if99.net

IF99 ITB

Archive for November, 2011

Ustad-Ustad Muda di TV yang Bikin ‘Nek’

without comments

Melihat ustad-ustad muda yang wara-wiri tampil di TV menimbulkan keprihatinan bagi saya. Bukannya senang, tetapi malu. Malu melihat kelakuan dan gaya ustad yang membuat perut ini mau mual atau istilahnya ‘nek‘. Pengetahuan agama mereka minim, tetapi lagaknya seperti ulama yang mumpuni. Modal mereka kemampaun akting, wajah ganteng, hafal beberapa ayat, dan sedikit bakat orator. Televisi menggenjot mereka untuk menaikkan rating iklan dan itu artinya untung besar bagi pengelola TV. Untuk membuat penonton makin penasaran dan makin menyukai sang ustad, maka sisi kehidupan ustad muda pun digali termasuk kisah asmaranya. Kepopuleran sang ustad membuatnya menjadi selebriti dan kisah asmaranya memenuhi acara gosip (infotainment), lengkap dengan foto-foto perempuan yang pernah dipacarinya. Bah, semakin muak saja melihat ustad muda semacam itu, jauh dari kesan islami yang menjadi “kedok” da’inya.

Baru kali ini terjadi acara pernikahan seorang ustad muda ditayangkan langsung oleh televisi yang menjadi host sang ustad. Pernikahan artis kondang saja tidak pernah disiarkan langsung oleg televisi. Karena “mabuk” dalam popularitas, ucapan snag ustad kadang-kadang tidak terkendali. Dalam satu acara gosip dia menyatakan sambil bercanda bahwa kalau ia memberikan ceramah agama maka itu untuk mengejar pahala, tetapi kalau menikahi perempuan maka itu untuk mengejar paha. Hah! Ustad macam apakah yang berucap kalimat yang “jorok” tersebut. Ustad gadungan barangkali.

Tragisnya lagi, pamor sang ustad ini menjadi ternoda ketika mantan istrinya menceritakan aib masa lalu. Sang ustad beberapa kali melakukan hubungan intim dengan mantan istrinya itu karena tidak “tahan”. Sang ustad yang berkelit dikejar wartawan akhirnya mengaku melakukan itu setelah rujuk, sebuah alasan yang mengada-ada. Anehnya, meski aibnya terbongkar, sang ustad tetap saja makin eksis di televisi dan menjadi idola ibu-ibu majelis ta’lim. Televisi makin untung karena berita-berita tersebut membuat rating sang ustad makin laku.

Jamaaaah… ooo.. jamaaaah…

Ingat dengan slogan di atas? Ustad muda yang satu ini menggunakan lawakan dan akting seperti pemain teater untuk menarik perhatian. Penggunaan humor atau lawakan dalam ceramah agama sudah berlangsung sejak beberapa dekade. Yang mempeloporinya adalah dai sejuta ummat, Zainuddin MZ. Tetapi, humornya masih dalam batas kewajaran dan sangat mengena dengan isi ceramah yang disampaikannya. Lain Zainuddin MZ lain pula ustad asal Sulawesi tersebut. Lawakannya berlebihan dan terkesan dibuat-buat, begitu pula gerakannya seperti sedang berakting. Saya yang menonton menjadi nek, ini tuntunan atau tontonan? Ini ceramah agama atau hiburan agama?

Humor dalam ceramah agama itu ibarat bumbu, jika diberikan dalam takaran yang pas, ia menjadi bermanfaat dan membuat ceramah menjadi enak dan tidak membuat mengantuk. Tetapi jika diberikan dalam takaran yang berlebihan, ia membuat ceramah agama kehilangan tujuannya. Yang ditangkap oleh jamaah adalah kesan menghibur daripada menuntun ketaqwaan kepada Allah SWT. Orang datang ke ceramahnya akhirnya bukan untuk mengaji tetapi untuk mendengar aksi teater dan lawakan sang ustad Naudzubillah.

Saya masih respek kepada ustad-ustad muda semacam Yusuf Mansur, Arifin Ilham, atau Ilham Tanjung, dan dalam batas-batas tertentu kepada Aa Gym dan Ustad Jefry (yang terakhir ini dulu disebut ustad gaul tetapi sekarang saya lihat dia sudah banyak berubah). Ceramah agama mereka bernas dan tidak terkesan dibuat-buat, pengetahuan agamanya lumayan bagus, isi ceramahnya membuat kita banyak merenung, beda benar dengan ustad muda gadungan.

Banyaknya ustad muda gadungan yang bermunculan menjadi selebriti memancing minat banyak anak muda mengadu peruntungan menjadi ustad. Kontes da’i di televisi dibanjiri peminat, tetapi gaya mereka di televisi adalah aktivitas kepura-puraan dan hasil karbitan. Modal mereka adalah kepandaian berpidato yang dibuat-buat meniru da’i kondang dibalur dengan beberapa ayat supaya terlihat lebih religius. Kosong tak bermakna. Karena pemenang yang terpilih didasarkan pada jumlah dukungan SMS yang masuk, maka jangan kaget jika pememangnya adalah calon ustad yang wajahnya paling ganteng dan secara fisik lebih menarik (baca tulisan pembaca di Hidayatullah tentang hal ini).

Masih lebih baik ustad-ustad tawadhu di kampung-kampung, di pesantren-pesantren, yang ceramah agamanya lebih memikat hati ketimbang ustad muda gadungan di televisi itu. Mereka berceramah bukan untuk meraih popularitas, tetapi memang untuk memberikan tuntunan agama kepada ummat. Mereka mungkin tidak laku untuk tampil di televisi karena penampilan fisik mereka yang kurang memenuhi syarat atau tidak pandai melawak. Tetapi percayalah, substansi ceramah mereka banyak memberikan renungan mendalam untuk dijadikan tuntunan hidup di dunia dan di akhirat.


Written by rinaldimunir

November 30th, 2011 at 10:41 am

Posted in Agama

Lanjutan Kisah “Bapak Tua Penjual Amplop Itu”

without comments

Tulisan saya yang terdahulu yang berjudul Bapak Tua Penjual Amplop Itu ternyata mendapat respon yang luar biasa dari pembaca. Setelah saya lihat statistik di Worpress ternyata tulisan tersebut sudah dibaca puluhan ribu kali dan tanggapan komentar hingga hari ini mencapai 336 buah. Saya sendiri tidak menyangka atas respon yang luar biasa tersebut, sebab tulisan ini hanyalah sekadar catatan kecil yang biasa saya tulis dari pengalaman yang saya temui.

Banyak yang bertanya kepada saya bagaimana caranya memberikan sedekah atau sumbangan buat bapak tua itu. Saya sendiri juga belum tahu teknis pengumpulan dan pemberian sedekah tersebut, karena maksud tulisan tersebut bukanlah untuk mengumpulkan infaq/shadaqoh buat si bapak. Pertanggungjawabannya nanti juga agak susah, tetapi yang lebih saya khawatirkan (mudah-mudahan saja tidak terjadi) adalah perubahan sikap si bapak yang karena sedekah yang berturut-turut tersebut khawatir membuat dia salah menafsirkan sehingga timbul sikap “mengemis” belas kasihan dengan menjual amplop.

Mudah-mudahan tidak begitu ya, tetapi mohon maaf saya belum bisa menyalurkan sumbangan, silakan salurkan sedekah ke lembaga amil terdekat dari Masjid Salman seperti Rumah Amal Salman ITB atau PKPU. Saya tetap punya pendapat bahwa cara terbaik membantu bapak itu adalah membeli jualannya, kalaupun melebihkan uang pembelian tidak apa-apa. Untuk urusan modal usaha dan perbaikan taraf hidup si bapak, biarlah itu tugas lembaga amil zakat tadi. Kalaupun anda jauh dari Bandung dan tidak bisa membeli amplopnya, anda masih bisa membeli dagangan orang-orang dhuafa di lingkungan terdekat anda. Masih banyak orang kecil lainnya dis ekitar kita yang membutuhkan perhatian. Tetapi sekali lagi, terima kasih atas semua niat baik, mudah-mudahan Allah SWT sudah membalas niat baik itu dengan pahala.

Seorang mahasiswa ITB aktivis Masjid Salman ITB, Romi Hardiyansyah, mencoba menemui bapak penjual amplop dan mewawancarainya di kantor Rumah Amal Salman ITB. Laporan wawancaranya itu dia muat di akun fesbuknya. Saya minta izin memuat hasil wawancara itu di dalam blog ini, sebagai informasi yang lebih lengkap tentang bapak penjual amplop. Banyak yang masih penasaran seperti apa bapak itu dan bagaimana hidupnya. Yang jelas bapak tua itu masih setia berjualan di depan gerbang kampus ITB atau di depan gerbang Masjid Salman, tidak hanya hari Jumat tetapi sekali-sekali pada hari yang lain.

Di bawah ini tulisan Romi Hardiyansyah yang dimuat di dalam http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150390709462123

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bapak Penjual Amplop

Setelah membaca catatan dari salah seorang dosen ITB melalui website pribadinya, saya mencoba menggali lebih dalam tentang bapak penjual amplop ini. Yang saya tahu bahwa bapak ini hanya berjualan setiap hari jumat saja di pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Namun, ketika hari selasa saya mendapatkan laporan dari salah seorang rekan bahwa bapak penjual amplop ini menjajakan dagangannya di salah satu gerbang keluar ITB. Saya tidak menemuinya karena jadwal kuliah yang padat. Barulah ketika rabu, 23 Nopember 2011, sepulang kuliah sekitar pukul 12.00, saya menemuinya di tempat biasa ia menjajakan amplop-amplopnya, yaitu di depan pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Saya berniat untuk menemuinya setelah saya melaksanakan shalat zhuhur.

Sekitar pukul 13.00, saya dan Kang Dadan (karyawan Rumah Amal Salman-ITB) bergegas menuju pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Kang Dadan ada keperluan untuk menyampaikan amanah infaq salah seorang jamaah di Jakarta kepada beliau sementara saya memang berkeperluan untuk bercakap-cakap dan membeli amplopnya. Kami meminta beliau merapikan dagangannya dan mau berbincang-bincang dengan kami di salah satu ruangan di kantor Rumah Amal Salman-ITB. Alhamdulillah beliau mau dan segera mengemas amplop-amplopnya. Selama mengemas amplop-amplopnya, kami menerima banyak komentar dari para pedagang-pedangang lain di sekitar.

Menurut para pedagang, tidak sedikit orang yang membeli satu atau dua amplop tapi dibayar seharga Rp 5.000, Rp 20.000, bahkan Rp 50.000. Si Bapak justru sering berkata kepada para pembeli bahwa uang yang diberikannya kelebihan. Namun, para pembeli mengatakan agar diambil saja lebihnya.

Setelah bercakap-cakap dengan para pedagang sekitar, si Bapak ini pun siap untuk kami ajak ke kantor. Ia membawa tas besarnya pada bahu sebelah kiri dan menjinjing plastik berisi amplop dengan tangan kanannya. Tibalah kami di salah satu ruangan di kantor Rumah Amal Salman-ITB dan mulailah percakapan kami. Sebenarnya selama perjalanan ke rumah amal pun kami bercakap-cakap di jalan.

Namanya Suhud, lahir di Tasikmalaya 76 tahun yang lalu. Ayahnya asli Tasikmalaya sedangkan Ibunya asli Kuningan. Bapak yang sudah hidup tiga perempat abad ini suka merantau kesana kemari semasa mudanya hingga sekarang tinggal menetap bersama anak terakhir dan cucunya di Manggahan, Dayeuh Kolot. Pak Suhud memiliki tiga orang anak yang semuanya laki-laki semua. Anak pertama dan keduanya tidak tinggal bersama Pak Suhud. Semua anaknya memiliki keterbatasan dalam ekonomi sehingga jika beliau menggantungkan diri kepada anaknya, tentu akan susah. Dari sinilah beliau memutuskan untuk berdagang di usianya yang sudah renta.

Pak Suhud sehari-harinya berjualan amplop. Ya, amplop. Ia hanya berjualan amplop, tidak dengan yang lain. Pak Suhud menjajakan amplop-amplopnya di Pasar Simpang Dago dari pagi sampai siang kemudian dilanjutkan menjajakan amplop-amplopnya di pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Selain itu, Pak Suhud juga menjajakan amplopnya di Sukajadi, Kebun Binatang, dan tempat-tempat lainnya. Beliau baru sekitar sebulan yang lalu menjajakan dagangannya di Salman.

Amplop-amplop tersebut ia ambil dari tetangganya. Kemudian Pak Suhud akan menerima upah sesuai dengan banyaknya amplop yang bisa ia jual. Setoran tersebut tidak dibatasi waktu, boleh kapan saja. Jika pembeli sedang sepi, boleh jadi hari itu tidak setor dulu sampai dengan banyak amplop yang terjual.

Pak Suhud memulai usaha ini dari 2001. Namun karena usianya yang sudah renta, 10 tahun tersebut tidak semuanya digunakan untuk berjualan amplop, terkadang jika sedang capai, ia tidak berangkat mencari nafkah. Sebelum berjualan amplop, Pak Suhud berjualan sayur mayur. Istri Pak Suhud meninggal dunia 6 tahun yang lalu sehingga penghasilan yang beliau dapatkan murni beliau gunakan untuk keperluan hidup beliau sehari-hari. Ketiga anaknya mengetahui bahwa ayahnya ini berjualan amplop untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Pak Suhud berangkat dari rumahnya di Dayeuh Kolot sekitar pukul 03.30 dan pulang menuju rumahnya sekitar pukul 14.00. Beliau menggunakan angkutan perkotaan atau bis kota sebagai sarana transportasinya. Beliau mengatakan lama perjalanan bisa sampai dua atau tiga jam. Sungguh, perjuangan yang sangat hebat bagi laki-laki paruh baya ini.

Penghasilan Pak Suhud sehari-hari jelas tidak menentu. Terkadang tidak ada satu pun amplop yang terjual sehingga untuk kembali pulang ia biasanya meminjam uang pada pedagang-pedagang sekitar dan berjanji akan menggantinya jika nanti amplopnya ada yang membeli. Tetangga yang menjadi tempat setornya tidak mempermasalahkan akan keterlambatan setoran, jelas beliau. Beliau menambahkan ongkos pergi-pulangnya tiap hari sebesar Rp 12.000, padahal penghasilannya tiap hari belum tentu sebesar itu. Pada siang hari, Pak Suhud biasa makan di tempat makan yang beliau katakan murah harganya. Pemilik rumah makan sering mengatakan bahwa jika beliau ingin makan, silakan datang saja tanpa perlu membayar.

Beliau mengambil 100 amplop dari tetangganya seharga Rp 7.500 dan ia menjualnya seharga Rp 10.000. Artinya, untuk 100 amplop yang terjual, ia hanya mendapatkan untung Rp 2.500 saja. Jika dipikir-pikir, siapa yang mau membeli amplop sebanyak itu? Kalau pun ada yang membelinya, keuntungan yang beliau peroleh jelas tidak bisa digunakan untuk makan nasi sekalipun. Allahu a’lam. Ketika ditanya kenapa memilih berjualan amplop, ia hanya menjawab sngkat saja, karena amplop ringan, masih bisa beliau bawa dibandingkan jika beliau berdagang yang lainnya.

Karena usianya yang sudah tua, tentu fisiknya pun tidak lagi seperti anak muda. Pak Suhud mengatakan bahwa matanya kini telah kurang awas (rabun), pendengarannya kurang berfungsi dengan baik, dan dadanya sering pengap. Saya memerhatikan, beliau berbicara dengan suara yang lirih sekal dan tangan yang benar-benar gemetar baik di kala berbicara, di kala merapikan amplop-amplopnya, di kala membawa tas, dan lainnya.

Dalam keadaan yang seperti itu, Pak Suhud tetap tegar untuk menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta. Begitu pula yang dikomentarkan para pedagang di sekitar pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Mereka menambahkan, banyak yang badannya masih bujangan, perkasa, gagah, dan kuat, namun meminta-minta. Kami menutup pembicaraan siang itu dengan menyampaikan amanah infaq dari Rumah Amal Salman-ITB.

Sebenarnya, ketika awal sampai akhir perbincangan saya berusaha menahan air mata agar tidak keluar karena mendengar suara Pak Suhud yang begitu lirih dan tangannya yang gemetaran. Terima kasih Pak Suhud. Darimu, saya belajar sebuah perjuangan..

Semoga kelapangan dan keberkahan rezeqi menyertaimu Pak. Dan Allah, tidak akan menyiakan hamba-hamba-Nya..

Bandung, 23 Nopember 2011

Romi Hardiyansyah
0852 842 39760/aemrum@gmail.com


Written by rinaldimunir

November 28th, 2011 at 8:07 am

Menjadi Yatim Piatu

without comments

Sekarang saya menjadi yatim piatu. Ibu saya tercinta sudah dipanggil oleh Allah SWT pada Hari Kamis 24 November 2011 yang lalu. Tiada sakit suatu apa, tiba-tiba sudah meninggal dunia pada pagi hari. Meskipun masih ada sisa rasa kesedihan, namun semuanya saya anggap sudah menjadi takdir Ilahi. Sebelumnya ayah saya sudah berpulang tujuh tahun yang lalu.

Kalau dipikir-pikir, tentu sedih rasanya tidak punya orangtua lagi. Sebaik-baiknya hidup adalah masih ada ayah dan ibu dalam kehidupan kita, sebab barokah dan karomah orangtua itu luar biasa menyinari hidup kita. Masih ada orang yang mengingatkan kita meskipun kita sudah dewasa, masih ada orang yang memarahi kita kalau kita salah, masih ada orang yang menjadi alasan buat kita untuk selalu pulang kampung pada Hari Raya. Makanya bagi anda yang mempunyai orangtua yang masih hidup, bersyukurlah masih ada mereka di sisi anda.

Jika dibandingkan teman-teman saya seangkatan, memang pada usia kami seperti ini sudah banyak yang ditinggalkan orangtua. Ada yang ayahnya sudah duluan berpulang, ada yang ibunya duluan, atau kedua-duanya telah berpulang, bahkan ada yang masih beruntung kedua orangtuanya masih lengkap. Semua sudah suratan menjadi suratan-Nya. Kelahiran, kematian, jodoh, dan rezeki adalah rahasia Allah SWT yang kita tidak pernah tahu.

Seorang teman SMP ketika acara reuni tahun ini bercerita bahwa dia merasa sangat puas karena telah merawat ayahnya yang sakit-sakitan selama 3 tahun hingga mendampinginya pada saat-saat sakratul mautnya. Padahal teman saya ini bekerja di Amerika, dan dia sengaja berhenti bekerja di sana dan pulang ke tanah air agar dapat merawat ayahnya di hari tua hingga ajalnya tiba. Pengorbanannya termasuk luar biasa sampai dia telat menikah karena khawatir tidak bisa total merawat ayahnya kalau dia telah beristri.

Cerita yang sama juga saya peroleh dari sepupu yang bolak balik dari kotanya ke kampung berjarak 90 km untuk merawat ibunya yang sakit selama berbulan-bulan hingga wafatnya. Puas hati rasanya, katanya, karena dia sudah menunjukkan bakti terakhir di saat-saat akhir hayat ibunya.

Saya tidak “seberuntung” teman dan sepupu tadi. Saya tidak berada di samping ibu saya ketika dia wafat. Meninggalnya juga tiba-tiba, tiada sakit suatu apa. Bahkan saya tidak sempat ikut memandikan dan menshalatkan beliau karena tidak terkejar lagi oleh jarak dan waktu. Apalagi pesawat yang membawa saya ke Padang mengalami delay yang lama di bandara Soekarno-Hatta selama berjam-jam sehingga saya tiba di Padang ketika hari sudah sore dan jenazah almarhumah sudah dibawa ke kuburan. Sudah takdir memang, tiada yang perlu disesali lagi.

Meskipun orangtua sudah tiada, dan amalan mereka sudah terputus, masih ada tiga amalan yang mendatangkan pahala yang terus mengalir bagi mereka. Seperti yang dikatakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bahwa bila meninggal anak Adam, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah (dari almarhum), ilmu (dari almarhum) yang masih bermanfaat, dan doa anak yang sholeh yang mendoakan ibu bapanya. Mudah-mudahan saja saya termasuk hal yang terakhir itu, yaitu sebagai anak yang sholeh yang selalu mendoakan ayah bunda setiap selesai sholat. Amiin.


Written by rinaldimunir

November 27th, 2011 at 5:06 am

Posted in Renunganku

OpenVPN connected tapi gagal connect ke VPN

without comments

Beberapa waktu lalu, gw menginstall openvpn untuk keperluan koneksi ke jaringan VPN kantor. Setelah bersusah payah men-setting openvpn (dengan menyediakan file config.ovpn, sertifikat ridwan.key, ridwan.crt) akhirnya gw berhasil tersambung ke jaringan VPN kantor.

Sayang beribu sayang, walaupun dinyatakan telah tersambung ke jaringan VPN kantor, gw ga bisa mengakses database server maupun aplication server. Gw coba ping X.X.X.X dan hasilnya adalah selalu request timed out. Akhirnya gw iseng membuka log openvpn. Dan di sana dikatakan "ROUTE: route addition failed using CreateIpForwardEntry: One or more arguments are not correct.   [if_index=21]".

Akhirnya mencari ke internet, dan berdasarkan penerawangan mbah Google, didapatlah 2 halaman yang memberikan solusi serupa (halaman ini dan ini). So ternyata yang perlu dilakukan hanyalah menambahkan 2 line berikut ini di file configuration file (ovpn file)
route-method
exeroute-delay 2

Written by Mohammad Ridwan Agustiawan

November 26th, 2011 at 11:54 pm

Posted in error,openvpn

OpenVPN connected tapi gagal connect ke VPN

without comments

Beberapa waktu lalu, gw menginstall openvpn untuk keperluan koneksi ke jaringan VPN kantor. Setelah bersusah payah men-setting openvpn (dengan menyediakan file config.ovpn, sertifikat ridwan.key, ridwan.crt) akhirnya gw berhasil tersambung ke jaringan VPN kantor.

Sayang beribu sayang, walaupun dinyatakan telah tersambung ke jaringan VPN kantor, gw ga bisa mengakses database server maupun aplication server. Gw coba ping X.X.X.X dan hasilnya adalah selalu request timed out. Akhirnya gw iseng membuka log openvpn. Dan di sana dikatakan "ROUTE: route addition failed using CreateIpForwardEntry: One or more arguments are not correct.   [if_index=21]".

Akhirnya mencari ke internet, dan berdasarkan penerawangan mbah Google, didapatlah 2 halaman yang memberikan solusi serupa (halaman ini dan ini). So ternyata yang perlu dilakukan hanyalah menambahkan 2 line berikut ini di file configuration file (ovpn file)
route-method
exeroute-delay 2

Written by Mohammad Ridwan Agustiawan

November 26th, 2011 at 11:54 pm

Posted in error,openvpn

Malaysia dan Indonesia, dari Sepakbola Hingga Bara Terpendam

without comments

Deg-degan menonton pertandingan final sepakbola SEA Games antara Indonesia dan Malaysia tadi malam melalui layar kaca. Memang akhirnya Indonesia kalah lewat drama adu penalti, tetapi saya rasa itu kekalahan terhormat. Tim Garuda Muda sudah berjuang maksimal, tetapi pertandingan olahraga dimanapun tetap memerlukan juara. Tahniah buat kemenangan Malaysia dan selamat buat Indonesia yang menjadi juara umum SEA Games karena perolehan medali emas terbanyak.

Meskipun hanya pertandingan sepakbola, tetapi ada banyak cerita dibalik bola. Pertandingan semalam tidak hanya adu taktik dan strategi, tetapi juga adu gengsi. Pertandingan melibatkan emosi ratusan juta orang Indonesia dan puluhan juta orang Malaysia. Di tanah air, seluruh denyut kehidupan terasa berhenti sebentar karena semua mata terpusat di televisi. Hal yang sama juga terjadi di Malaysia, menurut seorang teman yang sedang kuliah di Malaysia, suasana di Malaysia tidak kalah hebohnya seperti di Indonesia. Ternyata nasionalisme tidak perlu lewat seremoni upacara, ucapan pejabat negara, atau lagu patriotisme, lewat sepakbola yang sederhana saja sudah mengharu biru rasa nasionalisme itu.

Ada cerita dibalik dukungan yang luar biasa dari rakyat kedua negara, lebih-lebih dari Indonesia. Ini tidak hanya sekedar pertandingan bola, tetapi ajang menjaga kehormatan negara masing-masing. Hubungan yang panas dingin antara kedua negara ikut merasuk ke dalam sepakbola. Bagi banyak orang Indonesia, Malaysia dianggap negara yang telah merendahkan bangsa Indonesia. Mulai dari kisah penyiksaan TKI, klaim seni budaya Indonesia, Ambalat, masalah perbatasan, penangkapan dan penyiksaan nelayan, hingga sebutan yang melecehkan: “indon”. Kelakuan orang Malaysia telah membuat geram banyak orang Indonesia. Media pun turut serta ambil bagian memanas-manasi suasana. Politisipun tidak kalah sigap, mereka memanfaatkan kondisi nasionalisme yang bangkit untuk pencitraan diri dan partai mereka.

Orang Malaysia yang selama ini tenang-tenang saja akhirnya mulai terusik. Mereka mulai lebih peka melihat perkembangan yang terjadi di Indonesia menyangkut negara mereka. Mereka mulai mencari tahu melalui informasi di dunia maya apa yang sebenarnya terjadi. Media Malaysia yang selama ini jarang memberitakan suasana hangat di Indonesia terkait unjuk rasa anti Malaysia, akhirnya mulai berani memberitakan, menebar opini, dan mengulas apa yang terjadi di sini. Padahal media Malaysia selama ini dikontrol oleh Pemerintahnya, tetapi akhir-akhir ini suasana keterbukaan sudah melanda Malaysia pula, terbukti demo besar-besarn yang terjadi beberapa bulan lalu menuntut reformasi.

Maka, apa yang terjadi selama pertandinga SEA Games dimana penonton Indonesia menyoraki dan gaduh saat lagu kebangsaan Malaysia diperdengarkan, adalah ekspresi kegeraman orang Indonesia kepada rakyat Malaysia. Tentu saja perbuatan ini berlebihan dan tidak pantas, karena lagu kebangsaan adalah lagu yang menyangkut kerhormatan setiap negara. Kita pun akan marah jika lagu Indonesia Raya dilecehkan ketika diperdengarkan di luar negeri.

Bara yang terpendam di antara kedua negara sewaktu-waktu bisa terbakar kembali karena letupan-letupan yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Jika ini yang terjadi tentu tidak baik bagi hubungan Indonesia-Malaysia, yang rugi adalah rakyat kedua negara. Perang hanya menyengsarakan, menang jadi arang kalah jadi abu.

Rakyat Malaysia perlu mendengar apa yang menjadi kemarahan orang Indonesia. Dalam pandangan orang Indonesia, Malaysia saat ini ibarat orang yang sombong karena telah menjadi negara yang makmur tetapi merendahkan martabat Indonesia sebagai bangsa babu (karena banyak orang Indonesia yang menjadi TKI di sana). Malaysia diibaratkan seperti lupa kacang dengan kulitnya. Dulu Indonesia membantu rakyat Malaysia dengan mengirimkan guru-guru ke Malaysia untuk membantu pendidikan Malaysia. Petronas pun berguru kepada Pertamina dalam hal eksplorasi minyak bumi. Tetapi setelah menjadi negara makmur sehingga memancing ribuan orang Indonesia mengadu nasib di Malaysia, maka sikap orang Malaysia kepada Indonesia mulai berubah. Polisi diraja Malaysia semena-mena menyiksa dan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan kepada TKI dan nelayan yang tertangkap memasuki perairan mereka. Klaim budaya Indonesia oleh Malaysia ikut memperuncing hubungan kedua negara. Ditambah dengan sengketa perebutan pulau (Sipadan dan Ligitan) dan terakhir Ambalat, cukuplah sudah bensin untuk menyiram bara yang terpendam tadi menjadi api menyala-nyala.

Sebaliknya orang Indonesia perlu melakukan cara-cara yang elegan dan beradab dalam melakukan unjuk rasa kepada Malaysia. Melemparkan kotoran manusia ke Kedubes Malaysia adalah aksi yang tidak menunjukkan sikap orang Indonesia yang beradab. Hati boleh panas dengan ulah Malaysia, tetapi logika dan nalar tetap jalan dalam melakukan unjuk rasa. Begitu pula mengolok-olok lagu kebangsaan mereka juga bukan sikap yang terpuji.

Sikap yang terbaik bagi rakyat kedua negara adalah menahan diri agar tidak terprovokasi. Tidak semua orang Indonesia memiliki cara pandang kebencian kepada Malaysia, dan tidak semua orang Malaysia berperilaku buruk dalam memperlakukan orang Indonesia. Masih banyak yang baik di antara yang buruk. Orang Malaysia punya pertalian sejarah panjang dengan Indonesia karena banyak leluhur orang Malasyai berasal dari suku-suku bangsa di nusantara. Orang Indonesia pun punya pertalian darah dan budaya dengan rakyat Malaysia.

Di tingkat akar rumput boleh bergolak, tetapi dalam bidang pendidikan hubungan kedua negara tetap erat. Rakyat Malaysia banyak kuliah di Indonesia, begitu pula sebaliknya. Perguruan Tinggi Malaysia banyak yang menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi Indonesia, misalnya dengan ITB. Konferensi ICEEI setiap dua tahun dilakukan secara bergantian antara ITB dan UKM Malaysia. Turis-turis Malaysia membanjiri kota Bandung untuk wisata kuliner dan wisata fashion. Sebaliknya orang Indonesiapun banyak yang berobat ke Malaysia. Jadi, kedua negara tetaplah saling membutuhkan. Hati boleh panas, tetapi kepala tetap dingin.


Written by rinaldimunir

November 22nd, 2011 at 10:14 am

Posted in Indonesiaku

Sepenggal Potret Kehidupan di dalam KRD Cicalengka – Padalarang

without comments

Naik kereta api adalah kesenangan anak-anak. Hari Minggu kemarin anak saya minta jalan-jalan naik kereta api. Di kawasan Bandung Raya ada kereta api komuter yang bolak-balik dari Padalarang ke Cicalengka. Jarak Padalarang ke Cicalengka cukup jauh, barangkali sekitar 30 km lebih. Kereta api sangat berjasa bagi para pelaju yang rumahnya di pinggiran Bandung tetapi bekerja di kota Bandung. Tarifnya sangat murah, hanya Rp1000 per orang. Hampir tidak bisa dipercaya harga karcis kereta api semurah itu baik untuk jarak jauh maupun jarak dekat. Kalau mau yang sedikit lebih nyaman bisa naik kereta api patas yang harga karcisya Rp4000 atau KA Baraya Geulis yang Rp8000. Namun harga karcis kereta api itu masih tetap jauh lebih murah dibandingkan naik angkot yang mungkin menghabiskan ongkos Rp15.000 lebih plus kemacetan yang menjadi-jadi pada hampir semua jalan di dalam kota dan pinggiran kota Bandung.

Harga karcis yang sangat murah itu sebanding dengan pelayanan kereta yang seadanya dan terkesan seperti kurang diperhatikan oleh PT KAI. Gerbong kereta sangat kotor, jorok, bau, dan penuh sampah. Para pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis bebas masuk ke dalam kereta. Tetapi, justru disitulah seninya naik kereta api ekonomi, kereta api kelas rakyat. Kalau anda ingin melihat potret kehidupan bangsa ini, maka sesekali naikilah kereta api ekonomi. Sepanjang perjalanan banyak cerita kehidupan yang mengalir begitu cepat, bagaikan mosaik-mosaik yang direkatkan ke dalam sebuah bingkai.

Saya mengajak anak-anak naik kereta api ekonomi ini. Biarlah nanti mereka melihat seperti apa potret kehidupan di sana. Kami naik KRD ekonomi dari stasiun Kiaracondong, stasiun ini paling dekat dengan rumah saya. Stasiun Kiaracondong adalah stasiun kelas 2 yang dikhususkan untuk kereta api ekonomi.

Jam sepuluh pagi KRD ekonomi datang dari arah Cicalengka. Gerbong kereta sangat padat dengan penumpang. Penumpang berjejalan di dalam gerbong, sebagian besar hanya bisa berdiri. Banyak penunpang yang naik dan banyak pula penumpang yang turun. Saya pun bersama anak-anak hanya bisa berdiri.

Meskipun padat, tetapi di dalam kereta selalu ada tempat bagi pedagang asongan, pengamen, dan pengemis untuk mencari rezeki. Naik kereta ekonomi berarti harus berlapang dada dengan mereka. Di sela-sela penumpang yang berdesakan mereka menarik-narik dagangannya yang diletakkan di atas gerobak beroda. Para pedagang itu sangat kreatif dengan menggunakan roda, sehingga barang dagangan tidak perlu dipikul.

Kegigihan para pedagang asongan dalam menjajakan dagangannya patut diacungi jempol. Pernah ketika saya naik KRD sebelum ini, seorang pedagang salak mula-mula menawarkan 20 biji salak Manonjaya (Tasikmalaya) seharga sepuluh ribu. Tidak ada penumpang yang tertarik membelinya. Tetapi dia tidak putus asa. Ketika dia kembali lag, dia menawarkan salaknya lagi, kali ini 30 biji dengan harga tetap sepuluh ribu. Penumpang tetap tidak bergeming. Setelah bolak balik ke gerbong lain, dia datang lagi, kali ini dia menawarkan empat puluh biji salak seharga sepuluh ribu. Aha, akhirnya ada penumpang pun tertarik membelinya. Ha..ha..ha, kalau saja penumpang itu mau bersabar sedikit menunggu pedagang salak itu kembali lagi, mungkin jumlahnya bisa bertambah lima puluh biji salak dengan harga yang sama. Saya pun tersenyum geli membayangkan ulah pedagang salak ini.

Kereta terus melaju, tetapi jalannya tidak bisa cepat. Pada setiap stasiun antara kereta berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang. Pengamen dan pedaganga asongan tak henti-hentinya lalu lalang. Tiba-tiba datanglah seorang anak muda yang berjalan dengan cara merangkak. Badan dan pakainnya kotor sekali. Dia membawa sebuah sapu. Sapu itu terus disorong-sorongkannya ke lantai gerbong untuk mendorong sampah yang berserakan. Sekali-sekali dia berhenti lalu melakukan gerakan dengan tangan seperti orang minta minum dan makan. Tahulah saya maksudnya, ternyata dia mengemis meminta uang buat minum atau makan. Kasihan sekali. Beberapa penumpang memberikan uang ala kadarnya.

Stasiun Bandung, Ciroyom, Andir, Cimindi, Cimahi, Gadobangkong telah dilewati. Melewati stasiun Ciroyom kita akan menemui bau yang menusuk hidung. Bau busuk dari pasar ikan di Ciroyom memenuhi gerbong kereta yang terbuka. Akhirnya kereta sampai di stasiun Padalarang. Ini adalah stasiun terakhir tempat perhentian. Saya dan anak-anak segera turun. Tidak bisa berlama-lama kami di staisun ini, sebab kereta akan berangkat lagi ke Cicalengka. Saya segera membeli karcis yang harganya tetap seribu rupiah.

Baru turun lima menit ternyata kereta sudah dipenuhi penumpang. Ini suatu tanda bahwa antusiasme masyarakat urban untuk naik kereta api sangat tinggi, karena kereta api rakyat semacam ini tarifnya sangat murah dan bebas dari kemacetan.

Seperti dalam perjalanan pergi, dalam perjalanan pulang ini penumpang disuguhi kembali potret yang sama, yaitu lalu lalang pedagang asongan, pengamen dan pengemis. Kali ini penumpang tidak sepadat dari Kiaracondong sehingga para pengamen lebih leluasa dalam mencari makan.

Pada pedagang buah pun ikut meramaikan kereta dengan buah mangganya.

Hujan deras ikut menemani selama perjalanan. Kereta terus melaku menyinggahi stasiun-stasiun kecil. Penumpang naik dan turun. Hidup itu seperti perjalanan kereta api, ada yang datang dan ada yang pergi. Kita berangkat dari suatu tempat dan akhirnya harus berhenti untuk turun. Selama dalam perjalanan kita menemukan banyak manusia dengan aneka ragam tingkah polah dan nasibnya. Perguliran nasib hanya Allah yang tahu.


Written by rinaldimunir

November 21st, 2011 at 4:23 pm

Bapak Tua Penjual Amplop Itu

without comments

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Catatan penulis (diperbarui tanggal 30 November 2011): kelanjutan kisah bapak penjual amplop dapat dibaca dalam Lanjutan Kisah Bapak Tua Penjual Amplop.


Written by rinaldimunir

November 19th, 2011 at 7:41 am

Segmentation Fault di PHP

without comments

Tadi siang tiba-tiba file bot PHP gw mati. Setelah gw cek, ternyata ada 1 line code yang selalu menyebabkan file tersebut mati, yaitu str_get_html . Matinya pun aneh, berenti tiba-tiba tanpa permisi ataupun teriak-teriak di log. Akhirnya kucoba memasang try-and-catch-exception, eh anehnya tetap lolos.

Pusing begitu, akhirnya bertanyalah ke mbah google, stackoverflow, dll. Disarankan untuk verbosing, aku memasang kode berikut ini:

error_reporting(E_ALL);  
ini_set('display_errors', 1);

Dan voila, muncullah si brengsek satu itu "segmentation fault". Wuahhh, langsung deh teringat dengan nostalgia masa kuliah, ketika memprogram dengan bahasa C ^^. Ternyata, segmentation fault itu terjadi akibat PHP kehabisan jatah memori untuk memproses string kode HTML menjadi linked-DOM-object.

Akhirnya diputuskan, kalau ternyata panjang stringnya udah keterlaluan, maka ga usah diparse menjadi linked-DOM-object.

So, kode programnya menjadi seperti ini:


$html_code_str = get_html_code($link);
$html = null;
if (strlen($html_code_str) < 500000) {
    $html = str_get_html($html_code_str);
} else {
    print "exceed max string length => unprocessed";
}

Written by Mohammad Ridwan Agustiawan

November 18th, 2011 at 2:26 pm

Posted in php,Programming,trick

Segmentation Fault di PHP

without comments

Tadi siang tiba-tiba file bot PHP gw mati. Setelah gw cek, ternyata ada 1 line code yang selalu menyebabkan file tersebut mati, yaitu str_get_html . Matinya pun aneh, berenti tiba-tiba tanpa permisi ataupun teriak-teriak di log. Akhirnya kucoba memasang try-and-catch-exception, eh anehnya tetap lolos.

Pusing begitu, akhirnya bertanyalah ke mbah google, stackoverflow, dll. Disarankan untuk verbosing, aku memasang kode berikut ini:

error_reporting(E_ALL);  
ini_set('display_errors', 1);

Dan voila, muncullah si brengsek satu itu "segmentation fault". Wuahhh, langsung deh teringat dengan nostalgia masa kuliah, ketika memprogram dengan bahasa C ^^. Ternyata, segmentation fault itu terjadi akibat PHP kehabisan jatah memori untuk memproses string kode HTML menjadi linked-DOM-object.

Akhirnya diputuskan, kalau ternyata panjang stringnya udah keterlaluan, maka ga usah diparse menjadi linked-DOM-object.

So, kode programnya menjadi seperti ini:


$html_code_str = get_html_code($link);
$html = null;
if (strlen($html_code_str) < 500000) {
    $html = str_get_html($html_code_str);
} else {
    print "exceed max string length => unprocessed";
}

Written by Mohammad Ridwan Agustiawan

November 18th, 2011 at 2:26 pm

Posted in php,Programming,trick