if99.net

IF99 ITB

Archive for April, 2012

Ketika Makalah Mahasiswaku “Nyangkut” di Situs Jasa Pembuatan Skripsi

without comments

Seorang mahasiswa saya — yang sudah menjadi alumni — melaporkan bahwasanya makalah teman seangkatannya yang mengambil kuliah Matematika Diskrit yang saya ampu tertera di dalam situs jasa pembuatan skripsi yang tautannya dapat diklik di sini. Makalah-makalah tersebut diambil dari situs saya yang laman webnya ini.

FYI, pada setiap kuliah yang saya ampu di ITB ada tugas membuat makalah pada akhir semester. Jika Dikti baru-baru ini mewajibkan mahasiswa S1 menulis makalah sebagai syarat kelulusan sarjana, maka mahasiswa-mahasiswa saya sudah lama membuat makalah yaitu sejak tahun kedua kuliahnya. Menulis makalah sudah saya biasakan sejak dini agar mereka trampil mengkomunikasikan pengetahuan yang diperolehnya kepada orang lain. Bentuk komunikasi pengetahuan yang tertulis adalah melalui penulisan makalah.

Agar makalah yang mereka buat bermanfaat bagi orang lain — jadi tidak hanya sekedar makalah yang setelah saya baca dan saya nilai dibuang atau ditumpuk di gudang — maka semua makalah itu saya publikasikan secara daring di internet melalui situs web saya. Istilahnya berbagai (sharing) ilmu kepada orang lain. Nah, makalah-makalah yang anda lihat di dalam situs jasa pembuatan skripsi di atas berasal dari situs web saya tersebut.

Bagi saya tidak masalah makalah-makalah itu diunduh oleh siapapun lalu dikoleksi ke dalam situs web lain asalkan sumbernya disebutkan. Kita pun kaum akademisi melakukan hal serupa, yaitu mencari makalah-makalah yang kita inginkan melalui mesin pencari, kemudian mengunduhnya untuk kebutuhan pembuatan skripsi, tesis, disertasi, atau makalah ilmiah. Hal yang harus kita pegang teguh adalah menuliskan semua referensi makalah yang kita gunakan sebagai bahan kutipan di dalam daftar pustaka. Begitulah cara kita menghargai karya orang lain, sehingga apa yang kita tulis memiliki keterkaitan dengan karya kecendekiaan orang-orang sebelumnya.

Jika makalah mahasiswa yang saya unggah ke Internet digunakan sebagai referensi saya pikir tidak apa-apa. Tetapi, jika disalahgunakan pihak lain, misalnya untuk plagiasi, disitulah masalahnya. Ada pelanggaran etika dan hukum di situ. Namun demikian, saya tetap merasa kurang nyaman kumpulan makalah mahasiswa tersebut nyangkut di situs jasa pembuatan skripsi, apalagi tidak menyebutkan sumbernya dari mana. Membaca nama situsnya saja saya sudah enek, apalagi melihat daftar makalah para mahasiswa saya ada di sana, tambah enek lagi. Namun saya juga tidak bisa mencegah siapapun mengunduh makalah tersebut, itu sudah resiko mempublikasikan makalah secara daring. Tanpa makalah para mahasiswa saya pun mereka bisa mengunduh makalah di situs lain lain yang jumlahnya ratusan ribu buah di Internet. Bedanya makalah para mahasiswa saya itu berbahasa Indonesia sehingga lebih mudah dipahami bagi mahasiswa yang kurang suka membaca tulian dalam Bahasa Inggris. Yang perlu diedukasi kepada kaum akademisi (mahasiswa, dosen, peneliti) adalah bagaimana menegakkan etika dalam penulisan karya ilmiah. Silakan unduh, baca, dan pelajari, taetapi jangan melakukan plagiasi.

Saya tidak bisa menghentikan proses publikasi makalah para mahasiswa saya ke Internet. Kegiatan publikasi ini sudah berlangsung hampir selama sepuluh tahun. Dengan cara mempublikasikan makalah secara daring di Interner, ada manfaat lain yang diperoleh. Plagiasi dapat dilacak dengan mudah, sebab dengan menggunakan mesin pencari maka seorang dosen atau reviewer dapat mendeteksi apakah makalah atau karya skripsi tersebut merupakan jiplakan dari karya orang lain.


Written by rinaldimunir

April 12th, 2012 at 10:31 pm

Posted in Uncategorized

“Hukum” Membuatkan Program TA Orang Lain

without comments

Mahasiswa saya pernah bertanya bagaimana “hukum” membuatkan program Tugas Akhir mahasiswa lain? Mahasiswa-mahasiswa saya sejak tingkat 2 sudah mahir membuat program aplikasi dari skala menengah hingga skala besar. Mereka sudah menguasai banyak kakas (tool) pemrograman sebagai efek manfaat dari pengerjaan tugas besar yang bejibun di Informatika ITB. Programming merupakan ketrampilan yang harus dimiliki mahasiswa kami, sama seperti ketrampilan menggambar bagi mahasiswa senirupa. Tanpa memprogram kuliah di Informatika itu rasanya hambar.

Nah, karena sudah mahir memprogram, mereka banyak yang bekerja nyambi sebagai pekerja part time di beberapa perusahaan, bahkan banyak pula yang merintis membuat start up company bersama teman-teman sekelompoknya. Saya memandang positif kegiatan mereka itu, kuliah di Informatika kalau dipraktekkan langsung terasa lebih bermakna dan bernas.

Selain bekerja part time atau start up company, sebagian lagi ada yang menerima order pembuatan program dari instansi atau lembaga yang membutuhkan, ada juga dari orang/pribadi. Untuk yang terakhir ini biasanya program yang berkaitan dengan skripsi, atau tugas akhir/thesis. Tidak hanya skripsi S1, tetapi juga S2,bahkan S3. Pada mulanya jasa pembuatan program tersebut murni menolong karena sesama teman, tetapi lama kelamaan ada yang menjadikannya sebagai bisnis.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini. Bagaimana hukum membuatkan program TA mahasiswa lain? Saya tidak menemukan aturan tertulis tentang ini di kampus, karena hal ini memang aspek normatif, tetapi saya menganggapnya sebagai sebuah persoalan etika yang serius dan perlu mendapat perhatian, karena hal ini menyangkut karya ilmiah yang harus jelas sumber dan sistematika pengerjaannya.

Membuatkan program TA mahasiswa yang core-nya bukan belajar komputer/informatika, atau tidak ada kuliah programming di dalam kurikulumnya, saya kira masih wajar dan bisa ditoleransi. Misalnya mahasiswa biologi, ilmu-ilmu sosial, kedokteran, dan sebagainya. Di dalam kurikulum mereka tidak ada kuliah programming, tetapi di dalam penelitian TA mereka memerlukan aplikasi pengolahan data untuk mendukung hipotesis atau tujuan penelitian. Jika kebutuhan pengolahan data tersebut bisa diselesaikan dengan aplikasi office, saya kira tidak perlu membuat program khusus. Toh tidak diperlukan antarmuka yang bagus, bukan? Mengolah data dengan aplikasi office seperti Microsot Excel, Microsoft Access, dll seharusnya sudah dapat dilakukan mahasiswa jurusan program studi apapun. Menggunakan komputer di dalam perkuliahan sudah menjadi keharusan saat ini, karena tugas-tugas kuliah minimal sudah mengharuskan menulis laporan, mencari bahan di internet, atau sekedar perhitungan sederhana. Sebagian besar kurikulum program studi sudah memasukkan kuliah Pengenalan Komputer atau Pengenalan Teknologi Informasi sebagai salah satu mata kuliah awal.

Namun, jika terpaksa harus dibuat program karena spesifikasinya yang unik, biasanya mereka yang bukan berasal dari core komputer ini meminta bantuan teman-teman mahasiswa dari Informatika/Ilmu Komputer/Sistem Informasi untuk membuatkan program. Biasanya ada “jasa” dalam bentuk uang setelah transaksi pembuatan program tersebut selesai. Masalah esensial di sini bukan uang tetapi etika. Karena laporan TA dan program adalah kesatuan yang terintegrasi, maka pembuatannya harus disebutkan dengan jelas. Menurut pendapat saya, mahasiswa pemberi order pembuatan program harus menyebutkan di dalam laporan skripsinya bahwa program pendukung penelitiannya dikerjakan oleh X. Penyebutan tersebut minimal ditulis di dalam Bab Kata Pengantar, sehingga orang yang membaca laporan skripsinya bisa memahami bahwa program komputer bukan buatan si penulis. Jika ditutupi atau tidak ditulis pembuat program tersebut maka dapat timbul kesan bahwa program buatan mahasiswa TA.

Bagaimana dengan mahasiwa dari program studi “abu-abu”, yaitu program studi yang memasukkan mata kuliah pemrograman dalam kurikulumnya? Di ITB beberapa program studi memiliki kuliah pemgrograman, misalnya Teknik Perminyakan, Teknik Industri, Teknik Pertambangan, Teknik Elektro, Fisika, Matematika, dan lain-lain. Mata kuliah pemrograman dimasukkan karena dalam studi lebih lanjut mereka perlu mengembangkan program sendiri sesuai kebutuhan bidang studinya. Nah, bagi kelompok mahasiswa dari program studi abu-abu ini, sebaiknya mereka membuat sendiri program untuk TA-nya, bukankah mereka sudah memiliki kemampuan dasar pemrograman. Pada kasus-kasus dimana dibutuhkan kemampuan programming in advance, misalnya adanya kebutuhan visualisasi/penggambaran grafis/animasi, interfacing dengan peralatan lain, sinkronisasasi, dan sebagainya, yang mana kemampuan memprogram seperti ini tidak dimiliki mahasiswa yang bersangkutan, maka bantuan pembuatan program dari mahasiswa komputer/informatika masih bisa dimaklumi. Namun, seperti pada kasus mahasiswa yang core-nya bukan komputer, maka penyebutan nama orang lain yang membantu membuat program aplikasi harus disebutkan di dalam laporan.

Bagi mahasiswa S2 dan S3 pendapat saya sama seperti mahasiswa S1. Khusus mahasiswa S3, topik penelitian biasanya dibagi menjadi beberapa sub-topik, setiap sub-topik dapat dijadikan Tugas Akhir mahasiswa S1 atau S2. Di dalam kurikulum S3 di manapun ada kewajiban menulis makalah untuk dipublikasikan di dalam prosiding konferensi atau jurnal ilmiah. Maka, nama-nama mahasiswa yang terlibat di dalam penelitian –termasuk mahasiswa yang membantu membuat program penelitian– harus dimasukkan namanya di dalam makalah tersebut.

Bagaimana jika mahasiswa komputer/informatika dibuatkan programnya oleh orang lain? Kata salah seorang mahasiswa saya, dia mendengar cerita –bahkan pernah ditawari– membuat program TA mahasiswa Informatika dari perguruan tinggi lain. What? Mahasiswa Informatika dibuatkan program TA-nya oleh mahasiswa lain? Apa kata anak negeri kalau sudah begini? Menurut saya kasus ini sungguh sangat tidak etis dan termasuk pelanggaran fatal. Perlu dipertanyakan kemana saja dia selama kuliah?

Yang terbaik tentu membuat program aplikasi sendiri untuk kebutuhan penelitian di dalam skripsi/thesis/disertasi, sebab yang lebih memahami “ruh” penelitian adalah mahasiswa yang bersangkutan. Selain lebih bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, secara etis juga lebih baik daripada dibuatkan orang lain. Namun, jika terpaksa pembuatan program dikerjakan pihak lain, maka etikanya seperti yang saya sebutkan di atas yaitu harus disebutkan nama penulis program di dalam laporan, tulisan, atau makalah. Di zaman era teknolologi informasi yang serba komputer sekarang ini, saya kira kuliah pemrograman sudah menjadi mata kuliah wajib pada hampir sebagin besar program studi, terutama program studi eksakta. Membuat program sendiri sesuai kebutuhan bidang studi sudah tidak bisa dielakkan lagi.


Written by rinaldimunir

April 8th, 2012 at 8:36 am

Jika Anda Ingin Makalah Anda Diterima di IEEE, Ini Syaratnya

without comments

Sebuah gambar funny — tetapi sebenarnya mengandung sarkasme atau sindiran tajam — saya peroleh dari akun fesbuk Sergey Arkhipov:

Sarkasmenya begini: agar makalah menarik perhatian reviewer, maka gagasan anda yang sederhana perlu dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat rumit. Kalau tidak demikian, makalah anda sulit tembus di jurnal-jurnal internasional semacam IEEE itu. Seperti yang saya kutip dari Sergey Arkhipov di akun fesbuknya: “Well, the very point of this picture is that a potential author actually invents an attractive way to present an obvious result. Good papers do the opposite: take a complicated fact and choose a proper context so that the result would become obvious”.

Mungkin sindiran tersebut mengandung kebenaran. Makalah saya beberapa kali pernah gagal tembus di beberapa jurnal internasional prestisius, mungkin karena sederhana atau kurang impresif kali ya. Atau, mungkin juga tidak banyak mengandung rumus matematika? Wallahu alam.


Written by rinaldimunir

April 5th, 2012 at 8:20 am

Posted in Gado-gado

Tidak (Jadi) Naik dan Ditunda, Sama Saja

without comments

Drama kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mencapai antiklimaksnya pada hari Jumat 30 Maret 2012. Melalui drama sidang paripurna DPR yang alot — sementara di luar Gedung DPR demonstasi mahasiswa dan kaum buruh berlangsung panas dan hampir saja menduduki gedung — akhirnya rapat memutuskan kenaikan BBM tidak jadi pada tanggal 1 April 2012, tetapi ditunda hingga maksimal 6 bulan mendatang. Rapat paripurna menyetujui penambahan ayat tambahan pada pasal 7 yang memberi keleluasaan pada Pemerintah untuk menentukan harga BBM 6 bulan nanti tanpa perlu lagi disetujui DPR.

Pasal 7 Ayat (6a) yang telah disepakati dalam Sidang Paripurna DPR RI, Sabtu dini hari berbunyi: ‘Dalam hal harga rata-rata minyak Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP) dalam kurun waktu berjalan mengalami kenaikan atau penurunan rata-rata sebesar 15 persen dalam enam bulan terakhir dari harga minyak internasional yang diasumsikan dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2012, maka pemerintah berwenang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukungnya”.

Apa artinya semua ini? Apakah rakyat desa yang lugu dan rakyat kecil yang awam bisa dengan cerdas membaca keputusan DPR itu? Bahwa sebenarnya BBM tetap naik, hanya tinggal masalah waktu saja, ditunda hingga 6 bulan ke depan.

Menyedihkan, rakyat Indonesia telah “dibodohi” oleh politisi di Senayan. Para politisi di partai-partai di Senayan mendukung BBM tidak naik pada 1 Arpil nanti. Padahal secara ekplisit, mereka mendukung pemerintah untuk menaikkan harga BBM dalam waktu 6 bulan ke depan. Partai-partai itu telah menujukkan wajah bermuka dua, disatu sisi mereka seolah-olah pro rakyat dengan menolak kenaikan BBM, tetapi di sisi lain — karena takut kehilangan menteri (yang berarti kehilangan logistik untuk Pemilu 2014) — mereka menyetujui kenaikan harga BBM itu ditunda.

Ada pula sebuah partai (P*S) peserta koalisi yang sejak awal menolak kenaikan harag BBM dan berani berseberangan dengan kesepakatan koalisinya, seolah-olah partai itu bersama rayat atau mebela rakyat. Namun, publik dapat menilai bahwa sebenarnya sikap partai tersebut tidaklah tulus, tetapi ingin merebut simpati rakyat disebabkan citranya akhir-akhir ini terus merosot disebabkan perilaku petingginya yang tidak simpatik. Oleh karena itu, isu kenaikan BBM adalah momen yang tepat untuk meraih kembali simpati. Pencitraan, sekali lagi pencitraan. Kita dapat melihat semua partai — tidak hanya P*S — memanfaatkan isu kenaikan BBM ini untuk mengangkat popularitasnya.

Terlepas dari pencitraan tersebut, penundaan kenaikan harga BBM itu sudah menyusahkan kehidupan rakyat kecil. BBM tidak (jadi) naik, tetapi harga-harga barang kebutuhan — terutama barang kebutuhan pokok — sudah terlanjur naik ketika isu kenaikan BBM berhembus kencang. Harga-harga tersebut sulit untuk turun lagi. Ketika harga BBM benar-benar dinaikkan beberapa bulan yang akan datang, maka harga-harga barang kebutuhan yang sudah naik itu akan naik sekali lagi. Jadi, ada dua kali kenaikan harga barang kebutuhan pokok karena penundaan tersebut.

Jika melihat perkembangan harga minyak dunia yang terus menaik (dipicu krisis Iran – Amerika), maka mustahil harga BBM Indonesia tidak akan naik pada enam bulan yang akan datang. Menariknya, jika nanti harga BBM benar-benar dinaikkan, maka Pemerintah tidak perlu lagi meminta persetujuan DPR sesuai dengan ayat tambahan pada Pasal 7 tadi. Maka, yang akan terjadi nanti adalah Presiden SBY akan menjadi sasaran kemarahan rakyat, sementara anggota DPR lepas tangan dan ongkang-ongkang kaki dan merasa tidak ikut bertanggung jawab.

Inilah Indonesia, negara pengekspor minyak, tetapi harus membeli minyak dari luar. Kita hanya dapat memproduksi minyak mentah, lalu minyak mentah itu diespor ke luar untuk diproses, kemudian kita beli kembali dalam bentuk jadi. Dengan kata lain, harga minyak di negara kita bergantung pada harga minyak dunia. Bila harga minyak dunia naik, maka kita harus membelinya dengan mahal, dan akibatnya harga BBM di dalam negeri naik juga. Sungguh tidak efisien. Apakah negara ini tidak mampu memproses minyak mentahnya sendiri tanpa perlu membeli lagi dari luar?

Mengapa kenaikan harga BBM merupakan isu yang sensitif rakyat Indonesia sehingga aksi demo dan unjuk rasa terjadi di mana-mana? Ini tidak lain karena kenaikan harga BBM memiliki efek domino. Jika harga BBM naik, maka dipastikan ongkos transportasi akan naik. Karena bahan-bahan produksi diangkut dengan alat transportasi, maka efek berikutnya harga barang yang diproduksi juga akan naik. Harga barang produksi naik akan merembet kepada harga barang kebutuhan lain, seperti sembako, bahan bangunan, jasa, dan lain-lain. Dapat anda bayangkan bagi rakyat kecil kenaikan harga BBM itu akan membuat mereka makin menderita. Harga BBM naik sementara penghasilan tetap, maka yang terjadi adalah pemiskinan. Rakyat kita yang sebagian besar hidup miskin akan semakin dimiskinkan lagi.

Tidak hanya harga barang dan jasa yang naik, efek domino dari kenaikan BBM ini juga bisa membuat tekanan darah naik. Percaya atau tidak. Itulah nasib bangsaku, alangkah malangnya rakyat negeriku ini.


Written by rinaldimunir

April 2nd, 2012 at 4:43 pm

Posted in Indonesiaku