if99.net

IF99 ITB

Archive for April, 2011

“Royal Wedding” Untuk Mengakhiri “Hidup Bersama”

without comments

Dalam satu pekan ini masyarakat dunia dilanda deman Royal Wedding, yaitu pernikahan kolosal Pangeran William dari Inggris dengan Kate Middleton. Puncaknya adalah Jumat kemarin ketika acara pernikahan tersebut berlangsung di kota London dan disiarkan secara langsung (live) oleh televisi di berbagai negara maupun melalui live streaming di internet. Jutaan masyarakat di berbagai belahan bumi seakan-akan terhipnotis menyaksikan pesta pernikahan yang disebut sebagai pernikahan terbesar dan termahal di abad ini. Pada abad 20, pernikahan terbesar itu dilekatkan kepada Pangeran Charles dan Lady Diana, yang tidak lain merupakan orangtua Pangeran William. Mereka menikah pada tahun 1981 (abad 20), sedangkan pernikahan Pangeran William – Kate berlangsung tanggal 29 April 2011 kemarin atau pada abad 21.

Pangeran William sangat tampan, sedangkan Kate Middleton terlihat sangat cantik. Melihat acara pernikahan mereka kemarin — seperti yang kita saksikan di layar TV atu komputer — seolah melemparkan kita ke negeri dongeng. Ada istana yang kuno tetapi megah, gereja katedral yang sudah berdiri berabad-abad, kereta kencana yang membawa pasangan pengantin, dan barisan tentara yang memakai seragam unik seperti yang kita sering lihat pada kaleng biskuit Monde.

Tapi, tunggu dulu, jangan langsung terpesona melihat tampilan luar yang memukau itu. Menurut saya pernikahan William- Kate ada “cacatnya”. Sakramen pernikahan mereka di Gereja Westminster Abbey hanya formalitas belaka, sebab sebelumnya kedua pengantin telah “menikah” duluan. Mereka sebelumnya telah hidup bersama satu atap tanpa ikatan pernikahan yang sah selama bertahun-tahun. Seperti dikutip dari sini, menurut pers Inggris, pasangan William-Kate diketahui telah hidup bersama mulai Desember 2007, setelah sempat berpisah pada April tahun yang sama. Mereka juga pernah tinggal beberapa bulan di Anglesey, sebuah pulau di Wales Utara. Kita semua tahu sendirilah bilamanana seorang pria dan wanita sudah hidup satu atap — apalagi bertahun-tahun — maka tentu mereka telah melakukan apa yang seharusnya hanya boleh dilakukan pasangan suami istri yang sudah resmi menikah.

Anehnya, Uskup Agung York telah memberikan dukungan kepada Pangeran William dan Kate Middleton mengenai keputusan mereka untuk hidup bersama sebelum menikah, sebagaimana dapat dibaca pada harian Telegraph ini. Dikutip dari harian itu, Uskup Agung York mengatakan bahwa banyak pasangan modern ingin “menguji susu sebelum mereka membeli sapi”. Tetapi kaum tradisionalis Anglikan mengkritik Uskup Agung tersebut, yang merupakan tokoh kedua yang paling senior di Gereja Inggris, karena gagal untuk memperkuat ajaran Kristen yang melarang seks di luar nikah.

Agak ironis ketika melihat Kate Middelton memasuki Gereja Westminster Abbey hingga ke depan altar, tangan kirinya selalu digandeng oleh ayahnya. Tangan itu baru diserahkan oleh sang ayah kepada William ketika keduanya akan mengikrarkan janji nikah, dengan bimbingan Uskup Agung Canterbury Rowan Williams sebagai pemegang otoritas tertinggi sekte Kristen Anglikan. Setelah mengucapkan janji nikah itu, tangan Kate digenggam erat oleh William. Penyerahan tangan dari ayah Kate kepada William menyimbolkan bahwa seorang gadis baru boleh disentuh pasangannya saat mereka telah resmi menikah.

Namun, itulah yang telah terjadi. Masyarakat dunia — apalagi masyarakat Inggris — tampak tidak mempedulikan kesucian kedua calon pengantin tersebut. Tetapi bagi kita orang Islam, kesucian itu sangat penting, sebab pernikahan adalah sarana untuk menghindari diri dari perbuatan zina. Dengan menikah maka hubungan yang haram antara pria dan wanita menjadi halal dilakukan. Ketika seorang lelaki mengucapkan ijab kabul, maka ia telah halal melakukan hubungan seksual dengan istrinya. Hubungan itu tidak hanya diperbolehkan tetapi malah bernilai ibadah guna menghasilkan keturunan untuk melanggengkan generasi manusia di muka bumi.

Apa yang telah dilakukan oleh William dan Kate sangat berbeda dengan ayah dan ibunya. Putri Diana dipercaya tetap perawan ketika menikah pada usia 20 tahun dengan Pangeran Charles. Charles dan Diana tidak pernah hidup serumah sebelum keduanya resmi menikah pada tahun 1981. Pers Inggris memuji Diana sebagai gadis yang tetap menjaga kesuciannya hingga ia menikah dengan Charles.

Hidup bersama dalam satu atap — atau kumpul kebo dalam istilah orang Indonesia — sudah menjadi hal yang biasa pada masyarakat Barat saat ini. Pasangan yang merasa saling cocok mencoba hidup bersama dalam satu apartemen selama bertahun-tahun sebelum mereka memutuskan untuk menikah secara resmi di gereja. Jika setelah bertahun-tahun ternyata timbul ketidakcocokan, mereka bisa bubar begitu saja tanpa sempat menikah dulu, lalu mencari pasangan yang lain. Tidak jarang kumpul kebo tersebut telah menghasilkan anak-anak, dan lucunya ketika mereka memutuskan menikah maka anak-anak itu menjadi pengiring pengantin ayah ibunya di gereja.

Gaya hidup kumpul kebo tersebut sekarang sudah menjalar pula ke negeri Timur yang masyarakatnya dikenal konservatif menjaga nilai-nilai kesucian. Globalisasi yang melanda seluruh permukaan bumi telah mengirim nilai-nilai dan budaya Barat yang permisif. Di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia hidup bersama satu atap tanpa ikatan nikah itu sudah banyak dilakukan orang, ada yang sembunyi-sembunyi dan ada yang terang-terangan. Menjamurnya gedung apartemen di kota-kota besar ikut menyuburkan gaya hidup kumpul kebo tersebut, sebab privasi mereka di apartemen lebih terjaga dari gunjingan orang lain. Salah satu pasangan yang terkenal dengan kumpul kebo itu adalah artis bintang panas bernama Andi Sor*ya dan kekasihnya bernama St*ve Imanuel. Mereka tidak malu-malu mengakui kumpul kebonya yang telah menghasilkan dua orang anak. Beberapa tahun yang lalu St*ve dikabarkan telah berpisah dengan Sor*ya dan dikabarkan masuk Islam. Jika orang menikah kemudian berpisah disebut bercerai, maka pasangan kumpul kebo jika berpisah dikatakan bubar.

Maka, dibalik kekaguman kita terhadap gemerlap pesta pernikahan William – Kate, kita juga perlu merenung lagi apa makna kesucian hubungan seorang pria dan wanita. Kesucian itu harus dijaga sampai terjadinya akad nikah, karena pernikahan yang diberkati Tuhan adalah pernikahan yang didahului dengan ijab dan kabul, sebagimana kita (muslim) seringmengucapkan kepada pasangan yang baru menikah semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.


Written by rinaldimunir

April 30th, 2011 at 4:03 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Mahasiswa ITB Korban NII

without comments

Sekarang lagi heboh berita soal NII (Negara Islam Indonesia). Sebenarnya isu NII sudah lama, sudah ada sejak akhir tahun 80-an, namun sekarang merebak kembali karena banya terjadi kasus “hilangnya” sejumlah mahasiswa. Ketika mahasiswa tersebut ditemukan, kondisinya sudah linglung seperti orang yang habis “dicuci otak”.

FYI, NII itu adalah gerakan bawah tanah yang mengandung unsur penipuan dengan membajak nama agama (Islam). Mereka merekrut anggota secara sembunyi-sembunyi. Sasaran utamanya adalah pelajar dan mahasiswa, karena mereka dianggap masih rawan dalam pencarian identitas. Istilahnya kalau sudah masuk NII maka anggotanya dikatakan sudah “hijrah”. Hijrah itu ditandai dengan acara bai’at atau mengambil sumpah. Kalau sudah “hijrah” masuk NII, maka mereka mengkafirkan orang yang berada di luar kelompok mereka. Bahkan, terhadap orangtua sendiri mereka berani melawan karena mereka menganggap orangtua mereka itu juga kafir.

Kalau sudah masuk NII, anggotanya susah keluar dari sana. Indoktrinasi kepada kader NII tersebut sudah sedemikian kuat sehingga secara mental kejiwaan mereka sulit lepas. Jika secara fisik mereka ada, namun secara psikolgis kejiwaan mereka sudah “hilang” dan sangat berbeda dari sebelumnya. Itulah sebabnya kader NII tersebut sering disebut telah mengalami “brain washing” atau cuci otak.

Karena NII itu “negara di dalam negara”, maka di dalam NII itu ada struktur mulai dari presiden, gubernur, bupati, camat, lurah, RT, RW, dan sebagainya. Nah, untuk mewujudkan impian membentuk NII, para anggotanya diwajibkan mengumpulkan dana sesuai target, entah bagaimana caranya, misalnya menjual harta benda, berutang, meminta sumbangan, bahkan mencuri atau berzina untuk mendapatkan uang. Selain itu, para anggotanya juga mempunyai kewajiban merekrut anggota baru. Karena mengejar target setoran dana dan kader baru itulah maka para anggotanya habis-habisan mengisi waktunya untuk mencapai setoran.

Kemana setoran dana itu berujung? Menurut para anggota NII yang sudah keluar dari cengkeraman, dana itu mengalir ke Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu. Ini pondok pesantren yang super megah, berada di Kabupaten Indramayu yang daerahnya dikenal minus. Bagaimana mungkin bisa membangun pesantren yang megah ini dalam waktu singkat kalau bukan dari dana yang dikumpulkan oleh anggota NII.

Berbagai bukti dan temuan dari MUI dan FUUI (Forum Ummat Islam Indonesia) yang dipimpin oleh K.H Athian Ali menunjukkan bahwa sudah terang benderang kalau pondok pesantren ini merupakan markas utama dari NII, namun keberadaannya seakan tidak pernah bisa disentuh, pemimpinnya juga tidak bisa ditangkap. Ada kemungkinan pesantren ini dilindungi oleh orang kuat negeri ini, tapi sangat sulit mengungkapkan siapa pihak di balik pesantren itu.

NII yang sekarang adalah NII gadungan. NII yang asli adalah NII yang dulu didirikan oleh Kartosuwiryo. Tujuannya adalah untuk mendirikan negara berdasarkan syariat Islam. Sejarah menyebutkan bahwa pemberontakan NII (dikenal dengan nama pemberontakan DI/TII) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo berhasil ditumpas TNI kala itu. Sebenarnya umat Islam Indonesia sudah final menegaskan bentuk dasar negara NKRI, bahwa Indonesia bukan negara agama dan bukan pula negara sekuler (abu-abu kali ya…). Ormas Islam seperti MUI, NU, Muhammadiyah, dll sudah tegas menyatakan bahwa bentuk negara Indonesia ini sudah final, tidak ada keinginan untuk mengubah dasar negara. Bahkan, parpol Islam yang selalu dicurigai mempunyai agenda terselubung mendirikan negara Islam juga sudah dengan tegas mengatakan bahwa NKRI sudah final.

Memang ada segelintir pihak yang tetap punya cita-cita untuk mendirikan negara Islam di Indonesia, tetapi selama aspirasi tersebut dilakukan secara konstitusional tentu tidak masalah, karena itu adalah hak warganegara untuk menyatakan pendapat. Nah, Pemerintah Orde Baru saat itu memahami aspirasi tersebut. Pihak intelijen yang dipimpin oleh Ali Murtopo membentuk gerakan NII palsu. Tujuannya jelas, yaitu untuk memojokkan Islam, mendiskreditkan Islam, dan membangun citra buruk di masyarakat tentang politisasi gerakan Islam. Melalui berbagai isu dan penumpasan gerakan Islam yang muncul kala itu (seperti Komando Jihad), maka stigmanisasi tentang politisasi Islam adalah gerakan adalah makar tampaknya berhasil. Masyarakat memiliki rasa antipati terhadap parpol Islam (PPP) dan gerakan-gerakan Islam saat itu.

Nah, NII yang masih hidup sekarang (yang diberi nama NII KW IX dan dipimpin oleh Panj Gumilang, pendiri Ponpes Al-Zaytun), mungkin adalah metamorfosis dari NII palsu yang dibentuk oleh Ali Murtopo cs. Metamorfosis tersebut sudah sedemikian liar sehingga NII yang ada saat ini sudah tidak terkendali lagi. Keberadaannya sudah meresahkan masyarakat karena kasus penculikan, cuci otak, setoran uang, dan penyimpangan ajaran agama Islam mainstream seperti tidak perlu shalat, puasa, dan sebagainya. Namun anehnya, Pemerintah sepertinya tampak enggan menuntaskan kasus NII ini. Ada kecurigaan isu NII sepertinya terus dipelihara. Seperti dikutip dari Din Syamsudin, negara menggunakan isu NII untuk mencegah pergerakan politisi Islam di dunia politik. Padahal mayoritas tokoh Islam sudah jelas sikapnya dalam mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ada sikap yang mendua, dalam arti hal ini dianggap ancaman, tapi negara juga menggunakan isu ini sebagai isu politik untuk mendiskreditkan umat Islam. Kami dari ormas Islam menjadi merasa tersinggung dan sakit hati,” kata Din Syamsudin di sela-sela acara Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah di Jl Menteng Raya, Jakarta, Kamis (28/4/2011).

Kembali ke topik mahasiswa yang terjerat NII. Diantara banyak mahasiswa yang menjadi korban NII, mahasiswa ITB adalah yang paling banyak. “Dari empat kampus ITB, Unpad, Polban dan UPI. ITB sudah sejak dulu digoyang NII. Mahasiswa ITB menjadi yang terbanyak direkrut sebagai anggota NII oleh aktivitis NII gadungan,” kata Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M Da`i dalam jumpa pers di Masjid Al Fajr Jalan Situsari VI Cijagra, Bandung, Selasa. Ada 200-an mahasiswa ITB yang pernah direkrut menjadi anggota NII.

Mahasiswa ITB yang menjadi korban NII umumnya dulu adalah mahasiswa berprestasi akademik baik. Namun karena terbujuk rayu aktifvis NII, mereka terperosok ke dalam aliran yang menghancurkan masa depan mereka. Sejak masuk NII, mahasiswa tersebut sering bolos kuliah, tidak ikut ujian, jarang membuat tugas, lebih tertutup (yang sebelumnya ceria), dan sebagainya. Aktivitas mereka disibukkan merekrut kader dan mencari dana sehingga mereka sering dikatakan “hilang”. Maka, mudah ditebak prestasi akademik mereka hancur berantakan. Orangtua mahasiswa ini sudah beberapa kali dipanggil ke kampus karena anaknya terancam batas waktu studi. Pada kebanyakan kasus, mahasiswa yang ikut NII ini terpaksa D.O karena batas waktu studi mereka melebihi.

Kebanyakan mahasiswa ITB yang terpengaruh NII itu bukanlah mahasiswa yang secara teologis memilki pemahaman Islam yang kuat. Justru kebanyakan korban adalah yang memiliki pengetahuan agama yang rendah. Mereka ini adalah sasaran empuk dijadikan kader NII sebab mereka merasa dirinya sangat kurang dalam agama, banyak berdosa, dsb, sehingga ajaran NII itu sesuai dengan profile mereka. Setelah merasa cocok, mereka akhirnya “hijrah” ke dalam NII sebagai solusi untuk melepaskan diri dari rasa kurang dan berdosa itu.

Di Informatika ITB tempat saya mengajar, terdapat beberapa kasus mahasiswa kami yang menjadi korban NII ini. Yang saya ingat adalah dari Angkatan 1991, 1995, 1996, 2003, dan mungkin juga ada yang luput dari pengamatan saya. Sebagian korban ini ada yang terpaksa D.O dari kampus karena prestasi akademiknya anjlok. Cukup kerepotan juga Dosen Wali menangani mahasiswa yang terkena kasus NII. Melalui konseling dan pendekatan persuasif mahasiswa tersebut memang bisa disadarkan kembali, tetapi karena beberapa semester tidak kuliah, maka status mahasiswanya tidak bisa diselamatkan lagi.

Menurut seorang rekan di milis, sebetulnya dengan logika beragama yg sederhana saja seharusnya mahasiswa tadi tidak perlu terpengaruh NII. Sebabnya, ajaran agama di dalam NII itu sangat menyimpang dari Islam “mainstream, misalnya tidak wajib shalat lima waktu karena masih periode Mekkah, mengkafirkan orang lain yg belum masuk NII, adanya target penyetoran uang dalam jumlah tertentu, penghalalan mengambil harta orang lain dengan cara apa saja untuk memenuhi target setoran tersebut, dan lain-lain.

Mahasiswa ITB dan mahasiswa PT lain umumnya perlu waspada apabila didekati orang atau kelompok orang yang berdakwah secara sembunyi-sembunyi, mengatakan diri kita banyak dosa sehingga harus “hijrah”. Dakwah yang benar tidak ada rahasia-rahasiaan, semuanya terbuka dan dilakukan tanpa rasa takut ketahuan. Sekali masuk jerat NII susah untuk lepas. Akibatnya sangat mahal: masa depan hancur berantakan.


Written by rinaldimunir

April 28th, 2011 at 4:57 pm

Working on Chapter 3: History of Indonesian Palm Oil

without comments

Mungkin yg perlu ibu bahas ini:

- Plantation in Colonial and Post Colonial Era

- Economic Value of Palm Oil

- Role of Palm Oil for Indonesian

- Benefits for Local People

- The Future of Palm Oil

Bagus juga klo memakai jurnalnya Nancy Peluso, Bosma, dan statistik2 dr Indonesia

Okay bu, kerja!

Written by ibu didin

April 28th, 2011 at 6:46 am

Posted in Master Thesis,Studi

Efek Kebebasan yang Kebablasan

without comments

Seorang artis yang baru menikah 1 bulan lalu dengan seorang pengusaha negara seberang mengakui bahwa dia sudah hamil 4 bulan. Lho? Kaget? Tidak perlu heran, kata orang minang: lah dulu bajak daripado jawi.

Di Palembang, beberapa orang anak-anak SD melakukan pesta se*s dengan teman-temannya yang perempuan. Anak-anak itu mengakui bahwa mereka melakukan perbuatan terlarang itu karena terobsesi sering melihat video por*o.

Seorang produser film dengan bangga mengatakan dia berhasil mendatangkan artis por*o dari luar negeri untuk membintangi film dedemit murahan yang diproduksinya. Bayarannya sangat mahal, kata produser tersebut.

Di dalam gedung wakil rakyat, anggota dewan yang terhormat kepergok memutar video por*o. Parahnya lagi, anggota dewan itu berasal dari partai yang mengusung kesalehan dan kesucian.

Teman saya yang menjadi guru di daerah mengeluhkan perilaku para siswa-siswinya. Siswa-siswi yang saling pacaran memanggil pasangannya dengan sebutan “mami” atau “papi”, seperti sudah menjadi pasangan suami-istri saja. Wallahualam, mungkin saja mereka telah terlalu jauh melakukan perbuatan suami dan istri sungguhan. Sementara pada waktu yang lain, ketika sekolah melakukan razia ponsel, guru-guru menemukan foto-foto dan video por*o di dalam ponsel para siswa. Bergidik bulu roma melihat kelakuan para siswa-siswi itu, mau muntah rasanya, kata teman saya itu. Padahal sehari-hari para siswa itu terlihat alim, eh tidak tahunya kelakuan mereka di belakang guru sangat “mengerikan”.

Begitulah potret suram kebobrokan moral di negeri kita. Liberalisasi dalam berbagai bidang kehidupan sudah mencapai taraf yang kebablasan, kondisinya sudah lampu merah.

Suara kaum moralis seperti para agamawan dan pendidik tidak terlalu dipedulikan. Mereka dianggap sebagai kaum konservatif yang menghambat kebebasan berekspresi. Setiap orang bebas untuk berbuat apa saja, asalkan tidak merugikan atau mengganggu orang lain, begitu suara pembelaan dari kelompok liberal yang tidak suka terlalu diatur dengan berbagai aturan yang mereka anggap mengekang. Membatasi kebebasan manusia dalam berekspresi dianggap melanggar HAM. Saat ini HAM sudah menjadi ideologi yang berada di atas segala-galanya.

Maka, jika suara kaum agamawan dan pendidik saja sudah tidak didengar lagi, maka benteng terakhir untuk melindungi generasi penerus bangsa dari kerusakan moral ada di dalam keluarga. Pendidikan di dalam keluarga adalah sarana efektif untuk melindungi anak-anak kita dari degradasi dan dekandensi moral. Di luar rumah tidak ada lagi lagi tokoh yang bisa dijadikan teladan, maka ayah dan ibulah yang menjadi panutan bagi anak-anak. Ayah dan ibu yang baik, yang mendidik anak-anaknya dengan baik, akan menghasilkan anak-anak yang berakhlaq baik pula.

Wahai para bapak dan ibu, jangan terlalu sibuk mencari harta di luar rumah, ingatlah anak-anak di rumah yang bisa terabaikan dari perhatian dan pendidikan akhlaq, sebelum mereka menjadi korban paham kebebasan yang kebablasan.

Ya Allah, bimbinglah kami untuk mendidik generasi penerus dengan akhlaqul karimah.


Written by rinaldimunir

April 27th, 2011 at 4:27 pm

Posted in Budi Pekerti

Bagian terakhir theoretical framework: Development

without comments

Tinggal bagian akhir yang insyaAllah lebih ‘mudah’ dari sebelumnya. Untuk notion ‘development’ mungkin lebih baik pake buku development theory nya Jan Nedeerven Pieterse (I think it’s better than Rapley) ditambah development economic nya AP-Thirlwall. Bismillah, hari ini insyaAllah selesai ya bu!!

 

 

 

 

 

 

Tambahan dari Arora juga bagus, dari Simon Szreter (1997):
“The argument developed here is that economic growth should be un- derstood as setting in train a socially and politically dangerous, destabiliz- ing, and health-threatening set of forces. These negative consequences of rapid economic growth may be conceptualized as a sequential model: the “four Ds” of disruption, deprivation, disease, and death. The four Ds are always potential outcomes of rapid economic growth, but only the first ‘D,” disruption, is a universal accompaniment of the process. By disrup- tion, I mean, first, disturbance in the physical and biological environment- the ecological relationship between humans and the habitat. Second, ideo- logical foment involving the cultural negotiation of new values and norms. Third, institutional and administrative destruction and construction. Fourth, political conflict among the competing social groups involved, some of them relatively new social formations thrown up as the agents of economic change”

………………“the extent to which the sequence of the four Ds unfolds to its final, lethal conclusion in any particular country experiencing economic growth, and which parts of the population suffer most, are contingent on the political, ideological, social, and institutional history of that country.”

Jangan lupa bagian akhir ditambahkan theses ‘sustainability’

and done!

Written by ibu didin

April 26th, 2011 at 8:44 pm

Posted in Master Thesis,Studi

Nonton Pagelaran Kesenian Minang dari UKM-ITB di Sabuga

without comments

Jumat malam yang lalu saya menghadiri acara pagelaran seni budaya minang yang diselenggarakan Unit Kesenian Minang (UKM) ITB. Ini untuk kesekian kalinya saya hadir. Sejak dulu sejak masih mahasiswa hingga menjadi bapak-bapak seperti sekarang ini saya tidak pernah melewatkan pertunjukan dari UKM. Menyaksikan pertunjukan seni budaya sudah menjadi hobi saya sejak dulu, tidak melulu seni budaya minang saja. Kebetulan di ITB terdapat banyak unit kesenian yang berbasis kedaerahan, mulai dari Aceh hingga Papua. Mungkin yang belum ada di ITB adalah unit kesenian dari Maluku, NTT, NTB, Sulawesi Utara/Tengah/Tenggara/Barat, Kalimantan (semua provinsi), dan Bengkulu. Penyebabnya karena mahasiswa dari daerah tersebut sangat minim jumlahnya di ITB atau bahkan tidak ada. ITB belum bisa disebut “kampus nusantara” karena belum semua daerah punya mahasiswa di sini. Barangkali hanya IPB Bogor dan STPDN yang bisa disebut kampus nusantara.

FYI, minggu lalu ada tiga unit kesenian yang menyelenggarakan pagelaran seni budaya di dalam kampus, yaitu Unit Kesenian Melayu Riau (UKMR), Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan (Jawa) PSTK, dan Unit Kesenian Minang (UKM). Saya yang sangat berkeinginan melihat pagelaran seni melayu dari UKMR patut merasa kecewa karena tidak bisa datang disebabkan badan sedang kurang sehat. Semoga tahun depan saya bisa menonton pertunjukan seni melayu, karena saya penggemar lagu-lagu melayu, terutama bila mendengar ritmik musik melayu dari akordion.

Kembali ke acara pegelaran budaya minang dari UKM ITB ini. Kita langsung ke TKP saja, di Gedung Sabuga ITB yang besar dan megah itu. Olala, hujan deras yang mengguyur kota Bandung sejak sore membuat acara terpaksa ngaret. Acara yang seharusnya dimulai pukul 19.00 terpaksa diundur pukul 19.30 karena menunggu tamu penting (mungkin saya salah satunya, ha..ha). Meskipun hujan deras, tetapi kondisi ini tidak menyurutkan penonton untuk datang memenuhi gedung Sabuga. Ruang pertunjukan yang hanya seperenam lingkaran itu penuh sesak dengan penonton yang rata-rata mahasiswa minang di Bandung, alumni, dan dan perantau. Percaya apa tidak, meskipun beberapa kampus PTN/PTS di Bandung sudah mempunyai unit budaya minang seperti yang ada di Unpad, ITTelkom, Itenas, UPI, dan lain-lain, namun pertunjukan dari UKM ITB tetap dinanti-nanti. Mungkin karena UKM ITB ini adalah perintis unit kesenian minang di kampus, usianya sudah tua sebab ia berdiri sejak tahun 1976.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pagelaran kali ini tipikal dan tidak jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Ada cerita yang diselingi tari, randai, dan musik talempong, saluang, dan bansi. Sepertinya pakem bahwa selalu ada cerita/drama tidak bisa dihilangkan. Oh ya cerita kali ini tentang mesin waktu yang melontarkan mahasiswa ITB ke ranah Minang pada tahun 1930-an. Dari kacamata penonton, menurut saya cerita sebenarnya tidak penting benar, yang penting adalah inti kesenian minang itu sendiri, yaitu musik tradisionil, tarian, randai, dan lagu-lagu. Yang tetap sama dengan pertunjukan tahun-tahun sebelumnya adalah tarian yang — menurut saya — selalu itu-itu saja.

Tahun ini UKM ITB agak “pelit” mengeluarkan tarian, hanya ada 5 tarian yaitu tari galombang, tari saputangan, tari (lupa lagi namanya), dan tari piring (CMIIW). Mungkin yang “agak menolong” adalah tari piring yang memang sudah jadi menu wajib pada setiap pagelaran UKM, namanya tari “piring manggaro”. Pada jenis tari piring ini, tidak ada adegan menginjak-injak beling seperti pada tari piring klasik.

Karena selalu menonton pagelaran ini dari tahun ke tahun, tentu saya dapat menilai apakah pertunjukannya luar biasa, bagus, biasa-biasa saja, atau kurang bagus. Secara umum pertunjukan tahun ini saya nilai biasa-biasa saja. Alur cerita yang ditampilkan terkesan datar dan nyaris serius. Penonton tampak bosan disuguhi cerita yang monoton. Pada akhir cerita Pak Datuk terkesan menceramahi/menggurui. Ending ceritanya kurang bagus, agak tanggung gitu. Koloborasi dengan unit-unit kesenan lain (UKMR, LSS, MGG, UKSU) ternyata hanya pada musik penutup saja. Saya kira unit-unit ini tampil di tengah acara dengan paduan musik talempong, misalnya rampak gendang diiringi talempong, atau tari Bali dengan paduan gamelan dan bansi, dan sebagainya. Ternyata bukan (agak kecewa sih).

Yang membuat saya salut pada pagelaran kali ini adalah digunakannya internet untuk live streaming. Jadi, bagi orang yang tidak sempat datang atau berada di negeri jauh seberang, mereka tetap bisa menyaksikan acara ini melalui video streaming pada URL: http://ukm.itb.ac.id/livepagelaran/. Live streaming ini adalah hasil kerjasama dengan USDI (Unit Sumber Daya Informasi) ITB. Sebagai sebuah kampus teknologi memang sudah sepantasnya mahasiswa ITB memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan acara pertunjukan.

Dengan menyediakan live streaming tentu cakupan penonton lebih luas lagi. Cuma ada kelemahannya, yaitu interpretasi dari penonton yang bukan dari ITB bisa bermacam-macam. Para perantau yang rindu dengan kampung halaman tentu berharap sebuah pegelaran seni budaya yang mereka harapkan dapat mengobati lapeh taragak, namun kenyataanya tidak demikian. Ini tampak dari komentar-komentar di milis RantauNet yang saya baca sebagai berikut:

“Cuima sayangnyo … MC nyo kebanyakan omong … jadi ndak jaleh pulo, apakah “kesenian” = ngomong melulu?
he he, Jadi latiah awak manonton. Jadi batutuik sajo baliak web tu …”

“Hehe, mungkin ekspektasi ambo nan salah. Mambaco subject “…Pagelaran Kesenian Minangkabau” nan tabayang dek ambo tadi malam tu ka manonton urang banyanyi, manari, saluang, randai”

“Anggap se anak kamanakan awak nan jadi MC tu sadang latihan utk jadi MC maso depan. Kalau anak sikola kan wajar kalau alun profesional.”

Mungkin untuk tahun-tahun yang akan datang perlu dipikirkan kembali pagelaran kesenian minang yang benar-benar menampilkan kesenian minang yang diharapkan banyak orang. Kreativitas mahasiswa perlu digali lagi. Tetap semangat ya, semoga sukses untuk tahun depan.


Written by rinaldimunir

April 26th, 2011 at 2:21 pm

Tak mampu menjawab *pertanyaan alam

without comments

Sewaktu menelepon orangtua di kampung, ibu bertanya, ini apa sebabnya, dua tahun hujan terus-terusan, perkiraan2 untuk menanam tanaman x, y, z yang disesuaikan dengan musim kemarau/hujan menjadi meleset.  Ilmu pertanian yang diperoleh turun temurun tak mampu menjawab fenomena alam akhir-akhir ini, sehingga kebanyakan petani merugi dan bangkrut. Tidak heran harga cabe sampai meroket, karena daerah penghasil cabe gagal panen.

Waduh… saya juga tidak tahu jawabannya…. mungkin…..

“mari kita mencoba bersahabat dengan alam…bumi langit dan matahari..bahasa mereka kita pelajari..tentunya dengan kalimat jiwa yang rahasia…Tuhan menghendaki kita pelihara bumi beserta sluruh isinya…. dudududududududu”

wheheheheheh *gimana nie pertanyaan emaknya ga kejawab*

Written by ibu didin

April 26th, 2011 at 2:09 am

Posted in Bonus Track,Tafakur

Wajib diarsip: situs bu bidan :)

without comments

Saya baru tahu ada bidan di Klaten-Jawa Tengah yang membuat situs yang sangat edukatif :)

http://www.bidankita.com/

Written by ibu didin

April 25th, 2011 at 11:55 pm

Posted in Link Penting

Tiga dari Sepuluh Tukang Ojek di Jakarta Adalah Sarjana!

without comments

Saya menerima sebuah email dari sebuah milis (sumber: milis Dikti). Diceritakan di dalam email tersebut kisah seorang sarjana Teknik Nuklir UGM, mantan karyawan PT DI (dulu IPTN) yang di-PHK karena masalah keuangan di BUMN tersebut, akhirnya terjun menjadi penjual es krim di Cimahi.

Kemudian, mengutip hasil riset terbaru dari Guru Besar Ekonomi Universitas Krisnadwipayana dan mantan Dirjen Binawas Depnaker, Profesor DR Payaman J Simanjuntak di Jakarta. Riset Profesor Payaman menemukan bahwa tiga dari sepuluh tukang ojek di Jakarta adalah sarjana.

Begitulah potret pengangguran di Indonesia. Lapangan kerja sangat sempit, akhirnya para sarjana berkerja serabutan apa saja, yang penting halal dan bisa menfakahi keluarga, salah satunya menjadi tukang ojek. Kalau anda sering melihat para tukang ojek yang mangkal di Jakarta, maka beberapa di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi. Barangkali tukang ojek di Bandung atau di kota besar lain kondisinya tidak jauh beda dengan tukang ojek di Jakarta. Memprihatinkan memang, tapi begitulah kenyataannya di negeri kita.

Berikut email yang saya terima:

Pengirim email: satriadharma2002@yahoo.com

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. R Edy Haryatno Fitriyanto (41) tak pernah mengira hidupnya bakal berubah drastis. Ketika PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran terhadap 6.551 karyawannya, Edy Haryatno Fitriyanto termasuk di dalamnya.

Sarjana Teknik Nuklir lulusan Universitas Gadjah Mada ini tersingkir dari PT DI tahun 2003. Protes dan unjuk rasa tak mampu mengubah keputusan perusahaannya. Berbagai usaha telah dicoba untuk menyambung hidup. Dari beternak kelinci, ayam, itik, berjualan rokok, dan keripik singkong. Namun, kerja serabutan tersebut gagal atau tidak memuaskan. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjualan es krim di di pusat perbelanjaan Ramayana, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Edy, yang dulunya bekerja sebagai pemrogram dan pendesain di bagian Engineering Research Development Center PT DI, harus menerima kenyataan ini. Bukan hanya Edy yang membuka usaha ini. Sedikitnya ada tujuh orang rekannya yang bernasib serupa, berjualan es krim.

“Itu karena kecakapan teknik yang tinggi tidak disertai dengan entrepreneurship (kewirausahaan) sehingga tidak dapat di manfaatkan secara efektif di tengah masyarakat,” ujar Agung B. Waluyo, PhD, dosen Universitas Ciputra, Jakarta.

Kisah malang Edy yang diwartakan sebuah harian nasional edisi 28 April 2007 dicuplik Agung di awal paparannya. Fakta itu membuat puluhan peserta Rapat Koordinasi Nasional tentang Program Kewirausahaan Masyarakat, di Yogyakarta, pada 12 Desember 2009 lalu itu terhenyak. Sebagian peserta yang sebelumnya menikmati kudapan, memainkan telepon genggam atau berbincang dengan peserta lain, mendadak menghentikan aktivitasnya. Semua mata tertuju pada Agung. Seluruh ruangan menjadi hening.

Seolah memanfaatkan momentum ini, Agung menghamburkan contoh-contoh lain. Kali ini, dia mengutip hasil riset terbaru dari Guru Besar Ekonomi Universitas Krisnadwipayana dan mantan Dirjen Binawas Depnaker, Profesor DR Payaman J Simanjuntak di Jakarta. “Riset Profesor Payaman menemukan bahwa tiga dari sepuluh tukang ojek di Jakarta adalah sarjana,” tandas Agung.

Agung menjelaskan, penganggur berstatus sarjana jumlahnya semakin meningkat setiap tahun. Pada tahun 2007, BPS mencatat 740.206 penganggur lulusan perguruan tinggi. Setahun berikutnya, jumlahnya melonjak menjadi 1,1 juta orang. Berikutnya, Agung menampilkan gambar derita seorang TKW di Malaysia. TKW itu terpotret merayap di jendela sebuah apartemen di lantai atas. Dia bersiap melompat kabur dari deraan siksa sang majikan. Upayanya berhasil dicegah setelah diselamatkan polisi setempat.

“Kelangkaan pekerjaan di Tanah Air mendorong generasi muda menjadi TKI. Tanpa entrepreneurship, Indonesia akan mengirim lebih banyak TKI ke luar negeri,” tegasnya.

Minimnya lapangan pekerjaan ditambah tingginya angka pengangguran terutama mereka yang terdidik, berpotensi menimbulkan masalah sosial. Dari tingginya angka kriminalitas, meningkatnya penyalahgunaan narkoba, sampai perdagangan manusia. Stabilitas nasional akan terancam bila masalah krusial ini dibiarkan.

Menurut Agung, kewirausahaan adalah jiwa dan semangat yang membuat negara manapun mampu mengatasi masalah dunia di abad 21. Kewirausahaan dan wirausahawan juga memiliki makna penting dalam kemajuan sebuah bangsa.

Dalam kesempatan yang sama, Eko Suhartanto, pengajar Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya, Jakarta, memaparkan makna penting kewirausahaan dan wirausahawan dalam kemajuan sebuah bangsa. Eko mengungkapkan, besarnya jumlah wirausahawan di sebuah negara akan membawa kemajuan pesat bagi negara tersebut. Mengutip data hasil penelitian Global Entrepreneurship Monitor (GEM) tahun 2007, dia mencontohkan kesejahteraan yang dialami Amerika Serikat karena 11 persen penduduknya adalah wirausahawan. Begitu pula dengan negara tetangga, Singapura yang 7 persen penduduknya menjadi wirausahawan.

Di Indonesia, lanjut Eko, jumlah wirausahawan baru sekitar 0,18 persen atau 400 ribu orang dari total jumlah penduduk. Untuk mengejar ketinggalan itu, Eko menuturkan, Indonesia memerlukan lebih banyak wirausahawan yang didorong oleh visi dan inovasi serta berorientasi pada penciptaan lapangan kerja baru.

Untuk hal ini, Agung menuturkan, wirausahawan bisa dibentuk lewat tiga cara. Yakni, dilahirkan sebagai wirausahawan, dibentuk melalui lingkungan, dan latihan. Dalam hal dibentuk melalui latihan, agung memaparkan, pendidikan kewirausahaan yang diajarkan di kampusnya. Di antaranya, pembelajaran lewat pengalaman; menyertakan business creation, business operation dan business growth; serta pembentukan jiwa wirausahawan secara utuh melalui pola pikir, perilaku, keahlian dan pengetahuan.

“Selain itu, cara mengajarnya harus oleh orang yang tepat, pada orang yang tepat atau selektif, dan dengan pendekatan yang benar,” tandasnya.

Sejalan dengan itu, Direktur Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan (Ditbinsuskel) DR Wartanto mengatakan, pemerintah fokus pada program kewirausahaan di tahun 2010. Oleh karena itu, lanjut dia, semua jalur dan jenis pendidikan harus mengajarkan program kewirausahaan. Termasuk membuat kurikulum kewirausahaan dalam pendidikan formal dari jenjang SD sampai perguruan tinggi.

“Khusus PNFI, harus menajamkan kewirausahaan dengan merancang program sampai peserta didik betul-betul mandiri,” ujarnya.

Wartanto menambahkan, program kewirausahaan yang dilaksanakan harus mengubah pola pikir, dan mental peserta didik dari mencari pekerjaan menjadi menciptakan pekerjaan. Sebab, kata dia, menciptakan wirausahawan tak cukup dengan pembekalan keterampilan. Harus diiringi dengan pengubahan mental dan perilaku sebagai calon wirausahawan.

Terkait dengan hal itu, Wartanto mengungkapkan, Ditjen PNFI akan meluncurkan program Pendidikan Kewirausahaan Masyarakat (PKM) pada tahun 2010.

“Sasaran rintisan PKM 2010 adalah pilot project di 125 lembaga yang memenuhi syarat,” tandasnya.

Dia menambahkan, bila program PKM di 125 lembaga percontohan itu berlangsung baik maka bisa dilanjutkan di tahun depan dengan jumlah lembaga lebih banyak. Jika program ini berjalan sesuai rencana maka akan banyak lahir wirausahawan baru pencipta lapangan kerja. Pada akhirnya, penuntasan masalah pengangguran dan kemiskinan bukan lagi sekadar mimpi. (mss)


Written by rinaldimunir

April 25th, 2011 at 1:21 pm

Hampir selesai: cornerstones actor-oriented approach

without comments

insyaAllah bijna klaar…. almost done bagian theoretical framework!

 

 

 

 

 

 

 

 

Written by ibu didin

April 24th, 2011 at 9:20 pm