if99.net

IF99 ITB

Babi Ngepet dan Kerja Onlen

without comments

Baru-baru ini ada kajadian yang viral dan cukup menghebohkan di media sosial, yaitu kejadian tertangkapnya seekor babi hutan di Depok yang menurut orang-orang itu adalah babi jadi-jadian atau babi ngepet kata orang Sunda.

Dalam mitologoi orang Sunda, babi ngepet adalah sebuah cerita mitos tentang orang yang ingin mendapatkan uang banyak dengan cara pintas. Babi jadi-jadian itu adalah jelmaan manusia dan dapat memasuki rumah warga lainnya secara gaib lalu mencuri uang dengan cara menempelkan tubuhnya ke uang tersebut (bhs Sunda: mengepet). 

Warga yang resah karena selama ini sering kehilangan uang menuduh babi ngepet inilah yang mencuri uang mereka. Babi itu kemudian akhirnya dibunuh. Namun akhirnya terkuak bahwa cerita penangkapan babi yang disebut babi ngepet tersebut ternyata adalah rekayasa dari beberapa orang warga setempat yang ingin terkenal. Kasus ini akhirnya berurusan dengan polisi.

Namun ada kejadian lain yang menarik perhatian warganet dan viral di medsos terkait dengan penangkapan babi ngepet tersebut (sebelum kisah rekayasa tersebut terkuak). Seorang perempuan, bernama Bu Wati, di hadapan orang banyak menyebar berita hoaks dengan menuduh bahwa babi ngepet tersebut adalah seorang tetangganya yang terlihat menganggur (tidak bekerja) namun memiliki uang banyak. Dia curiga masak  tetangga  yang sehari-harinya lebih banyak diam di rumah namun bisa kaya (tonton videonya di sini). Meski akhirnya tidak terbukti dan perempuan tersebut meminta maaf, dia akhirnya diusir oleh warga dari kampungnya karena telah menebah fitnah.

Kasus babi ngepet dan tudingan Bu Wati yang viral menyadarkan kita kembali bahwa bagi sebagian besar masyarakat kita defenisi bekerja itu masih tradisionil. Yang namanya bekerja itu adalah “keluar rumah”, pergi pagi lalu pulang sore. Bekerja itu adalah aktivitas yang tampak oleh mata tetangga bahwa orang tersebut pagi hari sudah berangkat dari rumahnya menuju tempat kerja lalu sore atau malam hari pulang kembali ke rumahnya. Kalau hanya di rumah saja maka dianggap belum  “bekerja”.

Padalah pada zaman internet ini, apalagi pada masa pandemi cirina ini, bekerja tidak lagi harus secara fisik dilakukan di tempat pekerjaan, misalnya di kantor. Bekerja dapat dilakukan secara onlen dari rumah, misalnya menjadi seorang remote programmer, online trading seperti jual beli saham secara onlen, penambang bitcoin seperti uang kripto, dan masih banyak lagi pekerjaan yang dapat dilakukan secara onlen tanpa harus keluar rumah.  Jangan kaget kalau orang-orang yang bekerja secara onlen tersebut malah dapat menghasilkan dolar, bukan lagi rupiah, seperti penambang bitcoin atau pelaku online trading jual beli saham.

Alumni mahasiswa saya di Informatika ITB sudah biasa bekerja secara remote dari mana saja, tidak harus datang ke kantor. Kantor perusahaannya berada di luar negeri, namun bekerjanya dari rumah di Indonesia. Mereka bekerja secara team, melakukan programming dan coding di rumah atau dari kamar kos, menaruh programnya pada platform github, atau mengirim programnya melalui internet, men-deploy-nya ke server, dan seterusnya. Semuanya dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja asakan tersedia akses Internet yang baik. Rapat-rapat dan pertemuan dapat dilakukan dengan aplikasi video conference seperti Zoom, Google Meet, Webex, Teams, dan sebagainya. Sesekali pertemuan secara fisik dapat dilakukan di kantor atau di tempat lain. Kantor masa depan adalah kantor virtual, orang-orang bekerja di mana saja dan kapan saja.

Bekerja secara onlen itu juga bekerja meski tidak keuar rumah. Namun karena wawasan masyarakat kita masih kurang, maka orang-orang yang bekerja secara onlen dari rumah inilah dikira orang yang menganggur seperti tetangga Bu Wati tadi. Jadi, jika Anda yang bekerja secara onlen dari rumah lalu tiba-tiba tetangga Anda melihat anda  membeli mobil, membangun rumah, jalan-jalan ke luar negeri, dll, maka siap-siap saja nanti Anda digunjingkan oleh tetangga memelihara tuyul atau babi ngepet. Wkwkwwkwk…

Orang seperti Bu Wati itu banyak dalam masyarakat kita, mudah su’uzon, lebih sibuk mengurusi orang lain daripada diri sendiri, gampang menebar fitnah dan hoaks.

Written by rinaldimunir

May 1st, 2021 at 6:27 pm

Posted in Indonesiaku

Keinginan Setelah Pandemi Corona

without comments

Apa keinginanmu setelah pandemi corona dinyatakan sudah aman (terkendai)? Cukup lama masyarakat kita kita berada di rumah saja, tidak bisa pergi ke mana-mana, atau menunda pergi ke mana-mana Khawatir situasi belum aman, khawatir tertular corona, dan sebagainya. Beresiko.

Maka, kebanyakan orang hanya dapat menuliskan keinginannya saja di media sosial misalnya menyatakan ingin mudik ke kampung halaman, ingin mengadalan reuni dengan teman-teman lama, ingin makan di restoran yang dulu pernah dikunjungi, ingin jalan-jalan ke Bali atau ke luar negeri, atau ingin umrah ke Mekkah, dan lain-lain sebagainya.

Kalau saya keinginan utamanyanya satu, yaitu ingin dipijat badan di Panti Wiyata Guna, di Jalan Padjadjaran, Bandung. Lha, kok? Lha iya, jika orang lain ingin bepergian, saya malah ingin dipijit. Nggak, nggak lucu, tetapi benar lho, saya ingin badan dipijat oleh pemijat tuna netra di sana. Saya sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan pijat di sana. Pernah saya tulis di sini: Pijat Badan Dulu Ah… di Wiyata Guna. Minimal sekali sebulan saya pergi ke sana untuk dipijit badan. Kalau badan sudah pegal-pegal, atau agak kurang enak badan, maka saya pergi ke sana. Dipijat oleh tuna netra sekalian beramal di sana, memberi penghasilan buat mereka. Pijatannya enak, karena pemijat itu lulusan sekolah pijat di Wiyata Guna juga. Mereka memilik teknik pijat dan terampil.

Kata orang, sekali dipijat maka akan ketagihan. Iya benar, mungkin karena dipijat itu enak, maka kita ingin lagi dipijat. Karena saya rutin pijat ke sana karena ingin badan sehat, maka saya sudah menjadi pelanggan tetap di sana. Sekali pijat satu setengah jam, satu jam hanya Rp37.500 rupiah.

Namun sejak masa pandemi corona, saya sudah tidak pernah lagi pijat badan ke sana. Semua tempat pijat di Bandung ditutup, mungkin di Wiyata Guna juga ikut ditutup. Entahlah, saya sudah lama tidak pernah melewati Jalan Padjadjaran, tidak tahu apakah Panti Wiaya Guna juga ditutup. Saya bisa memaklumi kenapa ditutup, yaitu untuk membatasi penularan virus corona. Pijat badan berarti terdapat interaksi fisik antara pasien dengan pemijat dalam jarak yang sangat dekat, sehingga rentan terjadi penularan virus melalui udara pernapasan. Meski pakai masker sekalipun, tetap saja ada perasaan khawatir.

Karena lama sekali tidak dipijat, badan saya mulanya sering merasa tidak nyaman. Pegal-pegal begitulah. Kalau dulu jika badan pegal-pegal maka saya pergi ke Wiyataguna untuk dipijat. Tetapi karena ditutup maka saya tidak bisa dipijat badan lagi. Mau pergi ke tempat pijat lain (pemijatnya tuna netra juga) saya tidak berani.

Pernah juga sih seorang pemijat langganan yang pernah datang memijat saya ke rumah menelpon saya, apakah saya ingin dipijat. Namun ya itu tadi, saya belum berani mendatangkan orang luar ke rumah. Pemijat kan berinteraksi dengan banyak orang, kita tidak tahu mereka sudah berinteraksi dengan siapa saja, apakah dengan orang OTG atau bukan. Jadi, saya tahan saja keinginan untuk dipijat itu. Saya kompensasikan dengan olahraga jalan kaki saja setiap pagi. 

Namun, pada sisi lain saya juga merasa kasihan. Saya dapat merasakan penderitaaan para pemijat tuna netra yang kehilangan mata pencaharian karena tempat pijatnya ditutup atau pelanggannya sementara menghindar dulu untuk dipijat. Padahal memijat badan merupakan profesi yang banyak dilakoni oleh penyandang tuna netra (baca tulisan saya tentang ini, Mencari Kehidupan di tengah Kegelapan).

Semoga pandemi corona ini segera berlalu ya Allah, agar orang-orang kecil itu dapat mencari nafkah lagi seperti dulu.

Written by rinaldimunir

April 15th, 2021 at 3:01 pm

Merasa Tidak Tega versus Kebutuhan Hidup Bang Gojek

without comments

Malam-malam saat hujan turun saya ingin makan martabak. Saya pesanlah  martabak di Babakan Sari via gofood.  Saya pikir Babakan Sari dekat dengan rumah saya di Antapani. Antapani dan Babakan Sari Kiaracondfong hanya dipisahkan oleh sebuah kali, Kali Cidurian namanya.
 
Saya kira sulit mendapat driver saat hujan begini. Sudah dua orang driver Gojek yang mengambil order ini, tetapi kok posisinya sangat jauh dari Babakan Sari. Driver pertama posisinya di Margacinta, daerah Margahayu sana. Driver kedua posisinya dekat Jalan Soekarno-Hatta. Jauh semua. Entah kenapa algoritma Gojek sekarang tidak memilihkan driver yang terdekat, tetapi entah berdasarkan apa. Karena cukup jauh dari Babakan Sari, saya minta mereka batalkan saja.
 
Akhirnya dapat driver ketiga, posisi di Antapani, lagi mangkal di  restoran Wingz o Wingz. Dari tempat mangkalnya di Antapani terlihat dia menyusuri jalan, masuk gang, menyeberang sungai Kali Cidurian. Sampai di tukang martabak 15 menit. Menunggu sampai martabak selesai 15 menit, lalu diantar ke rumah 15 menit. Satu jam kurang seperempat perjuangannya mencari nafkah halal malam-malam hujan begini untuk mencapai jumlah orderan gojek agar mendapat bonus yang tidak seberapa dari perusahaan Om Nadiem itu. Saya kok merasa gak tega, jadi merasa bersalah sendiri. Setiba pesanan diantar ke rumah, rasa gak tega itu saya ganti dengan bonus dari saya sendiri.
 
Saya sempat berpikir begini: ah, lain kali jangan pesan Gofood saat hujan malam-malam begini. Tapi saya sadar ini pikiran yang belum tentu benar. Mungkin saat hujan, malam-malam lagi, adalah waktu pengharapan bagi abang-abang Gojek. Berharap ada orang yang malam-malam lapar lalu  order Gofood.
 
Jadi, mending order Gofood saja daripada merasa “tidak tega” ya. Abang-abang Gohej itu juga perlu orderan agar mendapat pemasukan. Dari kita sebagai pembeli sebaiknya kasih tip yang lumayan banyak saja, apalagi kalau dirasa hujan deras. Atau belikan dua, satu buat kita dan satu lagi buat Bang Gojek.  
 
Moral dari cerita ini adalah bahwa yang kita sangka kesulitan (saat hujan) ternyata bagi orang lain merupakan berkah. 

Written by rinaldimunir

March 30th, 2021 at 1:28 pm

Rindu Mengajar Lagi di Kampus

without comments

Jika ada yang saya rindukan saat ini adalah mengajar di kampus. Sudah hampir 12 bulan saya di rumah saja, mengajar dari rumah, bimbingan mahasiswa dari rumah, diskusi dari rumah, segalanya serba dari rumah. Mahasiswa pun begitu, kuliah dari rumahnya. Pandemi tampaknya masih lama, jadi keinginan mengajar di dalam kelas di kampus rasanya belum bisa terwujud saat ini. Kampus masih ditutup untuk perkuliahan dan praktikum.

mengajar1

Hanya beberapa kali saja saya masuk ke dalam kampus, itu pun hanya untuk mengambil buku di lemari ruangan kerja di lab, atau ke kantor fakultas memasukkan surat. Masuk kampus pun tidak bisa sesuka hati, ada prosedur yang harus ditempuh, mengisi form. Ya, bisa dimengerti, jika terjadi apa-apa di kampus, misalnya kasus positif covid, maka pelacakan dapat dilakukan dari daftar surat izin civitas academica yang masuk ke dalam kampus.

Bagi saya mengajar itu sangat menyenangkan dan memberikan kepuasan batin. Bisa berbagi ilmu dan membuat orang lain mengerti apa yang saya ajarkan itu sudah memberi kebahagiaan. Dunia saya itu adalah dunia pendidikan. Saya suka mengajar. Kalau tidak mengajar ya menulis. Itu dua passion yang saya miliki.

Bertemu dengan anak-anak muda yang haus ilmu pengetahuan bagi saya sangat menyenangkan. Memang mengajar secara onlen (daring) tetap dapat dilakukan, tetapi ada nuansa  yang hilang jika mengajar secara onlen. Saya tidak dapat melihat wajah-wajah mahasiswa yang terkejut ketika saya panggil namanya dan saya beri pertanyaan. Saya tidak bisa berbagi cerita-cerita menarik sebagai selingan supaya kelas tidak garing. Dan saya tidak bisa memberi hadiah seperti coklat atau brownis bagi mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi. ?

mengajar4

mengajar3

Ketika beberapa kali masuk kampus untuk suatu urusan, saya longok kelas yang kosong, lab yang sunyi, dan lorong-lorong yang sepi. Tidak terdengar riuh rendah suara mahasiswa yang meramaikan lorong dan sudut-sudut selasar tempat mahasiswa belajar atau mengerjakan tugas seperti foto di selasar LabTek 5 di bawah ini. 

selasar1

selasar2

Tampaknya suasana seperti di atas tidak akan mungkin terwujud dalam satu dua tahun ini. Jika pun kampus sudah dibuka untuk perkuliahan tatap muka pada semester depan (mudah-mudahan, Amiin) tetap akan ada pembatasan-pembatasan aktivitas dan serba bergiliran daring dan luring.  Jadi, suasana seperti foto-foto di atas mungkin baru bisa terulang setelah corona benar-benar bisa diatasi. Untuk sementara cukuplah memasang foto kenangan di atas.

Written by rinaldimunir

February 19th, 2021 at 5:45 pm

Studio Pandemi

without comments

Selama masa pandemi corona saya lebih banyak berkutat di ruang kecil di lantai dua rumah. Ini ruang kecil yang dulu dijadikan mushola keluarga. Karena sekarang kami lebih banyak sholat di lantai satu, maka ruangan mushola tersebut jarang digunakan.

studio1

Sejak pandemi corona bulan Maret 2020 yang lalu, praktis saya hanya di rumah saja, bekerja dari rumah. Mengajar dari rumah, rapat dari rumah, segalanya dari rumah. Onlen atau daring. Mengajar, seminar, sidang,  dan rapat dari rumah mengandalkan suara yang lumayan keras kalau berbicara. Oleh karena itu, supaya tidak mengganggu yang lain dan juga tidak diganggu anak, maka saya pindah ke ruang kecil ex mushola ini.

Sekarang ruang kecil di pojok rumah itu saya jadikan tempat untuk mengajar onlen, seminar onlen, rapat onlen, sidang onlen, bimbingan onlen, perwalian onlen, dan juga menjadi studio dadakan untuk memproduksi video-video kuliah. Sebuah kasur tipis dihampar di lantai untuk rebahan jika penat. Saya menyebut studio kecil ini dengan nama studio pandemi.

studio2

Hampir setiap hari saya berada di sini karena pekerjaan pada semester genap ini lumayan menyita waktu juga. Sebagian besar waktu saya di sini habis untuk menyiapkan bahan kuliah daring dan merekam video kuliah yang akan diunggah di YouTube. Melayani mahasiswa yang perwalian, bimbingan Tugas Akhir, dan seminar-seminar serta sidang juga dari sini.

Kalau cape dan mengantuk saya berbaring sebentar di kasur di samping meja kerja (meja belajar anak saya dulunya). Di seberang ruang kecil ada balkon. Di sanalah saya berjemur pada pagi hari atau melihat suasana sore dari lantai dua rumah. Kalau hujan saya dapat melihat langsung airnya turun di sini.

Jenuh? Ya, bagaimana lagi, kondisinya seperti ini. Saya sudah rindu memgajar di kampus seperti dulu, bertemu mahasiswa, bercanda, bimbingan di kampus, dan bertemu kolega. Tapi keinginan tersebut sepertinya belum bisa terwujud saat ini. Kampus masih ditutup untuk aktivitas perkuliahan. Artinya sampai akhir semester saya saya kembali bertapa di ruang kecil ini. Entah bagaimana pada semester ganjil tahuna ajaran yang baru nanti. ? ?

Written by rinaldimunir

February 13th, 2021 at 10:31 am

Mamang Pedagang Bacang

without comments

Pagi-pagi dia sudah berkeliling perumahan di Antapani dengan sepedanya, menjajakan bacang yang masih hangat. Tiga buah bacang harganya sepuluh ribu. Saya yang olahraga jalan kaki setiap pagi selalu bertemu dengan mamang ini. Saya lupa menanyakan namanya, sebut saja Mang Aryo.

bacang2

Bacaaaanggg…bacaaaanggg...”,teriak Mang Aryo dengan suara khas sambil terus mengayuh sepeda.

Bacang adalah penganan yang terbuat dari beras ketan dan diisi dengan daging cincang (ayam atau sapi) yang dimasak dengan kecap dan bumbu-bumbu lainnya, kemudian dibungkus dengan daun bambu, lalu dikukus sampai matang.

Bacang berbentuk limas segitiga. Dulu saya kira bacang adalah penganan khas Sunda, karena orang Sunda suka makan bacang. Ternyata saya salah, bacang adalah penganan khas Tionghoa (cina), dan tentu saja daging di dalam bacang adalah daging babi. Dalam budaya lokal, bacang diadaptasi yang tadinya daging babi menjadi daging sapi atau daging ayam.

bacang1

Di Bandung bacang mudah ditemukan di warung atau di kedai kue basah. Ia dijajarkan dengan jajanan seperti bala-bala, risoles, kue sus, dan sebagainya. Bacang lebih enak dimakan dalam keadaan hangat, terutama yang baru dikukus.

Dikutip dari situs ini, “Bacang adalah tradisi Tionghoa. Bacang sudah menjadi makanan yang bisa ditemukan setiap hari oleh para pedagang di pasar. Namun sebelum dijual secara umum, makanan ini hanya dimakan pada saat perayaan suku Tionghoa di Indonesia, yaitu festival Peh Cun.

Pada festival ini, orang-orang Tionghoa akan sembahyang kepada para leluhur dan mempersembahkan bacang yang sudah dibuat. Pada festival ini juga ada perlombaan perahu naga. Festival Peh Cun dirayakan setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Anak saya yang sekarang kuliah onlen suka makan bacang. Makanya, ketika saya jalan pagi dan ketemu Mang Aryo, saya beli bacangnya untuk penganan anak saya. Kalau saya sendiri sih kurang suka makan bacang  karena rasa dagingnya manis. Lidah Minang saya masih susah menerima masakan yang rasanya manis seperti gudeg, abon, termasuk bacang, meskipun saya sudah puluhan tahun di tanah Sunda. Bagi saya masih lebih enak makan lemang daripada makan bacang.?

Bacang yang dijual Mang Aryo memang bukan dia sendiri yang membuatnya, tetapi bersama-sama dengan temannya. Dia menjual beberapa puluh ikat di dalam box di belakang sepedanya. Ketika matahari baru terbit di timur, saat sebagian orang masih di dalam selimut, dia sudah mengayuh sepeda keliling Antapani menjajakan bacangnya.

bacang3

Keuntungan menjual bacang yang tidak banyak itu memang tidak seberapa. Tetapi saya salut dengan usahanya yang gigih mencari nafkah halal dengan  berjualan bacang.

Usai menyerahkan tiga buah bacang di dalam kantong keresek, Mas Aryo segera mengayuh sepedanya lagi menawarkan bacangnya.

Bacaaaanggg…bacaaaanggg...”,teriaknya sambil terus mengayuh sepeda.

Semoga rezeki yang diperolehnya setiap pagi  barokah.

Written by rinaldimunir

January 23rd, 2021 at 8:46 pm

Kenangan pada Sriwijaya Air

without comments

Awal tahun 202, tepatnya tanggal 9 Januari 2021, bangsa Indonesia dikejutkan oleh kecelakaan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan kode SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Baru mengudara 4 menit setelah take off dari Bandara Soekarno Hatta, pesawat itu jatuh menghunjam laut. Hingga hari ini pencarian korban (yang kemungkinan besar tewas semua) masih berlangsung di tengah hujan yang selalu mengguyur setiap hari. Duka mendalam bagi para keluarga korban, insya Allah penumpang yang tewas itu mati dalam keadaan syahid.

Inilah salah satu dari lima kecelakaan pesawat terburuk di Indonesia (Baca: Sriwijaya Air Jatuh, Ini 5 Kecelakaan Pesawat Terburuk di Indonesia). Saya yang sudah 10 bulan lebih tidak pernah terbang lagi karena pandemi corona, sehingga tidak bisa (dan tidak mau) pergi ke mana-mana, tetap ada perasaan bergidik setiap kali mendengar ada pesawat terbang jatuh. Namun seperti yang pernah saya tulis dulu, kalau sudah berada di atas pesawat, maka seluruhnya total saya berserah diri dan memasrahkan diri kepada Allah SWT semata, memohon keselamatan dan perlindungan di dalam perjalanan. Hidup dan mati sudah ditentukan waktunya oleh Allah Yang Maha Kuasa. Saya kutip quote dari foto profil pilot SJ-182 yang jatuh itu, Captain Afwan, yang menginspirasi:

“Setinggi apapun aku terbang, tidak akan mencapai surga bisa tidak shalat lima waktu”

Gambar dan kutipan diambil dari sini. Artikel lainnya bisa dibaca di sini.

sriwijaya0
Tulisan pada foto profil akun whatsapp kapten pilot Afwan. Sumber gambar dari sini

Saya terkenang naik pesawat ini. Dulu sebelum pandemi saya cukup sering naik pesawat Sriwijaya Air, baik kalau pulang kampung ke Padang, atau jalan-jalan bersama keluarga ke tempat wisata yang penerbangan ke kota tujuan dilayanai oleh Sriwjaya Air (antara lain ke Malang dan Tanjungpandan, Belitung), atau kalau transit ke Jakarta dari Bandar Lampung. Saya mengajar menjadi dosen terbang di ITERA Lampung.  Saat balik, jika tidak naik pesawat Wings Air yang ke Bandung, biasanya saya naik Garuda atau Sriwijaya ke Jakarta. Barulah dari Jakarta saya naik travel ke Bandung.  

sriwijaya1

sriwijaya3

Dibanding Lion Air, pelayanan Sriwijaya Air menurut saya jauh lebih baik meski keduanya sesama low cost carrier.  Dari pengalaman saya terbang, Sriwijaya delay-nya tidak sesering/selama Lion, kita pun dapat makanan ringan dan minum di dalam pesawat (layanan ini tidak ada pada maskapai low cost carrier lainnya), pramugarinya pun ramah-ramah. 

Namun satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah kebijakan maskapai ini yang  membuat saya simpati. Pemilik Sriwijaya Air (seorang Tionghoa dermawan asal Pulau Bangka) membebaskan pramugarinya memakai seragam sesuai keyakinan agamanya, yaitu memakai busana muslimah (jilbab).

Kebijakan ini menurut saya sesuatu yang mungkin agak sulit terjadi di maskapai lain. Ketika saya naik Sriwijaya Air dari Bandar Lampung, beberapa orang pramugarinya tampak mengenakan jilbab. Mereka terlihat charming, rapi, cantik, dan elegan memakai seragam pramugari Sriwijaya dalam balutan jilbabnya. Memakai busana muslimah tidak menghalanginya untuk tetap gesit membantu penumpang mengangkat koper ke dalam kabin, menutup bagasi kabin, membagikan snack, dan melayani  permintaan penumpang.

sriwijaya2

Saya mengapresiasi kebijakan maskapai ini yang memperbolehkan pramugarinya memakai busana muslimah. Menurut saya pemilik dan manajemen Sriwijaya Air memiliki jiwa yang bhinneka tunggal ika dan menghayati betul Pasal 29 UUD yang menghormati setiap orang memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Semoga musibah yang baru terjadi tidak menyurutkan orang untuk naik pesawat. Pesawat terbang merupakan mode tranportasi yang paling aman dari segi keselamatan. Kecelakaan yang terjadi pada pesawat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mode transportasi darat (bus, mobil, kereta api) dan laut (kapal penumpang, ferry, perahu). Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, setiap kali kita bepergian, pasrahkan diri dan serahkan diri kepada Allah SWT saja.

Written by rinaldimunir

January 16th, 2021 at 5:49 pm

Posted in Indonesiaku

Bapak Penjual Tahu Sumedang (2)

without comments

Tahuuu…..

Setiap pagi bapak penjual tahu sumedang lewat di depan rumah saya. Dia memikul dua buah ketiding bambu (apa ya Bahasa Indonesianya?). Satu ketiding berisi penuh tahu goreng, satu ketiding lagi berisi lontong. Di kota besar seperti Bandung masih cukup banyak pedagang yang berjualan makanan dengan cara dipikul secara tradisionil pada bahu seperti itu.

tahu1

Selain tahu dan lontong, dia juga menambah jualannya dengan membawa telur asin, kerupuk-keripik, dan camilan-camilan lain dari Sumedang. Sesak sekali pikulannya. Tentu berat sekali.

+ Wah, berat sekali ini, Pak. Berapa kilo berat semuanya?
Awalnya 40 kg, tapi berkurang terus setiap ada yang beli.
Sudah berapa tahun jualan seperti ini, Pak?
+ Sudah 30 tahun lebih pak, sejak Antapani ini masih sawah-sawah, belum perumahan seperti sekarang.

Tahu yang dijualnya didatangkan langsung dari Sumedang. Sumedang terkenal dengan tahunya yang khas. Tahu-tahu itu dipasok dari juragan tahu di Sumedang. Dia hanya menjualkan saja secara keliling, masuk kampung keluar kampung. Tapi dia memang tinggal di Sumedang, bolak balik ke Bandung.

+ Dari Sumedang ke Bandung naik apa, Pak?
Naik colt buntung, Pak
+ Kalau tahunya tidak habis bagaimana?
Kalau tidak habis saya menginap dulu di mess yang disediakan juragan.

Juragan tahu menyediakan mess bagi penjual tahunya di daerah Bandung Timur. Para penjual tahu menginap di sana. Setiap pagi pasokan tahu goreng datang langsung dari Sumedang. Seminggu sekali mereka pulang ke Sumedang membawa penghasilan berjualan tahu, kemudian kembali lagi ke Bandung. Profesi ini sudah dilakoninya selama 30 tahun! Itu artinya sejak saya datang ke kota Bandung ini.

Saya sampai hampir lupa membeli tahunya karena asyik mengobrol.

+ Berapa harga tahunya, Pak?
Biasa, sepuluh lima ribu.
+ Saya beli dua puluh ya

Tahu Sumedang dan uang sepuluh ribu berpindah tangan. Cocok untuk teman sarapan pagi dengan nasi hangat.

tahu2

Saya selalu bersimpati kepada orang-orang kecil yang gigih mencari nafkah secara halal. Betapa berat beban yang dia pikul, tetapi keikhlasan tampak di matanya. Orang-orang seperti ini berjuang mencari rezeki untuk keluarga yang ditinggalkannya.

Saya jadi teringat almarhum ayah saya. Setiap hari, usai sholat Subuh, ia berjalan kaki menuju terminal bus. Bapak saya adalah penjual daging sapi. Daging sapi itu dibeli di luar kota, awalnya di Lubuk Alung, lalu di Padangpanjang, kemudian di Bukittinggi. Daging-daging segar itu dibeli di sana, lalu dibawa lagi ke Padang sebelum siang dengan menggunakan bus umum. Di Padang daging sapi itu dijual ke pedagang sate atau dijual ke pedagang daging di los  Pasar Raya Padang. Hal itu dilakukannya setiap hari untuk nafkah keluarga kami. Dari perbedaan harga beli dan harga jual itulah ayah saya mendapat sedikit keuntungan membiayai sekolah saya dan kakak-kakak saya, hingga saya bisa berkuliah di Bandung. Saya bisa seperti sekarang adalah karena perjuangan ayah saya yang rela berjualan setiap hari. Alfatihah buat almarhum ayah dna ibu saya. Amiin.

Written by rinaldimunir

January 3rd, 2021 at 5:00 pm

Menanti Panggilan Kerja

without comments

Setiap pagi para pekerja serabutan duduk menanti di Jalan Indramayu, Antapani, Bandung. Mereka adalah buruh-buruh kuli yang umumnya berasal dari kampung yang sama di Majalengka, sebuah kabupaten di bagian timur Jawa Barat. Mereka datang ke Bandung jika di kampung tidak ada orderan menggarap sawah, karena mereka umumnya tidak memiliki sawah.

kuli
Saat musim panen dan awal musim tanam di kampung, mereka pulang kembali ke kampungnya menggarap sawah milik juragan. Setelah itu mereka balik lagi ke Bandung mencari penghasilan sebagai buruh serabutan.  Di Bandung buruh-buruh tersebut menginap di saung-saung, emperen kantor pos, atau mengontrak kamar ramai-ramai.

Sekali sebulan atau dua bulan sekali mereka pulang ke kampungnya mengantarkan hasil jerih payah untuk belanja anak dan istrinya. Hasil menguras tenaga selama menjadi kuli serabutan di Bandung diserahkan kepada istrinya. Pada umumnya mereka adalah para suami yang setia.

Modal kerja mereka hanyalah cangkul, parang, dan pikulan beban. Tiap pagi buruh-buruh ini menunggu panggilan warga yang membutuhkan tenaganya untuk membersihkan kebun, taman, halaman rumah, angkut-angkut bahan bangunan, angkut barang, angkut galian, dll. Jika tidak ada panggilan kerja, mereka berkeliling kompleks perumahan, berharap siapa tahu ada warga yang memerlukan tenaganya.

kuli2Tidak ada tarif yang pasti berapa bayaran untuk buruh kuli ini, tergantung kesepakatan pemberi kerja dengan mereka. Yang jelas kita harus dapat mengukur berapa volume kerjanya dana apa saja yang harus dikerjakan sehingga kita dapat memperkirakan ongkosnya.

Saya sendiri sering menggunakan buruh kuli ini untuk membersihkan halaman rumah dan kebun/taman di seberang rumah. Yah hitung-hitung membantu mereka dengan memberi kerjaan. Tidak hanya saya beri uang jasa, tetapi juga makan. Alangkah senangnya mereka mendapat kerjaan.

Mereka yang duduk-duduk pada pagi hari itu mungkin juga sedang menunggu orang-orang yang ingin memberi sedekah sarapan . Hampir setiap hari hari, khususnya pada hari Jumat, ada saja orang baik yang mendrop nasi bungkus buat mereka.

Semoga mendapat rezeki yang barokah untuk keluarganya.

Written by rinaldimunir

December 30th, 2020 at 11:54 am

Majalah Udaraku

without comments

Saya punya koleksi yang unik, yaitu koleksi majalah-majalah udara, majalah yang disediakan di atas pesawat selama penerbangan (inflight magazine). Majalah-majalah tersebut berasal dari berbagai maskapai penerbangan yang berbeda-beda yang pernah saya naiki, baik maskapai dalam negeri maupun maskapai luar negeri. Umumnya majalah-majalah tersebut terbit setiap bulan. Jadi setiap bulan ada edisi barunya.

Foto pertama adalah majalah “Colours” dari Garuda Indonesia, majalah “Linkers” dari Citilink (anak perusahaan Garuda). Lalu majalah dari Lion Group, yaitu “Lionmag” dari Lion Air, majalah “Batik” dari Batik Air, majalah “Wings” dari Wings Air. Kemudian majalah “Sriwijaya” dari Sriwijaya Air, dan majalah “Xpressair” dari Xpress Air.

Majalah1
Foto kedua adalah majalah-majalah yang maskapainya sekarang sudah tidak ada lagi atau tidak terbang lagi, yaitu majalah dari Batavia Air, Tiger Airways, dan Merpati Nusantara Airlines. Ada satu lagi maskapai yang pernah saya naiki tetapi tidak sempat mengkoleksi majalahnya yaitu Adam Air. Adam Air ini dihentikan operasinya tidak lama setelah pesawatnya jatuh di Selat Makassar ketika terbang dari Surabaya ke Manado.

Majalah2
Foto ketiga adalah majalah dari maskapai asing yaitu majalah “going places” dari Malaysia Airlines, majalah “3sixty” dari Air Asia, majalah “Heritage” dari Vietnam Airlines, majalah “Morningcalm” dari Korean Air, majalah “Ahlan Wasahlan” dari Saudi Arabia Airlines (Saudia), dan majalah “Sawasdee” dari maskapai Thai Airways yang baru-baru ini mengalami kebangkrutan akibat pandemi corona.

Majalah3
Majalah2 tersebut ada yang gratis (dapat dibawa pulang) seperti majalah Colours dari Garuda Indonesia, ada pula yang hanya untuk dibaca di tempat. Untuk kategori yang terakhir biasanya saya minta izin kepada pramugari saat akan turun dari pesawat. “Mbak,minta satu majalahnya ya untuk dibaca-baca“, pinta saya saat keluar pintu pesawat. “Oh, silakan, Pak“, kata pramugari tersebut ramah.

Ada cerita yang menarik saat saya lupa minta izin kepada pramugari ketika membawa majalah turun dari pesawat (lupa minta ? ). Tiba di darat lalu saya kirim surel kepada redaksinya dan minta izin sudah membawa majalah udaranya. Apa jawabnya? Eh, malah saya dikirimi via pos setumpuk majalah udara maskapainya edisi 6 bulan berturut-turut. Itu dari Xpress Air. Tampaknya mereka senang dengan perhatian saya pada majalah udaranya.

Berhubung dulu saya sangat sering naik pesawat, maka jadilah di rumah saya koleksi majalah2 tersebut memenuhi lemari buku. Di lemari buku majalah2 tersebut menempati satu baris lemari besar dan tersusun dengan rapi (foto keempat), disusun rapi oleh istri saya.

Majalah4
Kenapa saya tertarik mengkoleksi majalah-majalah udara ini? Itu karena majalahnya banyak berisi foto-foto nan rancak, yaitu foto-foto tempat wisata dan budaya di tanah air maupun di luar negeri. Fotografernya sangat pandai memotret sehingga menghasilkan foto-foto yang bagus.

Apalagi kertas majalahnya terbuat dari kertas lux sehingga foto-foto itu tampak cerah dan menawan. Sedikit banyaknya kegemaran saya pada foto-foto (meskipun saya tidak mahir fotografi) adalah karena salah satu minat saya di Informatika adalah bidang image processing.

Saat ini sudah sembilan bulan lebih saya tidak pernah terbang lagi. Akibat pandemi corona maka saya tidak bisa pergi kemana-mana. Masih takut bepergian, apalagi memang tidak ada keperluan ke luar kota naik pesawat. Jadilah saya baca2 majalah udara ini saja. Majalah2 tersebut merupakan saksi bisu saya pernah ke mana-mana. ?

Written by rinaldimunir

December 28th, 2020 at 8:39 pm

Posted in Gado-gado