if99.net

IF99 ITB

Archive for September, 2010

Secepat Apakah USB 3.0?

without comments

Notebook Asus N82JV adalah salah satu notebook high end yang telah dilengkapi dengan USB 3.0, selain USB 2.0. Secepat apakah USB 3.0 itu?

Bila secara teoritis kecepatan maksimum USB 2.0 adalah 480 Mbps, maka  USB 3.0 memiliki kecepatan 10 kali lebih tinggi, yaitu 5 Gbps. Kecepatan tersebut tentu sangat mengagumkan dan paling banyak dapat dirasakan pada saat menyalin data dari maupun ke harddisk eksternal. Apa benar peningkatan kecepatannya bisa 10 kali lipat?

Untuk dapat merasakan kecepatan USB 3.0 dibutuhkan colokan yang sudah USB 3.0 ready. Pada desktop lama, dapat dipasang PCI card dengan USB 3.0 dan pada laptop lama dapat dipasang ExpressCard USB 3.0. Selain itu dibutuhkan pula kabel yang telah USB 3.0 ready serta device dengan spesifikasi USB 3.0 ready, contohnya harddisk External Iomega eGo pada gambar.

Hasil pengujian informal pada proses penyalinan data sebesar 10GB menggunakan USB 3.0 dari sebuah blog memberikan data yang cukup menyedihkan:

  1. Peningkatan kecepatan penyalinan data ke harddisk eksternal hanya 3,5 kali lipat dibandingkan USB 2.0, dari 22 menit pada USB 2.0 menjadi 6 menit pada USB 3.0.
  2. Peningkatan proses pembacaan tidak begitu signifikan, dari 5 menit pada USB 2.0 menjadi 4 menit pada USB 3.0.

Analisis terhadap penggunaan USB 3.0 sebagai penghubung komputer/laptop dengan eksternal harddisk adalah sebagai berikut:

  1. Bottleneck bukan lagi pada pipa USB 3.0 berkecepatan 5Gbps. Harddisk yang terpasang di dalam maupun di luar komputer memiliki teknologi SATA II dengan kecepatan yang lebih rendah, yaitu 3Gbps. Belum lagi, harddisk dengan kecepatan putaran 7200 rpm hanya dapat memberikan performa 1.7 Gbps.
  2. Pengingkatan kecepatan drastis diperkirakan hanya akan terasa apabila menggunakan Solid State Disk (SSD) menggantikan harddisk, di dalam komputer/laptop, maupun sebagai drive external

USB 3.0 tidak hanya diciptakan untuk harddisk eksternal. Manfaat USB 3.0 dapat terasa pada peningkatan kemampuan transfer data pada peralatan imaging seperti kamera beresolusi tinggi, scanner kecepatan tinggi, serta kamera video dan CCTV.

Arif Rahmat


Written by arifrahmat

September 30th, 2010 at 8:52 am

Beda Penangkapan Perampok Bank CIMB Niaga Medan dengan Penangkapan Gayus

without comments

Membaca penangkapan orang yang diduga perampok Bank CIMB Medan yang menghebohkan itu membuat hati terasa bergidik. Betapa tidak, ketika pelaku sedang melaksanakan ibadah shalat, Densus 88 menendang dan menginjak-injaknya hingga babak belur. Baca beritanya di sini dan di sini. Tidak kurang Hendardi dari Setara Institute mengecam aksi brutal Densus 88 itu. “Jika benar ini terjadi, tindakan Densus 88 Mabes Polri merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), karena penggunaan senjata api hanya dibenarkan jika sasaran melakukan perlawanan atau melarikan diri,” terang Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi, dalam keterangan persnya, Senin (27/9).

Betul bahwa pelaku perampok itu diduga teroris, tetapi itu baru dugaan, belum tentu mereka bersalah. Negara kita menjunjung tinggi hukum. Asas praduga tidak bersalah harus kita junjung tinggi. Benar tidaknya mereka perampok atau teroris baru bisa dibuktikan nanti di pengadilan. Namun bukan berarti polisi berhak bertindak apa saja untuk menangkap mereka, apalagi tindakan itu dilakukan ketika pelaku sedang melaksanakan shalat.

Sangat beda sekali jika dibandingkan dengan aksi penangkapan Gayus di Singapura atau penangkapan para koruptor lainnya. Koruptor merampok uang negara bermilyar-milyar bahkan trilyunan, lebih besar berlipat kali daripada uang yang dirampok oleh perampok itu. Namun, polisi menangkapnya dengan cara yang tidak menghinakan, apalagi melanggar HAM. Gayus misalnya, sebelum ditangkap dia diajak makan-makan dan ngobrol-ngobrol dulu oleh polisi di restoran Singapura. Suasana penangkapannya terkesan santai. Setelah berhasil dirayu untuk pulang ke Indonesia, dia dibawa dengan pesawat terbang dan ditempatkan di ruang tahanan. Tidak jauh beda dengan Gayus, penangkapan koruptor lainnya juga dengan cara yang beradab, tidak brutal.

Entah dimana rasa keadilan. Bukan berarti kita harus membela perampok bank itu dan menolak Densus 88. Pemberantasan terorisme oleh kepolisian (Densus 88) tetap harus didukung, namun bukan berarti tidak menyisakan ruang untuk koreksi, hanya cara-cara penangkapannya yang perlu dipermasalahkan agar tidak melanggar hak asasi seseorang. Polisi boleh menembak jika pelaku melawan atau bersenjata. Pada sisi lain, perampok bank, Gayus, dan para koruptor lainnya sama saja, sama-sama jahat dan tidak pantas dibela. Mereka sama-sama merampok uang yang bukan haknya. Perbuatan mereka sama bejatnya. Mungkin bedanya perampok bank melakukan aksinya secara hard – dengan kekerasan bahkan pembunuhan, sedangkan Gayus atau koruptor melakukan aksinya secara soft — dengan menyuap sana sini. Hanya malangnya karena pelaku perampok bank itu diduga teroris, maka dia harus mendapat perlakuan tak ubahnya binatang.


Written by rinaldimunir

September 28th, 2010 at 7:25 pm

Posted in Indonesiaku

Menggunakan Laptop Saat Seminar, Sidang, Rapat, Kuliah, dll

without comments

Saya seringkali agak jengkel dengan orang yang asik berlaptop ria saat seminar atau sidang tugas akhir. Ketika dosen penguji serius bertanya, dosen pembimbingnya malah asik mengerjakan pekerjaan lain dengan menggunakan laptopnya. Bukannya mencatat perbaikan atau pertanyaan dosen penguji, tetapi malah asyik browsing internet, mengetik laporan, agtau malah coding. Duh, sebel deh, pantesan saja laporan TA mahasiswanya amburadul, nggak diperiksa atau dibaca sih., he..he

Begitu pula saat rapat, beberapa orang terlihat asyik menggunakan laptopnya. Saya tahu mereka tidak mencatat poin-poin rapat dengan komputer laptopnya itu, tetapi malah asyik membaca berita gosip, berita politik, main games, dan chatting. Mungkin pembicaraan dalam rapat itu kurang menarik atau membosankan, makanya ia mengisi kebosanan dengan menggunakan laptopnya.

Di dalam kelas, saya melarang mahasiswa mengoperasikan komputer laptop saat kuliah. Hampir setiap mahasiswa memiliki komputer laptop di dalam tas ranselnya. Kita tidak tahu mereka mengerjakan apa dengan laptopnya itu ketika kuliah berlangsung. Kalau mencari bahan kuliah di internet terkait materi yang sedang diterangkan sih tidak masalah, tetapi mahasiswa malah asyik bermain games, berfesbuk ria, atau nge-twit.

Menggunakan komputer laptop saat-saat momen serius seperti di atas tetap saja kurang etis. Ada kesan kurang menghargai orang yang sedang berbicara. Jadi, matikanlah komputer laptopmu dan dengarkan orang yang sedang berbicara di depan.

Di sisi lain, penggunaan laptop pada saat momen serius tersebut mengindiikasikan bahwa orang yang sedang berbicara tidak menarik dalam membawakan presentasinya. Presentasi atau isi ceramah yang monoton, menjemukan, mengulang-ulang, membuat orang yang mendengarkan bosan, makanya mereka lebih senang mengoperasikan laptopnya daripada mendengarkan. Pembicara harus membuat presentasi yang menarik sehingga membuat orang yang melihat dan mendengar menyimak dengan sungguh-sungguh, terpesona, tersenyum, dan tertawa. Pulang membawa kesan. Tidak mudah ya berbicara di depan banyak orang, apalagi membuat presentasi yang menarik.


Written by rinaldimunir

September 26th, 2010 at 4:36 pm

Posted in Gado-gado

PR Anak Modern

without comments


Written by rinaldimunir

September 24th, 2010 at 9:20 am

Posted in Gado-gado

Fix Winsock Problem on Windows 7

without comments

A friend of mine had a problem with his Internet Connection. It is connected but cannot be used for Internet browsing. Pinging an IP is working, but tracert returns “no resources”. Pinging a hostname return DNS problem, cannot resolve hostname.

After Googling, I found 2 lines of shell command as the solution from here. Here it is:

Fix Winsock Manually on Windows 7

1. Open up the command line utility and enter:

netsh winsock reset catalog (resets winsock entries)
netsh int ip reset reset.log hit (resets TCP/IP stack)

2. Reboot your PC

Arif DMR
Indonesia


Written by arifrahmat

September 22nd, 2010 at 1:15 pm

Agenda hari ini

without comments

nyiapin mba nana sekolah: sarapan roti + susu, ngedandanin, dianter abah ^^

beres2 kamar, mindahin barang2

sayur untuk mba nana makan siang

ke terapist

tulis proposal riset GVC

rapikan conceptual frameworks GVC

“hari ini produktif, besok boleh nyante”

Written by ibu didin

September 22nd, 2010 at 11:51 am

Posted in Langkah

NIP Baru yang Bermasalah

without comments

Saya baru tahu kalau NIP (Nomor Induk Pegawai) PNS saya sudah berganti, lebih panjang dari semula. NIP saya semula panjangnya 9 angka, yaitu 132084796, sekarang berganti rupa menjadi 18 angka sepanjang gerbong kereta api. Bukan panjangnya itu yang menjadi masalah, tetapi angka-angka di dalam NIP tersebut, sebab di dalam NIP yang baru tercantum data pribadi yang sebenarnya tidak layak diketahui oleh orang lain. Digit 1 sampai 8 adalah tanggal lahir (ddmmyyyy), digit 9 sampai 14 adalah tanggal pengangkatan CPNS, digit 15 adalah jenis kelamin, dan digit 16-18 adalah nomor urut pegawai. Masalah ini sempat ramai di milis kami, sekarang saya angkat ke dalam tulisan ini.

Menjadikan data pribadi sebagai bagian dari NIP ternyata bukan hal yang pertama. Sebelumnya NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang tertera di KTP juga menggunakan tanggal lahir sebagai bagian dari NIK. Coba buka dompet anda, ambil KTP anda dan perhatikan NIK-nya, disitu tertera dengan sangat jelas tanggal lahir anda sebagai elemen NIK. NIK saya saja misalnya, tertulis 105017xxxxxx001 dengan xxxxxx adalah 6 angka tanggal lahir saya (dd-mm-yy). Apakah anda menyadari hal ini?

Ceroboh sekali Pemerintah kita dalam membuat NIP baru atau NIK pada KTP. Bukan karena umur kita akan ketahuan dari NIP/NIK tersebut (masih ada orang yang malu umurnya diketahui?), tetapi di zaman serba komputer seperti sekarang solusi semacam itu tidak dapat diterima. Data pribadi seseorang adalah aset yang harus dijaga kerahasiaannya sebab menyangkut keamanan sistem yang terkait dengan orang tersebut. Pasalnya, masih banyak orang yang memakai data pribadi seperti tanggal lahir sebagai bagian dari PIN atau kata-sandi (password). Misalkan tanggal lahir seseorang adalah 24-08-1972, maka untuk memudahkan mengingat PIN kartu ATM nya yang sekarang panjangnya 6-angka, orang tersebut memakai 240872 sebagai PIN, atau 081972, 720824, dan sebagainya. Dengan mencoba semua kombinasi tanggal lahir yang mungkin, maka nomor PIN tersebut berhasil ditebak. Akibatnya sangat fatal, jika kartu ATM anda berhasil dicuri orang dan pencuri mengetahui NIP atau NIK anda yang sangat “telanjang” menampilkan data pribadi itu, maka jangan kaget kalau uang anda di tabungan berhasil dikuras oleh pencuri.

Dalam kriptografi, usaha yang dilakukan oleh pencuri untuk menebak semua kemungkinan kata-kunci dari data pribadi dinamakan dictionary atack. Data pribadi seseorang (seperti tanggal lahir, alamat rumah, nama orang tua, sekolah, nama anak, nama istri, tempat lahir, tanggal lahir anak, dan sebagainya) menjadi semacam kamus bagi pencuri data untuk menemukan kunci rahasia anda. Secara naluriah seseorang akan menjadikan bagian dari data pribadinya sebagai elemen kata-sandi, PIN, dan kunci rahasia lainnya. Hayo ngaku, PIN anda atau kata-sandi pada sistem komputer sebagian besar terkait dengan data pribadi anda sendiri bukan? Alasan yang sering dikemukakkan adalah mudah untuk mengingatnya, namun justru ini menjadi kelemahan yang dimanfaatkan oleh pihak lawan untuk mendapatkan akses ke sistem yang menggunakan data anda itu.

Dengan menjadikan data pribadi sebagai bagian dari NIP atau data kependudukan (NIK, SIN atau single idetification number), Pemerintah kita seolah-olah mundur ke belakang ke zaman pra sejarah sebelum ditemukan komputer. Pemerintah terkesan ingin cari gampangnya saja, tetapi tidak memikirkan dampak sosial dan keamanan yang ditimbulkannya. Tidak adakah pakar information security yang terlibat dalam penyusunan kode kependudukan atau kepegawaian tersebut?


Written by rinaldimunir

September 21st, 2010 at 9:41 am

Soal Pembangunan Rumah Ibadah

without comments

Ribut-ribut soal kasus gereja HKBP di Bekasi yang menimbulkan bentrokan dengan warga sekitar sehingga ada yang terluka parah, membuat saya prihatin. Indonesia hampir saja berada diambang jurang perpecahan bangsa karena masalah agama. Kalau masalah ini tidak cepat diatasi oleh Pemerintah dan tokoh-tokoh agama, bukan tidak mungkin terjadi konflik sosial yang mengoyak-ngoyak bangsa Indonesia.

Masalah agama adalah masalah yang sangat sensitif, banyak orang berhati-hati atau tidak suka membicarakannya karena takut menyinggung perasaan yang berakibat fatal (terjadi kerusahan massal). Kalau sudah membicarakan soal agama, sebagian orang biasanya menghindar. Kurang suka. Namun, jika hanya diam-diam saja juga tidak selalu baik, sebab sepertinya ada masalah yang masih mengganjal yang sewaktu-waktu dapat membara laksana api dalam sekam. Apalagi di Indonesia ini selalu ada saja sekolompok orang yang tidak suka bangsa ini hidup rukun, lalu memainkan isu SARA yang sangat mudah memancing emosi. Sudah cukuplah konflik di Ambon dan Poso sebagai pelajaran berharga dan jangan pernah terulang lagi.

Persoalan bangsa ini, terkait agama, hanya bisa diselesaikan dengan keterbukaan tanpa prasangka. Selama keterbukaan itu tidak ditujukan untuk menjelek-jelekkan ajaran agama lain, atau mencari agama siapa yang benar dan agama siapa yang salah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berdialog. Setiap orang bebas meyakini bahwa agamanyalah yang paling benar, sedangkan agama lain tidak benar. Dalam konteks agama masing-masing, keyakinan itu tidak salah, malah suatu keharusan sebagai bukti keimanan. Kalau ada orang yang meyakini bahwa bukan agamanya saja yang benar, tetapi agama lain juga benar, maka orang tersebut perlu diragukan keimanannya sebagai orang yang tidak punya pendirian. Yang salah adalah jika memaksakan keyakinan itu kepada orang lain, atau menimbulkan sikap kebencian dan permusuhan.

Kembali kepada soal pembanguan rumah ibadah. Kita seharusnya membedakan antara kebebasan beribadah dan kebebasan membangun rumah ibadah. Kebebasan beribadah adalah hak asasi seseorang dan dijamin oleh undang-undang, namun kebebasan membangun rumah ibadah perlu diatur karena menyangkut masalah sosial. Membangun rumah ibadah di lingkungan yang mayoritas seagama tidak ada masalah, sebab rumah ibadah itu diperuntukkan bagi warga di sekitarnya. Sebagaimana halnya masjid dan mushala yang banyak bertebaran di daerah kantong-kantong muslim, atau gereja-gereja yang terdapat di setiap 100 meter di Sulawesi Utara, Papua, NTT, atau pura-pura yang terdapat di setiap desa di Pulau Bali. Waktu saya jalan-jalan ke pedalaman di Sulawesi Utara, hampir setiap 100 meter saya melihat gereja, nyaris tidak ada satupun masjid di situ. Hal yang sangat lumrah dan wajar saja karena mayoritas penduduk di sana bergama Kristen.

Berbeda halnya jika rumah ibadah dibangun di lingkungan yang bukan mayoritas pemeluknya, misalnya membangun gereja di lingkungan perkampungan muslim, atau membangun masjid di lingkungan pemeluk Hindu. Jelas akan muncul reaksi penolakan dari warga sekitar yang merasa ketentramannya terganggu. Pengguna rumah ibadah itu pasti hanya satu dua dari warga sekitar, sebagian besar datang dari tempat lain yang berjauhan. Banyak masalah yang akan muncul dari kehadiran orang asing di lingkungan itu, seperti masalah keamanan, keramaian, tempat parkir kendaraan, dan sebagainya. Persoalan semakin pelik karena pembangunan rumah ibadah sering dicurigai sebagai isu penyebaran agama seperti islamisasi, kristenisasi, hinduisasi, dan sebagainya, yang sebenarnya masih perlu dipertanyakan kebenaran argumen tersebut.

Oleh karena itu, pembangunan rumah ibadah di lingkungan yang bukan mayoritas pemeluknya memang perlu diatur oleh undang-undang, yang kalau di Indonesia saat ini diatur oleh SKB 2 menteri (menag dan mendagri). Dalam SKB itu diatur bahwa pendirian rumah ibadah harus ada persetujuan 60 orang warga sekitar dalam bentuk tanda tangan dan tanda tangan 90 orang pemeluk agama yang bersangkutan (sebagai orang yang akan beribadah di sana). Jika ada persetujuan dari warga sekitar, maka rumah ibadah itu bisa berdiri, namun jika tidak disetujui, maka pemeluk agama tersebut tidak boleh memaksakan diri untuk membangun rumah ibadahnya di sana. Membangun rumah saja perlu izin tetangga kiri kanan depan belakang, apalagi membangun rumah ibadah tentu memerlukan izin warga sekitar. Inilah yang terjadi di daerah Ciketing, Kecamatan Mestika Jaya, Bekasi, dimana warga sekitar menolak kehadiran rumah ibadah agama lain. Akar permasalahan ini tidak diberitakan oleh media massa, media tidak berimbang dalam pemberitaannya, media hanya memberitakan dari sisi korban saja sehingga menimbulkan kesan seolah-olah warga sekitar adalah orang yang tidak beradab dan intoleran.

Jika pembangunan rumah ibadah ditolak oleh warga sedangkan kehadiran rumah ibadah itu sangat mendesak dikarenakan jumlah pemeluk agama tersebut bertambah, maka kewajiban Pemerintah untuk mencarikan tempat yang lebih netral sehingga tempat ibadah itu bisa dibangun.

Beberapa pihak meminta agar SKB itu dicabut sebab dianggap membatasi kebebasan beragama. Ini jelas sikap yang keliru sebab kebebasan mendirikan rumah badah tidak sama dengan kebebasan beragama. Jika SKB itu dicabut, maka akan menimbulkan kekosongan hukum. Yang terjadi nanti masyarakat akan bertindak sendiri-sendiri, dan akibatnya sangat fatal: terjadi konflik horizontal yang menyengsarakan kita semua. Di negara manapun, termasuk di Eropa dan Amerika yang dianggap negara demokratis, pembangunan rumah ibadah itu juga diatur, tidak bisa seenaknya saja. Saya pernah membaca di sebuah distrik di Belanda masyarakatnya menolak pembangunan sebuah masjid karena dianggap mengganggu ketenangan warga. Akhirnya memang masjid tersebut tidak jadi dibangun. Yang terbaru adalah penolakan masjid di Australia (baca ini).

SKB itu adalah kesepakatan tokoh-tokoh agama untuk mengatur harmoni kehidupan beragama. Saya kira SKB itu cukup fair; jika gereja agak sulit dibangun di tengah populasi muslim, maka umat Islam juga merasakan sulitnya mendapat izin mendirikan masjid di Bali, Papua, NTT, dan di daerah kantong non-muslim lainnya. Mereka tidak memaksakan diri mendirikan masjid di sana. Semuanya diterima dengan ikhlas dan lapang dada, sebab harmoni kehidupan antar umat beragama adalah yang paling penting dan harus didahulukan daripada kepentingan kelompok.

Marilah kita menjaga harmonisasi kehidupan antar umat beragama dan sesama umat beragama. Jangan sampai kita mudah terprovokasi oleh orang-orang yang memancing di air keruh. Hidup rukun adalah dambaan kita semua. Ingat, kita ini satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Tidak semestinya kita berpecah belah karena masalah agama.


Written by rinaldimunir

September 19th, 2010 at 10:31 pm

Posted in Indonesiaku

Pelajaran dari Surat An-Naml (Kisah Raja Sulaiman)

without comments

Beberapa malam ini saya sedang menyenangi membaca surat An-Naml (yang artinya “semut”) di dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran banyak sekali terdapat kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu yang dapat dijadikan pelajaran. Kisah-kisah tersebut menunjukkan kebesaran Allah SWT. Salah satu surat yang memuat kisah yang mengagumkan adalah surat An-Naml itu. Di dalam Surat An-Naml (surat nomor 27) dikisahkan tentang Nabi Sulaiman (di dalam Alkitab disebut Solomon) dengan segala keperkasaan dan kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT. Nabi Sulaiman adalah seorang raja yang besar, kerajaannya terletak di negeri Palestina sekarang. Hingga saat ini kaum Yahudi Israel masih mencari-cari dimana istana (Solomon Temple) itu berada, dan mereka meyakini bahwa istana itu terletak di lahan tempat Masjid Al-Aqsa sekarang. Inilah alasan mengapa kaum Yahudi ingin meruntuhkan Masjid Al-Aqsa dan merekonstruksi situs istana Sulaiman.

Berikut ini saya kisahkan kembali terjemahan ayat-ayat yang saya baca tadi mulai dari ayat 16 hingga ayat 44, berikut dengan narasi sesuai yang saya pahami dari ayat tersebut.

16. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.

Raja Sulaiman memiliki kemampuan supranatural yang luar biasa, yaitu memiliki tentara dari golongan jin, manusia, dan burung. Raja Sulaiman juga mampu memahami bahasa binatang.

17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

Pada suatu hari, Raja Sulaiman sedang berjalan-jalan dengan bala tentaranya itu, hingga sampailah mereka di lembah yang banyak semutnya.

18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;

Mendengar perkataan semut itu, Nabi Sulaiman tersenyum, namun dia tidak menunjukkan kesombongannya karena memiliki kekuatan yang hebat, malah dia bersikap tawadhu (rendah hati).

19. maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

Selepas dari lembah semut, Raja Sulaiman memeriksa satu-per satu tentaranya. Namun, dia tidak melihat kehadiran burung Hud-hud. Burung Hud-hud adalah sejenis burung pelatuk.

20. Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud [1094], apakah dia termasuk yang tidak hadir.

Dia mengancam akan menyembelih burung Hud-hud karena dianggap tidak disiplin (mangkir).

21. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”.

Untunglah burung Hud-hud tidak lama kemudian datang. Ternyata burung ini baru saja mengunjungi sebuah negeri yang ajaib.

22. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.

Saba nama kerajaan di zaman dahulu, ibu kotanya Ma’rib yang letaknya dekat kota San’a ibu kota Yaman sekarang (sumber dari sini). Di Kerjaan Saba itu memerintah seorang ratu yang bernama Balqis.

23. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

Sayangnya, kaum Ratu Bilqis itu menyembah dewa matahari, sangat berbeda dengan Sulaiman yang menyebah Allah SWT.

24. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,

25. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

26. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar”.

Mendengar cerita burung Hud-hud tersebut, Nabi Sulaiman tidak langsung percaya. Dia perlu cek dan ricek untuk memeriksa kebenaran cerita tadi.

27. Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.

Lalu Raja Sulaiman menulis sebuah surat, kemudian menyuruh burung Hud-hud untuk menjatuhkannya ke istana Ratu Balqis.

28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”

Surat itu sampai ke tangan Ratu Balqis. Dia segera memanggil para menterinya untuk membahas surat tersebut.

29. Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Di dalam surat itu Raja Sulaiman meminta Ratu Balqis untuk tunduk kepada Raja Sulaiman.

31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

Ratu Balqis belum menjawab permintaan Sulaiman tersebut, dia berkata kepada para menterinya:

32. Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”.

Para menterinya belum mau menyerah, mereka menganggap kerajaan mereka juga adalah kerajaan yang kuat, jangan mau tunduk kepada Sulaiman.

33. Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.

Namun, keputusan tetap berada di tangan Ratu Balqis. Dia khawatir jika kelak Sulaiman berhasil menguasai negerinya, maka penduduknya akan dijadikan tawanan atau budak. Pengalaman negeri-negeri yang dikuasai oleh pasukan asing selalu begitu. Dia khawatir Sulaiman berlaku serupa.

34. Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

Demi melindungi rakyatnya menjadi budak yang hina, Ratu Balqis mengirim utusan kepada Sulaiman sambil membawa hadiah.

35. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.

Nabi Sulaiman tersinggung dengan hadiah yang dibawa oleh utusan Ratu Balqis, sekaan-akan dirinya bisa disuap dengan hadiah itu, padahal harta yang dia peroleh dari Allah jauh lebih banyak dan lebih baik daripada hadiah yang ditawarkan itu.

36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

Raja Sulaiman menolak hadiah tersebut, lalu menyuruh utusan Ratu Balqis itu pulang dengan membawa ancaman.

37. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.

Setelah utusan itu pergi, Raja Sulaiman memberi tantangan kepada para pembantunya untuk membawa singgasana Ratu Balqis ke hadapannya.

38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

Tantangan itu diterima oleh seorang jin bernama Ifrit. Ifrit sanggup membawa singgasana ratu dalam sekejap sebelum Raja Sulaiman berdiri dari tempat duduknya.

39. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Tapi, ternyata ada yang lebih cepat lagi dari jin Ifrit. Salah seorang pembantu Sulaiman yang mempunyai ilmu dari Alkitab (Zabur dan Taurat) sanggup mendatangkan singgasana ratu sebelum kedipan mata. Luar biasa.

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Setelah singgasana Ratu Balqis berada di hadapan Sulaiman, Sulaiman bukannya merasa jumawa karena merasa berhasil memperlihatkan kehebatannya nanti di hadapan Ratu Balqis. Dia malah makin merendahkan dirinya di hadapan Allah sebab itu semua adalah karunia yang diberikan oleh Allah kepadanya.

(lanjutan) Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni’mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Nabi Sulaiman kemudian meminta agar singgasana Ratu Balqis itu diubah sedemikian rupa untuk menguji apakah ratu itu masih mengenali singgasananya.

41. Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”.

Ratu Balqis yang menerima pulang utusannya yang datang membawa kembali hadiah yang hendak disampaikan kepada Sulaiman menyadari bahwa Sulaiman bukanlah lawannya. Negerinya pasti akan kalah. Oleh karena itu, dia datang menghadap Raja Sulaiman sebagai bentuk pengakuan.

Di depan istana Raja Sulaiman, kepada Balqis diperlihatkan sebuah singgasana. Raja Sulaiman menyuruh ratu untuk memeriksa apakah itu singgasananya?

42. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?”

Balqis merasa kaget, kenapa bisa singgasananya ada di istana Sulaiman, siapa yang membawanya, padahal singgasana itu tadi ketika ditinggalkannya masih ada. Namun dia mengakui pasti ini adalah kehebatan Nabi Sulaiman yang sangat sulit ditandinginya. Dia pun menyerah dan menyatakan tunduk kepada Nabi Sulaiman.

(lanjutan) Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”.

43. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

Sulaiman kemudian mengajak Ratu Balqis masuk ke dalam istana.

44. Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”.

Istana Sulaiman sangat megah, lantainya terbuat dari batu pualam seperti kaca. Begitu memasuki istana, Ratu Balqis mengangkat gaunnya karena melihat lantai istana seperti kolam air.

(lanjutan) Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya.

Raja Sulaiman berkata bahwa itu bukan kolam, tetapi benar-benar lantai yang sangat licin seprti kaca.

(lanjutan) Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”.

Ratu Balqis sangat kagum dengan semua apa yang telah dialaminya tadi. Dari sinilah dia mendapat hidayah dari Allah bahwa semua itu adalah Kekuasaan Allah SWT, Tuhan yang harus disembah, bukan dewa matahari yang selama ini diyakininya.

(lanjutan) Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

Shadaqallahul adzim. Maha benar Allah yang Maha Agung. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Sulaiman di atas, antara lain:.
1. Nabi Sulaiman meskipun diberi kekuasaan dan kelebihan oleh Allah SWT, dia tidaklah merasa angkuh dan sombong. Malah, semakin mendekatkan dirinya kepada Allah yang memberi semua kehebatan dna kekuasaan itu. Ilmu padi: semakin berisi maka semakin runduk. Banyak pemimpin di zaman sekarang ini jika semakin berkuasa maka semakin korup.

2. Nabi Sulaiman tidak ingin berbuat zalim meskipun dia merasa hebat. Dia berlaku lemah lembut pada orang kecil. Semut yang hanya seukuran ujung kuku tidak mau dia injak-injak.


Written by rinaldimunir

September 17th, 2010 at 8:33 am

Posted in Agama

Ada Kerbau di Kampus ITB (Tempo Doeloe)

without comments

Dapat kiriman foto dari Pak Johan, dosen Geologi ITB, foto ITB tempo dulu. Gambarnya tentang gedung Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan ITB ketika baru selesai dibangun. Ada kerbau sedang digembalakan di sana. Kalau sekarang di lahan itu mungkin sudah berganti dengan Kijang dan Panther.

Klik foto untuk melihat lebih besar.


Written by rinaldimunir

September 16th, 2010 at 1:51 pm

Posted in Seputar ITB