if99.net

IF99 ITB

Archive for May, 2010

Rahasia Umur Panjang Mak Otjas

without comments

Sensus Penduduk tahun 2010 ini memang banyak menghasilkan kejutan. Salah satunya adalah ditemukannya penduduk yang berumur lebih dari 100 tahun. Kalau berumur 100 hingga 110 tahun bukan hal yang aneh, tetapi kalau berusia 140 tahun? Ini baru berita. Nabi Muhammad saja umurnya hanya 63 tahun, sedangkan Mak Otjas ini dua kali lebih umur Nabi. Benar-benar Mak Otjas mendapat rahmat umur panjang dari Allah SWT.

Petugas Sensus di Kabupaten Garut menemukan seorang warga yang berumur 140 tahun. Namanya Mak Otjas. Seperti yang diberitakan oleh koran PR ini:

Mak Otjas kini tinggal bersama cucunya. H. Asep Gozali (45), yang juga merupakan Kepala Desa Cibiuk Kaler. Berbeda dengan anaknya yang sudah sakit-sakitan, kondisi kesehatan Mak Otjas justru terbilang cukup baik. Di usia yang ratusan tahun ini, Mak Otjas masih dapat beraktivitas seperti layaknya orang berusia 50-60 tahunan. Bahkan, ia masih senang jalan-jalan keluar rumah untuk menghirup udara segar di sekelilingnya. Mak Otjas belum pikun. Semua organ tubuhnya, mata, hidung, mulut, tangan, dan lainnya masih berfungsi dengan normal.

Apa rahasia umur panjang Mak Otjas?

Rahasianya adalah shalat malam dan pola hidup sehat, terutama makanan yang sehat, dan berolah raga, serta ditambah secangkir besar kopi hitam hasil gilingan sendiri.

“Jam setengah dua subuh tos lilir, geura gugah langsung solat Tahajud.
Lamun siang, seueur ngaos Alquran sabari gegeroh di bumi (Pukul 1.30 WIB bangun, langsung salat Tahajud. Kalau siang, perbanyak membaca Alquran sambil bekerja di rumah). Lamun kopi, karaosna seger we,” ucapnya.

Mak Otjas terbiasa menggerakkan tubuhnya dalam keseharian, di antaranya menyapu halaman rumah serta mencuci piring. Bahkan, dedaunan dan bunga yang tertutupi debu sering kali dilapnya hingga bersih.

Selain itu, dia tak pernah menggunakan bumbu penyedap MSG untuk makanan, bahkan tak pernah mengonsumsi baso yang dinilainya mengandung bahan pengawet.

Pengalaman Mak Otjas sekali kagi membuktikan bahwa pola hidup adalah kunci untuk selalu sehat dan mempunyai peluang besar untuk berumur panjang. Makan selalu yang sehat, tidak lupa bergerak setiap hari, dan selalu menegakkan shalat malam.

Itulah pelajaran berharga dari kisah hidup Mak Otjas.


Written by rinaldimunir

May 31st, 2010 at 1:55 pm

Posted in Gado-gado

nyam nyam… aku udah bisa makan sendiri

without comments

:  Full album here: http://picasaweb.google.co.uk/veriyanta/Oreen#

Written by Veriyanta Kusuma

May 30th, 2010 at 11:28 am

Posted in Uncategorized

nyam nyam… aku udah bisa makan sendiri

without comments

:  Full album here: http://picasaweb.google.co.uk/veriyanta/Oreen#


Written by Veriy

May 30th, 2010 at 11:28 am

Posted in Uncategorized

Nasib Kota Pelesiran

without comments

Beginilah kota Bandung pada saat long weekend, bertepatan dengan libur hari raya Waisak. Macet sangat parah. Ratusan ribu kendaraan dari arah Jakarta menyerbu kota ini. Susah sekali bergerak di pusat kota, dimana-mana macet dan banyak kendaraan. Hari ini saya datang ke kampus karena ada sedikit keperluan, eh… ternyata mulai dari kawasan Dago hingga jalan-jalan di sekitar kawasan kampus ITB susah sekali melewati kendaraan yang terjebak macet. Jalan Ciung Wanara yang sehari-hari sepi mendadak susah dilalui tadi siang (gambar di bawah).

Pada saat yang sama ribuan siswa SMA dari seluruh Indonesia (terutama dari Jabotabek) baru saja keluar dari kampus sehabis mengikuti ujian masuk ITB (USM-PMBP). Orangtua mereka menunggu di luar dengan memarkirkan mobilnya di jalan-jalan yang sempit itu. Meskipun ITB turun peringkat pada sususan world top university yang dirilis baru-baru ini, hal itu tidak menyurutkan minat siswa-siswa SMAi untuk mencoba berjuang masuk ITB. Itu artinya kepercayaan masyarakat kepada ITB tidak berubah hanya karena peringkat yang tidak ‘adil’ itu (disebut tidak adil karena lembaga pemeringkat menyamaratakan universitas umum dengan institut yang spesifik).

Oke, kembali kepada masalah kemacetan tadi. Di Bandung ada Jalan Pelesiran yang sekarang menjadi kawasan kos mahasiswa. Jalan ini kecil saja dan agak menurun. Letaknya di depan PDAM di Jalan Tamansari. Asal mula nama ini karena di dekat jalan ini ada Kebun Binatang Bandung. Ke bonbin inilah warga indo-Belanda dan warga Bandung zaman dulu bergi berekreasi alias jalan-jalan alias pelesir. Pelesir artinya pergi bersenang-senang. Hingga hari ini kawasan kebun binatang yang terletak di sebelah kampus ITB tetap menjadi kawasan pelesir bagi warga menengah ke bawah.

Begitu pula kota Bandung saat ini, menjadi tempat pelesir warga Jakarta. Tujuan mereka ke Bandung apalagi kalau bukan untuk makan dan belanja. Kalau wisata alam kan hanya itu-itu saja, tetapi kalau soal makanan memang kreativitas orang Bandung tidak habis-habisnya, dan itulah yang membuat orang Jakarta tidak pernah bosan datang ke sini. Biarpun jalan di Bandung sudah bolong-bolong dan banyak yang rusak, mereka nggak jera datang. Dari sisi ekonomi kehadiran wisatawan Jakarta itu ke Bandung menggerakkan sendi-sendi ekonomi kota, mulai dari tempat penginapan, restoran, rumah makan, pedagang pakaian, pedagang oleh-oleh, hingga pedagang makanan. Negatifnya hanya satu yaitu kemacetan yang parah itu. Itulah menu orang Bandung pada saat akhir pekan, terutama pada saat long weekend ini.

Pada masa-masa yang akan datang begini teruslah nasib kota yang cantik ini setiap akhir pekan. Kota yang didesain Belanda hanya untuk 800 ribu penduduk, sekarang sudah dipadati oleh 2 juta jiwa, dan pada akhir pekan mungkin bisa mencapai 3 juta jiwa.


Written by rinaldimunir

May 29th, 2010 at 3:32 pm

Posted in Seputar Bandung

Eclipse: Copy Qualified Java Name

without comments

Eclipse has a nice feature to copy qualified name from a resource and this is very useful to create documentation or working with XML. For example:

Say that I need the full qualified name from class CaseFormat. What I have to do is:

  1. Click on + beside CaseFormat.java.
  2. Right click on CaseFormat (not CaseFormat.java).
  3. Select Copy Qualified Name.
  4. There you go, you can paste the full qualified name of class CaseFormat anywhere you want.

But that’s kind of a lot of steps, isn’t it?

OK… you can create a keyboard shortcut for Copy Qualified Name but still you have to expand CaseFormat.java before you can do that. If you don’t expand the *.java node what you’ll get is: ‘/guava/src/com/google/common/base/CaseFormat.java’ instead of ‘com.google.common.base.CaseFormat’.

This problem is kind of annoying and if you have to do this a lot of time, will certainly damage your productivity.

So here is a tiny plugin to solve the problem.

com.satukubik.copyqualifiedname_1.0.0

You can download it, save it to your dropins folder, and restart Eclipse. After that a shortcut Ctrl+Shift+C is available for you to copy qualified java name without having to expand the *.java node.

For those who are curious, I’ve put the source code of the plugin here: http://code.google.com/a/eclipselabs.org/p/copyqualifiedjavaname/. Feel free to clone, suggest improvement, or report a bug.

Related posts:

  1. My top Eclipse keyboard shortcut
  2. Eclipse plugin: Introduce Static Imports
  3. Maven Plugin: Java Code Formatter

Eclipse: Copy Qualified Java Name originally appeared on satukubik on May 26, 2010.

Written by Nanda Firdausi

May 26th, 2010 at 5:44 pm

MS Word: ‘Paste text without formatting’ keyboard binding

without comments

It’s very annoying if you have to copy text from website or other places to email or you document and get the text formatted like it is on the website. Yes there is option to paste text without formatting in the menu but to get there you have to open dialog and so on and so on.

This document shows you how to create a keyboard binding for ‘Paste text without formatting’ in Microsoft Word 2000 and above. I will just copy the information here.

First we need to create the macro:

To create the macro to cut and paste without formatting

  1. Start Word.
  2. On the Tools menu, point to Macro, and then click Macros to display the Macros dialog box.
  3. In the Macro name box, type PasteUnformattedText.
  4. Make sure that All active templates and documents is displayed in the Macros in list, and then click Create. The Microsoft Visual Basic® Editor is displayed.
    Note If you need to learn about the Visual Basic Editor, see the Power User Corner column Managing Macros with the Visual Basic Editor.
  5. Directly above the End Sub statement in the PasteUnformattedText subroutine, type the following line of code:
    Selection.PasteSpecial DataType:=wdPasteText
    
  6. On the File menu, click Close and Return to Microsoft Word.

And now how to create the keyboard binding. Instead of Ctrl+V that is shown in the article, I will make my keyboard binding for the macro Ctrl+Shift+V.

To create the keyboard binding

  1. On the Tools menu, click Customize.
  2. Click the Keyboard button.
  3. Make sure the Save changes in box displays Normal.dot.
  4. In the Categories list, click Macros.
  5. In the Macros list, click PasteUnformattedText.
  6. Click in the Press new shortcut key box, press and hold the CTRL and Shift key, and then press and hold the V key at the same time. The Press new shortcut key box displays Ctrl+Shift+V.
  7. Click Assign. Click Close and then click Close again.

That’s it… now you can press Ctrl+Shift+V to paste text without formatting easily.

Related posts:

  1. My top Eclipse keyboard shortcut
  2. Eclipse 3.3 Live Rename Refactoring
  3. Mac keyboard cheat sheet

MS Word: ‘Paste text without formatting’ keyboard binding originally appeared on satukubik on May 26, 2010.

Written by Nanda Firdausi

May 26th, 2010 at 5:28 pm

Kemana Burung Koak Malam Pergi?

without comments

Sudah lama saya tidak melihat burung koak malam berterbangan di atas pohon-pohon di Jalan Ganesha. Burung yang selalu berbunyi “koak… koak” pernah menjengkelkan banyak orang, khususnya yang sering melewati Jalan Ganesha. Kita akan diberi oleh-oleh “bom” oleh burung-burung itu. Pakaian kena bom, kendaraan kena bom. Jalan Ganesha menjadi putih saking banyaknya kotoran burung itu berjatuhan. Kotoran burung koak yang saya sebut bom tadi berwarna putih dan yang jelas… bau (baca tulisan saya yang terdahulu tentang burung koak ini).

Sudah banyak cara dilakukan untuk mengusir burung-burung itu dari pohon-pohon di Jalan Ganesha dan sekitarnya. Mulai dari bunyi-bunyian, tetabuhan, memakai ular (hii…), hingga menebang pucuk-pucuk pohon. Tapi burung-burung itu tetap bergeming, tidak mau meninggalkan tempat hidupnya yang nyaman.

Nah, entah kenapa beberapa bulan ini saya tidak mendengar lagi suara burung-burung itu. Tiba-tiba saya kok jadi kangen ya mendengar suaranya yang berbunyi “koak…koak” itu sambil terbang ke sana kemari menjelang sore hari. Kemana ya burung-burung ini pergi? Sudah bosankah mereka dengan warga ITB yang selalu kesal dengan kehadiran mereka? Aneh benar manusia ini, ketika yang “dibenci” tidak ada, dia rindu, tetapi ketika yang “dibenci” itu ada di dekatnya, dia tidak suka.

Mungkin burung-burung ini tahu diri kalau kehadirannya di sekitar Jalan Ganesha tidak diinginkan. Tamu tidak diundang. Mungkin juga karena cukup banyak masalah yang dialami ITB akhir-akhir ini (plagiarisme, rasisme, penurunan ranking) sehingga burung-burung itu merasa tidak nyaman sehingga dia berimigrasi ke negara yang aman? Tak tahulah awak.


Written by rinaldimunir

May 26th, 2010 at 11:19 am

Posted in Seputar ITB

Tips: Membuat Kuah Sop

without comments

Ini kuah sop (Indonesia) bukan sup (barat, yang kentel2 tea) ^_^
Tips singkat untuk kuah yang sedap, bening, dan lembut (rasa tidak terlalu meledak-ledak). Tentunya dari guru saya ibu Enita Sriyana (ngaku-ngaku, padahal bergurunya lewat acara ‘Santapan Nusantara’ di TPI yang sudah tayang selama lima belas tahun sejak 1995 klo tidak salah, bravo!).

Nah membuat kuah sopnya mudah:

- didihkan air

- masukkan tulang ayam kalau mau kuah kaldu ayam, atau tulang ikan kalau kaldu ikan, atau tulang sapi. Kalau saya memasukkan ayamnya sekalian untuk sop, kalau di Belanda pake soup kip (mirip ayam kampung di Indonesia).

- masukkan jahe di geprek

- nah ini dia rahasianya: masukkan bawang bombai, belah jadi dua, plus seledri yg diikat, dan bu Enita jg menambahkan satu batang wortel utuh (untuk menyerap bau2an katanya) kdang saya tidak pake wortel juga enak.

- tanpa bawang putihpun sudah sedap (saya juga tidak pakai biar tidak keruh), tatapi kalau mau jg bisa, tapi jangan banyak2 biar tidak menyengat, cukup 2-3 siung peprek.

- tambahkan garam, dan merica kalau suka

- kalau mau penyajian yang bagus bisa disaring kuahnya, tambahkan irisan daun bawang, dan atau bawang goreng, tetapi kalau saya tanpa disaringpun sudah lahap he..he..

Selamat mencoba ^_^

Kuah sop ini bisa dipakai untuk sop sayuran, sop daging, kuah baso, mba nana suka sekali dengan sayur sop berkuah.

Written by ibu didin

May 25th, 2010 at 7:07 pm

Posted in Dapur DKM,kuah sop

Ayam Bakar Selera

without comments

Resep ini inspirasi dari teman pengajian saya dulu di Bandung, beliau keturunan Arab yang mempunyai usaha katering, sewaktu kita ada acara rihlah dibawakan ayam bakar yang bagi saya pas rasanya, berbumbu (tidak terlalu ringan seperti resep lain yang juga akan saya tulis paling bawah), agak ke rendang tapi tidak seberat rendang. Rasa ayam bakar pada acara waktu itu terngiang-ngiang terus, dan setelah mendapat cerita singkat dari teman tersebut, langsung praktek, prakteknya berkali-kali karena menjadi salah satu favorit keluarga ^_^

Untuk 1 kilogram ayam potong besar jadi 8 misalnya.
Tips: untuk ayam bakar hindari memakai paha bawah (ga apa2 kalau suka), tetapi paha bawah suka gampang pecah ketika diungkep. Saya lebih memakai bagian sayap utuh (pangkal sayap dan sayapnya). Sehingga ayam bakar telihat mantap/besar tp gurih karena bagian sayap tsb.
Bumbu :
bawang putih 5-7 siung
bawang merah klo yg bonggol besar disini cukup 1- 2 butir besar saja
kemiri 5-7 butir
cabe merah besar/cabe tanjung, ini harus ada : 7 buah
ketumbar, kita pake yg bubuk 1 sendok makan
merica, sedikti saja 1/2 – 1 sendok teh
1-2 ruas jari jahe
Kecap.
Blender saja semuanya dg air/minyak secukupnya
Panaskan minyak untuk menumis, tumis bumbu halus sampe bener-bener mateng, tambahkan bbrp lembar daun jeruk dan 1 batang sereh, garam, kaldublok/penyedap. Tambahkan santang 250cc dan air sekitar 100cc. Aduk hingga mendidih sekali. Tambahkan kecap 3 sendok makan.
Masukkan ayamnya seperti pas kita ngungkep ayam goreng. Terakhir ketika air hampir habis masukkan kecap lagi seseleranya, 3-5 sendok makan.
kalau mau ayam bakar pedes, kecapnya dicampur dulu dengan cengek/cabe rawit hijau yg dicincang, masukkan tambah wangi ayam bakarnya.
Kalau air benar2 habis, angkat, tidak perlu langsung dibakar semuanya, bisa disimpan di kulkas untuk beberapa hari awet.
Cara Membakar :
- diatas kompor biasa bisa, tapi resikonya kompor jadi kotor, lengket, sebab minyaknya dan bumbunya ayam bisa jatuh/keluar
- panggangannya apa aja asal membuat kompor tetap bersih, ayam ini klo mau dipanggang di oven jg tetap enak.
- panggangan bisa yg pake arang, bisa yg listrik, bisa yang diatas kompor, apa saja
Ada resep ayam bakar lain yang lebih light rasanya, karena bumbunya jg simpel:
- bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe <– blender/haluskan
- tumis dg minyak panas, tambahkan garam, merica, ungkep dg air secukupnya
- air tinggal setengahnya  masukkan kecap manis
- ayam empuk, air dah habis, masukkan bbrp sendok makan mentega, ini bikin wangi dan lbh enak, klo mau jg bisa ditambahkan kecap lagi
- panggang seperti diatas.
Selamat mencoba ^^

Bahan:

Untuk 1 kilogram ayam potong besar jadi 8-10 misalnya.

Tips: untuk ayam bakar hindari memakai paha bawah (ga apa2 kalau suka), tetapi paha bawah suka gampang pecah ketika diungkep. Saya lebih suka memakai bagian sayap utuh (pangkal sayap dan sayapnya). Sehingga ayam bakar telihat mantap/besar tp gurih karena bagian sayap tsb.

Bumbu :

bawang putih 5-7 siung

bawang merah klo yg bonggol besar disini cukup 1- 2 butir besar saja

kemiri 5-7 butir

cabe merah besar/cabe tanjung, ini harus ada : 7 buah

ketumbar, kita pake yg bubuk 1/2 – 1 sendok makan

merica, sedikti saja 1/2 – 1 sendok teh

1-2 ruas jari jahe

Kecap.

Blender saja semuanya dg air/minyak secukupnya

Cara Membuat:

Panaskan minyak untuk menumis, tumis bumbu halus sampe bener-bener mateng, tambahkan bbrp lembar daun jeruk dan 1 batang sereh, garam, kaldublok/penyedap. Tambahkan santan 250 cc dan air sekitar 100 cc. Aduk hingga mendidih sekali. Tambahkan kecap 3 sendok makan.

Masukkan ayamnya seperti pas kita ngungkep ayam goreng. Terakhir ketika air hampir habis masukkan kecap lagi seseleranya, 3-5 sendok makan, atau sesukanya.

kalau mau ayam bakar pedes, kecapnya dicampur dulu dengan cengek/cabe rawit hijau yg dicincang, masukkan tambah wangi ayam bakarnya.

Kalau air benar2 habis, angkat, tidak perlu langsung dibakar semuanya, bisa disimpan di kulkas untuk beberapa hari awet.

Cara Membakar :

- diatas kompor biasa bisa, tapi resikonya kompor jadi kotor, lengket, sebab minyaknya dan bumbunya ayam bisa jatuh/keluar

- panggangan bisa yg pake arang, bisa yg listrik, bisa yang diatas kompor, apa saja

Ada resep ayam bakar lain yang lebih light/ringan rasanya, karena bumbunya jg simpel:

- bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe <– blender/haluskan

- tumis dg minyak panas, tambahkan garam, merica, ungkep dg air secukupnya

- air tinggal setengahnya  masukkan kecap manis

- ayam empuk, air dah habis, masukkan bbrp sendok makan mentega, ini bikin wangi dan lbh enak, klo mau jg bisa ditambahkan kecap lagi

- bakar seperti diatas.

Selamat mencoba ^_^

Written by ibu didin

May 25th, 2010 at 6:03 pm

Posted in ayam bakar,Dapur DKM

Yuk, ada yang mau gabung tebar jilbab cilik ?

without comments

Written by ibu didin

May 25th, 2010 at 3:04 pm