if99.net

IF99 ITB

Archive for July, 2010

Agenda lain yang berserakan

without comments

Beberapa agenda yang perlu ibu rapikan juga:

- menulis, dan belajar lagi jurnalisme tulisan seperti permintaan majalah tsb, hemmm ibu bisa tidak ya menulis untuk majalah tersebut?

- membaca list buku yg sdh ada, barrington moore, gunnar myrdal, stiglitz, james galbraith

- mendengarkan/menonton perdebatan ilmiah di youtube

- mastering baking, aneka pastry & bakery (harus ya ibu, mumpung di sini)

- belajar masakan Turki, Spanyol, Perancis,

- meningkatkan hafalan (setahun satu juz mampu tidak ibu?)

- lebih konsisten membimbing mba nana Al-Qur’an

Written by ibu didin

July 31st, 2010 at 12:46 am

Agenda Agustus 2010

without comments

Agustus ini ibu harus banyak membayar hutang assignment2 ^^ :

- conceptual frameworks Global Value Chain, sebelum 7 Agustus

- portofolio research methode session II, hu hu hu 4 assignments, sebelum 15 Agustus

- exam philosophy of technology, 16 Agustus

- exam novel technology and human behaviour, 23 agustus

- yang ini nie.. ga selese2 dari dulu (lah ga dikerja2in)..essay body  & soul, klo ga kepegang ya good bye saja lah :( :( :(

Hayo ibu.. selaraskan dg agenda Ramadhan, sebaiknya sblm ramadhan dikebut dulu se-optimalnya.

Catatan liburan summer:

- kalau libur, libur saja, tidak perlu ambil kuliah-kuliah optional, atau yang diluar rencana, jadi ibu kan yang repot sendiri, kerajinen siy :( :(

- agenda khusus memperbaiki bahasa Inggris lisan dan tulis meleset, harus di agendakan ulang semester depan

- sepertinya ibu sudah urgent mengambil kelas bahasa belanda, jadi susah berkomunikasi dengan tetangga, muslimah2 negara lain, ibu guru mba nana, insyaAllah semester depan ibu akan seriuskan ini

Written by ibu didin

July 30th, 2010 at 11:53 pm

Posted in agenda,Studi

Anggota DPR pun Titip Absen

without comments

Jangan sekali-kali anda titip absensi kuliah lewat teman. Kalau di ITB kejadiannya, urusannya bisa panjang. Mahasiswa perwalian saya di TPB (tingkat I) terpaksa membuat surat pernyataan dan permintaan maaf kepada dosennya karena titip tanda tangan lewat temannya. Pada waktu kuliah Kalkulus dia tidak hadir alias bolos tetapi tanda tangannya ada di dalam daftar hadir. Ketika dosen Kalkulus secara tidak sengaja memanggil namanya di dalam daftar hadir, ternyata si mahasiswa tersebut tidak ada, tetapi tanda tangannya kok ada. Jadi dia sudah berbohong dengan mengaku hadir (lewat tanda tangan yang diisi temannya) padahal bolos. Beberapa mata kuliah memang mensyaratkan jumlah kehadiran minimal sekian persen sebagai syarat ikut ujian. Maka, mahasiswa yang takut tidak bisa ikut ujian, terpaksa berlaku curang dengan titip absen (sebenarnya istilah yang tepat adalah titip presensi, sebab absen artinya tidak hadir, cuma kita sudah terbiasa dengan kata absen ini, misalnya “mana absennya?”, “sudah ngabsen pa belum?”, dsb).

Untung saja dosennya masih baik, dia hanya dipanggil dan diminta membuat surat pernyataan dan permohonan maaf serta berjanji tidak mengulanginya lagi. Surat itu harus diketahui dan ditandatangani oleh Dosen Wali, maka saya pun “terpaksa” ikut memberi tanda tangan.

Coba kalau dia dosennya sangat strik dan tegas, mungkin dia dinyatakan tidak lulus mata kuliah tersebut karena sudah berbohong. Wajar saja jika hukumannya tidak lulus, sebab berbohong adalah cikal bakal perilaku buruk lainnya, seperti korupsi dan manipulasi. Di beberapa perguruan tinggi di luar negeri mungkin hukumannya dikeluarkan (DO). Mau apa jadinya mahasiswa itu setelah lulus nanti jika semasa kuliah saja sudah curang. Apa mau seperti Gayus? :-) .

Kalau mahasiswa yang suka titip absen itu menjadi anggota DPR, mungkin mereka akan seperti berita di bawah ini:

Anggota DPR Titip Absen Lewat Ajudan Memalukan!
Reza Yunanto – detikNews

Jakarta – Sejumlah anggota DPR nyata-nyata sering bolos saat rapat paripurna. Tak hanya itu, yang lebih memalukan lagi, mereka juga terbiasa titip absen lewat ajudan.

“Yang memalukan bukan sekedar membolos tetapi titip absen lewat ajudan,” kata Kordinator Advokasi & Investigasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Ucok Sky Khadafy kepada detikcom, Kamis (29/7/2010).

Ucok mengatakan, kebiasaan titip absen ini perbuatan yang sangat memalukan. Anggota DPR yang merupakan wakil rakyat pada kenyataannya justru melakukan perbuatan curang dengan mengaku hadir, padahal yang hadir adalah ajudannya.

“Memalukan sekali kelakuan seperti ini. Parah!,” katanya.

Menurut laporan yang dimiliki FITRA, kebiasaan titip ajudan ini bukan cuma untuk menghadiri rapat-rapat di DPR seperti rapat paripurna atau rapat komisi. Para anggota DPR tersebut bahkan melimpahkan pekerjaannya ke ajudan. Tindakan seperti ini sebetulnya tidak salah, namun kalau semuanya diserahkan ke ajudan, lalu apa kerja para anggota DPR itu.

“Kalau sedikit-sedikit ajudan, buat apa mereka jadi wakil rakyat dong,” kritiknya.

Nah, mahasiswa bisa berkilah, ternyata yang titip absensi itu tidak hanya mereka, anggota DPR yang terhormat pun begitu. Parahnya lagi, biasanya setiap sidang di DPR ada uang rapat atau uang sidang. Anggota DPR yang titip absen ini tetap dapat honor meskipun tidak hadir. Hiii… nggak malu tuh ya makan uang buta (apalagi gaji buta).


Written by rinaldimunir

July 29th, 2010 at 2:23 pm

Posted in Budi Pekerti

Minikmati Hidangan Khas Makassar di Bandung

without comments

Siang ini makan di mana? Saya ingin sekali makan coto makassar. Coto (bukan ‘soto’) adalah masakan khas dari kota Makassar, Sulawesi Selatan. Tahun 1999 saya pernah ke kota ini, dan tuan rumah mengajak saya pada malam hari makan coto di Jalan Saddang. Ini pertama kali saya makan coto yang khas itu. Cotonya tidak dimakan dengan nasi seperti soto pada umumnya, tetapi dengan ketupat, dan ketupatnya tidak dipotong-potong seperti kita makan lontong atau sate Padang, tetapi disendok dari sarangnya dan dimasukkan ke kuah coto.

Di Bandung ada beberapa tempat yang menjual coto makassar, salah satunya di Stadion Persib jalan Ahmad Yani. Ada dua kedai coto di sana. Tidak jelas kenapa mereka buka kedai di stadion sepakbola, apakah ada hubungan antara penggemar sepakbola dengan coto? Atau penggemar Persib juga ada yang orang Makassar yang tinggal di Bandung?

Kemarin saya menyempatkan diri makan coto di stadion Persib. Kebetulan anak saya minta dibelikan kaos Persib dengan sablon tulisan namanya. Di halaman stadion banyak sekali pedagang kaos Persib berjejer. Setelah kaos selesai disablon, wah… perut udah lapar nih. Saya pun menuju kedai coto itu. Kedainya biasa-biasa saja.

Saya pesan satu porsi coto makassar. Pemilik kedai menyajikan semangkok coto dan sepiring ketupat. Ada juga jajanan khas Makassar lain seperti lepat bugis dan kue-kue. Selain coto, di kedai itu juga ada sop konro, es pisang hijau, es ballu batung (benar nggak tuh namanya?), dan sebagainya.

Hmm… sepintas coto makassar itu mirip seperti soto betawi, sama-sama berkuah santan. Bedanya, soto betawi kuahnya lebih putih, sedangkan coto makassar kuahnya berwarna agak kecoklatan karena kaya dengan bumbu dan rempah-rempah. Dagingnya daging sapi, kalau pakai jeroan juga boleh. Sebenarnya saya kurang suka makan daging (sapi), kalau ada coto makassar yang pakai daging ayam, saya lebih suka yang pakai ayam. Ada nggak ya coto makassar tapi pakai daginga ayam?

Coto makassarnya sudah dihidangkan pemilik kedai. Saya ambil dua buah ketupat yang sudah dibelah sedikit lalu saya sendok ketupatnya dan dimasukkan ke dalam kuah soto. Tambahkan sambal cabe rawit dan perasan jruk nipis, nyam nyam… yuk kita makan coto makassar.

Hmm… gurih juga cotonya, rasanya sama persis dengan yang saya makan di Makassar. Sambil makan ingatan saya melayang ke kota angin(g) mamiri ini. Makassar adalah kota terbesar di Indonesia Timur. Masyarakatnya dikenal ulet dan gigih. Mungkin karena cuacanya yang panas membuat orang di sini punya karakter agak keras. Di Bandung cukup banyak pendatang dari Makassar. Mahasiswa dari Makassar banyak yang kuliah di sini. Di Bandung ada asrama mahasiswa Latimojong yang khusus buat mahasiswa dari Sulawesi Selatan. Ada satu lagi asrama mahasiswa Makassar, tetapi saya lupa namanya dan alamatnya. Di ITB mahasiswa dari Sulawesi Selatan cukup banyak juga, bahkan ada unit kegiatan mahasiswa bernama Unit Kesenian Sulawesi Selatan (UKSS) di kampus Ganesha ini.

Cotonya hampir habis dimakan. Kurang afdhol rasanya makan coto tanpa minum es. Es apa lagi kalau bukan es pisang hijau. Ini dia esnya.

Pertama kali saya minum es pisang hijau di Pantai Losari. Pantai Losari adalah pantai yang terletak di sebelah barat kota Makassar. Pantai ini terkenal sebagai tempat rendevouz, jalan-jalan sore, dan cari angin segar dari laut. Ada jalan raya di tepi pantai ini. Sebenarnya kurang tepat disebut pantai sebab tidak ada pasirnya. Tapi kalau melihat sunset di sini sungguh indahnya. Di sepanjang pantai ini berjejer pedagang es pisang hijau. Es pisang hijau, disebut demikian, karena pisangnya diberi balutan tepung berwarna hijau. Pisang ini disiram dengan fla (semacam bubur sumsum encem), diberi susu, sirop, dan parutan es batu. Hmm… sedapnya (menirukan Upin dan Ipin :-) ).


(Pantai Losari, gambar diambil dari sini)

Di Bandung dan kota-kota lain di Pulau Jawa banyak gerai yang berjualan es pisang hijau. Yang terkenal adalah es pisang hijau Ala’Din dan sudah menjadi merek waralaba. Es pisang hijaunya sudah dimodifikasi sesuai dengan selera anak muda. Flanya ada berbagai pilihan rasa, rasa coklat, rasa durian, stroberi, vanila dan sebagainya. Ditambah dengan butiran meses coklat dan taburan kacang, maka rasanya memang sungguh menggoda. Tetapi es pisang hijau yang saya minum di stadion Persib itu asli seperti di Pantai Losari, belum dimodifikasi seperti Ala’Din itu.


(Gerobak es pisang ijo Aladin. Gambar diambil dari sini)

Satu mangkok coto makassar di kedai itu dijual Rp12.000/porsi, ketupatnya Rp1000/buah, dan es pisang hijaunya Rp6000. Sekali-kali saja makan coto, kalau bisa di kotanya langsung. Kapan ya jalan-jalan ke Makasar lagi.


Written by rinaldimunir

July 27th, 2010 at 8:25 am

Posted in Makanan enak

WiFu Cheat Sheet

without comments

Saya baru membuat cheat sheet yang cukup padat namun singkat untuk hacking wireless network dengan Aircrack-ng . Aircrack-ng adalah kumpulan tools yang digunakan untuk melakukan hacking terhadap jaringan wireless. Tools yang termasuk dalam aircrack-ng antara lain: airmon-ng, airodump-ng, aireplay-ng, packetforge-ng, aircrack-ng dan masih banyak lagi lainnya.

Pre-requisite:

  • Backtrack, nggak harus tapi very recommended
  • Wireless adapter dengan kemampuan packet injection. Saya pakai Alfa AWUS036H karena jangkauannya sangat jauh dan works out of the box di backtrack. Daftar lengkap wireless adapter yang compatible dengan backtrack bisa dilihat di daftar ini HCL: Wireless.

Cheat sheet ini mengcover sebagian besar kemungkinan situasi di dunia nyata. Skenario jaringan wireless yang bisa dihack dengan mengikuti cheat sheet ini adalah:

  • WEP open authentication dengan client atau tanpa client (clientless WLAN)
  • WEP shared key authentication (minimal harus ada 1 client)
  • WPA/WPA2 Pre Shared Key (minimal harus ada 1 client)

Hampir semua jaringan wireless yang ada sekarang masuk dalam 3 kemungkinan di atas. Jaringan dengan WEP, praktis bisa dihack semua. Jaringan dengan WPA/WPA2 bisa dihack dengan dictionary attack, jadi sangat tergantung daftar password yang dimiliki. Dalam cheat sheet saya juga menyertakan cara menggunakan john the ripper untuk generate password list atau melakukan modifikasi daftar password dasar menjadi kata baru berdasarkan aturan tertentu.

Oke, selanjutnya langsung saja download cheat sheetnya: WiFu Cheat Sheet 1.0

Written by Rizki Wicaksono

July 26th, 2010 at 2:24 pm

Posted in How to

Selingkuh = Tidak Jujur

without comments

Saya kira hanya kaum laki-laki saja yang suka berselingkuh, tetapi saya menemukan kasus ternyata perempuan juga melakukan hal ini. Teman saya yang saya kenal baik tidak disangka-sangka diselingkuhi oleh istrinya sendiri, tidak tanggung-tanggung kejadian perselingkuhan itu berlangsung bertahun-tahun. Saya hanya bisa meratapi nasibnya yang malang, dia terlalu innocent untuk ditipu oleh seorang perempuan. Cerita bergulir seperti layaknya sinetron, ada intrik harta di dalam perselingkuhan tersebut. Tetapi Tuhan masih baik kepadanya, semua kebusukan itu akhirnya terungkap juga, dan tanpa disangka-sangka informasi perselingkuhan itu justru diungkapkan oleh selingkuhan istrinya itu. Singkat kata, perceraian adalah jalan yang ditempuh oleh teman saya itu. Untunglah dia sekarang mendapat pengganti istri yang sholehah.

Ah, dunia ini dipenuhi dengan banyak kepalsuan. Banyak orang berpura-pura tampil baik, tetapi ternyata oh ternyata ia adalah musuh di dalam selimut. Saya sering menemui kasus perselingkuhan yang dialami oleh orang-orang yang saya kenal, baik kenal baik maupun kenal begitu-begitu saja, semuanya adalah kaum pria. Tidak disangka ternyata mereka melakukan perselingkuhan, padahal rumah tangganya sudah menghasilkan beberapa orang anak yang manis-manis.

Saya jadi hilang kepercayaan kepada orang-orang yang melakukan perselingkuhan. Menurut saya, mereka sudah berlaku tidak jujur, tidak jujur kepada diri sendiri dan tidak jujur kepada orang lain. Rasa hormat saya kepada mereka lenyap begitu saja. Bagaimana orang seperti itu diangkat menjadi pemimpin jika mengurus rumah tangganya saja dia tidak becus, kepada istri atau suaminya dia sudah mengibuli dengan bermain api dengan orang lain. Mereka — orang-orang yang melakukan perselingkuhan itu — tidak bisa dipercaya lagi.

Di Amerika yang kita anggap negara paling sekuler dan menghargai privasi, ternyata masih menempatkan aspek etika moral sebagai basis memilih pemimpin. Banyak calon presiden dan wakil presiden tumbang sebelum terpilih karena aib perselingkuhannya terkuak dan menjadi komoditas media massa. Bahkan presiden yang sedang menjabat pun ketika tersandung kasus perselingkuhan (ingat kasus Bill Clinton dengan Monica Lawrensky) mendapat kecaman luas dari publik Amerika. Mereka menuntut Bill Clinton mengundurkan diri dari jabatannya. Rakyat Amerika ternyata masih menghargai kejujuran, mereka tetap ingin presiden mereka adalah orang yang bersih dari skandal.

Cukuplah perilaku berselingkuh hanya milik kaum artis yang memang tidak jauh-jauh dari kawin cerai. Dunia artis adalah dunia yang penuh permisivisme, segala hal serba boleh untuk dilakukan mereka. Orang biasa seperti kita tidak perlu mencontoh perilaku buruk itu, sebab ajaran agama telah membentengi kita untuk menahan syahwat, selalu berlaku jujur, dan selalu ingat bahwa malaikat-Nya selalu mengawasi kita dan mencatat setiap perbuatan yang kita lakukan. Orang lain mungkin bisa dikelabui, tetapi dimanakah Allah? Allah SWT tidak pernah tidur dan tidak pernah mengantuk. Dia tidak bisa ditipu oleh makhluk-Nya.


Written by rinaldimunir

July 26th, 2010 at 9:13 am

Posted in Budi Pekerti

Yang Tersisa dari Wisuda ITB Juli 2010

without comments

Pada acara Wisuda tanggal 17 Juli kemarin, saya adalah salah satu pelakunya :-) . Nah, karena wisudawan S3 duduk pada barisan paling depan, saya sempat memotret momen-momen yang menarik.

1. Rektor ITB, Prof. Akhmaloka, memberikan pidato sambutan di atas podium. Pidato rektor ini lamaaaa… sekali, saya kira cukup membosankan. Lain kali pidatonya yang ringkas-ringkas saja ya, Pak. Oh ya, Pak Rektor membaca teks pidato yang sama dua kali, yang pertama pada wisuda hari Jumat dan yang kedua pada hari Sabtu. Moga-moga tidak bosan ya Pak membaca pidato yang sama dua kali. Rektor Unpad mah enam kali.

2. Masih ingat dengan mahasiswa saya, Ginan, Informatika 2006? Baca tulisan tentang Ginan di sini. Ginan juga diwisuda pada Hari Sabtu kemarin. Dengan keterbatasan yang dimiliki Ginan, tentu dia tidak bisa berjalan ke atas podium dan bersalaman dengan Rektor, Dekan STEI, dan Kaprodi Informatika. Maka, dengan senang hati Rektor dkk turun dari atas podium menyambut Ginan yang mendorong kursi rodanya, kemudian menyalami Ginan dengan hangat. Momen yang mengharukan, tepuk panjang dari hadirin pun membahana di gedung Sabuga melihat momen langka tersebut. Saya menitikkan air mata karena terharu. Ginan is my best student.

3. Beberapa tahun terakhir ini cukup banyak mahasiswa asing lalu lalang di ITB. ITB menerima mahasiswa asing sebagai konsekuensi dari globalisasi dan kampus bersakala dunia. Mahasiswa asing di ITB kebanyakan berasal dari Malaysia dan Afrika. Mahasiswa Malaysia di Indonesia biasanya mengincar Fakultas Farmasi dan Kedokteran. Di ITB, fakultas yang banyak menerima mahasiswa asing adalah Sekolah Farmasi, ada kelas internasionalnya di sana. Berapa SPP mahasiswa asing di ITB? Dari mahasiswa saya yang berasal dari Myanmar, saya dapat informasi dia membayar $4000 untuk kuliah di ITB (per semester atau per tahun itu ya?). Mahasiswa asal Malaysia yang banyak kuliah di ITB adalah dari keturunan India. Kita bisa mengenali mereka dari warna kulitnya (hitam) dan bintik merah di atas dahinya yang menandakan mereka orang Hindu. Mahasiswa Malaysia banyak kuliah di ITB salah satunya karena ada penerbangan langsung Kuala Lumpur – Bandung dengan pesawat Air Asia sebanyak 3 kali sehari, jadi mereka begitu mudah untuk pulang pergi Bandung – Kuala Lumpur kapan saja. Pada acara wisuda kemarin, saya sempat memotret seorang wisudawan Malaysia keturunan India yang datang dengan keluarga besarnya dari KL.

4. Meskipun wisuda pada Hari Jumat, dan Hari Jumat sering dianggap adalah hari yang pendek, namun tidak menghalangi Himpunan Mahasiswa untuk mengadakan acara penyambutan dan arak-arakan wisudawan. Arak-arakan dilakukan sesudah shalat Jumat. Tampak mahasiswa Teknik Planologi sedang bersiap menyambut para wisudawan Planologi.


Written by rinaldimunir

July 21st, 2010 at 9:09 am

Posted in Seputar ITB

Shalawat Tarhim – Desaku, Masa Kecilku

without comments

Ya Allah..ya Allah akhirnya ketemu yang dicari-cari. Mungkin bagi yang lahir dan besar di Jawa Timur, maka setiap menjelang adzan subuh, atau menjelang adzan maghrib, dan tentunya setiap menjelang shalat jum’at, dari langgar (surau-surau) dan masjid-masjid akan diperdengarkan shalawat Tarhim atau Tarhiman dalam bahasa Jawa. Shalawat Tarhim ini merupakan puisi karya Syaikh Mahmud al Khusairi yang berisi puji pujian untuk Rosululloh Muhammad SAW. Kaset yang diputar di surau biasanya adalah lantunan Syaikh Abdul Azis dari Mesir (CMIIW).

Pagi buta menjelang subuh, iramanya mendayu-dayu menyayat hati, saya ingat, iya ingat betul, dinginnya angin di pedesaan Kota Batu-Jawa Timur (desa Pandan tepatnya), semilir udaranya, dan aroma, aromanya saya ingat.

Ketika diputar menjelang maghrib, seolah-olah memanggil kami, anak-anak yang sedang asyik bermain untuk segera berangkat ke langgar (surau kecil dalam bahasa Jawa), belajar ngaji ke Wak Jamus, Lek Jamil, atau Wak Pi’an.

Di hari Jum’at, kumandang shalawat Tarhim menjadi penanda petani-petani untuk segera mentas, waktu kerja bagi buruh tani sudah habis, waktunya pulang, mandi bebersih, dan berangkat shalat Jum’at.

Inilah salah satu didikan yang membuat anak-anak desa seperti kami ini mencintai agama ini, mencintai kanjeng Nabi, bahkan teman-teman saya yang tak cukup tunai melaksanakan ibadah-ibadahnya, memiliki keterikatan hati yang kuat dan mencintai kanjeng Nabi, dan mencintai ulama-ulamanya, tidak akan rela dirusak agamanya (bisakah sekarang saudara bayangkan organisasi agama di Jawa Timur mempunyai akar yang kuat di orang-orang desa seperti kami).

Selalu sulit membendung air mata mendengarkan shalawat ini, banyak kenangan tersimpan bersamanya, desaku, masa kecilku, pengharapan pada mba nana, dan permohonan agar Allah memberikan umur dan kesempatan untuk mengabdi pada tanah air, membalas kebaikan atas tanah, air, udara, masa kecil, orang tua, tetangga, dan orang-orang yang berjasa membuat hidup ini bermakna.

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm
Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh
Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu
dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemulianmu
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.

Written by ibu didin

July 19th, 2010 at 1:03 pm

Wisuda ITB pun Sudah Dua Hari

without comments

Hari Sabtu 17 Juli 2010 saya akan mengikuti prosesi wisuda ITB. Saya diwisuda lagi untuk ketiga kalinya :-) . Wisuda kali ini agak berbeda karena dilaksanakan dalam waktu dua hari, hari Jumat dan Sabtu. Saya agak “beruntung” karena fakultas saya kebagian wisuda pada Hari Sabtu.

ITB tidak “sanggup” lagi mengadakan wisuda satu hari seperti yang selama ini berjalan. Jumlah wisudawan semakin banyak sebagai konsekuensi bertambahnya jumlah mahasiswa akibat penambahan prodi-prodi baru. Maka, pelaksanaan wisuda pun terpaksa dibagi menjadi dua hari. Wisuda Juli ini akan diikuti 1400-an lebih wisudawan. Jika dilaksanakan selama 1 hari saja (Hari Sabtu seperti yang sudah-sudah) maka bisa-bisa selesai sampai senja.

Saya kira hanya Unpad saja yang wisudanya tiga hari, sekarang ITB pun sudah ikut-ikutan. Di Unpad wisuda memang tiga hari berturut-turut, dan setiap hari ada dua kali wisuda (pagi dan siang). Jadi, total pelaksanaan wisuda selama 3 hari itu adalah 6 kali. Kebayang ya capeknya sang rektor memberi sambutan wisuda sebanyak 6 kali. Mungkin rektornya perlu merekam pidatonyo dalam bentuk video, lalu pada pelaksanaan wisuda ditayang ulang sebanyak enam kali, hi..hi.

Di ITB acara wisuda menjadi lama karena ITB tetap mempertahankan tradisi tatacara wisuda sejak zaman dulu, yaitu setiap wisudawan dibacakan namanya dan dipanggil ke depan untuk bersalaman dengan Kaprodi, Dekan, dan Rektor. Kebayang ‘kan jika 1400-an orang disebutkan namanya satu per satu dan berjalan ke depan podium untuk bersalaman, maka dibutuhkan waktu berjam-jam. Pasti tangan rektor pegal-pegal nih dan lecek karena bersalaman dengan orang sebanyak itu.

Selain alasan durasi waktu, yang utama adalah kapasitas gedung Sabuga tidak mencukupi untuk menampung wisudawan dan keluarga wisudawan sebanyak itu. Keluarga wisudawan yang boleh masuk hanya 2 orang. Jadi, jika ditotal dengan jumlah wisudawan yang 1400-an itu serta tamu undangan yang lain, maka jumlah orang yang akan ditampung bisa mencapai 5000-an.

Nah, Juli ini pembagian waktu wisudanya adalah berdasarkan fakultas. Fakultas FITB, FTTM, FSRD, SITH, dan SAAPK kebagian wisuda hari Jumat dari jam 8.00 hingga 11.00. Fakultas FMIPA, FTI, FTMD, FTSL, STEI, SBM dan SF kebagian hari Sabtu dari jam 9.00 hingga jam 13.00. Tampaknya fakultas mana yang kebagian hari Jumat dan fakultas mana yang kebagian hari Sabtu “disengaja” supaya tidak terjadi benturan (baca: tawuran) perayaan wisuda antar Himpunan mahasiswa yang selama ini diasosiasikan sering berantem. Jadi, Geologi, Tambang, Geodesi, dan Perminyakan tidak bakalan ketemu dengan Teknik Sipil atau Teknik Mesin. Mudah-mudahan saja dugaan saya salah. Kita semua satu ITB, jadi sesama ITB dilarang saling berantem, bukan?

Ke depan pelaksanaan wisuda tidak perlu dua hari, tetapi diadakan dua kali pada hari yang sama (hari Sabtu). Ronde pertama pagi jam 8 – 11, dan ronde kedua jam 13 – 16. Hari Jumat adalah hari yang pendek, karena terpotong dengan shalat Jumat. Jadi, agak kurang sreg saja arak-arakan wisuda atau perayaan wisuda oleh Himpunan mahasiswa sangat mepet dengan waktu shalat Jumat.


Written by rinaldimunir

July 15th, 2010 at 12:34 pm

Posted in Seputar ITB

Bersepeda di dalam Kampus, Yuk!

without comments

Hari Sabtu kemarin alumni ITB menyumbangkan 90 buah sepeda kepada pihak ITB. Seperti dikutip dari sini, sepeda kampus merupakan bentuk nyata dukungan terhadap ITB Ecocampus, cita-cita luhur untuk mengurangi emisi kampus.


(Foto diambil dari sini)

Sepeda-sepeda itu akan diletakkan di tempat-tempat strategis, dan siapapun (mahasiswa, dosen, karyawan) boleh memakainya untuk kebutuhan berlalu lalang di dalam kampus. Sepeda-sepeda itu tidak akan dikunci, jadi kalau anda nanti melihat sepeda dengan warna tertentu (kalau nggak salah oranye) sedang menganggur, anda boleh memakainya gratis. Tetapi sepeda-sepeda itu tidak boleh disimpan di tempat tertutup, harus diparkir di tempat umum.

Di ITB tempat parkir sepeda sudah setahun ini tersedia (baca tulisan saya yang ini). Jadi, dengan adanya sepeda kampus ini, sarana parkir sepeda ini akan makin optimal.


Hi..hi, asyikk…, nanti kalau saya mau ke Bank BNI, mau mengajar di GKU, atau pergi ke tempat teman di Prodi lain, saya tinggal cari sepeda yang lagi kosong, lalu bersepeda ria di dalam kampus. Sudah lama saya memendam keinginan bersepeda ke kampus, tetapi selalu saja ada alasan untuk tidak melakukannya, seperti tulisan saya yang ini.

Hanya saja saya agak sangsi dengan sepeda gratis ini. Sepeda itu tidak akan dikunci (ya iyalah, kalau terkunci menjadi tidak fleksibel memakainya, lebih repot urusan minta izinnya). Lha, setiap hari saja rata-rata satu motor di dalam kampus raib dijarah maling. Padahal itu motor dalam keadaan terkunci lho, kunci ganda lagi. Nah, apalagi sepeda kampus yang tidak dalam keadaan terkunci, apa tidak membuat para maling makin kegirangan? Tinggal bawa mobil ke dalam kampus, lalu sikat sepeda yang tidak terkunci itu, simpan di dalam bagasi mobil, beres. Semoga sistem keamanannya juga dipikirkan.

Terlepas masalah teknis penggunan sepeda, terus terang saya mendukung keberadaan sepeda kampus ini. Ecocampus atau green campus atau apalah namanya. Ketimbang menyediakan bis kampus yang lalu lalang membawa penumpang dari satu titik ke titik lain di dalam kampus (seperti bis kampus UI itu), lebih baik menyediakan sepeda. Tidak ada polusi, dan yang paling penting menyehatkan badan.

Selain sepeda, saya lebih suka orang-orang di dalam kampus berjalan kaki. Jalan kaki itu juga menyehatkan. Kampus ITB ini luasnya kecil, jadi kemana-mana bisa dicapai dengan jalan kaki saja.

Nah, itu kan kampanye sepeda di dalam kampus, sekarang bagaimana menghimbau para mahasiswa supaya tidak bawa motor dan mobil ke kampus? Kos-kosan mereka relatif dekat dengan kampus, jadi kenapa harus bawa mobil atau motor? Pakai sepeda atau jalan kaki saja, sederhana dan sehat. Kampus ITB dan sekitarnya sudah sumpek dengan mobil-mobil mahasiswa yang makin banyak saja jumlahnya.


Written by rinaldimunir

July 14th, 2010 at 4:00 pm

Posted in Seputar ITB