if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2011

Akan menjadi sesuatu

without comments

Look at my title now: Master of Science Innovation Sciences, graduated from Technische Universiteit Eindhoven, plus minor student Engineering and Policy Analysis from Technische Universiteit Delft, plus plus certified in Technology, Development, and Globalization (TDG) from TU Eindhoven.  Look at damn good lectures I got here.

Ini akan menjadi sesuatu!

Written by ibu didin

October 31st, 2011 at 3:52 pm

Posted in Tafakur

Berkunjung ke Banda Aceh (4 – Habis): Dari Mie Razali Hingga Ayam Tangkap

without comments

Kuliner di Aceh memang unik. Dua makanan yang saya ceritakan di sini adalah mie Razali dan ayam tangkap. Kita mungkin sudah mengenal masakan mie aceh (baik mie rebus maupun mie goreng). Di Bandung banyak terdapat warung mie aceh. Warung mie aceh langganan saya adalah Gampong Aceh di Jalan Dago.

Di kota Banda Aceh kedai mie yang terkenal adalah Kedai Mie Razali di Jalan Panglima Polem (kawasan Simpang Lima). Kebetulan kedai ini dekat dengan hotel tempat saya menginap, jadi kesanalah saya malam-malam mencari makan. Banyak orang sedang makan di sana. Mie Razali ini katanya sudah ada sejak tahun 1967. Seingat saya di Rest Area jalan tol Cikampek juga ada gerai mie Razali. Saya tidak tahu yang di rest area tersebut berhubungan dengan kedai mie Razali di Banda Aceh atau tidak.

Saya memesan mie kesukaan saya, yaitu mie rebus udang dan segelas es timun. Ini dia makanan dan minuman yang saya pesan:

Hmmmm… kuah kental mie rebusnya begitu menggoda selera. Apa rahasia bumbu kuah ini? Ada bumbu kari pasti, sebab masakan Aceh memang banyak menggunakan bumbu kari. Saya pun makan dengan enaknya. Bismillahhirahmaanirrahiim. Rasanya memang tidak jauh beda dengan mie di Gampong Aceh Jalan Dago, Bandung. Tetapi, menikmati mie aceh di tempat asalnya sendiri tentu lebih maknyus.

Siang hari saya pun berburu “ayam tangkap”. Mendengar masakan ayam tangkap saya semula berpikir ayamnya diuber-uber dulu sebelum ditangkap dan akhirnya digoreng (capek dong…), tetapi saya salah kira. Saya bertanya ke supir becak motor (bentor) yang menjadi angkutan umum di Banda Aceh, di mana kedai makanan yang menjual ayam tangkap.

Supir bentor (benar nggak sih disebut supir, sebab kendaraannya sebenarnya adalah becak yang ditarik dengan sepeda motor) mengantarkan saya ke kedai ayam tangkap Cut Dek di daerah Lampineung.

Saya minta izin melihat proses memasak ayam tangkap di dapur belakang. Ternyata ayam tangkap itu adalah ayam kampung yang dipotong kecil-kecil kemudian digoreng dengan aneka daun-daun. Wuah, jenis daunnya banyak sekali, mulai dari daun jeruk, daun pandan, dan lain-lain, mungkin ada juga daun ganja kali ya (maklum masakan Aceh terasa sedap jika pakai ganja, kata orang-orang). Saya sendiri belum pernah melihat daun ganja, tetapi sebagai bumbu masakan saya pikir tidak masalah. Yang salah adalah jika diproses dan disalahgunakan menjadi narkoba.

Daun-daun ini bersama ayam digoreng dalam kuali besar berisi minyak goreng yang sudah menghitam. Hmmm…minyak jelantah itu. Di Bandung pun banyak pedagang ayam goreng yang menggunakan minyak jelantah. Secara higienis minyak jelantah tidak sehat.

Inilah dia satu porsi ayam tangkap yang dihidangkan di meja saya. Mana ayamnya? Ternyata daging ayam tadi ditaruh di bagian bawah, lalu diatasnya ditumpuk daun-daun yang sudah digoreng tadi (plus bawang goreng dan cabe bulat hijau yang juga digoreng). Itulah kenapa disebut ayam tangkap, sebab ayamnya bersembunyi di balik rimbunan daun-daun tersebut.

Selintas masakan ini mirip “tumpukan sampah” daun kering ketimbang ayam goreng. Saya mulai mencoba mencicipi daun-daun itu. Wow, rasanya enak dan garing seperti kerupuk. Untuk memakannya tersedia sambal cabe rawit, tetapi saya lebih suka sambal udang yang disamping itu, lebih segar rasanya.

Saya mengubek-ubek tumpukan daun mencari ayamnya, dan inilah hasil “pengubek-ubekan” saya itu:

Terlihat daging ayamnya kan? Dengan porsi sebanyak itu tentu tidak habis saya makan sendiri. Harga seporsinya Rp60.000 (mahal?), padahal kalau tahu saya bisa memesan setengah porsi saja. Karena tidak habis, saya minta sisanya dibungkus dengan kotak saja untuk dibawa pulang ke Bandung. Di Bandung saya tinggal menggoreng ulang supaya garing lagi.

Selain ayam tangkap, ada pula masakan bernama “ayam lepaas” (dengan dua huruf “a”). Aha, ada-ada saja namanya ya, ada ayam tangkap dan ada pula ayam lepaas, dua-duanya saling antagonis. Saya belum sempat mencoba ayam lepaas. Kata supir bentor, ayam lepas itu sejenis ayam gulai, pakai santan gitu. Hmm… penasaran. Ini dia kedai ayam lepaas di Simpang Lima, saya hanya bisa memfoto kedainya saja.

Demikianlah pengalaman saya yang berkesan di Banda Aceh. Hanya dua hari saja saya di sana, belum cukup rasanya. Saya masih ingin ke kota Sabang di Pulau Weh, atau melihat Pantai Lhok Nga yang indah. Namun, pesawat Garuda sudah menunggu saya di Bandara Sultan Iskandar Muda yang megah.

Pada lain kesempatan saya ingin mengunjungi Banda Aceh lagi.


Written by rinaldimunir

October 31st, 2011 at 3:36 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Banda Aceh (3): Masjid Raya Baiturrahman yang Mempesona

without comments

Tidak lengkap ke kota Banda Aceh jika belum mengunjungi Masjid raya Baiturrahman. Inilah masjid yang menjadi kebangaan orang Aceh, yang menjadi landmark dan ikon kota Banda Aceh. Inilah masjid yang bersejarah karena masjid ini sudah beberapa kali dibakar oleh Belanda, sebab masjid raya menjadi simbol perjuangan orang Aceh melawan penjajah Belanda. Masjid Baiturrahman juga menjadi saksi sejarah peristiwa tsunami Desember 2004, sebab pada persitiwa itu masjid tetap kokoh berdiri meskipun dihantam gelombang tsunami.

Sudah lama saya memendam keinginan shalat di masjid Baiturrahman. Hari ini impian saya untuk shalat di masjid itu terwujud sudah. Dengan perasaan hati bergetar bercampur keharuan karena memang saya sudah rindu berkunjung ke masjid tersebut, saya berjalan kaki dari hotel tempat menginap mendekati masjid Baiturrahman.

Dari kejauhan tampaklah menara dan kubah masjid:

Menara masjid yang tinggi menyambut kedatangan saya di pintu gerbang, seolah-olah mengucapkan selamat datang kepada saya yang merindukan shalat di masjid itu:

Saya terus berjalan memasuki halaman masjid. Gapura masjid menyambut kehadiran saya dengan ramah:

Dan, inilah dia, Masjid Baiturrahman yang sangat mempesona. Arsitektur masjid merupakan paduan gaya Persia, Arab, dan India. Orang Aceh dan budayanya memang merupakan perpaduan ketiga bangsa tersebut.

Saya berjalan memasuki masjid, melihat-lihat ruangan masjid yang penuh dengan tiang-tiang lengkung khas Timur-tengah. Arsitektur interior masjid tak kalah mempesona dengan eksteriornya. Pantaslah jika masjid raya Baiturrahman merupakan salah satu masjid terindah di Asia Tenggara.

Ini bagian mihrab masjid, saya berfoto di sini:

Saya bertanya di mana tempat wudlu. Ternyata tempat wudhu jauh di halaman masjid. Biasanya tempat wudhu berada di samping masjid atau di belakang, tetapi di Masjid Baiturrahman kita harus berjalan kira-kira 25 meter ke samping taman. Tempat wudlu itu terletak agak ke pinggir jalan raya, sedangkan toiletnya berada dekat trotoar jalan.

Halaman masjid yang luas ditata menjadi taman yang asri dan indah:

Pada kejadian tsunami, halaman ini penuh dengan sampah material bangunan rumah, mobil, pohon-pohon, dan mayat-mayat manusia. Ketika terjadi tsunami air laut tidak masuk ke dalam masjid, tetapi hanya sampai anak tangga paling atas saja. Anehnya aliran air sangat tenang melewati halaman masjid, begitu penuturan saksi mata (tukang potret keliling yang mangkal di halaman masjid). Yang lebih aneh adalah jika di dalam areal masjid aliran air laut begitu tenang, tetapi di jalan raya di samping masjid aliran air laut lebih tinggi dan sangat deras menghanyutkan apa saja. Sulit untuk dipercaya dengan logika, tetapi mungkin itulah mukjizat Allah SWT menyelamatkan Rumah-Nya. Makanya masjid ini merupakan masjid yang “keramat” bagi orang Aceh.


(foto di atas diambil dari sini)

Selesai shalat dhuha dua rakaat, saya memotret masjid dari arah yang berbeda. Majid Baiturrahman sangat anggun dan sangat menggoda untuk terus difoto. Berikut beberapa foto keindahan masjid yang saya jepret:

Berat hati untuk meninggalkan masjid raya, inginnya terus berada di sini, tetapi karena waktu saya yang terbatas, saya harus meninggalkannya. Alhamdulillah, saya sudah pernah shalat di Masjid raya Baiturrahman, Banda Aceh, dan suatu saat saya ingin kembali ke masjid ini.


Written by rinaldimunir

October 31st, 2011 at 12:38 pm

Posted in Cerita perjalanan

Anak Muda

without comments

Berinteraksi dengan anak muda sungguh menyenangkan, meski saya juga masih muda loh heheheh… Mereka darah2 segar yang akan meneruskan perjuangan kita, bibit2 unggul untuk dipupuk, disirami, disiangi dari hama, sehingga siap menggantikan generasi tua dengan lebih baik.

Akhir-akhir ini saya sering mengisi taklim kaum muda, pelajar SMP, SMA.  Saya merasa perlu untuk mengisi semangat mereka dengan shirah nabawi, shahabat/shahabiah, dan memberikan pandangan2 yang pernah saya lihat tentang dunia.  Menitipkan kepada mereka untuk tidak menyia-nyiakan masa muda, kalian berhak sukses semuda mungkin!  siap beramal semuda mungkin! Jangan kelamaan luntang lantung tidak jelas.  Sebab usia tidak bisa dilawan, jangan sampai ada penyesalan di masa tua.  Sayapun mentaubati beberapa waktu masa muda saya yang lalai.

 

Written by ibu didin

October 31st, 2011 at 7:40 am

Posted in Tafakur

Hijab

without comments

Rumah ibu saya adalah rumah singgah bagi siapa saja sodara2nya.  Kakak2 ibu setiap hari datang ke rumah, pagi, siang, sore, malam.  Sekedar melongok, say hai, ngobrol sebentar, ikut makan, sekedar lewat, atau duduk di halaman.  Bisa dibilang, rumah ibu ini adalah tempat main kakak2 ibu, apalagi sekarang sudah pada sepuh2.  Alhamdulillah kalau itu bisa menambah keberkahan bagi rumah kami.

Hanya saja, masuk keluar tanpa permisi buka pintu, kadang membuat saya kalang kabut kalau sedang tidak mengenakan jilbab, sebab di dalam rumah sendiri.  Kalau pakaian memang pakai yang panjang2 sehingga aman.  Hmmmhh… mungkin memang pengetahuan mereka tentang hijab belum sempurna, harus lebih memaklumi dan siap siaga dengan jilbab dimana2, atau terus2an memakai jilbab.

Written by ibu didin

October 31st, 2011 at 7:27 am

Posted in Tafakur

Takdir

without comments

Kadangkala, kalau sudah habis alasan dicari untuk bisa berlapang dada, maka kembali ke rukun iman yang ke-enam bisa menjadi solusinya.  Terima sebagai takdir, membuktikan keimanan. Dan jika tidak merasakan yang manisnya di dunia, semoga dengan mengimani takdir itu akan disediakan balasan terbaik di akhirat. Amiinn.

Written by ibu didin

October 31st, 2011 at 7:15 am

Posted in Tafakur

Efek gempa Bali

without comments

Beberapa pekan lalu gempa mengguncang Bali, efek getarannya terasa hingga tempat kami di Batu, Jawa Timur.  Siang itu saya, ibu, dan anak2 berada di rumah.  Kemudian bapak datang mengabarkan terjadi getaran gempa, orang2 di jalan juga teriak ada gempa dan keluar rumah.

Tetapi kami yang di rumah tidak merasakan getaran apa2, saya juga menanyakan ke ibu, jawabnya juga tidak merasakan apa2.  Alhamdulillah, saya berpikir positif dan diliputi kebahagiaan, Allah menjaga rumah ini, berarti Allah melihat kami.  Siapa yang tidak bahagia jika Allah menghadapkan wajah-Nya (sepertinya saya ge er… tapi biarlah saya merasakan kebahagiaan ini).  Segala kebesaran dan puji hanya milik Allah.

Written by ibu didin

October 31st, 2011 at 4:27 am

Posted in Tafakur

Berkunjung ke Banda Aceh (2): Museum Tsunami dan Rumoh Aceh

without comments

Hanya dua hari saya di Banda Aceh, tetapi sudah banyak tempat yang saya kunjungi. Ke Banda Aceh jangan lupa mengunjungu museum yang satu ini, Museum Tsunami Aceh. Museum tsunami letaknya di dekat lapangan Blang Padang. Lapangan Blang Padang sekarang sudah bersih dana sri, padahal ketika kejadian tsunami lkapangan ini penuh dengan mayat manusia, materi bangunan, mobil, motor, batang pohon, dan segala sampah yang dihanyutkan oleh gelonbang tsunami.

Museum tsunami Aceh yang berbentuk kapal ini adalah hasil rancangan lulusan Arsitektur ITB. Dari dekat tidak kelihatan berbentuk kapal karena dimensi bangunan yang besar, tetapi kalau dilihat dari udara tampaklah seperti kapal dengan cerobongnya. Di bawah ini gambar maket museum yang diambil dari sini.

Museum sepi hari itu, jadi saya sendiri yang berada di dalam museum yang sunyi. Saya memulai masuk dari lorong tsunami. Lorong tsunami ini gelap dan sempit, di dinding lorong terdapat air terjun yang mengeluarkan suara air bergemuruh. Agak merinding saya melewati lorong tsunami tersebut, sendirian lagi. Kesan yang ingin disampaikan melalui lorong ini mungkin ingin mengingatkan pengunjung pada suara gemuruh tsunami. Saya tidak bisa memotret lorong ini karena gelapnya, jadi fotonya saya ambil dari sini saja.

Setelah keluar dari lorong tsunami pengunjung memasuki ruang panel. Suasana di dalam ruangan besar ini juga gelap dan sepi. Hanya ada puluhan panel layar monitor komputer yang menampilkan foto-foto kejadian tsunami secara bergantian. Ratusan foto-foto dokumentasi tsunami seakan-akan menceritakan kepedihan dan duka mendalam Tanah Rencong. Tanah Rencong porak poranda, ribuan mayat tergeletak begitu saja, jerit pilu keluarga korban mencari sanak suadranya yang hilang.

Dari ruang panel ini saya terus berjalan, dan akhirnya memasuki ruang cerobong asap. Di dinding ruangan terpatri ribuan nama-nama korban tsunami, sedangkan di puncak cerobong tergambar kaligrafi “Allah”. Alunan suara qari yang melantunkan ayat-ayat Alquran di dalam ruangan menambah sakral suasana, seakan-akan mengingatkan kita akan kematian. Suatu saat kita pun akan mati dan kembali kepada-Nya.

Dikutip dari sini: The light of God, sebuah ruang berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya keatas sebuah lubang dengan tulisan arab “Allah” dan dinding sumur silinder dipenuhi nama para korban sangat mengandung nilai-nilai religi merupakan cerminan dari Hablumminallah (konsep hubungan manusia dan Allah).

Suasana di dalam museum:

Saya terus berjalan melihat ruang pamer lainnya. Di dalam ruang pamer terdapat model tiga dimensi yang memperlihatkan suasana tsunami, seperti pada foto-foto di bawah ini:

1. Situasi setelah terjadi gempa

2. Situasi saat datangnya gelombang tsunami

3. Kapal nelayan yang terdampar di Lampulo

Selain museum tsunami, saya juga mengunjungi satu museum lagi yaitu Rumoh Aceh. Museum berbentuk rumah adat Aceh ini berisi barang-barang tradisional dan foto-foto sejarah Aceh.

Di depan Rumoh Aceh ada sebuah lonceng yang besar, lonceng peninggalan zaman Belanda:

Suasana di dalam Rumoh Aceh:

Satu pajangan yang menarik saya di Rumoh Aceh adalah Kohler Boom atau Pohon Kohler. Kohler Bomm adalah potongan kayu dari pohon geulumpang (Sterculia Foetida Linn) yang dahulu tumbuh di sisi utara Masjid Raya Baiturrahman. Belanda menyebutnya Kohler Boom karena di bawah pohon inilah Panglima Perang Belanda bernama Jenderal Kohler ditembak mati oleh pejuang Aceh pada tanggal 14 April 1873.

Di dalam museum di belakang Rumoh Aceh ada foto-foto kuno yang menceritakan perjuangan Aceh pada zaman Belanda. Ini beberapa foto yang saya jepret:

Foto di atas adalah foto uleebalang (hulubalang Aceh) dengan seorang “Controlleur” di Krung Maba (Aceh Barat Laut) pada tahun 1877.

Kalau foto yang di bawah ini foto perempuan Jawa dengan tentara KNIL (tentara kerajaan Hindia Belanda) dekat jalan masuk kraton Kutaraja (Banda Aceh) pada tahun 1874:

Pasar kerbau di Masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1892:

Kediaman Sultan Mahmudsyah, Kutaraja (Banda Aceh) 1874:


Written by rinaldimunir

October 29th, 2011 at 5:47 pm

Posted in Cerita perjalanan

Kenikmatan Beribadah

without comments

Hal yang paling menyenangkan sekaligus membuat saya malu ketika di rumah orangtua saya adalah tentang ketaatan beribadah ibu saya.  Alhamdulillah, saya senang sekali bahwa di masa senjanya, ibu masih diberi kesehatan yang prima, dengan jadwal senam rutin seminggu dua-tiga kali (salut dech), dan berbagai aktifitas dakwahnya, sehingga jadwal hariaannya apik tertata.  Sebelum subuh sudah diatas sajadahnya untuk tahajud dan wirid, kemudian shalat fajar dan subuh di masjid, kadang di rumah, tak lupa doa2 panjang seusai shalat.  Kemudian belanja ke warung, masak, beberes, hari masih sangat pagi belum lagi jam 7, makanan sudah tersedia dan rumah sudah bersih.

Di tempat kami, matahari sudah terang benderang sejak jam 6 pagi, sehingga ibu bisa melaksanakan shalat dhuha jam 8 pagi di dahului dengan membaca surat Al-Waqiah setiap hari, kemudian pergi ke sawah.  Siang sudah dhuhur dengan tak meninggalkan rawatib.  Sesudah asar adalah jadwalnya ‘keluar’.  Ada berbagai pengajian baik tingkat dusun, desa, maupun luar desa.  Ada jadwal senam mulai dari bale desa, bale kota, sampe kadang2 tour ke luar kota atau luar provinsi, hoalahh ibu2 sekarang langsing2 dan prima kesehatannya =)

Maghrib dan Isya diseringkan ke masjid, kalau sedang repot, sholat di rumah. Tetap selalu dengan wirid dan doa2 panjangnya.  Hampir tak dilewatkannya puasa senin-kemis, ayyamul bidh, 1-9 dzulhijjah, Subhanallah.. jadi iriiiii sekaliii. Apalagi aktifitas seperti itu terlihat ‘ringan’ bagi ibu sebab sudah menjadi kebiasaannya.  Apalagi jika anak2nya ada hajat, mau ujian, ada kesulitan, maka yang di calling2 memang ibu, itu kebiasaan kami anak2nya sedari kecil. Maka ibu akan berlama2 diatas sajadahnya, memanjangkan atau menambah shalatnya, dan menyengajakan puasa, untuk menjadi jalan pertolongan Allah bagi anak2nya.

Saya seharusnya malu, dari segi pendidikan, ilmu pengetahuan agama, maka saya jauh lebih banyak dari ibu.  Tetapi sudahkan saya benar2 takut kepada Allah?  sudahkan saya benar2 menghamba pada-Nya?  Dan satu hal lagi, saya harus mencontoh ibu untuk menyertai langkah anak2nya dengan banyak2 beribadah kepada Allah, menambah sholat, memperpanjang wirid & doa, memperbanyak puasa.  Seperti kisah seorang sahabat nabi yang menambah lagi shalatnya manakala teringat anak2nya.

Written by ibu didin

October 29th, 2011 at 8:52 am

Posted in Tafakur

Berkunjung ke Banda Aceh (1): Melihat Sisa-Sisa Tsunami

without comments

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Banda Aceh. Ada konferensi nasional yang diadakan oleh Jurusan Teknik Elektro Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Saya mempresentasikan makalah saya di sana. Berhubung saya belum pernah ke Banda Aceh, maka saya sangat antusias datang ke sana. Selain mengikuti konferensi, apalagi tujuannya kalau bukan melihat sisa-sisa peninggalan tsunami 2004.

Ya, setiap orang yang datang ke Banda Aceh pasti penasaran ingin melihat memorabilia tsunami. Orang Aceh pasti paham hal itu, dan mereka akan menjawab setiap pertanyaan pendatang tentang kejadian tsunami. Pertanyaan-pertanyaan standard seperti apakah air laut sampai ke jalan ini, berapa ketinggian air laut di jalan itu, di mana anda pada saat kejadian tsunami, dsb, pasti ditanyakan siapapun yang berkunjung ke kota Serambi Mekkah ini. Orang Aceh akan menjawab semua pertanyaan itu dengan antusias. Mereka adalah saksi hidup peristiwa bersejarah itu.

Kalau kita mengunjungi Banda Aceh saat ini, kita mungkin hampir tidak percaya kalau tsunami pernah terjadi di kota ini enam tahun yang lalu. Kota Banda Aceh terlihat bersih, resik, dan tidak terlihat lagi bekas-bekas tsunami. Setidaknya pemandangan itu saya saksikan di pusat kota dimana menara Masjid Raya Baiturahman terlihat dari kejauahan. Padahal di tempat ini air laut pernah meneobos dengan deras.

Di sungai pada foto di bawah ini, sungai Krueng Aceh namanya, pada saat kejadian penuh dengan mayat-mayat manusia yang dihanyutkan air laut, tetapi sekarang sungai terlihat sangat bersih.

Sebuah gereja Katolik Bunda Hati Kudus berdiri dengan anggun di pinggir sungai Krueng Aceh. Meskipun Aceh adalah daerah otonomi dengan penerapan Syariat Islam, namun keberadaan agama lain dilindungi. Jika anda menyangka bahwa semua perempuan di Aceh harus memakai busana muslimah (jilbab atau kerudung), maka sangkaan anda itu tidak benar. Syariat Islam hanya berlaku bagi orang Islam saja, sedangkan orang non-muslim terikat dnegan hukum positif Indonesia. Sehingga, aturan berbusana yang sesuai syariat Islam hanya berlaku bagi wanita muslim saja. Saya melihat wanita Tionghoa dan wanita non muslim lain di jalanan bebas memakai pakaian yang sopan meskipun tidak berkerudung.

Kota Banda Aceh dan Meulaboh adalah kota yang paling parah dihantam tsunami. Meskipun di Banda Aceh tidak terlihat lagi bekas-bekas tsunami, namun ada beberapa memorabilia yang menjadi saksi bisu yang menceritakan betapa dahsyatnya tsunami pada akhir tahun 2004 itu. Dua memorabilia yang saya kunjungi adalah kapal PLTD Apung dan kapal nelayan di atas rumah.

Kapal PLTD Apung ini terdampar di kawasan darat yang jauhnya 5 km dari pinggir pantai. Kapal berbobot puluhan ton ini hanyut dari tengah laut menuju ke daratan. Bisa kita bayangkan betapa tinggi dan dahsyatnya gelombang tsunami menghantam Banda Aceh saat itu.

Ketika saya datang, lokasi ini dipagari karena sedang ada pembangunan kawasan menjadi taman edukasi tsunami, jadi saya saya tidak dapat melihat kapal lebih dekat, Lihatlah dari jauh kapal PLTD itu, sungguh dahsyat tsunami yang melanda Aceh saat itu.

Tidak jauh dari kapal PLTD kita dapat melihat foto-foto kejadian tsunami. Melihat foto-foto itu terasa begitu mencekam dan horor, seolah-olah masih terdengar jerit pilu warga Banda Aceh ketika gelombang laut tiba-tiba merenggut nyawa dan harta benda yang dilaluinya.

Satu memorabilia lagi yang wajib dikunjungi adalah kapal yang nyangkut di atas rumah. Ini adalah kapal nelayan yang terombang ambing dan tersangkut di atas sebuah rumah penduduk. Lokasi ini berjarak 4 km dari pinggir pantai.

Semua rumah yangg ada di sekitar memorabilia adalah bangunan baru. Hampir semua bangunan lama rata dengan tanah. Melihat rumah-rumah itu kita hampir tidak percaya kalau dulu pernah terjadi bencana alam yang maha dahsyat di Tanah Rencong.

Sebagai pengingat bahwa kita semua akan mati, saya melewati kuburan massal korban tsunami di kawasan Uleu-leu. Kuburan yang tidak berbatu nisan, di dalamnya terkubur jasad ribuan korban tsunami yang tidak diketahui identitasnya. Mereka adalah sebagian dari 240.000 ribu korban tsunami yang hilang atau ditemukan. Jumlah itu sama dengan jumlah penduduk sebuah kota kecil di Pulau Jawa.


Written by rinaldimunir

October 27th, 2011 at 5:36 pm

Posted in Cerita perjalanan