if99.net

IF99 ITB

Archive for April, 2012

Anak Meniru Kelakuan Orangtua di Rumah

without comments

Seringkali kita temukan remaja yang suka merokok di tempat umum. Selain karena pengaruh temannya, ternyata penyebab mereka merokok itu adalah karena kebiasaan ayahnya yang suka merokok di rumah. Seorang ayah yang suka memamerkan kebiasaan merokoknya di depan anak maka percayalah bahwa nanti suatu hari anaknya juga akan merokok. Sang anak merasa bahwa perbuatan merokok itu adalah hal yang biasa, maka dia pun merasa tidak “bersalah” jika mencobanya dan akhirnya menjadi terbiasa pula seperti ayahnya. Jika anda sebagai ayahnya marah memergoki anak anda merokok, maka anda harus introspeksi bahwa andalah yang menyebabkan anak demikian.

Apakah anda — para ibu — juga suka memamerkan merokok di depan anak perempuan anda? Anda tidak perlu menyesali diri jika nanti anak perempuan anda juga menjadi perokok.

Apakah anda — para ayah — suka bertelanjang dada di dalam rumah, memakai hanya celana pendek saja dengan alasan gerah? Anak anda yang melihat itu hal yang biasa dan kelak dia pun tidak sungkan bertelanjang dada di depan tamu yang datang ke rumah.

Anak yang suka berkata kasar, berisi kata-kata sumpah serapah, atau suka mengabsen nama-nama penghuni kebun binatang, maka patut diduga kebiasaan berkata kasar itu diperoleh dari rumah. Tidak sadarkah anda sebagai orangtua yang sering berkata kasar di dalam rumah tangga, maka anak akan meniru pula kebiasaan itu. Saya pernah menemukan kasus ini, teman anak saya yang kata-katanya cenderung kasar ternyata setelah saya amati orangtuanya juga begitu terhadap anaknya. Tak ada kasih sayang lemah lembut sama sekali dalam berbicara.

Sebaliknya saya juga sering menemukan anak yang sopan dan santun dalam berbicara, sikapnya juga ramah. Ternyata orangtuanya juga ramah dan dalam bertutur kata lemah lembut dan sopan. Pantesan. Bagaimana anda sebagai orangtua bersikap di rumah maka anak juga akan melihat dan menirunnya. Bagaimana anda di depan anak, maka begitulah anak anda nanti. Dia belajar dari ayah dan ibunya. Dia belajar dari apa yang dia lihat di sekelilingnya. Dia belajar dari perlakuan yang diterimanya.

Mendidik anak itu tidak mudah. Teladan pertama datang dari anda, para orangtua. Maka, jika anda memberikan contoh yang baik, anak anda tumbuh menjadi anak yang baik, tetapi jika anda memberikan contoh yang buruk, maka anda jangan kaget jika anak anda meniru keburukan itu.

Dalam ajaran Islam, contoh dari orangtua adalah yang nomor satu. Bagaimana anak anda mau shalat lima waktu jika anda sendiri tidak menegakkan shalat berjamaah di rumah. Bagaimana anak anda mau membaca al-Quran jika anda sendiri tidak pernah mengaji setiap waktu Maghrib.

Dengarlah sebuah kutipan puisi tentang mendidik anak dari Dorothy Law Nolte (saya kutip dari sini):

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, dia belajar membenci
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan


Written by rinaldimunir

April 30th, 2012 at 8:26 am

Posted in Pendidikan

Kapan Ujian Nasional Bisa Jujur?

without comments

(Oknum) Guru juga bagian dari masalah kejujuran. (Oknum) guru berani menciderai kejujuran karena mereka (dan sekolah) takut disalahkan jika muridnya banyak yang tidak lulus UN.

Kapan Ujian Nasional di negeri ini bisa bersih dari kecurangan? Menunnggu ujian nasional yang jujur sama saja menunggu GODOT yang tidak akan pernah muncul.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sumber: http://sindikasi.inilah.com/read/detail/1854462/guru-bagikan-4-paket-jawaban-un

Guru Bagikan 4 Paket Jawaban UN

NILAH.COM, Palembang – Meski bimbingan belajar, try out, dan pelajaran tambahan sudah dilakukan oleh sejumlah sekolah, masih ada saja sekolah yang meragukan kemampuan siswanya. Bahkan, ada sekolah yang mengantisipasi hal tersebut dengan menyiapkan empat paket jawaban ujian nasional (UN) untuk dibagikan kepada siswanya.

Sejumlah siswa SMP yang baru saja menyelesaikan UN hari ke-2, Selasa (24/4/2012), mengaku dapat mengerjakan UN dengan mudah karena telah dibekali empat paket jawaban dari gurunya, sebelum UN berlangsung. Siswa dianjurkan untuk tidak sembarangan membuang jawaban setelah pelaksanaan UN.

“Kami dapat menyelesaikan UN dengan mudah, bahkan lebih mudah dari try out karena kami sudah memliliki empat paket kunci jawaban yang diberikan guru sebelum UN. Sepertinya para pengawas di kelas tidak terlalu memperhatikan kami,” ujar salah satu siswa saat diwawancarai setelah pulang ujian.

Siswa itu menambahkan, awalnya ia dan teman-teman ragu-ragu tentang kebenaran dari kunci jawaban tersebut. Tapi akhirnya mereka percaya saja karena yang memberikan adalah guru mereka sendiri dan mereka yakin tidak mungkin guru itu mau menjerumuskan mereka.

“Lagi pula kami mendapatkan empat paket jawaban sekaligus sehingga dapat menyesuaikan dengan paket apa yang didapat,” ucapnya.

Disinggung soal hujan yang mengguyuri Kota Palembang sejak pagi pada hari ke-2 UN, ia mengaku banyak temannya yang terlambat mengikuti UN, namun para guru dan pengawas memberikan toleransi serta mengizinkan untuk mengikuti UN sebagaimana mestinya.

Tak hanya itu, aksi saling contek lewat pesan singkat (SMS) melalui HP masih terjadi pada UN tingkat SMP. Sejumlah siswa memasukkan HP dalam saku dan tidak diperiksa pengawas.

“Memang jika ketahuan handphone tidak boleh dipakai. Namun waktu masuk kelas, disimpan di tas. Kemudian, sebelum tas dikumpul di depan, handphone dipindah ke kantong dan tidak lagi diperiksa. Tetapi, tetap saja membukanya diam-diam jangan sampai pengawas tahu. Jadi, bisa secontekan dengan teman yang paket sama,” ungkap siswa sekolah lain, saat ditemui usai ujian, di depan sekolahnya.

Akan tetapi, karena jumlah paket soal cukup banyak, jadi cukup kesulitan untuk secontekan dan jawaban yang diberikan temannya pun tidak begitu banyak. Sedangkan mengenai isu bocoran soal sebelum ujian, dirinya mengatakan tidak pernah mendapatkan.

“Contekan dari teman, hanya sedikit. Sulit, karena jumlah paketnya banyak dan kabarnya memang ada bocoran lewat SMS tapi saya tidak pernah dapat,” katanya.

Mengenai hujan yang melanda saat pelaksanaan UN hari kedua dengan mata pelajaran bahasa Inggris ini, siswa itu menambahkan, hujan tidak sampai mengganggu jalannya ujian, serta tidak ada siswa lain yang terlambat datang.

Sementara itu, Koordinator UN Kota Palembang, Nursyamsu Alamsyah, ditemui saat mengantar LJUN di Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, menuturkan, di Prosedur Operasional Standar (POS) UN, handphone tidak boleh digunakan dan tas diletakkan di depan kelas.

“Hal yang utama pengawas tidak boleh meresahkan peserta dan siswa hanya boleh menggunakan alat tulis. Jika memang hal itu masih terjadi artinya kelalaian dari pengawas,” tuturnya.

Padahal, lanjut Kasi Kurikulum Bidang SMP/SMA/SMK Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Palembang ini, sejak awal kepala sekolah dan pengawas sudah ditekankan untuk memeriksa peserta sebelum memulai ujian. Untuk sanksi terhadap kelalaian ini, tergantung dari bentuk kesalahan dan perlu pembuktian.

“Sejak awal sekolah sudah kita tekankan agar dapat mengantisipasi hal-hal seperti itu, dan kepala sekolah harusnya menyampaikannya kepada pengawas serta polisi yang bertugas di situ juga berhak menegur dan melaporkan melalui kepala sekolah jika ada indikasi tindak kecurangan,” jelasnya.

Menurut Nursyamsu, secara umum pelaksanaan UN berjalan cukup lancar. Tidak ada kekurangan soal ataupun LJUN, seperti pada pelaksanaan UN di tingkat SMA sederajat sebelumnya. Serta dari data sementara, peserta yang tidak hadir tercatat sebanyak enam orang.

“Dari data absen yang diterima siswa tidak hadir ada enam orang, namun sejauh ini belum ada surat resmi pemberitahuan ketidakhadiran mereka. Namun, jika ada surat keterangan dokter dan pihak sekolah, siswa tersebut dapat mengikuti ujian susulan,” imbuhnya. [bar]


Written by rinaldimunir

April 28th, 2012 at 3:34 pm

Posted in Pendidikan

3 x 7 = 27?

without comments

Sebuah tulisan hikmah yang saya dapat dari sebuah milis. Semoga bermanfaat.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

?Di suatu padepokan di Tiongkok pernah hidup seorang GURU yg sangat dihormati karna tegas jujur. Suatu hari, dua murid menghadap GURU. Mereka bertengkar hebat nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3×7.

Murid pandai mengatakan hasilnya 21, murid bodoh bersikukuh mengatakan hasilnya 27. Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta GURU sebagai jurinya untuk mengetahui siapa yang benar diantara mereka , sambil si bodoh mengatakan : “jika saya yang benar 3 x 7 = 27 maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh GURU , tetapi jika kamu yang benar ( 3 x 7 = 21 ) maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri., hua ha ha …..”, demikian si bodoh menantang sambil tertawa dengan sangat yakin dengan pendapatnya.

“Katakan GURU mana yang benar?” tanya murid bodoh. Ternyata GURU memvonis cambuk sepuluh kali bagi murid yang pandai (orang yang menjawab 21).

Si murid pandai protes. Sang GURU menjawab: “Hukuman ini Bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk KETIDAKARIFAN-mu yang mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3×7 adalah 21!!”

Guru melanjutkan: “Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF daripada GURU harus melihat satu nyawa terbuang sia sia!”

~~~~~~~~~~~~~

Pesan Moral:

Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu energi untuk hal yang tidak perlu. Bukankah kita sering mengalaminya?

Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga/kolega. Berdebat atau bertengkar untuk hal yangg tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya untuk kita diam untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yang sia-sia. Diam bukan berarti kalah, bukan? Memang bukan hal yang mudah, tapi janganlah sekali-kali berdebat dengan orang bodoh yang tidak menguasai permasalahan.


Written by rinaldimunir

April 27th, 2012 at 8:40 am

Posted in Kisah Hikmah

“Saya Rasa” dan “Saya Pikir”

without comments

Dalam sebuah sidang Tugas Akhir, seorang dosen penguji mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa yang presentasi: “Bagaimana menurut anda jika salah satu parameter input diubah menjadi nol, apakah sistem yang anda buat akan deadlock?”.

Mahasiswa tersebut menjawab dengan ragu-ragu, “Saya rasa tidak berpengaruh, Pak. Sistem yang saya buat ini sudah menangangi kasus-kasus ekstrim seperti pengubahan input menjadi nol”.

“Mengapa anda menjawab memakai perasaan? Bukankah anda harus bisa memberikan argumentasi yang logis?”, cecar dosen penguji.

Sang mahasiswa terdiam dan tidak mengerti dengan bantahan dosen penguji. Apa yang salah?

Tentu saja jawaban mahasiswa tadi tidak sepenuhnya salah, tetapi dia membuat kesimpulan berdasarkan perasaan. Itu karena dia memulai argumennya dengan frase “Saya rasa”. Jelas jawaban tersebut memakai perasaan bukan? Padahal yang dia sajikan adalah karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan metodologis dan sistematikanya. Ada alur berpikir logis dalam melakukan penalaran. Perasaan tidak punya metodologi dan dasar logika, ia berasal dari sanubari manusia yang output-nya bergantung pada keadaan seseorang, mood, dan emosi.

Jadi, seharusnya mahasiswa tadi menjawab dengan memulai dengan frase “Saya pikir” atau “Saya kira”, bukan dengan “Saya rasa”. Frase “Saya pikir” berarti argumentasi tadi dihasilkan dengan penalaran logika. Dalam melakukan penalaran masukannya adalah sejumlah premis dan konsekuennya. Berdasarkan sekumpulan premis dan konsekuen tadi disusun sebuah argumen yang menghasilkan kesimpulan.

Menurut saya cara menjawab pertanyaan dengan frase “Saya rasa” dan “Saya pikir” tadi dipengaruhi oleh budaya. Orang Barat terbiasa berpikir secara logis dan kurang menempatkan perasaan dalam adu argumentasi. Dalam percakapan mereka sering memulai dengan frase “I think” dan bukan “I feel”. Sebaliknya orang Timur seperti bangsa kita sudah terbiasa mengedepankan perasaannya dalam bertindak sehingga frase “Saya rasa” sudah menjadi kebiasaan. Cobalah anda amati dan dengar percakapan dengan orang-orang di sekelling anda atau dialog/debat di televisi, maka sering kali kita mendengar pendapat yang dimulai dengan frase “Saya rasa”.

Oleh karena itu, seharusnya kita menggunakan kedua frase tersebut pada tempatnya. Kita menggunakan “Saya pikir” jika jawaban terhadap pertanyaan itu menyangkut proses berpikir terstruktur, dan kita gunakan “Saya rasa” jika jawaban itu adalah suatu intuisi yang melibatkan emosi dan perasaan.


Written by rinaldimunir

April 26th, 2012 at 8:21 am

Posted in Gado-gado

Oh, Bapak Penarik Gerobak Sampah (2)

without comments

Sewaktu ke kampus Sabtu siang saya kembali melihat pemandangan yang memiriskan hati. Seorang Bapak terengah-engah menarik gerobak sampahnya. Kasihan Bapak itu, gerobak sampahnya sangat berat, ditarik dengan kedua tanganpun tidak kuat, maka dibantulah dengan tali yang dihela dengan badannya. Namun, laju gerobak tetap saja pelan, sehingga kendaraan di belakangnya harus sabar beringsut. Lihatlah sudut yang dibentuk badan Bapak itu dengan jalan, sudah hampir sekitar 40 derajat, yang menunjukkan tenaga yang dikerahkan untuk menarik gerobak sampah itu sangat besar, hampir-hampir saja dia tidak kuat.

Foto ini saya potret di Jalan Ganesha depan masjid Salman ITB hari Sabtu siang. Pemandangan yang saya lihat ini memilukan hati, mengingatkan kita pada pedati yang ditarik oleh kerbau (mohon maaf kalau deskripsi ini kurang etis). Bapak itu menarik gerobaknya di tengah lalu lalang wisatawan di kawasan Ganesha. Di antara mobil-mobil mewah wisatawan asal Jakarta dan suara anak-anak yang riang menarik kuda, pemandangan seperti ini sangat kontras. Lihatlah seekor kuda melirik bapak itu, seakan-akan berkata sayalah yang pantas menarik kuda itu, Pak.

Semoga setiap tetes keringat yang menetes dari tubuh Bapak itu dijadikan oleh Allah SWT sebagai pemberat timbangan pahala di akhirat kelak. Saya bagikan gambar ini agar kita selalu berempati pada nasib orang-orang kecil seperti ini. Mudah-mudahan Pak Walikota Bandung juga melihat dan tersentuh hatinya dengan menyediakan gerobak angkutan sampah yang ditarik dengan motor.


Written by rinaldimunir

April 24th, 2012 at 3:10 pm

Blog Baruku, “Catatan Kriptografi”

without comments

Setelah sekian lama menulis di blog Catatanku, mulai hari ini saya mendedikasikan diri membuat blog baru bernama “Catatan Kriptografi” yang berisi berbagai tulisan saya tentang bidang kriptografi dan steganografi. Saya peminat dan penyuka kriptografi dan steganografi (disamping pengolahan citra, numerik, algoritma, dan matematika diskrit). Riset saya saat ini berkaitan dengan kriptografi. Ketika S3 saya juga mengambil topik yang masih berkaitan dengan kriptografi yaitu watermarking. Di Informatika ITB saya mengajar mata kuliah ini dan membimbing tugas akhir mahasiswa yang mengambil topik aplikasi kriptografi dan steganografi untuk keamanan komputer. Alhamdulillah saya juga telah menulis diktat dan buku berjudul “Kriptografi” yang diterbitkan oleh Penerbit Informatika, Bandung. Sekarang buku ini akan saya buat edisi keduanya yang lebih komprehensif.

Jika blog “Catatanku” (yang sedang anda baca ini) berisi tulisan-tulisan yang bersifat umum dan humanistik, maka blog Catatan Kriptografi ini lebih bersifat semi-teknis. Anda akan banyak menemukan istilah-istilah keilmuan (matematika, ilmu komputer, dan sebagainya), rumus-rumus, dan kode program di dalam tulisan saya nanti.

Melalui blog “Catatan Kriptografi” saya ingin berbagi ilmu dan pengetahuan bagi anak negeri. Sila kunjungi blog tersebut di http://catatankriptografi.wordpress.com.


Written by rinaldimunir

April 23rd, 2012 at 11:21 am

Punya Profile di “Google Scholar”

without comments

Rekan saya dari Teknik Telekomunikasi STEI-ITB, Kang Eueung Mulyana, mengabarkan bahwa saat ini setiap penulis (author) makalah/artikel dapat membuat profile sendiri di Google Scholar. FYI, Google Scholar adalah salah satu mesin pengindeks untuk makalah, buku, dan karya-karya kecendekiaan lainnya asalkan dalam bentuk tertulis. Mesin pengindeks yang lain adalah Scopus, Index Copernicus, ProQuest, IEEXplore, dan sebagainya.

Profile di Google Scholar berisi daftar semua tulisan seorang penulis (buku, makalah, artikel, dsb) yang dikutip (citation) oleh penulis lain. Tulisan karya penulis tersebut diacu sebagai referensi yang disebutkan di dalam daftar pustaka. Daftar semua kutipan tersebut berasal dari search.scholar yg secara otomatis di-crawl oleh Google apabila artikel/makalah terkait bisa ditemukan oleh Google.

Cara membuat profile di Google Scholar adalah sebagai berikut:

1. Anda hanya hanya perlu login dengan akun gmail

2) Buka alamat http://scholar.google.com atau http://scholar.google.co.id/

3) Klik link “My Citation” atau “Kutipan Saya” (jika di http://scholar.google.co.id) di kanan atas atau kanan bawah

4) Ikuti 3 langkah pada halaman tersebut

5) Edit data bila perlu (foto, affiliation dll.), kemduian klik “Make Public” agar bsia dilihat oleh orang lain.

Nah, saya mengikuti algoritma yang diberikan oleh Kang Eueung Mulyana di atas, maka jadilah seperti gambar di bawah ini:

Anda dapat melihat profile saya di Google Scholar pada alamat ini: http://scholar.google.com/citations?hl=en&user=ugYa9lEAAAAJ&oi=sra

Profile scholar punya Kang Eueung Mulyana yang ini: http://scholar.google.com/citations?user=-wXTUQoAAAAJ&hl=en

Wah, betapa kaget saya melihat profile saya sendiri, tidak menyangka sebanyak itu. Ternyata Google Scholar tidak hanya berhasil mengumpulkan semua citation terhadap makalah-makalah saya, tetapi juga semua citation buku dan diktat kuliah yang saya tulis. Buku saya yang sederhana, yaitu Pengolahan Citra Digital dengan Pendekatan Algoritmik tenyata mempunyai citation tertinggi, yakni dikutip oleh 169 makalah (status saat tulisan ini dibuat). Dengan mengklik angka cite maka anda dapat melihat makalah-makalah apa saja yang mengutip suatu tulisan/artikel.

Selain buku dan diktat, makalah-makalah saya di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah juga mendapat citation, baik oleh penulis di dalam negeri maupun di luar negeri. Bahkan, beberapa makalah penulis tersebut sudah terindeks pula di dalam IEEXplore. Memang tidak semua makalah saya mendapat citation

Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah SWT bahwa apa yang saya tulis memberi nilai tambah bagi orang lain. Jika semua karya kecendekiaan (scholar) kita di-online kan di internet, maka akan banyak manfaat bagi orang lain yang membacanya. Jazakallah.

Dengan menaruh makalah/artikel kita di Internet, maka mesin-mesin pencari akan mengindeks tulisan kita tersebut. Dampaknya, selain terhadap si penulis, secara tidak langsung juga akan meningkatkan penilaian oleh lembaga pemeringkat perguruan tinggi dunia seperti THES, sebab salah satu kriteria pemeringkatan perguruan tinggi adalah jumlah citation index yang dikumpulkan oleh mesin pencari. Hmmmm… saya berpikir alangkah baiknya para akademisi (mahasiswa, dosen, peneliti) di seluruh Indonesia juga membuat scholar profile di Google.

Apakah anda sudah membuat profile di Google Scholar?


Written by rinaldimunir

April 20th, 2012 at 2:35 pm

Asrama Mahasiswa ITB Dalam Kenangan (2)

without comments

Pada tulisan yang kedua ini, saya menampilkan beberapa foto ketika saya tinggal di Rumah C. Wajah saya masih tampak culun saat itu, he..he. Kebanyakan foto saya di sana ketika saya ikut wisuda sarjana di ITB (April 1992).

Nah, yang di bawah ini foto bersama di depan asrama ketika kami baru pulang menghadiri pernikahan alumni Rumah C. Beberapa teman naik kuda, sebagian lagi bergaya.

Gaya di depan asrama. saya berdiri dekat kuda pakai baju batik.

Di bawah ini beberapa foto wisuda di depan Rumah C. Saya berdiri bersama (alm) ibu saya. Ayah saya tidak ikut serta karena ia sedang mempersiapkan manasik haji di Padang. Wisuda ITB dulu masih di GSG, jadi dari asrama saya cukup berjalan kaki ke dalam kampus terus ke belakang ke gedung GSG.

Saya berama (alm) ibu di depan Rumah C, siap-siap berangkat jalan kaki ke GSG.

Saya berfoto bersama teman-teman sebelum berangkat menuju GSG.

Bersama teman-teman asrama sebelum ke GSG

Foto buram di dalam ruang TV asrama, sesaat sebelum berangkat wisuda.

Tradisi di asrama adalah perayaan syukuran wisuda. Pada tradisi ini kami mengundang hanya mahasiswi asrama putri saja. Entah kenapa, pada zaman saya di sana hubungan yang erat justru dengan asrama mahasiswi putri Kalimantan Barat dan asrama mahasiswi asal Garut (Kamaga). Hubungan dengan Asrama Putri ITB malah tidak terlalu dekat, mungkin karena satu ITB kali ya, sudah biasa.

Syukuran wisuda di dalam asrama

Seringkali pada malam minggu kami beramai-ramai date ke asrama putri. Karena erat dengan asrama putri asal Kalimantan, maka beberapa kali kami main ke sana. Ini salah satu fotonya:

"Date" ke asrama putri Kalbar


Written by rinaldimunir

April 19th, 2012 at 4:29 pm

Posted in Uncategorized

Asrama Mahasiswa ITB Dalam Kenangan (1)

without comments

Sewaktu tingkat akhir di ITB tahun 1990 hingga 1992 saya memutuskan tinggal di Asrama Mahasiswa ITB. Asrama mahasiswa ITB terletak persis di depan kampus Ganesha, berupa rumah-rumah peninggalan Belanda yang diberi nama Rumah A hingga H. Rumah A yang paling depan, Rumah B dan Rumah C di Jalan Skanda (jalan di samping Taman Ganesha itu), Rumah D alias barrac di Jalan Gelapnyawang, Rumah E alias Villa Merah, dan Rumah F di samping Bank BNI ITB.

Dua rumah yang terpisah jauh adalah Rumah G di Jalan Sawunggaling yang sekarang menjadi Hotel Sawunggaling, dan Rumah H di Jalan Cisitu. Satu lagi asrama khusus putri di pertigaan Jalan Gelapnyawang (belakang Masjid Salman) yang sekarang menjadi Klinik Medika Ganesha. Saya dulu tinggal di Rumah C yang berwarna oranye. Tiap rumah punya warna cat sendiri (Rumah B berwarna biru, rumah E berwarna merah sesuai namanya, dan lain-lain).

Setiap Rumah mempunyai alumni ITB yang dibanggakan dan telah menjadi tokoh nasional. Di rumah E (Villa Merah) pernah dihuni Azwar Anas (mantan menteri dan Gubernur Sumbar), di rumah D (barrac) pernah dihuni Aburizal Bakrie, di rumah C ada Fadel Muhammad, dan lain-lain. Senior saya, Prof Iping juga aumni Rumah C.

Tinggal di asrama sangat berkesan bagi saya. Di sana saya menemukan banyak kawan dengan aneka sifat dan karakter. Status saya di asrama adalah sebagai penghuni tamu. Kapasitas di asrama jarang penuh, sehingga pengelola asrama menyewakan kamar bagi mahasiswa ITB dengan status sementara (misalnya mahasiswa yang sedang TA/Thesis seperti saya, orang luar yang mengikuti pelatihan selama beberapa bulan di ITB, wisudawan yang habis masa kosnya dan menunggu panggilan kerja, dan sebagainya). Meskipun berstatus “tamu” namun saya cukup lama tinggal di Rumah C yaitu sekitar 2 tahun dan diperlakukan sama dengan penghuni lainnya.

Karena asrama persis di depan kampus, maka mau ke kampus cukup jalan kaki. Makan ikut catering di dalam dengan harga yang sangat murah. Karena penghuni asrama cukup banyak maka makan secara kolektif jatuhnya murah. Ada bibik yang disewa untuk memasak. Fasilitas di asrama sangat berlimpah, air dan listrik sepuasnya, udara segar karena banyak pepohonan, ada fasilitas olahraga (tenis meja, voli, basket). Asrama-asrama ini disubsidi oleh ITB sehingga penghuni membayarnya cukup murah, hanya Rp15.000/bulan saat itu. Wah, pokoknya menyenangkan hidup di asrama ITB. Oh iya, satu kamar diisi dua sampai empat orang. Penghuni yang senior mendapat kamar sendiri agar mereka dapat mengerjakan TA dengan tenang. Saya sebagai penghuni tamu tetap puas sekamar bertiga. Kamarnya besar-besar dan luas sehingga tetap lapang meskipun dibagi empat partisi.

Sekarang rumah-rumah itu tidak lagi dijadikan asrama mahasiswa, tetapi digunakan sebagai kantor-kantor oleh ITB. Villa Merah yang dulu terkenal dengan Bimbelnya sekarang menjadi Gedung Alumni, rumah barrac menjadi sekolah MBA ITB, Rumah B dan Rumah C menjadi kantor LAPI ITB, Rumah F menjadi Pusat Inkubator Bisnis, dan Rumah A menjadi Gedung Kemitraan. Setahu saya rumah-rumah itu dipakai sebagai asrama hingga akhir tahun 90-an. Sejak itu tidak ada lagi asrama mahasiswa yang dikelola ITB. Sekarang memang ada beberapa asrama mahasiswa ITB tetapi dikelola oleh pihak swasta, yaitu asrama di Jalan Kanayakan dan Jalan Cisitu.

Di bawah ini beberapa foto kondisi bekas asrama mahasiswa ITB saat ini yang sudah menjadi kantor-kantor unit ITB yang lain. Setiap hari saya selalu lewat di depan asrama itu. Setiap kali memandang Rumah C saya selalu terkenang masa-masa pernah hidup di dalamnya.

Rumah A dilihat dari samping

Rumah A dari sudut kiri

Rumah B

Jalan antara Rumah A dan Rumah B

Rumah C. Di sinilah saya dulu pernah tinggal selama dua tahun.

Jajaran pohon palem sepanjang jalan masuk ke rumah C masih tetap ada hingga saat ini.

Bekas lapangan voli di belakang Rumah C. Pintu yang terlihat di sebelah kanan adalah pintu kamar saya waktu pertama kali tinggal di asrama ini dulu.

Rumah D (barrac). Sekarang menjadi sekolah MBA-ITB

Rumah E (Villa Merah). Konon warna merah itu adalah warna asli batu bata yang didatangkan dari Belanda.

Bangunan terpisah dari Villa Merah. Dulu dijadikan kamar senior asrama.

Rumah G (sekarang Hotel Sawunggaling di Jalan Sawunggaling)

Asrama Putri ITB (sekarang menjadi Klinik Medika Ganesha ITB).
Sumber foto: http://www.itb.ac.id/gallery/1349


Written by rinaldimunir

April 18th, 2012 at 9:30 am

Posted in Seputar ITB

Solidaritas Pengendara Motor

without comments

Setiap hari saya selalu ke kantor menggunakan sepeda motor. Selain lebih hemat, memakai sepeda motor jauh lebih praktis daripada menggunakan mobil. Motor bisa menembus kepadatan jalan di Bandung yang semakin menjadi saja, terutama pagi dan sore hari pulang kerja. Memang kemacetan di Bandung belum separah di Jakarta, tetapi lebar jalan yang sempit dan jumlah kendaraan yang melimpah membuat Bandung makin kurang nyaman berkendaraan.

Motor saya yang setia adalah Honda Supra Fit keluaran tahun 2005. Dialah yang menemani saya pergi ke mana saja, ke kampus, ke pasar, ke swalayan, ke sekolah anak, ke tempat kawinan, dan lain-lain. Tidak banyak dosen ITB yang memakai motor ke kampus, saya tahu hanya beberapa orang saja, termasuk saya sendiri.

Karena cukup lama menjadi biker di jalanan, saya menjadi lebih tahu tentang kisah-kisah pengendara motor. Menurut pengamatan saya, sebagian pengendara mobil (jadi tidak semuanya) ada yang suka memandang rendah pengendara motor. Sikap memandang rendah itu disebabkan karena pemilik mobil tersebut mengasosiasikan pengendara motor dengan status sosialnya. Pengendara motor diidentikkan sebagai karyawan kantor, sales, buruh pabrik, guru, dan masyarakat kelas menengah bawah lainnya yang diidentikkan tidak mampu membeli mobil. Padahal tidak semua begitu kan, banyak orang yang memakai motor karena alasan-alasan praktis seperti yang saya sebutkan di atas. Karena bikers dianggap masayarakat kelas dua, maka pemilik mobil sering menunjukkan arogansinya dengan mengklakson keras-keras sambil memaki-maki bikers yang dianggap menghalangi laju mobilnya. Saya yang sering melihat kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala prihatin dengan sikap arogan tersebut.

Namun, sikap memandang rendah itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada pemilik mobil. Para bikers juga punya andil membuat para pemilik mobil sering marah-marah. Bikers yang nakal suka menyalip mobil sehingga membuat pemilik mobil mengerem mendadak diikuti sumpah serapah kepada pengendara motor tersebut. Pernah juga saya melihat seorang pengendara motor menyenggol kaca spion mobil tanpa meminta maaf. Pemilik mobil yang tersinggung mengklakson pengendara motor tersebut sambil terus mengejarnya. Pemilik mobil yang marah atas ulah biker memang ada yang mengejar biker sampai ketemu kemudian menghajarnya.

Para pengendara motor, meskipun dianggap pemakai jalan kelas dua, namun mereka punya solidaritas yang membuat saya terharu. Sesama biker mereka akan saling mengingatkan. Misalnya jika ada biker yang lupa menaikkan standard (penopang kendaraan) padahal sedang melaju, maka biker lain yang melihatnya akan berteriak mengingatkan: “standard!”, kata mereka sambil menunjuk kepada standard. Begitu juga kalau berhenti di lampu merah, mereka akan saling memberi tempat kepada biker lain agar berada di barisan depan. Pada musim hujan, solidaritas sesama biker itu semakin kelihatan. Sama-sama senasib sependeritaan di bawah guyuran hujan, mereka saling mengingatkan untuk hati-hati.

Kalau ada razia polisi, biker mengingatkan biker lainnya yang masih jauh bahwa ada razia. Siapa tahu biker yang ini tidak memakai helm, tidak membawa STNK, atau platnya sudah kadaluarsa. Sudah menjadi rahasia umum kalau polisi di jalan suka mencari-cari kesalahan pengendara motor untuk ditilang, selanjutnya anda bisa mengerti ke mana arahnya, he..he.

Para biker itu tidak kenal satu sama lain, tetapi di jalan mereka seperti bersaudara saja. Rasa persaudaraan yang kuat itu akan makin nyata ketika pas musim mudik lebaran. Kebanyakan para pekerja urban memilih mudik dengan motor. Mereka bagaikan pemain sirkus karena membawa anak, istri, dan barang-barang dalam satu motor. Berbahaya, memang, tetapi kalau mau hemat biaya dan cepat ya terpaksa begitu. Di jalanan mereka bertemu dengan sesama biker lain yang juga mudik. Secara berkonvoi mereka melaju bersama-sama di jalur Pantura atau jalur selatan Jawa. Kalau sudah lelah, mereka juga berhenti bersama-sama untuk istirahat. Jika ada biker yang mengalami masalah dengan motornya sehingga terpaksa berhenti, biker lain tanpa diminta tolong ikut berhenti dan menanyakan kesulitan apa.

Begitulah ikatan solidaritas yang tumbuh pada sesama biker. Tidak saling kenal tetapi merasa senasib di jalanan. Sangat menarik menikmati dan menyaksikan fenomena sosial masyarakat kita ini.


Written by rinaldimunir

April 16th, 2012 at 10:23 am

Posted in Gado-gado