if99.net

IF99 ITB

Archive for February, 2011

Monitoring tumbuh kembang bayi dan balita di Belanda

without comments

Pencatatan dan monitoring anak dilakukan oleh gementee/kecamatan. Yang jelas bagi pendatang, anak harus terdaftar di gementee/kecamatan, tidak hanya di imigrasi/IND,  untuk mendapatkan pelayanan tumbuh kembang.  Penanganan tumbuh kembang bayi dan balita (serta lebih jauh anak2 dan remaja) dibawah organisasi pemerintah yang beroperasi di tingkat kecamatan yang bernama CJG (Centrum voor Jeugd en Gezin) atau ´Centre for Youth and Family´.  Mungkin kalau di Ina karena skala penduduk yang besar bisa ditaruh di tingkat Posyandu.

Sesuai dengan usia bayi/balita, maka orang tua akan dikirimi surat oleh kecamatan berupa undangan untuk datang ke CJG baik karena sudah jadwalnya imunisasi ataupun untuk monitor tumbuh kembang.  Sehingga memang ibu tidak harus pusing mikirin kapan waktunya imunisasi, tidak harus mengeluarkan biaya imunisasi ke dokter (seingat saya di Ina harga imuniasasi di bidan dan dokter beda ya…). Kalau di Ina soal imunisasi ini juga mazhab2an, ada yang berkeyakinan tidak perlu imunisasi, atau sebaliknya, terserah saja. Kalau di sini kayaknya wajib, kalau orangtua tidak merespon surat2 panggilan untuk imunisasi/monitoring anak, kabarnya akan ada sanksi karena melalaikan kewajiban pengasuhan anak (entah saya tidak begitu tahu).

Undangan ke CJG bersifat individu, maksudnya orang tua satu dan lainnya beda-beda jadwal (bukan massal), sesuai usia anak dan prosedur monitoring apa yang harus dijalankan pemerintah.  Misalnya, panggilan ´Baby clinic´ di usia bayi 4 minggu, 3 bln, 6 bln, 7,5 bln, 9 bln, 14 bln, 18 bln, 2 tahun, 3 tahun, terakhir 3 tahun 9 bulan. Panggilan ini disesuaikan dengan monitoring milestone tumbuh kembang dan jadwal imunisasi. Orang tua diberikan buku ´growth book´ yang berisi catatan kesehatan anak dan juga milestone tumbuh kembang anak serta tips2 safety. Lumayan menolong bagi ibu2 dalam mengasuh buah hatinya. Selain standar pengukuran berat dan tinggi, riwayat sakit, orang tua juga ditanya apakah anak mengalami gangguan tidur, kendala makan, bicara, tantrum/ngamuk, biasanya petugas CJG memberi saran2.  Petugas CJG juga akan memonitor perkembangan motorik halus dan kasar anak.

Keseluruhan layanan tersebut menurut saya bukan sesuatu yang sangat canggih atau wouw untuk bisa diterapkan di Posyandu Indonesia, sangat mungkin, dengan dikoordinasi oleh institusi yang punya kapasitas dan kuat.  Posyandu ini saya pikir penting sekali, ini solusi komunal, bersama2 oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Asal yang ngatur (pemerentahnya) bener-bener.

Demikianlah kira2, saya tidak tahu dengan pemerintahan baru Belanda dan kabinetnya yang kelihatan kanan (lebih liberal dibanding tradisi Belanda yang sosialis/welfare state), pemotongan anggaran pendidikan dan kesehatan, akan seperti apa  masa depan Belanda ini.

Saya tetap optimis insyaAllah negara kita bisa maju dan lebih baik. Kalau Belanda (atau negara ´maju´ di Eropa) bisa seperti sekarang ini, mereka juga telah melewati ?ocial exercise´ yang berdarah-darah selama ratusan tahun. Jadi kalau negara kita sedang bergejolak, saya pikir itu juga bagian dari proses ´social exercise´, segala segi sedang ditata, untuk menemukan bentuk masyarakat Indonesia yang lebih adil sejahtera (yang wajahnya akan dibentuk oleh orang Indoensia sendiri). Cocok dengan syair H.Mutahar di Dirgahayu Indonesiaku (kado 50 tahun Indonesia merdeka), bahwa kita ini sedang ´ditempa Tuhan’ agar jadi bijak bestari.

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:25 pm

Bagaimana jika hamil dan melahirkan di Belanda?

without comments

Lagi-lagi asuransi penting sekali di Belanda, kalau tidak bisa setres dengan biaya ini itu. Periksa manfaat asuransi yang kita daftarkan disini menanggung biaya hamil dan melahirkan atau tidak. Kalau asuransi student/expatriate yang saya ikuti,  asuransi menanggung biaya kehamilan dan persalinan apabila diketahui hamil sudah terdaftar asuransi, bukan baru daftar asuransi setelah kehamilan.

Sistem untuk kehamilan disini, setelah mengetahui dari test pack (biasanya minggu ke-5 atau 6), maka segera cari praktek midwifes/verloskundigen, di Indonesia disebut bidan.  Disini biasanya grup beberapa bidan dalam satu lembaga, cari terdekat dari rumah (biar ga sulit transportasi/capek). Di Belanda tidak bisa hamil langsung pergi ke dokter kandungan (entah kenapa?), kecuali untuk kasus khusus, entah mungkin kehamilan sebelumnya bermasalah, atau masalah2 medis lainnya, biasanya langsung ditangani oleh dokter spesialis. Prosedurnya harus ke midwife dulu untuk membuat janji pertemuan pertama. Di pertemuan pertama ini membawa dokumen asuransi, pas foto, dan urin. Pertemuan pertama akan berlangsung cukup lama sekitar satu jam, sebab bidan akan mengisi ke database komputer berbagai pertanyaan standar yang sudah disiapkan/diprosedurkan oleh pemerintah. Mulai data diri, daftar riwayat penyakit diri dan saudara terdekat (mungkin hubungannya dengan faktor genetis), aspek psikologis (apakah korban kekerasan/korban perang), dan pertanyaan aneh2 yg menyeramkan (riwayat h*mo seksual, inc*st, dsj), apakah pernah melakukan terapi psikologi, kriminalitas, dst. Sebab mereka adalah negara multikultur, orang datang dari macem2 negara karena alasan macem2, dan melahirkan adalah proses klinis dan psikologi, jadi harus dipersiapkan dulu katanya.

Apabila segalanya normal hingga menjelang persalinan, maka melahirkan ditolong bidan tersebut, disarankan melahirkan di rumah masing2 (aneh ya, justru melahirkan di rumah umum di Belanda). Boleh juga melahirkan di rumah sakit, untuk persalinan normal tetap oleh bidan. Tetapi menurut beberapa ibu2, kalau normal mending di rumah saja, sebab kalau di rumah sakit, beberapa jam sesudah melahirkan sudah diusir/disuruh pulang (alasan efisiensi alias pelit tea). Tetapi apabila ada indikasi tidak normal, atau karena sebab tertentu dan harus dalam pengawasan dokter maka bidan akan merujuk ke rumah sakit bagian obgin. Untuk kehamilan normal dengan riwayat melahirkan sebelumnya operasi, maka baru pada minggu ke 34 dialihkan ke dokter obgin dan harus melahirkan di rumah sakit.  Setiap kunjungan ke bidan ditanggung asuransi.

Setelah kunjungan pertama, ibu hamil diharuskan melakukan tes darah, tinggal membawa rekomendasi bidan ke rumah sakit. Free of charge (ditanggung asuransi).  Tes yang dilakukan untuk mengetahui kandungan Hb, trombosit dan sejenisnya, kadar vitamin D (karena di negara semacam ini rawan defisiensi), kadar gula, infeksi hepatitis, infeksi HIV.

Pada minggu ke-20 (5 bulan) ibu hamil diminta melakukan USG (yang lebih detail dari USG di tempat bidan). Biasanya ke lembaga pemeriksaan yang satu jaringan dengan midwife kita.  Tujuan utama bukan untuk mengetahui gender (untuk gender orangtua ditanya mau tahu/tidak), tetapi tujuannya untuk melihat fungsi jantung, paru, organ perut, tangan-kaki, kepala. Calon orangtua harus menandatangani dokumen bahwa orangtua paham pemeriksaan ini tidak 100% akurat (takut dituntut mereun..).  Biayanya sekitar 150 ero/ 1,8 juta, tapi umumnya ditanggung asuransi.  Kalau ada indikasi abnormal, orangtua ditawari untuk melakukan riset lebih lanjut (yang biasanya tidak dicover asuransi), keputusan aborsi (yang disini legal..syeremmm) hanya boleh sampai usia janin 24 bulan.

Keluarga ibu hamil diharuskan menghubungi/mendaftar untuk Kraamzorg (maternity care), yaitu ?erawatan’ ibu hamil setelah melahirkan oleh petugas Kraamzorg (perawat/bidan). Petugas ini akan visit ke rumah selama 3 jam dalam sehari selama 8 hari untuk mengajari ibu untuk memandikan bayi dan sejenisnya, serta melakukan monitoring ibu hamil pasca melahirkan (pendarahan atau tidak dan sejenisnya). Biaya petugas ini sekitar 125 euro/hari atau sekitar 1,5 jt/hari (makanya berabe kalau ga punya asuransi).
Sewaktu melahirkan anak pertama di desa (Kota Batu), saya juga ada petugas seperti Kraamzorg ini tapi namanya dukun bayi he..he..(tapi bersertifikat loh :D ), sepulang dari rumah sakit, ibu ini akan datang ke rumah pagi dan sore untuk merawat mba nana (mandiin, pijit, dan sejenisnya) sehingga darinya juga bisa belajar macam2, biasanya selama 40 hari atau terserah yang meminta. Jauh lebih murah dibanding biaya Kraamzorg di Belanda. Canggih kan, di desa tapi sistemnya kayak di Belanda :D
Yang rada bikin repot, dari awal-awal midwife sudah mengirim surat barang standar yang harus disiapkan di rumah, baik untuk melahirkan maupun untuk petugas Kraamzorg. Misalnya, bed tempat tidur harus setinggi 70 cm (biar bidannya ga sakit pinggang katanya), handuk2, lap, alkohol, tempat mengganti popok bayi, tempat menaruh bak mandi bayi dan tetek bengeknya.

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:23 pm

Bagaimana jika sakit di Belanda?

without comments

Sanitasi dan lingkungan yang baik lebih memperkecil kemungkinan mudah terserang penyakit, daya tahan tubuh lebih kuat, ditambah pola makan/asupan yang baik. Tetapi bagaimana tata laksana untuk orang sakit di Belanda?

Asuransi adalah wajib, pendatang yang tidak memiliki asuransi dianggap ilegal, atau kalau tidak memperpanjang asuransi bisa berabe kalau ada apa2. Sebab serba mahal layanan disini. Enaknya dengan asuransi pula, pembayaran dokter juga bisa diatur terpusat, maka tidak ada perang tarif dokter, karena dokter digaji pemerintah (mungkin sudah cukup layak) dan mungkin pula telah ada rasio jumlah dokter dan pasien berdasarkan kepadatan populasi.  Pengalaman teman yang terdiagnosa kanker stadium lanjut dan dikemo mengatakan, untung saja kankernya disini ada asuransi, kalau di Ina mungkin harus jual rumah dan sawah. Teman saya yang kanker ini, sekarang dokter sudah tidak mau lagi menembak/menghancurkan sel kankernya, sudah maksimal selnya dibunuh. Jadi meski sekarang ada indikasi sel kanker tumbuh lagi, tidak bisa lagi dikemo, dan melakukan pengobatan tradisional plus menjaga pola makan (dia tidak makan daging dan banyak makan jus buah/detoks), kumaha deui ceunah.

Lebih baik jika telah mempunyai asuransi langsung mencari praktik dokter (huisartpraktijk ) terdekat dari rumah dan mendaftar kesana, apabila sudah penuh jumlah pasiennya biasanya dia tidak mau menerima dan menyaranakan untuk mencari praktek dokter umum lain. Biasanya kalau  mendaftarkan anak ke TK/sekolah salah satu yang harus diisi adalah siapakah dokternya anak (maksudnya anak terdaftar di praktek dokter umum mana), atau kalau beli obat di apotik ditanya nama dokternya. Karena saya di Indonesia tidak pernah seperti ini, maka sejak datang anteng2 saja ga daftar ke dokter mana2 juga, ini tidak baik katanya.

Setiap sakit (apapun) tata laksananya adalah ke dokter umum dulu, jangan coba2 langsung ke rumah sakit/nyari dokter spesialis, alamat tidak akan dilayani. Umumnya harus bikin janji dulu, kalau memang sakit banget bisa telepon gawat darurat atau dokter yang diminta datang ke rumah, tapi biayanya tentu lebih mahal :D
Dokter umum inilah yang akan menyarankan tindakan lebih lanjut. Apakah istirahat saja (biasanya ini saran umum kalau batuk pilek demam), apakah disuruh membeli obat di apotik, atau disuruh check up, atau di rujuk ke dokter spesialis, atau ke tempat terapi. Pengalaman yang pernah saya punya adalah lage rugpijn (low backpain/sakit pinggang bagian bawah), tata laksananya harus ke dokter umum dulu, dia kemudian memberikan surat rekomendasi untuk mendatangi terapis yang paling dekat jangkauan dari rumah. Terapis ini harus teregistrasi dan bisa dilacak pihak asuransi. Surat rekomendasi ini juga saya perlukan untuk dikirim ke pihak asuransi, karena mereka yang akan membayar biaya terapi tiap minggunya sekitar 30 ero (360 ribuan), kalau dipikir2 terapinya ´cuman´ dicontohin senam2 ringan untuk memperkuat otot pinggang, panggul, kaki. Profesi terapis menghasilkan juga ya disini. Oh iya, akupuntur telah diterima luas di kedokteran Barat, meski mahzabnya beda, sudah bisa masuk list asuransi.

Karena biasanya sakit demam batpil itu2 juga tata laksananya, saya jadi terpaksa malas sering2 visit dokter, paling disuruh banyak minum, banyak tidur, klo perlu minum paracetamol. Sepertinya orang-orang sudah tahu sama tahu tata laksana ini. Efek baiknya, lebih tenang ataukah rasional? ketika sakit (kok bisa ya?), masih mau bersabar menunggu dulu perkembangan.
Negatifnya, dengan sistem maka harus aware juga jika memang benar2 kesakitan, kata orang-orang kadang harus ngotot dan rewel, bahwa kondisi sedang gawat. Misalnya ada kasus dokter ?enyepelekan’ seorang mahasiswa yang demam dan sakit perut, disuruh balik pulang lagi pulang lagi, akhirnya gawat darurat usus buntunya harus segera dioperasi, itu ketahuan setelah dia ngotot masuk UGD karena nyeri yang tidak tertahan.  Atau anak teman demam terus disuruh balik pulang lagi pulang lagi, setelah rewel dan memaksa akhirnya di rumah sakit ketahuan infeksi saluran kencing. Jadi memang mau tidak mau kita harus pandai mengukur kekuatan/daya tahan diri.

Obat? farmacist di apotheek biasanya sudah tahu mana obat bebas mana obat harus dengan rekomendasi ataupun resep. Dan mereka galak/ketat soal ini, padahal kalau menurut saya yang di Indonesia dulu bisa beli bebas, kok disini ga bisa. Apalagi obat untuk anak mereka lebih ketat, mungkin karena prosedurnya begitu, atau mereka juga takut dituntut pasien kalau terjadi apa2. Biasanya yang jamak tersedia di rumah2 adalah paracetamol dewasa, paracetamol anak, vitamin D tetes untuk anak sampai usia 4 tahun (kasian ya…jarang terkena matahari), dan kotak P3K. Antibiotik saya belum pernah dikasih resep ini baik untuk saya maupun anak, antibiotik ada pula gunanya bukan? tapi bukan untuk virus katanya.

Jika harus operasi atau opname di rumah sakit, lebih tenang soal biaya karena ada asuransi tea. Jadi ingat waktu opname DB di Bandung dulu, alih2 mengkhawatirkan sakitnya, lebih setres ini bakal habis berapa karena belum punya asuransi hihihihi.
Tapi soal makanan teteup botterham met kaas (roti dan keju), sup instan, wah engga (niat) banget deh. Cerita teman, kamar juga kadang campur laki-perempuan, yang tentunya tidak mengenakkan buat orang Timur. Dan kayaknya tidak umum kelas 1, VIP, VVIP. Biasanya digolongkan berdasarkan penyakit (di Indonesia juga begini bukan?), penempatan tergantung ketersediaan kamar. Dan yang ga enaknya, disini efisien sekali (atau kata saya mah pelit :D ), kalau bisa orang segera pulang dari rumah sakit untuk menekan biaya yang harus asuransi/pemerintah keluarkan, tenaga medis dan perawat memang dihargai mahal. Jadi kadang masih lemes gitu ya disuruh pulang :(

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:22 pm

Sanitasi di Belanda

without comments

Sungai (disini disebut kanal) bersih, tapi bukan tanpa ongkos, untuk menikmati kali yang bersih dan indah itu kita dikenakan regional waterschap belasting (atau pajak sungai/kali kecamatan) yang pertahunnya tidak murah.  Bebek dan angsa yang berenang disungai juga dipelihara pemerintah, ada orang yang digaji untuk mengirim makanan bebek, kabarnya jumlah populasi bebek&angsa itu dalam pengawasan, kalau ketahuan mencuri/menyembelih bebek2 itu bisa kena denda/pidana.

Udara juga sepertinya lebih bersih (walaupun anginnya ck..ck..ck..masyaAllah) karena mobil tidak sebanyak di Ina, mungkin karena penduduknya sedikit atau rasio jalan dan mobil diperhatikan.
Caranya: transportasi masalnya dibikin nyaman, sehingga insentif bagi orang untuk memilih transportasi umum. Untuk jalan umum dibagi tiga, jalan bis dan trem sendiri biasanya paling tengah, disamping kiri kanannya jalan untuk mobil biasanya pas/sempit untuk satu mobil, hampir jarang sekali jalan dua arah, biasanya satu arah. Disebelah jalan mobil jalan untuk sepedah, dan sebelahnya lagi trotoar untuk pejalan kaki. Jalan umum/utama bisa lebar mungkin kompensasi dari bentuk rumah yang diatur ketat, biasanya rumahnya meninggi/apartemen keatas, bentuknya nyaris seragam, bagian luar ga boleh dicat macem2 (kalau mau ngecat ijin kecamatan dan kena pajak), ya mungkin karena mereka sadar luas negaranya kecil sehingga harus mengelola persepsi ruang (ingat total footbal). Hal lain pajak mobil mahal (ada pajak per bulan berdasarkan berat mobil dan merek), bikin SIM juga mahal.  Mereka juga memperhatikan soal rasio wilayah hijau/tanaman dengan luas wilayah, sepertinya karena harus berdamai dengan keadaan fisik alamnya yang kecil dan iklim laut, jadi mereka harus prihatin mungkin :D (tuh lihat saja kalau mereka bisa keluar dari Belanda, bikin villa/rumah segede2 badak di Puncak dan sejenisnya.) Udara juga penting mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap penyakit, dan juga efek jangka panjang polusi macam2 bukan?

Mereka sensi sekali soal air (baik air minum maupun airbah banjir). Air untuk mandi cuci masak dan air untuk langsung minum sama kualitasnya, sama2 langsung ngocor dari keran. Untuk mengelola air ini mereka kerja grubukan melibatkan banyak aktor: dua kementrian, perusahaan air milik publik di tingkat kecamatan, perusahaan swasta, pemerintah kecamatan itu sendiri, dan ?aterschapen atau waterboards yang diberi mandat oleh konstitusi. Mungkin yang studi di IHE-Unesco punya lebih banyak pengetahuan bagaimana mereka mengkoordinasikan soalan air ini. Yang jelas sebagai konsumen, saya menikmati air bersih dengan harga yang relatif tidak terlalu mahal (masih jauh lebih mahal harga gas dan verwaarming/pemanas). Sepanjang di Belanda, saya mengalami sekali air dimatikan dari jam 9 – 15 sore untuk maintenance, itupun dengan surat pemberitahuan sebulan sebelumnya, dan pamflet yang dipasang di gedung. Dalam hati meuni segitunya, padahal di Bandung dulu (mungkin tergantung wilayahnya) air untuk minum Aq*a galon, air untuk masak dan mandi saya beli dari mang air yang katanya mengambil dari mata air, air untuk cuci harus membuat sistem penyaringan air tambahan di rumah yang memakai sabut, pasir aktif, dll tea, yang kalau saya hitung perbulannya lumayan besar juga pengeluaran untuk air ini :( :( :(
Memang air tidak bisa disepelekan untuk kesehatan, penyakit muntaber, infeksi saluran pencernaan, keracunan makanan juga bisa dari air yang kurang memenuhi syarat untuk konsumsi.

Makanan/jajanan sepertinya itu-itu saja. Kata saya karena mereka ga bisa masak he..he..he. (jadi marilah kita serang mereka dengan makanan kita yang enak2, prospek industri makanan masa depan ada di tangan Indonesia insyaAllah :D :D:D). Untuk yang halal di Belanda relatif tidak terlalu sulit karena banyak mas-mas Turkiye yang buka toko, dan juga Oriental shop yang tersedia dari tempe tahu sampe pete jengkol. Efek baiknya, saya jadi merasa aman dengan jajanan untuk anak2, paling itu2 lagi, kalau ga susu, yoghurt, keju, kue keju, roti, mentega, kayaknya mereka ga punya jajanan aneh2. Kalau Eropa memang kabarnya ketat dengan standar makanan (tapi ada isu ketidakadilan disini, mereka suka mengatur standar makanan yang diimpor dari negara berkembang dengan standar organik, ga boleh ini itu, tapi maunya beli dengan harga murah, I really dislike this issue of injustice! Mereka membiarkan negara berkembang terjebak pada race to the bottom (saingan banting2an harga/merendah2an diri, agar barangnya masuk Eropa). Saran: sebisa mungkin belilah produk di Eropa yang diimpor dari negara berkembang yang  memiliki logo FAIR TRADE, walaupun tidak semua ada :( :( :(
Soal makanan ini penting sebab makanan juga berpengaruh terhadap daya tahan tubuh bukan?

Bagaimana mereka membuat warganya taat kepada aturan? tiada lain tiada bukan: UANG (stereotip bahwa orang Belanda pelit tidak sepenuhnya salah :D )
Denda untuk pelanggaran ampun2an mahalnya, jadi lebih baik tidak coba2. Hal lain, dengan ´single identity number´ maka pelanggar kewajiban sosial (pajak dan bayaran ini itu) bisa diblokir dari akses mana2, tidak bisa membuka rekening di Bank, atau kalau bukan orang Belanda, bisa kesulitan untuk masuk Belanda lagi di masa datang.
Tapi mungkin, ini juga karena pemerinah pengelola uang setidaknya bisa dipercaya oleh warganya (strong institutional building seperti isu yang gencar digelontorkan Stiglitz untuk negara berkembang).

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:20 pm

SEO dan Bisnis Internet

without comments

Selama ini gw merasa asing dengan istilah SEO, namun setelah bergabung dengan SITTI, gw mulai mengetahui apa itu SEO.

Karena lagi males nulis panjang, silakan lihat ke halaman ini saja ya...itu adalah sebuah website yang dikelola oleh seorang DEWA-nya SEO Indonesia.

Written by Read_1

February 25th, 2011 at 4:19 pm

Posted in Uncategorized

Decolgen luncurkan Sang Teladan, penghargaan pengabdi kesehatan

without comments

Berita ini saya ambil dari kabarbisnis.com semata-mata untuk mencoba iklan SITTI. Semua konten di bawah ini menjadi hak cipta kabarbisnis.com.

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rendahnya tingkat kepedulian masyarakat terhadap pengabdi kesehatan, menggetarkan produsen tablet flu Decolgen meluncurkan program penghargaan bertajuk 'sang teladan'.

Tujuannya mencari serta memberikan award kepada individu yang berdedikasi tinggi, tanpa pamrih, memiliki teladan dalam berjuang untuk peningkatan kesehatan masyarakat di Indonesia.

"Sosok yang mengabdi tanpa pamrih, layak diberi pengharagaan. Sehingga profilnya dapat menjadi inspirasi yang menggugah dan ditiru banyak orang," papar Sulastri, Product Manager Decolgen, pada launching 'Sang Teladan' di Jakarta, Kamis (10/2).

Dilanjutkan, sosok pelaku kesehatan bukan saja bisa dilakukan seorang dokter atau tim medis, namun bisa dilakukan setiap orang yang punya komitmen, dedikasi tinggi di bidang kesehatan, apalagi sikap dan tindakan yang dilakukan bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Para pelaku kesehatan itu tidak banyak terekspos oleh publik, namun pengabdiannya telah secara nyata memberikan kontribusi bagi peningkatan kesehatan masyarakat yang dilayaninya. Untuk itu, masyarakat bisa mendaftar mengikuti program ini, secara online di www.sangteladan.com. Bahkan, bagi yang ikut menyebarkan program ini, akan dapat hadiah menarik, tambah Sulastri.

Dan, untuk dapat menjadi ‘Sang Teladan’, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. CORE (commitment, obstacle, role, effect) adalah kriteria inti sang teladan. Enam pemenangnya akan
mendapatkan hadiah Rp50 juta.

Sulastri menjelaskan Decolgen merupakan merek yang selama ini selalu berkomitment memfokuskan kegiatannya pada peningkatan kualitas produk, yang bertujuan agar konsumen dapat memperoleh manfaat kesehatan terbaik dari produk yang sudah digunakan.

Decolgen menyadari sudah saatnya melakukan kegiatan yang bersifat giving back to community, dengan ikut memberikan penghargaan pada pelaku kesehatan, yang sudah berinisiatif memberikan dedikasi lebih bagi peningkatan pelayanan kesehatan di Indonesia secara total tanpa pamrih, ucapnya.

Imam B Prasojo, Ketua Juri Program Sang Teladan menambahkan Indonesia sudah rindu kepada sosok tenaga kesehatan, yang mengabdi tanpa pamrih dan menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya. Sosok itu hanya untuk mengabdikan diri pada keselamatan jiwa orang-orang yang kurang beruntung.

"Memang pengabdian mereka tak dapat dinilai dengan materi. Pengabdiannya membantu sesama yang membutuhkan di bidang kesehatan, pantas diberikan penghargaan. Karena selama ini tidak ada yang peduli kepada mereka itu," ungkap Imam sebagai penggiat pemberdayaan masyarakat UI.

Menurutnya, di bidang sosial dikenal istilah social service provider, social entrepreneur dan social activism. Social service provider adalah orang-orang yang penuh motivasi dan komitmen untuk memberikan pelayanan publik, bagi kaum papa yang terpinggirkan, walaupun pengabdiannya belum mengarah pada perubahan sistemik.

Social entrepreneur adalah pendobrak keadaan dengan memunculkan inovasi atau kreasi pembaruan yang bermanfaat langsung bagi banyak orang, seperti tenaga kesehatan yang sebetulnya tidak memiliki latar belakang profesi medis, dan bercita-cita adanya perubahan sistem pelayanan yang lebih baik.

Sedangkan social activism adalah para aktivis kesehatan yang berjuang melakukan advokasi untuk terjadinya perubahan peraturan maupun perundang-undangan. Sang Teladan memiliki salah satu atau beberapa karakteristik dari ketiga jenis kategori tersebut, kata Imam Prasodjo

Program ini melibatkan para juri yang memiliki latar belakang yang berbeda dan mewakili berbagai unsur masyarakat untuk menentukan penilaian dan memilih orang-orang yang layak menerima penghargaan sebagai Sang Teladan.

Para juri terdiri Sosiolog Imam B Prasodjo, Fachmi Idris- ahli kesehatan masyarakat, Joserizal Jurnalis- praktisi kesehatan dan relawan, Najwa Shihab - jurnalis dan presenter televisi, dan Muhammad Farhan, penyiar radio.

Para juri akan memberikan penilaian terhadap komitmen dalam kegiatan kemanusiaan, keberlanjutan kegiatan yang dilakukan, ketangguhan dalam melewati halangan atau rintangan serta integritas individu. Selain para juri, Tim Decolgen juga akan memberi masukan penilaian

Written by Read_1

February 25th, 2011 at 2:32 pm

Posted in Uncategorized

Kura-kura Berleher Ular Dari Pulau Roti Diambang Kepunahan

without comments

Artikel di bawah ini kuambil dari wwf-indonesia untuk keperluan ngetes iklan SITTI. Artikel ini menjadi hak milik wwf-indonesia, bukan milik saya.

Jakarta—Kura-kura berleher ular dari Pulau Roti (Chelodina mccordi) adalah kura-kura kecil berleher panjang yang hanya ditemukan di lahan basah di Pulau Roti, bagian timur Indonesia. Karena kura-kura endemik ini telah menjadi spesies baru sejak 1994, permintaan internasional sangat intensif untuk spesies ini sampai pada titik ambang kepunahan di alam. Tidak ada perdagangan resmi yang diizinkan untuk spesies ini sejak 2001. Diskripsi yang ada menunjukkan, spesies ini diekspor secara tidak resmi sebagai spesies yang lain, yaitu kura-kura berleher ular dari New Guinea (C. novaeguineae), yang merupakan spesies dilindungi di Indonesia sejak 1980.

Laporan terbaru yang dikeluarkan TRAFFIC, jaringan pemantau perdagangan satwa dan tumbuhan liar, berjudul ”Perdagangan Kura-Kura Berleher Ular dari Pulau Roti Chelodina mccordi” menemukan bahwa penangkapan dan perdagangan satwa ini tidak dilaksanakan berdasarkan peraturan resmi yang berlaku di Indonesia. Meskipun sebelumnya ada quota nasional yang diberikan untuk pemanenan dan ekspor spesies C. mccordi antara tahun 1997 dan 2001, tetapi tidak ada lisensi yang dikeluarkan untuk melakukan koleksi (pengumpulan), termasuk tidak ada izin pemindahan (transportasi) yang dikeluarkan dari tempat sumber spesies ini ke tempat-tempat ekspor dalam wilayah Indonesia. Semua specimen C. mccordi yang telah diekspor sejak 1994 diperoleh secara illegal.

Di tahun 2000, Daftar Merah IUCN mengkategorikan spesies ini kedalam status kritis (Critically Endangered), dan pada tahun yang sama kura-kura berleher ular dari Pulau Roti ini dievaluasi berada diambang kepunahan. Spesies ini masuk dalam daftar Appendix II Konvensi Mengenai Perdagangan Internasional Terhadap Species Satwa dan Tumbuhan Dilindungi (CITES), dimana semua perdagangan internasional terhadap satwa ini harus dilaksanakan sesuai sistem resmi yang berlaku.

Meskipun demikian, permintaan internasional yang terus-menerus untuk C. mccordi dari kolektor dan penggemar satwa langka di Eropa, Amerika Utara dan Asia Timur mendorong spesies endemic ini menuju kepunahan. Walaupun C. mccordi telah dimasukkan dalam daftar spesies dilindungi di Indonesia, monitoring dan penegakan hukum untuk melindungi satwa liar ini dari eksploitasi berlebihan sangat lemah dan di beberapa tempat tidak terlihat. Jika peraturan-peraturan, misalnya untuk penangkapan dan pemindahan satwa liar ini tidak ditegakkan, keberadaan spesies ini di alam dipastikan akan punah dalam waktu dekat.

Laporan ini juga mengeluarkan beberapa rekomendasi termasuk status perlindungan yang lebih baik bagi spesies ini ditingkat nasional dan penguatan kapasitas aparat untuk memperluas dan meningkatkan penertiban. Pada bulan Desember 2005 bertempat di Pulau Roti, TRAFFIC bekerjasama dengan Managemen Otoritas CITES di Indonesia menyelenggarakan pelatihan dan penyadartahuan kepada aparat penegak hukum di pulau tersebut dan tetangganya Timor.

"Kami berharap dengan meningkatnya kapasitas dan kesadartahuan aparat penegak hukum, akan semakin sulitlah bagi pemburu dan pedagang liar untuk menyelundupkan kura-kura berkepala ular yang tersisa di Pulau Roti," kata Chris Shepherd dari TRAFFIC Southeast Asia yang juga merupakan penulis laporan ini.

"Manajemen Otoritas CITES di Indonesia bekerjasama dengan TRAFFIC melatih aparat penegak hukum di Pulau Roti mengenai status perlindungan dan perlunya penyelamatan spesies ini" kata Dr Samedi dari Manajemen Otoritas CITES di Indonesia (PHKA). "PHKA juga bekerjasama dengan LIPI, sebagai Otoritas Ilmiah CITES di Indonesia, untuk memasukkan kura-kura berleher ular dari Pulau Roti ke dalam daftar spesies yang dilindungi penuh."

Untuk Informasi Lebih Lanjut, silahkan hubingi, Chris R. Shepherd, Regional Programme Officer, TRAFFIC Southeast Asia cstsea@po.jaring.my, tel. +603 7880 3940, atau Maija Sirola, Communications Co-ordinator, TRAFFIC maija.sirola@trafficint.org, tel. +44 (0)1223 277427.

CATATAN UNTUK EDITOR:

• Laporan TRAFFIC Southeast Asia berjudul The Trade of the Roti Island Snake-necked Turtle Chelodina mccordi” dalam Bahasa Inggris dan Indonesia, visit www.traffic.org.

• CITES - Konvensi Mengenai Perdagangan Internasional Terhadap Species Satwa dan Tumbuhan Dilindungi mengatur perdagangan internasional terhadap lebih dari 30.000 spesies satwa dan tumbuhan. Konvensi ini diterapkan di 167 negara, termasuk Indonesia.

• Dana yang digunakan untuk mendukung kegiatan pelatihan dan lokakarya penyadartahuan bagi aparat penegak hukum di Pulau Roti dan Timor pada bulan Desember 2005 berasal dari Turtle Conservation Fund dan WWF-US.

• TRAFFIC, jaringan pemantau perdagangan hidupan liar, bekerja untuk memastikan bahwa perdagangan tanaman dan hewan tidak menimbulkan ancaman terhadap konservasi alam. TRAFFIC adalah program bersama WWF dan IUCN – The World Conservation Union. www.traffic.org .

Written by Read_1

February 25th, 2011 at 1:27 pm

Posted in Uncategorized

Nikmati Koffie Fabriek “Aroma”, Kopi Tempo Doeleo dari Bandung

without comments

Anda penikmat kopi dan ingin mencicipi kopi buatan pabrik zaman dulu? Coba deh kopi pabrik AROMA. Letaknya ada di Jalan Banceuy No 51 Bandung, persis di pertigaan Jalan Pecinan Lama. Saya sering melewati Jalan Banceuy ini kalau mau ke Pasar Baru. Bila melewati jalan ini, lihatlah di sebelah kiri ada bangunan kuno yang tertulis Pabrik Kopi AROMA. Bangunan ini berada di antara toko onderdil dan toko bahan bangunan. Kawasan dekat sini memang kawasan pecinan. Aneh juga saya ini, sering lewat tetapi tidak mampir, padahal bau kopi harum selalu tercium setiap kali melewati bangunan ini. Akhirnya, karena penasaran, beberapa hari yang lalu saya sengaja berhenti di depan pabrik kopi peninggalan zaman doeloe yang masih eksis hingga sekarang.

Menurut data yang saya baca di beberapa sumber, pabrik kopi ini sudah ada sejak tahun 1930-an dan merupakan usaha turun temurun dari seorang Tionghoa yang bernama Tan Houw Sian.

Yang tanpak dari jalan raya itu adalah outletnya (toko), tetapi sebenarnya di belakangnya lebih luas lagi sebab di sana terdapat gudang kopi dan pabrik kopi, seperti foto di bawah ini yang memperlihatkan pemilik generasi kedua menerima kunjungan rombongan wisatawan domestik (foto ini diambil dari sini, karena saya tidak bisa masuk ke dalam):

Hmmm… apa yang menyebabkan kopi Aroma ini istimewa dan sudah kesohor? Tentu saja karena rasa enaknya, apalagi. Rasa kopi yang enak disebabkan oleh proses penyimpanan. Biji kopi yang sudah dibeli dan telah dibersihkan tidak langsung digiling, tetapi disimpan dulu di dalam karung selama bertahun-tahun. Bertahun-tahun? Benar. Tujuan penyimpanan yang begitu lama adalah untuk mengurangi keasaman (acidity) pada kopi. Makin kurang rasa asam, makin nikmat rasa kopi, itulah rahasia kopi Aroma. Kesabaran menunggu waktu yang lama rupanya memberikan hasil yang terbaik.

Masuk ke dalam toko membuat kita seolah terlempar ke masa lalu. Di dalam toko dipajang mesin kopi zaman klasik dan botol-botol besar yang menyiratkan kekunoan. Mesin-mesin itu masih berfungsi dan dijalankan dengan listrik.

Ini kesibukan para karyawan membungkus kopi:

Kopi yang dijual di toko ini ada dua macam, yaitu kopi arabica dan kopi robusta. Kopi arabica baunya harum dan rasa kopinya lebih ringan, sedangkan kopi robusta lebih kuat rasa kopinya dan menyebabkan efek sulit tidur. Pembeli juga dapat memesan kopi dengan campuran yang dia inginkan dan langsung diproses saat itu.

Biji kopi yang dipamerkan di etelase toko:

Nah, saya membeli kemasan 250 gram kopi mokka arabica yang harganya Rp14.000. Bubuk kopi dibungkus dengan kemasan kantong kertas yang luarnya dilapisi plastik.

Pada bungkus kemasan tersebut terdapat tulisan dengan ejaan lama yang sudah digunakan sejak tahun 30-an:

Maoe minoem Koffie
selamanja enak?

Aromanja dan rasanja
tinggal tetep, kaloe ini
koffie soeda di boeka
dari kantongnya harep di
pindahken di stofles
atawa di blik jang ter-
toetoep rapet.

Djangan tinggal
di kantong!

Yuk ah, saya sudah tidak sabar ingin menyeduh kopi jadul yang sudah kesohor ini. Mau?


Written by rinaldimunir

February 25th, 2011 at 11:25 am

Posted in Seputar Bandung

bayi

without comments

bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi bayi

Written by Read_1

February 24th, 2011 at 11:44 am

Posted in Uncategorized

Untuk yang kesekian kali, ‘exercise’ pasar Indonesia (Ina)

without comments

http://www.antaranews.com/berita/247305/go-to-hell-with-your-films

Biasanya rada empet sama bung IB yang memborbardir TV dg infotainment,
tapi konten tulisannya kali ini masuk akal dan bagus! (kite kan liat konten, bukan setia pada person ya tak ya tak :D )

Untuk yang kesekian kali, kekuatan pasar Ina di ‘exercise’
setelah BBM yang berhasil ‘dimenangkan’
akankah sekarang film impor mau ditundukkan?

Uniknya, pola yang terjadi hampir sama/jelas:
membuat warga Ina ‘berantem’ dulu, pro dan kontra, kalau bisa produsen memenangkan agendanya dengan memanfaatkan sentimen warga Ina sendiri (at low or zero cost) smart ha!

Tapi yang pasti, mau begitu penjual/produsen itu kehilangan market sebesar Indonesia? saya berani bertaruh GA AKAN!!
bagaimanapun ini bisnis, duit duit dan duit.

kalau mereka berhasil membuat agendanya terealisasi, melalui warga Ina yang menolak kebijakan pemerintahnya sendiri, maka keuntungan mereka tetap melimpah ruah seperti sebelumnya atau lebih lebih.
kalau tidak, mereka akan memakai strategi memboikot produk tertentu ekspor Ina sebagai ‘pembalasan’ sampai Ina tunduk lagi.
atau, kalau tidak mereka mau tak mau akan tunduk kepada peraturan pemerintah, dan tetap dapat untung
daripada kehilangan market berjut-jut.

Jadi, akankah kekuatan pasar ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan warga Ina sendiri? atau?

Kasus yang akan/sudah berpola seperti ini:

- produksi sawit sedang dalam gempuran di-moratorium (posisi Ina saat ini produsen sawit terbesar di dunia, diikuti Malaysia, sawit juga ekspor terbesar di luar sektor minyak dan gas).  Oh please! Western & US juga telah mengalami masa2 mengeksploitasi kekayaan alam baik di negerinya maupun memeras negeri orang lain, sampai mereka mencapai level income seperti sekarang.  Dan ketika negara yang sedang membangun ini berusaha menaikkan incomenya sudah “dibebani” kewajiban sebagai penduduk bumi yang mulia untuk menyimpan hutannya sebagai paru2 dunia.

Look! China rangking 1 pengguna energi terbesar di dunia, disusul US, Indonesia…. ranking 19!!!! Tapi China, US, India menolak mengurangi konsumsi energi, US sang guru demokrasi menolak protokol Kyoto, tapi Indonesia harus maju di garda terdepan menyelamatkan dunia dengan -salah satunya-  menandatangani moratorium Oslo, what?!?!?!.  Sekali lagi yang fair, yang adil! Kita hidup disatu planet yang sama, yang saling menjaga, saling membantu, jangan sebutuhnya sendiri.

- penggunaan batubara (yang melimpah di negara non western/poor countries?) sedang berusaha di-moratorium, heyy! western sudah mengepulkan asap batubara sejak revolusi industri dan sekarang menjadi relatif kaya raya. Kemonn, yang fair2 saja, kita hidup di satu planet/desa yang punya kepentingan sama terhadap emisi CO2, tapi juga ada perut2 lapar yang sedang melakukan pembangunan, yang adil lah, jangan mau menang sendiri, diatur sama2 aza.

====

Go To Hell With Your Films

Oleh Ilham Bintang

Jakarta (ANTARA News) – Tidak ada yang menyangkal kita perlu film asing, khususnya film-film Hollywood, Amerika Serikat (AS). Baik sebagai hiburan maupun sebagai sumber inspirasi kehidupan, dan referensi kreatif  untuk sineas serta insan film kita.

Namun, saya tidak yakin kalau di antara kita ada yang mau mempertukarkan kegandrungan pada film Hollywood tersebut dengan hilangnya kedaulatan kita sebagai bangsa. Apapun alasannya.

Sepakat atau tidak sepakat (deal or no deal) hal biasa dalam bisnis. Yang luar biasa, ketika mitra bisnis menolak untuk mengikuti aturan yang berlaku di negeri mitranya, kemudian memprovokasi rakyat dengan informasi menyesatkan. Termasuk kesan mendorong publik “melawan” ketentuan perpajakan sesuai undang-undang (UU). Padahal, UU tersebut  merupakan amanah seluruh rakyat.

Faktanya seperti itulah yang dilakukan para produsen/eksportir film AS yang tergabung dalam organisasi Motion Picture Association of America (MPAA) di Indonesia. Mereka menolak membayar pajak yang menjadi kewajiban mereka.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak melalui surat edaran tanggal 10 Januari 2011 mengingatkan kewajiban pajak atas distribusi/royalti film yang sudah berlaku belasan tahun lalu. Pajak itu terdiri dari bea masuk (10%), Pajak Pertambahan Nilai/PPN (10%) dan Pajak Penghasilan/PPh (2,5%) atau total 23,75%.

Edaran, yang intinya mengingatkan pada kewajiban tersebut, langsung ditanggapi secara reaksioner oleh MPAA dengan menyetop pasokan film mereka di negeri ini.

Bukan boikot itu betul yang bikin kita harus mengurut dada. Mitra internal mereka di sini, yaitu pengusaha bioskop 21, ikatan perusahaan importir film di Indonesia (Ikafifi), bukannya menasehati mitranya tunaikan kewajiban, malah  mendramatisasi boikot MPAA itu seolah telah terjadi kiamat. Padahal, mereka tahu prosedur keberatan soal pajak harus disampaikan ke instansi yang terkait bukan kepada pers.

“Kami sudah minta mereka sampaikan surat keberatan. Namun, sampai hati ini kita belum menerima surat itu,” kata Heri Kristiono, Direktur Teknis Kepabeanan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai kepada wartawan hari Senin (21/2). Tidak jelas apa cita-cita di belakang pilihan pihak MPAA mempolitisasi keberatan itu melalui pers.

Dalam informasinya kepada pers, terasa sekali dikesankan pemerintah hendak “memalak”, dan mengindentikkan langkah pemerintah sebagai perampasan hak rakyat untuk mendapatkan hiburan segar. Cara-cara inilah yang menimbulkan keberatan sebagian insan film Indonesia. Cara itu dianggap keterlaluan karena mengadu domba rakyat dengan pemerintah.

Padahal, kalau kita menelaah secara cermat duduk perkara pajak impor film ini, maka fakta sebenarnya berbanding terbalik dengan apa yang MPAA informasikan kepada publik.

Pertama, pajak atas distribusi/royalti film bukan produk baru Dirjen Pajak. Itu adalah ketentuan lama yang belasan tahun diabaikan. Artinya, justru film-film impor lah yang menungggak sekian lama kewajibannya atas pajak distribusi.

Kedua, kewajiban pajak yang mereka tunaikan selama ini, hanya bea masuk, PPN, dan PPH, total 23,75% atas copy film semata.

Film “Avatar” yang selama pertunjukannya di Indonesia berhasil meraup Rp55 miliar bisa jadi contoh soal itu. Berdasarkan ketentuan pajak royalti, mestinya MPAA  membayar 23,75% dari share produsen (45% x Rp55 miliar). Itulah  yang tidak ditunaikan. Yang mereka bayar hanya 23,75% dari harga copy film, yang jumlahnya sekitar Rp3 juta per copy. Artinya, kalau Avatar beredar dengan 100 copy, maka total mereka menyetor ke negara hanya Rp300 juta.

Data 2010

Tahun 2010 ada 65 judul film Hollywood milik MPAA yang beredar di Indonesia. Total pemasukan dari penonton Rp765 milyar. Yang mereka baru bayar dari pajak seluruh copy film tahun 2010 hanya sekitar Rp5 miliar. Sedangkan, pajak atas royalti film itu belum dibayar sama sekali. Bayangkan, berapa jumlah uang pajak yang tertunggak jika itu sudah berlangsung 15 tahun dengan penghasilan royalti setahun rata- rata di atas Rp700 miliar rupiah.

Isu mengenai kekhawatiran bioskop bakal tutup jika diboikot MPAA lebih menyesatkan lagi. Tiap tahun film AS yang dipertunjukan di sini jumlahnya 160 judul, hanya sekitar 70 judul milik MPAA. Sisanya, film AS produksi non-MPAA. Belum lagi film asing lainnya, India, Mandarin, dan Eropa. Jangan lupa pula produksi nasional yang rata-rata 70 judul setahun, yang dalam kenyataan sering amat sulit memperoleh jadwal putar.

Jadi, masih ada sejumlah besar film AS yang akan mengisi bioskop. Importir film AS non-MPAA di Indonesia pun menyatakan siap menambah jumlah pasokannya. Ini tentu tidak asal janji. Sebab, faktanya, setiap tahun di AS diproduksi 500 hingga 600 judul. Jumlah terbesar hasil produksi non-MPAA hanya sekitar 20%.

Selain itu, argumentasi bahwa semua film produksi MPAA adalah film bermutu yang menghasilkan uang, tidak sepenuhnya benar. Dari data tahun 2010, film bagus dengan penghasilan bagus milik MPAA hanya sekitar 15 judul. Cukup berimbang dengan film produk non-MPAA.

Lantas, kenapa ketentuan pajak atas royalti film sekian lama “tertangguhkan”, dan siapa yang menangguhkan?

Ini pertanyaan yang cukup menggoda.

Dugaan kuat, hal ini terkait dengan UU Perpajakan 1983 yang di awal masa berlakunya belum secara secara spesifik  mengatur soal pajak royalti tersebut.

Selain faktor itu, jangan dilupakan “jasa” Soedwikatmono yang pada pertengahan tahun 80 terjun menjadi importir film dan membangun jaringan bioskop modern 21 Group. Sebagai kompensasi atas investasinya di bidang itu, maka waktu itu kemungkinan besar pemerintah memang memberi fasilitas penangguhan pajak untuk sementara waktu.

Langkah penting pengusaha perfilman Sudwikatmono (Pak Dwi, kini almarhum) di masa itu ialah mengonsolidasi para importir film. Untuk menghadapi produsen/ eksportir film MPAA yang gemar mempermainkan harga/mengadu domba importir kita, pada awal Pak Dwi menyatukan importir dalam suatu asosiasi untuk berhadapan dengan pihak MPAA.

Lima tahun pertama gagasan itu berhasil. Dunia perfilman marak kembali. Gairah memproduksi dan mengimpor film meningkat. Penonton kembali mendatangi bioskop untuk menonton film. Tetapi, pihak MPAA tidak puas dengan keadaan itu. Mereka lalu mengreasi berbagai gara-gara.

Salah satunya, saat pemerintah hendak menggenjot produksi film nasional dengan mengurangi kuota film impor, pihak AS langsung menghadang dengan senjata pamungkas bernama Super Act 301. Mereka melarang ekspor tekstil kayu lapis masuk negara mereka. Kita pun menyerah. Itu terjadi pada tahun 1992.

Setelah itu, melalui agen-nya di Indonesia, pihak MPAA mempraktikkan politik adu domba di kalangan insan film. Asosiasi dan jaringan 21 mereka tuding melakukan monopoli. Heboh isu monopoli di tanah air itulah kelak yang  ditumpangi MPAA untuk memboikot asosiasi, lalu menjual langsung filmnya  di  Indonesia. Kepada para asosiasi dan jaringan 21 Group. MPAA hanya memberikan kompensasi fee senilai 15% untuk pengaturan pertunjukan film MPAA di Indonesia. Inilah masa importir kembali menjadi buruh di bekas lahannya sendiri. Pihak asosiasi dan 21 Group mereka angkat sebagai mitra/perwakilan mereka di sini. Itu lah yang berlaku hingga sekarang.

Ironis memang. Mereka mendepak Pak Dwi dengan alasan monopoli. Namun, dalam praktik selanjutnya, seluruh  fasilitas Pak Dwi yang dulu diidentifikasi sebagai monopoli, justru mereka manfaatkan dan nikmati hingga sekarang. Termasuk “penangguhan” pajak untuk royalti film-film mereka.

Dan, kini setelah pemerintah melakukan intensifikasi pajak dengan kembali memungut kewajiban pajak royalti film impor tersebut, MPAA langsung memboikot.

Rasanya sulit kita mengerti bagaimana bisa negara AS yang mengklaim sebagai kampiun demokrasi, yang dulu mengajari pentingnya intensifikasi pajak untuk membiayai peningkatan demokrasi suatu bangsa, eh malah terang-terangan menolak bayar pajak.

Dan, itu amat mencengangkan, karena terjadi di saat kita tengah mengobarkan semangat intensifikasi pajak, dengan konsekwensi harus menindak, tanpa pandang bulu siapapun yang menyeleweng, mengemplang dan menghindar pajak, eh si kampiun demokrasi itu terang-terangan menolak. Inikah yang orang sering sebut demokrasi ala Amerika, adalah demokrasi yang ujung-ujungnya duit.

Saya sendiri tak meyakini MPAA akan memboikot dalam jangka panjang. Sebanyak 237 juta penduduk Indonesia adalah pasar yang memberi keuntungan besar bagi bisnis film AS. Lihat data penghasilan mereka tahun 2010. Pajak royalti yang wajib mereka bayar masih sangat kecil dibandingkan penghasilannya yang sangat berlimpah.

Sudah saatnya dan pantas untuk kita mengatakan go to hell with your films kalau kesukaan kepada film-film Amerika harus dipertukarkan dengan harga diri sebagai bangsa yang berdaulat. (*)

*) Ilham Bintang (ilhambintangmail@yahoo.co.id; twitter: @ilham_bintang) adalah pengamat seni, budaya dan hiburan; Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat; Pemimpin Redaksi Tabloid Cek&Ricek (C&R).

Editor: Priyambodo
COPYRIGHT © 2011

Written by ibu didin

February 23rd, 2011 at 9:26 pm