if99.net

IF99 ITB

Archive for April, 2010

What Veriy say (or heard, or thought) 2010-04-26 14:08:00

without comments

Rearranging my blog! http://veriy.net


Written by Veriy

April 26th, 2010 at 2:08 pm

Posted in Uncategorized

Nama-nama yang Indah dan Nama Terpendek

without comments

Ketika iseng-iseng membaca daftar nama murid baru yang diterima di SD tempat anak saya sekolah, saya menemukan fenomena yang menarik. Orangtua zaman sekarang memberi nama anaknya dengan nama-nama yang bagus, minimal 3 kata. Coba perhatikan nama-nama berikut:
1. Fathia Zakhlativa Ayunnisa
2. Muhammad Daffa Habiburrahman
3. Rayhan Fathurrohman Kautsar
4. Nabila Khairunnisa Nur Hasanah

Wah.. wah, sungguh kreatif para orangtua memberi nama anaknya. Bagi orangtua muslim ada kesadaran untuk memberi nama anak dengan nama yang islami. Nama pada hakekatnya adalah doa atau harapan yang didambakan orangtua terhadap anaknya. Memberi anak dengan nama yang baik diharapkan anak tersebut menjadi anak yang shaleh. Apakah harta yang paling berharga di dalam hidup ini selain memiliki anak yang shaleh? Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan bahwa bila seseorang sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: (1) Ilmu yang bermanfaat, (2) sedekah jariyah, dan (3) anak shaleh yang mendoakan ibu bapaknya.

Memberi nama pada anak memiliki masa pasang surut. Orangtua zaman dahulu sering memberi nama anak dengan nama yang pendek dan umum seperti Suparni, Hartini, Saifuddin, Sugeng, Urip, Harsono, dan sebagainya. Tetapi, dengan semakin majunya tingkat pendidikan dan adanya kesadaran bergama banyak orangtua memberi nama anak dengan nama yang lebih panjang dan dikaitkan dengan nilai-nilai agama seperti nama-nama yang saya sebutkan di atas.

Memberi nama pada anak juga dikaitkan dengan nama populer saat itu. Ketika grup nasyid Rayhan dari Malaysia sedang naik daun, banyak orangtua memberi nama anaknya dengan Rayhan dan dipadukan dengan beberapa kata seperti Muhammad dan beberapa kata yang lain. Ingat Teuku Rafli, mantan suami dari Tamara Bleszinsky? Ketampanan Rafli dan keharmonisan Rafli – Tamara (dulu) membuat banyak orangtua kepincut sehingga memberi memberi nama anaknya juga Rafli. Selain Rafli ada juga nama Farhan yang diambil dari presenter terkenal, atau nama Tasya yang diambil dari nama penyanyi cilik Tasya, atau nama Amanda yang diambil dari nama pemain di sebuah film serial. Tidak terhitung orangtua memberi anak dengan nama Daffa, Nabila, Salsabila, Annisa, Tasya, Amanda, dan sebagainya. Di sekolah anak saya menemukan banyak sekali anak yang memiliki nama Daffa, Rayhan, Farhan, atau Nabila.

Ketika anak saya lahir, saya juga hunting mencari nama. Kadang-kadang nama-nama mahasiswa saya di dalam daftar absensi juga menjadi sumber inspirasi karena nama-nama mahasiswa saya juga banyak yang bagus-bagus, he..he… (buka rahasia nih)

Nama ada yang pendek dan ada yang panjang. Nama terpanjang di dunia adalah dari Inggris yaitu Autumn Sullivan Corbett Fitzsimmons Jeffries Hart Burns Johnson Willard Dempsey Tunney Schme ling Sharkey Carnera Baer Braddock Louis Charles Walcott Marciano Patterson Johansson Liston Clay Frazier Foreman Brown.

Lalu siapa yang memiliki nama terpendek di dunia? Itulah nama dua orang anak di ranah minang di Sumatera Barat, tepatnya di Jorong Kubu Gadang, Nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, sekitar 150 Km dari Padang. Nama orang itu hanya satu huruf saja, yaitu “O”. Adiknya yang laki-laki bernama “Z”, tetapi Z masih bisa dieja dengan tiga huruf yaitu “Zet”. Baca beritanya di koran lokal Singgalang, Padang. Unik dan langka. Saya bisa membayangkan di ijazah anak itu hanya tertulis O saja di kolom nama. Satu bulatan besar nama O dalam sebuah jazah yang berbunyi begini: Kepala Sekolah SD Negeri xxx menyatakan bahwa O telah menyelesaikan …. (bla.. bla..bla). Unik dan langka. Adakah itu masuk guiness book of record?


Written by rinaldimunir

April 26th, 2010 at 9:29 am

Posted in Gado-gado

Visual Editor in Eclipse Galileo

without comments

For a long time I have tried to install Visual Editor into my Eclipse Galileo and never get it work until recently.

The secret is explained in the Wiki:

With “Eclipse IDE for Java EE Developers”, you should NOT check the Java EMF Model Utilities (org.eclipse.jem.util) plugins since there are already installed.

Ugh… I think I have tried it before but why only now it is working? Anyway, I’m glad that I have it.

For those who are not aware, Visual Editor is an GUI editor for Eclipse. It can be used to assist Swing or SWT application creation. I never like Netbeans Matisse or SWT Designer because I can’t modify the code like I want. I know that Visual Editor is pretty slow, but to get a code that I can enhance manually tastes better than the alternative.

And more importantly, I like the way it codes my Swing application. Here’s an example:

import java.awt.BorderLayout;

import javax.swing.JButton;
import javax.swing.JFrame;
import javax.swing.JLabel;
import javax.swing.JPanel;
import javax.swing.JSlider;
import javax.swing.JTextField;
import javax.swing.SwingConstants;

public class TTT extends JFrame {

   private static final long serialVersionUID = 1L;
   private JPanel jContentPane = null;
   private JLabel jLabel = null;
   private JButton jButton = null;
   private JTextField jTextField = null;
   private JSlider jSlider = null;

   /**
    * This is the default constructor
    */
   public TTT() {
      super();
      initialize();
   }

   /**
    * This method initializes this
    *
    * @return void
    */
   private void initialize() {
      this.setSize(300, 196);
      this.setContentPane(getJContentPane());
      this.setTitle("JFrame");
   }

   /**
    * This method initializes jContentPane
    *
    * @return javax.swing.JPanel
    */
   private JPanel getJContentPane() {
      if (jContentPane == null) {
         jLabel = new JLabel();
         jLabel.setText("JLabel");
         jContentPane = new JPanel();
         jContentPane.setLayout(new BorderLayout());
         jContentPane.add(jLabel, BorderLayout.CENTER);
         jContentPane.add(getJButton(), BorderLayout.EAST);
         jContentPane.add(getJTextField(), BorderLayout.SOUTH);
         jContentPane.add(getJSlider(), BorderLayout.NORTH);
      }
      return jContentPane;
   }

   /**
    * This method initializes jButton
    *
    * @return javax.swing.JButton
    */
   private JButton getJButton() {
      if (jButton == null) {
         jButton = new JButton();
         jButton.setHorizontalAlignment(SwingConstants.TRAILING);
         jButton.setText("Test");
         jButton.addActionListener(new java.awt.event.ActionListener() {
            public void actionPerformed(java.awt.event.ActionEvent e) {
               System.out.println("actionPerformed()"); // TODO Auto-generated Event stub actionPerformed()
            }
         });
      }
      return jButton;
   }

   /**
    * This method initializes jTextField
    *
    * @return javax.swing.JTextField
    */
   private JTextField getJTextField() {
      if (jTextField == null) {
         jTextField = new JTextField();
         jTextField.addKeyListener(new java.awt.event.KeyAdapter() {
            @Override public void keyTyped(java.awt.event.KeyEvent e) {
               System.out.println("keyTyped()"); // TODO Auto-generated Event stub keyTyped()
            }
         });
      }
      return jTextField;
   }

   /**
    * This method initializes jSlider
    *
    * @return javax.swing.JSlider
    */
   private JSlider getJSlider() {
      if (jSlider == null) {
         jSlider = new JSlider();
      }
      return jSlider;
   }

} // @jve:decl-index=0:visual-constraint="10,10"

See how it creates a getter for every components? The getter should prepare a component with its properties and also its listener initialization. It makes every method pretty small and readable. There is no long methods with several components and listeners initialization.

Related posts:

  1. Eclipse plugin: Introduce Static Imports
  2. SWT: Composite as filler
  3. What are the important improvements on Eclipse Galileo 3.5 (for me)

Visual Editor in Eclipse Galileo originally appeared on satukubik on April 23, 2010.

Written by Nanda Firdausi

April 23rd, 2010 at 8:04 pm

Why comments are evil…

without comments

We’ve heard a lot of times that comments are considered as an evil. And yet we always found a way to say, ‘but in particular case, comments can be very useful’.

Should we use comments at all?
Of course!!!!!!! My mistake was to name the commandment “Comments are evil”, is just a guideline, as any other principle you apply in software development, sometimes we just produce crappy code, for many reasons, we are under pressure, we don’t know the technology we are working with… Then for the love of god, use comments!! There are other times where we have prodcuded good code wich has a few comments, that’s fine, we cannot always look for the perfection. What “comments are evil” really means is that you should always push yourself to use as few comments as possible, not because you are lazy, but because they are not necessary.

And yet I find it’s hard to take when I explored the code of Eclipse:

...
package org.eclipse.jface.preference;

...

/**
 * A special abstract preference page to host field editors.
 * <p>
 * Subclasses must implement the <code>createFieldEditors</code> method
 * and should override <code>createLayout</code> if a special layout of the field
 * editors is needed.
 * </p>
 */
public abstract class FieldEditorPreferencePage extends PreferencePage
        implements IPropertyChangeListener {
...

Particularly this sentence: and should override createLayout if a special layout of the field editors is needed.

WHY? Because there is no createLayout in the class, not even in the parent class, not in the interface, not anywhere.

So, let’s just code a better code, won’t you?

PS: Just in case anyone curious, the Eclipse version is 3.5.2.
PS 2: Don’t comment this blog post! :P

Related posts:

  1. Don’t be evil
  2. What are the important improvements on Eclipse Galileo 3.5 (for me)
  3. Eclipse plugin: Introduce Static Imports

Why comments are evil… originally appeared on satukubik on April 22, 2010.

Written by Nanda Firdausi

April 22nd, 2010 at 2:13 pm

Selamat Tinggal Kereta Api Parahyangan

without comments

Kereta Api (KA) Parahyangan yang setia menjalani rute Bandung – Jakarta pulang pergi akan berakhir pengoperasiannya pada bulan April ini. PT KAI tidak akan mengaktifkan kereta api ini lagi karena secara operasional terus merugi akibat sepi penumpang (baca beritanya di sini). Sejak dibukanya jalan tol Cipularang memang kereta api mulai ditinggalkan orang. Mobil-mobil travel menjamur di kota Bandung karena jarak Bandung – Jakarta hanya ditempuh 2 hingga 2,5 jam saja, sedangkan jika dengan kereta api menempuh waktu 3 hingga 3,5 jam.


(Gambar diambil dari sini)

Tidak ada sarana transportasi yang memiliki ikatan emosional begitu dalam dengan penumpangnya selain kereta api. Mungkin karena kereta api berjalan secara eksklusif di jalur khusus (rel) sehingga tidak pernah macet. Selain itu perjalanan dengan kereta api terasa menyenangkan, nyaman, dan banyak kisah serta cerita yang terekam selama perjalanan. Bagi anak-anak kereta api adalah kendaraan yang mempesona karena bentuknya yang panjang. Coba pikir, adakah lagu anak-anak yang bercerita tentang mobil, kapal, atau pesawat? Tidak ada. Yang ada malah lagu “Naik Kereta Api” yang legendaris itu.

Mendengar KA Parahyangan akan dihentikan saya ikut merasa sedih. Kenapa? Saya adalah penumpang setia kereta api ini kalau mau pergi ke Jakarta atau balik ke Bandung dari Jakarta. Dulu waktu saya masih mahasiswa saya hanya mampu naik bus dari Bandung ke Jakarta karena naik kereta api masih terasa mahal kala itu (sebagai perbandingan, pada tahun 1985-1990 tiket KA Parahyangan adalah Rp 9.000 sedangkan tiket bus patas hanya Rp 4000). Naik bus di terminal Kebon Kelapa (sekarang sudah nggak ada, dipindah ke Leuwipanjang) dan turun di terminal Kramat Jati (sekarang dipindahkan ke terminal Kampung Rambutan). Setelah bekerja dan punya uang sendiri barulah saya bisa merasakan naik kereta api. Oh ya, naik kereta api dianggap mewah kala itu. Dulu pilihannya hanya KA Parahyangan, belum ada KA Argo Gede yang tarifnya lebih mahal namun lebih cepat dari KA Parahyangan.

Hingga sekarang kalau saya tidak perlu buru-buru ke Jakarta, saya lebih memilih naik kereta api ketimbang mobil travel. Lebih nyaman naik kereta api sebab tidak khawatir kecelakaan (mobil travel suka ngebut di jalan tol, saya suka ngeri). Naik kereta api tidak membuat mabuk perjalanan karena tidak menyebabkan pusing. Saya bisa berleha-leha di atas kereta sambil membaca (di atas mobil travel mana bisa membaca ya, apalagi memakai laptop). Pemandangan sepanjang perjalanan terlihat begitu bersahaja dan indah. Kita melewati terowongan, bukit, lembah, dan jembatan yang tinggi dan mendebarkan.


(Gambar diambil dari sini)


(Gambar ini diambil dari sini)

KA Parahyangan sudah masuk ke dalam memori kolektif orang Bandung. Pada masa jaya kereta api — yaitu sebelum ada tol Cipularang — KA Parahyangan adalah pilihan transportasi yang favorit. Kereta api ini telah berjasa bagi komuter yang bekerja di Jakarta tetapi tinggal di Bandung. Kereta selalu ramai penumpang, dan puncaknya adalah pada hari Jumat dan Sabtu. Ribuan pekerja di Jakarta — termasuk alumni ITB — memadati stasiun Gambir pada Jumat sore dan malam untuk pulang ke Bandung. Tidak dapat tempat duduk tidak apa, yang penting bisa naik kereta. Tiket berdiri sama harganya dengan tiket duduk. Jika dapat tiket berdiri, maka duduk di gerbong kompartemen atau di gerbong restorasi adalah pilihan favorit. Kalau tidak, ya berdiri atau lesehan di ruang antar gerbong tidak masalah. Tiga jam perjalanan Jakarta-Bandung tidak terasa karena banyak teman ngobrol di kereta.

Senin subuh hingga pagi terjadi arus sebaliknya, ribuan pekerja yang telah menghabiskan week end nya bersama keluarga atau teman-teman di Bandung kembali ke Jakarta. Saat itulah KA Parahyangan penuh sesak penumpang dari Bandung yang hendak kembali ke Jakarta.

Kini sudah 39 tahun KA Parahyangan setia mengantarkan penumpang dari Bandung ke Jakarta dan sebaliknya (kereta api Parahyangan mulai dioperasikan pada tahun 1971). Tinggal dalam hitungan hari lagi — tepatnya 27 April — kereta api ini akan tinggal kenangan. Bagi komunitas pecinta kereta api, mereka akan melakukan joy ride pada pengoperasian terakhir KA Parahyangan (tanggal 27 April).

Selamat tinggal KA Parahyangan. Banyak kenangan terukir denganmu. Mudah-mudahan kamu masih tetap berguna dengan melayani rute baru Bandung – Malang (begitu yang saya dengar) dengan nama baru KA Malabar (MALAng – BAndung Raya).


Written by rinaldimunir

April 20th, 2010 at 1:57 pm

Posted in Seputar Bandung

Ini Tragedi!

without comments

Apa kata yang tepat untuk menggambarkan perbuatan plagiasi makalah yang dilakukan oleh lulusan S3 ITB bernama Mochamad Zuliansyah (MZ)? Tragedi! Ya, ini adalah tragedi buat ITB, sebuah tragedi yang patut diratapi. Apa yang dilakukan oleh MZ telah mencoreng dan menghancurkan kerja susah payah yang dibangun oleh tradisi ITB selama puluhan tahun sebagai perguruan tinggi yang menjunjung tinggi integritas, baik integritas keilmuan maupun integritas moral.

MZ benar-benar keterlaluan. Parah, parah banget nih anak, perbuatannya benar-benar vulgar. Bayangkan, dia menyalin mentah-mentah 99,9% makalah orang lain, persis sama kata per kata hingga titik komanya. Dia hanya mengganti sedikit kalimat judul, namun ia mengganti semua referensi yang tertera di dalam daftar pustaka. Dia sama sekali tidak menyebutkan sumber makalah asli yang diconteknya. Parahnya lagi, dia mengaku ini sebagai keteledoran dalam melakukan content mixing dengan referensi. Dalam Bahasa Indonesia keteledoran artinya lalai karena faktor ketidaksengajaan, namun dapatkah tindakannya itu disebut teledor jika seluruh isi makalah sama persis dengan makalah orang lain? Artinya MZ melakukan itu semua dalam keadaan sadar. Tambah parah lagi ketika para alumni ITB melaporkan bahwa mereka telah menemukan 2 makalah lain milik MZ yang telah dimuat di sebuah jurnal di Universitas Indonesia dan Universitas Kristen Petra. Kedua makalah itu ternyata diambil dari makalah dan tesis orang lain di luar negeri. Jangan-jangan masih ada makalahnya yang lain yang juga diplagiasi. Ada indikasi disertasi S3 nya terkait dengan makalah yang ia palsukan itu. Dimana rasa malu ditaruh ya?

Perasaan geram, sedih, marah, dan gemas melanda civitas academica ITB dan para alumninya yang tersebar di seluruh dunia. Hingga saat ini diskusi di milis-milis masih ramai membicarakan tragedi yang memalukan itu. Saling salah menyalahkan mewarnai isi milis. Siapa yang salah? Apakah hanya MZ yang salah? Apakah pembimbingnya harus dipersalahkan? Apakah sistem di ITB yang salah? Apa moral dari cerita ini? Hikmah apa yang dapat diperoleh dari kasus ini?

MZ sendiri di dalam email yang ia tulis ke seorang kolega dosen STEI sudah mengakui kesalahannya ini sangat fatal, dan itu harus ia tangung baik di dunia sampai akhirat. Bahkan ia mengatakan ketika kasus ini terungkap dia merasa sudah tidak ada lagi tempat buat dirinya di dunia ini. Dimanakah muka mau disurukkan?

Tidak ada guna meratapi kasus ini terlalu lama. ITB memang tidak hancur oleh perbuatan MZ, tetapi citra ITB telah dipertaruhkan di mata komunitas ilmiah internasional. Khususnya di IEEE, sebagai kelompok ilmuwan elektronik yang sangat prestisius. FYI (for your information), bila seorang akademisi berhasil menempatkan makalahnya di jurnal-jurnal IEEE, maka biasanya karir akademisnya akan cemerlang sebab dia telah masuk ke jajaran ilmuwan berskala internasional (huhuhu… saya sendiri belum berhasil menembus jurnal internasional apalagi di IEEE, sering ditolak, mungkin saya belum pantas menjadi ilmuwan berskala dunia kali :-( )

Alumni ITB bolehlah sedikit bernafas lega setelah mengetahui MZ bukan alumni S1 ITB. Dia adalah alumni sebuah sekolah tinggi teknik di daerah Bandung selatan sana. Tetapi dia S2 dan S3 di ITB, maka dia alumni ITB juga, bukan? Baiklah, tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah bagaimana menegakkan kejujuran bagi generasi muda di kampus ini. Bagi kami sendiri di ITB tidak pernah bosan-bosannya menyerukan pentingnya kejujuran dalam akademik. Saya pribadi sudah sering menghimbau kepada mahasiswa agar jangan melakukan kecurangan dalam akademik. Kalau mengutip sesuatu di dalam tulisan harus disebutkan sumbernya, kalau mengambil program orang lain harus disebutkan darimana. Nyontek dalam ujian atau dalam membuat tugas adalah perbuatan curang. Melakukan kecurangan dalam akademik adalah tindakan yang tercela. Kalau dalam kuliah saja tidak jujur, bagaimana dengan kehidupan di masyarakat nanti?


Written by rinaldimunir

April 18th, 2010 at 12:37 pm

Posted in Seputar ITB

Little Java Generic Quiz

without comments

Let say I have following code:

interface TestGeneric {

   public Integer test(List<Integer> a);
   public Boolean test(List<Boolean> a);

}

Can you guess what are the answers for following questions?

  • TestGeneric will be reported as error by Java 6 (true/false)
  • TestGeneric will be reported as error by Java 7 (true/false)
  • TestGeneric will be reported as error by Eclipse 3.5 using Java 6 (true/false)
  • TestGeneric will be reported as error by Eclipse 3.5 using Java 7 (true/false)
  • TestGeneric will be reported as error by (upcoming) Eclipse 3.6 using Java 6 (true/false)
  • TestGeneric will be reported as error by (upcoming) Eclipse 3.6 using Java 7 (true/false)

What’s your guess?

The correct answer is (highlight to see the answer): false, true, false, (can Eclipse 3.5 run Java 7?)?, true, true.

The fact that statement 1 is false is related to this bug entry: http://bugs.sun.com/view_bug.do?bug_id=6182950

Eclipse (as 3.6M2) offered a more consistent behavior by considering all cases as compile error as discussed here: https://bugs.eclipse.org/bugs/show_bug.cgi?id=289247

And this op4j used exactly this feature and will not be compiled under Java 7 or using Eclipse 3.6.

Related posts:

  1. Java Tips: Using generic correctly
  2. Be extremely careful when you initialize a non-final field in the declaration!
  3. Java Tips: Memory Optimization for String

Little Java Generic Quiz originally appeared on satukubik on April 16, 2010.

Written by Nanda Firdausi

April 16th, 2010 at 7:54 pm

Job @ Oracle

without comments

So, James Gosling just left Oracle. That’s old story. And since the place has to be occupied…

Right where James informed us about his decision. Quick and smart move!

From @ankur_sharma

Related posts:

  1. Back to WordPress…

Job @ Oracle originally appeared on satukubik on April 16, 2010.

Written by Nanda Firdausi

April 16th, 2010 at 4:59 pm

Posted in funny,java,joke,oracle,sun

op4j: Bending the Java spoon

without comments

The tagline of op4j is very interesting: ‘Bending the Java spoon’, which implies that the library offer magic to Java programming. And indeed it does.

The basic idea of the library is to use Fluent Interface to a much greater use. To do this, the developer basically try to provide as much general functions as possible. It says that the current version of op4j has already more than 1000 functions.

If you read some examples from the website and from the blog, you can find several absolutely genuine idea how programming with Java can be enjoyable. One example:

Calendar date = Op.onListFor(1492, 10, 12).exec(FnCalendar.fieldIntegerListToCalendar()).get();

which if done without op4j will be something like:

Calendar date = Calendar.getInstance();
date.clear();
date.set(Calendar.DAY_OF_MONTH, 12);
date.set(Calendar.MONTH, Calendar.OCTOBER);
date.set(Calendar.YEAR, 1492);

Although on this particular case I can see some people will say that the first code is unclear because there the order of the integer can somehow confusing the reader, the fact that it saves a lot of program code is absolutely beautiful.

I love the fact that lately there are many Java libraries with a goal to make programming much enjoyable.

Related posts:

  1. Little Java Generic Quiz
  2. Java Tips: Initializing Collection
  3. Java Tips: Using generic correctly

op4j: Bending the Java spoon originally appeared on satukubik on April 16, 2010.

Written by Nanda Firdausi

April 16th, 2010 at 4:36 pm

Laptop Kelas Atas – April 2010

without comments

  • Intel Core i7-620M  2.66 GHz with Turbo Boost up to 3.33 GHz
  • Windows 7 Professional (64-bit)
  • Memory: 8 GB DDR3 SDRAM (max)
  • Flash Memory: 256 GB (64 GB x 4, Serial ATA)
  • Display: 13.1? wide (FullHD: 1920 x 1080) LED backlight
  • NVidia GeForce GT 330M GPU with CUDA – 1 GB DDR3 SDRAM (SPEED MODE)
  • DVDRW Double Layer
  • Bluetooth standard Ver.2.1 + EDR
  • Fingerprint Sensor: Fingerprint
  • Camera: Effective Pixels 640 x 480
  • Weight: 1.41 Kg (including the supplied battery)
    Sumber:  Laptop Centro

Prosessor notebook Intel Core i7 ternyata tidak muat bila dimasukkan ke dalam notebook dengan layar 14 inch ke bawah. Pengecualian terjadi pada Sony Vaio VPC-Z117GG/X dengan layar 13.1? wide (FullHD: 1920 x 1080) . Prosessor yang digunakan adalah Intel Core i7-620M Processor 2.66 GHz with Turbo Boost up to 3.33 GHz dengan 2 core, bukan 4 core sebagaimana Core i7 pada umumnya. Dengan harga 26 jutaan, Vaio Z117 menyasar target konsumen kelas atas. Sebuah harga yang pantas mengingat keunikan layar serta mahalnya harga SSD 256 GB  yang disematkan sebagai pengganti HDD.

Dari sisi harga, Vaio Z 117 tidak sendiri. HP Envy 15 dengan harga 30 jutaan juga menyasar konsumen kelas atas. Berikut ini jeroan HP Envy 15:

  • Intel Core i7-820QM (1.73Ghz, 8MB L2 Cache, 1333Mhz FSB)
  • 8GB DDR3 1333Mhz RAM
  • 500GB HDD 7200RPM
  • Layarnya 15.6″  (1920×1080)
  • OS Windows 7 Premium 64bit
  • Mobile Intel PM55 express chipset
  • ATI Mobility Radeon HD4830 with 1GB DDR3 dedicated
  • Blu-Ray ROM with superMulti DVD+RW Double Layer (External)
  • Thin and light, 2.65cm thin,weight from 2.35kg
  • WLAN 802.11 a/b/g/n, Bluetooth
  • 2in1 Media Card Reader, HDMI, 3xUSB 2.0
  • NightVision Webcam with microphone
  • Beats speaker & audio
  • 6 Cell Lithium-Ion Polymer Battery (52.9Whr) plus additional 9 Cell Lithium-Ion Polymer Battery (62Whr)
  • HP MediaSmart & Software bundle, Free Bag, 3 Year Warranty

Nah, ada mitos yang kini sudah tidak berlaku, bahwa laptop kelas atas selalu berharga premium. Apa contohnya?  Ada HP DV6 dan Dell XPS 1645. Harganya di kisaran 12-13 jutaan, sebuah harga yang murah untuk laptop berprosessor Intel Core i7-720QM dan layar 15.6″ Full HD (1920×1080).


Alternatif lain, HP DV8T QUAD FR dengan prosessor Intel Core i7-720QM dan layar 18.4 inch, harganya hanya 12 jutaan. Ini spek lengkapnya:

  • Windows 7 HP 64-bit
  • Intel(R) Core(TM) i7-720QM (1.6GHz, 6MB L3 Cache) with Turbo Boost up to 2.8 GHz
  • 4GB DDR3 System Memory
  • 320GB 7200RPM SATA Hard Drive
  • 1GB Nvidia GeForce GT 230M
  • 18.4″ WUXGA Full HD (1920x1080p)
  • Lightscribe Blu-ray ROM with SuperMulti DVD+/-R/RW with Double Layer Support
  • Webcam + Fingerprint Reader with HP Imprint Finish (Espresso Black)
  • Intel Wireless-N Card
  • 8 Cell Lithium Ion Battery

Anda pilih yang mana?


Written by arifrahmat

April 16th, 2010 at 11:37 am