if99.net

IF99 ITB

Archive for November, 2011

Anak SD Belum Perlu Hape

without comments

Hingga saat ini saya belum membelikan hape (ponsel) buat anak saya yang duduk di kelas 5 dan 6 SD. Hampir semua teman di kelasnya sudah punya hape. Tidak hanya hape biasa, tetapi hapenya berkamera (multimedia), atau hape layar sentuh, malah banyak yang sudah punya Blackberry (BB) — umumnya yang punya BB ini murid perempuan. Gaya bener ya orangtua zaman sekarang, anak-anaknya saja sudah punya BB dan touch screen HP.

Meskipun anak saya sudah merengek-rengek minta dibelikan hape, tetapi saya masih bergeming. Belum waktunya dia punya hape sendiri, belum butuh-butuh amat, apalagi hape yang berkamera. Kebijakan sekolah juga sejalan yaitu melarang siswa membawa hape ke sekolah. Hape masih boleh diteloransi dibawa pada hari Sabtu karena pada hari Sabtu tidak ada kegiatan belajar tetapi hanya ada ekskul. Saya mendukung kebijakan sekolah tersebut. Di sekolah anak saya yang satu lagi, pihak sekolah mengingatkan orangtua agar hape yang dibawa ke sekolah hendaknya hape yang tidak ada kameranya.

Tentu di zaman teknologi informasi seperti ini pandangan saya yang belum membelikan hape buat anak dianggap kuno atau ketinggalan zaman. Tetapi saya punya alasan sendiri kenapa begitu. Jawabannya adalah “pornografi anak”. Gadget semacam hape berkamera adalah sarana efektif untuk menyebarkan konten porno pada anak-anak. Melalui teknologi bluetooth pada hape, transfer konten porno (seperti gambar dan video) antar gadget semakin mudah. Anak-anak sudah menjadi sasaran penyebaran pornografi secara masif. Ingat kasus Ariel tahun lalu, kan? Anak SD saja sudah melihat video Ariel tersebut melalui hape mereka.

Otak dan pola pikir anak belum siap menerima informasi negatif seperti konten porno tersebut. Mereka belum bisa menyaring informasi yang baik dan yang buruk. Jika dipaksakan, maka kerja otak mereka bisa rusak karena telah disusupi pikiran-pikiran negatif. Anak bisa lebih cepat dewasa sebelum waktunya. Ini bahaya buat masa depan mereka. Bukankah perilaku seks pra-nikah dan seks bebas di kalangan remaja disebabkan oleh kebiasaan melihat konten porno sejak dini. Pornografi menimbulkan rasa penasaran, ketagihan, dan akhirnya coba-coba sehingga menjadi kebutuhan seperti orang dewasa yang sudah menikah.

Penyebaran konten pornografi tidak hanya melalui hape, tetapi juga melalui internet. Anak-anak zaman kini gemar bermain game online di warnet tanpa pengawasan. Siapa yang tahu apa saja yang mereka akses di internet itu selain game? Siapa yang bisa menjamin anak-anak itu hanya bermain game di sana? Anak saya pernah bercerita bahwa temannya di warnet pernah melihat gambar porno. Hiii…. mengerikan! Jadi, jangan kaget kalau pelaku perkosaan tidak hanya remaja atau orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Mereka mengaku melakukan itu karena terpengaruh sebab hampir setiap hari melihat gambar dan video porno di warnet atau nonton VCD/DVD di rumah pakai laptop.

Meskipun anak sudah kita berikan filter berupa bekal pendidikan agama, tetapi tidak ada jaminan benteng agama itu cukup kuat membendung arus deras pornografi yang sangat masif. Jika terus menerus mereka dirayu teman untuk melihatnya, lama-lama pertahanan mereka jebol juga. Kita sebagai orangtua juga tidak bisa 24 jam mengawasi pergaulan anak, dengan siapa saja mereka bergaul di luar, apa saja yang mereka lakukan di luar rumah dan sekolah.

Sampai saat ini anak saya bisa paham kenapa belum punya hape. Dia “minoritas” di sekolahnya karena hanya beberapa orang saja yang tidak memiliki hape. Meskipun pihak sekolah melarang membawa hape, tetapi secara sembunyi-sembunyi anak-anak itu membawa juga ke sekolah.

Pihak sekolah bukannya tidak paham kepentingan orangtua yang membekali anaknya dengan hape. Bagi orangtua, anak dibekali hape mungkin agar orangtua bisa terus berkomunikasi dengan anaknya. Karena pihak sekolah melarang siswa membawa hape, maka bagi siswa yang ingin menelpon ke rumah atau kepada orangtuanya, sekolah menyediakan fasilitas telepon yang bisa dipakai seperlunya, begitu sebaliknya. Sementara ini kalau anak saya memerlukan sesuatu, dia menelpon ke rumah melalui telepon sekolah saja.

Menurut pendapat saya yang konservatif ini, anak SD belum terlalu membutuhkan gadget seperti hape, apalagi yang canggih dan mahal semacam BB dan iphone. Mereka belum bisa bertanggungjawab menggunakannya. Bagi anak SD memiliki hape kebanyakan untuk gaya-gayaan saja, dan gaya-gayaan ini menurut hemat saya bukan pendidikan yang baik sebab anak menjadi suka pamer.

Jadi, untuk sekarang ini anak saya tidak terlalu membutuhkan hape. Dia bisa menelpon kami pakai telepon rumah saja atau pakai telepon sekolah. Barulah kalau ada acara jalan-jalan sekolah saya bekalkan hape untuk mengetahui posisinya lagi di mana (karena pulang jalan-jalan bisa malam hari). Kalaupun harus membelikan hape saat ini, mungkin yang saya belikan yang tidak punya fitur kamera/multimedia.

Saya akan bekalkan dulu pengetahuan baik dan buruk yang perlu dia ketahui sebelum dibelikan hape nanti. Ini penting agar dia tahu mana yang boleh dan tidak boleh. Setelah dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk (yang dilarang agama), maka saya sudah siap membelikan dia hape yang berkamera sekalipun.

Bagi orangtua yang sudah membekali anaknya dengan gadget hape, BB, iphone, dan sebagainya, sering-seringlah memeriksa isi hape anak anda. Mungkin di dalamnya ada konten pornografi yang dia peroleh dari teman-temannya. Benteng terakhir pendidikan anak adalah di dalam keluarga. Jangan terlalu berharap kepada Pemerintah agar melindungi anak kita dari konten negatif. Di satu sisi ada pihak yang tidak senang jika larangan pornografi diregulasikan dalam bentuk UU karena dianggap melanggar HAM, tetapi di sisi lain kita tidak bisa membantah bahwa serangan pornografi saat ini demikian masif melanda generasi muda dari segala penjuru. Hanya di dalam keluargalah benteng pertahanan itu terletak.


Written by rinaldimunir

November 16th, 2011 at 1:16 pm

Posted in Pendidikan

Bila Istri Naik Haji

without comments

Tahun ini istri saya menunaikan Rukun Islam yang kelima, yaitu melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Dia berangkat ke Tanah Suci pada kloter terakhir dari embarkasi Pondok Gede tanggal 31 Oktober. Prosesi ibadah haji sebenarnya sudah selesai dengan puncaknya wukuf di Arafah pada Hari Sabtu tanggal 5 November 2011 kemarin. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah S.A.W, haji itu adalah wukuf d Arafah, jika seseorang tidak sempat wukuf di Arafah maka tidak sah ibadah hajinya. Setelah wukuf maka prosesi ibadah berikutnya adalah melempar jumrah di Mina pada hari-hari Tasyrik (yang juga sudah berlalu) dan terakhir thawaf wada’ (thawaf perpisahan), yang juga sudah selesai. Hari-hari ini sudah mulai jamaah haji Indonesia satu persatu kembali ke tanah air.

Namun karena berangkat dengan kloter terakhir, tentu pulang ke tanah air juga dengan kloter terakhir, sesuai dengan prinsip FIFO (First In First Out). Dengan program ONH biasa total waktu di Mekah dan Madinah adalah 40 hari. Program haji menjadi lama karena jamaah harus menunggu giliran pulang dengan pesawat yang jumlahnya terbatas. Tahun ini ada 210 ribu lebih jamah haji dari Indonesia.

Sudah dua minggu istri saya berada di Tanah Suci, jadi kira-kira ada sekitar 1 bulan kurang lagi baru ia kembali ke tanah air. Lumayan kangen juga ditinggal istri selama itu, he..he..he, saya menjadi “single parent” selama 40 hari. Ternyata menjadi “single parent” itu tidak enak, saya bisa merasakan betapa sulitnya seorang single parent yang sebenarnya dalam mengasuh anak, apalagi jika jumlah anaknya banyak. Timpang rasanya mengasuh anak sendirian, yang ideal itu mengasuh anak bersama-sama. Kehadiran ayah dan ibu bagi seorang anak sangat penting untuk perkembangan kejiwaan si anak. Anak yang hanya mendapat kasih sayang dari single parent biasanya tumbuh menjadi anak yang kurang stabil secara emosi dan kejiwaan. Sudah banyak contoh kasusnya, tidak perlu saya ceritakan lagi.

Banyak orang bertanya kenapa kami tidak pergi haji berdua. Keadaan keluarga saya tidak memungkinkan kami pergi berdua, karena anak-anak di rumah tidak ada yang bisa menjaga. Kakek neneknya sudah terlalu sepuh sehingga tidak mungkin bisa menjaga cucu-cucunya. Oleh karena itu, saya memutuskan istri yang berangkat lebih dahulu, biar saya yang menjaga anak di rumah. Berkat rizki dari Allah SWT, saya bisa menabung dan memberangkatkan ibunya anak-anak ke tanah suci. Peran seorang ibu tiga kali peran seorang bapak, oleh karena itu saya mengutamakan istri saya terlebih dahulu, barulah nanti saya yang berangkat ke sana. Jika ada rizki lagi dan anak-anak sudah bisa mandiri, barulah kami pergi berdua.

Perlu waktu tiga tahun baru istri saya mendapat porsi haji. Dengan daftar tunggu yang panjang, seorang muslim di Indonesia perlu bertahun-tahun menunggu kepastian berangkat haji. Dengan jumlah kuota haji yang terbatas sedangkan peminat haji yang mencapai jutaan orang, maka tentulah diberlakukan sistem antrian. Untuk Jawa Barat sendiri porsi haji sudah penuh hingga 3 tahun ke depan. Di Jawa Timur saya baca porsi haji sudah penuh hingga lima tahun ke depan. Di daerah-daerah lain dengan kuota yang lebih sedikit dan jumlah peminat yang tinggi tentu porsi haji sudah penuh lebih dari lima tahun ke depan.

Begitu tingginya animo naik haji dan kuatnya panggilan Tanah Suci, tidak jarang berbaga cara ditempuh banyak orang Islam Indonesia untuk dapat pergi haji, mulai dari cara yang legal, ilegal hingga cara-cara yang menurut saya saya termasuk “kebohongan”. Cara yang legal yaitu sesuai aturan Pemerintah, yaitu mendaftar sesuai dengan prosedur yang dtentukan. Cara yang ilegal adalah di luar ketentuan itu, yang sering disebut “haji non kuota”. Mereka berangkat dengan biro perjalanan “nakal”, ada yang memakai visa umrah (berangkat umrah sebelum masa haji, dan selesai umrah tidak mau pulang, tetapi menetap dulu di sana sampai bulan haji tiba padahal masa visa sudah habis). Atau, ada pula yang berangkat dengan menggunakan visa haji yang dikeluarkan oleh Kedubes Arab Saudi diluar jamaah kuota (aneh, kok bisa), perjalanan mereka diatur oleh biro perjalanan umrah/haji, berangkat dengan pesawat komersil dengan rute yang sambung bersambung (Jakarta – Kuala Lumpur – New Delhi, Abu Dhabi – Jeddah).

Di Tanah Suci jamaah haji “non kuota” ini sering ditelantarkan oleh biro perjalanannya, sebab penanggung jawab biro perjalannnya tiba-tiba “menghilang” di Tanah Suci dan akhirnya jamaah itu terlunta-lunta nasibnya. Padahal jamaah itu tidak membayar murah lho, mereka mengeluarkan uang dua kali hingga tiga kali lipat dari ongkos BPIH biasa agar bisa berangkat haji tanpa perlu menunggu bertahun-tahun. Keawaman calon jamaah haji itulah yang dimanfaatkan oleh biro umrah/haji untuk menjaring jamaah haji dengan iming-iming kepastian berangkat. Masih “beruntung” yang bisa berangkat, sebagian lagi banyak yang terkatung-katung nasibnya gagal berangkat haji karena visa haji tidak turun-turun dari Kedubes Arab Saudi. Mereka “terdampar” di kota-kota embarkasi, mau pulang kampung merasa malu sebab mereka sudah pamitan dan sukuran mengundang para tetangga.

Nah, yang pergi dengan “kebohongan” juga cukup banyak. Jamaah model begini membuat KTP baru di daerah lain yang porsi hajinya dikira-kira masih tersedia, sebab di tempat tinggalnya porsi haji sudah habis bis bis. Dengan “memalsukan data”, mereka membuat KTP kedua seolah-olah warga di daerah tersebut, misalnya tinggal di kota Bandung tetapi membuat KTP kedua di Kabupaten Kuningan agar bisa tercatat sebagai calon jamaah haji Kabupaten Kuningan (sesuai aturan, jamaah haji hanya bisa mendaftar sesuai dengan alamat tempat tinggalnya sesuai KTP). Nah, menurut saya perbuatan ini sudah tidak jujur dan sudah menciderai niat suci naik haji. Mau haji kok melakukan kebohongan. Lagipula dengan perbuatan tersebut berarti calon jamaah haji ini sudah merampas jatah haji orang lain di daerah yang bersangkutan. Kalau memang sudah waktu gilirannya tiba, inysa Allah kesabaran menunggu berangkat itu pasti datang juga. Istri saya pernah ditawari cara seperti ini, yaitu membuat KTP Kabupaten Bandung agar bisa berangkat haji pada tahun 2010 (karena kuota haji Kabupaten Bandung saat ia mendaftar dengar-dengar masih tersedia), Tetapi, saya melarangnya melakukan cara yang tidak terpuji ini.

Labbaikallaahumma labbaik, labbaikallah syarika laka labbaik, innal hamda wa ni’mata, laka wal mulk, laa syarikala, mudah-mudahan aku pun datang menemui panggilanmu Ya Allah, beribadah haji ke tanah suci Mekah.


Written by rinaldimunir

November 13th, 2011 at 10:24 pm

Posted in Gado-gado

Tekad & Ikhtiar

without comments

Ketika tekad itu kuat, maka ikhtiar harus kuat juga, insyaAllah dengan memperbagus ibadah kepada Allah, Dia akan memberikan jalan terbaik.  *menjemput takdir Allah dengan takdir Allah, dan dengan ridho-Nya, Allahu Akbar!*

Written by ibu didin

November 9th, 2011 at 9:17 pm

Posted in Tafakur

Mengapa Mahasiswa “Veteran” Tidak Lebih Baik Nilainya daripada Mahasiswa Yunior?

without comments

Barusan saya sudah menyelesaikan pekerjaan memeriksa berkas ujian UTS. Satu keprihatinan yang selalu saya temui setiap tahun adalah mahasiswa yang mengulang mata kuliah. Pada setiap semester selalu saja ada mahasiswa yang mengulang mata kuliah. Sebut saja mereka mahasiswa “veteran”, yaitu mereka yang sudah pernah mengambil kuliah tersebut pada tahun sebelumnya. Mereka mengulang mungkin karena tidak lulus atau ingin memperbaiki nilai (misalnya tahun lalu dapat C, sekarang diambil lagi karena berharap dapat B atau sukur-sukur A). Mereka yang mengambil mata kuliah ini pertama kali, meskipun angkatan yang lebih tua, tidak saya sebut sebagai mahasiswa veteran.

Nah, masalahnya hasil ujian mahasiswa veteran ini tidak lebih baik dari nilai ujian mahasiswa reguler, yaitu yunior mereka. Kebanyakan hasilnya jelek-jelek, memang ada satu dua yang lumayan bagus, tetapi kebanyakan buruk. Bahkan, bagi mahasiswa yang mengulang karena ingin memperbaiki nilai, nilai mereka bisa lebih buruk lagi dari tahun sebelumnya.

Nilai tugas-tugas kuliah juga setali tiga uang, sama jeleknya. Di Prodi saya setiap mata kuliah ada tugas besar (Tubes) dan tugas kecil (Tucil). Tubes-tubes itu umumnya dikerjakan berkelompok. Nah, masalahnya mahasiswa veteran ini tidak sekelompok dengan mahasiswa yunior, sangat jarang mahasiswa yunior mau sekelompok tugas dengan mereka. Akhirnya mereka sekelompok dengan sesama veteran sendiri. Hasilnya ya begitulah, kadang tugasnya tidak selesai, kadang seadanya saja. Tidak jarang mereka tidak mengerjakan tugas sama sekali karena sulitnya membangun komunikasi dan kebersamaan tim (team work).

Saya juga mencatat mahaisiswa veteran sering bolos kuliah. Isian daftar hadir mereka relatif sedikit. Nah, sebagai kombinasi dari nilai ujian dan nilai tugas yang “lepas makan” itu, akhirnya nilai akhir mereka rata-rata jelek juga. Kalau tidak D ya E, satu dua ada juga yang dapat C dan B (tetapi persentasenya kecil). Di ITB nilai D tidak lulus. Maka, tahun depan mereka dipstikan mereka mengulang lagi.

Saya jadi bertanya-tanya apa penyebabnya dan ingin mencoba memperbaiki. Seharusnya sebagai mahasiswa veteran mereka sudah punya pengalaman menghadapi “medan” yang sama yang sudah dilalui pada tahun lalu. Kalau sudah punya pengalaman seharusnya lebih baik dong daripada yunior mereka yang baru pertama kali mengambil kuliah tersebut. Namun kenyataannya malah sebaliknya.

Kalau mereka disebut bodoh saya tidak yakin. Kalau bodoh kok bisa masuk ITB? Masuk ITB kan seleksisnya sangat ketat dan susah. Melalui diskusi dengan para alumni di fesbuk, termasuk yang pernah menjadi mahasiswa veteran, saya mendapatkan jawabannya. Ternyata masalahnya bukan pada skill atau knowledge, tapi masalah mental. Mental mereka sudah jatuh duluan karena merasa rendah diri dengan yuniornya, disamping ada perasaan menjadi minoritas di dalam yuniornya, sifat malas, dan sebagainya.

Padahal, perasaan rendah diri itu tidak perlu dipelihara. Kalau dipelihara malah menjadi kekhawatiran yang akhirnya merembet kemana-mana, ya ujian, ya tugas kuliah. Gagal semua deh. Seharusnya yang dibangun adalah semangbat untuk bangkit dari kegagalan, semangat untuk fight, semangat untuk maju. Orang gagal pasti tidak mau gagal kedua kalinya, bukan?

Saya juga percaya tidak semua mahasiswa veteran punya kinerja yang buruk seperti di atas, ada juga anomalinya. Satu dua orang ada yang mendapat nilai lebih bagus dari hasil tahun sebelumnya, malah ada yang lebih bagus dari yuniornya. Nah mahasiswa veteran yang begini yang pantas dijadikan model. Jika saya tanya kepada mereka yang “anomali” ini apa rahasianya, ternyata jawabannya adalah mereka mengulang kuliah dengan mental fight, mental berjuang dan bekerja keras untuk mendapat hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Overall, ini tidak berarti jika anda mahasiswa veteran yang IPK nya hancur maka masa depannya juga sama buruknya dengan kisah akademis selama kuliah. Malah, sebagian mereka banyak yang sukses setelah lulus, mungkin karena mereka termotivasi untuk menjadi lebih baik dari yang mereka alami sebelumnya.

Moral darai cerita saya ini, untuk sukses tidak hanya butuh modal skill dan knowledge, tetapi juga perlu kesiapan mental, yaitu menumbuhkan mental juara agar selalu fight dan maju. Tidak ada yang dapat mengubah nasib kecuali diri kita sendiri.


Written by rinaldimunir

November 9th, 2011 at 10:03 am

UI dan ITB “Kejar-kejaran” di Scopus.com

without comments

Ada berita yang cukup menggembirakan bulan ini bagi ITB. Setelah beberapa bulan perolehan UI berada di atas ITB, hari ini ITB kembali terdepan dalam daftar perolehan Scopus. ITB ada total 1961 makalah yang terindeks, sedangkan UI total 1885 makalah terindeks di Scopus. Untuk melihat informasi ini silakan masuk ke www.scopus.com, lalu klik Affiliation search dan ketik “indonesia”. Ada 20 perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia yang tertinggi di Scopus pada periode Oktober – Desember 2011, yaitu:

1. Institut Teknologi Bandung (1961 dokumen)
2. University of Indonesia (1888 dokumen)
3. Gadjah Mada University (1155 dokumen)
4. Bogor Agricultural University (757 dokumen)
5. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (715 dokumen)
6. Center for International Forestry Research, West Java (548 dokumen)
7. Insitut Teknologi Sepuluh Nopember (460 dokumen)
8. U.S. Naval Medical Research Unit No. 2 (419 dokumen)
9. Universitas Airlangga (379 dokumen)
10. Universitas Diponegoro (359 dokumen)
11. Universitas Padjadjaran (342 dokumen)
12. Universitas Hasanuddin (317 dokumen)
13. Ministry of Health, Indonesia (300 dokumen)
14. University of Indonesia – Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital (260 dokumen)
15. Universitas Andalas (240 dokumen)
16. Brawijaya University (237 dokumen)
17. Universitas Udayana (237 dokumen)
18. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi BPPT (222 dokumen)
19. Universitas Syiah Kuala (197 dokumen)
20. Badan Tenaga Nuklir Nasional Indonesia (195 dokumen)

Dari daftar 20 tertinggi itu, hanya 4 perguruan tinggi di luar Jawa yang masuk, yaitu Universitas Hasanuddin Makssar, Universitas Andalas Padang, Universitas Udayana Denpasar, dan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Menariknya, BPPT sebagai lembaga penelitian terkemuka terseok pada posisi 18.

FYI, sebagaimana dikutip dari Wikipedia, “Scopus adalah database yang berisi bibliografi abstrak dan kutipan (citation) untuk artikel jurnal ilmiah. Scopus mencakup hampir 18.000 judul dari lebih dari 5.000 penerbit internasional, termasuk di dalamnya 16.500 peer-review jurnal dalam bidang sains, teknik, kedokteran, dan sosial (termasuk seni dan humaniora). Peer review adalah proses regulasi oleh sebuah profesi atau proses evaluasi yang melibatkan individu-individu yang berkualitas dalam bidang yang relevan. Metode peer review bekerja untuk mempertahankan standar, meningkatkan kinerja dan memberikan kredibilitas. Dalam dunia akademis peer review sering digunakan untuk menentukan kesesuaian sebuah makalah akademis untuk publikasi.”

Apa artinya semua ini? Jika makalah anda sudah diindeks di dalam Scopus berarti makalah anda otomatis sudah terakreditasi karena memenuhi standar publikasi ilmiah internasional. Sebenarnya Scopus bukanlah satu-satunya mesin pengindeks yang berisi citation index makalah akademis, masih ada beberapa mesin melakukan pengindeksan seperti IEEE XPlore (khusus makalah di bidang teknik elektro dan informatika), CiteSeer, Google Schoolar, Index Copernicus, DOAJ, EBSCO, ProQuest, ISI knowledge, dan lain-lain. Dari semua mesin pengindeks itu, Scopus adalah mesin yang paling kredibel dan terkemuka.

Terindeksnya makalah-makalah para akademisi di dalam database index tersebut merupakan sebuah prestasi tersendiri. Karena makalah anda sudah terindeks di dalam database maka makalah anda mudah ditemukan oleh mesin pencari seperti Google. Cukup sulit bagi suatu makalah terindeks di dalam mesin pengindeks seperti Scopus itu. Agar makalah anda dapat terindeks di dalam database mesin pengindeks, maka jurnal ilmiah dan prosiding konferensi yang memuat makalah tersebut harus dikareditasi oleh lembaga yang menyediakan database index seperti Scopus, IEEE Xplore, dan lain-lain. Lembaga penyedia database index melakukan seleksi yang sangat ketat dalam memutuskan terindeksnya jurnal dana prosiding tersebut di dalam database mereka. Kriteria peer-review adalah tolak ukur dalam menilai kredibilitas suatu jurnal dan prosidng.

Dalam bidang teknik elektro, informatika, dan teknologi informasi, dua jurnal dari ITB yaitu International Journal on Electrical Engineering and Informatics (IJEEI) dan ITB Journal of Information and Communication Technology sudah terindeks di Scopus. Baru-baru ini konferensi ICEEI yang rutin dilakukan oleh STEI-ITB setiap 2 tahun sekali juga sudah terindeks di dalam Scopus. Ini artinya jika makalah anda berhasil diterima di dalam jurnal dan prosiding tersebut, maka otomatis makalah anda teridneks di Scopus.

Di bawah ini kutipan e-mail dari Scopus kepada Dekan STEI-ITB perihal diterimanya jurnal fakultas kami, IJEEI, untuk diindeks di dalam Scopus:

From: “Scopus Title Evaluation Team”
To: ijeei@stei.itb.ac.id
Sent: Wednesday, October 5, 2011 1:34:44 PM
Subject: The review of your title for Scopus is complete

Title: International Journal on Electrical Engineering and Informatics
ISSN / E-ISSN: 2085-6830 / 2087-5886
Publisher: School of Electrical Engineering and Informatics Institut Teknologi Bandung

Dear Dr. Ir. Suwarno,

The title mentioned above has been evaluated for inclusion in Scopus by the Content Selection & Advisory Board (CSAB). The review of this title is now complete and the CSAB has advised that the title will be accepted for inclusion in Scopus. For your information, the reviewer comments are copied below:

The journal marginally fulfills the criteria for inclusion in Scopus. The international character of the journal must be strengthened.

If necessary, our Source Collection Management department will contact the publisher in order to set up the content feed for Scopus. The title will be loaded in Scopus as soon as we have access to the title and the content has been processed for indexing. At this moment, there is no further action required from your end.

Yours sincerely,
The Scopus Team

Nah, bagi anda yang senang dengan informasi pemeringkatan perguruan tinggi, FYI lembaga pemeringkat tersebut menggunakan jumlah publikasi terindeks sebagai salah satau kriteria pemeringkatan perguruan tinggi dunia. Seberapa banyak publikasi ilmiah internasional dari perguruan tinggi itu yang diindeks di Scopus, Google Schoolar, dan lain-lain. Makanya tidak heran perguruan tinggi di kawasan regional seperti UKM Malaysia, NTU Singapura, AIT bangkok, dan lain-lain selalu menggenjot akademisinya memasukkan sebanyak mungkin makalah mereka ke dalam jurnal dan prosiding internasional yang telah terindeks. Ujung-ujungnya, peringkat perguruan tinggi itu di dalam World Top University bertengger pada 200 besar, mengalahkan perguruan tinggi Indonesai yang lebih dulu lahir seperti UI, ITB, dan UGM.

Di Indonesia tidak banyak perguruan tinggi yang masuk dalam 1000 world top university. Tiga perguruan tinggi yang selalu masuk peringkat 500 besar adalah UI, UGM, dan ITB. Memang selalu ada pro dan kontra soal pemeringkatan itu, tetapi faktanya pemeringkatan itu selalu ada setiap tahun, dan dampak positifnya pemeringkatan itu membuat perguruan tinggi di Indonesia tersadar dan termotivasi untuk terus memperbaiki kualitas agar sejajar dengan perguruan tinggi terbaik dunia.

Kembali ke judul tulisan ini, UI seringkali bertengger dalam urutan pertama di Scopus mengalahkan ITB. Wajar saja, dengan jumlah dosen mereka yang ribuan (bandingkan di ITB hanya ada 1000-an dosen) dan dana penelitian yang banyak UI berhasil memasukkan jumlah makalah yang paling banyak terindeks di Scopus. Namun untuk periode ini (Oktober hingga Desember), ITB mengambil alih peringkat tertinggi di Scopus. Kontribusi makalah cukup banyak berasal dari kegiatan ICEE 2011 yang berlangsung Juli kemarin (ada sekaitar 200 lebih makalah dengan afilasi ITB pada konferensi ICEE 2011 itu).

Kebijakan ITB saat ini yang mendorong para dosennya mengirim sebanyak mungkin publikasi pada jurnal/prosiding terakreditasi ikut menaikkan perolehan di Scopus. Hal ini merupakan suatu cara untuk memperbaiki peringkat ITB sehingga ITB dapat menjadi perguruan tinggi world class university, sejajar dengan perguruan tinggi kelas dunia lainnya. Dan menariknya, ada insentif yang cukup besar diberikan ITB kepada dosen yang makalahnya terindeks di Scopus, ISI Knowledge, dan mesin pengindeks lainnya.

Sejatinya tentu bukan uang sebagai faktor utama melakuan penelitian dan menulis publikasi ilmiah, tetapi lebih didorong oleh faktor tanggung jawab moral sebagai akademisi yang tidak hanya melakukan pengajaran, tetapi juga penelitian untuk kemajuan ilmu pengetahuan di dunia dan di Indonesia khususnya.


Written by rinaldimunir

November 8th, 2011 at 12:04 pm

Posted in Seputar ITB

Menjelang Idul Adha: Yu Timah

without comments

Di bawah ini tulisan resonansi yang menggugah hati dari Ahmad Tohari. Yu Timah saja rela mengurbankan hartanya yang sedikit itu untuk membeli hewan kurban, bagaimana dengan sebagian kita yang berlebihan harta tetapi tidak ikut berkurban? Malulah kepada Yu Timah, tetapi lebih malu lagi kepada Allah SWT.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yu Timah
Oleh: Ahmad Tohari
Sumber: RESONANSI – Harian Republika Desember 2006

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.

Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.

Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa.

Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus.

Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

“Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

“O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”

“Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”

“Mau ambil berapa?” tanya saya.

“Enam ratus ribu, Pak.”

“Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

“Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

“Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

“Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

“Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.

“Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?” Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.


Written by rinaldimunir

November 4th, 2011 at 1:05 pm

Posted in Agama

Lebih Mudah Mengurus Sendiri SIM yang Hilang Daripada Pakai Calo

without comments

Tadi siang saya mengurus penggantian SIM yang hilang di Polwiltabes Bandung di Jl. Jawa. SIM saya hilang bersama STNK, kartu ATM, dan lain-lain. Pusinglah kalau semua dokumen penting hilang, sebab sebagian “nyawa” kita ada di dalam dokumen-dokumen itu. Setelah melapor kehilangan di Polsek Bandung Timur Jalan Ahmad Yani dan diberi surat kehilangan, saya mengurus penggantian SIM di Polwiltabes.

Ketika memasuki halaman Polwiltabes, kita akan berhadapan dengan sejumlah orang yang menawarkan jasa pengurusan. Itulah mereka para calo SIM. Para calo itu menyapa setiap orang yang datang dan menanyakan keperluannya apa. Kalau “calon korban” tertarik, calo itu menawarkan bantuannya menguruskan SIM tanpa perlu antri lama. Padahal sudah jelas terpampang spanduk dengan tulsian huruf besar-besar di halaman Polwiltabes agar mengurus sendiri pembuatan SIM tanpa perantara (calo). Kepolisian sudah melakukan reformasi besar-besaran terkait prosedural pembuatan SIM. Membuat SIM sekarang jauh lebih mudah, cepat, dan tidak berbelit-belit. Tanpa menggunakan calo pun anda bisa mengurusnya sendiri. Tapi himbauan tinggal himbauan, para calo tetap saja bebas berkeliaran di halaman kantor polisi.

Yang lebih menyedihkan adalah sebagian calo itu adalah oknum polisi itu sendiri. Kalau calo itu orang yang memakai baju preman bisalah “dimaklumi”, maklum mereka mencari makan di sana. Tetapi, kalau calo adalah oknum polisi itu sendiri, jelas memalukan. Itulah yang saya lihat tadi di sana. Oknum polisi yang berbaju polisi (ya iyalah pakai baju polisi) berdiri dekat pintu masuk menyapa setiap orang yang datang, menanyakan keperluannya, dan agak sedikit berbisik menawarkan jasa bantuan. Ih.., apa tidak malu si oknum polisi itu mencoreng kredibilitas korp mereka sendiri. Oknum polisi mencari makan di kantor mereka sendiri.

Ternyata mengurus sendiri penggantian SIM itu jauh lebih mudah dan lebih cepat daripada pakai jasa calo. Saya sudah berkomitmen mengurus secara prosedural semua urusan surat-surat penting tersebut, tidak mau pakai jasa calo. Memakai calo artinya menyuburkan praktik korupsi, sebab calo-calo itu pasti bekerjasama dengan orang dalam agar pembuatan SIM bisa cepat, tidak perlu antri, bahkan tidak perlu ikut ujian praktek kendaran bermotor. Kerjasama itu ada harganya, pasti. Sebagian uang dari calo tentu masuk ke kantung oknum-oknum di dalam kantor polisi.

Untuk mengurus penggantian SIM yang hilang sama mudahnya mengurus SIM yang baru. Bedanya, antrian untuk mengurus penggantian SIM tidak sepanjang antrian mengurus SIM baru. Mula-mula saya diarahkan ke loket entry data (loket 7) untuk meminta print-out salinan SIM lama (data SIM tersimpan di dalam database). Saya cukup menyerahkan surat kehilangan dan fotocopy KTP. Setelah memperoleh salinan tadi, saya diarahkan ke loket 9 untuk menyerahkannya dan menerima beberapa berkas. Dari Loket 9 saya disuruh memeriksakan kesehatan di klinik yang terletak di seberang Masjid Polwiltabes (Jl Nias). Nah ini yang agak cape, sebab jalan menuju klinik memutar cukup jauh dari loket tadi, tapi ya nggak apa-apalah jalan sedikit. Biaya pemeriksaan kesehatan hanya Rp30.000.

Setelah selesai periksa kesehatan, selanjutnya saya membayar asuransi sebesar Rp30.000 di loket asuransi. Dari sini kemudian saya menuju loket pendaftaran pembuatan SIM pengganti (dianggap sebagai SIM perpanjangan). Setelah itu saya diarahkan ke loket Bank BRI (dekat situ juga) untuk melakukan pembayaran sebesar Rp75.000. Selanjutnya dari loket sebelah BRI saya menerima formulir yang harus diisi dengan data seperti nama, alamat, tempat tanggal lahir, dan sebagainya. Setelah selesai diisi dan diserahkan, saya diminta ke ruang pemotretan. Tidak perlu antri lama, dipotret, diambil sidik jari, tanda tangan, selesai. Selanjutnya saya kembali ke loket 7 untuk mengambil SIM yang sudah jadi. Disini juga tidak lama, hanya 10 menit saja.

Total waktu yang dibutuhkan kurang lebih 1 jam, dan biaya yang dibutuhkan hanya Rp30.000 + 30.000 + 75.000 = Rp135.000. Kalau pakai jasa calo tentu lebih mahal, namun prakteknya di mata saya tetap tidak halal. Total loket yang saya kunjungi adalah: loket entry data –> loket 9 –> loket dokter –> loket asuransi –> loket pendaftaran –> loket bank –> loket pemotretan –> loket 7.

Pulang dari Polwiltabes hati saya senang, SIM pengganti sudah ada di tangan, dan yang paling penting caranya prosedural dan hahal.


Written by rinaldimunir

November 3rd, 2011 at 2:53 pm

Posted in Pengalamanku

Hari ke-7 Dzulhijjah

without comments

Hari ini, 7 Dzulhijjah, hari istimewa diantara 10 hari pertama Dzulhijjah, hari ketika pintu kesulitan ditutup dan pintu2 kemudahan dibuka.  Allah hadapkanlah wajah-Mu padaku, hari ini aku berusaha puasa, hari ini juga tanpa diduga Kau hadirkan dhuafa ke rumah.  Sungguh ya Allah, hari ini hamba bersungguh-sungguh meminta, meski dengan sepenuh malu karena dosa-dosaku, tapi tak akan hamba sia-siakan hari ini, yang sudah Kau janjikan dengan berbagai keistimewaan dan kebaikan2.

Written by ibu didin

November 3rd, 2011 at 9:31 am

Posted in Langkah

Buku dari ProUmedia

without comments

Buku-buku yang ibu pesan sudah tiba, Alhamdulillah horeeee:

AGAR BIDADARI CEMBURU PADAMU

CEMERLANG BERSAMA AL QUR’AN 2

BAHAGIANYA MERAYAKAN CINTA

JALAN CINTA PARA PEJUANG

SAKSIKAN AKU SEORANG MUSLIM

PROPHETIC PARENTING

SAAT BERHARGA UNTUK ANAK KITA

Written by ibu didin

November 2nd, 2011 at 4:10 am

Posted in Buku

Interaksi

without comments

Bagaimana caranya berinteraksi dengan orang yang mencintai dirinya sendiri? saya pikir adalah dengan tidak terlalu memperdulikannya.  Karena yang kita lakukan terhadapnya mungkin tidak akan terlalu berarti baginya.  Jadi lebih baik melakukan hal lain saja, yang mungkin lebih memberi arti bagi orang lain.

Written by ibu didin

November 2nd, 2011 at 3:55 am

Posted in Tafakur