if99.net

IF99 ITB

Archive for January, 2012

Sudahkah Kita Ikhlas dalam Beribadah?

without comments

Apa niatmu beribadah? Sudah ikhlaskah niatmu ketika bersedekah? Apakah kamu bersedekah supaya dianggap seorang dermawan? Apakah niatmu berjihad/berperang untuk dianggap sebagai mati syahid? Apakah niatmu menuntut ilmu untuk menjadi orang terkenal?

Jangan-jangan kita sudah salah niat selama ini, jangan-jangan niat ikhlas kita sudah tercemar dengan keinginan dipuji (riya). Kalau begitu, kita akan termasuk orang yang merugi di akhirat nanti. Kita mungkin sudah mendapatkan tujuan beribadah itu di dunia, tetapi di akhirat Allah SWT melemparkan kita ke api neraka karena kita berdusta dengan niat itu. Inilah hadist Qudsi yang mengingatkan kita agar selalu beribadahj itu semata-mata ikhlas karean Allah:

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya manusia pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun membenarkannya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata kerana Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau berdusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (bertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya orang (yang dihisab) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah kerana engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau berdusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Berikutnya (yang dihisab) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata kerana Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”

Merinding saya membacanya. Astaghfirullahal’adzim, ampuni kami Ya Allah karena ketidakikhlasan kami…

(renungan setelah mendengar khutbah Jumat Ust. Athian Ali di Masjid Salman tadi siang)


Written by rinaldimunir

January 27th, 2012 at 3:59 pm

Posted in Agama,Renunganku

Bismillaahirrahmaanirrahiim, Memulai Niat ke Tanah Suci

without comments

Hari ini hari yang mengharukan bagi saya. Dengan mengucapkan bismillah, sepeda motor saya memasuki halaman sebuah bank syariah. Semalam saya sudah berniat akan membuat rekening tabungan haji pada hari ini, dan tadi pagi niat itu dengan mantap saya wujudkan.

Pegawai costumer service bank menjelaskan dengan ramah syarat-syarat untuk membuka tabungan haji, lalu ia menerangkan syarat-syarat untuk mendapatkan porsi haji dari Depag. Karena peminat naik haji sangat banyak sementara kuota haji sangat terbatas, maka bagi warga Bandung yang mendaftar pada tahun ini harus menunggu selama 5 tahun baru bisa berangkat. Jadi, jika semuanya lancar, saya baru bisa berangkat haji pada tahun 2017. Tidak masalah bagi saya menunggu selama itu, kalau memang sudah niat Insya Allah akan sampai juga ke sana. Hari ini perjalanan ke Tanah Suci sudah saya mula-i.

Keluar dari bank saya tidak dapat menyembunyikan perasaan haru ini, bergetar sekali rasanya akan menjadi Tamu Allah nanti. Tidak terasa mata saya agak basah menahan keharuan.

Mudah-mudahan Allah memanjangkan umur saya dan memberi selalu berkah kesehatan agar saya bisa mewujudkan niat yang suci ini. Saya sudah merindukan menjadi tamu Allah di Baitullah, saya sudah rindu ingin ke Tanah Suci. Ya Allah, ridhoilah niat saya ini, amiin.


Written by rinaldimunir

January 26th, 2012 at 2:17 pm

Posted in Pengalamanku

“di larang makan disini”

without comments

Kesalahan banyak orang dalam menulis adalah tidak bisa membedakan “di” sebagai imbuhan dan “di” sebagai kata depan. Akibatnya, kita sering membaca pengumuman dengan penggunaan kata “di” yang salah. Kesalahan itu adalah menuliskan “di” terpisah dengan kata dasar padahal seharusnya disambung karena sebagai awalan (prefix), sebaliknya menuliskan “di” bersambung dengan kata yang menyatakan tempat padahal seharusnya dipisah karena sebagai kata depan. Bahkan, ketika saya memeriksa laporan Tugas Akhir mahasiswa masih banyak saya temukan kesalahan seperti ini.

Misalnya:
1. Di Jual sebuah rumah di Jalan Anggrek, luas tanah 120 m2, luas bangunan 45 m2
2. Di larang buang sampah ditanah ini

seharusnya:
1. Dijual sebuah rumah di Jalan Anggrek, luas tanah 120 m2, luas bangunan 45 m2
2. Dilarang buang sampah di tanah ini.

karena, “di” pada kalimat pertama di atas adalah imbuhan awalan, jadi penggunaannya harus disambung dengan kata dasar.

Untuk kalimat kedua, “di” yang pertama juga adalah imbuhan sehingga menjadi Dilarang, tetapi “di” yang kedua adalah kata depan, sehingga seharusnya ditulis di tanah.

Masih banyak kesalahan lainnya seperti disini seharusnya di sini, diatas seharusnya di atas, di berikan seharusnya diberikan, di maafkan seharusnya dimaafkan, di baca seharusnya dibaca, di buka seharusnya dibuka, dan lain-lain sebagainya.

Menulis dengan kaidah bahasa yang benar itu penting, sebab bahasa tulis berbeda dengan bahasa lisan. Tulisan itu abadi dan dibaca orang lain, sedangkan lisan itu hanya sekali dan hilang bersamaan dengan waktu.


Written by rinaldimunir

January 25th, 2012 at 4:54 pm

Posted in Gado-gado

Kecupan Terakhir Sang Ayah untuk Buah Hati (Korban Xenia Maut)

without comments

Ini foto Sigit Prasetyo, 2,5 tahun, yang tewas setelah ditabrak Xenia gila di Jakarta 22 Januari 2012 yang lalu. Bersama Sigit tewas pula 8 orang lainnya dan belasan orang lainnya luka berat. Di antara yang tewas itu ada ibu hamil 3 bulan dan empat orang yang masih satu keluarga dari Jepara.

Foto ini saya peroleh dari akun seseorang di Fesbuk. Melihat foto tersebut perasaan saya remuk redam dibuatnya, tidak kuasa saya menitikkkan air mata. Tidak tega melihatnya, terbayang anak-anak saya waktu seumuran dia. Pada foto di atas sang Ayah masih tidak sadar kalau anaknya sudah mati, dia terus mengecup anaknya. Di sekelilingnya mayat-mayat lain bergelimpangan. Benar-benar mengerikan!

Video amatir (tanpa sensor) yang merekam suasana setelah kecelakaan tadi lebih dramatis lagi. Tampak korban-korban yang bergelimpangan dan sebagian dinaikkan ke atas mobil pick-up. Si Ayah tadi waktu dinaikkan ke mobil pick-up masih terus menyodorkan botol susu pada anaknya sambil berkata mimik…mimik. Hati siapa yang tidak hancur melihatnya itu. Saya menulis ini saja sampai berlinang air mata membayangkan bocah malang itu.

Kalau mau melihat videonya, klik saja ini:
http://www.youtube.com/watch?v=Jy9pWZqh7s0
Saya tidak tega menayangkan cuplikan gambar video tersebut di sini.

Mau berkomentar apa lagi terhadap minuman keras, narkoba, dan kehidupan malam? Akibat minuman keras dan narkoba yang dipakai si supir maut Xenia itu — seorang perempuan bertubuh subur berusia 29 tahun –(beritanya baca di sini), tawa riang bocah malang ini tidak akan pernah terdengar lagi, berapapun hukuman yang pantas untuk si pembunuh itu.

Selamat jalan, Nak, engkau sekarang pasti sudah bermain dan berlari-lari di Taman Surga. Semoga Ayahmu dikuatkan dan ditabahkan hatinya karena kehilanganmu.


Written by rinaldimunir

January 24th, 2012 at 3:36 pm

Posted in Indonesiaku

Foto-Foto Jembatan Miring Banten Menghebohkan Dunia

without comments

Foto anak SD yang meniti bahaya di jembatan miring di Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, dengan cepat menyebar di dunia maya (baca tulisan sebelumnya tentang Toilet vs Jembatan Miring). Para wartawan asing pun mencari jembatan itu dan membuat foto-foto eksklusif. Mereka mewartakan ke seluruh dunia lewat media.

Salah satu media di Inggris (Daily Mail) bahkan menganalogikan aksi siswa SD itu seperti aksi Jones di dalam film Indiana Jones yang menyeberangi jembatan rusak. Mereka tidak habis pikir jembatan rusak yang membahayakan ini seperti dibiarkan oleh Pemerintah Indonesia, sembari mendecakkan kekaguman kepada siswa-siswa SD itu yang mempunyai semangat bersekolah yang tinggi sehingga berani menyeberangi jembatan miring itu setiap hari.

Berikut foto-foto aksi mendebarkan siswa SD dan orang dewasa yang menyeberangi jembatan miring itu yang bersumber dari kantor berita Reuters dan AP seperti dikutip dari situs Daily Mail Online. Semoga para wakil rakyat di DPR tersadar setelah melihat foto-foto ini serta mengakhiri kerakusan mereka yang menghabiskan uang negara untuk sesuatu yang tidak penting (toilet, renovasi ruang banggar, lampu, tisu, kalender, dll). Buat SBY juga tersadar mengakhiri politik pencitraannya yang tidak memberikan manfaat apa-apa bagi rakyat kecil.

Meniti bahaya: Aksi mendebarkan 1

Meniti bahaya: Aksi mendebarkan 2

Meniti bahaya: Aksi mendebarkan 3

Perbandingan aksi siswa SD dengan aksi Indiana Jones:

Aksi siswa SD

Aksi Indiana Jones


Written by rinaldimunir

January 21st, 2012 at 8:51 am

Posted in Indonesiaku

Inilah yang diperbuat keimanan

without comments

Membuka mata dan hati.
Menumbuhkan kepekaan.
Menyirai kejelitaan, keserasian, dan kesempurnaan…
Iman adalah persepsi baru terhadap alam,
apresiasi baru terhadap keindahan,
dan kehidupan di muka bumi,
di atas pentas ciptaan Allah,
sepanjang malam dan siang…

(Sayyid Quthb)

Written by ibu didin

January 20th, 2012 at 10:06 pm

Posted in Puisi

Dakwah di Batu

without comments

Di Batu ini, topik untuk dakwah yang cukup urgent menurut saya adalah:
- ‘trend’ anak muda yang hamil di luar nikah, nauzubillah kok ‘trend’ ya? Inilah salah satu tantangan pembangunan daerah wisata yang tidak dikopling dengan pembangunan karakter alias pemahaman agama.
- mata rantai birrul walidain yang kurang, perilaku terhadap orang tua yang sudah renta tidak baik, berulang/diwariskan ke anak
- pentingnya menegakkan sholat lima waktu, bagi petani yang kesawah seharian, merasa ‘kotor’ badan dan pakaiannya. Perlu penjelasan perbedaan kotor dan najis, terutama adalah pentignnya sholat sebagai amalan yang pertama dihisab.
- mabok/miras, main judi/togel, klenik

Written by ibu didin

January 20th, 2012 at 8:23 pm

Posted in Langkah,Tafakur

Teman imajiner

without comments

Inilah tempat meluapkan sesuatu yang dipendam.
Dia seolah-olah mendengarkan dengan empati.  
Dan dia memberikan tanggapan atau diam saja tepat sesuai yang kuinginkan.  
Dia teman imajiner, untuk menahan amarah atau kekesalan
yang tidak mempunyai tempat dikeluarkan.

Written by ibu didin

January 20th, 2012 at 7:47 pm

Posted in Tafakur

Bapak Penjual Amplop Itu Rajin Shalat

without comments

Saya bertemu lagi dengan Bapak penjual amplop di depan Masjid Salman. Sudah beberapa minggu saya tidak melihatnya berjualan pada hari Jumat di depan Salman, tetapi kali ini saya “beruntung” bertemu dia lagi. Tadi siang saya agak telat menuju Salman untuk shalat Jumat, saya datang ketika adzan mulai berkumandang. Ketika berjalan memasuki jalan lingkar Taman Ganesha yang menuju Masjid Salman ITB, saya melihat seonggok dagangan yang ditinggal pergi pemiliknya. Saya yakin itu pasti dagangan Bapak penjual amplop sebab ada beberapa kotak amplop yang ditutupi kertas kardus di atasnya. Tas lusuh di atas tembok batu di belakang itu pasti tas miliknya.

Dagangan Bapak penjual amplop, ditinggal dulu karena pemiliknya shalat Jumat

Bapak penjual amplop itu ternyata bernama Pak Darta, bukan Pak Suhud seperti yang ditulis oleh Romi yang mewawancarai dia beberapa waktu yang dulu. Alhamdulillah ternyata Pak Darta tidak pernah lalai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu shalat. Dulu, ketika tulisan pertama tentang Bapak itu saya muat di blog ini ada pembaca yang menyangsikan dia seperti pedagang kaki lima lain di sekitar Salman yang tetap berjualan dan tidak ikut shalat Jumat. Tetapi, Pak Darta tidak termasuk pedagang seperti itu. Dia tinggalkan dagangannya begitu saja ketika adzan berkumandang lalu berjalan menuju masjid untuk shalat Jumat.

Selesai shalat Jumat saya berniat menemui Bapak itu lagi untuk membeli amplopnya. Saya ingin membeli sepuluh bungkus lagi. Amplop yang dulu saya beli belum pernah terpakai hingga saat ini, tetapi tidak apa-apa saya ingin membelinya lagi. Saya percaya bahwa dagangan orang-orang kecil itu mengandung barokah, karena ada ketulusan, kejujuran, dan perjuangan hidup di dalamnya.

Bapak itu sudah selesai shalat Jumat dan sudah berada di depan dagangannya. Ketika langkah saya semakin mendekat, saya perhatikan beberapa orang silih berganti membeli dagangan amplopnya. Ada yang membeli satu bungkus, dua bungkus, dan sebagainya. Alhamdulillah, selalu ada saja rezeki buat si Bapak itu ya. Pembeli umumnya melebihkan pembayaran dengan niat sedekah (begitu kira-kira yang saya perhatikan).

Setelah suasana agak sepi baru saya dekati Pak Darta. Penampilannya sekarang terlihat lebih segar dibandingkan pertama kali saya bertemu dia dulu, tetapi tetap seja raut kerentaan, tangan bergetar, dan suara lirihnya masih melekat. Sambil membeli saya ingin tanya-tanya sedikit. Pak Darta memang tidak kenal saya dan beliau juga tidak tahu kalau saya menulis tentang kisahnya, tapi itu tidak penting.

Tukang koran yang berjualan di depan Taman Ganesha ikut menghampiri kami. Rupanya para pedagang di sekitar Taman Ganesha itu terlihat peduli dengan Pak Darta. Sejak tulisan pertama saya tentang Bapak penjual amplop dimuat di blog ini, sudah banyak orang yang datang mencari dia sehingga para pedagang di sana hafal dengan Pak Darta. Para pedagang itu pula yang menjaga barang dagangan Pak Darta bila bapak itu shalat di masjid Salman. Ah, siapa pula orang orang yang tega mencuri dagangan amplop Pak Darta.

Saya yakin Pak Darta adalah tipikal muslim yang taat. Beberapa kali saya pernah melihat dia — tapi bukan pada hari Jumat — mengemasi dagangannya ketika adzan Dhuhur berkumandang dari Masjid Salman. Pak Darta menitipkan tas yang berisi dagangan amplopnya kepada pedagang martabak mini di sekitar situ, lalu dia berjalan dengan pelan menuju masjid untuk mengambil wudlu dan shalat di dalam. Barakollah pak, meskipun miskin dan sudah renta tetapi tidak lalai dengan kewajiban agama.

Pak Darta sedang memasukkan 10 bungkus amplop yang saya beli

Pak Darta bercerita ada empat kali dia kedatangan orang-orang ke rumahnya di Bale Endah, Kabupaten Bandung. Alhamdulillah, ada saja orang-orang baik hati yang datang membantunya. Pak Darta berkata dengan nada lirih bahwa dia memerlukan uang untuk memperbaiki rumahnya yang sudah butut. Saya belum pernah ke rumahnya, belum punya kesempatan ke sana. Tapi, kalau anda ingin datang melihat rumahnya, ini saya kasih alamatnya setelah saya minta: Pak Darta, RT 06 RW 01 Desa Cipicung, Manggahang, Bale Endah, Kabupaten Bandung. Bale Endah itu kecamatan yang letaknya di selatan kota Bandung.

Mudah-mudahan Pak Darta tetap sehat dan istiqmah sebagai seorang muslim yang taat. Amiin.


Written by rinaldimunir

January 20th, 2012 at 3:32 pm

Toilet vs Jembatan Miring

without comments

Beranikah anda seperti 3 orang murid SD yang menyeberangi jembatan miring di atas sungai berarus deras? Setiap hari lagi. Mereka bukan melakukan aksi mendebarkan seperti di program acara Takeshi, bukan pula sebuah lomba uji nyali atau acara outbond. Ini adalah kejadian nyata dan berada tidak jauh dari istana SBY dan gedung para anggota DPR yang terhormat.

Meniti bahaya

Tiga murid SD Negeri 02 Sangiang Tanjung meniti jembatan yang telah miring di atas Sungai Ciberang, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (17/1). Foto ini bersumber dari kantor berita Antara.

Sungguh ngeri membayangkan mereka meniti bahaya di atas jembatan miring itu. Terpeleset sedikit hanyutlah sudah mereka dilarikan arus deras sungai Ciberang.

Tidak jauh dari situ, para anggota dewan yang terhormat menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting. Untuk renovasi toilet tempat (maaf) BAB (buang air besar) para anggota dewan yang terhormat itu digelontorkan uang 2 milyar lebih. Untuk merenovasi ruang rapat Banggar diperlukan dana 20 milyar. Bahkan, untuk beli lampu ruang anggaran diperlukan uang seharga mobil Xenia. Malah untuk membuat kalender yang akan dibagikan kepada anggota DPR itu dibutuhkan dana satu milyar lebih. Dan masih banyak lagi uang negara dihabiskan untuk memanjakan para anggota dewan yang terhormat itu.

Bandingkan dengan kondisi jembatan di atas, tidak ada yang peduli untuk membangunnya. Rakyat dibiarkan sengsara, sementara di Jakarta uang negara dihamburkan begitu saja. Sungguh ironi. Andaikan uang renovasi toilet itu dialihkan untuk memperbaiki jemnbatan miring seperti ini jauh lebih bermanfaat, berapa banyak jembatan dan gedung sekolah rusak tempat belajar anak-anak negeri dapat direnovasi.


Written by rinaldimunir

January 19th, 2012 at 7:53 am

Posted in Indonesiaku