if99.net

IF99 ITB

Archive for March, 2011

To a child L.O.V.E is spelled T.I.M.E

without comments

Written by ibu didin

March 12th, 2011 at 2:54 pm

Posted in anak,Tafakur

Makan Mie Goreng di Gampoeng Aceh

without comments

Kemarin anak saya yang sulung pesan minta dibelikan mie goreng Aceh. Baiklah, dia memang sangat suka makan mie goreng Aceh ini. Pulang dari ITB jam 17.00 saya segera meluncur menuju kedai Gampoeng Aceh yang terletak di jalan Dago di samping Hotel Holiday Inn Bandung. Gampoeng artinya kampung, jadi Gampoeng Aceh maksudnya kampung Aceh. Di Bandung cukup banyak kedai mie goreng khas Aceh, salah satunya Gampoeng Aceh itu. Saya mencatat kehadiran pedagang mie goreng Aceh mulai menjamur di kota Bandung pasca tragedi tsunami yang memilukan di akhir tahun 2004. Sejak itu nama Aceh menjadi terkenal di seluruh dunia, dan sejak itu pula ekspansi perantau dari Aceh ke kota Bandung cukup besar jumlahnya.

Kedai Gampoeng Aceh dirancang seperti kafe. Banyak anak muda suka mangkal di sana, apalagi pada malam minggu. Maklumlah lokasinya di Jalan Dago yang terkenal sebagai tempat nongkrong anak muda setiap malam, khususnya pada akhir pekan.

Macam-macam makanan khas Aceh yang dijual di sana. Ada martabak Aceh (yang sebenarnya mirip dengan telur dadar), roti cane, gulai kari, dan sebagainya. Nah, saya mau makan roti cane (canai) dulu ah sebelum pulang. Roti cane adalah roti khas India/Timur Tengah. Roti ini dimasak di atas wajan datar, ketika hampir matang roti tersebut digebuk hingga pipih. Hancur deh, tapi disitu pula nikmatnya. Rasanya agak asin. Roti cane bisa dimakan dengan gulai kari, atau kuah sop. Tetapi sekarang variasi pendamping makan roti cane sudah lebih bervariasi, bisa pakai keju, coklat, dan sebagainya, mengikuti selera anak muda zaman kini. Karena saya ingin makan roti cane saja tanpa embel apapun, maka pelayan menyediakan gula pasir jika ingin rotinya terasa agak manis.

Di Padang juga ada roti cane semacam ini, biasanya dijual pada pedagang martabak mesir/martabak Kubang. Sekarang pedagang martabak Kubang ada di mana-mana. Di Jakarta martabak Kubang yang terkena di Jalan Saharjo sehingga sering disebut Kubang Saharjo. Kalau di Bandung martabak kubang ada di Jalan Terusan Jakarta (baca tulisan saya terdahulu tentang martabak Kubang di Bandung).

Makan roti cane tentu tidak lengkap tanpa minum. Nah, saya minta dihidangkan minuman khas Aceh yang bernama es timun. Es timun terbuat dari serutan buah ketimun (Sunda: bonteng), diberi air, gula, dan es batu, ahhhh… segar rasanya.

Dulu semasa kecil di Padang saya sering minum es timun. Biasanya es timun dibuat orang pada bulan puasa sebagai minuman pembuka puasa. Jadi terkenang masa kecil nih…

Nah, mana pesanan anak saya? Oh, ini dia sudah datang, mie goreng Aceh. Mie goreng Aceh adalah mie goreng yang dicampur dengan sayur tauge dan dimasak dengan bumbu khas Aceh. Saya pernah baca bahwa di Aceh sendiri makanan mie goreng ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Rasa mie goreng Aceh sangat khas, mienya bulat dan berukuran cukup besar. Mantaplah pokoknya. Selain mie goreng juga ada nasi goreng khas Aceh, cuman saya lebih suka mie goreng daripada nasi goreng. Nasi gorengnya agak kering, masih kalah dengan rasa nasi goreng khas Minang/Padang di Pasar Simpang dago. .

Yuk, ah, saya mau pulang dulu. Anak saya di rumah tentu sudah menanti-nanti mie goreng Aceh kesukaannya. Jika ingin lebih lengkap, pulang ke rumah melewati Jalan Aceh yang rindang dan sejuk. Nama Aceh memang sudah melekat di hati orang Bandung sejak zaman dulu, sampai-sampai diberi nama jalan di wilayah kota yang banyak bangunan militernya.


Written by rinaldimunir

March 10th, 2011 at 4:04 pm

Di sebuah Pesta, Makan Minum Sambil Berdiri

without comments

Ada perasaan risih ketika saya hadir di sebuah pesta perkawinan. Para tamu makan dan minum sambil berdiri, bahkan sambil berjalan dan mengobrol dengan tamu lainnya. Risih karena sebenarnya makan dan minum sambil berdiri itu tidak patut, seperti hewan makan sambil berdiri saja. Meskipun makan dan minum sambil berdiri itu tidak berdosa (hukumnya mubah atau boleh), namun para ulama sepakat menyatakan bahwa yang utama adalah makan dan minum sambil duduk (baca penjelasannya di sini).

Saya sudah menghadiri banyak acara walimahan perkawinan. Umumnya pesta pernikahan tersebut dilakukan di gedung, bukan di rumah. Hampir sebagian besar yang empunya pesta tidak menyediakan kursi yang cukup buat tamu. Jumlah kursi hanya puluhan, sedangkan tamu yang datang ratusan pada waktu yang hampir bersamaan. Alhasil, para tamu “terpaksa” makan dan minum sambil berdiri.

“Terpaksa”? Tidak semuanya, bahkan pada pesta perkawinan yang menyediakan kursi dalam jumlah banyak sekalipun, sebagian tamu enggan duduk. Mereka lebih memilih berada dekat stand makanan dan makan minum sambil mengobrol dengan tamu lain yang mungkin sudah lama tidak berjumpa. Memang, resepsi pernikahan sering dijadikan ajang reuni atau kumpul-kumpul para sahabat yang lama tidak bertemu. Maka, reuni sambil duduk mungkin dianggap kurang pas. Berdiri sajalh sambil makan, mungkin begitu dalam pikiran banyak orang.

Saya pernah menghadiri acara pesta perkawinan sebuah keluarga yang saya kenal islami. Untuk menjaga sunnah Rasul, keluarga ini menyediakan kursi dalam jumlah yang cukup banyak. Tamu pria dan wanita dipisahkan tempatnya sehingga tidak berbaur (ada hijab). Sekali-sekali pembawa acara menghimbau para tamu agar makan sambil duduk di kursi. Mempankah himbauan itu? Tidak juga, tetap saja banyak yang makan dan minum sambil berdiri dan saling ngobrol dengan tamu lainnya. Oalaaahh, sudah menjadi kebiasaan rupanya sehingga sulit untuk diubah.

Lucunya, pada acara buka puasa bersama di Aula Barat ITB tahun lalu, para dosen ITB pun berbuka puasa sambil berdiri. Jadi, kalau sudah menjadi budaya, susah juga mau diubah, tak peduli itu acara pesta atau acara berbuka puasa.

Anehnya, ketika menghadiri resepsi perkawinan yang diadakan di rumah (bukan di gedung), para tamu tidak ada yang makan sambil berdiri, semuanya duduk dengan tertib di kursi yang disediakan (jumlah kursi cukup banyak). Kursi-kursi itu disusun di halaman rumah atau di jalan depan rumah dengan tenda biru menaunginya. Rupanya nuansa di rumah dan di gedung memberikan efek yang berbeda. Kenapa? Sebab kalau di rumah sendiri kita biasanya makan sambil duduk, bukan?


Written by rinaldimunir

March 9th, 2011 at 4:51 pm

Posted in Gado-gado

Untuk diselesaikan hari ini

without comments

Norman Long
Development sociology
actor oriented analysis
social constructionist
interface analysis
social interface

Good luck!

Written by ibu didin

March 9th, 2011 at 1:22 pm

Kejar setoran tulisan

without comments

I think I am gonna be crazy, berada pada lingkungan yang tergila-gila pada karya ilmiah akademis *&^%$#()#@!

Bulan maret ini masyaAllah…. menyesakkan…. kejar setoran tulisan ilmiah, revisi bab 1 tesis, menulis bab 2 theoretical frameworks, target pribadi untuk bab 3 historical palm oil di Indonesia dan kronologis munculnya perlawanan sengit dari environmental NGO.

Beberapa tugas yang masih kececeran, merevisi portofolio qualitative research methodology untuk Eric, menulis 5000an kata report global value chain basmati untuk Arora, rencana merevisi essay development theory, strategy, and policy untuk Henny. Semuanya untuk bulan maret..helllpppppp *&^%$#@!

Uhuhuhu.. ya Allah berilah kemudahan lahir dan batin :| I really need U…………..

NB: Alhamdulillah ada kabar baik, setelah semalam berhasil menyelenggarakan rapat kerja online Salamaa, maka program kerja Salamaa untuk kepengurusan saya kali ini insyaAllah setidaknya siap dieksekusi.

Ya Allah, terimalah segala yang hamba lakukan ini sebagai amal ibadah *exhausted*
Jadikanlah lelah, energi & pikiran yang terkuras ini sebagai tuah untuk kebaikan anak-anak saya kelak. Amiinn…

Written by ibu didin

March 7th, 2011 at 5:29 pm

Posted in essay,Studi

Pusiiiing dengan Bahasa Alay nan Lebay

without comments

Kalau membaca tulisan remaja zaman sekarang benar-benar pusing. Pusiiiing. Pasalnya mereka menggunakan bahasa aneh, bahasa alay namanya. Bahasa alay ini semacam bahasa gaul yang menggunakan kombinasi huruf (huruf besar dan huruf kecil) dan angka yang bunyinya dimirip-miripkan dengan kata aslinya (Bahasa Indo atau Inggris). Saya menemukan kalimat alay dari para remaja ini pada komentar di fesbuk, komentar di blog, email, dan kiriman sms. Ternyata perkembangan teknologi informasi seperti ponsel dan situs jejaring sosial telah memicu banyak anak dan remaja sekarang menulis dengan bahasa yang lebay itu.

Ini contoh kalmiat mereka dalam bahasa alay:

A : N4nt1 50re ud 4d4 4cr4 g4?

B : Gk, ‘loM 4d4, knp?

A : M0 Nnt0n sm W 94k?

B : Bwleh, y03ks.. :-) )

atau yang ini:

A : Qu mO d474ng k humz Qmu lEh g? Nx Qu tilp. Ppi Low @D

B : Bos d Humz qu g jd. Or qT MamZ d lwar za, gmn? Ntr Qu pckup d /4an Iank byza, oce. Saiang qmu.

Kamu mengerti? Nah, bagaimana kalau ini serta artinya (diambil dari sini):

QmO dLaM iDopQhO (kamu dalam hidupku..)
q tWo……………… (aku tau……)
qMo mANk cLiD wAd cYanK m qHo…………. (kamu memang sulit buat sayang sama aku…)
tPhE qMo pLu tHwO„„„ (tapi kamu perlu tau….)
aLwaYs 4’U…………… (always for you, cuman buat kamu)
cO’nA cMa qMo YaNk Co WaD qHo cYuM………… (soalnya cuma kamu yang cowo buat aku senyum)
k’tHwA„„„„„„„„„„ ketawa…)
n cNeNk…………….. (dan senang)
tHanKz b’4„„„„„„ (thanks before, terimakasih sebelumnya)
yOz aLaWAiCe d bEzT……………. (you always the best, kamu selalu yang terbaik
-ALAWAICE? WTF?) iN meYe heArD„„„„„„, (in my heart, dalam hatiku
-btw MEYE? APA ITU HAHA)

tHo_tHo………….. (dadah -ini dadah doang ribet banget nulisnya)
LupHz yOu„„„„„„, (love you, sayang kamu)
I’m ReGrEeEeeEEeeEet nOw……………. (aku menyesal sekarang)
naFaZ„„„„„„„„„, (napas)
bNcHi qOh nGmBAnK………………. (benci aku ngambang)
nPhA jDe gnE??????????????? (mengapa jadi begini?)
i dOn’t LiKe tHaT………….. (I don’t like that, aku tidak suka itu)
qOh g Mo iDoP dLAM kmNfqAn………. (aku ga mau hidup dalam kemunafikan -WUESSS angin berhembus)
tHiZ iZ buLLsHiT!!!!!!!!!!! (this is bullshit!, ini semua omong kosong!!! -penuh amarah membara)
sHiT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! !!!!!!!!!!!!!!!! (shit!!!!!! TA* )
HAifTf……………… (huff)
TaKe mE 2 yOuR hEaRtZzz?????????????????? (take me to your heart, bawa aku ke dalam hatimu)
cXnK qMoh tO cKiDnAAAAaaaAaAaaaa……. (sayang kamu tuh sakitnya…)
m_tHa apOn YoH……………… (minta ampun ya…)
qoH tLuZ”aN uCHA bWaD tTeP qEqEUh cXnK qMo………. (aku terus terusan berusaha buat tetep kekeuh sayang kamu…)

bUD„„„„„„„„„, (but, tetapi…) hUhuHuHfTFTf………….. .. (huft huft -ehem

ckIdDDdddDDDd„„„„„„, „„„„„„„„„„„„„ „„ (SAKIIIIIIT!

Banyak orang yang mengkhawatirkan fenomena bahasa alay ini. Mereka beranggapan bahasa alay ini dapat merusak Bahasa Indonesia. Menurut saya kekhawatiran itu berlebihan, sebab bahasa alay ini sifatnya temporer saja (sementara). Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bersamaan dengan perjalanan waktu bahasa tersebut akan hilang dengan sendirinya. Fenomena ini mirip dengan bahasa gaul beberapa puluh tahun lalu yang bernama bahasa prokem, sekarang bahasa prokem sudah terdengar lagi penggunaannya.

Untung saja mahasiswa saya tidak menjawab soal ujian dengan bahasa alay ini. Para remaja juga tidak akan menjawab soal ujian gurunya dengan bahasa alay. Ini berarti mereka tahu konteks penggunaannya, kapan untuk serius dan kapan untuk main-main. Kalau mereka pakai bahasa alay dalam menjawab soal ujian, tentu tambah pusinglah saya atau para guru membacanya. Sampai sejauh ini belum terjadi.


Written by rinaldimunir

March 7th, 2011 at 9:57 am

Posted in Gado-gado

Hatinya yang ditata

without comments

Berjalan dari stasiun Eindhoven ke gedung Innovation Sciences memang cukup jauh, untuk saya 25 menit jarak jalan, tetapi selama ini ‘biasa saja’ memang sudah memperhitungkan jauhnya karena tidak membawa sepedah ke kampus.  Di TU Eindhoven memang mau tak mau mengandalkan sepedah, karena kampusnya yang berbentuk ‘kompleks’ tertutup, tidak ada bis yang membelah kampus, beda dengan TU Delft yang kompleks terbuka, kendaraan umum ada jalur membelah kampus.  Selama ini saya selalu meminimalisir bawaan, terutama tidak membawa laptop, agar tidak capek.

Tetapi kemarin memang mau tidak mau harus bawa laptop, untuk direparasi di notebook service, karena mudah sekali overheated.  Dalam kondisi hamil dan olala sepatu sudah mulai kerasa kesempitan… jadilah kemarin terasa capeeekkk sekali.  Wah saya jadi mulai ketar ketir juga, bagaimanapun wahnan ala wahnin itu memang kenyataan yang harus dijalani, lemah yang semakin bertambah-tambah.  Saya harus mulai ‘tahu diri’, sangat berhitung untuk tidak berlebihan mengeluarkan tenaga, membawa bawaan berat dalam perjalanan yang cukup jauh.  Stamina harus dijaga untuk agenda-agenda yang tidak bisa ‘dihentikan’ begitu saja, terutama soal tesis.

Alhamdulillah, dalam kondisi seperti ini ada obat penawar, perasaan ‘legowo’ yang dihadirkan Allah bagi saya merupakan salah satu bentuk pertolongan-Nya.  Saat yang bagi saya cukup menegangkan ini kadang membuat pikiran kalut, seperti orang bingung sendiri, dan biasanya yang beginian lebih menguras energi ketimbang pekerjaannya itu sendiri.  Saat ini mungkin yang lebih diperlukan adalah menata hati, upaya tiap hari konsisten dilakukan, membaca-menulis jangan sampai kelewat barang sehari, tetapi diatas itu semua, pada akhirnya apakah memenuhi target selesai juni atau tidak, biarlah Allah yang memutuskan.  Dengan demikian hati menjadi lebih tentram dan tidak mudah setres. Dan semoga saja kebaikan2 proses yang dijalani saat ini menjadi tuah bagi adiknya mba nana kelak, insyaAllah.

bonus track: “Doa Seorang Anak” oleh Diana Papilaya
ketemu juga dengan lagu nostalgia masa kanak-kanak yang cukup membekas :)

Written by ibu didin

March 5th, 2011 at 1:52 pm

Bila Sarjana Informatika ITB Jualan Mie Kocok

without comments

Alumni Informatika (IF) ITB jualan mie kocok Bandung? Apa sudah tidak ada lagi pekerjaan di bidang informatika (IT) yang bisa dikerjakan alumni, he..he? Apakah proyek pembuatan perangkat lunak sudah sepi order sehingga alumni IF ITB banting stir jualan mie kocok? Bukan saudara-suadra, tentu saja bukan karena itu alasannya. Bidang informatika masih tetap termasuk “madece” alias masa depan cerah. Proyek di bidang teknologi informasi tidak habis-habisnya, selalu saja banyak permintaan untuk mengerjakan proyek di bidang ini. Lalu, kenapa ada lulusan Informatika jualan mie kocok Bandung? (Emangnya nggak boleh?, ha..ha)

Kemarin sore saya menyinggahi warung mie kocok Bandung yang dikelola oleh lulusan Informatika, mantan mahasiswa saya dulu. Namanya Doni Hernawan, dulu Informatika ITB angkatan 1996. Doni ini men-tag saya di fesbuk pada gambar lokasi warung mie kocoknya yang bernama Larizo. Ia mengabarkan bahwa dirinya sekarang berjualan mie kocok di jalan Rontgen, pertigaan Jalan Dr. Radjiman. Setengah berrpromosi dia menceritakan mie kocoknya ini beda dengan mie kocok yang yang lain, kuahnya lebih kental sebab berisi kaldu dan sumsum tulang sapi sehingga terasa gurih. Daging kikilnya juga asli, katanya (Emang ada kikil yang palsu?, tanya saya. Ada, kata Doni, yaitu kikil yang terbuat dari kulit sapi yang biasanya digunakan untuk membuat sepatu. Sampah kalau gitu.).

Wah..wah..wah, siapa yang tidak ngiler mendengar promosi mie kocoknya ini, apalagi saya ini seorang pencinta dan pengamat kuliner. Lebih menarik lagi dia mantan mahasiswa saya dulu di Informatika ITB, kok jualan mie kocok? Ada yang “salah” kah dengan pendidikannya di Informatika? He..he..he… . Saya pun meluncur ke lokasi yang dia sebutkan. Penasaran. Tidak susah mencari warungnya itu yang terletak di depan Dinas Pendidikan Kota Bandung.

FYI, mie kocok adalah jajanan khas Bandung sehingga sering dinamakan mie kocok Bandung. Bentuknya mirip mie bakso, tetapi ada beberapa perbedaan. Mie kocok Bandung ini kuahnya adalah kaldu dan sum-sum dari kaki sapi dan kikil yang direbus dengan bumbu-bumbu (makanya sering dinamakan “mie kocok kaki sapi”). Urang Sunda sangat doyan makan kikil (hati-hati kolesterol lho, he..he). Oh ya, mienya juga khusus yaitu mie gepeng. Nah, untuk menghidangkan satu mangkok mie kocok Bandung, mie dicampur dengan sayur tauge, bawang daun, bawang goreng, selederi, tongcai, lalu ditambah dengan kikil sapi yang dipotong dadu. Selanjutnya campuran tadi disiram dengan kuah kaldu, tambahi perasan jeruk, sambal cabe rawit, dan kecap. Mantaaapp! Mie kocok ini dimakan selagi panas ditemani es jeruk atau teh hangat. Karena Bandung berhawa sejuk/dingin maka mie kocok ini populer sebagai pengisi kehangatan selain makan mie bakso, batagor, dan minum bajigur tentunya. Tidak heran pada resepsi pernikahan di Bandung selalu ada stand mie kocok yang diserbu tamu undangan. Di Bandung mie kocok yang terkenal itu terletak di Jalan Macan (dekat Jalan Banteng) dan di jalan Kebon Jukut.

Kembali ke mie kocok Larizo milik si Doni ini. Segera saja saya dihidangkan semangkok mie kocok. Karena saya tidak suka kikil, maka saya minta mie kocok pakai bakso saja, nggak pakai kikil. Wah, sudah tidak sabar saya ingin mencicipi mie kocok Doni ini. Hmm… baru dimakan satu dua sendok, memang terasa gurih. Gurihnya bukan karena bumbu penyedap, tetapi berasal dari kuah kaldunya yang kental litu. Enak, euy, mantap. Ternyata resep mie kocok ini hasil eksperimen ibunya Doni yang memang hobi memasak. Cerita si Doni, warung mie kocok ini dia yang memodali, sementara yang memasak adalah ibunya, jadi boleh dibilang ini usaha keluarganya.

Ini mie kocok Larizo, potongan yang putih-putih itu adalah kikil sapi:

Hei Don, apakah kamu memang kerjanya cuma jualan mie kocok?, tanya saya. Ternyata tidak juga, jualan mie kocok hanya usaha sampingan. Doni ini masih tetap “on the track” di bidang Informatika, dia punya perusahaan konsultan IT bareng teman-temannya, proyeknya di bidang GIS. Sekali-sekali saja dia datang ke warungnya untuk memantau perkembangan usaha jualan mie kocok. Sudah ada yang mau jadi waralaba, katanya senang. Saya pun ikut senang. Oh iya, saya jadi ingat, mantan mahasiswa saya bernama Latif angkatan 1999 juga saya dengar jualan mie bakso di Bandung, tetapi saya belum pernah coba baksonya itu. Rasa-rasanya jualan bakso ini lebih menyenangkan daripada coding deh…

Ini Doni di depan warung mie kocoknya. Mana yang sapi dan mana Doni nih? He..he…

Slurp, slurp…olala, mie kocok Bandung sudah habis saya makan. Karena enak, saya pesan dua bungkus lagi untuk anak dan sitri di rumah. Harganya juga tidak terlalu mahal, antara Rp10.000 sampai Rp13.000 per porsi. Saya rekomendasikan nih mie kocok Larizo ini kalau anda sempat melewati jalan-jalan yang bernama para dokter itu, boleh dicoba rasanya memang beda dengan mie kocok yang pernah saya coba.


Written by rinaldimunir

March 2nd, 2011 at 11:08 am