if99.net

IF99 ITB

Archive for December, 2010

Kalah ya Kalah, Jangan Cari “Kambing Merah” Lagi

without comments

Indonesia akhirnya kalah dari Malaysia dalam laga sepakbola Piala AFF. Meskipun kalah, tetapi tidak ada caci maki kepada pemain Timnas. Masyarakat Indonesia menerima kekalahan tersebut dengan lapang dada. Sebelumnya ekspektasi rakyat Indonesia begitu luar biasa besarnya kepada Timnas. Sungguh heboh dan gegap gempita negeri ini selama beberapa minggu karena kemenangan demi kemenangan yang diraih Timnas, sebelum akhirnya mencapai klimaks kegagalan pada final Rabu malam kemarin. Diluar kegagalan pada laga final itu, boleh dibilang Timnas telah mempersatukan bangsa Indonesia selama 1 bulan ini. Thank’s Timnas

Kalah dan menang dalam sepakbola itu biasa. Bola itu bundar. Hikmah sesungguhnya dalam olahraga adalah sportivitas, yaitu secara jujur mengakui kehebatan pihak lawan dan mengakui kekurangan diri sendiri. Kalau kalah ya kalah, tidak usah mencari-cari kambing merah lagi, eh kambing hitam. Tidak usah pula menyalahkan sinar laser sebagai biang keladi. Namun sungguh tidak sedap melihat komentar para komentator di televisi ketika Indonesia kalah pada leg pertama di Kualalumpur (KL). Sebuah televisi menyoroti penyebab kekelahan itu adalah karena faktor non teknis yang terjadi sebelum laga pertandingan. Liputan media yang begitu gencar dan dukungan luar biasa masyarakat kepada Timnas, menyebabkan pemain Timnas menjadi kaum selebriti baru. Pofil mereka dan kehidupan pribadi mereka diekspos demikian gencar. Undangan demi undangan datang kepada pemain Timnas untuk menghadiri beberapa acara sebelum berangkat ke KL. Dua acara yang disorot adalah sarapan pagi Timnas di rumah Aburizal Bakrie dan acara istighasah di Pesantren As-shidiqiyah Jakarta. Dua acara ini dianggap sebagai penyebab kekalahan non teknis para pemain di laga leg pertama. Para komentator begitu bersemangat mengecam kedua acara tersebut. Televisi ini yang memang mempunyai sentimen pribadi kepada Aburizal Bakrie mengulas acara sarapan pagi dan istighasah.

Tentu sangat tidak adil menyalahkan kedua acara tersebut sebagai penyebab kekalahan. Saya akan menyoroti yang istighasah saja, sebab kalau acara sarapan pagi itu cenderung bermuatan politik sehingga tidak usahlah dibahas. Saya sendiri juga heran kenapa ada acara istighasah segala sebelum bertanding. Baru kali ini terjadi acara istighasah dalam sepakbola. Istighasah — yang merupakan ritual doa dan zikir khas kaum nahdhiyin — biasanya diadakan pada momen khusus, misalnya jika banyak terjadi musibah yang melanda negeri. Namun saya bisa memahami kenapa sampai ada beberapa pihak yang mengadakan istighasah untuk sepakbola, mungkin maksudnya untuk memberi bekal muatan spiritual kepada para pemain, meskipun tetap saja rasanya aneh sebab tidak semua pemain yang hadir beragama Islam. Walau tujuan istighasah itu pada dasarnya baik, namun menurut saya tetap kurang tepat dan terlalu dipaksakan.

Namun menyalahkan istighasah dan beberapa acara lain sebelum pertandingan di KL saya nilai kurang adil. Hasil pertandingan ditentukan oleh para pemain di lapangan. Sehebat apapun pelatihnya atau sebagus apapun fasilitas yang diterima pemain, kalau para pemain sudah bertanding di lapangan, maka yang mereka hadapi adalah adu teknik dengan lawan. Secara teknis permainan Malaysia memang bagus. Mereka mampu bermain cantik baik di kandang sendiri maupun di kandang lawan. Apa pemain Indonesia kurang bagus? Menurut saya pemain kita juga bagus dan hebat, tetapi nasib mereka kali ini apes saja, kalah. Namanya juga bola, bundar dan menggelinding, yang jelas pertandingan harus ada pemenangnya, dan kali ini Garuda harus mengakui keunggulan Harimau.

Saya punya pendapat berbeda dengan para komentator sepakbola yang ngomongnya aneh-aneh itu. Kekalahan Timnas, selain karena secara teknis memang harus mengakui keunggulan tim Harimau, faktor tekanan mental juga membuat para pemain bermain dengan beban yang sangat berat. Pemain tidak bisa bermain lepas, sebab publik terlalu menaruh harapan kepada mereka untuk menang. Ekspektasi yang luar biasa besar dari rakyat Indonesia. Apalagi setelah kalah di KL, beban mental itu semakin maha berat ketika bermain pada leg kedua di GBK. Fokus rakyat Indonesia pada Rabu malam itu memang tertuju pada pertandingan yang mendebarkan dan sangat menentukan. Saya melihat para pemain hampir frustasi ketika pada babak pertama belum dapat membuat gol. Harapan banyak orang agar Indonesia sedikitnya memasukkan 4 gol supaya menang semakin tipis ketika pada babak kedua Malaysia menyarangkan 1 gol. Itu berarti Indonesia harus memasukkan 5 gol. Penonton dan rakyat Indonesia sudah mulai kecewa, tetapi bersemangat lagi setelah Indonesia menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Sayang waktu berjalan terus, hingga 3 menit sebelum akhir pertandingan Indonesia bisa menang juga 2-1, tetapi tidak ada gunanya lagi kemangan itu, sebab gelar juara sudah hampir melayang.

Untunglah masyarakat Indonesia tidak larut dalam kesedihan. Mereka tetap menghargai dan salut kepada Timnas yang sudah berjuang keras (baca beritanya di sini). Tidak ada caci maki atau umpatan kepada Timnas. Tidak seperti komentator yang mencari-cari kesalahan, orang Indonesia pada umumnya lebih dewasa menyikapi. Kalah ya kalah, tidak usah mencari-cari kambing merah, eh hitam, lagi. Kambing hitam lebih berharga karena bisa dijual atau diternakkan.


Written by rinaldimunir

December 31st, 2010 at 10:01 am

Posted in Indonesiaku

Scanner Periksa Nilai: DMR

without comments

Scanner periksa nilai adalah sebuah penamaan produk (kompetitor) yang kurang tepat. Mengapa demikian? Nilai adalah hasil, adapun yang diperiksa adalah LJK. Jadi, bila Anda membutuhkan Scanner Untuk Pemeriksaan Hasil Ujian Menjadi Nilai, carilah di Google, Scanner LJK DMR.

Digital Mark Reader (DMR) adalah scanner pemeriksa ujian berupa software LJK yang paling banyak digunakan di Indonesia. Selang tujuh tahun sejak diperkenalkan tahun 2004, ribuan lisensi DMR telah digunakan oleh ratusan lembaga di dalam dan luar negeri. Artinya lembaga-lembaga tersebut telah mempercayakan survey, entri data, maupun penilaian hasil ujiannya kepada produk scanner DMR.

Awalnya DMR dibuat untuk digunakan oleh sekolah-sekolah dalam membantu penilaian ujian harian, namun pada kenyataannya, minat yang paling besar justru datang dari pihak profesional, baik itu perusahaan BUMN, swasta, militer, hingga pemerintah pusat dan daerah, baik untuk rekrutmen, sertifikasi, survey maupun psikotes.

Sebuah kebanggaan yang sangat berat tantangannya bagi kami, untuk tetap dapat memberikan pelayanan dan kualitas produk yang terbaik bagi para pengguna DMR. Mohon dukungannya, agar produk DMR terus tumbuh dan berkembang, dengan mendengarkan apa keinginan penggunanya.


Written by arifrahmat

December 27th, 2010 at 1:42 am

Posted in dmr,scanner,techno

Mengikuti Acara “Baralek” di Rantau

without comments

Meskipun jauh dari kampung halaman, banyak orang Minang di perantauan yang menikahkan anak gadisnya tetap mempertahankan adat Minangkabau dalam acara baralek (perhelatan, kenduri). Seperti tadi siang, saya menghadiri acara baralek anak teman saya di gedung resepsi dekat Bandara Husein, Bandung (dulu satu SMA di Padang, tetapi anaknya sudah gedeee, maklum dia menikah pas tamat SMA). Nah, acara baralek teman saya ini cukup lengkap, selain pelaminan dan pakaian pengantin yang berbusana Padang, dia juga menyewa tim kesenian Minang yang membawakan Tari Galombang dan Tari Piriang. Jarang-jarang saya melihat penampilan tim kesenian Minang dalam acara baralek, maklumlah saya kebanyakan menghadiri acara kenduri orang lain yang menggunakan adat Sunda, Jawa, atau tatacara Islami (tanpa adat budaya). Berikut beberapa foto acara baralek yang berhasil saya abadikan:

1. Rombongan pengantin baru saja datang ke gedung resepi

2. Rombongan pengantin berjalan diiringi oleh rombongan pemuda yang membawa talempong tabuh

3. Rombongan pengantin disambut dengan Tari Galombang

4. Tim musik tradisionil talempong, talempong itu semacam gamelan namun irama bunyinya berbeda dengan gamelan

5. Raja dan ratu sehari di pelaminan pink

6. Penampilan Tari Piriang di depan penganten

7. Full color…, begitulah warna-warni budaya Minang

8. Dimanakah saya?

Wah, saya ingin juga nanti kalau anak menikah menggunakan adat Minang ini pada acara resepsinya. Tim keseniannya cukup dari Unit Kesenian Minang (UKM) ITB saja.


Written by rinaldimunir

December 25th, 2010 at 2:27 pm

Lorong Waktu (Menuju 2011)

without comments

Hari-hari terus berganti
tak terasa tahun pun kan berganti
bertambah umur, berkurang jatah usia

Adakah hari ini lebih baik dari hari kemarin?
adakah hari esok lebih baik dari hari ini?

Demi waktu, sesungguhnnya manusia berada dalam kerugian
kecuali bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.


Written by rinaldimunir

December 23rd, 2010 at 9:52 am

Posted in Renunganku

Sesama “Urang Awak” tetapi Pakai Bahasa Indonesia

without comments

Kalau bertransaksi dengan pedagang “urang awak” (sebutan buat suku Minang di rantau), saya lebih suka pakai Bahasa Indonesia saja. Saya agak kapok kalau pakai bahasa kampung sendiri, alias bahasa Minang. Ini berdasarkan pengalaman saya berbelanja ke Pasar Baru Bandung, yang notabene pedagangnya kebanyakan urang awak. Waktu itu saya membawa keluarga yang datang dari Padang hendak berbelanja. Ketika tahu pegawai toko itu urang awak, saudara saya lalu menawar pakai bahasa Minang. Apa yang terjadi? Pegawai toko itu tetap berbicara dalam Bahasa Indonesia, bahasa Indonesia logat Minanng yang khas, gitu. Saya sudah katakan, pakai bahaso awak se lah da, tetapi dia tetap bergeming, tetap keukeuh (ini bahasa Sunda) pakai bahasa Indo.

Tidak sekali dua kali pengalaman saya bertemu dengan pedagang urang awak yang perilakunya seperti itu. Maksud hati pakai bahasa Minang supaya lebih akrab, eh malah pedagangnya terlihat kurang senang. Kalaupun dia membalas pakai bahasa Minang terkesan agak terpaksa dan agak kurang ramah melayani. Lama saya berpikir kenapa begitu, akhirnya saya ketemu jawabannya dari teman. He..he, ternyata pedagang urang awak itu enggan memakai bahasa Minang karena khawatir pembelinya yang sesama urang awak itu minta harga lebih murah. Ya ampuuunnn…., kok begitu sih, padahal niat berbicara dengan bahasa Minang ya itu tadi, supaya terkesan akrab saja karena sama-sama sekampuang, tetapi keakraban itu disalahartikan oleh pedagang karena ingin minta murah. Barangkali para pedagang itu pernah punya pengalaman dimana pembeli yang kebetulan urang awak merayu-rayu minta harga lebih murah dengan alasan samo-samo sakampuang, masak samo-samo urang awak harga dimahalkan. Gitu kali….

Agak berbeda saya perhatikan dengan perantau Jawa. Bagi orang Jawa di Bandung, jika pembelinya orang Jawa juga dan berbicara pakai bahasa Jawa, maka pedagangnya terlihat sangat senang melayani, mereka akan saling berbalas bahasa Jawa seolah-olah pedagang itu sudah lama tidak ketemu dengan orang Jawa. Padalah kota Bandung ini di Pulau Jawa juga, hanya saja Jawa Barat tidak dianggap Jawa. Jawa itu adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Coba deh anda makan soto Jawa Timur di Pasar Simpang Dago, lalu ada pembeli yang kebetulan mahasiswa asal Jawa sudah selesai makan dan akan membayar. Dia menanyakan berapa seluruhnya yang harus dia bayar untuk soto tadi (dalam bahasa Jawa tentunya), maka si pedagang dengan semangat menjawabnya dalam bahasa Jawa juga. Kadang-kadang si pedagang menanyakan asal si pembeli, jawane ndi, mas? (maksudnya, Jawanya di mana, mas), dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak ada kesan memakai Bahasa Jawa itu supaya harga sotonya bisa lebih murah, he..he (padahal nasi soto lima ribu rupiah itu sudah sangat murah).

Di Bandung ini ada ratusan ribu perantau Minang beserta keturunannya. Cukup banyak juga jumlah itu, maklum Bandung dekat dengan kota Jakarta yang menjadi tujuan utama para perantau. Sebagian besar mereka berprofesi sebagai pedagang, mulai dari pedagang kaki lima hingga yang mempunyai toko permanen seperti di Pasar Baru, ITC Kebon Kelapa, Pasar Palasari, dan masih banyak lagi. Kalau tidak jadi pedagang ya jadi pengusaha rumah makan padang, mulai dari rumah makan kaki lima hingga restoran besar yang sudah punya nama. Tiap satu kilometer pasti ada saja rumah makan padang. Tidak susah bagi urang awak yang selera fanatiknya tidak bisa makan dengan masakan Sunda mencari makan di sini. Oh iya, selain pedagang dan usaha rumah makan, ada lagi profesi yang lain, yaitu membuka usaha photo copy. Bisnis photo copy di Bandung berkembang pesat karena Bandung adalah kota pelajar, banyak perguruan tinggi terdapat di sini.

Ikatan perantau di antara urang awak sangat kuat, terbukti di Bandung ini banyak organisai perantau yang berbasiskan kampung/nagari, misalnya ikatan perantau dari Solok, dari Payakumbuh, dari Pariaman, dari Bukittinggi, dan sebagainya. Meskipun banyak populasi urang awak di bandung, tetapi kalau sudah urusan bisnis mereka memang tidak mau membeda-bedakan antara pembeli urang awak dengan pembeli etnis lain. Bisnis ya bisnis, man, kalau urusan nostalgia kampung halaman bukan pada urusan jual beli, tapi setelah selesai transaksi saja. Barulah setelah itu mereka dengan hangat berbagi cerita tentang asal kampung dan sebagainya.

Oke, oke, paham sekarang. Saya memakai bahasa Minang lihat-lihat situasi saja. Kalau makan di rumah makan padang, yang melayani saya belum tentu urang awak. Bisa jadi pemilik rumah makan padang itu memang urang awak, tetapi para pegawainya belum tentu urang awak. Saya pakai bahasa Indonesia saja, pasti pegawainya tidak akan mengerti kalau saya bertanya ini dan itu dalam bahasa Minang. Nanti waktu membayar saja kita dilayani oleh pemiliknya yang urang awak itu, barulah kadang-kadang saya pakai bahasa Minang, tetapi lebih banyak pakai Bahasa Indo saja. Tetapi jika bertransaksi dengan pedagang kaki lima atau pedagang di Pasar Baru, saya lebih suka pakai Bahasa Indo saja. Ogah dikira minta harga lebih murah, he..he.


Written by rinaldimunir

December 22nd, 2010 at 1:12 pm

Mengingat (kembali) amanah-amanah

without comments

Pertama dan utama adalah amanah sebagai hamba Allah, yang diberi kesempatan untuk hidup dan berkewajiban untuk mengabdi pada-Nya. Ibu harus perbaiki lagi ibadah harian dan disiplin tilawah.

Kemudian adalah amanah sebagai istri. Dari ibnu Umar dikatakan bahwa Rasulullah bersabda :”….dan wanita / istri adalah pemimpin atas penghuni rumah suaminya dan anaknya, dan dia bertanggung jawab atas mereka.(HR. Bukhari dan Muslim). Ibu harus lebih menata urusan-urusan rumah tangga yang kadang terbengkalai (terutama cucian + setrikaan). Ingat, ingat, ingat, kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan-urusan ini, yang telah diamanahkan kepada ibu :( :( :(

Kemudian adalah amanah sebagai ibu.  “ Al Umm madrasatu al  ûlâ. ( Ibu adalah sekolah/madrasah  pertama bagi anak-anaknya). “Seorang Ibu ibarat sekolah.. Apabila kamu siapkan dengan baik.. berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya”. (Yusuf Qardhawi, Pengantar “Kebebasan Wanita” Jilid I, GIP, 1990).

Dalam diam, membibit dan istiqomah menanam kebaikan pada anak-anak, proses-proses dengan detail-detail kecil setiap harinya, dari mengantar dan mendoakan menjelang dan bangun tidur, memandikan & menyiapkan bajunya, memasak makanannya, menanamkan iman, mengajari AL-Qur’an, dan menemaninya ‘exercise’ emosinya, dan lain-lainnya. Menurut ibu Wirianingsih, ibunda dari 10 bintang Al-Qur’an, kunci suksesnya adalah konsistensi (istiqomah) menjalani proses hari demi hari. Baiklah, insyaAllah ibu akan berusaha.  Kenyataan esok hari adalah impian hari ini. Kalau ibu memang bermimpi memiliki anak sholeh/ah, hamba Allah yang taat, bintang Al-Qur’an, dan arsitek pemenangan peradaban umat, maka apa yang ibu lakukan, tabur hari demi hari (dalam diam) itulah yang diperlukan.

Sekarang Allah juga sedang menitipkan amanah anak kedua insyaAllah, sudah seharusnyalah ibu mempersiapkan kehadirannya di dunia dengan sebaik-baiknya, kecukupan gizi, berhati-hati, memperbaiki emosi ibu, dan terutama ruhiyah ibu, jika ibu memang sangat menginginkan anak yang sholeh/ah, maka ibu harus tirakat dan banyak beribadah.  Sembilan bulan yang menentukan, pun sembilan bulan kualitas terbaik dalam hidup ibu (seharusnya begitu).

Kemudian amanah dakwah, konsistensi dibina, membina, memperhatikan binaan, dan juga memperbaiki diri dan semangan dalam tarbiyah, terutama tarbiyah dzatiyah.

Kemudian amanah dakwah yang lain, saat ini mendapat amanah menjadi ketua Salamaa (Silaturahmi Muslimah Indonesia di Belanda), meskipun masih kabur apa yang harus dilakukan, tapi ini adalah amanah, yang akan dimintai pertanggungjawabannya :( :( :( Semoga setahun kedepan, bersama tim banyak kegiatan bermanfaaat yang bisa diselenggarakan.

Kemudian amanah untuk menyelesaikan studi master yang dibiayai oleh negara (uang APBN = uang rakyat!) ingat, ingat, ingat!  klo sampe ga amanah, the first I betray would be my parents (bagian dari rakyat kecil pembayar pajak di belahan desa Pandan, Kota Batu, Jawa Timur).  Enam bulan lagi, insyaAllah!

Mendaftar amanah-amanah diatas, terasa besar dan menakutkan.  Sanggupkah?

Rabbi adkhilni mudkhala sidqiw wa akhrijni mukhraja sidqiw wa-j’al li mil ladunka sulta_nan nasira (QS.Al Isra: 80)

“Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”

Written by ibu didin

December 20th, 2010 at 10:09 am

Posted in amanah,Tafakur

Mengapa perusahaan (bonafid) membayar gaji karyawan lebih tinggi?

without comments

The employer has interest to pay her employees a wage higher than the minimum necessary in the (relevant) market. This might be can be attributed to efficiency wage arguments:

First, in the positive interpretation, higher wage will lead to positive exchange or reciprocity relationship.  When the employer pays higher wage, she expects commitment of her employers in return.  The commitment of higher productivity and fulfillment of tasks assigned.

Second, in the negative interpretation, higher wage paid by the employers can be considered as a mechanism of ‘blackmailing’ workers.  By increasing wage, firms increase price of job, and the cost of loosing job is high.  It motivates workers not to leave the job, and do whatever required by the firms to defend his/her position with higher wage.

The third is argument of profit share (and demand). Higher wage does not necessarily lead to decrease firm’s profitability.  Profit share can be defined as share of profit in total income.

profit rate equation

X/K or output (X) per capital is indication of capacity of capital stock utilization that depends on demand, how many products/services produced by firm (X) is depend on demand, and the demand depend on wage.  The higher the wage means higher income, which also means the consumers power to purchase increase (thus lowering income restriction). In turns, will lead to increase in the demand of products/services.

*** dari soal PR micro-economy

Written by ibu didin

December 20th, 2010 at 8:30 am

Belum Pernah Orang Indonesia Sebangga Ini Karena Sepakbola

without comments

Dua minggu belakangan ini kita melihat fenomena yang luar biasa di tanah air. Belum pernah ada dukungan masyarakat yang begitu luar biasa kepada tim sepakbola Indonesia keculai pada Piala AFF Suzuki tahun ini. Kemenangan Indonesia atas Filipina 1-0 pada leg kedua semalam disambut dengan gegap gempita di seluruh tanah air. Masyarakat Indonesia bagaikan tersihir dengan kemenangan itu. Euforia di mana-mana. Tidak hanya dukungan 80.000 penonton di Gelora Bung Karno, tetapi hampir di seluruh tanah air perhatian masyarakat terbetot pada televisi yang menyiarkan langsung pertandingan. Jalan-jalan di luar terasa lengang. Acara nonton bareng pun diadakan di mana-mana seperti musim Piala Dunia beberapa bulan yang lalu.

Padahal Indonesia belum menjadi juara, baru mencapai final dan akan melawan Malaysia lagi di final (Ayo Timnas, Ganyang Malaysia, he..he). Tetapi itu saja sudah membuat euforia di mana-mana. Di televisi kita saksikan begitu bangganya para suporter memakai kostum berlambang Garuda dan asesoris yang menggambarkan bendera merah putih. Mereka begitu bersemangat menyanyikan lagu “Garuda di Dadaku” dan lagu “Indonesia Raya”. Kita juga saksikan betapa ribuan orang rela berdesak-desakan mengantre tiket sejak subuh untuk mendapatkan tiket. Belum pernah Gelora Bung Karno sepadat ini dalam pertandingan sepakbola. Belum pernah orang Indonesia sebangga seperti ini terhadap negaranya. Rasa nasionalisme tiba-tiba saja terasa begitu kental.


(Antrian pembeli tiket di GBK, sumber foto dari sini)

Padahal piala AFF itu baru setingkat regional saja, ASEAN, namun euforia itu sudah tidak terbendung lagi. Semula pertandingan sepakbola piala AFF ini dianggap sepi-sepi saja bagi masyarakat. Paling-paling kalah lagi, begitu pikir banyak orang. Sepakbola Indonesia identik dengan pecundang, kekalahan, dan baku hantam antar pemain. Sudah lama sepakbola Indonesia tenggelam di kancah internasional. Tetapi, ketika Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia 5-1, mata publik pun mulai terbuka. Apalagi sentimen terhadap Malaysia belum hilang. Perlahan-lahan Timnas mulai mendapat perhatian masyarakat. Satu per satu kemenangan berikutnya pun bersusulan. Timnas mencukur Laos 6-0 (yang mampu menahan Thailand 2-2), dan menaklukkan Thailand 2-1 (salah satu tim terkuat di Asia Tenggara), dan terakhir menang atas Filipina 1-0 di semifinal leg pertama dan leg kedua adalah bukti keperkasaan itu.

Apa yang menyebabkan antusiasme massa begitu besar kepada Timnas Indonesia kali ini? Ada dua sebab. Pertama adalah kerinduan publik di tanah air terhadap kejayaan sepakbola Indonsia. Tahun 30-an dan 60-an Indonesia pernah berjaya di kancah sepakbola Asia, sebelum akhirnya kejayaan itu pudar dan sepakbola Indonesia identik dengan kekalahan, perkelahian antar pemain, pemukulan wasit, kerusahan suporter dan sebagainya. Benar-benar kondisi terpuruk, sejalan dengan kondisi keterpurukan bangsa dalam segala hal. Tetapi kemenangan demi kemenangan Timnas kali ini membangkitkan kembali harapan kejayaan sepakbola Indonesia, dan harapan itu mereka lihat ada pada Timnas yang sedang menuju puncak perstasi. Karena itu, tidaklah heran melihat euforia hari-hari ini di seluruh tanah air.

Sebab kedua, antusiasme dan euforia itu mungkin timbul sebagai hiburan untuk mengobati kemuakan terhadap carut marut kondisi bangsa yang telah menyita perhatian masyarakat dan membuat harga diri bangsa ini jatuh. Mulai dari kasus korupsi para pejabat, kasus suap, kasus Gayus, kasus Century, kasus KS, kasus anggota DPR yang jalan-jalan ke luar negeri, hingga kasus asusila Ariel cs. Semua kasus itu membuat masyarakat jengah, seolah-olah bangsa ini mempunyai segudang masalah yang tidak habis-habisnya. Oleh karena itu, masyarakat merasa terhibur dengan kemenangan demi kemenangan Timnas itu dan dapat melupakan sejenak persoalan yang melilit kehidupan.

Thank Timnas yang telah membangkitkan kembali kecintaan dan kebanggaan sebagai orang Indonesia. Semoga anda menjadi juara AFF tahun ini. Setelah ini, mulailah bermimpi untuk berjaya di tingkat Asia dan mengalahkan raksasa Jepang dan Korea, lalu tingkat dunia. Kemenanganmu tidak lain untuk meningkatkan harga diri bangsa yang telah dilecehkan oleh bangsa-bangsa lain karena TKW, TKI, korupsi, dan kasus moralitas.


Written by rinaldimunir

December 20th, 2010 at 8:29 am

Posted in Indonesiaku

Korban yang Tidak Mengaku

without comments

“Saya hanyalah korban”, begitu selalu jawaban Ariel setiap kali ditanya apakah lelaki dalam video itu adalah dirinya. Ariel tidak pernah mengakui bahwa lelaki di dalam video itu adalah dirinya, sementara Cut Tari sendiri sudah bersaksi di depan hakim dengan mengaku bahwa wanita di dalam video itu adalah dirinya dan lelaki itu adalah Ariel.

Saya ingin membahas kalimat yang sudah basi ini dari sudut pandang logika bahasa. Ada kontradiksi dalam kalimat bahwa “saya hanyalah korban” dan hal ini bisa menjadi bumerang buat dirinya. Kalau memang sebagai korban, yaitu korban dari penyebaran video mesum, berarti yang bersangkutan mengakui secara tidak langsung bahwa dia adalah orang di dalam video tersebut. Dan karena kelalaian atau unsur kesengajaan dari beberapa pihak, akhirnya video tersebut — yang seharusnya koleksi pribadi Ariel — tersebar ke seluruh dunia. Jadi, wajar saja bila Ariel merasa dia adalah korban dari penyebaran video mesum (dirinya) yang dilakukan oleh orang lain, sehingga namanya menjadi rusak. Dia memang korban, tetapi korban yang tidak mengaku, he..he.

Atau, mungkin logika yang dipakainya berbeda dengan logika yang saya pelajari saat kuliah? Tak tahulah awak.


Written by rinaldimunir

December 16th, 2010 at 4:33 pm

Posted in Indonesiaku

Terkenang Masa Lalu dengan Shalawat Tarhim yang Indah

without comments

Saat itu menjelang shalat Subuh, saya sudah terbangun dari tidur. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar kumandang lantunan bacaan dalam Bahasa Arab dari sebuah masjid. Sangat syahdu dan indah suaranya. Lantunan bacaan — yang kemudian saya ketahui sebagai sebuah shalawat — itu mengingatkan saya kembali ke masa lalu, masa-masa kecil di Padang. Dulu, ketika saya masih seusia SD, orangtua saya selalu rajin mengajak saya shalat Subuh di Masjid Istiqamah, terutama pada bulan Ramadhan. Dari rumah kami berjalan kaki menuju masjid yang jaraknya 400 meter. Dari kejauhan terdengar suara lantunan shalawat tadi mengiringi langkah kaki saya. Meskipun saya tidak tahu artinya, namun saya sangat meresapinya. Suara qori yang melantunkannya sangat indah, begitu terpesona saya mendengarnya. Wahai, siapa pemilik suara yang indah itu, apakah orangnya masih hidup? Semoga Allah SWT membalas kebajikannya karena telah mengalunkan shalawat yang membuat hati siapa pun bergetar mendengarnya.

Sekarang memori masa kecil itu kembali terbayang di kepala saya setelah mendengar bacaan shalawat tadi. Lama saya mencari-cari bacaan apa itu namun tidak bertemu. Untunglah dengan adanya internet dan Youtube, akhirnya saya berhasil memperolehnya jua. Belakangan saya baru tahu nama bacaan shalawat yang diputar di masjid tadi adalah Shalawat Tarhim (FYI, shalawat adalah bacaan yang berisi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW). Apakah anda pernah mendengar bacaan shalawat yang syahdu tersebut, yang membawa anda terkenang ke masa lalu? Cobalah klik video di Youtube berikut ini:

Sungguh indah mendengarkan shalawat tadi, apalagi ditunjang oleh suara qori yang merdu. Hati merasa bergetar mendengarkannya, dan tanpa terasa mata saya jadi basah karena terharu. Shalawat Tarhim itu membuat saya terkenang pada ayah dan ibu yang telah mendidik saya dengan ajaran agama sejak kecil, terutama kepada almarhum ayah saya yang telah mengenalkan shalat subuh di masjid bersama-sama dari rumah. Ketika orang-orang masih terlelap dalam tidurnya, kami berjalan bersama-sama menuju masjid, dan Shalawat Tarhim tadi mengiringi langkah kaki kami menuju masjid.

Beginilah bunyi Shalawat Tarhim yang indah itu beserta terjemahannya (dikutip dari sini):

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm
Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh
Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu
dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke Sitratul Muntaha karena kemulianmu
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.


Written by rinaldimunir

December 14th, 2010 at 2:12 pm

Posted in Agama