if99.net

IF99 ITB

Archive for March, 2012

Kisah Inspiratif: “Low Vision” Tidak Menghalangiku Mengambil Program S3 di Australia

without comments

Di bawah ini kisah Taufik Faturohman, dosen SBM-ITB, yang sedang mengambil program S3 di Curtin University, Western Australia. Dia mempunyai keterbatasan penglihatan yang cukup parah, yang dalam ilmu medis dinamakan “low vision“. Namun dengan keterbatasan penglihatannya itu dia mampu menyelesaikan S1 dan S2, dan sekarang sedang menjalani program S3 sebagai dosen tugas belajar.

Pak Taufik menulis di milis alumni ITB tentang kisahnya yang mengharukan ini. Atas seizin beliau e-mail-nya saya salin ke dalam blog, mudah-mudahan dapat menjadi sumber inspirasi bagi siapapun yang mempunyai keterbatasan fisik agar tidak pantang menyerah dalam menimba ilmu setinggi-tingginya.

~~~~~~~~~~~~~

No disabilities can hold you back

Perth, Maret 2012

Saat ini saya sedang mengambil program PhD di Curtin University, Western Australia. Saya ditugaskan oleh kampus di Bumi Ganesha sana, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, untuk sekolah (karena masih dianggap kurang pinter hehe…), atas beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation.

Saya memiliki kondisi spesial di mata yang disebut Retinitis Pigmentosa (RP). Kalau ditanya bagaimana kondisi mata saya, saya agak sulit menjelaskannya. Yang pasti mah cukup parah.

Waktu medical check up untuk mengajukan visa, dokter yang memeriksa hampir tidak percaya kalau dengan kondisi low vision seperti ini saya akan ambil S3. Tapi itu tidak mengecilkan hati saya. Saya malah bangga karena dengan kondisi seperti ini saya bisa meraih apa yang tidak mudah diraih oleh orang yang bermata normal sekalipun. Alhamdulillah… Segala puji bagi Allah.

Semua dokter yang saya temui (termasuk di Perth sini) menyatakan bahwa mata saya tidak dapat diobati. Akan tetapi sebagai seorang muslim saya harus yakin bahwa yang Maha Menyembuhkan hanya Allah, dan kita harus tetap berusaha mencari solusinya. Beberapa dokter bilang kalau kondisi ini bersifat genetis. Sesuatu yang nampaknya masuk akal, karena adik saya yang laki-laki pun mengalami kondisi yang sama. Alhamdulillah dia akhirnya bisa lulus dari jurusan Fisika ITB, meski dengan perjuangan yang luar biasa. Jujur, saya sempat agak ragu kalau dia akan lulus (sori ya De). Sebaliknya, adik saya yang perempuan tidak mengalami masalah dengan retinanya. Dia relatif jauh lebih lancar dalam studinya, dan lulus dari S1 di Kimia dan S2 Teknik Kimia (keduanya di ITB) dengan baik. Selama kuliah S2 dia juga mendapatkan beasiswa karena prestasinya yang baik. Kuliahnya memang lebih lancar, tapi bukan berarti dia lebih cerdas, hanya matanya saja yang lebih bagus hehe…. Maaf bercanda. Kami memang sangat kompetitif dalam berbagai hal. Meski sering saling mencela, saya bangga pada adik-adik saya. Mereka hebat (meski nggak sehebat kakaknya haha…). Maaf, lagi-lagi bercanda.

Dua tahun pertama di negeri asing, saya benar-benar struggling, di dalam dan luar studi. Semua serba baru dan semua harus dapat dilakukan sendiri. Meski Alhamdulillah banyak rekan dan sahabat yang selalu siap membantu, basically you’re on your own. Banyak trik yang saya lakukan to make life easier, antara lain:

1. Menyimpan barang-barang di tempat yang mudah terlihat dan mudah diingat.
2. Ketika sedang menunggu bis, saya akan minta tolong orang lain untuk memberi tahu nomor bis yang lewat. Sebetulnya nomornya cukup besar, terpampang di atas windshield, tapi tetep aja nggak keliatan. Otomatis saya tidak boleh malu atau segan bertanya. Harus cuek. Tapi dengan begini saya bisa berkenalan dengan banyak orang. Lelaki, perempuan, tua, atau muda. Tidak hanya warga setempat, tetapi juga warga dan pendatang dari berbagai penjuru dunia. Mulai pekerja, pelajar, sampai mantan manusia perahu pencari suaka. Sangat menarik. Tapi yang paling seru kalau bertemu orang yang berasal dari kota atau negara dengan tradisi sepak bola kuat. Nunggu bis jadi nggak kerasa kalau sudah ngomongin bola. Tapi saya lebih suka membicarakan klub dibanding tim nasional. Sedih kalau ditanya soal tim nas kita. Apalagi beberapa waktu lalu kita baru saja dibantai 10 gol tanpa balas. Rekor terburuk sej ak berdirinya negara kepulauan terbesar di dunia yang kita cintai ini. Tragis. Kembali ke halte bis, kalau tidak ada orang yang bisa saya tanyai, saya terpaksa memberhentikan semua bis yang lewat. Maaf ya pak supir, habis bagaimana lagi….

3. Saya berusaha menghapalkan situasi di tempat-tempat yang sering saya datangi. Posisinya, pohon-pohon di sekitarnya, apapun yang memudahkan saya mengidentifikasi tempat tersebut. Sebagai contoh, ruangan supervisor saya adalah pintu ke tiga dari lift. Jadi saya menghitung pintu, bukan membaca namanya yang terpampang di pintu ruangannya, karena saya tidak bisa membacanya. Percaya atau tidak, saya sampai hapal jumlah tangga dan anak tangga yang ada di sepanjang jalan utama main campus. Tujuannya adalah agar saya tidak jatuh kalau saya melewati tangga itu apabila harus buru-buru :)

4. Apabila melakukan presentasi riset, saya harus memahami bahan dengan sangat baik, karena saya tidak bisa mengandalkan tulisan yang ada di slide. Kalaupun saya bisa membacanya, saya butuh waktu lama. Jadi paling tidak, saya harus menghapalkan judul tiap slide, atau saya menulis judul dengan font ekstra besar, sehingga lebih mudah dibaca. Dalam menjelaskannya, saya harus banyak melakukan improvisasi. Hal ini juga saya lakukan ketika mengajar di SBM.
5. Banyak berdoa dan minta didoakan, agar Allah memudahkan semua urusan.
6. Dan lain-lain.

Masih banyak trik dan rutinitas yang saya lakukan untuk mempermudah aktivitas saya. Most of the time memang berhasil. Akan tetapi, tidak jarang gagal juga. Sering kali saya tidak berhasil menemukan barang yang saya simpan karena lupa di mana saya menyimpannya. Atau salah naik bis. Atau salah masuk ruangan. Saya bahkan pernah salah masuk ke toilet perempuan. That was an honest mistake, bukan berniat ngintip hehe…. Kalau nabrak tiang, jatuh dari tangga, atau kesandung mah sudah biasa. Alhamdulillah paling parah hanya memar-memar, luka kecil, atau pakaian robek :) . Di tempat gelap saya hampir tidak bisa melihat apa pun. Dalam situasi seperti itu saya harus dituntun atau berjalan dengan sangat pelan sambil meraba-raba. Tapi saya masih bersyukur, masih banyak orang yang benar-benar tidak bisa melihat sama sekali.

Menyadari kondisi penglihatan yang buruk, saya mengajukan aplikasi untuk mengambil program PhD di Curtin Business School tanpa menyebutkan kondisi tersebut. Saya tidak merasa disable. Saat itu saya sangat yakin kalau saya akan berhasil melewati program doktoral ini dengan baik, karena toh saya juga berhasil mengantongi gelar sarjana dan master dari ITB. Kepercayaan diri yang ternyata berlebihan, bahkan mendekati kesombongan. Astaghfirullah….

Alhamdulillah… di kampus saya mendapat support yang saya butuhkan. Saya memiliki supervisor-supervisor yang sangat kompeten dan pengertian. Belakangan, saya juga disarankan untuk berkonsultasi dengan disability counselor. Awalnya saya agak reluctant untuk melakukannya. Saya nggak yakin mereka bisa membantu masalah saya. Dan sekli lagi, saya tidak merasa disable.

Ternyata saya salah. Banyak bantuan dan kemudahan yang mereka sediakan untuk membantu aktivitas saya, terutama dalam studi dan riset. Di Robertson Library, yang berada di main campus, terdapat satu ruangan khusus yang disediakan untuk student dengan kondisi istimewa seperti saya. Saya baru sadar, ternyata saya tidak sendiri. Ruangan ini benar-benar eksklusif, seperti the chamber of secret di Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry hehe…. Bedanya adalah tidak diperlukan mantra khusus untuk dapat memasuki ruangan ini. Di depan pintu ruangan ini ada alat pemindai alias scanner untuk memindai kartu mahasiswa. Pintu ruangan ini hanya akan terbuka bila diakses oleh kartu mahasiswa yang telah diberi security clearance.

Di dalam ruangan ini banyak terdapat alat canggih. Ada sejenis proyektor yang dapat menampilkan buku atau teks berbentuk hard copy ke layar. Ada pula komputer yang dapat menampilkan interface dengan perbesaran dan warna yang bisa kita atur. Komputer ini bahkan bisa membacakan apa yang tertera di monitor, termasuk membacakan dokumen-dokumen berbentuk soft copy. Tidak cukup dengan itu, saya juga dibekali dengan ZoomText, sebuah software yang bisa membuat PC saya semakin cerdas. Secerdas komputer di library yang bisa saya atur perbesaran dan kontrasnya, serta saya perintahkan untuk membacakan apa yang ada di screen. Laptop saya sekarang sudah bisa membaca dan berbicara! Masih belum selesai sampai di situ. Saya juga dipinjami sebuah electronic magnifier. Alat mungil yang belakangan saya tau ternyata harganya hampir sepuluh juta rupiah. Alat bernama SmartView ini sangat membantu saya dalam membaca buku dan bentuk hard copy lainnya. Sesuatu yang sudah sangat sulit saya lakukan, meski dengan bantuan kaca mata.

ZoomText dan SmartView sangat membantu saya, sehingga saya tidak perlu menyengaja datang ke library hanya untuk membaca. Alhamdulillah, banyak bantuan yang saya terima. Dari kampus baik di Curtin maupun SBM, sponsor, supervisor, teman-teman, keluarga, bahkan dari orang yang tidak saya kenal. Tentu saja support dari orang tua dengan doa yang dapat menggetarkan langit. Tanpa mengecilkan itu semua, saya mendapatkan dukungan luar biasa dari istri tercinta. Dia tanpa kenal lelah dan dengan kesabaran hampir tak terbatas begitu setia mendampingi saya. Bukan hanya mendorong dari segi moral, dia juga membantu riset saya. Dia adalah partner yang baik dalam berdiskusi, pengetik yang handal, dan penginput data yang telaten. Saya benar-benar tidak tahu apa yang bisa saya lakukan tanpa dia. Alhamdulillah progress riset saya berjalan jauh lebih cepat sejak kehadirannya. Dia benar-benar perempuan super. Semua itu dilakukannya sewaktu hamil, dan saat ini sedang menyusui bayi kecil kami.

Pentingnya keberadaan istri semakin terasa kala saya sedang down. Saya berusaha selalu positif dengan kondisi mata saya. Akan tetapi tidak jarang juga saya merasa frustasi dengan keadaan ini. Saya paling tidak suka kalau saya tidak bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya mudah. Di saat mood saya sedang jelek, saya bisa sangat marah bila misalnya saya tidak bisa menemukan suatu barang. Saya marah. Marah pada diri sendiri karena tidak bisa melakukan sesuatu yang sangat mudah. Tapi efeknya saya juga marah pada orang lain, dan yang paling sering terkena dampaknya adalah istri tercinta. Terkadang dia juga kesal, suatu reaksi yang wajar. Namun most of the time dia luar biasa sabar menghadapi saya. Dia malah memberi semangat dan membesarkan hati saya. Dia sering kali mengingatkan saya pada salah satu episode Kick Andy yang pernah kami tonton bersama. Di episode itu, bang Andy mewawancarai orang-orang hebat dengan kondisi tuna netra. Ada seorang ibu yang berhasil meraih gelar master di Belanda. Ada juga seorang bapak dari Makasar yang menolak bersekolah di Sekolah Luar Biasa, sampai akhirnya meraih gelar sarjana hukum dan bahkan menjadi salah seorang anggota Komnas HAM. Isteri saya selalu bilang “mereka aja bisa, jadi Abi juga pasti bisa”. Saya bilang mereka itu orang-orang hebat, dan saya nggak bisa kayak mereka. Tapi dia selalu meyakinkan kalau saya bisa. Subhanallah…. She really is my better half. A much better half of me.

Akhir Mei ini tepat tiga tahun masa studi saya berjalan. Saya mungkin belum bisa menyelesaikan studi tepat tiga tahun. Tapi saya menargetkan untuk menyubmit tesis doktor saya akhir 2012 ini, insya Allah.

Selain studi, saya juga aktif di berbagai aktivitas sosial. Bukan hanya karena saya diwajibkan oleh pihak sponsor, tapi karena memang saya tidak bisa lepas dari kegiatan-kegiatan sosial. Saya pernah mengikuti kegiatan Curtin Volunteer. Saya juga pernah menjadi pengajar di Taman Pendidikan Al Quran di Mushalla Curtin University. Dalam dua tahun terakhir saya juga selalu diberi tugas sebagai host pada acara shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang diselenggarakan oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia di Australia Barat. Saat ini saya diberi amanah (lebih tepatnya dipaksa hehe…) menjadi sekretaris jendral Perkumpulan Pengajian Indonesia Perth (PPIP). Konon PPIP merupakan kelompok pengajian tertua di Perth yang kemudian diformalkan dalam bentuk organisasi yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sendiri.

Alhamdulillah, di tengah kesulitan yang kami hadapi selalu ada kemudahan. Kebahagiaan kami bertambah sejak kehadiran puteri pertama kami. Aisha Ghina Fathiya, 3 Desember 2011 lalu. Itu berarti bertambah pula tanggung jawab dan kesibukan, but it is totally worth :)

Jujur, tidak mudah bagi saya dalam menjalani ini semua. Tapi saya mendapat support berlimpah dari berbagai pihak, yang membuat saya yakin bahwa saya akan meraih PhD. Kemudian saya akan kembali ke Indonesia, ke kampus, untuk membaktikan ilmu yang saya peroleh di sini.

Pendidikan merupakan hak setiap orang (bagi setiap muslim, menuntut ilmu juga merupakan suatu kewajiban). Bahkan bagi setiap Warga Negara Indonesia, hak itu dijamin oleh konstitusi. Semua memiliki hak yang sama, termasuk untuk yang memiliki keterbatasan secara fisik. Pendidikan sering kali berharga mahal. Di situlah diperlukan dukungan dan komitmen dari pemerintah.

Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri saya sendiri, betapa banyak nikmat yang saya terima. Alhamdulillah apabila ini juga bermanfaat bagi orang lain. Terima kasih atas kesabaran Anda membaca sampai akhir. Semoga ada manfaatnya.

Salam
Taufik Faturohman
PhD Candidate, Curtin Business School, Curtin University, Western Australia
Tutor at Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung
Putera Sampoerna Foundation Scholar
E-mail: taffy_foreman@yahoo.com


Written by rinaldimunir

March 20th, 2012 at 4:26 pm

Posted in Kisah Hikmah

Mengapa Untuk Niat yang Suci Harus Berbohong?

without comments

Ketika mengurus pendaftaran haji di Kementerian Agama, Bandung, salah seorang yang antri adalah seorang bapak beserta istri dan ibunya. Kami sempat mengobrol sambil menunggu panggilan. Ternyata Bapak tersebut bukan orang Bandung, tetapi tinggal di Surabaya. Ia mendaftar haji di Bandung karena waktu tunggu haji di Bandung tidak selama di Surabaya. Di Bandung kalau mendaftar awal tahun ini baru mendapat porsi haji lima atau 6 tahun lagi, yaitu tahun 2017 atau 2018. Tetapi, di Surabaya waktu tunggunya mencapai 11 tahun.

Berhubung syarat untuk mendaftar haji adalah sesuai dengan daerah domisili, maka Bapak itu membuat KTP Bandung agar bisa mendaftar di Bandung. Melalui suadaranya di Bandung dia bisa memperoleh KTP “tembak” dan Kartu Keluarga Bandung buat dirinya dan ibunya. Memang itu bukan KTP palsu, benar-benar asli, hanya saja diperoleh dengan cara yang tidak terpuji yaitu memalsukan data tempat tinggal. Tinggal di Surabaya tetapi mengaku tinggal di Bandung sehingga dapat memperoleh KTP Bandung. Saya tidak tahu berapa uang yang dikeluarkan oleh Bapak itu untuk mendapatkan KTP Bandung. Tidak terbayangkan pula jika RT, RW, Lurah, hingga Camat mau membohongi diri dengan mengeluarkan KTP Bandung bagi penduduk yang tinggal di Surabaya.

Alasan Bapak itu membuat KTP Bandung bisa saya “pahami” namun secara syariah agama saya tidak setuju dengan tindakannya itu. Dia terpaksa membuat KTP Bandung karena ibunya yang sudah uzur ingin naik haji. Kalau mendaftar di Surabaya kuota haji sudah habis dan calon haji harus menunggu selama 11 tahun lagi. Itu waktu tunggu yang terlalu lama, mungkin saja niat ibunya tidak kesampaian karena sudah duluan dipanggil oleh Allah SWT. Dengan mendaftar di Bandung waktu tunggu hanya 6 tahun, bahkan dia mengusahakan mendapat kemudahan agar didahulukan berangkat (tidak perlu 5 atau 6 tahun, mungkin 3 tahun menunggu) mengingat yang naik haji adalah lansia. Jadi, si Bapak pergi haji untuk menemani ibunya.

Seperti yang pernah saya tulis pada tulisan terdahulu, banyak orang yang memiliki niat suci untuk naik haji namun menempuh cara yang “nakal” agar bisa berangkat lebih cepat. Kebanyakan caranya adalah memalsukan data tempat tinggal sehingga mempunyai KTP di daerah yang kuota hajinya lebih banyak atau yang masa tunggunya tidak lama seperti cerita saya di atas. Seperti kita ketahui kuota haji untuk Indonesia terbatas, hanya 210 ribu orang per tahun, sementara calon jamaah haji dalam daftar tunggu bertambah terus hingga data terakhir yang saya baca mencapai 1,8 juta orang. Jatah 210 ribu orang itu dibagi per tiap kabupatan/kota secara proporsional sesuai dengan jumlah penduduk muslim di daerah tersebut. Akibat kuota yang terbatas tersbeut berlaku aturan first come first serve. Banyak calon jamaah yang menunggu bertahun-tahun agar dapat berangkat haji. Yang paling lama mungkin di Surabaya itu hingga 11 tahun.

Jamaah yang tidak sabar menunggu terlalu lama akhirnya menempuh cara yang tidak etis tersebut. Ini adalah cara yang merusak niat haji itu sendiri, niat yang suci untuk beribadah namun dikotori dengan cara yang tidak terpuji. Mungkin dari sinilah timbul praktek suap dan kolusi mulai dari RT, RW, Lurah, Camat, hingga oknum di Kementerian agama yang melakukan jual beli kuota. Mendaftar di kota lain artinya sama dengan mengambil hak orang di kota tersebut.

Namun saya tidak berani mengatakan apakah tindakan jamaah seperti itu tergolong dosa atau tidak. Cukup Allah saja yang menilai. Yang jelas cara mengakali alamat tersebut tidak benar. Saya bisa “memahami” kerinduan kaum muslim untuk menunaikan ibadah haji sangat tinggi namun terkendala dengan kuota haji sangat terbatas. Mereka sudah rindu dengan panggilan Allah ke Baitullah hingga akhirnya mereka menempuh berbagai cara untuk segera dapat berangkat haji. Insya Allah saya tidak mau melakukan tindakan yang tidak terpuji tersebut, saya akan sabar menunggu hingga tahun 2018 (bertambah satu tahun lagi dari perkiraan saya terdahulu). Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi niat saya ini, Amiin.


Written by rinaldimunir

March 20th, 2012 at 8:38 am

Posted in Agama,Pengalamanku

Yang Terbaik

without comments

Suamiku, jika bukan kau yang melamarku, sesungguhnya aku tidak tahu cara mencari suami (kasian banget dech)…Lah iya, bagaimanakah caranya menarik perhatian laki-laki?

Skenario Allah mempersatukan kita dalam pernikahan. Maka yakin, engkaulah yang terbaik bagiku, dan akulah yang terbaik untukmu (ya ngga ya ngga)

Suamiku, ever since I met you, you’re the only love I’ve known… even I’ll be a fool for you… Yess, I’m trusting you!

Suamiku, engkau melengkapi kehidupan dan kekuranganku. Kebahagiaanku adalah ketika hari ini, kita bisa taat dan tidak melakukan maksiat. Demikianlah akan kita kumpulkan hari-hari yang terbaik, mengasuh anak-anak yang telah kita nazarkan untuk-Nya.

Suamiku, aku berharap engkaulah pasanganku selamanya di dunia, dan ingak ingak… pilih aku juga di akhirat ya… (kalau tidak, nanti siapa yang akan melamarku heheh)

Written by ibudidin

March 19th, 2012 at 7:44 pm

Posted in Tafakur

Waiting

without comments

This evergreen kerontjong would be perfect to accompany you who’s been waiting for the love one.

Lately realize that I’m one of kerontjong lovers hehehe

Written by ibudidin

March 16th, 2012 at 4:05 am

Posted in Tafakur

Kue Klappertaart Tanpa Rhum

without comments

Sewaktu pulang dari Manado, Sulawesi Utara, beberapa waktu yang lalu, saya dioleh-olehi teman kue klappertaart. Klappertaart adalah kue tar kreasi orang Manado yang sekarang banyak ditiru dan dijual di mana-mana. Di Bandung ada beberapa toko yang menjual klappertaart.

Dari namanya, klappertaart berarti tar kelapa. Klapper adalah plesetan dari kata kelapa. Bentuknya seperti kue pie, bahan-bahannya adalah terigu, susu, telur, dan potongan daging buah kelapa muda. Rasanya sangat enak, teksturnya lembut seperti kue srikaya. Daging buah kelapa muda di dalam kue menciptakan rasa seperti kue coconut yang khas. Kue ini lebih enak jika dimakan dalam keadaan dingin setelah disimpan di dalam kulkas.

Di Sulawesi Utara kelapa tumbuh di mana-mana. Dari atas pesawat yang akan mendarat di Bandara Sam Ratulangi kita dapat melihat dengan jelas pohon kelapa tumbuh di sepanjang daratan. Makanya tidak salah kalau provinsi ini disebut negeri nyiur melambai. Karena banyaknya produksi kelapa itulah maka menimbulkan ide bagi orang di sana membuat kue yang bernama klappertaart itu. Kue klappertaart sudah dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan selera kontemporer, ada yang memakai keju, coklat, dan sebagainya. Klappertaart yang original tidak memakai keju, di atasnya ditaburi potongan buah kenari dan kacang mete, seperti foto di bawah ini:

Sebagai muslim kita harus berhati-hati jika mengkonsumsi kue klappertaart. Kebanyakan kue klappertaart – dan juga beberapa jenis kue lain — menggunakan bahan rhum sebagai penyedap kue. Rhum adalah minuman beralkohol, kandungan alkohol di dalam rhum termasuk tingkat tinggi yaitu sekitar 38%. Karena termasuk minuman keras maka memakan makanan yang mengandung rhum hukumnya haram, baik dalam jumlah sedikit atau banyak. Untuk lebih jelasnya silakan baca artikel ini (hukum mengkonsumsi makanan yang mengandung rhum).

Sejak tahu rhum itu minuman beralkohol yang hukumnya haram, saya tidak mau lagi makan kue sus dengan fla putih, salah satunya kue sus Merd*ka di Bandung. Dari bau flanya sangat jelas kue sus ini menggunakan rhum. Lain kali saya juga harus hati-hati memakan kue lain yang kemungkinan juga mengandung rhum.

Nah, untunglah tuan rumah di Manado bisa menemukan kue klappertaart yang tidak mengandung rhum. Kue tanpa rhum tersebut harus dipesan sehari sebelum kita ambil sehingga pembuatnya tahu kalau pembeli tidak menginginkan tambahan rhum pada kue. Tanpa rhum pun kue klappertaart rasanya tetap enak. Tidak ada bahan pengawet dan pewarna yang digunakan dalammembuat kue sehingga klappertaart ini sehat untuk dimakan.

Saya lihat dus kue pada foto di atas tertera label sertifikasi halal dari LPPOM MUI. Pemilik toko kue klappertaart ini sadar benar bahwa jaminan halal sangat penting untuk memberi rasa aman bagi wisatawan muslim yang berkunjung ke Sulawesi Utara, juga agar pangsa pasarnya lebih besar lagi sehingga dapat menjangkau berbagai kalangan yang lebih luas. Hanya saja saya tidak mengerti kenapa LPPOM-MUI bisa memberikan label halal kepada toko kue ini, bukankah pemiliknya juga memproduksi kue klappertaart yang mengandung rhum disamping order kue tanpa rhum? Jadi, label halal MUI itu untuk semua kue klappertaart atau yang khusus (tanpa rhum) saja?


Written by rinaldimunir

March 15th, 2012 at 9:00 am

Posted in Makanan enak

Tidak Ada Lagi “SNMPTN Ujian Tulis” pada Tahun 2013?

without comments

Kebijakan ujian masuk perguruan tinggi negeri selalu berubah-ubah, entah sampai kapan menjadi format yang mapan dan selalu diterapkan setiap tahun. Baru-baru ini, Dirjen Dikti, Djoko Santoso, yang tidak lain mantan Rektor ITB, mengumumkan kebijakan baru yang mungkin menjadi kabar buruk bagi sebagian siswa SMA. Tahun 2013 tidak ada lagi SNMTN jalur ujian tulis. Jalur yang ada adalah jalur undangan (minimal 60%) dan jalur mandiri (maksimal 40%). Jalur undangan dilakukan melalui SNMPTN berdasarkan nilai rapor sekolah, sedangkan jalur mandiri dilaksanakan oleh masing-masing PTN.
(Baca berita selengkapnya di bagian bawah).

Tentu saja berita ini kabar buruk bagi siswa SMA yang mengandalkan jalur ujian tulis (berhubung nilai rapornya kurang bagus). Juga menjadi kabar buruk bagi siswa yang tidak lolos masuk PTN pada tahun sebelumnya dan mencoba peruntungan nasib dengan mengikuti seleksi masuk PTN lagi. Satu-satunya jalur yang tersedia adalah jalur ujian mandiri di masing-masing PTN yang kapasitas maksimal 40% saja. Karena setiap PTN mengadakan ujian mandiri, maka seorang calon mahasiswa harus wara-wiri mengikuti ujian di beberapa PTN pilihannya di berbagai kota. Ongkosnya akan menjadi lebih mahal daripada mengikuti SNMPTN jalur ujian tulis bersama yang selama ini ada. Selain itu, jalur ujian mandiri tentu akan mensyaratkan SPP dan uang pangkal yang lebih mahal bagi calon mahasiswa baru.

Positifnya, peniadaan jalur ujian tulis akan memicu para siswa lebih dini mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur undangan, yaitu dari kelas 1 SMA (atau kelas 10). Sebab, jalur undangan akan memperhatikan nilai rapor siswa selama sekolah. Jadi, kesuksesan itu dilihat dari prosesnya (prestasi belajar selama sekolah), bukan hanya dari hasil akhir saja (ujian tulis SNMPTN). Hal ini juga menjawab protes sebagian kalangan yang pernah mengkritik penentuan kelulusan siswa SMA hanya dari hasil UAN (Ujian Akhir Nasional) semata, sementara hasil belajar selama 3 tahun di sekolah diabaikan. Ibaratnya hasil UAN selama 3 hari dapat menghapus hasil belajar selama 3 tahun. Dengan SNMPTN jalur undangan yang porsinya besar (60%) maka jerih payah siswa 3 tahun diperhitungkan sebagai syarat diterima di PTN.

Jujur saja, sebenarnya saya lebih setuju jalur ujian tulis SNMPTN tetap ada untuk mengakomodasi calon mahasiswa yang tersingkir dari jalur undangan. Mereka bukan tidak pintar sehingga gagal, tetapi porsi jalur undangan bagi tiap sekolah terbatas. Untuk sekolah-sekolah unggulan yang siswanya sebagian besar bagus-bagus tentu tidak semua siswanya lolos jalur undangan. Mereka harus rela ikut jalur ujian mandiri untuk memperebutkan sisa tempat duduk yang ada.

Yang diuntungkan dari kebijakan baru ini tentu Bimbel (Bimbingan Belajar). Bimbel akan diserbu anak-anak SMA sejak kelas 1 agar nilai rapor mereka bagus sehingga kans lolos jalur undangan makin besar. Akhirnya yang kita lihat nanti adalah mahasiswa-mahasiswa produk Bimbel yang hanya pandai mengerjakan soal dengan cepat tanpa mengerti konsep. Para guru juga tergoda untuk mengobral nilai agar rapor siswanya bagus (meskipun jika sekolah ketahuan mengkatrol nilai akan terkena hukuman selama 3 tahun, tetapi manusia lebih cerdik daripada aturan).

~~~~~~~~~~~~~~~

SNMPTN 2013, Hapus Jalur Ujian Tulis

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2012/03/12/120316/SNMPTN-2013,-Hapus-Jalur-Ujian-Tulis

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
menetapkan formulasi baru dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 mendatang. Tahun depan, SNMPTN hanya
dilakukan dengan jalur undangan. SNMPTN jalur tulis dihapus.

Kebijakan menetapkan menghapus SNMPTN jalur ujian tulis merupakan
implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34 Tahun
2010. Dalam Peraturan Menteri tersebut dinyatakan penerimaan mahasiswa
baru di PTN melalui dua skema, yaitu SNMPTN dan/atau jalur mandiri.

Dihubungi di Jakarta kemarin, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti)
Kemendikbud Djoko Santoso menuturkan, pihaknya memang akan menghapus
SNMPTN jalur tulis untuk tahun depan. Dia menerangkan sesuai dengan
peraturan meteri, tahun depan seleksi masuk PTN dibagi menjadi dua.
Yaitu SNMPTN dengan pagu 60 persen dari total kuota nasional, dan
seleksi jalur mandiri dengan pagu 40 persen.

Mantan rektor ITB itu menegaskan, pagu 60 persen untuk SNMPTN tadi
dilaksanakan dengan jalur undangan semuanya. “Untuk yang jalur mandiri
(40 persen dari kuota, red) kita serahkan ke majelis rektor,” ucap
Djoko. Nantinya seluruh kampus negeri melalui majelis rektor diberi
wewenang untuk mengelola, apakah sebagian dari pagu seleksi mandiri
akan dipakai jalur tulis secara nasional atau digabung sekalian dengan
jalur undangan.

Djoko mengingatkan, pagu 60 persen untuk SNMPTN itu adalah batas bawah
atau minimum. Artinya, jalur SNMPTN ini boleh lebih dari pagu yang
ditetapkan itu. Sedangkan pagu 40 persen untuk jalur mandiri itu
adalah batas atas.

Ketentuan menghapus SNMPTN jalur ujian tulis menurut Djoko menjadi
bagian dari skema menjadikan nilai ujian nasional (unas) sebagai
ketentuan penerimaan mahasiswa baru. “Kita mendukung integrasi nilai
unas untuk acuan menerima mahasiswa baru,” kata dia. Seperti
diketahui, dalam SNMPTN jalur undangan mahasiswa yang diterima dilihat
dari nilai unas dan rapor semester III, IV, dan V.

Djoko lantas menjelaskan, skema SNMPTN 2013 yang seluruhnya untuk
jalur undangan harus benar-benar diperhatikan pihak sekolah. Sebagai
perbandingan, Djoko mengatakan dalam SNMPTN tahun ini pagu mahasiswa
baru yang diterima melalui jalur undangan hanya 35 persen, sisanya
untuk SNMPTN jalur ujian tulis.

Menurut Djoko, ada konsekwensi tinggi pada sistem baru SNMPTN 2013
nanti. Yaitu, pihak sekolah dilarang main-main untuk mengatrol nilai
siswa. Sebab, resiko untuk sekolah yang terbukti mengatrol nilai rapor
siswa dilarang ikut SNMPTN jalur undangan selama tiga tahun
berturut-turut.

Dampak dari aturan ini, siswa lulusan sekolah yang di-blacklist
panitia SNMPTN karena curang hanya bisa masuk PTN melalui jalur
mandiri. Akibatnya, seperti diketahui biaya kuliah untuk jalur mandiri
ini biasanya lebih mahal dibandingkan jalur SNMPTN. “Perubahan sistem
ini adalah bentuk meningkatnya kepercayaan kami. Mohon jangan
dirusak,” kata dia. (wan)


Written by rinaldimunir

March 14th, 2012 at 9:00 am

Posted in Pendidikan

No Choice?

without comments

Seems the border between patient and giving in is blurred. Sometimes when you really dislike what has been going on, what make you standing still? Will it be hope or courage? whereas, the power of giving in?

I myself, I don’t know. I can’t give you the answer. Counting the days and manage your way. Grasp a little drops of hope, that He will not let you down.

Written by ibudidin

March 14th, 2012 at 6:03 am

Posted in Tafakur

Road to thesis : wanna change your research question?

without comments

Mulai tertarik membahasa e-learning. Awalnya, topik tesis saya arahkan ke evaluasi ERP. Namun, saya berpikir, saya ada di dunia akademik, dunia pendidikan, kenapa tidak saya ambil sesuatu yang menjadi bagian dari itu. ERP cenderung jauh dari dunia pendidikan, lebih cocok untuk industri, meskipun ada juga institusi pendidikan yang berinvestasi di ERP, namun tetap kalah jumlahnya dibandingkan perusahaan yang menggunakan software tersebut. Jadi, kenapa tidak mengalihkan topik pembahasan ke sistem e-learning?

Topik besarnya tetap software quality. Saya berusaha untuk istiqomah menekuni bidang ini. Lantas, bagaimana mengaitkan antara e-learning dengan software quality? Apakah sama dengan topik thesis yang sebelumnya dan hanya mengganti jenis software? Kalau iya, lantas model pengukuran apa yang akan dipakai? Apakah standar ISO 9126? Kalau iya, apakah model ini tidak perlu di-customize? Sudah ada atau belum evaluasi kualitas sistem e-learning yang berbasis model kualitas? Atau pertanyaan mendasar, mengapa sistem e-learning perlu dievaluasi kualitasnya? Dari perspektif siapakah nantinya evaluasi dilakukan?

Kok jadi bertambah banyak pertanyaannya?

Baik…baik..tarik nafas dulu. Kita mulai dari pertanyaan mendasar :

1. Mengapa software e-learning perlu dievaluasi?
- Setiap software perlu dievaluasi kualitasnya, bisa dari sisi proses pengembangannya ataupun dari produk jadinya. Standar evaluasi juga bermacam-macam. Umumnya menggunakan standar ISO, ISO 9001 untuk evaluasi proses dan ISO 9126 untuk produk.
- Hasil evaluasi sebuah software dapat menjadi pertimbangan untuk pemilihan, apalagi software e-learning banyak macamnya, mulai dari yang propietary hingga open source. Pemilihan yang tidak tepat dapat menimbulkan kerugian, antara lain waktu dan biaya.

2. Adakah orang yang pernah meneliti tentang evaluasi sistem e-learning?
- Ada beberapa, misalnya Lanzilotti (2006) mengembangkan  sebuah metodologi bernama eLSE untuk mengevaluasi sistem e-learning dengan penekanan pada interaksi antara user dan sistem, Abdellatief (2011) juga mengusulkan evaluasi kualitas software e-learning dari sudut pandang developer, dan Chua (2004) yang menerapkan ISO 9126 untuk mengevaluasi sistem e-learning.

3. Apa kira-kira yang belum dikerjakan oleh peneliti-peneliti di atas?
- Nah, ini dia yang agak susah dijawab. Sejauh ini, menurut saya, belum ada evaluasi yang terintegrasi. Masing-masing evaluasi belum mengerucut ke satu nilai kualitas atau belum mengkuantifikasi kualitas software, melainkan berhenti sampai ke metrik pengukuran.

4. Kira-kira lagi, bagian apa yang menarik minat saya?
- Romi Satria Wahono (http://romisatriawahono.net/2008/01/24/memilih-sistem-e-learning-berbasis-open-source/)  menyatakan bahwa memilih sistem e-learning adalah bergantung kebutuhan organisasi. Nah, ketika di suatu institusi telah mengimplementasikan sistem e-learning, bagaimana kita mengukur seberapa baik sistem tersebut telah memenuhi kebutuhan organisasi?

5. Bagaimana mengukur kualitas sebuah software dalam konteks seberapa baik software tsb memenuhi requirements?

Nah.. lebih jelas sekarang, lebih jelas dalam artian literatur apa lagi yang mesti saya cari. Jadi, kerja tak berhenti sampai di sini, perjalanan masih panjang, artinya saya harus lebih banyak bersabar dan berusaha.

Wallahu’alam


Written by indahgita

March 13th, 2012 at 9:04 am

Bapak Penjual Tahu Sumedang yang Gigih

without comments

Setiap pagi di depan rumah saya sering lewat seorang bapak penjual tahu sumedang. Dengan menyandang pikulan yang berisi dua keranjang tahu, dia berjalan sambil meneriakkan dagangannya dengan suaranya yang khas. “Tahuuuuu… tahu sumedaaang… tahuuuu. Pak, tahu sumedangnya pak…”, begitulah setiap kali dia lewat di depan rumah. Saya pun tersentuh mendengar suaranya. Segera saya panggil dia dan menyodorkan sebuah mangkuk untuk diisi dengan 10 buah tahu. Harga per biji tahu adalah Rp500.

Karena sering membeli, saya pun tergerak sekedar untuk bertanya. Jiwa civil jurnalism saya pun tergelitik untuk mengetahui tentang dirinya. Namanya Pak Asep, dia berasal dari Tanjungsari, sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang. Sumedang identik dengan tahu, anda belum ke Sumedang jika tidak makan atau membawa oleh-oleh tahunya yang khas.

Tahu yang dijual Pak Asep bukan dia yang membuat. Tahu yang sudah digoreng itu diambil dari bandar tahu. Setiap pagi Pak Asep mengambil 400 buah tahu dari bandar, lalu dia membawanya ke Bandung dengan menumpang bus umum yang setiap hari selalu melintasi jalan raya Sumedang. Jarak dari Tanjungsari ke Bandung sekitar 40 km. Di Bandung bus berhenti di terminal Cicaheum. Dari terminal Pak Asep berjalan kaki menyusuri jalan-jalan di pemukiman di kawasan Bandung Timur, seperti Antapani, Arcamanik, Sukamiskin, dan sebagainya.

Satu buah tahu dijual seharga Rp500. Dua keranjang di pikulannya itu berisi 400 buah tahu. Jadi, jika 400 buah tahu itu semuanya habis maka terkumpul uang sebanyak Rp200.000. Jika harga satu buah tahu dari bandar Rp250, berarti Pak Asep mendapat untung Rp100.000. Dikurangi ongkos bus dan makan siang, maka uang yang dibawa pulang per hari tidak mencapai Rp100.000. Segitulah rezeki yang diperoleh Pak Asep setiap hari, tidak banyak memang tetapi riil rezekinya dan yang penting halal. Jika dibandingkan dengan pegawai pajak seperti Gayus dan Dhana yang mengkorupsi uang negara milyaran rupiah, penghasilan Pak Asep tidak ada apa-apanya, meskipun begitu biar sedikit tetapi yang paling penting halal dan barokah.

Untunglah setiap hari dagangan Pak Asep habis terjual. Jam dua siang semua tahunya sudah habis dan Pak Asep bersiap kembali ke rumahnya di Tanjungsari dari terminal Cicaheum. Setiap hari selalu begitu, rutin dari Senin sampai Ahad. Tidak ada waktu untuk libur atau istirahat. Jika libur berarti Pak Asep tidak mendapat uang pada hari itu.

Setelah selesai membayar tahu yang saya beli, Pak Asep minta permisi kemudian berjalan kembali sambil memikul dagangan tahunya. Tahuuuuuu… tahu sumedaaaang… tahunya pak, begitu suaranya yang khas menawarkan tahunya.

Saya memandang lelaki gigih itu pergi. Perjuangannya mencari nafkah sangat mulia. Saya terharu dengan kerja keras Pak Asep untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Anak istrinya tentu telah menunggunya di rumah, berharap keuntungan menjual tahu yang tidak seberapa itu.

Saya kembali masuk ke dalam rumah. Anak-anak saya sangat suka dengan tahu sumedang Pak Asep. Ini saya beli untuk mereka makan. Dibalik semangkuk tahu goreng itu tersimpan kisah perjuangan seorang lelaki asal Tanjungsari, Sumedang. Semoga Allah SWT memberkahimu, Pak.


Written by rinaldimunir

March 8th, 2012 at 4:46 pm

Road to thesis : Kegalauan Pertama

without comments

Dua hari lalu rencana topik tesisku dipresentasikan. Prosesnya terbilang cukup lancar, setidaknya peluang untuk dilanjutkan cukup besar. Namun, seperti yang sudah kutebak, pasti ada revisinya. Sebetulnya, poin-poin yang perlu direvisi sebagian sudah kuprediksi sebelumnya, pasti berkaitan dengan ‘why’ aku memilih studi kasus ERP. Sejujurnya, studi kasus ini juga keputusan mendadak, jadi memang belum kuperdalam alasan pemilihannya.

Awalnya, ERP hanya ‘sekedar’ sebagai objek pengujian yaitu untuk menguji metode yang aku pilih. Mungkin karena aku tidak pandai menjelaskan maksudku memilih ERP, bapak dosen menyangkan bahwa topik utamaku adalah si ERP itu dan tentu saja harus punya alasan mengapa aku memilih ERP. Memang lega rasanya sudah sedikit ada lampu hijau, tapi memikirkan poin-poin revisinya menjadikanku sedikit galau.

Selepas presentasi, aku coba mencari-cari literatur tentang evaluasi ERP. Memang belum ada yang mengevaluasi berbasis model kualitas, ada juga yang mengevaluasi dengan kriteria tertentu (yang sudah domain specific) dan metode perhitungan yang berbeda. Namun, aku justru ragu, apakah valid kalau aku mengevaluasi ERP berbasis model kualitas. Pertanyaan lainnya adalah model kualitas yang mana yang harus dipakai? Dari perspektif apa dan siapa yang nantinya mengevaluasi? Sebenarnya untuk siapakah dilakukan evaluasi kualitas?

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul bergantian di kepalaku membuatku kewalahan mencari jawabannya. Aku biarkan saja mengambang tanpa solusi. Sementara ini aku coba mencari literatur-literatur lain yang –siapa tahu– berkaitan. Next step adalah membuat pendahuluan. Tiga pekan lagi harus dipresentasikan. Seperti biasa, begitu melihat masih ada 21 hari lagi, keinginanku untuk segera menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dikepalaku menjadi surut. Nanti-nantilah…siapa tahu tiba-tiba muncul ilham, inspirasi, ide atau apalah namanya yang mampu mencerahkan kegalauanku.

Wallahu’alam

 


Written by indahgita

March 8th, 2012 at 7:41 am