if99.net

IF99 ITB

Archive for March, 2012

Bus notification board

without comments

Well, not all bus stop have this. At least for a crowded bus stop this will be useful.

Written by Veriyanta Kusuma

March 30th, 2012 at 8:41 pm

Posted in Uncategorized

Bus notification board

without comments

Well, not all bus stop have this. At least for a crowded bus stop this will be useful.

Written by Veriyanta Kusuma

March 30th, 2012 at 8:41 pm

Posted in Uncategorized

Kami Hanya Mengajarkan Mahasiswa Demo Tugas di Lab

without comments

Aksi-aksi penolakan kenaikan harga BBM beberapa hari ini merebak di berbagai daerah di tanah air. Sebagian besar aksi itu dipelopori oleh mahasiswa. Hanya saja sangat disayangkan aksi demo jalanan tersebut justru cenderung anarkis. Para mahasiswa menutup jalan, membakar ban, membakar motor dan mobil, merusak pagar Gedung DPR, dan aksi-aksi lain yang cenderung anarkis (baca berita ini). Aksi anarkisme bukan hanya milik ormas seperti yang sering dikesankan kepada ormas tertentu, tetapi kaum intelektual seperti mahasiswa pun melakukan hal yang serupa.

Kemarin saya melewati jalan Dago, tepat di bawah jembatan layang Pasupati serombongan mahasiswa berdemo di tengah jalan. Aksi mereka membuat polisi terpaksa harus menutup jalan dan mengalihkan lalu lintas ke jalan lain.

Saya setuju mahasiswa melakukan demo. Tetapi pertanyaannya, kenapa mahasiswa melakukan demo dengan cara-cara yang tidak mencerminkan intelektualitas mereka? Membakar ban, merusak pagar, menutup jalan, adalah tindakan yang merugikan dan menyengsarakan banyak orang. Mahasiswa adalah kaum yang cerdas, maka kalau melakukan demo pun seharusnya juga dengan cara yang cerdas. Cerdas di sini artinya menghargai hak orang lain pula, misalnya pengguna jalan, pemilik motor/mobil yang dibakar, dan sebagainya. Silakan melakukan demo tetapi jangan sampai merusak atau mengganggu orang lain. Di dalam kuliah mahasiswa sudah diajarkan bagaimana pentingnya menghargai hak orang lain, misalnya HAKI, menyebutkan sumber referensi di dalam tugas makalah, laporan skripsi, dan sebagainya.


(Keterangan foto: Sejumlah aktivis mahasiswa membentang spanduk di belakang ban yang dibakar untuk memblokade jalan di depan Kampus YAI, Salemba, Jakarta, Kamis (29/3) malam. ANTARA/Ismar Patrizki. Sumber foto dari Tempo.co.id)


(Keterangan foto: Sejumlah warga melihat mobil terbakar di jalan Diponegoro, Jakarta, Kamis malam (29/3). Aksi menolak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) berakhir bentrok. ANTARA/M Agung Rajasa. Sumber foto: Tempo.co.id)

Apakah mahasiswa kita sudah demikian beringasnya seperti pada foto di atas? Begitukah cara seorang calon intelektual menyalurkan aspirasinya menolak kenaikan BBM? Boleh jadi aksi demo mahasiswa tersebut ditunggangi provokator. Mereka, para provokator, memakai jaket mahasiswa yang entah dibuat di mana supaya tidak bisa dibedakan dengan mahasiswa yang “asli”. Tujuan mereka adalah memanfaatkan aksi demo untuk memanaskan situasi supaya tercipta chaos, huru-hara, kerusuhan, dan aksi-aksi anarkisme yang pada akhrinya merusak idealisme mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang “asli” merasa terpancing dan akhirnya ikut melakukan aksi anarkis yang diinginkan provokator.

Secara bergurau saya mengatakan kepada mahasiswa saya, kami para dosen di Informatika ITB tidak pernah mengajarkan mahasiswa demo di jalanan sebab itu bukan aksi yang elegan. Yang kami ajarkan adalah demo tugas-tugas program di lab di depan asisten atau dosen mata kuliah. Setumpuk tugas besar (tubes) yang dikerjakan mahasiswa kami perlu dinilai oleh asisten/dosen dengan cara demo langsung dengan komputer.

Demo di jalan bukan berarti sesuatu yang “haram”, namun lakukanlah dengan cara yang elegan, menghargai hak orang lain, dan damai.


Written by rinaldimunir

March 30th, 2012 at 11:51 am

Posted in Indonesiaku

Jalan Lambat Karena Banyak Makan Karbohidrat?

without comments

Kalau saya berjalan kaki bersama istri, istri saya selalu protes karena jalan saya terlalu cepat sehingga istri selalu ketinggalan. Padahal menurut saya kecepatan jalan saya normal saja, tetapi istri — dan juga teman yang lain — menilai jalan saya sangat cepat. Saya sudah mengatur ritme langkah lho agar berjalan lambat, tetapi karena natural saya memang begitu maka sulit diubah. Saya kira jalan kaki saya biasa-biasa saja, ternyata banyak orang lain yang justru jalannya lebih cepat dari saya.

Rata-rata orang Indonesia jalannya lambat atau santai. Coba saja perhatikan gaya berjalan orang kita sehari-hari di pusat-pusat keramaian. Tidak usah jauh-jauh, di kampus saya di ITB mahasiswa kalau berjalan kaki terkesan santai, tidak begegas, bahkan berjalan perlahan-lahan sambil bercengkerama dengan teman-temannya ketawa-ketiwi. Di kampus lain keadaannya kurang lebih sama.

Kalau dibandingkan dengan negara maju, gaya berjalan orang kita ini memang termasuk nyantai. Kalau anda pernah melihat di TV bagaimana orang Jepang berjalan bergegas di pusat-pusat keramaian di Tokyo, maka gaya jalan orang Indonesia tidak apa-apanya. Ribuan orang di Tokyo berjalan seperti terburu-buru menuju tempat kerja, stasiun kereta api, dan tempat-tenpat aktivitas lainnya. Pemandangan yang sama kita temui di Singapura, Hongkong, London, New York, dan kota-kota negara maju lainnya. Saya sih belum pernah ke sana, hanya melihat gambarnya saja di televisi.

Gaya berjalan yang cepat itu boleh jadi karena terburu-buru, dikejar waktu, stres, rush, dan sebagainya, tetapi setidaknya hal itu menunjukkan bahwa bagi penduduk negara maju waktu sangat berharga. Waktu tidak boleh disia-siakan, kalau lambat maka kesempatan bisa diambil oleh orang lain. Telat sedikit maka ditinggalkan kereta api yang tepat waktu misalnya, atau tempat duduk sudah diisi orang lain. Semua berjalan on time dan serba teratur.

Bagi bangsa kita, gaya berjalan pelan sudah menjadi kultur, bersesuaian pula dengan gaya hidup yang terkesan santai. Alon-alon asal kelakon, biar lambat asal selamat, begitu peribahasa yang populer di negeri kita. Salah satu penyebab orang Indonesia berjalan lambat mungkin karena pola makan. Masyarakat kita kalau makan terlalu banyak porsi karbohidratnya, terutama nasi. Mereka makan nasi dengan lauk yang juga karbohidrat, misalnya nasi dengan lauk mi goreng, bihun, perkedel jagung, sayur kentang, dan lain-lain. Karena isi perut kebanyakan karbohidrat maka menyebabkan lembam dan malas bergerak. Coba kalau porsi karbohidratnya dikurangi dan proteinnya (lauk pauk) ditingkatkan, jalan mereka akan lebih gesit seperti orang Jepang, he..he.

Menu makan orang Jepang kalau saya perhatikan di televisi lebih banyak makan protein dan sedikit nasi. Nasi hanya sekepal, tetapi lauknya itu lho, banyak. Lauk pauknya umumnya ikan. Orang Jepang gemar makan ikan sehingga mereka terlihat langsing-langsing. Kalau badan langsing maka jalan kakinya akan gesit dan lincah.

Namun, biarpun begitu, jika disuruh memilih hidup di Singapura, Jepang, Hongkong, atau Indonesia, saya tetap memilih lebih suka hidup di Indonesia, he..he. Lebih nyaman dan tidak stres.


Written by rinaldimunir

March 29th, 2012 at 8:15 am

Posted in Indonesiaku

Mulai Takut Makan Buah Impor

without comments

Beberapa hari yang lalu saya menonton berita di televisi tentang buah impor. Buah impor yang sangat deras masuk ke negeri kita ternyata tidak semuanya baik untuk dimakan. Dari hasil penyidikan ternyata beberapa jenis buah mengandung bahan pengawet. Buah-buahan itu diawetkan dengan formalin. Mungkin caranya buah direndam di dalam larutan formalin beberapa lama kemudian dikeringkan. Sebagian jenis buah ada yang dilapisi lilin dan zat pewarna agar tampak lebih segar, bercahaya, menarik, dan kencang. Buah yang diberi formalin dan lilin adalah jeruk, anggur dan apel. Zat pewarna tekstil biasanya disuntikkan ke semangka, pir, pisang, jeruk, mangga dan belimbing (Sumber: Republika).

Seperti dikutip dari sini:

Diberitakan sebelumnya, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan Badan Karantina Kementerian Pertanian, Arifin Tasrif mengeluarkan pernyataan mengejutkan. “ Buah impor mengandung formalin. Indonesia menjadi keranjang sampah, “ katanya.

Menurut Arifin, buah impor yang tidak layak konsumsi akibat kandungan bahan kimia berbahaya membanjiri pasar dalam negeri. Sekitar 800 ribu ton buah yang tidak laku di negara lain dengan leluasa masuk ke Indonesia melalui jalur resmi maupun jalur tidak resmi.

“Tahun lalu, kami menolak masuk sekitar 1000 ton buah impor karena mengandung berbagai residu atau bahan kimia berbahaya seperti formalin dan zat pewarna,” katanya di sela-sela acara Rembug Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (28/1).

Dijelaskan Arifin, bahan kimia berbahaya seperti formalin dan zat pewarna tersebut sengaja dicampurkan ke buah. Tujuannya agar buah menjadi lebih awet dan tetap terlihat segar meski sudah dipanen setengah tahun lalu.

Padahal endapan logam dan kandungan bahan kimia yang dicampurkan pada buah impor tersebut sangat berbahaya bagi yang mengkonsumsinya. Karena konsumsi dalam jangka panjang, bisa mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan. Seperti kelainan autis pada anak dan perilaku hiperaktif.

Diakui buah yang diawetkan dengan formalin penampilannya memang jauh lebih menarik. Ini terjadi karena bagian kulitnya terlihat kencang dan segar meski sudah berbulan-bulan dipanen. Buah yang biasanya diberi formalin seperti jeruk, anggur, dan apel. Sedangkan zat pewarna biasanya diberikan terhadap pier, mangga, belimbing, pisang, jeruk, dan semangka. Buah-buah itu antara lain diimpor China, Thailand, Amerika, New Zealand, dan beberapa negara lainnya.

Arifin Tasrif menambahkan , mudahnya buah impor masuk ke Indonesia tak terlepas dari sulitnya pengawasan di lapangan. Dengan pintu impor yang terlalu banyak, baik yang bersifat legal maupun ilegal, membuat buah impor dengan mudah merangsek masuk ke pasar dalam negeri.

Buah-buahan impor yang dijual di lapak buah (Sumber foto: bisnis-jabar.com)

Buah-buahan impor di kios pedagang buah (Sumber: bisnis-jabar.com)

Makanya jangan heran kalau kita sering melihat buah-buahan di lapak pedagang buah (terutama apel, anggur, dan jeruk) tetap tahan lama dipajang tanpa membusuk. Ini berbeda dengan buah lokal yang tidak tahan lama jika disimpan. Negara asal buah itu adalah China, Selandia Baru, Thailand, India, Amerika Serikat, dan negara lain. Coba anda bayangkan waktu yang ditempuh oleh buah itu dari China ke Jakarta kira-kira dua minggu. Di lapak pedagang buah itu dijajakan dalam waktu lebih kurang tiga minggu. Ini belum termasuk waktu dari perkebunan ke pelabuhan ekspor dan waktu tunggu buah di pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta). Waktunya akan makin lama lagi jika buah itu didistribusikan ke wilayah lain di Indonesia. Jadi, jika dipikir-pikir buah impor itu tidak segar lagi ketika sampai ke tangan konsumen, namun karena ada yang memakai formalin atau lilin buah itu terlihat seperti masih segar.

Menurut Arifin Tasril, sekitar 800 ribu ton buah yg dikirim ke Indonesia adalah buah yg tak laku atau kualitas buruk di negara asal.

Hiii, saya yang hobi makan buah sekarang harus berhati-hati dalam mengkonsumsi buah, terutama buah impor. Sukurlah saya jarang makan buah impor itu, hanya sesekali saja. Sebagian besar buah yang saya makan adalah buah lokal seperti nanas, sawo, kedondong, semangka, mangga, salak, dan melon. Selain membantu penghidupan petani dengan membeli buah dari negeri sendiri, buah lokal jauh lebih sehat karena buah lokal jelas tidak pakai bahan pengawet seperti formalin atau lilin. Yang perlu diwaspadai terhadap buah lokal adalah racun pestisida. Beberapa buah produksi lokal yang rawan mengandung pestisida adalah stoberi (baca ini).

Ayo banyak makan buah agar tubuh sehat. Mari kita bantu petani kita dengan membeli dan mengkonsumsi buah-buahan lokal.


Written by rinaldimunir

March 26th, 2012 at 7:45 am

Posted in Gado-gado

Hello world!

without comments

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Written by ibudidin

March 24th, 2012 at 4:05 am

Posted in Uncategorized

Dari TK Hingga Mahasiswa Ada Bimbel-nya

without comments

Bimbingan Belajar atau Bimbel sekarang ini ada di mana-mana, terutama di kota-kota. Para siswa mulai dari SD hingga SMA mengikuti Bimbel untuk mendongkrak prestasi belajar mereka di sekolah. Bimbel ada karena siswa merasa pelajaran di sekolah masih kurang dimengerti sehingga mereka merasa perlu ikut Bimbel. Orangtua juga sibuk di luar sehingga tidak bisa membimbing anak-anaknya belajar di rumah. Baiklah, itu alasan yang bisa dipahami meskipun tidak bsia selalu menjadi pembenaran.

Tidak hanya untuk siswa SD hingga SMA, untuk anak prasekolah (TK) pun juga ada Bimbel-nya. Saya sering membaca iklan di koran atau yang ditempel di pohon-pohon tentang bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung bagi anak TK. Bahkan banyak orangtua yang telah memasukkan anak-anak mereka yang masih TK ikut les matematika Kumon. Kasihan anak TK, belum waktunya mereka dipaksa untuk belajar menulis, membaca, dan berhitung, tetapi orangtua sudah memasukkan mereka ke Bimbel lebih dini.

Menarik menyoroti fenomena bahwa Bimbel bukan hanya untuk siswa yang merasa diri lemah, tetapi siswa-siswa yang otaknya pintar pun ikut-ikutan Bimbel. Mereka ini menurut saya adalah anak-anak yang merasa kurang percaya diri (PD) sehingga ikut trend teman-temannya yang les di Bimbel. Persaingan memperebutkan sekolah favorit di tingkat SMP dan SMA berdasarkan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) telah membuat banyak siswa-siswa yang sebenarnya tidak perlu Bimbel akhirnya merengek-rengek kepada orangtuanya agar ikut Bimbel.

Bagi Bimbel, memperoleh siswa yang pintar adalah berkah atau aset yang berharga, sebab keberhasilan siswa tersebut masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMP/SMA/PTN) akan mengangkat nama lembaga mereka. Bimbel akan mengklaim inilah siswa-siswa mereka yang berhasil masuk sekolah atau PTN favorit. Kadang-kadang siswa yang mendapat ranking di sekolah dibebaskan dari biaya Bimbel atau diberi potongan harga yang besar agar mereka tertarik masuk.

Jangan dikira Bimbel itu hanya sampai SMA saja. Bahkan hingga menjadi mahasiswa pun masih ada Bimbel. Setidaknya ini saya temukan di ITB, ada Bimbel yang dikhususkan bagi mahasiswa TPB (tingkat 1 ITB) dengan harga yang mencapai jutaan rupiah, bahkan pakai garansi nilai A lagi. Lihat foto di bawah ini:

Sumber foto dari sini: http://wa2010.ee.itb.ac.id/content/bimbingan-test-tpb-itb

Bimbel buat mahasiswa ITB ini muncul diduga sebagai “kerasnya” efek persaingan memilih Program Studi pada tahun kedua di ITB. Peminat Prodi tertentu di suatu fakultas sangat banyak tetapi jumlah kursi terbatas, akhirnya seleksi terpaksa dilakukan berdasarkan IPK TPB. FYI, di ITB mahasiswa masuk Prodi pada tahun kedua. Ketika menjadi mahasiswa baru ITB statusnya adalah sebagai mahasiswa di fakultasnya. Jadi, ketika ikut SNMPTN calon mahasiswa yang memilih ITB hanya bisa memilih fakultas saja (gal ini berbeda di PT lain dimana mahasiswanya sudah memilih jurusan/Prodi ketika baru masuk). Nanti pada tahun kedua mereka berada pada Prodi pilihannya sesuai dengan minat (dari kuisioner yang diisi sebanyak 3 kali), daya tampung, dan IPK. Karena itu “wajar” jika mahasiswa TPB-ITB berlomba mendapat IPK tinggi agar bisa lolos masuk Prodi pilihannya.

Adanya Bimbel buat mahasiswa itu tentu fenomena yang ganjil karena terjadi di ITB. Dulu belum pernah ada Bimbel seperti ini, toh kami-kami bisa juga lulus dengan baik. Mungkin lain dulu lain sekarang. Dengan tingkat ekonomi mahasiswa baru ITB yang sebagian besar dari kelas atas, maka hal ini ditangkap sebagai peluang bisnis bagi mahasiswa lain. Tentu saja hal ini sah-sah saja, namun bagi saya tetap merasa aneh karena terjadi di kampus saya. Apakah kualitas mahasiswa baru sekarang ini semakin menurun sehingga sampai ada Bimbel? Atau karena sengitnya pemilihan Prodi? Atau karena faktor lain? Yang saya khawatirkan adalah jangan sampai mahasiswa menganggap segala persoalan bisa diselesaikan dengan uang. Tidak baik.


Written by rinaldimunir

March 23rd, 2012 at 3:22 pm

Perangkat Pertolongan Siap Saji di Rumah

without comments

Ini bukan sekedar P3K, tapi perangkat pertolongan pertama yang menurut hemat saya penting dibutuhkan di rumah, baik untuk orang dewasa maupun balita. Please note, catatan ini bukan resep atau petunjuk dokter, just personal experinces.

1. Paracetamol anak sediaan sirup, apalagi anak2 saya susah minum obat, jadi sirup yang manis cukup membantu =) Biasanya 1 sendok takar 5ml mengandung 120mg paracet.

2. Paracetamol dewasa pil, ini terutama untuk saya yang kerap migren :( 1 pil umumnya mengandung 500mg paracet.

3. Madu, saya suka yang sudah tercampur habbat biar ga makan ini itu satu2 berasa banyak :D madu bisa yg madu murni, propolis, royal jelly. Oh iya, tips membuat sendiri campuran madu habbat adalah 1:3, misalnya 1/4 botol diisi bubuk habat, 3/4 botol dipenuhi dengan madu. Resep ini saya dengar dari dokter pengisi materi kesehatan di Radio Dakwah Islamiyah yang keren itu loh =) Tapi saya belum pernah bikin sendiri, sebab yang sudah campuran banyak di pasaran.

4. Syrup gurah anak (produksi Al Afiat), biasanya saya pakai khusus jika mba nana demam batpil. Alhamdulillah selama ini cocok jika mba nana demam batpil terbantu mempercepat pemulihan. Isinya sebenarnya madu propolis & royal jelly ditambah rempah seperti habat, jahe, temulawak, kencur. Sebenarnya ini adalah resep dari ibu saya kalau anak panas/batpil. Kencur diparut, diperes campur madu. Atau kunyit diparut, peres campur madu. Jadi ini adalah versi industri alias cari praktis dari resep ibu. Subhanallah wisdom ortu2 kita teh =)

5. Sari kurma, ini makanan yang lembut dan berkalori tinggi. Cocok untuk pertolongan pertama jika habis muntah, atau habis pingsan dan membutuhkan kalori tinggi yg gampang dikunyah/telan dan dicerna usus. Dan bagi ibu menyusui, sari kurma helpful kan =)

6. Minyak but-but, yang ini ahoy buat mengoles gatal2, digigit serangga, kaki pecah2, dan sejenisnya. Pernah saya dan mba nana kena pinjal (dari kucing yg melahirkan), gatel2 digaruk lecet, dioles pake but-but Alhamdulillah terbantu. Mba nana sebut ini minyak brut brut :D

7. Minyak herba jawi 99, sodaranya but-but yang pecah kongsi (nggosip). Tetapi yang ini peruntukkan nyeri sendi, pegel-pegel. Saya kadang-kadang memakai untuk memijit telapak kaki sebelum tidur jika penat setelah seharian beraktifitas, apalagi jika banyak berdiri.

8. Minyak sereh, minyak kayu putih, balsem anak. Saya tidak rutin mengoles minyak kayu putih untuk anak setelah mandi. Minyak-minyak ini saya pakai jika udara terasa lebih dingin atau berangin. Atau digunakan bersama dengan baby oil (boleh juga olive oil) untuk pijat bayi/anak, sehingga sekaligus menghangatkan badan. Untuk dewasa minyak anget2 bisa dicampur lotion atau olive oil untuk massage =)

9. Betadine, plester, kasa, sabun detol. Untuk P3K jatuh2 dan sejenisnya.

Jika kebertahapan pertolongan pertama belum mencukupi, maka perlu ke tenaga medis yang bisa menolong insyaAllah =)

Mohon maaf sebut merek, bagi merek lain yang banyak sekali variannya, mohon maaf juga tidak tercantum disini sebab sejauh ini saya sudah cukup dengan produk diatas. insyaAllah produk merek lain bagus-bagus, dan rejeki tak akan kemana (iya tak) :D .

Written by ibudidin

March 23rd, 2012 at 12:13 am

Posted in Sehat

Cukup

without comments

Rasanya sudah cukup ketidakmasukakalan ini. Dua bulan lagi, akan kuperjuangkan langkahku sendiri.

Written by ibu didin

March 22nd, 2012 at 11:34 pm

Posted in Tafakur

Hadiah Terindah

without comments

—– Saat menerima hadiah, apapun bentuknya, satu hal yang menyenangkan hati adalah kita tahu bahwa kita diingat oleh orang lain. —–


Written by indahgita

March 21st, 2012 at 8:07 am

Posted in Uncategorized