if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2010

About Stereotyping

without comments

Sedikit oleh-oleh dari kuliah yang diikuti: International Negotiation di TU Eindhoven.

stereotyping- : cultural stereotyping is the application of a previously held generalization,
often negative, to every person in a cultural group; or, generalizing from only a few people in
a group. A stereotype is a rigid generalization.

Cultural stereotyping is the application of a previously held generalization, often negative, to every person in a cultural group; or, generalizing from only a few people in a group. A stereotype is a rigid generalization.

Stereotyping comes from experience that really exists in the past, but be careful with stereotyping because it is rigid generalization (not always true).  While stereotyping may be temporarily satisfying to someone in the throes of culture shock, it is destructive and alienating in the long run.

It is preferable to avoid using stereotypes and rather use generalizations. A cultural generalization is the tendency of the majority of people in a cultural group to hold certain values and beliefs and to follow certain patterns of behaviour. Generalizations are based on fact and statistics drawn from surveys and other research. Generalizations, unlike stereotypes, are inclusive and allow all groups within a society to exist. Linguistically it is easy to move from stereotypes to generalizations. For example:

Stereotypes: British people like fish and chips.

Generalization: A lot of British people like fish and chips.

Stereotypes: The Dutch are always on time.

Generalization: Dutch people tend to be on time.

Written by ibu didin

October 31st, 2010 at 8:35 pm

Jika kurang cantik

without comments

Selalu saja sulit menahan ketawa kalau mengingat atau menceritakan kembali perbincangan dengan abah yang ini.

“Ibu, perempuan yang tidak  (kurang) cantik teh akan merasa cantik ya kalau nempelin make up ke wajahnya, ”

“Memang kenapa bah?”

“Ya sepertinya perempuan teh begitu ya,”

“lantas?” tanya saya pendek.

“Ya kenapa ga mengakui saja kalau ga cantik, dan menggali potensi diri yang lain,”

Saya tidak bisa menahan ketawa :) )))))))))))

“da kalo ga cantik mau dipakein make up tebal juga tetep ga cantik, abah suka yang alami-alami aja da, yang penting bersih, mandi,”

“kasian juga ya perempuan, klo harus menuruti selera cantiknya laki-laki, da laki-laki mah klo menuruti nafsu ya begitu seleranya terahdap kencantikan, ”

“tapi kan wanita yang menentramkan itu lain.”

*ya oke deh understand understand.. jadi yang boleh dandan yang cantik saja ya bah :) ))))))))*

Written by ibu didin

October 31st, 2010 at 1:37 pm

Posted in cantik,Tafakur,wanita

Ini Kuliah di ITB atau Kuliah di Google?

without comments

Dalam satu sesi kuliah seorang mahasiswa saya bertanya, “Sebenarnya kami ini kuliah di ITB atau kuliah di Google, sih?”. Olala, ada apa gerangan sehingga dia bertanya begitu? Sebelum mengajukan pertanyaan tersebut mahasiswa tadi mengutarakan unek-uneknya. Banyaknya tugas-tugas kuliah di Informatika ITB yang menuntut mahasiswa mencari dan mengeksplorasi sendiri bahan-bahan tugas dari Internet (seperti program, bahasa pemrograman, kakas, metode, trik pemrograman, dan teknologi terbaru lainnya). Semua yang dicari sebenarnya sudah tersedia di Internet, tinggal tanya saja ke Mbah Google, maka apa yang dibutuhkan tersaji dengan cepat.

Hampir tidak ada tugas kuliah di Informatika tanpa mencari bahannya di Internet. Hampir setiap hari mahasiswa di sini mengeksplorasi Internet untuk memahami berbagai ebook tentang kakas dan teknik pemrograman yang diperlukan dalam penyelesaian tugas. Mesin pencari seperti Google adalah sahabat setia yang sangat berguna. Tanpa dia, entah bagaimana menyelesaikan tugas kuliah yang overload begitu. Maka, wajar saja muncul pertanyaannya seperti awal tulisan di atas.

Jadi, sebenarnya mahasiswa kuliah di ITB atau kuliah di Google sih? Dua-duanya mas. Kira-kira 25% anda kuliah di ITB, 75% lagi dari tempat lain, misalnya dari Internet (via Mbah Google). Hampir mustahil kami mengajarkan semua materi keinformatikaan yang sangat banyak itu dalam kuliah yang hanya tiga tahun (tidak termasuk tingkat 1, TPB). Teknologi Informatika berkembang pesat secara eksponensial, tidak bakal terkejar oleh materi perkuliahan yang dibatasi oleh waktu. Kuliah di Informatika ITB lebih banyak memberikan mahasiswa pemahaman konseptual, dasar-dasarnya saja, sementara untuk tataran praktisnya — melalui tugas-tugas kuliah — mahasiswa yang harus kreatif mencarinya sendiri dengan jalan mengeksplorasi melalui berbagai cara, salah satunya ya dari Internet via Mbah Google itu.

Jangan heran kalau anda melihat kurikulum Informatika ITB, tidak ada mata kuliah yang spesifik suatu bahasa pemrograman atau spesifik suatu kakas/platform. Misalnya, tidak ada mata kuliah Bahasa Pemrograman Java di sini, yang ada kuliah Pemrograman Berorientasi Objek. Tugas kuliahnya adalah membuat aplikasi skala menengah, antara lain dengan Bahasa Java, Perl, dan sebagainya. Bahasa Java hanya disinggung sedikit dalam kuliah, selebihnya eksplorasi sendirilah kakasnya seperti Netbeans, JDK, J2ME, dan lain-lain yang lebih baru. Bagaimana caranya ya terserah mahasiswa menyediakann waktu untuk itu. Contoh lainnya, tidak ada mata kuliah Pemrograman dengan PHP, yang ada kuliah Pemrograman Internet yang salah satu tugasnya adalah membuat aplikasi web-based dengan PHP. Tidak ada kuliah Bahasa C# atau Visual Studio dengan C#, tetapi dalam kuliah Strategi Algoritma tugas besarnya menggunakan kakas ini. Tidak ada mata kuliah Linux, tetapi dalam kuliah Sistem Operasi, Jaringan Komputer, atau Proyek Perangkat Lunak, mahasiswa bereksperimen dan bereksplorasi dengan sistem operasi yang bermacam-macam, mulai dari Windows, OS/2, Linux, Symbian, hingga yang terbaru, Android.

Untunglah mahasiswa kami ini self-running, mungkin karena pada dasarnya “bahan bakunya” memang bagus. Cukup diberikan clue-clue saja, mereka bisa jalan sendiri dan mencari sendiri untuk mengerti. Seperti yang dikatakan salah seorang alumni kami, yang membuat dia senang kuliah di sini adalah mahasiswa diberi kebebasan dalam bereksplorasi, tidak dibatasi hanya pada satu teknologi saja. Hal ini sangat berbeda dari pengalamannya ketika berhubungan dengan alumni dari Perguruan Tinggi lain, mereka sangat terikat dengan kakas, bahasa pemrograman, dan platform, sehingga ketika berpindah ke bahasa pemrograman atau platform yang lain, mereka umumnya enggan. Moga-moga saja itu berita baik, tetapi mungkin saja ada kelemahannya. Nah, kamu para alumni IF ITB bisa berbagi di sini apa saja plus minus gaya perkuliahan yang menuntut kalian harus banyak bereksplorasi ketimbang mendapatkannya di dalam kuliah.


Written by rinaldimunir

October 30th, 2010 at 7:05 pm

Lidah Memang Tidak Bertulang, Asal Ngomong Saja

without comments

Pernyataan Ketua DPR, Marzuki Ali, terkait tsunami di Mentawai dikecam banyak orang. Orang pintar kok ngomongnya begitu, nggak mikir pakai otak sebelum bicara. Bagi Ketua DPR Marzuki Alie, musibah tersebut adalah risiko penduduk yang hidup di pulau. Seperti dikutip dari sini:

Mentawai itu kan pulau. Jauh itu. Pulau kesapu dengan tsunami, ombak besar, konsekuensi kita tinggal di pulaulah,” kata Marzuki di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (27/10/2010).

Karena itu, Marzuki menyarankan warga Mentawai agar pindah untuk tinggal di daratan. “Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah. Namanya kita negara di jalur gempa dan tsunami luar biasa. Kalau tinggal di pulau seperti itu, peringatan satu hari juga tidak bisa apa-apa,” ujar dia.

Kalau pernyataan yang di bawah ini dikutip dari sini:

Menurut politisi Partai Demokrat ini, seharusnya warga yang takut ombak jangan tinggal di daerah pantai. Alasannya, jika ada bencana seperti tsunami, maka proses evakuasinya menjadi sulit. “Siapa pun yang takut kena ombak jangan tinggal di pinggir pantai. Sekarang kalau tinggal di Mentawai ada peringatan dini dua jam sebelumnya, sempat nggak meninggalkan pulau?” tanya Marzuki. Bahkan dia menyarankan agar warga Mentawai dipindahkan saja. Hal ini bertujuan agar bencana serupa tidak lagi terjadi di Mentawai. “Kalau rentan dengan tsunami dicarikanlah tempat. Banyak kok di daratan,” sambungnya .

Enteng sekali pernyataan Pak Marzuki Ali ini, tanpa beban dan tanpa empati. Masih lebih bermutu perktaan anak SD atau tukang beca ketimbang anggota DPR yang satu ini. Kalau memang tidak boleh hidup di pulau, lalu tinggal di mana lagi Pak? Pindah ke benua Asia? Negara kiita negara kepulauan, semua orang tinggal di pulau. Apa semua orang di pulau harus eksodus ke benua yang lebih luas?

Pernyataan itu juga berarti bahwa orang tidak boleh menjadi nelayan, karena nelayan tinggalnya di tepi pantai. Kalau nelayan tinggal di kota ya bukan nelayan lagi namanya dong.

Memindahkan orang dari pulau-pulau, meskipun itu pulau kecil, bukan perkara gampang. Selain ongkosnya besar, pada dasarnya setiap manusia terikat batin dengan tanah kelahirannya. Sangat berat bagi seseorang meninggalkan tanah yang selama ini ditinggalinya. Apapun yang terjadi, hidup dan mati mereka akan tetap bertahan di sana. Hanya karena terpaksa saja orang-orang pergi meninggalkan tanah kelahirannya, namun suatu saat mereka pasti akan kembali ke sana. Sebagaimana dengan orang-orang yang terusir dari kampung halamannya, dan menjadi diaspora di penjuru dunia, mereka pasti suatu saat merindukan untuk datang kembali dan kalau bisa ingin mati dan dikubur di tanah kelahirannya.

Dimana-mana di Indonesia rawan bencana alam. Tidak ada tempat yang aman di Indonesia. Mati bisa dimana saja. Pulau Kalimatan yang dianggap aman karena tidak pernah gempa dan tidak ada gunung berapi juga tidak sepenuhnya aman. Banjir besar dari sungai-sungainya siap mengintai akibat penebangan hutan yang menggila. Tanah longsor dari bukit-bukit apa lagi.

Bukan orang yang dipindahkan ke luar pulau, tetapi mitigasi bencana yang perlu digiatkan. Orang Jepang misalnya, sudah akrab dengan gempa dan tsunami, tetapi mereka sudah mengerti apa yang harus dilakukan jika gempa dan tsunami terjadi. Orang Indonesia harus diedukasi tentang kesiapan menghadapi bencana alam seperti gempa, gunung meletus, dan tsunami. Peralatan canggih pendeteksi bencana alam tidak ada gunanya jika pendidikan tentang kesiapan menghadapi bencana alam diabaikan.


Written by rinaldimunir

October 29th, 2010 at 9:05 am

Posted in Indonesiaku

Foto-Foto Akibat Tsunami di Mentawai

without comments

Bagi orang Sumatera Barat, Mentawai itu adalah tanah yang jauh. Satu provinsi memang, tetapi Mentawai harus ditempuh dengan kapal kecil selama 14 jam menembus Samudera Hindia yang terkadang ombaknya tidak bersahabat. Dari Pelabuhan Muara, Padang, tidak setiap hari ada kapal yang berlayar dari Padang ke Mentawai. Kapal hanya ada dua kali seminggu berlayar ke sana, itupun bisa tertunda jika ombak laut besar. Orang Mentawai menyebut tanah mereka Bumi Sikirei, dan mereka menyebut daratan Sumatera sebagai Tanah Tepi. Suku Mentawai mempunyai kekerabatan dengan suku Nias karena jarak mereka berdekatan. Sebagian penduduknya masih menganut animisme, sebagian lagi beragama Kristen dan sebagian kecil beragama Islam. Sebagai tanah harapan, banyak pendatang dari Tanah Tepi — khususnya orang Minang — yang tinggal di sana sebagai pedagang dan pegawai negeri. Meskipun saya lahir dan besar di Sumatera Barat, namun sekalipun saya belum pernah ke Mentawai.

Saat ini Bumi Sikirei sedang menangis. Tsunami — “monster” laut yang mematikan — setinggi pohon kelapa yang terjadi tiga hari yang lalu telah menghancurkan perkampungan penduduk di Pulau Pagai Selatan. Pulau Pagai terletak paling selatan di antara gugusan Kepulauan Mentawai. Lebih 312 orang tewas dan 500-an orang hilang. Karena jauh dari daratan Sumatera, maka foto-foto akibat tsunami di Mentawai baru diketahui orang dua hari kemudian. Di bawah ini beberapa foto kerusakan parah akibat monster laut yang menakutkan itu. Sumber foto adalah dari kantor berita Antara (dikutip dari sini) dan dari Kompas.com.


Sejumlah penduduk yang selamat berjalan melintasi daerah yang disapu tsunami di Pagai Utara, Kepulauan Mentawai. (AP Photo/Setwapres)


Pandangan udara sebuah desa yang hancur dua hari setelah tsunami menghantam Pulau Pagai, Kepulauan Mentawai, Sumbar, Rabu (27/10).


Sejumlah bangunan di Kampung Bosuwa Desa Betumonga Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, hancur akibat gempa dan tsunami, Rabu (27/10/2010).


Sejumlah bangunan di Kampung Bosuwa Desa Betumonga Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, hancur akibat gempa dan tsunami, Rabu

Foto-
foto lainnya dalam ukuran besar dapat dilihat di sini.


Written by rinaldimunir

October 28th, 2010 at 12:45 pm

Tsunami Disana, Banjir Disini, Gunung Meletus Disitu

without comments

Tiga bencana alam sedang mengepung negeri ini dalam waktu bersamaan. Gempa dan tsunami setinggi 7 meter menghantam Mentawai, Sumbar. Banjir melumpuhkan Jakarta (banjir di Jakarta termasuk bencana alamkah?), lalu letusan Gunung Merapi di Sleman.


(Foto akibat tsunami di Aceh)


(Foto letusan gunung Merapi)


(Hewan ternak mati akibat awan panas dari Gunung Merapi, semua foto dari Kompas.com)

Ini peringatan Tuhan buat kita. Ya Allah, ampunilah kami yang banyak melakukan perbuatan dosa dan kesalahan. Semoga kami tetap kuat dan tawakal menerima setiap ujian dan cobaan.


Written by rinaldimunir

October 27th, 2010 at 5:30 pm

Posted in Indonesiaku

Pray for Indonesia

without comments

prayforindonesia
Innalillahi wa inna ilaihi raji’uunn… Astaghfirullahal’adziim….
Kembali negeri kita dilanda duka, musibah di Mentawai, Merapi, Wasior, dan beberapa wilayah di Indonesia. Doa dan sedikit upaya yang bisa diberikan semoga bisa meringankan beban saudara-saudara kita.

Rekening an. ISNED (Indische Stichting Nederland – Telp.+31108804257)
Norek/Giro ING 2165545

Rekening an Yayasan Aksi Cepat Tanggap (www.actforhumanity.or.id – 021-7414482):
# Rekening Peduli Merapi: BCA No. 676 030 3133, Mandiri No. 128 000 4723 620, BNI Syariah No. 009 611 0239
# Rekening Peduli Mentawai: BCA No. 676 030 2021, Mandiri No. 101 000 563 4264, BSM No. 101 000 5557

Rekening an. PKPU (http://pkpu.or.id/ – 0804-100-2000)
BCA 600.034.777, Mandiri 126.000.1005.114, BMI 301.00354.15

Written by ibu didin

October 27th, 2010 at 4:33 pm

[GVC#3] Books to read (wishing lists)

without comments

Beberapa bahan untuk conceptual framework ‘governance’ :

Friction: an ethnography of global connection - Anna Lowenhaupt Tsing 2005

The Will to Improve: Governmentality, Development, and the Practice of Politics - Tania Li Murray 2007

The Will to Improve: Governmentality, Development, and the Practice of Politics - Tania Li Murray 2007

Written by ibu didin

October 26th, 2010 at 7:55 pm

Apa kata Foke Soal Banjir Jakarta Semalam?

without comments

Jakarta menjadi lumpuh semalam karena banjir. Ini dapat kiriman foto-foto banjir di Jakarta semalam dari milis (kiriman Bu Lulu, dosen SITH-ITB).

Hero Kemang:

Main jetski di Jalan Senopati:

Lalu, apa kata Bang Foke soal banjir semalam?

Bukan banjir itu, cuma genangan air….

Masih mau tinggal di Jakarta, kan…?

Sapa suruh datang Jakarta?

Akhirnya, logo kota Jakarta memang perlu diganti menjadi yang ini:


Written by rinaldimunir

October 26th, 2010 at 2:47 pm

Posted in Indonesiaku

Rindu pada Masanya, Bukan Orangnya

without comments

Menjelang hari Pahlawan 10 November 2010 nanti, muncul polemik wacana pemberian gelar pahlawan kepada mantan Presiden (alm) Soeharto. Banyak pihak yang menentang pemberian gelar pahlawan itu, terutama dari aktivis HAM, aktivis mahasiswa 1998, kelompok wartawan, dsb. Umumnya mereka yang menolak itu beralasan bahwa Soeharto tidak pantas diberi gelar pahlawan karena dia adalah pelanggar berat HAM, seorang diktator, orang yang memperkaya diri dan keluarganya, koruptor, dan aneka deret kebencian lainnya. Mungkin mereka yang menolak itu pernah merasakan perlakuan buruk dari rezim mantan presiden itu sehingga menyoal dengan keras pemberian gelar pahlawan.

Namun, coba tanya kepada sebagian rakyat yang pernah merasakan hidup dimasa Soeharto. Banyak pula dari mereka yang merindukan masa-masa Presiden Soeharto. Pada masa Presiden Soeharto memerintah selama 32 tahun, Indonesia hampir tidak pernah ada gejolak yang berarti. Tidak pernah terdengar ada kerusuhan, dimana-mana di seluruh negeri terasa aman. Harga barang-barang pun masih murah dan stabil. Beras dan minyak tanah mudah didapat bagi orang kecil. Nilai tukar dolar terhadap rupiah masih rendah, dan lain-lain. Kondisi tersebut bisa terjadi karena Soeharto didukung oleh 3 pilar yang kuat, yang diberi nama ABG, yaitu ABRI (sekarang TNI), Birokrasi, dan Golkar. Dia memerintah dengan tangan besi. Rakyat begitu takut kepada Soeharto karena kalau anda macam-macam nanti dianggap subversif, istilah yang sangat ditakutkan pada masa itu sebab identik dengan penggulingan Pemerintah. Tetapi, justru karena “tangan besi” tersebut tercipta rasa tenang dan stabil karena potensi konflik sangat jarang. Hanya pada masa-masa akhir jabatannya dia mulai lepas kendali, terutama keluarga dan orang disekelilingnya yang menyalahgunakan kekuasaan bapaknya untuk memperkaya diri dan kekuasaan. Sejarah mencatat karena kelakuan keluarganya itulah maka seluruh jasa Soeharto seakan-akan hilang begitu saja, yang akhirnya menyebabkan dia jatuh dari kekuasaan dengan cara yang tidak mengenakkan.

Setelah beliau lengser dari pemerintahan, maka bangsa ini seakan botol yang menumpahkan isinya setelah sekian lama tersumbat. Apa yang dipendam selama ini akhirnya dimuntahkan dan luber kemana-mana. Terjadilah euforia kebebasan dimana-mana. Media massa begitu galak berbicara setelah sekian lama mulutnya dilakban. Rakyat bebas melakukan demonstrasi dan aksi unjuk rasa tanpa takut ditangkap. Setiap orang seperti bebas berbicara semaunya, mengkritik pedas Pemerintah, anggota DPR, pejabat, dan sebagainya.

Tetapi kebebasan yang lahir setelah era Soeharto itu ternyata juga memiliki efek negatif. Pornografi begitu marak, kerusuhan menjadi-jadi, finah dimana-mana. Negara menjadi tidak stabil. Harga barang kebutuhan menjadi tidak terjangkau. Penderitaan itu ditambah lagi dengan bencana alam yang sering terjadi, seakan tidak henti negara ini dilanda bencana.

Di tengah kondisi bangsa yang carut marut itu, wajar saja banyak orang yang merindukan masa-masa Soeharto. Mereka membandingkan kondisi sekarang dengan kondisi masa lalu. Kesimpulan mereka, kondisi masa Soeharto jauh lebih baik dibandingkan sekarang. Ingat lho, rakyat merindukan masa-masa Soeharto, bukan Soehartonya. Bagi rakyat kebanyakan, siapapun yang memerintah tidak masalah, yang penting aman, harga barang kebutuhan pokok murah, pokoknya semuanya murah. Sederhana saja cara berpikiran rakyat kecil itu.

Lantas, soal pemberian gelar pahlawan bagi Soeharto itu bagaimana? Tergantung definisi pahlawan itu apa. Jika pahlawan itu adalah orang yang banyak berjasa kepada bangsa dan negara, maka Soeharto jelas layak menerimanya. Tetapi jika ada syarat bebas dari kesalahan dan cacat moral, saya pikir mantan Presiden Soekarno yang telah menyandang gelar pahlawan tidak kalah diktatornya dibandingkan Soeharto. Keduanya punya rekam jejak yang buruk pada masa lalu. Jadi, untuk memberi seseorang gelar pahlawan, kita harus menyepakati apa arti pahlawan itu. Sayangnya bangsa ini tidak pernah selesai menetapkan definisi pahlawan itu seperti apa, sehingga akhirnya berpolemeik terus tiada habis-habisnya.


Written by rinaldimunir

October 26th, 2010 at 9:29 am

Posted in Indonesiaku