if99.net

IF99 ITB

Archive for May, 2012

GSG-ITB Menghitung Hari

without comments

GSG (Gedung Serba Guna) ITB yang terletak di bagian belakang kampus sedang menghitung hari. Gedung ini akan dirobohkan dan di ex lahan akan dibangun gedung baru yang bernama Center for Arts, Design and Language (CADL). Bagi anda yang belum tahu dapat membaca tulisan saya sebelum ini (Sayembara Desain Gedung Baru di ITB). Rancangan gedung baru hasil sayembara arsitektur dapat dibaca pada pranala ini.

Sebelum GSG yang bersejarah itu dirubuhkan, saya sempatkan diri memotret gedung ini dari beberapa sisi. Yah, sebagai kenang-kenanganlah sebelum berdiri gedung baru di lahan GSG itu.

GSG tampak depan

GSG tampak dari samping

GSG dengan latar belakang gedung ex PAU

Bagi mahasiswa ITB generasi tahun 1980-1990 pasti setuju bila saya katakan GSG ini bersejarah. Sebelum ada Sabuga yang megah itu, semua acara besar dilakukan di GSG ini. Mulai dari sidang senat terbuka penerimaaan mahasiswa baru ITB, wisuda, pembukaan penataran P4, malam Iota Tau Beta (sudah tidak ada lagi sekarang), pertandingan olahraga antar Jurusan dan antar kampus, pentas seni Ludruk ITB, perayaan hari besar keagamaan (Natal misalnya), dan lain-lain. Bahkan pendaftaran calon mahsiswa baru melalui Sioenmaru/UMPTN/SPMB juga dilakukan di gedung ini.

Setelah Sabuga selesai dibangun pada tahun 1995, maka acara sidang terbuka penerimaan mahasiswa baru ITB dan acara wisuda tidak lagi dilakukan di GSG, tetapi di Sabuga. GSG hanya sesekali digunakan untuk pertandingan olahraga seperti futsal, tenis meja, dan badminton.

Secara akustik gedung ini kurang bagus, begitu juag sirkulasi udaranya. Ruangan di dalam terasa panas ketika dijejali banyak orang, misalnya pada acara wisuda. Saya yang ketika S1 diwisuda di sana merasakan benar betapa gerahnya udara di dalam. Pada acara wisuda GSG disesaki oleh wisudawan yang jumlahnya sekitar 1000 orang, para orangtua yang jumlahnya dua kali jumlah wisudawan, tamu undangan, dosen, dan perwakilan mahasiswa. Para tamu harus berkipas-kipas untuk mengusir hawa gerah, rasanya ingin cepat-cepat keluar GSG saking panasnya.

Ini foto di dalam GSG yang saya ambil dari akun grup Fesbuk Dosen ITB. Foto ini dijepret oleh Pak Budi Rahardjo. Terlihat banyak sekali rangka baja bergelantungan di atasnya. Konstruksi GSG memang disusun oleh ratusan rangka baja sehingga terkesan kokoh dan kuat.

Interior GSG (foto oleh Budi Rahardjo, dosen ITB)

Saya belum tahu kapan persisnya GSG akan dirubuhkan, tetapi saya dnegar tahun ini. Meski belum dirubuhkan, sudah ada seniman yang berminat untuk membeli rangka baja ex konstruksi gedung, mungkin mau dibuat karya seni seperti patung atau seni instalasi.


Written by rinaldimunir

May 31st, 2012 at 4:33 pm

Posted in Seputar ITB

Ambil Foto dan Sidik Jarimu (PNS)

without comments

Tadi siang kami (dosen dan karyawan fakultas) antri di Gedung CC Timur ITB. Semua berpakaian rapi, ada yang pakai batik, ada yang sengaja pakai dasi, dan ada yang memakai jas. Semua ingin tampil bagus di foto. Ya, kami para PNS di ITB sedang diambil data biometriknya (foto dan sidik jari) oleh Badan Kepegawaian negara (BKN). Katanya sih untuk Kartu Pegawai Negeri Sipil Elektronik (KPE). Katanya (eh..katanya lagi), begitu bunyi surat edaran yang kami terima, KPE itu dibuat untuk memudahkan pelayanan kepada PNS, pensiunan PNS, dan keluarganya yang meliputi pelayanan gaji, asuransi kesehatan, pensiun, tabungan perumahan, dan transaksi perbankan.

Berhubung hanya ada ada dua loket pengambilan foto dan sidik jari, maka kami semua harus duduk menunggu panggilan. Saya perhatikan para karyawan (bukan dosen) sangat semangat menunggu giliran.

Ketika giliran dipanggil tiba, maka dengan tenang kami diambil foto dan sidik jarinya. Sekali panggil dua orang, siaaap…, jepret. Mirip seperti pengambilan foto dan sidik jari untuk SIM dan paspor.

Ketika pemberitahuan pengambilan foto dan sidik jari ini diumumkan, berbagai tanggapan muncul di milis. Komentar pertama: ini negara tidak efisien, redundan. Bukankah kita juga (sudah) diambil foto dan sidik jarinya buat e-KTP? Lalu, mengapa perlu diambil lagi untuk data PNS, bukankah itu suatu keborosan? Jangan-jangan ini proyek membuang-buang anggaran negara? Hmmm…ada kesan antar lembaga Pemerintahan (Kemendagri, BKN, Kemendiknas, dll) tidak ada saling koordinasi sehingga masing-masing lembaga mengulang proses yang sama untuk objek yang sama. Lagipula di dalam Direktorat Kepegawaian ITB sudah ada database foto PNS, kenapa tidak digunakan saja data tersebut daripada diambil lagi?

Saya memimpikan negara kita mempunyai sistem satu single-identity untuk setiap warganegara, sehingga cukup satu data tunggal tetapi dipakai untuk semua keperluan (KTP, Paspor, SIM, Kartu PNS, Kartu Asuransi, dll). Kapankah itu? masih jauh saya kira, akhirnya yang bisa dilakukan adalah masing-masing berjalan sendiri-sendiri.

Komentar kedua mengenai aspek keamanan. Siapa yang bisa menjamin data biometrik itu tidak jatuh kepada pihak yang tidak berhak? Hal ini karena pengambilan data biometrik itu di-outsorcing-kan kepada pihak lain, sehingga ada kekhawatiran data biometrik itu disalaghunakan untuk kepentingan lain (bukan untuk kepegawaian), misalnya untuk kejahatan. Para pakar sekuriti berpendapat kita harus hati-hati memberikan data pribadi kepada pihak lain, karena data pribadi itu sering kita gunakan untuk otorisasi akses (misalnya password atau PIN yang diambil dari tanggal kelahiran).

Hal yang sama juga berlaku untuk data biometrik seperti sidik jari. Sidik jari dipakai sebagai alat untuk identifikasi atau otentikasi. Bila sidik jari itu dicuri, maka penyalahgunaan yang mungkin terjadi adalah pemalsuan identitas untuk mengakses sebuah sistem. Bayangkan jika ada orang berhasil mendapatkan sidik jari anda lalu memalsukan data anda dan menggunakan data sidik jari tersebut untuk mengambil uang di dalam tabungan anda. Berbahaya, bukan?

Kasus yang lebih jahat bisa terjadi, dimana penjahat meninggalkan image sidik jari anda pada objek kejahatan, lalu anda yang dituduh melakukan kejahatan tersebut.

Mudah-mudahan saja kekhawatiran di atas tidak terjadi dan data biometrik kami digunakan untuk kepentingan yang benar. Sampai tulisan ini dibuat kami semua patuh-patuh saja, buktinya kami datang untuk pengambilan data biometrik. He..he.., mungkin karena KPE itu berkaitan dengan kebutuhan hidup para PNS yaitu gaji dan pensiunan hari tua. Kali…


Written by rinaldimunir

May 30th, 2012 at 3:13 pm

Kenapa Atap Aula Barat/Timur ITB Bergaya Gonjong Rumah Gadang? (d/h Abdoel Moeis Penggagas ITB)

without comments

Pernahkah anda berpikir kenapa atap Aula Barat dan Aula Timur ITB menyerupai bentuk gonjong rumah adat Minangkabau yang disebut Rumah Gadang? Kenapa bentuk atap itu tidak bergaya rumah adat urang Sunda? Saya menemukan jawabannya di dalam sebuah tulisan yang saya baca tadi(Abdoel Moeis ~Penggagas ITB).

Kartupos dengan foto afdruk Kodak ini memperlihatkan ITB bagian aula barat dari arah timur laut (Sumber foto: http://djawatempodoeloe.multiply.com/photos/photo/190/77)

Rumah Gadang Minangkabau (Sumber foto: http://hendraxsap.wordpress.com/2011/06/08/tradisi-merantau-dan-berdagang-urang-awak/)

Ternyata pendirian TH (Technische Hoogeschool) –yang sekarang bernama ITB– bukanlah inisiatif penjajah kolonial Belanda. TH adalah gagasan seorang tokoh sejarah bangsa bernama Abdoel Moeis. Abdoel Moeis (lahir pada tanggal 3 Juli 1883) datang ke Belanda bersama delegasi Indie Werbaar pada bulan Januari 1917. Mereka berangkat dengan kapal laut dan tiba di negeri Belanda pada bulan Meret 1917. Di sana Abdoel Moeis bernegosiasi dengan Pemerintah Belanda untuk mendirikan Sekolah Tinggi Teknik di Hindia-Belanda (sekarang Indonesia). Negosiasi itu membuahkan hasil sehingga dibentuklah komisi untuk pendidikan teknik di Hindia. Komisi tersebut disetujui oleh Ratu Belanda dan didukung secara finansial oleh 14 pengusaha Belanda. Seperti kita ketahui bersama Sekolah Teknik Tinggi itu didirikan di kota Bandung pada tahun 1920 di lokasi Jalan Ganesha yang sekarang bernama ITB.


Siapa Abdoel Moeis? Bagi siswa sekolah pasti mengenal nama ini. Dia seorang sastrawan terkenal yang salah satu masterpiece-nya adalah novel Salah Asoehan. Bagi orang Bandung, nama Abdoel Moeis dikenal dengan nama terminal Kebon Kelapa yang bernama terminal Abdoel Moeis. Anda orang Bandung tentu tidak asing denga angkot jurusan Abdul Muis – Dago, Abdul Muis – Cicaheum, Abdul Muis – Ledeng, dan sebagainya. Itu karena Abdoel Moeis dulu pernah tinggal di sekitar Kebon Kelapa.

Dikutip ari artikel di atas, “Abdoel Moeis dilahirkan pada 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya pada sekolah Belanda tingkat persiapan Sekolah Stovia di Bukittinggi, Abdoel Moeis kemudian menuju Bandung dan tinggal lama di kota ini.”

Lalu bagaimana kisahnya sehingga atap Aula Barat dan Aula Timur itu berbentuk gonjong rumah adat Minangkabau? Dikutip dari artikel di atas: “Menurut keterangan puterinya, Dr. Diana Moeis, ayahnya pernah bercerita bahwa lokasi THS yang sekarang disebut sebagai Intitut Teknologi Bandung itu usulan ayahnya. Pembangunan gedung THS, juga mendapat masukan dari Abdoel Moeis, yang menginginkan agar ada unsur pribumi diterapkan dlm bangunan tsb. Jadilah, atap gedung yang disebut Aula Barat itu sekarang, berbentuk seperti atap rumah gadang di Sumatra Barat. Ya, betapapun, Abdul Muis adalah orang Minang…..jadi, tak mungkin mengusulkan atap julang ngapak bergaya Sunda”.

~~~~~~~~~~~~~

Di bawah ini saya kutipkan sebagian artikel pada tulisan di atas (Abdoel Moeis ~Penggagas ITB):

Abdoel Moeis ~Penggagas ITB~

Pada tahun 1913 di Hindia Belanda muncul suatu gagasan tentang pembentukan “Indie Weerbaar” (Pertahanan Hindia) yaitu milisi paruh waktu yang terdiri atas orang-orang bumi putera, karena milisi merupakan kekuatan pertahanan yang lebih murah daripada memperbesar pasukan professional. Namun demikian ide tentang pembentukkan “Indie Weerbaar” ditolak oleh pemerintah Belanda.

Ketika perang dunia I pecah pada tahun 1914 gagasan “Indie Weerbaar” muncul kembali. Boedi Oetomo yang mempunyai cabang-cabangnya di kalangan orang-orang Jawa yang berdinas pada tentara kolonial, bangkit dari tidurnya dan mulai mengkampayekan pembentukkan milisi semacam itu.

Ketika kampanye tentang perlunya suatu milisi pertahanan berlangsung, Sarekat Islam (SI) memunculkan tuntutan yang lain yaitu harus adanya perwakilan bumi putera dalam pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1915 Boedi Oetomo mendukung pandangan SI, sehingga dengan demikian kampanye “Indie Weerbaar” dengan cepat berubah menjadi isu perwakilan rakyat atau Volskraad

Sebagai kelanjutan kampanye Indie Weerbaar, muncul keputusan agar dikirim delegasi ke Negeri Belanda untuk menyampaikan mosi kepada Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Parlemen Belanda. Utusan terdiri atas enam anggota yaitu Pangeran Ario Koesoemodiningrat (mewakili Prinsen Bond), Bupati Magelang Raden Tumenggung Danoe Soegondo mewakili Regenten Bond, Mas Ngabehi Dwidjosewojo mewakili Boedi Oetomo, Abdoel Moeis mewakili Sarekat Islam, F Laoh mewakili Perserikatan Minahasa, dan W.V Rhemrev. Selain itu, ada seorang pendamping yaitu Dirk van Hinloopen Labberton, seorang tokoh pendukung Politik Etis

Rombongan berangkat ke Negeri Belanda pada bulan Januari 1917 dan tiba di sana pada awal Maret 1917 Sebelum tiba di Negeri Belanda, ketika perjalanan tertunda di Jenewa, Abdoel Moeis bersama Dirk van Hinloopen Labberton sudah menyampaikan gagasan-gagasan mereka dalam berbagai ceramah tentang perlunya percepatan kemandirian Hindia Belanda, meski tetap di bawah pimpinan Negeri Belanda. Untuk itu kemampuan bertahan di bidang militer, intelektual, dan ekonomi sangatlah penting .

Ketika datang di Belanda, mereka diterima dengan sedikit aneh: Untuk memimpin rombongan di Belanda, ditunjuk seorang mentor ; polisi juga ditugaskan untuk mengamat-amati mereka. Para anggota delegasi tidak memiliki kebebasan untuk bergerak sendiri-sendiri. Aturan ketat itu tidak berlangsung lama, beberapa anggota delegasi bergerak sendiri tanpa meminta idzin. (Kaoem Moeda, 28 Juli 1917). Meskipun demikian, secara formal mereka disambut secara simpatik oleh Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Staten Generaal (Parlemen Belanda)(Poeze, 1986: 113).

Dalam surat kabar Handelsblad yang terbit di Amsterdam, diberitakan tentang acara pertemuan Delegasi Indie Weerbaar yang diselenggarakan oleh perhimpoenan Koninklijke Nederlandsche Vereeniging ,,Onze Vloot” pada tanggal 1 April 1917 di Gedung Concereige Bouw. Dalam berita yang disarikan dalam surat kabar Oetoesan Hindia itu, disebutkan bahwa hadir dalam pertemuan itu beberapa bekas Menteri Kolonial, bekas Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.C. van Heutszt, A.W.F. Idenburg, beberapa anggota parlemen, akademisi,dan para pengusaha.

Menjelang kepulangan ke Hindia Belanda, diadakan pesta besar yang diselenggarakan Jenderal Van Heutsz dan dihadiri oleh para tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha. Kemudian diselenggarakan pula satu pertemuan, di mana kalangan usahawan menjanjikan dukungan untuk didirikannya sebuah sekolah politeknik di Hindia (Poeze, 1986: 114).

Dirk van Hinloopen Labberton juga berpendapat bahwa jika ada perang, bumiputera pertama tama mesti melindungi kepentingannya sendiri. Labberton juga menjelaskan bahwa tidak lama lagi oleh usaha pihak partikulir di Hindia, kira kira di Bandoeng, akan didirikan Technische Hooge School (Kaoem Moeda, 16 Juli 1917).

Keinginan untuk mendirikan Sekolah Teknik Tinggi di Hindia Belanda, sebenarnya sudah menjadi pemikiran elite Bumiputera dan sementara pengusaha dan industriawan Belanda di Hindia sebelum 1917. Misalnya dalam Doenia Bergerak No. 18 (1914) sudah muncul tulisan berjudul “Pendapatan hal Techniche Hooge School di Hindia” . Soewardi Soerjaningrat yang ketika itu (1917) masih di Nederland gencar sekali mendukung pendirian Sekolah Tinggi Teknik itu. Akhirnya dengan kedatangan delegasi Indie Weerbaar, khususnya Abdoel Moeis berupaya melakukan negosiasi hingga berhasil dengan disetujuinya pembentukan komisi untuk pendidikan teknik di Hindia oleh Ratu Belanda dan 14 pengusaha Belanda yang memberikan dukungan penuh secara finansial Pada tahun 1920, sekolah yang diimpikan itu berdiri di Kota Bandung dengan nama Technische Hogeschool (THS).(Koloniale Studien 1917-1918, hal. 158).


Written by rinaldimunir

May 29th, 2012 at 8:32 am

Posted in Seputar ITB

Lebih Baik Konserrvatif Daripada Penyesalan

without comments

Teman saya yang dulu adik kelas di kampus tinggal dan bekerja di Jakarta. Dia mempunyai dua orang anak perempuan yang baru ABG, masih SMP. Teman saya itu bercerita bahwa dia tidak membekali anaknya dengan ponsel canggih seperti BB, Ipad, atau smartphone lainnya. Dia hanya membelikan anaknya ponsel biasa saja TANPA KAMERA, padahal secara materi dia sebenarnya berkecukupan dan mampu membelikan anaknya apa saja yang menjadi trend anak gaul zaman sekarang. Tentu kebayang kan betapa cupu anaknya di antara teman-temannya yang rata-rata mempunyai BB atau minimal ponsel yang bisa multimedia, di Jakarta gitu lho.

Tidak hanya itu, dia cukup protektif terhadap kedua anaknya. Pulang tidak boleh malam, kalau pergi ke luar rumah harus tahu sama siapa dan kemana. Pergi keluar selalu diantar. Acara menginap bersama teman-temannya tidak boleh kecuali program sekolah. Komunikasi dengan guru-guru sekolah dan sesama orang tua murid cukup intens, pokoknya pagarnya super ketatlah.

Saya mendukung sikapnya itu. Sikap ketat dan protektifnya itu tidak lain untuk melindungi anak dari pergaulan bebas di ibukota. Apalagi anaknya perempuan dan baru ABG, tentu godaan kehidupan di kota besar dan teman pergaulan sangat besar pengaruhnya. Mirip seperti dia, anak saya yang laki-laki kelas 5 SD hingga hari ini belum saya belikan ponsel, apalagi memiliki ponsel berkamera, enggak dulu deh, belum perlu amat.

Saya katakan kepada teman saya itu, biarlah kita disebut kolot, konservatif, ketinggalan zaman, atau apapun namanya dalam mendidik anak, daripada suatu hari timbul penyesalan karena anak kita salah pergaulan. Tidak apa-apa kita sebagai orangtua reseh sedikit, selalu periksa apa isi tas anak, siapa saja temannya, kemana dia pergi dan dengan siapa saja, serta selalu mengawasi penggunaan internet.

Sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa persentase remaja di Indonesia melakukan seks pra nikah angkanya semakin mencemaskan. Di Bali saja menurut penelitian yang valid 75% remaja sudah melakukan seks pra nikah. Akibat pergaulan yang bebas banyak remaja puteri yang hamil di luar nikah hingga menggugurkan kandungannya karena rasa malu. Alat kontrasepsi seperti k*nd*m yang dijual bebas di apotek dan minimarket laku keras di kalangan remaja (baca berita ini). Sungguh mengerikan mendengar kabar seperti ini.

Di zaman sekarang kita tidak bisa terlalu berharap kepada Pemerintah untuk melindungi anak-anak kita dari pornografi dan pornoaaksi. Pemerintah kita ini sudah kepayahan, jangankan melindungi warganegaranya dari budaya asing yang buruk, mencegah hiburan yang mengumbar syahwat saja tidak sanggup. Anehnya, ada sekelompok LSM yang membela hiburan semacam itu dengan dalih kebebasan berekspresi. Porno itu di otak katanya, kalau pikiran memang sudah kotor maka apapun yang dilihat akan dianggap porno, begitu dalih mereka. Atau dalil lainnya begini: kalau tidak setuju ya tidak usah dilihat. Titik. Sesederhana itukah?

Maka, jika Negara tidak bisa memberikan perlindungan bagi warganegaranya, benteng terakhir ada pada orangtua (baca: keluarga). Pendidikan agama saja tidak cukup, tetapi masih perlu aksi protektif yang kolot semacam di atas agar anak-anak kita terlindungi dari pengaruh buruk zaman modern sekarang. Lebih baik dicap konservatif daripada kita menimba penyesalan di kemudian hari.


Written by rinaldimunir

May 27th, 2012 at 7:17 am

Posted in Pendidikan

Korupsi vs Pornografi

without comments

Setiap kali ada masalah yang berkaitan dengan asusila di negeri ini –mulai dari video porno, film mesum, artis pengumbar syahwat, goyangan erotis penyanyi dangdut, kemunculan artis porno dari luar ngeri, dsb– maka dipastikan ada sekelompok orang yang melakukan demo penolakan atau protes. Tidak jarang aksi protes tersebut berujung kegaduhan. Masih ingat dalam benak kita kasus video mesum Ariel yang menyita perhatian dan menimbulkan aksi demo kelompok ormas dan elemen rakyat lainnya. Juga masih belum lepas dari ingatan demo penolakan terhadap Miyabi dan artis asusila lainnya, atau aksi demo FPI menentang film murahan yang mengumbar syahwat. Bahkan kasus rok mini di DPR pun mencuat menjadi kasus nasional. Yang terbaru sekarang ini adalah aksi demo penolakan kedatangan Lady Gaga.

Dalam sekejap aksi-aksi demo itu mendapat banyak komentar di dunia maya, ada yang pro dan ada yang kontra. Media pun ikut meramaikan suasana dengan memuat opini serta komentar yang mengkritik demo tersebut. Sebagai negara demoktratis pro kontra itu tentu sah-sah saja. Tetapi, yang menarik adalah komentar yang membandingkan pornografi dengan korupsi. Bunyi komentar tersebut kira-kira nadanya begini:” mengapa yang diurusin masalah pornografi, urus tuh korupsi”, atau “mengapa ormas-ormas itu tidak mendemo pejabat yang korupsi, mengapa hanya mengurusi goyangan Inul” atau “korupsi lebih penting didemo daripada rok mini”, “ormas sok suci, giliran pejabat yang korupsi diam saja, tapi giliran goyang pinggul langsung bereaksi”.

Pertanyaannya adalah apakah pornografi itu tidak lebih penting diurusi daripada korupsi? Apakah korupsi lebih prioritas dipikirkan bangsa ini ketimbang masalah asusila? Baik korupsi maupun pornografi sama-sama buruknya, sama-sama berbahaya. Korupsi memiskinkan negara, sedangkan pornografi merusak akhlak generasi muda harapan bangsa.

Saya berpendapat masalah pornografi jauh lebih berat daripada korupsi. Korupsi tidak memberi efek langsung kepada orang lain, yang dirugikan adalah keuangan negara. Memang jika negara miskin karena korupsi ada pengaruhnya terhadap kesejahteraan rakyat, tetapi itu persoalan lain lagi. Namun kalau masalah asusila seperti pornografi dan pornoaksi dampaknya membekas pada banyak orang, terutama anak-anak dan remaja. Ketika video Ariel dulu merebak, penyebarannya sangat masif. Yang menonton mulai dari anak SD hingga aki-aki. Otak anak-anak dan remaja belum mampu memfilter adegan porno itu. Adegan seperti itu bisa membekas lama dan menimbulkan keingintahuan lebih lanjut. Mulai mencoba-coba dan bereksperimen. Ketika nafsu tidak bisa dikontrol, pelampiasannya mungkin lebih buruk yaitu perkosaan. Sudah banyak kasus perkosaan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja disebabkan karena sering menonton video porno.

Yang saya khawatirkan dari pornografi pada anak dan remaja adalah budaya hidup permisif. Segala apa boleh dilakukan tanpa takut pada norma-norma lagi. Budaya permisif ini arahnya adalah pergaulan bebas yang tanpa aturan, termasuk di dalamnya seks bebas, kumpul kebo, minum minuman keras, homoseksualitas, dan narkotika.

Bagi orang yang meremehkan pornografi dibandingkan korupsi, coba tanya bagaimana perasaannya bila pornografi itu terjadi pada anaknya sendiri? Bagaimana reaksinya bila anaknya yang masih kecil sudah mengakses situs porno atau menonton video mesum? Apakah dia bisa terima jika anaknya yang remaja sudah melakukan seks pra nikah dengan pacarnya atau teman wanitanya? Saya yakin dia akan shock, dan akan bertambah shock ketika tahu pacar anaknya hamil dan meminta pertanggungjawaban. Apakah hal itu yang dia inginkan? Saya yakin orangtua yang waras tidak mau anaknya terjerumus dalam kemaksiatan, sekecil apapun perhatian orangtua kepada anaknya tetaplah mereka menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik dan berakhlah mulia.

Karena itu, janganlah bangsa ini mengabaikan moralitas. Korupsi dan pronografi adalah musuh bersama yang harus kita berantas. Didiklah anak-anak kita menjadi orang yang baik dan sholeh.


Written by rinaldimunir

May 25th, 2012 at 3:01 pm

Travel Bandung – Jatinangor, Jeli Melihat Peluang Bisnis

without comments

Kemarin ketika naik angkot saya melihat sebuah stiker promosi travel Bandung – Jatinangor. Saya baru tahu ada travel yang melayani Bandung – Jatinangor. Wah, benar-benar jeli pengusaha travel ini melihat peluang bisnis. Tidak terpikirkan oleh orang sebelumnya untuk membuat angkutan travel jarak pendek seperti itu. Selama ini yang banyak kan travel Bandung – Jakarta, atau dari Bandung ke kota-kota Jabodetabek lainnya (Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor). Berkah jalan tol Cipularang membuat bisnis travel di Bandung sangat semarak. Sudah banyak pemain di bisnis travel Bandung – Jakarta.

Nah, travel dari Bandung ke Jatinangor memang ide yang cukup brilian. Jarak Bandung ke Jatinangor hanya sekitar 30-an kilometer dari Bandung Utara (CMIIW). Tapi jarak yang pendek itu harus ditempuh satu jam lebih karena kemacetan yang parah menuju Jatinangor. Selama ini kalau mau pergi ke Jatinangor mahasiswa naik bis Damri dari Jalan Dipati Ukur. Alternatf lainnya adalah naik angkot berkali-kali, sambung bersambung, yang tentu saja memakan ongkos yang mahal.

Di Jatinangor banyak terdapat perguruan tinggi, yaitu Unpad, Ikopin, dan IPDN. ITB juga masuk ke Jatinangor dengan membuka kampus di sana (ex kampus Unwim dulu). Meskipun kampusnya di Jatinangor, masih banyak mahasiswa Unpad yang tinggal atau kos di Bandung tetapi bolak-balik setiap hari ke Jatinagor. Dosen-dosennya juga banyak yang tinggal di Bandung. Jika ITB sudah mulai menerima mahasiswa baru di kampus Jatinangor (mulai tahun ini kalau tidak salah), maka semakin tinggi mobilitas orang-orang ke Jatinangor.

Peluang ini ditangkap oleh orang yang jeli. Mereka mengisi kekosongan yang belum diambil oleh pengusaha travel. Travel ke arah timur memang ada, yaitu ke Garut dan Tasikmalaya, tetapi yang khusus ke Jatinangor (masih di timur Bandung) tidak ada. Pangsa pasar ke Jatinangor ternyata cukup besar, yaitu para mahasiswa, dosen, dan pelaju yang bekerja di Bandung tetapi berumah di kawasan Jatinangor dan sekitarnya. Apalagi dari dan ke Jatinangor tidak ada angkutan massal seperti kereta komuter.

Nah, pengusaha yang jeli ini membuka rute Bandung – Jatinangor via tol Padaleunyi. Dari Bandung penumpang naik di Balubur (Baltos) atau dari Pasteur, jadwalnya ada setiap satu jam sekali. Saya baca di stiker iklan itu tarifnya hanya Rp10.000, jauh lebih murah daripada naik angkot berkali-kali. Bahkan bila membawa mobil sendiri jatuhnya tetap lebih mahal jika dihitung biaya bensin dan tarif tol.

Saya salut kepada pengusaha travel yang jeli itu. Hal ini semakin menegaskan kebenaran konsep diferensiasi yang mengatakan bahwa kalau anda ingin sukses dalam berusaha, anda harus membuat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, jangan mengekor pada apa yang telah dibuat orang lain, buatlah sesuatu yang baru. Bukan tidak mungkin kalau tol Seroja selesai dibangun melewati kawasan Soreang bakal muncul travel jurusan Bandung ke kawasan Bandung Selatan (Soreang, Baleendah, Majalaya) yang terkenal macet parah itu.


Written by rinaldimunir

May 24th, 2012 at 7:46 am

Posted in Seputar Bandung

Selagi Masih Muda Sekolahlah Setinggi-tingginya

without comments

Kamarin saya ketemu alumni yang hendak melanjutkan S3. Saya katakan kepadanya, mumpung belum direpotkan dengan anak (dia sudah menikah tapi belum punya anak), segeralah mencari sekolah ke luar negeri. Kalau sudah punya keluarga atau punya anak cukup repot sekolah sembari mengurus keluarga. Pikiran harus dibagi-bagi untuk urusan sekolah, urusan anak, dan urusan istri. Kurang konsenlah, pokoknya.

Setiap tahun saya memberikan banyak surat rekomendasi bagi para mahasiswa saya yang melamar beasiswa/program S2/S3 di dalam maupun di luar negeri. Dengan usia yang masih 20 tahunan mereka mempunyai semangat tinggi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang pendidilkan lebih tinggi. Ada yang sudah bekerja dulu baru ambil S2, tapi sebagian besar mengambil S2 ketika baru lulus S1.

Saya bangga dengan para mahasiswa saya yang punya semangat tinggi melanjutkan sekolah itu. Kata saya kepada mereka, selagi masih muda ambil kesempatan sekolah setinggi-tingginya. Masa muda adalah masa menimba ilmu. Selagi belum direpotkan dengan tanggung jawab bila sudah punya keluarga, maka sekolah lagi adalah pilihan yang bagus. Kalau sudah berkeluarga, anda harus membagi waktu dan pikiran anda untuk istri/suami dan anak anda. Apalagi jika keluarga dibawa serta ke luar negeri, kerepotam pasti lebih besar daripada ditinggal di tanah air. Bila anak anda sakit terbayang repotnya, padahal besok anda ada ujian di kampus.

Maka, selagi belum menikah atau punya anak, jangan menunda waktu lebih lama lagi untuk sekolah. Segera apply program beasiswa S2 yang banyak bertebaran. Pilihan S2 ke luar negeri lebih menarik, namun S2 di dalam negeri juga tidak kalah baiknya. Ilmu di manapun sama, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, semua bahan ilmu pengetahuan tersedia di Internet, tinggal gugling saja maka apa yang kita butuhkan tersedia. Di mana pun kita sekolah, yang terpenting adalah usaha dan kemauan kita sendiri. Sekolah di luar negeri dengan fasilitas super lengkap tetapi kita sendiri malas-malasan ya nggak ada gunanya. Kuliah S2 atau S3 berarti dituntut bisa belajar dan meneliti secara mandiri. Dosen pembimbing atau profesor di lab hanyalah penyelia, selebihnya diri kita sendirilah yang menentukan keberhasilans ekolah.

Saya sendiri adalah produk dalam negeri; S1, S2, dan S3 semuanya di ITB. Bukannya saya tidak mau ke luar negeri, saya sudah diterima di University of Leeds di Inggris, tetapi waktu itu saya tidak berhasil mendapat beasiswa. Dulu program beasiswa S2 tidak sebanyak sekarang. Setelah beberapa tahun tidak juga mendapat beasiswa ke luar negeri, sementara uang tidak punya, maka saya mulai berpikir realistis saja, yang pasti-pasti saja. Umur saya bertambah terus mendekati kepala tiga, tidak mungkin saya terus menunggu yang tidak pasti. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil program S2 (lalu S3) di ITB saja dengan beasiswa BPPS yang disediakan Dikti bagi dosen PT.

Karena sekolah di kampus sendiri, di tempat saya mengabdi, maka kewajiban mengajar dan membimbing tetap jalan terus. Teorinya sih seharusnya dibebastugaskan mengajar karena saya menjadi mahasiswa tugas belajar, tetapi Jurusan saya tetap memberi beban mengajar dan membimbing. Katanya sih supaya tunjangan fungsional PNS saya tetap jalan terus karena ada beban akademik, kalau tidak mengajar nanti tunjangan fungsional saya dihentikan; Lalu bagaimana nanti anda bisa survival, kata Ketua Jurusan saya kala itu. Ha..ha..ha, saya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kajur, ada benarnya juga sih, apalagi saya baru menikah dan punya anak waktu itu, tentu butuh biaya ekstra. Itu sudah menjadi rahasia umum di ITB atau di PT tempat anda bekerja di mana anda mengambil Pascasarjana di sana, anda tetap harus kuliah sambil bekerja.

Anda bisa membayangkan betapa repotnya S2 dan S3 di kampus sendiri. Pikiran harus dibagi-bagi untuk urusan kuliah S2/S3, urusan mengajar dan membimbing TA, membimbing kemahasiswaan, mengurus anak yang masih kecil-kecil, membagi waktu untuk istri, memikirkan orangtua, dan sebagainya. Semuanya harus multitasking. Walah, kok saya jadi curhat ya…, hi..hi.. Setelah semuanya selesai (S2 dan S3 beres), saya masih tetap tidak percaya kok saya bisa lolos juga menyelesaikan semua kerumitan hidup itu, he..he. Pastilah ini ada campur tangan Tuhan di dalamnya, saya makin menyadari bahwa kalau kita tekun dan ikhlas menjalani, pasti Allah SWT akan memberi ridho-Nya. Jangan lupa pula ada restu orangtua, doa yang mereka panjatkan, doa anak dan istri, dan doa orang-orang sholeh yang baik kepada kita. Duh, saya jadi curhat lagi.

Tapi intinya saya ingin mengatakan bahwa selama anda belum dipusingkan dengan segala kerepotan hidup, selagi masih bebas, jangan buang-buang kesempatan untuk mengambil sekolah lagi setamat S1 atau S2. Kalau sudah berumur dan sudah makin tua maka akan lebih sulit untuk sekolah lagi, sebab daya ingat sudah berkurang, sudah mulai pelupa, dan lamban berpikir. Jika anda masih muda maka berbahagialah, raihlah ilmu setingi-tingginya dan beramal shalehlah sebanyak-banyaknya. Iman itu bertambah dengan ilmu dan amal.


Written by rinaldimunir

May 22nd, 2012 at 7:35 am

Lady Gaga Membelah Bangsa

without comments

Hebat betul Lady Gaga itu. Konsernya belum mulai, tapi bangsa ini sudah terbelah dua, ada yang pro dan ada yang kontra. Tidak hanya itu, seorang Lady Gaga menjadi pembicaraan mulai dari Mabes Polri hingga ke gedung DPR, bahkan ke istana negara. Para pejabat kita dibuat sibuk olehnya. Belum pernah ada artis luar negeri yang mendatangkan kehebohan seperti Lady Gaga ini.

Saya tidak kenal Lady Gaga dan tidak tahu lagu-lagunya seperti apa. Hanya gonjang-ganjing pemberitan Lady Gaga membuat saya mencari tahu siapa dia: ternyata Gaga suka tampil seronok dengan pakaian dan atraksi panggungnya yang diluar kepantasan, pemuja setan, lesbian, suka melecehkan kitab suci (salah satu lagunya, Judas, menyinggung umat Kristiani).

Ooo.. ternyata Lady Gaga itu seperti itu, penuh dengan kontroversi, wajar saja banyak kelompok msyarakat yang menolaknya. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara seperti Cina, Malaysia, Korea, bahkan Filipina. Wajar juga kalau polisi tidak memberi izin karena khawatir terjadi kerusuhan. Ketimbang melihat anak bangsa ini berdarah-darah karena seorang lady, lebih baik orang yang menyebabkan chaos dilarang saja datang.

Sebenarnya yang lebih parah dari Lady Gaga banyak. Tidak usah jauh-jauh ke luar negeri, panggung acara dangdut koplo di pelosok-pelosok kampung sering menghadirkan artis perempuan yang mesum, baik lagunya, goyangannya, maupun atraksinya yang merangsang seperti sedang menunjukkan orang (maaf) berhubungan badan.

Saya punya pendapat berbeda tentang Lady Gaga. Menurut saya ini adalah rencana Tuhan untuk umat-Nya di Indonesia. Dia menghadirkan isu Gaga untuk melihat dan menguji iman kita, sejauh mana umat-Nya mematuhi Firman-Nya yang menyuruh hamba-Nya untuk mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi yang munkar (buruk). Dari hiruk pikuk perdebatan tentang Lady Gaga, kita dapat melihat mana orang-orang yang munafik, mana yang pura-pura setuju dengan alasan yang kedengarannya indah, mana orang yang benar-benar setuju dengan alasan kebebasan berekspresi dan HAM (lagi-lagi HAM). Bahkan, seorang pemimpin Ormas keagamaan berani berkata bahwa 1000 orang Lady Gaga pun tidak akan dapat mengubah iman jamaah ormasnya. Ini pernyataan yang sungguh takabur, jangankan menjamin keimanan sejuta orang, menjamin iman seorang manusia pun tidak mungkin bisa dilakukan oleh seorang Nabi, apalagi oleh manusia biasa.

Saya menilai aksi penolakan terhadap Lady Gaga itu adalah puncak dari kegelisahan banyak orang terhadap bahaya pornografi. Selama ini negara, sebagai simbol pemegang kuasa, hanya diam dan tidak mampu melindungi warganya dari bahaya pornografi. Film-film mesum dan cabul, artis-arti mesum, video porno, pergaulan seks bebas, dan homoseksualitas, sudah berseliweran memasuki kehidupan masyarakat. Undang-undang yang dibuat untuk mengatasi pornografi tidak berdaya, tumpul dengan sendirinya. Karena ada aksi maka timbullah reaksi. Karena negara tidak sanggup mengatasinya, akhirnya warga mayarakat sendirilah yang turun tangan. Masyarakat yang gelisah dan tidak tahan dengan kemaksiatan itu akhirnya menumpahkan kemarahannya dengan cara yang paling kasar, yaitu kekerasan. Kekerasan itu tidak baik, bangsa kita tidak pernah mengenal kekerasan dalam menyelesaikan masalah, namun kalau urat kemarahan sudah sampai di ubun-ubun, maka tidak ada yang mampu membendung tumpahannya.


Written by rinaldimunir

May 21st, 2012 at 3:07 pm

Posted in Indonesiaku

Tetangga dan Tawaran Asuransi

without comments

Saya paling rikuh kalau ditawari asuransi oleh tetangga atau teman dekat, maklum saya ini paling susah berkata “tidak” pada tawaran orang. Mau menolak nggak enak, mau ikut juga tidak (belum) berminat. Nah, jika terpaksa saya tolak maka efeknya terlihat sesudah itu: tetangga berubah menjadi kurang ramah lagi (yang sebelumnya ramah). Untungnya tetangga tersebut sudah pindah rumah, he..he.., jadi saya agak lega.

Dulu ketika anak pertama saya baru lahir, ada tetangga yang bekerja sebagai sales sebuah perusahaan asuransi datang ke rumah tanpa diundang. Sebenarnya saya tidak terlalu dekat dengan tetangga tersebut karena rumahnya agak jauh. Dengan keramahan seolah-olah sudah akrab, dia datang dengan temannya memberikan kado atas kelahiran anak saya. Setelah basa-basi dan memuji-muji, akhirnya mereka menyampaikan tujuan sebenarnya yaitu menawarkan asuransi pendidikan buat anak saya yang masih bayi. Setelah presentasi sebentar, mereka merayu agar saya ikut asuransi dengan berbagai keuntungan dan kemudahan yang akan saya dapat. Jelas saja saya merasa tidak enak menolak, lha sudah diberi kado. Ha..ha..ha, saya merasa sudah “dijebak” dengan hadiah itu. Mungkin itu taktik sales di manapun ya. Akhirnya saya pun dengan terpaksa ikut asuransi. Saya katakan terpaksa karena saya kurang berminat ikut asuransi saat itu.

Ketika anak kedua lahir, teman dari teman istri saya datang dengan ramah menawarkan asuransi untuk anak kedua saya ini sambil membawa hadiah peralatan bayi. Heran, darimana dia tahu ya saya punya anak baru lahir, padahal kami tidak mengenalnya. Mungkin para sales harus pasang mata dan telinga mencari informasi siapa saja yang baru punya anak, informasi itu bisa dari teman, teman dari temannya, sepupunya, keponakannya, dan lain-lain. Saya salut dengan kegigihan sales menawarkan produknya, memang mereka harus begitu agar mendapat bonus yang besar karena berhasil menjaring banyak nasabah. Lagi-lagi kami tidak bisa menolak tawaran itu.

Nah, pengalaman yang tidak mengenakkan ketika anak ketiga saya lahir. Tetangga yang kerja sambilan sebagai sales datang ke rumah. Selama ini dia saya kenal ramah, selalu menyapa jika berpapasan. Nah, sepeti para sales asuransi pada umumnya, keramahan adalah hal yang utama. Suatu sore tetangga tersebut datang ke rumah, mula-mula bercerita tentang hal-hal lain, nah… ujung-ujungnya menawarkan asuransi. Karena sudah berpengalaman menghadapi sales dan saya memang tidak berminat ikut asuransi, maka tawaran tersebut dengan halus saya tolak. Aneh, beberapa hari kemudian terjadi perubahan, tetangga tersebut kalau berpapasan tidak pernah menyapa lagi, seolah-olah tidak kenal dengan saya. Mungkin dia kecewa saya menolak tawaran asuransinya? Wallahualam. Untunglah tetangga tersebut sudah pindah rumah, he..he.., jadi saya tidak memikirkannya lagi.

Begitulah, tidak hanya sales asuransi, saya pun kikuk kalau berhadapan dengan tawaran MLM dari teman. Orang MLM lebih gigih dibandingkan sales asuransi, karena bonus menjaring downline lebih menggiurkan, banyak orang MLM sudah kaya raya. Ada teman lama yang tiba-tiba datang menelpon malam-malam, entah darimana dapat nomor saya. Setelah basa-basi dan naya ini itu panjang lebar, dia meminta waktu untuk datang ke rumah pada hari minggu mau presentasi. Saya sudah katakan tidak berminat ikut MLM-nya, tapi teman saya tetap ngotot minta izin datang ke rumah. Nggak apa-apa tidak ikut, katanya, mereka hanya mau presentasi saja. Wah, benar-benar keukekuh orang MLM ini. Akhirnya saya menyerah juga, tidak kuasa menolak, teman lama lagi.

Para sales memang orang yang gigih, mereka harus pandai merayu meskipun sudah ditolak berkali-kali. Malangnya, saya orang yang paling sulit menolak, dan orang sales tahu hal itu.


Written by rinaldimunir

May 20th, 2012 at 8:32 am

Posted in Pengalamanku

Kisah Sir Edmund Hillary dan Pemandu (Sherpa) ke Puncak Mount Everest

without comments

Copas dari milis tetangga, tidak diketahui siapa penulis pertamanya. Semoga dapat memberi hikmah kepada kita yang membacanya.

~~~~~~~~~~~~~

Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay (pemandu/sherpa) kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :

Reporter: “Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?”

Tenzing Norgay: “Sangat senang sekali”

Reporter: “Anda khan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?”

Tenzing Norgay: “Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya & menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia”.

Reporter: “Mengapa Anda lakukan itu?”

Tenzing Norgay: “Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya”.

Di sekitar kita, banyak sekali orang seperti Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay. Pepatah mengatakan, “Bila Anda hendak jadi pahlawan, harus ada yang bertepuk tangan dipinggir jalan”.

Di dunia ini, tidak semua manusia berkeinginan dan memiliki impian seperti Sir Edmund Hillary, menjadi pahlawan.Mereka ini cukup berbahagia dengan memberikan pelayanan dengan membantu orang lain mencapai impiannya. Mereka merasa cukup menjadi “orang2 yang bertepuk tangan saja dipinggir jalan”.Kadang, orang2 seperti ini diperlakukan ibarat “telor mata sapi”.Yang punya telur si Ayam, yang tersohor malah Sapi.

Sudahkah Anda menghargai, menghormati dan mengangkat orang-orang seperti Tenzing Norgay dalam tim Anda?


Written by rinaldimunir

May 18th, 2012 at 7:28 pm

Posted in Kisah Hikmah