if99.net

IF99 ITB

Archive for August, 2010

Gunung Sinabung Meletus Setelah Tidur Panjang Selama 400 Tahun

without comments

Ketika menyetel berita di TV, saya tersentak kaget ketika mengetahui bahwa Gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara, meletus. Kaget karena Gunung Sinabung ini sudah lama tidur panjang dan dianggap gunung api yang tidak aktif lagi. Tidak ada tanda-tanda dia akan meletus seperti gunung api lain pada umumnya. Meletusnya tiba-tiba saja. Terakhir gunung ini meletus pada tahun 1600. Jadi, setelah 400 tahun dia tidur sembari mengumpulkan energi, dia bangun dari tidur panjangnya dengan mengeluarkan energi dahsyatnya itu. Mirip seperti Gunung Pinatubo di Filipina yang tidur panjang selama ratusan tahun lalu meletus secara tiba-tiba.

Saya bukan orang Karo, tetapi saya cukup mengenal daerah ini dari berbagai bacaan. Teman saya dulu ketika tinggal di asrama ITB, Rudi Nusa Abdi Sinuraya, berasal dari Tanah Karo. Pernah makan jeruk medan? Nah, jeruk itu sebenarnya dari Brastagi, dan Brastagi adalah daerah perkebunan subur yang terletak di Dataran Tinggi Karo.

Sejak kecil saya suka dengan segala hal tentang gunung api, mulai dari sejarah, letusannya, pembentukan gunung api, dsb. Hal yang membuat saya terpesona dengan gunung api adalah ketika membaca komik klasik karangan Jules Verne yang berjudul Perjalanan ke Pusat Bumi. Dalam komik itu ada petualangan menembus lapisan bawah bumi, dikisahkan bahwa tokoh cerita sampai ke magma gunung berapi, mereka berhasil keluar dari dalam bumi melalui letusan gunung berapi yang melontarkan mereka kembali ke permukaan bumi. Karena ketertarikan pada gunung api, saya sempat mau mendatar ke Teknik Geologi ketika memilih ITB dulu, tapi karena pengaruh guru jualah pilihan itu saya batalkan dan akhirnya memilih Informatika.

(Foto Gunung Sinabung meletus diambil dari sini)

Meletusnya Gunung Sinabung yang tiba-tiba jelas mengagetkan penduduk lokal. Mereka sudah lama menganggap Gunung Sinabung itu gunung yang sudah mati. Karena dianggap gunung yang sudah mati, maka PT Pelni berani mengabadikan nama gunung itu sebagai salah satu nama kapal penumpangnya, yaitu KM Sinabung.

Salah satu “kesalahan” badan Vulkanologi adalah terlalu abai pada gunung api yang tidak aktif. Fokus mereka kebanyakan pada gunung api aktif saja, sementara gunung yang tidur panjang kurang diperhatikan. Ketika tiba-tiba gunung yang tidur itu bangun, barulah mereka sadar dan terlambat memberikan informasi kepada penduduk di sekitar gunung. Bahkan ketika gunung Sinabung mengeluarkan asap dua hari yang lalu, petugas dari Badan Vulkanologi Bandung mengatakan bahwa asap itu dihasilkan karena hujan lebat di puncak gunung. Air hujan bereaksi dengan sulfur menghasilkan gas belerang. Itulah asap yang tampak. Ternyata analisis itu salah, ternyata Gunung Sinabung sedang bersiap akan meletus.

Tulisan lain tentang gunung Sinabung baca di sini.

Di Bandung juga ada gunung api yang sedang tidur, yaitu gunung Tangkubanperahu. Gunung api ini sudah lama tidak meletus. Kawahnya ramai dikunjungi wisatawan setiap akhir pekan dan liburan panjang. Tidak lengkap ke Bandung jika belum berkunjung ke Tangkubanperahu.

(Gambar diambil dari sini)

(Gambar diambil dari sini)

Saya kalau pergi jalan-jalan ke Tangkubanperahu suka berfikir aneh-aneh. Kalau tiba-tiba gunung ini meletus sementara banyak turis berada di pinggir kawah, gimana, mau lari kemana ya? Ah, semoga saja itu tidak terjadi.

Pola mitigasi bencana di negara kita memang harus diubah. Bukankah negara kita ini rawan gempa dan banyak terdapat letusan gunung berapi. Indonesia dikelilingi oleh ring of fire. Kita tidak tahu sampai kapan gunung Sinabung itu meletus hingga mencapai keseimbangan dalam aktivitas dapur magmanya.


Written by rinaldimunir

August 30th, 2010 at 2:26 pm

Posted in Indonesiaku

Jalur Sepeda Baru di Jalanan Bandung

without comments

Ketika menyusuri jalanan kota Bandung, saya melihat ada yang baru. Jalur khusus bagi pesepeda sudah tersedia di beberapa ruas jalan. Tadi ketika menyusuri Jalan Aceh, saya sempat memotret jalur sepeda yang baru ini. Jalan Aceh adalah jalan favorit saya karena jalan ini terasa teduh dengan pohon-pohon besar di kiri kanan jalan, rumah-rumah peninggalan Belanda di sepanjang jalan, dan yang paling penting tidak terlalu ramai.

Jalur sepeda ukurannya selebar satu meter dan diberi warna cat biru seperti jalur busway di Jakarta. Di bawah ini jalur sepeda di Jalan Aceh dekat Taman Lalu Lintas:

Kalau yang di bawah ini jalur sepeda ke arah Taman Maluku, dulu taman ini terkenal sebagai tempat mangkal ehmm…ehmm:

Kalau yang ini di Jalan Wastukencana samping kantor walikota (depan gereja Bethel):

Wah, saya harus menjajal jalur ini euy, tapi harus beli sepeda dulu :-) . Sayangnya jalur sepeda baru ada di beberapa ruas jalan saja. Dari rumah saya di Antapani hingga ke kampus ITB belum tersedia jalur sepeda. Adakah nanti dibuat jalur sepeda di jalan Dago supaya mahasiswa ITB membiasakan diri ke kampus dengan bersepeda? Ini penting supaya selingkaran kampus ITB tidak crowded lagi dengan ratusan mobil yang parkir.

Hmm… apakah jalur sepeda ini aman? Saya agak ragu, sebab pengendara motor atau mobil mungkin saja menyerobot jalur ini. Tahu sendiri kan jalan raya di kota Bandung ini sempit-sempit. Saya jadi ingat jalur busway di Jakarta yang diserobot oleh pengendara motor dan mobil sehingga busway menjadi kurang efektif mengatasi kemacetan.

Namun, apapun kekurangan itu, saya menyambut baik jalur sepeda ini. Ini berarti sudah ada kesadaran Pemkot Bandung untuk mengakomodasi kendaraan yang ramah lingkungan seperti sepeda itu.


Written by rinaldimunir

August 28th, 2010 at 1:47 pm

Posted in Seputar Bandung

Hobi yang menguntungkan

without comments

Q: Kamu sibuk, kok  masih kehandle urusan dapur dan rumah

A: klo kuliah itu memang lg amanah, jadi wajib, tapi materinya jg yang disukai, jadi terbantu belajar dengan passion

kalau masak itu hobi, jadi refreshing, klo capek atau jenuh, tinggal berkreasi di dapur

klo beberes rumah, mau tak mau, sebab kalau rumah berantakan ga bisa belajar, jadi harus beres dulu baru bisa belajar

Alhamdulillah pada klop

Q: Kamu juga suka jualan-jualan onlen

A: kalau belanja, itu mah perempuan, matanya jadi ijo lihat belanjaan

daripada belanja buat diri sendiri ngabisin uang dan kurang manfaat

mending kulakan toh, belanja untuk dijual lagi, dapat uang, dapat kepuasan, bisa mempekerjakan orang, dan ikut muterin ekonomi :D :D :D

Written by ibu didin

August 28th, 2010 at 11:03 am

Nasib TKI di Penjara Malaysia

without comments

Supaya ada keseimbangan berita antara orang Indonesia yang merasakan “hidup senang” di Malaysia (terutama bagi yang mendapat beasiswa di Malaysia) dengan para TKI yang merasa “hidup menderita” di sana, saya kutipkan sebuah berita dari koran ini. Ternyata perilaku polisi di Malaysia tidak selamanya baik. Para pembaca di Malaysia mungkin tidak tahu hal yang begini, karena tidak mungkin berita semacam ini muncul di media Malaysia.

TKI: Pemerintah Harus Protes Penghinaan Malaysia
Sabtu, 28 Agustus 2010, 11:35 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,TANJUNGPINANG–Ratusan TKI bermasalah yang diusir Pemerintah Malaysia melalui Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau mengharapkan pemerintah Indonesia melayangkan nota protes terhadap penghinaan yang dilakukan petugas Malaysia selama mereka di penjara.”Kami berharap pemerintah bertindak tegas, karena setiap hari bangsa kita dihina petugas penjara maupun polisi Malaysia selama kami ditahan,” kata salah seorang TKI bermasalah, Sahiradin (39), ketika sampai di pelabuhan internasional Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Jumat malam.

Sahiradin yang berasal dari Nusa Tenggara Barat mengatakan, hinaan dan cacian setiap hari didengar oleh ratusan bahkan ribuan TKI bermasalah yang ditahan di penjara Malaysia.”Mereka menuduh bangsa Indonesia sebagai bangsa pencuri, padahal merekalah pencuri karena seluruh harta benda kami diambil saat di penjara. Bukan itu saja, kami dipukul dan ditelanjangi jika sedikit melawan,” ujarnya yang dipenjara selama satu bulan di penjara Keluang, Johor Bahru, Malaysia dengan satu kali hukuman “sebat” (cambuk) dengan rotan.

TKI bermasalah asal Aceh, Jumirin, mengatakan bendera Indonesia juga diinjak-injak petugas penjara Malaysia dengan mengeluarkan berbagai cacian.”Ini bendera Indonesia yang diinjak petugas penjara Malaysia,” ujarnya sambil menunjukkan replika bendera Merah Putih kecil yang dikeluarkan dari kantong celananya.

Jumirin menyatakan mendapat pukulan lima kali hanya gara-gara meminta obat karena sakit selama di penjara Kluang, Malaysia.”Saya hanya minta obat karena sakit, namun lima kali pukulan yang saya dapatkan,` katanya.

Riski (22), mengatakan warga Indonesia yang mencapai ribuan di penjara Malaysia tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi penyiksaan yang dilakukan petugas penjara.”Sedikit saja kami protes akan disiksa dengan cara dipukul dan dijemur di bawah terik matahari dengan baju dibuka,” ujarnya yang mendapat hukuman cambuk satu kali pada hari Kamis (19/8).

Riski menunjukkan bekas hukuman cambuk yang masih tampak basah di bagian pantatnya seukuran satu jari.Ratusan TKI yang diusir Malaysia serentak menjawab merasakan hukuman cambuk ketika ditanyakan apakah pernah dihukum cambuk atau tidak.”Semuanya pernah mengalami hukuman cambuk, jumlahnya tergantung keputusan “mahkamah” (pengadilan),” ujar TKI.

Ratusan TKI tersebut sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan meneriakkan kata-kata Merdeka dengan bersemangat.”Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib warganya yang disiksa dan dihina di penjara Malaysia,” harap Riski.

TKI yang diusir Malaysia Jumat malam terdiri dari laki-laki sebanyak 69 orang, perempuan sebanyak 68 orang dan anak-anak sebanyak 18 orang. Salah seorang laki-laki dewasa di antaranya diduga mengidap HIV/AIDS dan dilarikan ke Rumah Sakit Daerah Tanjungpinang untuk perawatan karena tidak bisa lagi berjalan.
Red: Krisman Purwoko
Sumber: ant


Written by rinaldimunir

August 28th, 2010 at 10:10 am

Posted in Uncategorized

Artikel: Mengapa Beraninya Hanya pada Malaysia, pada Singapura Tidak?

without comments

Hubungan Indonesia dan Malaysia saat ini sedang memanas. Banyak pihak yang menginginkan Indonesia memutuskan hubungan dengan Malaysia. Di tengah situasi yang panas itu, saya menemukan sebuah tulisan yang memandang persoalan ini dari sudut pandang berbeda. Sepertinya ada agenda dari pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Indonesia dan Malaysia rukun. Berikut tulisan tersebut saya kutip seutuhnya.

Mengapa Kita Beraninya Hanya pada Malaysia?

Oleh: Afriadi Sanusi
Sumber tulisan: www.hidayatullah.com

SEORANG Profesor Singapura menulis dalam sebuah artikelnya; Kebanyakan rumah mewah yang ada di Singapura, Kebanyakan uang yang beredar di Singapura adalah punya orang Indonesia. Kebanyakan pembangunan yang ada di Singapura, dibangun dari uang yang datangnya dari Indonesia. Dan di saat Singapura mengadakan Grand Sale setiap tahunnya, lebih 2 juta orang Indonesia datang belanja ke sana..”

Seorang sahabat di Singapura pernah mengatakan, “dari jalan ini sampai ke ujung sana dulunya adalah lautan, dan sekarang menjadi daratan cantik yang ditimbun dengan pasir yang didatangkan dari pulau-pulau kecil di Riau”.

Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari Singapura?

Pertama, TKI laki-laki dari Indonesia diharamkan bekerja dan mencari nafkah di Singapura seperti di bidang pembangunan, kuli kasar, buruh dan sebagainya. Singapura lebih memilih warga negara lain daripada WNI, dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Kedua, banyak orang mengatakan dan dari sumber lainnya, “Satu per satu pulau-pulau kecil di Riau hilang karena pasirnya diangkut ke Singapura.

Ketiga, identitas orang Melayu yang identik dengan Islam seperti istana, rumah, perkampungan orang Melayu, dihilangkan. Adat dan budaya melayu dimuseumkan. Azan diharamkan menggunakan pengeras suara di semua masjid dan surau di Singapura.

Keempat, pemerintah Singapura melayani dan melindungi koruptor RI yang telah membuat rakyat RI sengsara selama ini (karena hak-hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan, rumah sakit, infrastruktur, makan dan tempat tinggal yang baik terjajah dan terzalimi), dengan tidak mau menandatangani perjanjian ekstradisi.

Kelima, banyak rakyat, nelayan dan petugas kita diacungi senjata berat dan diusir dengan pengeras suara karena disangka telah melintasi garis batasan laut kepunyaan Singapura.

Malaysia Lebih Baik dari Singapura

“Sejahat” apapun Malaysia, saat ini ada 2 juta orang lebih WNI yang sedang mencari rezeki di Malaysia untuk nafkah keluarga mereka di RI. Triliyunan uang TKI dikirim ke Indonesia setiap tahunnya. Dapat dibayangkan, bagaimana dampak sosial, ekonomi dan budaya yang akan berlaku di Indonesia kalau TKI pulang sekaligus.

Faktanya, TKI-lah sebenarnya “pahlawan” yang harus dilindungi, karena mereka penyumbang devisa negara. Di saat lain, ada banyak institusi yang keberadaannya hanya menghambur-hamburkan uang negara. Kegunaan mereka sangat perlu dipertanyakan di saat keberadaan mereka tidak memberikan manfaat yang berarti kepada rakyat. Ibarat pepatah Arab, ”wujuduhu ka adamihi.” (adanya seperti tidak adanya). Dengan kata lain, ada atau tidak adanya mereka, sama saja. Tak memberi manfaat.

Ribuan orang Indonesia sedang belajar S2 & S3 di Malaysia saat ini. Kebanyakannya mendapat bantuan atau keringanan biaya dari pemerintah Malaysia dan banyak juga yang sambil bekerja. Uang kuliah di perguruan tinggi negeri Malaysia lebih murah dari Indonesia. Kualitas, infrastruktur dan kemudahan lainnya jauh lebih baik dari di Indonesia tentunya.

Sebagai warga asli Indonesia, penulis tidak merasa sakit hati kalau ditilang oleh polisi Malaysia. Karena kami yakin, uang itu pasti akan masuk ke dalam kas negara untuk pemerintah Malaysia memperbaiki jalan, jembatan, lampu jalan yang aku gunakan setiap hari di negara ini.

Sebalinya, saya sering sakit hati jika ditilang oleh polisi Indonesia. Karena kami yakin, uang itu belum tentu masuk kas negara. Bahkan ada yang masuk pribadi polisi, keluarga dan golongannya tanpa dikembalikan kepada ke negara untuk membangun infrastruktur.

Lalu yang sangat mengherankan, isu-isu yang sebenarnya bisa diselesaikan di tingkat diplomat, tetapi menjadi barang dagangan pasar yang dikonsumsi oleh rakyat umum. Boleh jadi isu ini sepertinya dimanfaatkan oleh segelintir orang yang memang memiliki agenda, bagaimana supaya Islam, Melayu dan Nusantara yang kaya dengan SDM & SDA ini, tidak menjadi sebuah kekuatan. Mengapa rakyat di negaraku begitu mudah emosi?

Pengalihan Isu

Isu-isu penangkapan Abubakar Ba‘asyir, isu VCD porno artis, isu teroris, dan sebagainya, faktanya tidak berhasil mengalihkan perhatian rakyat terhadap berbagai skandal perampokan uang rakyat melalui kasus BLBI, Century, Rekening Gendut Polisi, kenaikan BBM dan harga bahan pokok, penangkapan Susno Duadji, buruknya birokrasi dan pelayanan publik, maraknya korupsi, pelemahan KPK, gagalnya sebuah kepemimpinan, meningkatnya jumlah kemiskinan, pengangguran, perbuatan kriminal, buta huruf dan gagalnya hampir setiap departemen dan institusi pemerintahan, dalam memberikan manfaat keberadaan mereka yang berarti kepada rakyat.

Isu “memanasnya” hubungan Indonesia-Malaysia tidak akan membuat rakyat lupa terhadap semua penipuan, pembodohan dan “perampokan” uang rakyat yang telah, sedang dan akan berlaku.

Damaikanlah Saudaramu

Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam sebuah wawancara khusus dengan hidayatullah.com [“Ada Kuasa Besar Halangi Terbentuknya Melayu Raya], mengatakan, dalam buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang dunia ke-2, seperti “Sejarah Melayu” yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir Adil, wilayah Semenanjung dan Indonesia dianggap sebagai alam “Melayu Raya”. Mereka menamakan tanah Melayu; Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Johor, Kelantan, Pattani, dan lainnya sebagai “alam Melayu”, atau di Indonesia dikenal istilah Nusantara. Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan tanah Melayu.

Sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum Perang Dunia ke-2. Saat itu, ada semangat untuk memulai kembali bersatunya Melayu. Intinya, ada hasrat untuk bersatu.

Kalau mau jujur, semua suku di Indonesia ada di Malaysia: Jawa, Bugis, Aceh, Minang. Kini banyak orang Jawa di Johor, juga di Selangor. Termasuk banyak warga Aceh di Malaysia. Negeri sembilan sebagian penduduknya dari Minangkabau. Bahkan Sultan Selangor itu berasal dari Bugis.

Jadi seharusnya, semangat kita (Indonesia dan Malaysia) adalah semangat “satu rumpun” untuk bekerjasama untuk bangunkan alam Melayu ini. Hanya saja, jika berpecah, mustahil, bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar.

Aksi ingin mengajak perang dengan Malaysia, pelemparan kotoran ke Kedutaan Malaysia, sweeping warga Malaysia pasti akan menyakitkan hati dan membuat hubungan bukan makin mendekat, tapi malah menjauh.

Walaupun gerakan LSM Bendera tidak mewakili gerakan orang-orang cerdas di Indonesia, seperti Senat Mahasiswa, Muhammadiyah, ICMI, HMI, dll., namun warga Indonesia harus lebih peka dan mencari tahu, siapakah LSM ini? Ada apa di balik agenda mereka?

Apakah mereka bergerak untuk kepentingan partai politik tertentu, ataukah untuk menaikkan partai dan pemimpin tertentu, ataukah mereka dibiayai oleh pihak asing untuk menghancurkan rumpun Melayu?

Di sisi lain, biasanya, isu-isu yang akan memungkinan pecahnya hubungan Malaysia-Indonesia jarang ditanggapi dan dibesar-besarkan media Malaysia. Namun akhir-akhir ini, khususnya pemberitaan ‘ketegangan’ hubungan Indonesia-Malaysia, ditanggapi berbagai pihak. Termasuk pakar politik di berbagai media massa, seperti oleh Samy Vellu, Bernama dll.

Ada dua kemungkinan mengapa mereka menanggapinya. Pertama, untuk membangkitkan rasa nasionalisme rakyat menjelang hari kemerdekaan Malaysia yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Kedua, mungkin juga dimanfaatkan oleh keturunan China dan India Malaysia yang memang kurang suka dengan hubungan baik Indonesia-Malaysia. Karena ini akan menguatkan kepentingan mereka dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya dan pembangunan di Malaysia.

Apakah kita akhirnya memutuskan “berperang” dengan Malaysia? Apakah kita tetap ngotot mengajak perang dengan Negara yang di dalamnya banyak keturunan Melayu Riau, Palembang, Aceh, Bugis, Minang, Mandailing, Rao, Jambi, Kerinci, Jawa, karena kita seagama Islam dan satu rumpun melayu?

Di saat yang sama, sudah ratusan kali pasir kita dicuri, minyak kita diselundupkan, tapi kenapa kita selama ini tidak membenci Singapura yang menguras minyak kita dengan Caltexnya? yang menguras gas kita dengan Harunnya dan sebagainya, tanpa memberikan dampak yang berarti terhadap pembangunan, ekonomi dan sosial rakyat?

Apakah kita takut pada Singapura karena mereka memiliki peralatan perang yang sangat canggih dan jauh meninggalkan Indonesia? Ataukah kita sengaja dibuat takut, karena para pejabat kita banyak yang memiliki hubungan mesra dengan Singapura yang menyimpan uang mereka dalam bentuk saham dan investasi?.

Malaysia secara tidak resmi telah melarang rakyatnya datang ke Indonesia. Kalau ini berlanjut, pasti semua ini akan memberikan pengaruh terhadap perusahaan penerbangan, hotel, pariwisata, tempat berbelanja, investor di Indonesia.

Kalau sengketa ini berlanjut di tingkat pemerintah, maka akan sama-sama kita dengar, tiga, lima bulan lagi. Malaysia akan membeli peralatan perang yang baru, Amerika pula akan menawarkan “jasanya” pada TNI untuk memberikan pinjaman utang, untuk membeli peralatan perangnya yang katanya, harga sebuah kapal perang bekas saja, sama dengan harga sebuah pulau besar di Indonesia.

Namun sebelum itu terjadi, ada sebuah pesan dari al-Quran.

“Sesungguhnya orang beriman itu adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat rahmat.” (QS: al-Hujurat ayat 10)

*)Penulis yang berasal dari Sumatera, PhD. Candidate Islamic Political Science, University of Malaya, Kuala Lumpur


Written by rinaldimunir

August 27th, 2010 at 7:05 am

Posted in Indonesiaku

Nenek 83 Tahun Jadi Doktor di Unpad

without comments

Luar biasa, begitu komentar saya ketika membaca berita seorang nenek berusia 83 tahun berhasil mempertahankan disertasi S3 nya di Universitas Padjadjaran Bandung. Seperti dikutip dari sini, Siti Maryam Salahuddin berhasil meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran (Unpad). Gelar tersebut diraihnya pada bidang ilmu Filologi Fakultas Sastra Unpad. Dengan demikian, Maryam merupakan peraih gelar doktor tertua di Unpad. Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah lama (kuno). Maryam mengambil bidang studi filologi karena dia menyimpan naskah-naskah kuno dari orangtuanya

Bu Maryam ini berasal dari Bima, Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dia adalah putri ke-6 Sultan Bima, Muhammad Solahuddin. Maryam yang kelahiran Bima, 13 Juni 1927 itu mengaku tidak menemui kesulitan dan hambatan. Dia hanya sering merasa kelelahan karena perjalanan jauh yang harus ditempuhnya untuk berkuliah dari Bima, NTB ke Bandung.

Kalau dipikir-pikir nenek itu seusia dengan ibu saya yang sudah uzur. Bedanya, ibu saya sudah sering sakit-sakitan, tetapi Bu Maryam masih kuat. Rekan saya, Pak Mikrajuddin dari Fisika, yang diundang dalam sidang terbuka itu menyatakan di dalam milis dosen ITB bahwa Bu Maryam dapat melakukan presentasi berdiri tanpa istirahat selama sekitar 2 jam. Dengan usia 83 tahun kemampuan fisik itu termasuk luar biasa.

Saya teringat rekan saya yang enggan sekolah lagi (S3) karena merasa sudah tua, tetapi kalau melihat semangat nenek Maryam ini seharusnya tidak perlu merasa tua untuk sekolah lagi. Memang ITB mewajibkan dosen-dosennya yang belum S3 untuk segera mengambil S3 (saya sudah selesai bos! :-) ). Dosen baru pun harus berkualifikasi Doktor atau Ph.D.

Semangat Bu Maryam memang patut ditiru. Umur tidak menghalangi orang untuk terus menuntut ilmu, hingga sampai mati sekalipun. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Rasululullah yang saya hafal sejak kecil ketika bersekolah di Muhammadiyah, hadis tersebut berbunyi utlubul ‘ilma minal mahdi ilallahdi, yang artinya “tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai liang lahat”. Hadis itu kemudian dipopulerkan menjadi semboyan pendidikan belajar sepanjang hayat.


Written by rinaldimunir

August 25th, 2010 at 8:59 am

Posted in Pendidikan

Seorang Pekerja Jatuh dari Atas

without comments

Kemarin pagi terjadi kehebohan di LabTek V, seorang pekerja bangunan jatuh dari atas loteng Lab RPL. Braaak! Badan dan kepalanya membentur lantai keramik yang keras. Untung dia masih hidup. Tidak ada luka, tetapi dia tidak bergerak. Sepertinya luka dalam. Dia dibawa ke rumah sakit. Tadi siang saya tanya kepada pegawai dapur, bagaimana kondisinya. Ternyata tulang rusuknya patah dan kepalanya retak. Sekarang dia masih diopname di rumah sakit.

Saya sedih merasa nelangsa. Terbayang nasib keluarganya, anak dan istrinya di rumah. Tentu dia tidak bisa bekerja lagi mencari nafkah. Sebagai kepala keluarga, dia adalah tiangnya. Di tangan dan ototnyalah tersimpan sumber penghidupan. Kalau dia tidak bekerja lagi, bagaimana kelangsungan hidup anak dan istrinya? Darimana biaya untuk makan, biaya sekolah, dan biaya lain-lain.

Di Jakarta sering kita dengar kasus kecelakaan kerja seperti ini. Ada pekerja cleaning service yang jatuh dari atas gondola ketika membersihkan kaca gedung pencakar langit. Dia tewas dengan mengenaskan dengan meninggalkan tangisan anak dan istrinya yang segera kehilangan pahlawan kelaurga. Ada juga pekerja bangunan yang jatuh atau tergencet besi. Dua hari yang lalu seorang pegawai cleaning service tewas karena tergencet lift.

Para pekerja yang tewas ketika sedang bekerja sesungguhnya tidaklah mati sia-sia. Insya Allah dia mati syahid karena sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarganya. Menjadi syuhada tidaklah harus berperang, mati ketika mencari nafkah pun adalah syuhada.

Meskipun demikian, keselamatan bekerja tetaplah harus menjadi perhatian. Di Indonesia, perlindungan terhadap keselamatan pekerja masih rendah. Sudahlah rendah, upah yang mereka terima pun juga rendah, tidak sebanding dengan perjuangan mereka yang dekat dengan maut. Namun apalah dikata, banyak juga orang yang melakoni pekerjaan yang mengundang maut itu karena tidak ada lagi pilihan lain. Hidup memang keras.


Written by rinaldimunir

August 24th, 2010 at 12:07 pm

Sekali-Sekali (Kalau Bisa Seringkali) “Pakailah” Mereka

without comments

Ketika pulang melewati pertigaan jalan, saya lihat sekumpulan ojeg motor menunggu penumpang. Mata mereka nanar menunggu orang-orang turun dari angkot, berharap penumpang yang turun dari angkot naik ojeg mereka untuk mengantarkannya sampai ke rumah. Selain tukang ojeg,di dekat situ mang-mang beca juga terduduk dilamun sepi menunggu penumpang. Dari pertigaan itu ke dalam tidak ada angkot lagi, orang harus jalan kaki, kalau tidak mau jalan kaki ya naik beca atau naik ojeg. Bagi yang punya kendaraan sendiri (motor atau mobil) tentu tidak ada masalah.

Sekali-kali saya naik ojeg itu. Sebenarnya saya bisa saja jalan kaki ke rumah dari pertigaan, lebih sehat. Tetapi saya naik ojeg karena ingin berbagi rezeki saja dengan mereka. Tiga ribu perak sangat berarti bagi tukang ojeg itu. Ada puluhan tukang ojeg menunggu giliran membawa penumpang. Bagi kumpulan tukang ojeg yang mangkal “resmi” di pertigaan, berlaku sistem shift untuk memenuhi prinsip keadilan. Pasalnya tukang ojeg jumlahnya puluhan orang, maka supaya adil dan tidak berebut penumpang, diberlakukan sistem shift seperti pekerja pabrik saja. Ada shift pagi, shift siang, dan shif malam. Mereka juga menerapkan sistem absensi, siapa yang duluan datang harus mengisi daftar nama, dan giliran mengangkut penumpang disesuaikan dengan urutan kedatangan. Beberapa pangkalan ojeg ada yang mengenakan rompi dan helm yang seragam supaya terkesan tertib. Mengapa menjadi tukang ojeg? Karena mencari pekerjaan saat ini sangat susah. Kebanyakan mereka punya motor karena kemudahan sistem kredit motor yang tanpa uang muka. Maka, motor itulah satu-satunya modal mereka untuk mengais rezeki di tengah biaya hidup yang membumbung tinggi. Sebagain motor itu belum lunas kredit, atau bahkan terancam ditarik oleh dealer karena menunggak pembayaran. Hasil dari menarik ojeg sebagian disisihkan untuk membayar tagihan kredit. Bisa kita bayangkan betapa susahnya kehidupan tukang ojeg itu.

Selain naik ojeg, sekali-sekali saya naik beca dengan alasan yang sama seperti di atas. Mang-mang beca umumnya mendapatkan beca itu dari juragan dengan sistem sewa. Mereka harus bersaing dengan tukang ojeg untuk mencari penumpang. Mereka tidak mampu kredit motor dan lebih memilih ngabecak. Kalau kita berpikir kasihan kepada mang beca itu karena mengayuh beca dengan tenaga fisik — apalagi pada bulan puasa ini –, sehingga kita tidak tega menaiki becanya, maka rasa kasihan kita itu tidak beralasan. Kalau kasihan terus atau tidak tega, maka lebih sengsara lagi nasib mereka. Jika tidak ada orang yang mau naik becanya karena rasa iba, maka tidak ada uang yang akan mereka peroleh. Justru dengan menaiki becanya kita sudah menolongnya mendapatkan sedikit rezeki.

Membantu orang kecil tidak perlu pakai teori yang muluk-muluk, langsung praktekkan saja dengan memakai jasa mereka. Bagi orang modern, gaya hidup yang serba mudah dan enak sudah menjadi keharusan. Belanja di supermarket, makan di restoran mahal, jalan-jalan dan rekresasi ke mal, atau selalu mobile dengan kendaraan terbaru. Itu semua hal yang wajar saja. Namun, tidak semua orang seberuntung mereka. Di luar sana masih banyak saudara sebangsa kita yang hidup dengan keprihatinan.

Kita mungkin tidak harus membantu mereka dengan menggulirkan modal agar mereka bisa bangkit. Yang dapat kita lakukan adalah dengan menggunakan jasa mereka atau membeli dagangan mereka meskipun hanya sedikit. Sebagai contoh, kalau kita sering membeli buah-buahan impor di supermarket, tidak ada salahnya sekali-sekali membeli buah-buahan impor yang dijajakan pedagang kecil di pinggir jalan. Meskipun harganya lebih mahal dibandingkan dengan yang di supermarket, tetapi secara tidak langsung kita telah membantu mereka mendapat penghasilan. Kalau bisa jangan sekali-sekali, tetapi seringkali.

Saya pikir, begitulah cara menghargai orang-orang kecil. Sederhana saja teorinya. Biar hanya sedikit yang bisa kita lakukan, tetapi jika banyak orang yang melakukan hal yang sama, maka yang sedikit itu menjadi banyak, dan semua itu sangat berarti.


Written by rinaldimunir

August 24th, 2010 at 9:51 am

Posted in Renunganku

Mama Palsu Minta Pulsa

without comments

Ada-ada saja cara orang untuk menipu. Tadi siang sebuah sms masuk ke ponsel saya. SMS dari nomor yang tidak dikenal: 087842541847. Isinya begini:

Kirimkan mama pulsa simpati 50 rb di nomor barunya mama yang ini, 081284104572 kirim sekarang penting, soalnya mama lagi ada masalah.

Hi..hi, sejak kapan ibu saya punya ponsel? Ibu saya sudah uzur, melihat saja sudah kabur, mana bisa melihat huruf-huruf di keypad ponsel yang kecil dan susah memilihnya itu. Kalau mau telpon ke Bandung pasti lewat telpon rumah, itupun untuk memijit nomornya dibantu kakak saya atau ponakan saya. Andaikan ibu saya punya ponsel, manalah mungkin minta kirim pulsa kepada anaknya yang jauh di rantau ini. Lagipula panggilan saya kepada ibu saya bukan “mama” tuh, tapi panggilan khas ibu bagi orang minang, yaitu “amak”.

Dasar penipu, bulan puasa ini masih juga mau menipu, nggak takut dosa tuh? Segera saya balas SMS itu dengan kalimat: Belum puas ya menipu, bulan puasa lho ini.

Kamu pernah menerima SMS yang begini?

Kemarin, ketika sedang mengajar kuliah Probstat di kelas STI, ada dering telpon yang masuk. Sebenarnya saya agak kesal juga ada yang menepon ketika mengajar. Saya diamkan saja. Mati. Eh, tidak lama kemudian berdering lagi. Khawatir itu telpon penting, ya sudah saya OK saja. Sambil meminta maaf kepada mahasiswa, saya menjawab panggilan itu. Dari seberang sana terdengar suara seorang pria. “Maaf, Pak, kami dari Telkomsel….“. Belum selesai dia berbicara langsung saya tutup. Sudah saya duga arah pembicaraannya, pasti mengabarkan bahwa saya mendapat hadiah dari Telkomsel, lalu ujung-ujungnya disuruh ke ATM. Udah basi penipuan kayak gini, tapi masih saja ada orang yang mencoba mencari korban. Mana ada sih telpon dari Telkomsel berasal dari nomor 12 angka 0812xxxxx, seharusnya kan dari nomor 3 angka atau 4 angka. Dari sini saja sudah ketahuan si penipu tidak elit.

Secara statistik (kebetulan saya mengajar statistik tahun ini :-) , he..he), pasti ada peluang sekian persen — meskipun kecil — penerima SMS yang percaya, lalu mentransfer pulsa kepada mama palsu itu. Si penipu sih sudah berhitung-hitung, misalkan dia kirim 100 sms ke sembarang nomor acak, dia hanya perlu keluar 100 x Rp 150 = Rp 15000 untuk biaya SMS. Andaikan ada peluang 5% saja yang percaya, nah itu sudah 5 orang. Dikali Rp50.000, si penipu sudah berhasil memperoleh Rp250.000. Benar-benar ajiiib si penipu ini.


Written by rinaldimunir

August 22nd, 2010 at 3:30 pm

Posted in Pengalamanku

[Penggalan] Para Pencari Tuhan 4

without comments

Pak Jalal: Loly tanpa mengurangi rasa hormat gw terhadap loe, abis nyapu halaman sebaiknya loe pulang aja, ga enak kan hanya ada kita berdua, kita bukan muhrim
Loly: loh kan kita ga ngapa2in pak, ga akan kesebar di internet
Pak Jalal: ya kita memang ga ngapa2in, tapi syetan bisa bisikin orang ngeliat kita buat berpikir macam-macam
Loly: wah agama kita banyak aturan pak
Pak Jalal: ya emang, agama itu buat ngatur kehidupan kita, bukan hanya ngatur cara bikin masjid

*dialognya tidak persis sama, tapi kurang lebih demikian*

Pak Jalal: “Loly tanpa mengurangi rasa hormat gw terhadap loe, abis nyapu halaman sebaiknya loe pulang aja, ga enak kan ga ada orang lain di rumah ini, kite kan bukan muhrim.”

Loly: “loh kan kita ga ngapa2in pak, ga akan kesebar di internet.”

Pak Jalal: “ya kita memang ga ngapa2in, tapi syetan bisa bisikin orang yang ngeliat kite buat berpikir macam-macam.”

Loly: “wah agama kita banyak aturan ya pak.”

Pak Jalal: “ya emang, agama itu buat ngatur kehidupan kita, bukan hanya ngatur cara bikin masjid.”

*gimana ga demen sama nie pilem :D :D:D*

Written by ibu didin

August 21st, 2010 at 7:02 pm