-review sangat banyak dalam satu tahun.


Written by rinaldimunir

September 30th, 2012 at 10:29 pm

Bandara Husein Bandung Makin Ramai Saja (Andai Ada Penerbangan Bandung – Padang, fu..fu..fu)

without comments

Wah, Bandara Husein Sastranegara Bandung makin ramai saja dengan maskapai yang melakukan penerbangan dari dan ke Bandung. Semakin banyak saja rute penerbangan langsung dari bandara ini. Dulu Bandara Husein sering diplesetkan sebagai “bandara hiji” (hiji dalama bahasa Sunda artinya satu), karena dalam sehari hanya ada satu penerbangan di sana yaitu Bandung – Surabaya (terus ke Denpasar) yang dilayani oleh satu maskapai, Merpati.

Bandara Husein Sastaranegera Bandung. Ini foto ketika saya sekeluarga jalan-jalan ke Bali tahun 2011 yang lalu

Sekarang? Wah, banyak sekali pilihan terbang dari Bandung, tidak hanya Air Asia saja yang meramaikan Bandara Husein, tetapi sekarang sudah ada Garuda, Lion Air, Batavia, Sriwijaya, maskapai baru seperti Sky Aviation dan Royal Pacific. Padahal Bandara Husein ini kecil saja namun sekarang kebanjiran penumpang dan maskapai. Nih beberapa rute penerbangan langsung yang saya ketahui dari dan ke bandara Husein:

Rute domestik:
1. Bandung – Surabaya (rute klasik sejak dulu ada, dilayani oleh Merpati, Lion, Garuda, Air Asia, Sriwijaya)
2. Bandung – Denpasar (rute klasik sejak dulu ada, dilayani oleh Merpati via Surabaya, Lion, Air Asia, dan terbaru oleh Garuda)
3. Bandung – Medan (Lion, Air Asia)
4. Bandung – Pekanbaru (Lion Air, Air Asia)
5. Bandung – Yogyakarta (Merpati, Lion)
6. Bandung – Semarang (Merpati, Royak Pacific)\
7. Bandung – Banjarmasin (Lion)
8. Bandung – Balikpapan (Lion)
9. Bandung – Makassar (Lion)
10 Bandung – Bandarlampung (Merpati, Sky Aviaton), bisa terus ke Palembang katanya
11. Bandung – Jakarta (Merpati, Susi Air)
12. Bandung – Pangandaran (Susi Air)
13. Bandung – Batam (Lion)

Rute internasional:
1. Bandung – Kuala Lumpur (Air Asia, Malaysia Airlines), bisa terus ke Bangkok, Vietnam, dsb
2. Bandung – Singapura (Air Asia, Batavia)
3. Bandung – Johor (Tiger Airways)

Sebagai orang yang sering melakukan perjalanan jauh, saya tentu senang ada rute penerbangan langsung dari Bandung. Jadi, saya — dan saya kira masyarakat lain di Bandung sependapat dengan saya — tidak perlu repot jauh-jauh ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta untuk naik pesawat ke tujuan kota lain. Kalau ada penerbangan langsung dari Bandung kenapa harus ke Jakarta. Pergi ke Bandara Soeta perlu “perjuangan” menembus kemacetan Jakarta, butuh waktu tiga setengah hingga empat jam ke Bandara Soeta kalau normal, bisa lebih lama lagi pada jam-jam macet di Jakarta. Kalau mau terbang pagi dari Bandara Soerta, maka dari Bandung harus berangkat jam 1 atau jam 2 dinihari, masih terkantuk-kantuk gitu lho. Kalau terbang dari Bandung nggak perlu buru-buru, dari rumah saya ke Bandara Husein cukup setengah jam saja, kalau dari kampus ITB ke bandara lebih cepat lagi, hanya 15 menit!

Seperti yang saya baca dari sini, Bandung menyumbang 15% penumpang di Bandara Soeta Jakarta. Jumlah yang besar menurut saya, oleh karena itu banyak maskapai yang membuka penerbangan langsung dari Bandung, malah katanya banyak maskapai lain yang antri mendaftar buka penerbangan dari Bandung. Kenyataan ini juga dipicu oleh Bandara Soeta Jakarta yang sudah overdosis penumpang, sudah sangat padat, sehingga Bandara Soeta sudah terlihat semrawut seperti terminal bis saja. Sudah tidak nyaman deh pokoknya. Di Bandara Soeta juga sudah sulit mendapatkan penerbangan yang on-time atau tepat waktu, karena pesawat harus antri untuk take-off dan landing. Dengan banyaknya maskapai yang buke rute dari Bandung maka saya pikir cukup membantu mengurangi kepadatan Bandara Soeta.

Cuma saya sedikit masgul karena belum ada maskapai yang membuka rute Bandung – Padang. Agak heran juga kenapa belum ada, padahal perantau Minang di Bandung dan sekitarnya banyak sekali jumlahnya, melebihi jumlah orang asal Riau, Banjarmasin, atau Makassar. Mereka kebanyakan mahasiswa, pegawai, dan pedagang yang membuka usaha di Bandung. Ini pangsa pasar yang menjanjikan. Para perantau di Bandung ini seringkali pulang kampung, dan kalau naik pesawat mereka harus ke Jakarta dulu. Coba deh kalau ada rute langsung Bandung – Padang, pasti penuh tuh pesawatnya. Dulu pernah ada rute Bandung – Padang yang dilayani oleh Merpati, tetapi hanya bertahan beberapa bulan saja, lalu tutup. Penyebabnya bukan karena tidak ada penumpang tetapi tahu sendirilah karena kondisi maskapai Merpati yang terancam bangkrut, pesawatnya sedikit dan sering grounded.

Sebagai urang awak di Bandung saya tentu berharap ada maskapai yang membuka penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Minangkabau, Padang, supaya saya bisa sering dan mudah kalau pulang kampung berziarah ke makam orangtua. Percaya deh, kalau dibuka, bakalan banyak tuh penumpangnya.


Written by rinaldimunir

September 29th, 2012 at 10:58 pm

Posted in Seputar Bandung

Magister (S2) Informatika ITB Mendapat Akreditasi “A”

without comments

Ini kabar gembira bagi kami di STEI-ITB. Program Magister Informatika (S2-IF) ITB telah diakreditasi oleh BAN-PT dan memperoleh akreditasi A. Adapun rincian keterangannya sebagai berikut:
a. Nilai Akreditasi: 374 (361 – 400)
b. Peringkat: A (sangat baik)
c. Berlaku mulai dari 3 Agustus 2012 s.d 3 Agustus 2017

Anda dapat membaca surat dari BAN-PT tersebut pada pranala ini: http://stei.itb.ac.id/file/stei-files/20120927-Akreditasi-S2-Informatika.pdf

FYI, di Indonesia semua perguruan tinggi baik negeri maupun swasta harus terakreditasi oleh sebuah lembaga akreditasi resmi yang ditunjuk oleh negara, dalam hal ini BAN-PT. Yang diakreditasi oleh BAN-PT adalah Program Studi (Prodi) di dalam perguraun tinggi tersebut, jadi bukan perguruan tingginya yang diakreditasi. Diakreditasi artinya telah dinilai dan jika lolos akreditasi maka ijazah yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan tersebut diakui dan dinyatakan sah oleh negara dan dapat digunakan untuk keperluan selanjutnya (misalnya melamar pekerjaan atau mengambil program pendidikan yang lebih tinggi lagi). Adanya peringkat A, B, dan C menunjukkan nilai yang diberikan oleh BAN-PT. Akreditasi A berarti standard penilaian yang diberikan oleh BAN-PT dipenuhi secara lengkap oleh Prodi tersebut. Makin rendah nilai akreditasinya berarti banyak spek penilaian yang kurang memenuhi standard. Makin tinggi nilai akreditasinya makin bagus kualitas Prodi di PT tersebut. Selain ketiga nilai tadi ada pula kategori tidak/belum terakreditasi, artinya tidak memenuhi syarat untuk diakreditasi.

Akreditasi tidak hanya untuk Prodi di PTS, tetapi juga untuk semua Prodi di PTN. Dahulu hanya PTS yang diakreditasi sehingga kita pernah mengenal status PTS yang “DISAMAKAN”, “DIAKUI”, dan “TERDAFTAR”. DISAMAKAN artinya ijazahnya disamakan kualitasnya dengan PTN, sedangkan kalau DIAKUI dan TERDAFTAR tingkatannya lebih rendah lagi. Namun akreditasi untuk PTS saja dianggap tidak adil, karena meskipun bernama PTN belum tentu kualitasnya lebih baik daripada PTS di tempat lain yang mempunyai reputasi yang panjang. Oleh karena itu, untuk memenuhi asas keadilan, semua PT baik PTN maupuna PTS haris diakreditasi oleh sebuah lembaga yang netral, dalm hal ini BAN-PT. Jadi, meskipun bernama ITB, belum tentu semua Prodi di ITB memperoleh akreditasi A. Beberapa tahun lalu sebuah Prodi di ITB pernah mendapat nilai B.

Akreditasi sebuah perguruan tinggi berguna sebagai panduan bagi user (calon mahasiswa) dalam memilih perguruan tinggi. Juga berguna bagi pemakai lulusan perguruan tinggi dalam menyeleksi atau menilai pelamar kerja. Harus diingat bahwa masa berlaku akrediatsi itu lima tahun dan sesudah itu Prodi tersebut harus diakreditasi lagi apakah masih tetap nilainya atau turun atau naik.

Untuk melakukan akreditasi, beberapa orang asesor yang ditunjuk oleh kantor BAN-PT mengunjungi perguruan tinggi yang akan diakreditasi. Di sana mereka memeriksa banyak hal: kurikulum, fasilitas fisik (lab misalnya), perpustakaan, tugas akhir/tesis, karya dosen (makalah, buku), memwancarai mahasiswa, dosen, dan alumni, dan sebagainya. Perguruan tinggi harus menyiapkan segala dokumen yang dibutuhkan untuk diperksa oleh asesor, PT juga harus mengisi banyak borang (formulir). Wah, pokoknya repotlah dan merupakan pekerjaan yang ribet, menguras waktu, dan melelahkan. Oleh karena itu saya mengucapkan salut kepada teman-teman saya yang telah bekerja keras menyiapkan proses akreditasi ini.

Makin banyak Prodi di perguruan tinggi di Indonesia yang terakreditasi, makin bagus kualitas pendidikan di tanah air kita, syukur-syukur banyak yang mendapat akreditasi A atau B.


Written by rinaldimunir

September 28th, 2012 at 11:42 am

Jalan-jalan ke Pura Taman Ayun

without comments

Tulisan ini masih kelanjutan cerita saya yang lalu mengenai kunjungan ke Singaraja. Ketika pulang dari Singaraja dan kembali ke Bandara Ngurah Rai, saya yang diantar oleh dosen Undiksha menyempatkan diri mengunjungi Pura Taman Ayun yang terletak di Kabupaten Badung.

Pura Taman Ayun dibangun pada abad ke-17 (tahun 1634) dan merupakan peninggalan Kerajaan Mengwi. Pura ini dikelilingi oleh kolam sehingga seolah-olah berada di tengah danau. Keterangan lebih jelas tentang pura taman Ayun dapat dibaca di sini.

Yuk ikuti perjalanan saya memasuki pura ini melalui serangkaian foto-foto Pura Taman Ayun yang saya abadikan dengan kamera ponsel.

Gapura pertama yang ditemui di pintu masuk pura.

Gapura kedua selah dalam

Saya berdiri di depan gapura kedua

Gerbang gapura utama menuju ke dalam pura. Saya tidak masuk ke dalamnya karena memang tidak diperbolehkan.

Foto saya lagi narsis di depan gapura utama

Bangunan dengan atap bertingkat-tingkat di dalam pura. Saya potret dari luar saja.

Sudut foto lainnya

Foto bangunan di dalam pura lebih detil

Foto lainnya

Kolam di dalam pura

Halaman yang luas di belakang pura


Written by rinaldimunir

September 24th, 2012 at 4:05 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Kota Singaraja, Bali (Utara)

without comments

Hari Jumat dan Sabtu pekan yang lalu saya mengunjungi kota Singaraja, Bali, dalam rangka mempresentasikan makalah saya di konferensi nasional Senapati 2012 yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Informatika, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.

Saya baru pertama kali mengunjungi kota Singaraja. Kalau ke Bali sih saya sudah empat kali, tetapi sebatas jalan-jalan ke daerah wisata Kuta dan sekitarnya. Orang tidak banyak mengenal kota Singaraja, karena daerah ini memang bukan tujuan utama wisata seperti Kuta dan Gianyar. Jarak dari Bandara Ngurah Rai ke Singaraja sungguh jauh dan memakan waktu perjalanan 2,5 hingga 3 jam. Kuta dan Bandara Ngurah Rai terletak di ujung Bali selatan, sedangkan Singaraja terletak di ujung Bali utara. Jadi mungkin karena faktor jarak yang jauh dari ujung selatan ke ujung utara membuat orang (dan wisatawan) enggan mengunjungi kota Singaraja.

Peta Pulau bali, Denpasar dan Bandara Ngurai Rai di selatan, Singaraja di Utara (Sumber foto: http://desnantara-tamasya.blogspot.com/2011/02/peta-pulau-bali.html)

Meskipun jarak Singaraja itu cukup jauh dari Bandara, namun sepanjang jalan dari Ngurah Rai menuju Singaraja kita disuguhi pemandangan alam yang rupawan. Kita melewati lembah, gunung, dan danau. Kita melalui kawasan Bedugul yang berkabut dengan danau Bratan dan danau Buyan yang memukau.

Danau Bratan yang selalu berkabut

Foto narsis di pinggir Danau Bratan

Di Danau Bratan ini ada pura yang terkenal yaitu Pura Ulun Danu. Pura ini terletak di atas air di pinggir danau, tampak begitu elegan. Foto Pura Ulun Danu ini pernah dijadikan gambar di uang kertas rupiah (uang pecahan Rp1000). Banyak wisatawan yang menyempatkan diri berfoto di pura itu atau memotret gambarnya karena perpaduan yang menawan antara bangunan, air, dan pemandangan sekitarnya. Sayang sekali karena diburu waktu saya tidak sempat berfoto di pura itu, tapi saya berfoto dari jauh saja seperti foto narsis di pinggir Danau Bratan samping kiri :-) . Ini foto jepretan fotografer amatir yang banyak beroperasi di pinggir danau. Saya ditawari berfoto dengan aneka gaya (diatur sama dia :-) ), dipotret beberapa kali, lalu saya diminta memilih salah satu foto yang terbaik, kemudian dicetak di pinggir danau juga, langsung jadi dalam satu menit. He..he..he, dia membawa printer merek Can*n untuk mencetak foto, kreatif juga.

Ini foto Pura Ulan Danu yang saya ambil dari situs ini. Pura Ulan Danu dinamakan juga Candi Kuning.

Puar Ulun danu (Sumber foto: http://www.bochum1.de/Asien_2010/Asien_Tag10.htm)

Yuk kita lanjutkan perjalanan ke kota Singaraja. Hal yang menarik saya amati sepanjang perjalanan adalah spektrum budaya dan nuansa Bali. Memasuki Kuta, Denpasar, Kabupaten Badung, dan Tabanan, warna Bali masih kental. Sepanjang jalan kita melihat pura-pura di halaman rumah, dan penjor-penjor (seperti janur melengkung) dari sisa perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan berderet di pinggir jalan. Sungguh pemandangan yang menawan hati.

Tetapi, ketika memasuki Kabupaten Buleleng nunasa Bali itu berangsur hilang. Rumah-rumah yang beratap seng, tidak ada penjor, dan jarang ada pura di setiap rumah. Kata teman saya di Singaraja, tradisi Bali orang Buleleng atau Singaraja tidak sekental orang dari Tabanan atau Gianyar. Hal ini mungkin benar, karena daerah Buleleng (yang ibukotanya Singaraja) adalah daerah Bali yang mempunyai interaksi lebih banyak dengan budaya luar, berbeda dengan daerah Bali selatan yang dahulu terisolir dari pengaruh budaya asing. Buleleng terletak di pesisir utara Bali yang menjadi persinggahan pedagang Arab, pelaut Bugis dan Makassar, Madura, dan budaya lain.

Satu hal juga yang menarik, jika di Kuta penuh dengan bule dan turis asing lainnya sehingga terkesan kota ini beruansa internasional, maka selepas Kuta dan Denpasar kita jarang menemui para bule. Makin jauh dari Denpasar hingga perjalanan saya ke Singarja jarang berjumpa turis asing. Seperti yang saya sebutkan tadi, jarak Singaraja yang jauh dari Denpasar membuat para turis enggan berkunjung ke kota ini.

Singaraja adalah kota kecil, penduduknya tidak seramai Denpasar. Suhu udara di kota ini panas karena Singaraja terletak di pinggir pantai. Sekarang Singaraja menjadi ibukota Kabupaten Buleleng padahal dulu Singaraja pernah menjadi ibukota Propinsi Bali dan Nusa Tenggara.

Patung Singaraja di depan Kantor Bupati Buleleng

Kantor DPRD Buleleng berarsitektur Bali

Patung dewa bermuka banyak di sudut kota Singaraja

Pura terbesar di kota Singaraja (tidak begitu jelas karena tertutup pepohonan).

Gapura menuju pura

Salah satu sudut kota Singaraja, persis seperti kota-kota di Jawa umumnya, tidak terasa aroma Bali di sini.

Sebagai seorang muslim saya tentu tidak melupakan kewajiban shalat. Tidak sulit menemukan masjid Singaraja, meskipun umat Islam di sini minoritas. Saya sholat di Masjid Agung Jami Singaraja yang terletak di kampung Arab. Ini masjid tua, gapura masjidnya campuran budaya lokal, Cina, dan Arab. Di kawasan ini sangat mudah menjumpai rumah makan halal.

Masjdi Agung Jami Singaraja

Di Singaraja ada pantai yang terkenal yaitu pantai Lovina. Tujuan wisatawan (lokal maupun asing) ke Singraja adalah ke pantai ini. Menurut saya pantai Lovina biasa-biasa saja, tidak ada ombak, dan tidak sebagus pantai di selatan Bali (Kuta). Rupanya yang dicari orang di sini adalah atraksi lumba-lumba di pantai Lovina. Di laut sekitar 100 meter dari pantai ada kawanan lumba-lumba yang berenang, kalau beruntung anda bisa melihat lumba-lumba melakukan aksi yang atraktif, bahkan bisa berenang bersama mereka. Di pantai Lovina banyak penduduk asli menawarkan jasa sewa perahu boat untuk melihat atraksi lumba-lumba dari dekat, tarifnya Rp100 ribu per orang.

Senja di Pantai Lovina

Oh ya, saya belum menceritakan tentang kampus yang saya kunjungi. Undiksha atau Universitas Pendidikan Ganesha adalah universitas negeri di Singaraja. Dulu bernama STKIP Singaraja, kemudian berkembang menjadi universitas. Dari namanya yang berkata “pendidikan” cukup jelas kalau Undiksha adalah perguruan tinggi untuk mencetak tenaga guru. Singaraja dikenal sebagai kota Pendidikan karena banyak terdapat sekolah dan sebuah perguruan tinggi pendidikan di sana.

Rektorat Undiksha

Kampus Undiksha cukup luas, hampir menyamai luas kampus ITB Ganesha. Mahasiswanya kebanyakan orang Bali, tetapi sejak tergabung dalam SNMPTN mahasiswanya mulai bervariasi dari berbagai daerah seperti Lombok, Jawa, dan sebagainya. Di Undiksha ini ada tiga orang alumni Informatika ITB yang dulu bekas mahasiswa saya di IF-ITB dan sekarang menjadi dosen di sana. Mereka mengabdi di tanah kelahiran mereka menjadi pendidik di sana.

Salah satu gedung fakultas di Undiksha

Tas souvenir konferensi nasional SENAPATI yang khas Bali

Demikianlah jalan-jalan saya dua hari di Singaraja. Singkat tapi cukup berkesan. Akhirnya sampai juga saya menjejakkan kaki di kota kecil ini.


Written by rinaldimunir

September 24th, 2012 at 10:39 am

Posted in Cerita perjalanan

Kiriman Rendang dari Tanah Seberang

without comments

Saudara sepupu saya di Pekanbaru beberapa hari yang lalu mengirim satu paket rendang kepada saya di Bandung. Ia akan berangkat haji minggu depan lewat embarkasi Batam. Sebagaimana kebiasaan orang Minang yang akan berangkat haji pasti tidak lupa memasak bekal yang satu ini: rendang padang atau cukup disebut rendang saja (bahasa Minang: randang). Rendang dijadikan lauk di tanah suci, karena makanan di tanah suci belum tentu sesuai demgan selera makan, dan rendang adalah cadangan lauk yang ampuh untuk menerbitkan selera makan selama beribadah haji.

Rendang yang dikirim oleh saudara saya itu adalah rendang yang berwarna hitam. Inilah rendang yang sebenarnya rendang. Rendang Padang yang asli adalah rendang yang berwarna hitam. Membuatnya cukup lama, sebab untuk mendapatkan rendang berwarna hitam diperlukan pemanasan beberapa kali dalam waktu beberapa hari.

Segera saya buka paket rendang tersebut, hmmmm… wangi, harumnya menyerbak ke seluruh ruangan. Saya pindahkan rendang itu ke dalam mangkok putih. Dari pengamatan saya sekilas isinya tidak hanya daging tetapi juga hati. Ya, ada rendang daging dan ada rendang hati.

Tahun lalu rendang dinobatkan oleh stasiun televisi CNN sebagai makanan terlezat di dunia. Jangan salah memilih rendang, sebab di berbagai daerah dan rumah makan juga banyak terdapat makanan yang disebut rendang yang warnanya coklat, tetapi sebenarnya bukan rendang, namun lebih tepat disebut semur daging. Ada pula kuliner yang terdapat di rumah makan Padang di pulau Jawa yang disebut rendang, tetapi sekali lagi itu bukan rendang namun “kalio rendang”, yaitu rendang yang belum jadi. Rendang yang benar-benar rendang adalah yang berwarna hitam. Di Sumatera Barat jika anda makan di rumah makan manapun, anda tidak menemukan rendang yang berwarna coklat atau kalio rendang itu. Semua rendang yang disajikan di restoran maupun acara kenduri pasti berwarna hitam. Jadi, kalau menyebut rendang haruslah lengkap dengan sebutan “rendang padang” untuk membedakannya dengan versi rendang di berbagai daerah lain di nusantara.

Saya sudah tidak sabar lagi ingin makan nasi dengan rendang kiriman tadi. Saya ambil sepiring nasi dan saya taruh beberapa potong daging rendang di atasnya.

Seperti kebanyakan orang Minang lain yang makan nasi dengan rendang, nasi itu diaduk dengan dadak randang. Dadak atau bumbu rendang yang sudah menghitam itu dicampur dengan nasi sehingga nasipun berwarna hitam.

Hmmm…. lahapnya saya makan :-)

Dulu ketika ibu saya masih hidup, saya sering dikirimi paket rendang. Ketika kuliah di ITB kiriman rendang selalu datang minimal sekali dalam setahun. Biasanya setelah Hari Raya Idul Adha ibu saya mengirim rendang yang berasal dari daging sapi kurban. Yach, supaya dapat barokah dari daging kurban, begitu kata ibu saya. Seperti ibu saya, kebanyakan orangtua di Minangkabau mengirim rendang buat anak-anaknya di tanah rantau. Ketika orang Minang mudik ke kampung halaman maka makanan yang dicari adalah rendang yang asli, dan ketika kembali ke perantauan maka bekal yang “wajib” dibawa adalah rendang. Rendang yang dibawa dari Ranah Minang adalah pengikat tali batin dengan keluarga dan tanah kelahiran.

Sekarang orangtua saya tidak ada lagi, dan kiriman rendang dari Pekanbaru tadi mengingatkan saya pada rendang kiriman ibu.


Written by rinaldimunir

September 20th, 2012 at 10:11 pm

Kebebasan Berekspresi = Kebebasan Menghina?

without comments

Tidak putus-putusnya umat Islam di dunia diprovokoasi untuk marah. Junjungan umat Islam, Nabi Muhammad SAW, tidak henti-hentinya mendapat hinaan dan pelecehan oleh orang lain. Yang terbaru adalah penayangan film “Innocence of Muslim” di Amerika. Film berdurasi panjang ini juga sudah tersebar di situs Youtube. Seperti dikutip dari sini, “film ini mengisahkan tentang kehidupan Nabi Muhammad yang, parahnya, dibumbui dengan tema pedofil dan homoseksualitas. Sejumlah adegan dalam film yang berdurasi 2 jam ini telah diunggah ke internet dan bisa juga dilihat di sejumlah saluran satelit privat”.

Protes umat Islam di seluruh dunia terhadap film tersebut berlangsung hingga sekarang dan sudah banyak korban yang berjatuhan, termasuk Dubes AS yang tewas di Libya. Mungkin aksi demo anarkis inilah yang ditunggu-tunggu oleh pembuat film dan kaum Islamophobia, sebab dengan begitu mereka mempunyai alasan untuk membenarkan stigma bahwa Islam adalah agama yang identik kekerasan. Tujuan membuat film itu sendiri sangat jelas yaitu untuk menyebarkan kebencian kepada Islam, namun dibungkus dengan dalih kekebasan berekspresi.

Bagi dunia Barat, kebebasan berekspresi adalah segala-galanya. Manusia bebas mengekspresikan apapun yang dia inginkan dan tidak seorangpun yang berhak melarangnya. Film “Innocence” menambah deretan kebebasan berekspresi yang melukai hati umat Islam. Masih segar dalam ingatan kita novel “Ayat-ayat Setan” yang ditulis oleh oleh Salman Ruhdie, film pendek “Fitna” oleh Geert Wilders di Belanda, dan penayangan kartun Nabi di harian Jillands Posten di Denmark. Sasarannya jelas untuk membuat kontroversi, sebab mereka tahu benar kalau di dalam Islam tidak boleh memvisualkan Nabi, ditambah lagi dengan bumbu-bumbu yang menggambarkan Nabi Muhammad sebagai seorang yang memiliki sifat buruk.

Di dunia Barat penghinaan terhadap Yahudi dianggap sebagai anti-semit, penghinaan terhadap kulit hitam dianggap rasis. Di Eropa, jika anda menolak mengakui peristiwa Holacaust (pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh tentara NAZI), maka anda akan dipenjara. Anehnya, penghinaan terhadap simbol-simbol Islam tidak dianggap Barat sebagai bentuk kriminal (crime), namun dipandang sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Begitulah standard ganda Barat terhadap Islam.

Umat Islam masih bisa “menahan diri” ketika penghinaan itu dilakukan kepada Sang Pencipta, hal itu dapat kita lihat dari tulisan-tulisan ateistik yang tidak mempercayai keberadaan-Nya. Penghinaan terhadap Tuhan sudah berlangsung berabad-abad sejak zaman dulu sampai sekarang. Namun, ketika penghinaan itu dilakukan terhadap Nabi junjungan mereka yang sangat dimuliakan dan dicintai itu, maka rasa amarah yang tidak tertahankan meletup sampai tidak terkendali.

Kecintaan umat Islam kepada Kanjeng Nabi itu tidak hanya dalam ucapan salawat dan salam yang selalu dibaca setiap shalat, tetapi kecintaan itu diabadikan dengan menamakan anak-anak mereka dengan nama “Muhammad”. “Muhammad” adalah nama yang paling populer di dunia (ketiga anak lelaki saya selalu mempunyaikata “Muhammad” di dalam namanya).

Begitu besar kecintaan orang Islam kepada Rasulullah, sebab kecintaan kepada Rasulullah adalah tanda kesempurnaan iman, sebagaimana Hadis Nabi yang berbunyi sebagai berikut:

Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtuanya, anaknya, dan manusia semuanya.”

atau dalam hadis lain yang senada:

“Rasulullah (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, ‘Demi Dia yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah beriman seorang di antaramu hingga ia mencintaiku melebihi cintanya pada ayahnya dan pada anak-anaknya.’” [Sahih Bukhari, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA]

Oleh karena itu, aksi-aksi demo menentang penghinaan terhadap Rasulullah seharusnya dapat dilihat secara adil. Mereka menjadi anarkis karena hati mereka sudah sangat terluka. Apapun, termasuk nyawa sekalipun, mereka korbankan untuk membela kemuliaan Nabi junjungan umat. Anda bisa paham maksud saya, tidak seorangpun yang rela bila orang yang dihormati atau dimuliakannya direndahkan atau dilecehkan oleh orang lain. Seorang anak tidak akan terima jika ibu kandungnya dihina oleh orang lain, dia akan sangat marah dan terluka, bahkan dia mau bersabung nyawa untuk membela kehormatan orangtuanya. Itu baru kepada orangtua, apalagi terhadap Rasulullah dimana kecintaan kepada beliau di atas kecintaan kepada anak atau orangtua. Saya bukan setuju atau mendukung aksi yang menjurus anarkis itu, tetapi saya bisa memahami mengapa hal itu bisa terjadi.

Kebebasan sendiri tidaklah benar-benar bebas sepenuhnya, namun tetap ada batas-batasnya. Ketika kebebasan itu memasuki ranah publik, maka ia dibatasi oleh penghargaan dan penghormatan kepada orang lain. Ketika anda telanjang (maaf) seorang diri di dalam kamar, tidak ada yang mempersoalkannya, namun ketika anda telanjang di depan umum dengan dalih sebagai sebuah ekspresi seni, maka anda bersinggungan dengan norma yang diyakini orang banyak bahwa memamerkan aurat di depan publik itu adalah sebuah pelanggaran terhadap norma agama dan etika.

Kebebasan, di mana pun itu, harus diiringi dengan rasa tanggung jawab. Kebebasan yang kebablasan, yaitu yang tidak menghargai hak dan keyakinan orang lain, hanya akan melahirkan api dendam dan kebencian yang tidak habis-habisnya. Kebebasan berekspresi tidaklah sama dengan bebas untuk menghina atau melecehkan apa saja, ada keyakinan pihak lain yang harus dipertimbangkan sebelum anda mengekspresikan diri anda


Written by rinaldimunir

September 19th, 2012 at 3:37 pm

Posted in Agama

Tahu Mang Yadi dan Perjuangannya

without comments

Di kompleks rumah saya sering lewat pedagang tahu keliling bernama Mang Yadi. Dia menjajakan tahu cibuntu dengan sepeda motor. Tahu cibuntu adalah tahu Bandung yang terkenal karena rasanya enak. Saya termasuk pelanggan setia Mang Yadi, setiap dua hari sekali saya selalu membeli tahu atau tempe jualan Mang Yadi. Keluarga saya, terutama anak-anak sangat suka tahu dan tempe. Keduanya adalah makanan yang murah tetapi kaya gizi.

Mang Yadi dan dagangan tahu kelilingnya pakai motor

Mang Yadi adalah pendatang asal Pameungpeuk, Garut Selatan. Setiap pagi dia mengambil tahu dari sentra perajin tahu di kawasan Cibuntu, Bandung. Kata orang-orang, yang membuat tahu cibuntu itu terasa enak adalah air tanah yang digunakan dalam proses pembuatan tahu. Pernah tahu cibuntu diproduksi di tempat lain, tetapi rasanya kurang enak. Rupanya faktor air tanahlah yang membuat tahu cibuntu itu gurih. Tetapi, meskipun sama-sama tahu dari Cibuntu, tetap saja ada perbedaan rasa antara satu perajin dengan perajin yang lain. Saya sudah cocok dengan tahu yang dibawa Mang Yadi. Saya pernah membeli tahu cibuntu yang dijual pedagang lain, tapi kurang sreg rasanya, agak haseumlah, terlalu lembeklah, dan sebagainya.

Tahu cibuntu di dalam tong plastik yang dijual Mang Yadi

Saya terharu dengan kegigihan Mang Yadi berdagang tahu keliling. Keuntungan yang diperolehnya tidaklah seberapa. Setiap pagi Mang Yadi mengambil 800 butir tahu dari sentra Cibuntu dengan harga Rp600 per butir. Tahu sebanyak 800 butir itu dimasukkan ke dalam wadah dari tong plastik berwarna biru. Setiap tahu dijual Rp700 kepada konsumen, jadi Mang Yadi hanya mendapat untung Rp100 dari setiap tahu yang terjual. Total dia mendapat untung Rp80.000 jika semua tahunya laku atau tidak ada yang rusak. Jika ditambah dengan tempe yang juga dijualnya (tidak terlalu banyak), maka Mang Yadi mendapat tambahan Rp20.000 dari penjualan tempe. Jadi, jika dijumlah semuanya Mang Yadi mendapat untung kotor Rp100.000 per hari.

Rp100.000 itu baru laba kotor, jika dikurangi dengan uang bensin buat motor, sarapan pagi, dan membeli plastik pemmbungkus tahu, maka Mang Yadi hanya mendapat untung kira-kira Rp80.000 per hari, sebuah keuntungan yang tidak terlalu besar.

Meskipun keuntungan yang dioperoleh hanya segitu (Rp80.000), Mang Yadi tetap terlihat sebagai orang yang selalu bersyukur. Senyum di wajahnya tidak pernah hilang. Tidak sekalipun dia mengeluh, seolah semuanya dijalani dengan ikhlas. Jam 11 siang seluruh tahunya sudah habis, dan tibalah waktunya bagi dia untuk beristirahat sebelum memulai rutinitas membeli tahu dari perajin pukul 4 pagi keesokan harinya.

Saya kagum dengan Mang Yadi dan perjuangannya menjual tahu. Keikhlasan menjalani hidup adalah kuncinya, biarlah untung sedikit tetapi halal dan barokah. Tidak ada yang perlu dikeluhkesahkan, karena Tuhan akan selalu bersama orang-orang yang ikhlas.


Written by rinaldimunir

September 16th, 2012 at 9:29 am

Penerimaan Mahasiswa Baru PTN Tahun 2013 Berdasarkan Nilai UN dan Rapor

without comments

Ini masih kelanjutan tulisan saya terdahulu yang berjudul Tidak Ada Lagi “SNMPTN Ujian Tulis” pada Tahun 2013?. Ternyata tahun 2013 wacana ini bukan sekedar wacana lagi, tetapi hampir (pasti) menjadi kenyataan.

Mulai tahun 2013, nilai UN dipertimbangkan menjadi salah kriteria penerimaan mahasiswa baru PTN, dan jalur undangan akan mengambil porsi 90% dari seluruh mahasiswa baru.

Kabar baik atau buruk kah berita ini bagi siswa SMA?

~~~~~~~

Integrasi UN untuk Masuk PTN Dimulai Tahun 2013
Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2012/09/10/19165248

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh di Jakarta, Senin (10/9/2012), mengatakan, integrasi hasil ujian nasional SMA/MA/SMK harus mulai diterapkan pada penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri tahun2013. PTN diminta mempertimbangkan hasil UN siswa dalam menyeleksi mahasiswa baru sehingga pelaksanaan UN tidak mubazir.

“Hasil UN harus terintegrasi di semua jenjang. Jika dari SD ke SMP ke SMA bisa pakai hasil UN, kenapa di PT tidak boleh? Jika alasannya hasil UN tidak bisa dipercaya, pelaksanaan UN terus- menerus dilakukan dan melibatkan perguruan tinggi,” kata Nuh.

Ditanya soal integrasi hasil UN pada penerimaan mahasiswa baru di PTN tahun 2013, Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia Idrus Paturusi mengatakan, hasil UN, yang juga salah satu penentu kelulusan siswa di jenjang pendidikan menengah, dipertimbangkan dalam penerimaan lewat jalur undangan. “Nanti akan ada pembobotan. Berapa persentase dari nilai rapor dan nilai UN masih akan dibahas bersama,” ujar Idrus.

Pada tahun 2013, sebanyak 90 persen penerimaan mahasiswa baru PTN secara nasional lewat jalur undangan. Penyeleksian mahasiswa baru dengan mempertimbangkan nilai rapor di kelas 1-3 dan hasil UN.

Selama ini, pengakuan hasil UN dalam seleksi nasional masuk PTN, baik lewat jalur undangan maupun tulis, dengan cara mahasiswa baru yang diterima harus lulus UN.

~~~~~~~~~~~~~

Tahun Depan, 90 Persen Seleksi Masuk PTN Lewat Jalur Undangan
Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2012/09/10/1914570/Tahun.Depan.90.Persen.Seleksi.Masuk.PTN.Lewat.Jalur.Undangan.

JAKARTA, KOMPAS.com – Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri (PTN) secara nasional mulai tahun 2013 diutamakan lewat jalur undangan. Sebanyak 90 persen kursi di PTN diperbeutkan lewat seleksi nasional jalur undangan yang terbuka bagi semua siswa kelas 3 di jenjang pendidikan menenga.

“Untuk tahun depan, penerimaan mahasiswa baru yang seleksi nasional mencapai 90 persen. Kuota itu ditujukan untuk siswa yang berada di kelas tiga SMA/SMK atau sederajat pada tahun 2013. Adapun siswa yang lulus tahun lalu bisa ikut lewat ujian tulis yang jatahnya 10 persen,” kata Idrus Paturusi, Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia, Senin (10/9/2012).

Menurut Idrus yang juga Rektor Universitas Hasanuddin, Makassar, pada awalnya penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) hendak diubah seluruhnya lewat jalur undangan saja. Penerimaan mahasiswa baru dengan mempertimbangkan nilai raport selama belajar di pendidikan menengah dan nilai ujian nasional (UN).

“Namun, ada masukan supaya tetap ada kesempatan bagi lulusan tahun lalu yang mau ikut ujian lagi. Mereka bisa lewat ujian tulis yang diselenggarakan tiap PTN,” ujar Idrus.

Bobot UN

Dengan berubahnya sebagian besar penerimaan mahasiswa baru PTN lewat jalur undangan, pendaftaran menjadi terbuka buat semua siswa kelas 3 di jenjang pendidikan menengah. Sebelumnya, seleksi nasional lewat jalur undangan dikhususkan bagi siswa berprestasi yang direkomendasikan tiap sekolah, yang jumlahnya bergantung pada akreditasi sekolah.

Selain pendaftaran terbuka bagi semua siswa, biaya pendaftaran pun ditanggung pemerintah. Perubahan ini sejalan dengan ketentuan pada pasal 73 ayat 1 dan 2 Undang-undang No 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi.

Pada pasal itu disebutkan bahwa penerimaan mahasiwa baru PTN dapat lewat pola penerimaan mahasiswa baru secara nasional dan bentuk lain. Pemerintah menanggung biaya calon mahasiswa yang akan mengikuti pola penerimaan mahasiswa baru secara nasional.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan beban masyarakat untuk pendaftaran ujian masuk PTN selama ini cukup tinggi. Selain itu, di tingkat akhir siswa SMA/SMK juga menjadi stress karena dibebani UN dan berbagai tes masuk ke PT.

“Pemerintah memikirkan supaya ada satu cara penerimaan yang bisa berlaku untuk semuanya. Biaya pendafataran yang ditanggung masyarakat akan ditanggung pemerintah,” kata Nuh.


Written by rinaldimunir

September 11th, 2012 at 11:29 am

Posted in Pendidikan

Kisah Maryam di dalam Surat Ali Imran

without comments

Hari-hari ini bacaan mengaji Al-Quran saya kembali bersua dengan Surat Ali Imran (surat ke-3 di dalam Al-Quran). Kalau sudah khatam (tamat) membaca Quran, maka saya mulai lagi dari surat pertama.

Surat Ali Imran termasuk surat yang panjang (ada 200 buah ayat). Ali Imran adalah nama seorang lelaki yang keluarganya terpilih oleh Allah sebagai keluarga yang diberkati (yaitu keluarga Ali Imran). Nama Ali Imran diabadikan di dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surat.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (3:33)

Ternyata maksud Allah memilih keluarga Ali Imran adalah karena dari pasangan suami istri ini lahir salah seorang wanita yang mulia dalam sejarah yaitu Maryam (atau Maria dalam Alkitab). Saya baru tahu kalau Maryam itu adalah putri Ali Imran.

Ketika Maryam masih di dalam kandungan, istri Imran bernazar akan “menyerahkan” anaknya itu kepada Allah sebagai Pemelihara agar kelak menjadi hamba yang soleh yang selalu berkhidmat di Baitul Maqdis (Yerussalem). Hal ini tertulis di dalam ayat ke-35 yang terjemahannya berbunyi:

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (3:35)

Ketika tahu anak yang dilahirkan itu adalah perempuan, istri Imran menamai anaknya Maryam, dan istri Imran meminta kepada Allah agar anaknya itu dipelihara oleh Allah dan melindunginya dari syetan.

Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (3:36)

Allah menerima nazar istri Imran lalu mememrintahkan Zakaria sebagai pengasuh dan pemelihara Maryam. Menurut para ahli tafsir Nabi Zakaria itu adalah paman Maryam. Berarti benar ya keluarga besar Imran adalah keluarga yang diberkati karena keturunannya menjadi orang-orang sholeh (Imran, Maryam, Isa putera Maryam, Nabi Zakaria paman Maryam, dan Yahya putera Zakaria).

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. (3:37)

Maryam tumbuh menjadi wanita yang kerjanya setiap hari hanya beribadah dengan berkhidmat kepada Allah di Rumah-Nya di Baitul Maqdis. Zakaria adalah “kuncen” Rumah Allah tersebut. Di sinilah Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada Maryam. Setiap kali Zakaria menemui Maryam di mihrab, dia mendapati berbagai makanan yang lezat berada di samping Maryam. Dari manakah datangnya makanan itu? Setahu dia Maryam tidak pernah membawa makanan ke Rumah-Nya, Zakarilah yang selalu mengantarkan makanan kepada Maryam. Maryam menjawab bahwa makanan itu berasal langsung dari Allah, mungkin diturunkan dari langit atau melalui perantara malaikat-Nya.

Lanjutan ayat 37 di atas:

Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (3:37)

Di dalam Surat Ali Imran juga dikisahkan bahwa Nabi Zakaria sudah tua tetapi belum juga dikarunia anak. Mungkin terinspirasi dari keponakannya, Maryam, yang menjadi ahli ibadah, Zakaria juga bermohon agar dirinya diberi keturunan.

Di sanalah Zakariya mendo’a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a”. (3:38)

Ketika Zakaria sedang shalat di mihrab, berserulah malaikat Jibril kepadanya:

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (3:39)

Zakaria yang kaget mendapat wahyu dari malaikat Jibril merasa heran, bagaimana mungkin dia akan memperoleh anak seangkan sitrinya seorang yang mandul. Allah menjawab (melalui malaikat Jibril) hal itu mudah saja bagi-Nya, apapun yang Dia kehendaki maka akan terjadi (kun fayakun).

Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?”. Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. (3:40)

Zakaria masih tetap belum yakin dia akan mempunyai anak, oleh karena itu dia meminta suatu tanda bahwa istrinya bakal mengandung. Allah mengatakan bahwa tanda-tanda istrinya mengandung adalah Zakaria tidak akan bisa berbicara selama tiga hari, kecuali pakai bahasa isyarat.

Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”. (3:41)

Kelak anak yang lahir dari kandungan itu diberi nama Yahya dan menjadi Nabi yang ke-23 setelah Zakaria. Dari sini kita juga tahu bahwa Nabi Yahya semasa hidupnya dengan Maryam.

Kembali ke kisah Maryam tadi. Allah telah memilih Maryam sebagai wanita solehah yang dilebihkan dari wanita lain di dunia.

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (3:42)

Sebagai bentuk ketaatan, Allah memerintahkan Maryam agar selalu menyembah Allah, selalu sujud dan rukuk kepada Allah bersama orang-orang lainnya lainnya yang menyembah Allah.

Hai Maryam, ta’atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. (3:43)

Sampai suatu hari Allah akan memberikan suatu keajaiban yang tidak disangka-sangka bagi Maryam. Allah mengabarkan bahwa Maryam akan mengandung seorang anak lelaki yang namanya sudah ditentukan oleh Allah yaitu Isa Al Masih (atau Al Masih isa putera Maryam).

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (3:45)

Ketika masih bayi Isa kelak memiliki mukjizat yaitu sudah bisa berbicara dengan manusia:

dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh.” (3:46)

Maryam tentu saja merasa kaget, bagaiman mungkin dia akan mengandung, padahal dia belum menikah, dan dia belum pernah disentuh atau berhubungan dengan lelaki manapun. Tentu saja, karena Maryam kerjanya setiap hari hanyalah berkhidmat kepada Allah di Baitul Maqdis. Dia jarang keluar dari Rumah-Nya, apalagi bergaul dengan lelaki. Allah menjawab seperti kasus Nabi Zakaria di atas, bahwa hal itu mudah saja bagi-nya, kun fayakun, maka apapunyang Dia kehendaki pasti akan terjadi. Dialah Sllah SWT yang Maha Pencipta.

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (3:47)

Kisah kelahiran Isa akan saya ceritakan pada tulisan yang lain. Allah memilih Isa sebagai Rasul-Nya, memberinya kitab Injil dan mengajarkannya kitab-kitab yang terdahulu yaitu Taurat dan zabur.

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (3:48)

Allah mengutus Nabi Isa kepada Bani Israil. Kepada Bani Israil Nabi Isa menjelaskan tanda-tanda kenabiannya yaitu mukjizat menghidupkan burung dari tanah liat, menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kusta.

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. (3:49)

Nabi Isa berkata kepada kaumnya bahwa dia membenarkan kitab-itab terdahulu yang telah diturunkan kepada Nabi Musa (Taurat) dan Nabi Daud (Zabur), lalu menghalalkan apa yang dahulu diharamkan.

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan ta’atlah kepadaku. (3:50)

Lalu Nabi Isa meminta kaumnya agar menyembah Allah SWT sebagai jalan yang benar.

Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (3:51)

~~~~~~~~~~

Demikianlah sekelumit kisah Maryam di dalam Surat Ali Imran. Kelak saya akan menceritakan dalam tulisan yang lain tentang kelahiran Nabi Isa a.s sesuai Firman Allah di dalam Al-Quran


Written by rinaldimunir

September 7th, 2012 at 11:48 am

Posted in Agama