if99.net

IF99 ITB

Archive for June, 2012

Fenomena Mahasiswa Asing di ITB

without comments

Dalam beberapa tahun terakhir ini di ITB banyak sekali mahasiswa asing yang wara-wiri di dalam kampus. ITB membuka pintunya bagi mahasiswa asing untuk menimba ilmu di kampus Ganesha, padahal sebelumnya ITB termasuk ketat dan tidak banyak menerima mahasiswa asing. Namun, konsekuensi sebagai perguruan tinggi berskala dunia adalah menerima mahasiswa dari luar (baik S1 maupun S2 dan S3).

Mahasiswa asing itu ada yang ditempatkan di kelas internasional, dan ada pula yang digabung dengan kelas reguler (bersama mahasiswa Indonesia umumnya). Kalau pada kelas internasional bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris, tetapi di kelas regular tetap pakai Bahasa Indonesia. Bagi mahasiswa asing di kelas regular, sebelum kuliah di ITB mereka selama beberapa bulan belajar dulu Bahasa Indonesia. Kota yang banyak dijadikan mahasiswa asing sebagai referensi untuk belajar Bahasa Indonesia adalah di Yogyakarta. Di sana mereka tinggal dan bergaul dengan penduduk pribumi untuk belajar Bahasa Indonesia.

Saya pernah mengajar kelas regular yang ada mahasiswa asingnya, yaitu dari Myanmar. Karena mereka belum lancar Bahasa Indonesia, maka beberapa kali saya harus menjelaskan materi kuliah kepada mereka dalam Bahasa Inggris, termasuk menjelaskan soal ujian yang mereka tidak mengerti maksudnya. Sejauh ini sih lancar-lancar saja dan mereka sudah lulus dari ITB. Bahkan laporan TA pun saya perkenankan ditulis dalam Bahasa Inggris.

Kebanyakan mahasiswa asing (jenjang S1) di ITB berasal dari Malaysia dan Afrika, yang paling banyak ya dari Malaysia. Adanya penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke Bandung menarik minat orang Malaysia kuliah di ITB. Kebanyakan orang Malaysia yang kuliah di ITB beretnis Tamil (India), sepintas dapat dilihat dari ciri khas wajah, warna kulit, dan bintik di di atas dahi yang menyatakan mereka orang Hindu. Jarang sekali yang dari etnis Melayu (atau saya kurang teliti, maklum orang Melayu sama rupanya dengan orang Indonesia). Mahasiswa Malaysia yang kuliah di ITB kebanyakan mengambil Fakultas Farmasi (kelas internasional) atau MIPA. Jarang sekali ada yang mengambil jurusan enjinering seperti Teknik Sipil, Teknik Mesin, dll, apalagi Informatika.

Ternyata pemilihan Fakultas (atau Prodi) Farmasi itu ada sebabnya. Mahasiswa Malaysia yang kuliah di Indonesia rata-rata memburu Fakultas Farmasi atau Kedokteran, sebab di Malaysia sendiri tidak banyak Fakultas Kedokteran atau Farmasi, atau daya tampungnya terbatas (begitu cerita yang saya dengar dari dosen Universiti Kebnangsaan Malaysia yang anaknya kuliah di Kedokteran Unhas Makassar). Mereka tahu kalau kualitas Kedokteran atau Farmasi perguruan tinggi Indonesia itu bagus-bagus, malah lebih bagus dari Kedokteran/Farmasi di perguruan tinggi negara mereka sendiri. Kalau mengambil Jurusan enjinering atau computer science/IT, mereka tidak akan memilih Indonesia, tetapi kuliah di Inggris, Australia atau tetangga terdekatnya, Singapura.

Apakah mahasiswa Malaysia yang kuliah di ITB itu adalah mahasiswa terbaik negaranya atau mahasiswa pilihan seperti mahasiswa ITB lain umumnya? Kata teman saya dosen Farmasi ITB, jangan bayangkan mahasiswa asing asal Malaysia itu seperti mahasiswa kami yang lain. Kalau mahasiswa ITB cerdas-cerdas dan berkualitas unggul semua orang sudah tahu karena seleksi masuknya sangat ketat, tetapi mahasiswa asing asal negara serumpun itu sangat jauh kualitasnya. Mereka adalah mahasiswa level 3 di negaranya.

Sambil setengah bercanda, teman saya di Farmasi bercerita. Siswa-siswa cerdas level satu di Malaysia akan memilih kuliah di Inggris atau negara-negara Commonwealth seperti Australia, Kanda, India, dan lain-lain. Siswa cerdas level dua memilih kuliah di perguruan tinggi ternama di Malaysia, seperti Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Malaya, dan lain-lain.

Nah, siswa level tiga, yang tidak lulus di PT negaranya, mereka inilah yang kuliah ke ITB, he…he (jadi, ITB dapat sisanya nih). Karena mereka tidak begitu pintar seperti mahasiswa ITB regular, maka mengajar mereka ini cukup kerepotan, agak lamban gitu, ini berdasarkan cerita teman saya yang pernah mengajar kuliah di sana.

Tapi secara umum mereka bangga lho kuliah di ITB, apalagi mereka tahu kalau ITB itu perguruan tinggi ternama dan masuk dalam ranking perguruan tinggi terbaik di Asia maupun dunia (versi Webometric dan versi THES).


Written by rinaldimunir

June 26th, 2012 at 12:36 pm

Posted in Seputar ITB

Institut Teknologi Sumatera (ITSum) Menerima Mahasiswa Baru Tahun Ini

without comments

Ini kabar baik bagi anda yang tidak lolos SNMPTN tetapi ingin kuliah di PTN. Dua perguruan tinggi negeri baru telah dibentuk Pemerintah tahun ini dengan role model masing-masing dari dua institut teknologi terkemuka, ITB dan ITS. PTN pertama adalah Institut Teknologi Sumatera di Lampung, dan PTN kedua adalah Institut Teknologi Kalimantan di Balikpapan. Institut Teknologi Sumatera berafiliasi dengan ITB, sedangkan yang di Kalimantan berafiliasi dengan ITS.

Kampus Institut Teknologi Sumatera yang di Lampung (belum ada nama resminya) mulai dibangun tahun ini dan diperkirakan selesai ada tahun 2014 (baca beritanya di sini). IT Sumatera akan menjadi kembaran ITB, karena role model-nya seperti ITB. Saya mendapat info dari Pak Rektor ITB, di IT Sumatera akan dibuka Program Studi Fisika, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Geodesi, Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi), dan Kewirausahaan (SBM?).

Meskipun kampus IT Sumatera belum ada, namun penerimaan mahasiswa baru sudah dimulai tahun ini. Penerimaan mahasiswa barunya setelah pengumuman SNMPTN 2012 melalui seleksi khusus. Sambil menunggu kampus di Lampung selesai dibangun, mahasiswa baru akan kuliah di kampus ITB Jatinangor selama dua tahun, dan pada tahun 2014 mereka dipindahkan ke Bandar Lampung.

Saya mendengar ada beebrapa kandidat calon lokasi IT Sumatera (sebelum akhirnya diputuskan di Lampung), yaitu Batam, Pekanbaru, Jambi, dan Bengkulu. Namun, Kemendikbud memfokuskan pada Sumatera Bagian Selatan, sehingga mengerucut pada Bandar Lampung dan Palembang, dan akhirnya diputuskan di sekitar Bandar Lampung (kawasan Sukarame). Pemilihan kampus IT Sumatera di Lampung tentu dengan berbagai pertimbangan. Yang saya dengar salah satu pertimbangannya (CMIIW) karena Lampung adalah provinsi di Sumatera dengan penduduknya yang lebih heterogen, sebab di provinsi ini keragaman suku bangsa dan budaya lebih bervariasi. Mungkin juga karena kriteria lain seperti ketersediaan lahan, RTRW, PDRB, IPM, industri, kelengkapan infrastruktur, dan lain-lain. Yang lebih tahu alasannya tentu Dikti/Kemendikbud.

Kalau saya sih kepinginnya IT Sumatera itu lokasinya tepat di pertengahan Pulau Sumatera, yaitu antara Jambi dan Sumatera Barat, syukur-syukur di Bukittingggi supaya “B” nya tetap sama dengan ITB, yaitu Bukittinggi dan Bandung, selain itu udaranya sama-sama sejuk seperti di Bandung sehingga cocok untuk belajar. Tetapi, kayaknya Bukittinggi sulit untuk dipilih ya karena kawasan barat Sumatera adalah daerah rawan gempa.

(Update tanggal 7 Juli 2012: Pendaftaran Institut Teknologi Sumatera sudah dibuka, silakan baca tulisan saya ini: Info Pendaftaran Mahasiswa Baru “Institut Teknologi Sumatera” (ITERA) atau www.itera.itb.ac.id)


Written by rinaldimunir

June 23rd, 2012 at 10:52 pm

Posted in Pendidikan

Review KIA All New Sportage

without comments

KIA All New Sportage
Sudah 20 hari KIA All New Sportage versi A/T kami coba gunakan untuk perjalanan sehari-hari di Kota Bandung. Dengan mesin 2000 cc, tarikannya terasa mantap untuk menyalip maupun di tanjakan.

Berikut ini review-nya:

1. Suspensi tidak lebih baik daripada KIA Carens II. Suspensi yang keras terasa ketika melewati polisi tidur. Adapun saat melewati lubang, suspensi cukup terbantu dengan ukuran ban yang besar.

2. Harus beli mud guard lagi. Penggunaan KIA All New Sportage tanpa mud guard akan sering mengotori body.

3. Fungsi pengunci jendela pada sisi driver hanya berlaku untuk kedua jendela belakang. Bahaya buat anak-anak bila duduk di depan, karena kedua pintu depan dapat dibuka kapanpun dari dalam walaupun saat di kecepatan tinggi.

4. Tuas sandaran pada penumpang kiri depan sering terlepas.

5. Pintu kiri belakang samping sulit ditutup, harus di-klaim ke bengkel untuk servis gratis.

6. Seat (sandaran jok) baris kedua tidak reclining, jadi tidak dapat direbahkan.

7. Daylight Running Light (DRL)-nya keren, terang banget tapi hemat energi.

8. Akinya bagus, walaupun semalaman lampu kabin tidak sengaja menyala, keesokan paginya masih bisa distarter. Walaupun mesin tidak pernah menyala selama 4 hari, tidak ada masalah dengan aki.

9. Suatu hari dapat brosur CR-V, ternyata selisihnya Rp 70 juta dengan Honda CR-V, lumayanlah dapat harga Innova tapi rasa CR-V.

10. Ukuran lebarnya hampir 20 cm lebih besar daripada Picanto (mobil kami sebelumnya), jadi harus melebarkan garasi. Panjangnya masih lebih pendek daripada KIA Carens II.

11. Blindspot di depan sangat banyak, yang paling berbahaya adalah kanan depan arah spion sisi driver, apalagi setelah pasang talang air. Pengendara motor yang muncul dari sebelah kanan saat di pertigaan sering tidak terlihat sama sekali.

12. Kursi elektrik di sisi driver dapat digembungkan mengikuti bentuk tulang belakang pengemudi. Kursinya pun dapat ditinggikan dengan mudah sehingga kap mesin bagian kiri dan kanan masih dapat terlihat driver.

13. Charging HP Android maupun BB dapat dilakukan dengan mudah pada colokan USB yang tersedia di samping 2 power outlet lainnya.

14. Konsumsi Pertamax Rp 1.000 untuk 1 km. Display MID menunjukkan konsumsi bahan bakar paling rendah 14L/100 km, seringnya di 16L/100km.

15. Baru beberapa hari setelah beli, harganya langsung naik Rp 5juta.

16. Dapat bonus kaca film V-Kool, tapi hanya untuk samping dan belakang, katanya nilainya 5 jutaan.

17. Anak-anak tidak boleh duduk di depan, berbahaya karena ada dual airbag. Anak-anak juga tidak boleh ditinggalkan sendirian di depan karena dapat membuat dirinya terjepit electric seat yang selalu on walaupun kunci kontak tidak terpasang.

18. Kabin cukup senyap, seat baris kedua cukup nyaman saat digunakan untuk berkantor di bawah pohon, sebagaimana saat membuat tulisan ini :)

19. Tingginya masih kalah dengan Toyota Fortuner maupun Mitsubishi Pajero Sport. Tapi untuk pintu belakang, tinggi jendela sangat pendek, anak-anak tenggelam di jok, untuk dapat melihat keluar jendela, mereka harus berlutut.

20. Ada tambahan biaya untuk synthetic leather seat.

21. Karena keempat rodanya menggunakan disc brake alias rem cakram, jadi lebih sering nge-rem mendadak, hasilnya ditabrak motor dari belakang, tapi bahan bumper-nya bagus, tidak tampak berbekas.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang KIA All New Sportage.

Semoga review ini bermanfaat. Ada yang punya pengalaman lain? Silakan di-share pada komentar, terima kasih.


Written by arifrahmat

June 22nd, 2012 at 9:47 am

Kampus ITB, Kecil Tapi Besar (d/h ITB Multikampus)

without comments

Seorang teman yang kuliah di Korea membawa profesornya jalan-jalan ke kampus ITB di Jalan Ganesha. Sang profesor cukup kaget setelah mengetahui kampus ITB itu kecil saja, luasnya tidak seberapa. Nama besar ITB sudah lama sampai ke Korea dan dia membayangkan kampus ITB itu seperti kampus-kampus di luar negeri yang luasnya ratusan hektar.

Kampus ITB di Jalan Ganesha memang mini, paling mini diantara kampus PTN di Indonesia. Luasnya hanya 286.830 m2 atau sepertiga puluh luas kampus UI (Sumber: ITB dalam Fakta dan Angka). Kalau dinyatakan dalam hektar ya sekitar 28 hektarlah. Kalau anda berjalan-jalan mengelilingi kampus ITB, dua puluh menit sudah selesai.

Kampus ITB Ganesha dari udara (Sumber foto: http://blog.fathah.net/2008/03/uniknya-kampusku_29.html)

Jangan bandingkan kampus ITB dengan kampus UI di Depok yang super luas itu, atau dengan kampus UGM, IPB, ITS, Unpad, UNS Solo, dan lain-lain. Luas kampus ITB tidak ada apa-apanya. Jarak antar gedung fakultas/Prodi dengan fakultas/Prodi lain sangat dekat, beberapa diantaranya berada dalam satu gedung (misalnya Prodi Matematika, Astronomi, dan Teknik Industri dalam satu gedung Labtek) atau saling bersebelahan (misal Prodi Teknik Geodesi dengan Teknik Lingkungan) semua gedung di kampus ITB dapat dicapai dengan hanya berjalan kaki dalam tempo waktu yang singkat.

Tetapi, luas kampus yang kecil itu adalah satu keuntungan (sekaligus kelemahan) bagi ITB. Saya sebut keuntungan sebab dengan kampus yang kecil soliditas warganya menjadi kuat, sehingga hal ini adalah aset yang tak ternilai. Kita jadi sering ketemu dan mengenal warga (dosen/mahasiswa) dari Prodi/Fakultas lain. Mahasiswa dan dosen tidak hanya mengelompok dan berinteraksi di dalam Prodi/fakultasnya saja (seperti yang umum terdapat pada Prodi/Fakultas yang terpisah dalam jarak yang lumayan), tetapi sering berinteraksi dengan warga Prodi/Fakultas lain karena jarak yang dekat itu.

Di ITB sebagian besar perkuliahan tidak dilaksanakan di gedung-gedung tiap fakultas/Prodi, tetapi di gedung kuliah umum seperti GKU Barat dan GKU Timur, Oktagon, TVST, dan LFM. Setiap gedung kuliah itu dapat dicapai dengan berjalan kaki. Di gedung-gedung kuliah itulah mahasiswa ITB dari berbagai fakultas sering bertemu dan berinteraksi.

Kampus yang kecil tentu punya kekurangan. Lahan yang sempit harus dioptimalkan penggunaannya. Pembangunan gedung baru mengarah ke bentuk vertikal. Dengan jumlah mahasiswa yang terus bertambah dan pengembangan Prodi baru, jelas dibutuhkan lahan untuk pembangunan gedung baru. Lalu, mau dibangun di mana lagi?

Untunglah ITB mendapat tambahan lahan baru. Sebagian orang sudah mengetahui kalau ITB punya kampus baru di Jatinangor (ex Unwim). Luas kampus di Jatinangor sekitar 47 Ha, dua kali luas kampus di Ganesha. Di kampus ini sudah tersedia infrastruktur yang siap pakai, dan di sini sudah siap dikembangkan Prodi baru (yang telah menerima mahasiswa melalui SNMPTN 2012). Baca berita ini: ITB Jatinangor Mulai Buka tahun 2011

Kampsu ITB Jatinangor (Sumber gambar: http://www.itb.ac.id/gallery/3071/1)

Gedung utama kampus ITB Jatinangor (Sumber: http://www.itb.ac.id/news/3249.xhtml)

Hanya itu? Tidak, masih ada dua lagi lahan baru. Lahan kampus ITB berikutnya adalah kampus Walini di Cikalong Wetan Kabupaten Bandung Barat. Lahan ini disediakan oleh Perkebunan Teh Walini (CMIIW). Kalau anda melewati jalan tol Cipularang dari arah Bandung (setelah lepas pintu tol Pasteur), anda akan melihat perkebunan teh Walini. Nah, di sekitar situlah ITB mendapat lahan yang sangat luas yang nantinya diberi nama kampus ITB Hijau. Baca berita ini: ITB Akan Berkampus di Walini.

Satu lahan kampus lagi tetapi jaraknya cukup jauh adalah di kawasan Bekasi, tepatnya di kota Delta Mas. Di sini Pengembang kota itu memberikan lahan kepada ITB untuk dijadikan kampus pengembangan riset dan industri (karena letaknya di kawasan industri).

Jadi, kampus ITB sekarang sudah multikampus dan tersebar di mana-mana. Ada kampus ITB Ganesha, kampus ITB Jatinangor, Kampus ITB Walini, Kampus ITB Bekasi, dan kabar terbaru kampus ITB Malaysia. Baca tulisan ini agar lebih jelas.

Jadi, kampus ITB itu memang kecil (jika dipikirkan hanya kampus utama Ganesha), tetapi jika digabung dengan multikampus itu, ternyata ITB itu besar juga ya… (termasuk “besar” dalam makna yang lain, he..he).


Written by rinaldimunir

June 21st, 2012 at 8:49 pm

Posted in Seputar ITB

Peristiwa Aneh Sebuah Jenazah (Kisah Nyata)

without comments

Cerita ini saya dapatkan dari milis. Saya copas ke sini agar dapat menjadi hikmah bagi orang yang membacanya. Meskipun kisah ini sepintas tidak masuk akal, tetapi apapun yang diluar nalar bisa ditunjukkan Allah SWT kepada hamba-Nya agar manusia dapat mengambil pelajaran.

Mudah-mudahan kita selalu diingatkan oleh Allah tentang mati dan selalu ditunjukkan jalan yang lurus agar semua langkah hidup kita berada di jalan yang di-ridhoi-Nya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

PERISTIWA ANEH SEBUAH JENAZAH .. (Kisah Nyata) …

Ini adalah kisah nyata, kisah proses penguburan seorang pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Nama dan alamat sengaja tidak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. Insya Allah kisah ini menjadi hikmah dan cermin bagi kita semua sebelum ajal menjemput.

Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus jenazah) kepada saya. Dengan gaya bertutur, selengkapnya ceritanya begini:

Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun, berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut macam-macam jenis mayat sudah saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya. Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya dapat kesempatan ‘istimewa’ sepanjang hidup. Inilah pertama saya bertemu cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.

Sebagai Modin tetap di desa, saya diminta oleh anak almarhum mengurus jenazah Bapaknya. Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhum tercium bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut dan menjijikan. Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini. Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh. Saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam-macam perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya seperti tidak mendapat nur dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kemudian saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong. Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang pernah mengikuti kursus “fardu kifayah” atau pengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka mambantu saya dan mereka setuju.

Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun terjadi, sekedar untuk pengetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa. Maka saya pun urut-urut perut almarhum.

Tapi apa yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari tersebut, kotoran tidak keluar dari dubur akan tetapi melalui mulutnya. Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang terjadi di depan saya ini? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya mengurut perutnya untuk kali terakhir.

Tiba-tiba ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berlaku, ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa ? saya lihat wajah anak almarhum.

Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat dan aib dengan apa yang berlaku pada Bapaknya,kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka,”Inilah ujian Allah terhadap kita”. Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum.

Almarhum pada dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya tanggung jawab saya adalah membantu menguruskan jenazah Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada pada ahli warisnya.

Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya iman, hanya bilal, atau guru. Saya kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu. Takdir Allah ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari penutup saji meja makan. Subhanallah suasana menjadi makin panik. Benar-benar kejadian yang luar biasa sulit diterima akal pikiran manusia biasa. Saya terus berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan wudhu. Saya meminta anak-anaknya kain kafan.

Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi. Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan, ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan kaki.

Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf dikala memotongnya. Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan tampung di tempat-tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah “Ya Allah, jangan kau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah sekedar peringatan kepada hamba-Mu ini.”

Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan sebagainya, tapi susah. Semua sedang terpakai, beberapa tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula.

Suatu hal yang saya pikir bukan sekedar kebetulan. Dalam keadaan itu seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis mobil pick-up dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu dirumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata dikhalayak ramai: “Mas, saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya.” Renungkanlah kalau tidak ada apa-apanya, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian. Jadi saya suruh tuan yg punya van itu membawa kembali vannya.

Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya. Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia meminta ijin saya dalam 10-15 menit membersihkan mobilnya itu. Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu,muncul mobil tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di camping saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil. Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir amat memilukan.

Sesampainya Jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan jenazah. Allah berkehendak semua atas makhluk ciptaan-Nya berlaku, saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah tanah yang pada asal mulanya kering.

Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu? sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati-hati. Saya takut nanti ia terlentang atau telungkup na’udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada harapan untuk mendapat safa’at Nabi. Papan keranda diturunkan dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak-injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu.

Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjak tanah itu. Tinggalkan lobang kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang. Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin, saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air.

Masya Allah, dalam sejarah peristiwa seperti itu terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk selesaikan penguburan secepat mungkin.

Sejak lama terlibat dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak talqimkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setelah saya pulang ke rumah almarhum dan mengumpulkan keluarganya. Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya.

1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim ?

2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya?

3. Memakan harta masjid dan anak yatim ?

4. Menyalahkan jabatan untuk kepentingan sendiri ?

5. Tidak pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq ?

Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan mungkin dia malu Untuk memberi tahu, saya tinggalkan nomor telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang pun anak almarhum menghubungi saya. Untuk pengetahuan umum, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi hingga ada seorang yg beristrikan orang Amerika, seorang dapat istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang.

Peristiwa ini akan tetap saya ingat. Dan kisah ini benar-benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol. Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pencipta jagad raya ini.


Written by rinaldimunir

June 20th, 2012 at 6:51 pm

Posted in Kisah Hikmah

Nilai UN Siswa Makin Tinggi Saja (Inflasi Nilai?)

without comments

Hebat ya anak sekolah tahun ini, nilai UN (Ujian Nasional) mereka tinggi-tinggi, baik SD, SMP, maupun SMA. Banyak yang mendapat nilai 10 untuk beberapa pelajaran, kalau yang mendapat 9 tidak terhitung lagi. Dengan jumlah mata ujian 4 buah, ribuan siswa SMP di Surabaya misalnya mempunyai total nilai UN yang dahsyat, yaitu antara 38 – 39 ke atas (baca ini: Nilai Sembilan Belum Tentu Masuk Negeri).

Ini fenomena yang menarik. Zaman saya masih SMP atau SMA dulu, nilai Ebtanas 9 saja sulit didapat, apalagi nilai 10. Sempurna banget nilai 10 itu, benar-benar luar biasa siswa yang mendapat 10. Tapi tahun ini kita sudah tidak kaget lagi mendengar siswa SD/SMP/SMA mendapat 10 untuk suatu pelajaran yang di-UN-kan.

Banyaknya murid yang mempunyai nilai UN tinggi meninggalkan beberapa pertanyaan. Apakah soal ujian UN yang terlalu mudah, murid-murid yang semakin pintar, atau metode sekolah dalam mengantisipasi soal UN sudah bagus, entahlah. Ataukah ada pencontekan massal atau kecurangan yang dilakukan oleh guru/kepala sekolah untuk membantu para siswanya? Semuanya mungkin saja terjadi.

Saking tingginya nilai UN sekarang, passing grade masuk sekolah pilihan juga mencengangkan. Nilai 39 belum tentu bisa diterima di SMA negeri favorit, padahal kalau 39 itu dibagi empat maka rata-ratanya adalah sembilan koma tujuh lima. Masak sih nilai 9,75 tidak bisa diterima di sekolah negeri favorit? Kebangetan, bukan? Lalu, untuk apa gunanya nilai UN yang rata-rata sembilan itu?

Nilai tinggi tidak hanya di UN, tetapi nilai rapor juga tinggi-tinggi. Ini karena nilai di rapor dikatrol oleh guru supaya rata-rata di kelas naik.

Apakah nilai sekarang ini masih bermakna? Kata seorang rekan, nilai di sekolah sudah mengalami inflasi, seperti nilai rupiah waktu tahun 97/98. Kalau nilai diobral maka terjadilah inflasi nilai.

Dengan nilai UN dan nilai rapor yang tinggi-tinggi itu, apakah masih relevan kebijakan Dikti menjadikan nilai UN satu-satunya alat seleksi masuk perguruan tinggi? Apakah masih relevan menerima mahasiswa jalur undangan berdasarkan nilai rapor? Semuanya perlu dievaluasi.


Written by rinaldimunir

June 19th, 2012 at 8:47 am

Posted in Pendidikan

Nasib Sopir Angkutan Barang

without comments

Beginilah nasib supir angkutan barang, PULANG MALU, GA PULANG RINDU. Hanya bisa mengungkapkan isi hati melalui tulisan di belakang mobil.

(dipotret sore hari di Jalan AH Nasution, Bandung)


Written by rinaldimunir

June 18th, 2012 at 2:55 pm

Bermalam di Hotel Ambarrukmo, Yogya

without comments

Minggu lalu saya menghadiri Seminar Nasional dan Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2012 yang diadakan oleh Jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Saya mempresentasikan makalah hasil penelitian saya pada seminar tersebut. Seminar diadakan di Hotel Royal Ambarrukmo, Jalan Adisucipto. Eh, nggak nyangka makalah saya mendapat penghargaan sebagai makalah terbaik kedua dengan hadiah sebuah ponsel Samsung Galaxy. Asyiiik… (beritanya ada di situs koran PR, di sini, tapi judulnya tertukar dengan makalah dosen IT Telkom)

Nah, agar praktis dan tidak perlu repot-repot mencari tempat bermalam, saya menginap di hotel yang sama, Hotel Royal Ambarrukmo. Mengapa saya menulis tentang hotel ini? Karena Hotel Ambarrukmo adalah hotel yang bersejarah, tidak hanya bagi warga Yogya tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Hotel ini dibangun pada zaman Soekarno, kalau nggak salah bersamaan dengan pembangunan Hotel Indonesia di Yogyakarta.

Namun, entah karena manajemen atau penataan hotel yang kurang bagus, hotel Ambarrukmo ini tidak banyak diminati oleh wisatawan yang berlibur di Yogyakarta sehingga merugi. Barulah setelah direnovasi menjadi lebih bagus dan pembenahan manajemen hotel yang dikelola oleh jaringan hotel internasional, hotel ini mulai ramai. Wajah hotel yang sekarang adalah hotel baru setelah renovasi.

Di samping kanan hotel bersebelahan dengan sebuah pusat perbelanjaan modern yang bernama sama, yaitu Plaza Ambarrukmo. Kabarnya plaza ini berdiri di atas masih milik Kraton Yogyakarta juga.

Plaza Ambarrukmo

Hotel Ambarrukmo tanahnya sangat luas. Tanah tempat hotel berdiri merupakan tanah milik Kraton Yogyakarta. Di dalam area hotel terdapat sebuah pendopo yang mengingatkan kita pada pendopo di dalam kraton Yogya. Dari bentuk pendoponya saya meyakini ini adalah bangunan asli dari hotel yang lama.

Ruangan di dalam pendopo

Di belakang pendopo terdapat sebuah bangunan yang dikelilingi kolam dan air mancur. Sungguh menawan, mengingatkan saya pada banguna tradisional Jepang yang berada di atas kolam.

Kompleks pendopo dari arah belakang

Pendopo dilihat dari atas

Jalan antara pendopo dan sisi hotel

Kolam renang di belakang hotel

Alhamdulillah ada masjid di halaman belakang hotel, tempat karyawan dan tamu hotel menunaikan shalat.

Lobby hotel yang luas


Written by rinaldimunir

June 18th, 2012 at 6:00 am

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Sekolah SMA 1 Padang yang Baru

without comments

Minggu lalu saya pulang ke Padang dalam rangka berziarah ke makam orangtua berhubung sudah mendekati bulan puasa Ramadhan yang tidak lama lagi. Ibu dan ayah saya sudah tiada (ibu baru meninggal bulan November 2011 yang lalu). Di sela-sela pulang kampung saya menyempatkan diri mengunjungi bekas sekolah saya yang dulu, yang telah menghantarkan saya kuliah di ITB hingga berkarir menjadi dosen hingga sekarang.

Gedung sekolah SMA 1 Padang yang saya kunjungi adalah gedung baru yang terletak di kawasan Belanti. Gedung sekolah yang lama di Jalan Sudirman (pusat kota) rusak parah akibat gempa besar tahun 2009 (baca tulisan saya yang terdahulu yang berisi foto-foto SMA 1 Padang setelah gempa).

Oleh Pemerintah Kota, sekolah saya ini dipindah ke kawasan baru yang lebih tenang. Pembangunan gedung sekolah didanai oleh sebuah Yayasan Budha yang banyak mendanai kegiatan sosial di tanah air.

Area sekolah yang baru sangat luas (tidak sempit seperti di lokasi yang lama). Gedung dibangun berlantai tiga. Di lantai paling atas terdapat shelter yang dapat menampung ribuan orang apabila terjadi tsunami di kota Padang (yang dipredikasi oleh para ahli geologi bakal terjadi, karena kota Padang terletak persis di depan patahan sesar Mentawai, tetapi mudah-mudahan saja jangan pernah terjadi). Di puncak lantai paling atas konon juga terdapat sebuah helipad (tapi saya tidak sempat melihatnya).

Saya menjelajahi seluruh bangunan di gedung yang baru itu. Di bawah ini oleh-oleh berupa foto-foto jepretan kamera ponsel saya, semoga dapat menghilangkan rasa penasaran bagi para alumni SMA Padang yang belum mengetahui sekolah baru alamamater kami.

Aula besar menyambut kedatangan kita ketika menapakkan kaki memasuki gedung sekolah. Ada tulisan Asmaul Husna (99 nama-nama Allah yang indah) dan sebuah pepatah cina di gerbang aula. Nama-nama Asmaul Husna itu untuk menegaskan bahwa orang Minang sangat lekat dengan agama Islam. Pepatah cina untuk mengingatkan gedung sekolah ini didanai oleh Yayasan Budha.

Deretan piala prestasi siswa menyambut kehadiran kita

Foto-foto para Kepsek yang pernah menjabat Kepala Sekolah. Kepsek saya waktu itu adalah Pak Rusdi. Masih hidupkah dia? Semoga Allah SWT memberkahi beliau.

Lorong antar kelas yang lapang dan terang di lantai 1.

Tulisan yang berbeda-beda pada setiap tangga yang mengingatkan para siswa agar selalu jujur, disiplin, taat pada orangtua dan guru.

Pemandangan tangga antar setiap lantai

Galeri yang memajang karya seni para siswa di lantai 3

Foto sudut galeri

Galeri seni lebih dekat

Masjid sekolah yang terletak di samping kiri halaman depan sekolah

Foto masjid sekolah tampak depan

Gedung olahraga di samping kanan halaman depan sekolah

Foto gedung olahraga tampak depan

Plang nama gedung olahraga sekolah

Saya berdiri di halaman depan sekolah

Foto sekolah dari kejauhan

Prasasti peresmian

Dengan sekolah yang luas, bangunan baru yang megah, sarana yang lengkap — apalagi dengan predikat sekolah RSBI — tidak ada alasan buat para siswa-siswanya berprestasi di tingkat nasional (sayangnya belum terdengar pemenang olimpiade sains dari sekolah ini).


Written by rinaldimunir

June 16th, 2012 at 3:10 pm

Makan Sate Padang Dulu, ah…

without comments

Siapa yang tidak kenal sate padang? Sate yang di Padang sendiri tidak diberi embel-embel ‘padang’, tetapi lebih sering memakai label ‘sate pariaman’ karena kebanyakan pedagangnya berasal dari daerah Pariaman (sebuah kabupaten di Sumbar). Di Sumatera Barat sendiri setiap daerah punya kekhasan sate masing-masing. Ada sate padangpanjang, sate bukittinggi, sate pasaman, dan sate pariaman.

Gerobak sate padang. Kata ‘padang’ adalah nama generik untuk semua jenis sate masakan minang.

Meskipun sate dari daerah Sumbar punya kekhasan masing-masing, tetapi tetaplah mereka mempunyai ciri yang sama: dagingnya dari daging sapi, direbus terlebih dahulu bersama bumbu-bumbu hingga empuk. Pemanggangan hanya sebentar saja sebab daging sudah matang, pemanggangan di atas bara api bertujuan untuk membuat sensasi rasa harum dari asap pembakaran sehingga menimbulkan aroma yang merangsang air liur.

Satu lagi yang sama, dan membedakannya dengan sate daerah lain yang dimakan dengan bumbu saus kacang, sate padang disiram dengan bumbu kuah kental yang berwarna kuning kecoklatan hingga kemerahan. Bumbu kuah ini terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan kaldu daging, bumbu terdiri dari kunyit (yang membuat warnanya menjadi kuning), bawang, cabe (supaya pedas), dan lain-lain. Untuk menikmati sate padang maka temannya adalah ketupat.

Sate padang ada di mana-mana. Di kota Bandung ini banyak pedagang sate padang, baik yang berkeliling maupun yang mangkal di tempat. Kalau saya mau makan sate, saya biasanya selektif, karena kebanyakan dagingnya dari jantung sapi atau lidahnya. Saya tidak suka makan lidah atau jantung, gimana gitu membyangkannya meski bagi sebagian orang lain enak. Selain jantung dan lidah, ada juga jeroan usus. Pedagang memakai bahan dari jantung, lidah, dan jeroan usus mungkin karena harganya lebih murah daripada daging. Tidak banyak pedagang sate padang menyediakan murni daging, kalaupun dari daging kebanyakan daginya bagaleme (bahasa minang artinya gajih atau lemak).

Salah satu langganan sate padang yang memenuhi spesifikasi saya (daging murni) adalah sate di rumah makan kapau di jalan Dipati Ukur (samping ITHB). Dagingnya besar-besar, satu porsi Rp12.000 sudah pakai ketupat. Selain daging murni, ada juga berbahan jantung, lidah, dan usus, tetapi dipisah letaknya sehingga konsumen bisa memilih.

Daging sate siap dipilih

Ini sate padang khas Bukittinggi, karena dagingnya dilumuri parutan kelapa. Saya tahu itu khas Bukittinggi karena sewaktu saya jalan-jalan di Pasar Bawah Bukittinggi (samping Jam Gadang) banyak pedagang sate yang daging satenya dilumuri parutan kelapa.

Saya beli setengah porsi saja (biar nggak terlalu banyak mengkonsumsi daging merah) yang harganya Rp7000. Setengah porsi ada empat tusuk sate, kalau satu porsi dagingnya delapan tusuk.

Daging sate dibakar dulu

Setelah dibakar kira-kira lima menit lamanya, daging sate dicelupkan ke dalam kuah kental agar bumbu kuah meresap.

Sate dibenamkan ke dalam panci kuah kental

Setelah itu ketupat dan sate disiram kuah kental tadi, lalu ditaburi bawang. Hmmm… baunya enak dan siap untuk dibawa pulang.

Mau?

Mau?


Written by rinaldimunir

June 12th, 2012 at 7:11 pm

Posted in Makanan enak