if99.net

IF99 ITB

Archive for September, 2010

Doa Anak Zaman Sekarang

without comments

Kiriman dari seorang teman:

He..he…, bisa aja ya


Written by rinaldimunir

September 16th, 2010 at 12:25 pm

Posted in Gado-gado

Malas Makan dan Batal Mudik

without comments

Beginilah kalau sudah selesai lebaran. Ketupat belum habis, kue-kue yang dibeli dan dikasih orang masih banyak. Mau dimakan, sudah enek duluan. Padahal sebelum lebaran, kita ingin sekali menikmatinya, tetapi setelah lebaran kok malas ya memakannya. Ya sudah, disimpan saja dulu, sebulan atau dua bulan lagi barulah keinginan makan kue-kue itu muncul kembali. Kalau ketupat ya disimpan saja di dalam kulkas, gulainya nanti saja dibeli di rumah makan.

Sebulan kita berpuasa, siang hari kita menahan diri untuk tidak makan dan minum. Ketika kita sedang berpuasa, kita membayangkan kalau pada waktu berbuka nanti ingin makan ini dan makan itu. Tetapi, setelah berbuka dengan semangkuk kolak, sepiring nasi, dan segelas air, keinginan untuk makan ini dan itu pun hilang meskipun makanan itu sudah dibeli tadi. Hal yang sama terjadi ketika lebaran seperti yang saya ceritakan di atas. Tanya kenapa.

Lebaran ini saya tidak jadi pulang kampung. Harga tiket pesawat sudah keterlaluan, naik tiga kali lipat. Dikali lima orang dan dikali dua untuk pulang pergi, harga tiket seluruhnya sudah setara dengan sebuah motor Ho*da terbaru. Ho..ho, dipikir-pikir sayang juga mengeluarkan uang ssebanyak itu hanya untuk mudik. Pulang kampung tidak harus pada masa lebaran, bukan? Bulan-bulan sepi juga bisa.

Salah saya juga kenapa baru beli tiket ketika menjelang puasa. Sebulan sebelum lebaran harga tiket sudah sangat tinggi. Padahal sejak bulan Juli saya sudah rajin mengakses situs web maskapai penerbangan untuk mengetahui harga tiket, tetapi lagi-lagi mereka (maskapai itu) hanya menampilkan tiket kelas tertinggi. Tiket promo atau kelas menengah jangan harap ada.

Kata orang di travel, tiket mudik ke Padang sudah dibeli orang sejak bulan Januari. Apaaaa? Berarti sembilan bulan sebelum lebaran tiket yang masih murah sudah habis dibeli orang. Tidak gila itu, memang kenyataan demikian. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui fenomena ini. Okelah, untuk tahun depan saya akan beli tiket mudik mulai bulan Januari 2011.

Teman saya, Pak Qamaruzzaman di STEI, memberikan resep yang brilian untuk urusan tiket ini. Katanya, naik Air Asia saja dari Bandung ke Kuala Lumpur (Malaysia), lalu dari KL naik Air Asia lagi dari Kuala Lumpur ke Padang. Dari Bandung ada tiga kali penerbangan Air Asia ke KL, sedangkan dari KL ada satu kali penerbangan ke Padang. Tinggal cari jam keberangkatan yang cocok saja dari Bandung sehingga penerbangan dari KL ke Padang pas waktunya (tidak lama menunggu). Sambil menunggu check-in dari KL, kita bisa jalan-jalan dulu di bandara KLCC yang besar itu sambil makan di restoran McCurrie (yang pernah bersengketa dengan McDonald gara-gara urusan nama “Mc” itu) … he..he.

Harga tiketnya jatuhnya lebih murah sebab Air Asia ini sering sekali berpromo murah meriah jauh-jauh hari. Masa dari Bandung ke KL cuma 50.000? Yah, jika ditambah pajak dan macam-macam, jatuhnya gak sampai 200.000 per orang. Untuk fiskal tidak perlu bayar karena saya sudah punya kartu NPWP. Rahasia dapat tiket murah adalah harus rajin mengakses situs Air Asia untuk mengetahui harga tiket promo. Tetapi hal ini tidak murah kalau kita pergi sebaliknya, yaitu dari Padang ke KL, lalu dari KL ke Bandung, sebab sangat jarang ada tiket promo dari kota yang bukan tujuan utama. Kota tujuan utama Air Asia adalah dari Bandung, Jakarta, Medan, dan Denpasar.

Good.. good, Pak Qamaruz. Nanti saya akan coba resep bapak itu. Kalau bawa keluarga, ya harus disiapkan dulu paspor buat anak jauh-jauh hari. Hmm… saya juga perlu bikin paspor baru nih sebab paspor saya masih paspor biru, paspor dinas. Nggak lucu kan kalau mau pulang kampung harus lapor dulu ke Kedubes di KL untuk cap paspor dinas.


Written by rinaldimunir

September 14th, 2010 at 12:50 pm

1 Syawal 1431 Hijriyah

without comments

Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar..Laa ilaaha illaLah walLahu Akbar..Allahu Akbar waliLlahilhamdu..

Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H

TaqabbalalLahu minna wa minkum.. shiyamana wa shiyamakum..

mohon maaf lahir dan batin

- Abah, Ibu,  Mba Nana, keluarga wanakalapa ibadurrahman -

Written by ibu didin

September 10th, 2010 at 6:51 pm

“Minal Aidin Wal Faizin” Bukan “Mohon Maaf Lahir dan Batin”

without comments

Alhamdulillah, tinggal besok satu hari lagi ummat Islam akan menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Setelah sebulan penuh berpuasa, maka insya Allah hari Jumat nanti kita akan memasuki bulan Syawal. Alhamdulillah juga, puasa tahun ini di Indonesia tidak terlalu berat sebab meskipun sekarang ini musim kemarau, tetapi hujan turun terus hampir setiap hari karena anomali cuaca.

Mulai hari ini sudah banyak orang mengirim SMS lebaran, padahal lebaran masih 2 hari lagi. Saya saja sudah menerima 3 SMS. Diperkirakan besok SMS lebaran yang masuk ke ponsel setiap orang akan makin banyak lagi setelah waktu berbuka puasa yang terakhir (setelah Maghrib). Itu belum termasuk ucapan melalui akun jejaring sosial, email, dan blog.

Kalimat apa yang banyak diucapkan orang untuk memberi ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri? Kalau bukan “minal aidin walfaizin”, ya “(mohon) maaf lahir dan batin”. Seringkali penulisan kedua kalimat itu disatukan menjadi “minal aidin walfaizin, (mohon) maaf lahir dan batin”. Bagi orang yang tidak mengerti Bahasa Arab mungkin beranggapan bahwa “minal aidin walfaizin” itu artinya “maaf lahir dan batin”. Bukan saudara-saudara.

Tadi saya mendapat email dari milis sebelah yang menjelaskan arti “minal aidin walfaizin”. Berikut saya kutipkan sebagian isi email tesrebut”

Kata-kata “Minal Aidin wal Faizin” adalah penggalan sebuah doa dari doa yang lebih panjang yang diucapkan ketika kita selesai menunaikan ibadah puasa yakni : “Taqabbalallahu minna wa minkum wa ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin” yang artinya “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”.

Sehingga arti sesungguhnya dari “Minal Aidin wal Faizin adalah “Semoga
kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”.

Nah, begitu artinya, mudah-mudahan kita sekarang sudah memahami kalimat itu. Menurut penulis emal tadi, hati-hati juga kesalahan penulisan sebab dalam bahasa Arab berbeda satu huruf saja artinya sudah lain.

1. Minal ‘Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar.
2. Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasar ejaan Indonesia.
3. Minal Aidzin wal Faidzin = Salah, karena penulisan “dz” berarti huruf
“dzal” dalam abjad Arab.
4. Minal Aizin wal Faizin = Salah, karena pada kata “Aizin” seharusnya
memakai huruf “dal” atau dilambangkan huruf “d” bukan “z”.
5. Minal Aidin wal Faidin = Juga salah, karena penulisan kata “Faidin”,
seharusnya memakai huruf “za” atau dilambangkan dengan huruf “z” bukan “dz” atau “d”.

Selain ucapan “minal adin wal faizin, diantara kita juga sering menerima ucapan sebagai berikut: Taqabalalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, yang artinya “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan, puasaku dan puasa kalian”.

Oh ya, saya juga mendapat email dari teman yang berisi ucapan selamat hari raya, bunyinya cukup unik dan lucu, begini:

Selamat datang di penerbangan RAMADHAN AIR, Flight no 1431 H, dng tujuan IDUL FITRI. Jarak tempuh 2 hari lagi, dengan jelajah ketinggian TAQWA tanpa batas. Penerbangan ini bebas asap maksiat. Kenakan sabuk pengaman berlandaskan AL-Qur,an. Tegakkan sandaran kursi keimanan, lipat meja nafsu dan syahwat, Penerbangan ini bebas asap maksiat. Kenakan sabuk pengaman berlandaskan AL-Qur,an. Tegakkan sandaran kursi keimanan, lipat meja nafsu dan syahwat, serta buka jendela sodaqoh melalui infaq dan zakat. Jika cuaca buruk, perbanyak dzikir serta tilawah, dan beramallah secara luar biasa. Matikan semua alat komunikasi dng Syaetan, krn dpt mengganggu sistem navigasi ketaqwaan. Insya Allah kita mencapai tujuan surga.
Atas nama awak kabin yang bertugas, Pilot NurulSugiPamilih dan Co-Pilot , mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITHRI 1431 H.MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. TAQOBALALLAHU MINNA WAA MINKUM

Apapun kalimat ucapan itu, intinya sama yaitu mendoakan orang lain untuk mendapat kebaikan dari Allah SWT. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, wa ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin”.


Written by rinaldimunir

September 8th, 2010 at 1:03 pm

Posted in Agama

Jawaban Puzzle Thesis

without comments

Sebulan yang lalu, saya pernah menuliskan tentang ini

mendaftar kata kunci yang kira-kira bisa menyusun topik tesis saya, Alhamdulillah, hari ini ada jawabannya, ramadhan bulan penuh berkah :)

mantab melangkah insyaAllah, topik sudah ditemukan, supervisor mendukung, conceptual frameworks sudah dicicil dari sekarang ^_^

Dan kini, lagi-lagi memohon kepada Allah, agar dimudahkan segala sesuatunya, insyaAllah yang dikerjakan ini bermanfaat :)

hemmm tapi sekarang selesaikan dulu risetnya Arora tentang beras Bashmati, sehingga januari bisa start dengan topik tesis sendiri……. *bersemangat*

Written by ibu didin

September 7th, 2010 at 10:48 pm

Posted in Studi,tesis

Menanti dengan sabar

without comments

Untuk hal yang sangat diidamkan, menanti dengan sabar, menjalani satu persatu, mempersiapkan dengan baik-baik,  insyaAllah kesabaran ini akan berbuah kebaikan, asal berusaha ikhlas ^_^

Written by ibu didin

September 7th, 2010 at 3:53 pm

Posted in Langkah,sabar

Mudik, Sniper dan Densus 88 Membidik Setan

without comments

Mudik 2010, coba cari di Google, “info mudik”. Hasilnya adalah http://www.info-mudik.com

Ternyata website tersebut dimiliki dan dikelola oleh Ditlantas Polda Jateng. Isinya cukup bagus dan berkualitas. Informasi yang dimiliki pihak kepolisian disajikan secara visual maupun tekstual. Ya, saat mudik tiba, orang-orang libur tetapi Polantas justru makin banyak kerjaan.

Untuk setiap kota di Jawa Tengah yang menjadi jalur mudik, terdapat keterangan mengenai daerah rawan kecelakaan maupun penyebabnya, contohnya di bawah ini.

Perhatikan bagian yang ditandai dengan elips merah di Jl. Raya Dr. Sutomo. Ya, untuk daerah rawan yang disebabkan banyak setan yang lewat, kepolisian telah mengantisipasinya dengan menempatkan sniper dan densus 88. Entah apakah yang menjadi sasarannya hanya setan manusia atau juga mencakup setan jin. Hebat ya!

Tidak mau kalah hebat, Ditlantas Polri pada mudik kali ini juga telah mengoperasikan National Traffic Management Center (NTMC). Ada sekian banyak kamera CCTV pemantau kondisi lalu lintas yang dapat diakses melalui internet. MetroTV kerap menayangkan hasil pantauan kamera CCTV tersebut.

Kalau dipikir-pikir, bagi pemudik yang menggunakan angkutan umum, kamera tersebut tidak ada gunanya kan? Setuju? Yah, terima kasih kepada kepolisian yang sudah menjalankan tugasnya tanpa (mau) disogok. Semoga perjalanan mudik kita lancar, dan selamat sampai di tujuan.


Written by arifrahmat

September 7th, 2010 at 7:34 am

Posted in Internet,Kepolisian

Gehu Pedas “Hot Jeletot”, Buruan Orang Untuk Berbuka Puasa

without comments

Pada bulan puasa ini, saat-saat yang mengasikkan adalah berburu makanan untuk berbuka puasa. Berbuka puasa dengan kolak atau kurma itu sudah biasa, tetapi dengan gorengan tahu pedas, maka itu baru tidak biasa.

Di Bandung, gorengan semacam bala-bala dan gehu (singkatan dari “toge di dalam tahu”) sudah menjadi makanan pengganjal perut kala sore atau malam hari. Nah, gorengan yang terakhir, gehu, tiba-tiba menjadi buruan orang ketika berbuka puasa. Gehu adalah tahu goreng yang di dalamnya diisi dengan sayuran toge (tauge) dan wortel. Sebelum digoreng, gehu ini dimasukkan ke dalam adonan tepung, lalu digoreng hingga garing. Dimakannya dalam keadaan panas dengan cabe rawit.

Biasa saja sih sebenarnya gehu ini, kita sering menemukan gorengan tersebut pada penjual gorengan yang banyak berjualan di pinggir jalan. Namun, entah siapa yang memulai, gehu ini dimodifikasi menjadi gehu pedas, sehingga memakannya tidak perlu lagi sambal atau cabe rawit. Rasa pedas ditimbulkan oleh sayuran di dalamnya yang sudah dicampur dengan sambal cabe rawit. Orang Indonesia mana yang tidak doyan pedas, sekali makan akan ketagihan. Akhirnya, gehu pedas dicari banyak orang untuk berbuka puasa.

Selama bulan puasa ini saya melihat banyak sekali muncul pedagang gehu pedas bagai jamur dimusim hujan (emang lagi hujan nih Bandung setiap hari). Berjejeran sepanjang jalan. Biasalah orang Indonesia, cepat sekali meniru jika ada yang jualannya laris. Pada gerobaknya ditambahkan kata “pedas” untuk menarik pembeli. Jika hanya gehu biasa saja, kurang laku, tetapi kalau gehu pedas, maka banyak orang yang antri untuk membelinya.

Seperti penjual gehu pedas yang menamakan gehu pedasnya hot jeletot. Apa ya artinya? Campuran bahasa Inggris dan bahasa Sunda, Hot = panas, jeletot = sensasi yang ditimbulkan oleh rasa pedas. Pedagang gehu ini sehari bisa menjual sampai 600 buah gehu, itu pun masih kurang karena banyak pembeli yang tidak kebagian. Gehunya menjadi istimewa karena di dalam campuran sayur toge dia tambahkan irisan daging sapi kecil-kecil. Satu buah gehu pedas dijual Rp2000. Yang beli terpaksa harus antri panjang di belakang gerobaknya.

Kerennya lagi, si pedagang punya situs web, www.hotjeletot.com seperti yang tertulis di gerobaknya. Tetapi, ketika saya klik tidak bisa diakses. Sambil antri di belakang gerobak, saya memotret gehu yang sedang digoreng. Oh ya, pedagang gehu pedas hot jeletot ini mangkal di depan Alf*m*art di Jalan Indramayu, Antapani.

Akhirnya tiba giliran saya, kebagian juga akhirnya setelah kemarin gagal membelinya karena sudah habis. Ini dia setelah empat gehu pedas ditaruh di dalam piring.

Hmm… minyaknya masih banyak yang nempel, seharusnya setelah digoreng ditiriskan dulu, tetapi karena pembeli tidak sabar, baru keluar dari wajan langsung diminta.

Allahu akbar allahu akbar… Oh, sudah adzan maghrib, tanda waktu untuk berbuka puasa. Langsung deh gehu pedas hot jeletot ini disambar. Memang rasanya hot dan jeletot. Hemmm….


Written by rinaldimunir

September 6th, 2010 at 12:56 pm

Pak Gubernur Jabar dan Kartu Lebarannya

without comments

Waktu pemilihan Gubernur Jabar beberapa tahun lalu, saya memilih pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf. Memang akhirnya pasangan ini yang menjadi pemenang dan terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Sebenarnya faktor yang menentukan terpilihnya pasangan ini adalah karena Dede Yusuf, artis yang dikenal luas terutama dikalangan ibu-ibu. Sementara Ahmad Heryawan sendiri bukanlah siapa-siapa, tidak dikenal, tetapi tiba-tiba menjadi orang penting di provinsi ini.

Sebenarnya Gubernur Jabar ini adalah orang yang sederhana, partai yang mengusungnya juga adalah partai yang dikenal bersih, jujur, dan intelektual. Namun, akhir-akhir ini saya kurang respek kepada Gubernur ini. Pasalnya karena kartu lebaran. Dengan maksud ingin menyapa warga Jabar secara pribadi, Gubernur ini mencetak 450.000 buah kartu lebaran yang bergambar dirinya sendiri (tidak bersama Dede Yusuf). Rencananya, kartu lebaran itu akan dikirim ke pejabat-pejabat, tokoh-tokoh Jabar, bupati, camat, hingga ketua RT dan RW yang tentu banyak sekali jumlahnya, maklumlah Jabar adalah provinsi dengan pendduduk paling banyak di Indonesia (30 jutaan). Tetapi Pak Gubernur tidak ingin kartu lebaran itu setelah diterima lalu dibuang, maka kartu lebaran itu didesain sehingga memuat kalender tahun 2011. Jadi orang yang menerima kartu lebaran tersebut dapat menjadikannya sebagai kalender tahun depan, sembari mematut-matut wajah gubernur yang tersenyum di kalender itu. Sebuah konsep pencitraan yang brilian.

Tidak cukup sampai disitu, perangko yang digunakan untuk mengirimkan kartu itu adalah perangko jenis prisma yang bergambar foto Gubernur ini (lagi-lagi tidak bersama Dede Yusuf). Perangko ini khusus dicetak untuk kartu lebaran itu saja dan jumlahnya sebanyak 450.000 buah. Masalahnya menjadi heboh karena biaya untuk mencetak seluruh kartu lebaran dan perangkonya berjumlah Rp 1,7 milyar, dan dana itu diambil dari dana APBD, bukan dari kantong pribadi gubernur karena gubernur mengatakan tidak punya uang sebanyak itu. Ingin eksis, tapi menggunakan uang rakyat (baca beritanya di sini).

(semua foto diambil dari sini)

Sungguh sangat menyedihkan mendengar kejadian ini. Menyedihkan karena ini sebuah ironi ditengah persoalan kemiskinaan rakyat Jabar. Dana APBD dihambur-hamburkan untuk kepentingan pencitraan diri sendiri. Masih banyak rakyat Jabar yang hidup miskin, gedung SD yang rusak, rumah penduduk hancur karena gempa, siswa putus sekolah, dsb. Bukan yang aneh kalau membaca berita ada penduduk miskin Jawa Barat yang tinggal di kandang kambing karena tidak mampu membuat rumah. Menghambur-hamburkan uang rakyat ditengah persoalan kemiskinan yang melilit Jawa Barat tentulah sikap yang tidak bijak. Lebih bermanfaat uang itu digunakan untuk memperbaiki gedung SD yang rusak yang banyak bertebaran di Jawa Barat. Saya menilai Gubernur tidak punya sense of crisis, sangat bertolak belakang dengan gaya hidup keluarganya yang sederhana dan sikap partai pengusungnya yang bersih, bersahaja, dan islami.

Dari segi etika, kartu lebaran dan perangko yang bergambar dirinya sendiri juga menunjukkan sikap narsisme. Narsis adalah sikap yang mengagung-agungkan atau memuja diri sendiri. Dalam agama sifat narsis itu menjurus ke perbuatan riya, sangat bertolak belakang dengan karakter Gubernur yang dulunya seorang ustad yang menurut saya seharusnya rendah hati dan tawdhu.

Tidak hanya gubernur, wakil gubernurnya pun tidak mau kalah, dia juga mencetak kartu lebaran sendiri. Masing-masing mereka bermain sendiri-sendiri. Orang menangkap kesan hubunngan antara Gubernur Jabar dan wakil gubernurnya terlihat kurang harmonis, masing-masing melakukan pencitraan diri sendiri, entah untuk apa, apakah mereka bersaing untuk pemilihan gubernur beberapa tahun yang akan datang? Kalau anda jeli melihat di sepanjang jalan-jalan Bandung, banyak sekali billboard atau spanduk yang menampilkan foto gubernur sendiri atau foto wakil gubernur sendiri. Jarang sekali ada spanduk yang menampilkan foto mereka berdua.

Sebenarnya kalau ingin menyapa warga Jabar dengan biaya yang lebih murah, gubernur tidak perlu membuat kartu lebaran mewah itu. Gubernur bisa saja membuat iklan layanan mayarakat melalui TV lokal, dan media lokal lainnya seperti TV, koran, dan radio. Tapi ya begitulah, gubernurnya tetap bergeming dengan sikapnya itu, gabungan sikap narsisme dan penghamburan uang rakyat untuk eksistensi.


Written by rinaldimunir

September 3rd, 2010 at 8:57 am

Posted in Seputar Bandung

Melda di Hutan Meminta Pulsa

without comments

Setelah mama palsu minta dikirimi pulsa, sekarang gantian seorang wanita bernama Melda minta dikirimi pulsa.

Dari 081998015536:

Sy MELDA mnt tlg krmkn km pulsa di No 081237871116 brapa aja buat hubungi keluarga tm sy krn tmn sy kecelakaan dihutan kondisix sangat parah sblmx terimakasih.

Mungkin Melda ketika di sekolah mendapat nilai 7 untuk pelajaran mengarang cerita. Pintar sekali dia membuat cerita. Nanti kalau sedang di laut dan kapalnya mau tenggelam minta dikirimi pulsa lagi ya, neng.


Written by rinaldimunir

September 1st, 2010 at 1:14 pm

Posted in Gado-gado