if99.net

IF99 ITB

Jalan-Jalan ke Pulau Langkawi, Malaysia

without comments

Akhir bulan November kemarin saya ada acara konferensi ICCEI 2017 di Pulau Langkawi, Malaysia. Langkawi adalah sebuah pulau wisata di sebelah barat Semenanjung Malaka. Dari Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Langkawi, kita harus transit dulu di bandara Kuala Lumpur (KLIA), lalu melanjutkan penerbangan ke Pulau Langkawi. Saya dan teman-teman naik Malindo Air dari Bandung ke Kuala Lumpur (KL) dan dari KL ke Langkawi. Dua jam penerbangan dari Bandung ke KL dan 50 menit penerbangan dari KL ke Langkawi. Menurut saya pesawat Malindo Air cukup nyaman juga, ruang buat kakinya lapang dan nyaman, ada hiburan di dalam pesawat (inflight entertainment) dan mendapat light meal (pizza dan kue serta minuman). Secara umum sama dengan Batik Air. Anda harus bawa earphone sendiri kalau mau mendengarkan audio-nya ya.

Tempat duduk yang lapang di Malindo Air

Light meal di Malindo Air

Oke, kembali ke cerita Langkawi. Setelah menempuh perjalanan total 3 jam plus beberapa jam transit di KL, kami pun sampai di bandra udara Langkawi International Airport. Bandaranya kecil saja, mirip dengan bandara Husein Sastranegara di Bandung. Tidak ada garbarata, jadi kita dari pesawat turun ke landasan dan berjalan kaki memasuki ruang terminal.

Bandara Langkawi

Langkawi merupakan pulau andalan wisata selain Pulau Penang di Malaysia. Pulau Langkawi terletak di negara bagian Kedah, lebih dekat dengan perbatasan Thailand. Kepulauan Langkawi terdiri dari sebuah pulau utama (Pulau Langkawi) dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di sini terdapat geopark yang sudah terdaftar di Unesco. Kata “Langkawi” berasal dari elang dan kawi. Elang adalah nama burung dan kawi artinya batu. Jadi, Langkawi secara harafiah artinya batu elang atau batu tempat burung elang bertengger. Landamark pulau Langkawi adalah burung elang yang hinggap di batu.

Letak Pulau Langkawi

(Gambar di atas diambil dari sini)

Sebagai pulau wisata, di Langkawi terdapat sejumlah obyek wisata. Di bawah ini saya tampilkan peta wisata di Pulau Langkawi (Sumber dari sini).

Peta wisata Pulau Langkawi

Penduduk pulau Langkawi sedikit saja, hanya 100 ribu orang, tetapi pulau ini dikunjungi banyak turis asing. Kami menginap di sebuah hotel di pinggir pantai, namanya Hotel Resort World. Hotelnya bergaya arsitektur klasik dengan bangunan yang mamanjang sepanjang pantai.

Salah satu sudut hote Resort World

Sudut lain hotel Resort World

Berada di pinggir hotel ini kita serasa berada di pinggir danau, karena lautnya tenang tiada ombak. Ya, kita sebenarnya berada di sebuah laguna. Pulau-ulua kecil di depan hotel membuat laut di sini sangat tenang. Tapi, menurut cerita orang Malaysia, ketika terjadi tsunami pada tahun 2004 yang lalu, pulau ini terkena tsunami setinggi 4 meter, termasuk hotel ini juga terkena gelombang tusnami. Ada puluhan orang di Langkawi yang hilang atau meninggal akibat tsunami.

Karena waktu kami sangat sempit, kami mencuri-curi waktu mengunjungi satu tempat wisata terkenal di Pulau Langkawi, yaitu menaiki cable car yang katanya tertinggi di dunia (800 meter). Oh iya, transportasi tidak sulit di Langkawi. Selain taksi konvensional, kita juga bisa naik Grab. Dari hotel ke tempat cable  car hanya 29 ringgit saja (1 ringgit = Rp3300). Memang sebaiknya kita perlu memasang aplikasi transporatsi online seperti Grab dan Uber selama berada di luar negeri, karena terbukti bermanfaat untuk pergi ke mana-mana dengan harga yang murah.

Naik cable car yang tertinggi di dunia, terlihatlah lanskap alam pulau-pulau di sekitar Langkawi. Sayangnya hari hujan sehingga fotonya kurang jelas

Saya hanya merekam beberapa foto saja. Di bawah ini foto-foto yang lebih jelas yang saya ambil dari akun Facebook teman saya, Pak Arry Armand, yang juga ikut dalam rombongan ke Langkawi.

Cable car

Untuk naik cable car ini (isinya max 6 orang) kita harsu membayar 55 ringgit. Bentangan cable car ini cukup panjang, sekitar 2 km. Ada dua titik perhentian di puncak bukit. Kita bisa berhenti dulu pada setiap perhentian ini untuk berfoto-foto sambil menikmati pemandangan yang spekatakuler, Di bawah sana jurang yang dalam, di ujung sana tampak pulau-pulau.

Di titik perhentian terakhir kita bisa turun lagi dan kalau berani kita menyusuri jembatan gantung yang sebagian dasarnya terbuat dari kaca. Ngeri banget melihat ke bawah. Untuk naik jembatan gantung ini kita harsu membayar 10 ringgit.

Jembatan gantung

Jembatan gantung

Kalau ingin menyusuri Pulau Langkawi lebih lengkap setidaknya dibutuhkan dua hari lagi agar semua obyek wisata bisa dikunjungi. Tapi berhubung jatah kami hanya dua hari saja di sana, maka hanya satu obyek wisata saja yang dapat kami kunjungi.

 


Written by rinaldimunir

December 5th, 2017 at 4:21 pm

Posted in Cerita perjalanan

Menikmati Kuliner Malam di Bandar Lampung

without comments

Dalam suatu kesempatan menjadi dosen terbang di Instyitut Teknologi Sumatera (YTERA), Lampung Selatan, saya menginap satu malam. Malam hari setelah sholat Maghrib di wisma, saya mulai mencari makan malam di Bandar Lampung. Kalau bakso Sonny sudah biasa, sudah sering. Kali ini supir yang mengantar tadi siang mempromosikan begini: coba pak, nasi uduk Toha, sudah terkenal di Bandar Lampung. Nasi uduk mah sudah biasa, di Bandung juga ada, tetapi umumnya dijual pada pagi hari. Malam hari ada juga sih yang menjual nasi uduk ini, umumnya pedagang soto Jawa Timur. Selain soto, pedagang juga menyediakn menu ayam goreng dan pecel lele, nah nasinya itu bisa nasi biasa atau nasi uduk. Nasi uduk adalah nasi  nasi gurih yang dimasak dengan bumbu-bumbu dan sedikit santan.

Tertarik dengan promosi pak supir, saya pun mulai mencari tempat yang menjual nasi uduk ini. Kebetulan ruko yang menjual nasi uduk Toha itu tidak jauh dari wisma, yaitu di Jalan Antasari. Nah itu dia, nasi uduk Toha yang kata orang Lampung sudah menjadi legendaris.

Nasi uduk Toha

Saya pun memesan satu porsi nasi uduk dengan lauk satu potong ayam goreng dan tempe. Ternyata yang dihidangkan lebih dari itu.  Tambahannya berupa satu piring kerupuk emping, lalap sayuran yang banyak, dan tentu saja sambal.

Satu porsi nasi uduk lengkap

Rasanya sih lumayan, memang cocok dimakan hangat pada malam hari yang dingin. Menurutku nilai nasi uduknya 7,5 lah. Sambalnya tidak pedas sekali, ada sedikit rasa manis. Rasa ayam gorengnya standard seperti ayam goreng yang dijajakan pedagang kaki lima.

Coba tebak berapa harga yang harus saya bayar untuk satu paket seperti pada gambar di atas. Empat puluh dua ribu (42.000) rupiah. Hmmmm…mahal juga, kata temanku yang membaca postingan-ku di Facebook. Dia kira sekitar 20 sampai 25 ribulah. Kalau menurut taksiranku sih sekitar 30 ribulah, karena emping dan tempenya lumayan banyak.  Yang penting saya sudah mencoba nasi uduk Toha yang legendaris di Bandar Lampung itu.


Written by rinaldimunir

November 20th, 2017 at 12:58 pm

Posted in Makanan enak

Bersikap Istiqamah itu Jauh lebih Sulit

without comments

Beberapa hari ini media daring ramai memberitakan artis Indonesia yang melepas hijab (jilbabnya) setelah dua tahun memakainya. Tanggapan dan komentar pun datang silih berganti. Kalau yang melakukannya orang biasa, mungkin tidak ada orang peduli, tetapi karena yang melepas hijab adalah tokoh publik, maka resiko sebagai public figure ya begitu, setiap tindak tanduknya harus siap dinilai, dikritisi, atau dikomentari.

Sebenarnya ini berita basi, sebab sudah biasa dan sering terjadi artis yang melepas jilbabnya setelah cukup lama memakainya. Sebagai orang awam, bukan hak kita untuk menghakimi mereka. Biar itu urusannya dengan Tuhan saja. Apakah mereka mempermainkan agama atau bukan, saya kurang tahu.

Setidaknya peristiwa semacam di atas memberi hikmah bagi kita.  Tiap orang ingin menjadi lebih baik dari hari kemarin. Pada kasus di atas, bagi perempuan muslimah, keputusan memakai busana muslimah dengan menutup aurat (mengenakan hijab) adalah sebuah hijrah untuk lebih mengamalkan ajaran agama menjadi lebih baik lagi.

Nah, untuk berubah menjadi orang yang lebih baik tidaklah sulit. Tetapi yang jauh lebih sulit adalah adalah bersikap istiqamah atau konsisten untuk mempertahankannya. Saya sendiri mengalami hal yang sama, misalnya ingin terus melaksanakan shalat tahajud, tetapi hanya konsisten di awal-awal, setelah itu jarang. Ingin bersedekah, meskipun sedikit, setiap hari, tetapi sekarang sering lalai. Ampuni Hamba-Mu ini ya Allah, tidak bisa istiqamah.

Nah, apa yang dialami oleh para artis yang buka tutup hijab saya duga mungkin juga begitu. Mereka ingin berubah lebih baik, ingin menjalankan agama lebih kaffah, tetapi tidak dapat mempertahankannya untuk waktu yang seterusnya. Godaan di luar sana, masalah di dalam diri sendiri, dan lain-lain yang saya tidak tahu, membuat keistiqamahan itu luntur dalam perjalanan waktu.

Menurut saya, sungguh berbahagialah orang yang selalu istiqamah, orang yang selalu konsisten dengan pilihan hidupnya atau dengan keputusan yang dia ambil, meskipun banyak orang mengecam atau mencemoohnya. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang, dia hanya berkeyakinan bahwa apa yang dia lakukan adalah benar.


Written by rinaldimunir

November 13th, 2017 at 11:06 am

Posted in Renunganku

Angkot dan Taxi Daring, Dua Sisi Kehidupan Berbeda

without comments

Hari ini saya naik angkot dari Jalan Riau ke kampus ITB. Penumpangnya hanya saya sendiri di belakang. Sepi. Meski sepi, Pak Supir angkot tetap menjalankan angkotnya mencari penumpang yang masih setia menunggu angkot di pinggir jalan. Dari sisi ekonomi sebetulnya dia merugi karena menjalankan angkot menyusuri jalanan kota tetapi hanya membawa segelintir penumpang. Pendapatan yang masuk dari mengangkot tentu tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkannya (bensin, makan, perawatan, tips buat preman, dsb). Tapi dia tidak punya pilihan lain. Mencari pekerjaan saat ini tidak mudah.

Zaman telah berubah. Pengguna transportasi sudah beralih ke sepeda motor dan transportasi daring (online). Sepeda motor lebih praktis karena dapat menembus kemacetan. Berbeda dengan angkot yang sering berhenti dan ngetem lama menunggu penumpang, memakai sepeda motor jauh lebih bebas dan sesuka hati pemiliknya mau pergi ke mana saja.

Untuk alasan kedua, transportasi daring, sekarang sudah menjadi pilihan penting bagi masyarakat. Trasportasi daring seperti ojek daring dan taxi daring dari tiga perusahaan utama  (Gojek, Grab, dan Uber) telah menjadi andalan masyarakat yang enggan naik angkutan umum.  Tidak perlu capek-capek ke jalan raya mencari angkutan umum. Tinggal pesan via ponsel, taxi daring atau ojek daring datang ke rumah atau tempat kita memesan untuk menjemput. Selain efisien, ongkosnya murah lagi karena masih disubsidi oleh perushaannya yang rajin “membakar duit” investor.

Pengemudi (driver) transportasi daring bisa siapa saja. Mahasiswa, karyawan, PNS, ibu rumah tangga, guru, satpam, dan lain-lain bisa menjadi driver asalkan memiliki kendaraan sendiri. Iming-iming bonus dari perusahaan transportasi daring telah membuat banyak orang tertarik ikut menjadi driver.

Saya sendiri adalah pengguna yang sering menggunakan transporatsi daring, khususnya taxi daring, selain ojek daring tentunya. Mobil yang saya naiki bermacam-macam merek dan tahun keluaran. Minggu lalu saya memesan taxi daring dari sebuah rumah sakit menuju rumah. Baru beberapa detik memesan via ponsel, order saya langsung ada yang menerima. Pengemudinya adalah seorang mahasiswa Unpad tingkat akhir yang baru saja selesai ujian skripsi. Mobil yang dibawanya adalah mobilnya sendiri (mungkin mobil yang dibelikan oleh orangtuanya), mobil terbaru dan jenis terbaru keluaran Honda (ups, sebut merek ?

Iseng-iseng saya tanya berapa bonus yang dia terima dengan me-go-car (saya pakai aplikasi Go-car). katanya, sehari, kalau mendapat order mengangkut penumpang 17 kali, dia mendapat bonus Rp390.000 pada hari biasa (weekday), atau Rp450.000 pada akhir pekan (weekend). Itu diluar ongkos dari penumpang dan sejumlah tips. Dia tidak perlu keliling-keliling mencari penumpang seperti halnya taxi konvensional atau angkot, cukup mangkal di suatu tempat keramaian (stasiun, pangkalan travel, mal, pasar, dsb), tunggu order yang masuk ke aplikasi, maka dia sudah mendapat penumpang.  Kerjanya cukup dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam saja, suka-suka dia saja.

Saya berhitung-hitung, jika sehari katakanlah dia mendapat pendapatan (bonus + ongkos + tip dari penumpang) sebesar Rp500.000, maka sepuluh saja hari dia mendapat 5 juta, sebulan dia mendapat 15 juta rupiah (diluar bensin dan makan). Itu penghasilan yang sangat besar dan menggiurkan bagi anak muda seperti dia.

Bandingkan dengan nasib supir angkot di atas. Dengan penumpang yang sepi, setiap hari paling banter dia hanya mendapat 100 – 150 ribu rupiah saja. Jika dikurangi makan dan setoran, paling banter dia mendapat hanya 50 ribu rupiah saja, itu yang bisa dibawanya  pulang. Nasib yang sama juga dialami oleh supir taxi konvensional yang jumlah penumpangnya semakin menyusut. Orang lebih senang menggunakan taxi daring daripada taxi konvensional karena ongkosnya murah.

Dengan ketimpangan seperti itu, maka tidak heran sering terjadi bentrokan antara pengemudi transporatsi daring dengan pengemudi transportasi konvensional. Di Bandung perseteruan keduanya sangat sengit dan cenderung anarkis. Pengemudi taxi daring dicegat, dipukul, mobilnya dirusak. Kalau sudah menyangkut urusan perut, maka logika dan nalar tidak jalan lagi. Golongan menengah (yang direpresentasikan oleh mahasiswa tadi) telah mengambil lahan golongan lemah. Sungguh persaingan yang tidak sehat dan tidak seimbang.

Tentu kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya pilihan masyarakat yang beralih ke taxi daring ketimbang angkot atau taxi konvensional. Dengan kebiasaan angkot yang sering ngetem, sering berhenti, dan melalui jalur yang tidak shortetst path, maka pilihan dengan taxi daring adalah alternatif yang tidak terelakkan. Jika ditambah dengan kondisi mobil angkot yang sudah reot, tidak nyaman, panas, bersempit-sempit dengan peumpang lain, maka alasan memilih taxi daring semakin kuat. Dengan kata lain, masyarakat terbantu dengan kehadiran sarana transportasi daring.

Di sisi lain, pemerintah pun gamang dengan kondisi ini. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat tidak diikuti dengan kebijakan yang adil. Terkesan pemerintah daerah cuci tangan. Transportasi konvensional dibiarkan hidup segan mati tak mau, tetapi melarang transportasi daring juga tidak ada dasar hukumnya. Pemerintah seperti membiarkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Kita tidak tahu sampai kapan demo-demo pengemudi transportasi daring vs pengemudi transportasi konvensional akan terus berlangsung.

Supaya persaingan ini fair, salah satu solusinya adalah pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan semua transportasi umum. Artinya semua angkot itu dimiliki Pemda, supirmya digaji, pelayanannya diperbaiki, jalurnya dibebaskan seperti taxi daring, jadwalnya tepat waktu, dan lain-lain. Jika ini dlakukan, maka persaingan antara kedua jenis transportasi akan berlangsung sehat. Masyarakat mempunyai banyak pilihan. Tapi, ini mungkin cuma mimpi.


Written by rinaldimunir

October 26th, 2017 at 3:18 pm

Memiliki “Mata” dari Kejauhan

without comments

Di RT saya dipasang beberapa kamera CCTV yang terhubung ke Internet.  CCTV ini hasil urunan warga setelah diskusi di dalam grup whatsapp (WA).  Di RT saya ada grup WA sebagai sarana komunikasi antar warga yang rata-rata sibuk sehingga sulit mengadakan rapat. Dari obrolan di WA terbersit ide untuk memasang kamera CCTV di sudut-sudut jalan di RT kami. RT kami, yang berada di kompleks perumahan, terhubung satu sama lain dengan empat ruas jalan. Setiap ruas jalan akan dipasang 3 buah kamera CCTV, yaitu di pojok persimpangan dan di tengah ruas jalan. Total keseluruhan kamera CCTV adalah 13 buah.

Setelah serius dengan ide CCTV itu, maka vendor pun diundang untuk menjelaskan mekanisme dan biaya keseluruhan (biaya beli peralatan dan pemasangan). Selanjutnya ditetapkan iuran untuk masing-masing rumah. Untuk membeli semua CCTV itu (termasuk komputer) diperlukan biaya 19 jutaan, dan TV untuk monitor 2,5 juta. Jika ditambah biaya upah tukang, beli cat, beli tiang, dan lain-lain, maka total keseluruhan biaya pengadaan dan pemasangan CCTV itu sekitar 22 jutaan. Setiap rumah ditarik iuran sekitar 400 ribuan. Maka, dua minggu kemudian terpasanglah CCTV di RT kami.

Komputer, wifi, dan layar TV yang memantau semua hasil tangkapan kamera CCTV  ditaruh di pos ronda yang dijaga oleh Pak Satpam. Dari pos ronda itu Satpam dapat memantau kondisi jalan-jalan pemukiman.

Tentu saja keamanan lingkungan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada Satpam. Warga pun dapat aktif memantau gambar-gamabr CCTV melalui ponsel, karena video dari CCTV dapat diakses melalui intenet (karena ada wifi). Dengan memasang aplikasi Glenz di Android warga dapat memantau situasi jalan-jalan pemukiman via ponsel secara real time 24 jam di mana pun mereka berada.  Seperti screen shot dari ponsel saya di bawah ini, saya dapat memantau kondisi jalan di depan rumah saya meskipun saya sedang berada di luar kota. Ketika siang hari video yang ditampilkan oleh CCTV terlihat berwarna, tetapi pada malam hari gambarnya hitam putih saja karena kurang cahaya.

Kata kunci semua ini adalah IOT (internet of things), yaitu benda-benda ditambahkan dengan kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan (internet) tanpa memerlukan interaksi antar manusia ke manusia atau manusia ke komputer.

Menyenangkan juga sesudah ada CCTV ini. Dari kantor  saya dapat melihat anak saya yang pulang sekolah pada siang hari dengan sepedanya, atau saya dapat melihat pembantu yang keluar rumah menyapu jalan, melihat orang yang datang ke rumah, dan sebagainya. Memang kamera CCTV itu tidak dapat menampilkan wajah orang secara jelas (karena dipasang di atas dengan lebar tangkapan yang tidak terlalu besar), tapi sudah cukuplah memantau situasi perumahan. Ibaratnya saya memiliki “mata” dari kejauhan.

Written by rinaldimunir

October 12th, 2017 at 4:07 pm

Posted in Uncategorized

Manfaat Punya Kartu Asuransi Kesehatan

without comments

Asuransi kesehatan itu perlu. Sedapat mungkin setiap orang mengikuti program asuransi kesehatan. Manfaatnya baru terasa kalau kita menderita sakit yang cukup berat sehingga perlu dirawat di rumah sakit. Di bawah ini  pengalaman saya menggunakan kartu asuransi kesehatan.

Di kampus saya semua dosen dan karyawan dimasukkan ke dalam program asuransi kesehatan. Mitra perusahaan asuransi kesehatan selalu berganti setiap tahun, karena penentuannya melalui tender. Beberapa perusahaan asuransi yang pernah menjadi  rekanan kantor saya diantaranya Jasindo, Bumida, Bumiputera, dan lain-lain. Setiap pegawai hanya memperoleh empat kartu asuransi, yaitu untuk suami, istri, dan dua orang anak saja. Anak ketiga saya tidak mendapat jaminan asuransi kesehatan, kasihan ya. Kalau mau, maka kita menambah sendiri dengan biaya sendiri.

Sepengetahuan saya biaya premi asuransi itu ditanggung oleh kantor. Jadi, kita tidak mengeluarkan biaya premi lagi, atau dipotong dari gaji. Terima kasih kampusku. Oh iya, selain asuransi kesehatan yang ditanggung oleh kantor, saya juga memiliki kartu BPJS sebagai pengganti Askes. Di kartu itu tidak ada tulisan BPJS, tetapi Kartu Indonesia Sehat. Ah, sama saja, kata saya dalam hati.

Selama ini saya belum pernah menggunakan asuransi kesehatan. Alhamdulillah, saya jarang sakit berat dan tidak pernah diopname di rumah sakit. Saya berharap jangan sampai pernah menggunakan asuransi kesehatan tersebut, artinya saya ingin selalu tetap sehat dan jangan sampai menderita sakit. Semoga Allah SWT selalu memberi saya kesehatan, amin, dan kesehatan yang diberikan saat ini patut selalu disyukuri. Terima kasih ya Allah. Selama ini kalau sakit saya hanya sakit flu, batuk, demam, pernah juga tipes tapi cukup dirawat dan istirahat di rumah saja.

Tapi yang namanya sakit bisa menyerang anggota keluarga yang lain. Nah, itu dialami oleh istri saya. Sudah dua kali istri saya dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi, keduanya di rumah sakit swasta. Semula saya tidak ngeh dengan kartu asuransi yang kami miliki, karena jarang dibawa-bawa (tidak dimasukkan ke dalam dompet). Tetapi, ketika mengurus pendaftaran rawat inap, saya menanyakan apakah bisa menggunakan kartu asuransi? Petugasnya menjawab, silakan, nanti kami coba kontak dulu asuransinya.

Untuk rawat inap yang pertama, kebetulan saya membawa kartu asuransi atas nama istri saya. Setelah kartu digesek oleh petugas, lalu petugas melihat poin-poin apa saja yang ditanggung asuransi, ternyata saya bisa menggunakan kartu asuransi tersebut untuk pembayaran biaya selama di rumah sakit (biaya dokter, rawat inap, obat-obatan, dll). Kelas kamar yang bisa ditempati maksimal sampai kelas 2 saja. Kalau mau ke kelas lebih tinggi, maka kelebihannya akan ditanggung kita sendiri. Ketika mengurus kepulangan pasien dari rumah sakit, maka saya mendapat rincian biaya-biaya. Total biaya semuanya sekitar lima juta, dan asuransi kesehatan menanggung hampir semuanya, saya hanya membayar biaya kelebihan (excess) yang sangat kecil, yaitu Rp 128 ribu saja. Itupun tidak dibayar langsung, tetapi ditagihkan ke kantor, nanti barulah kantor mengirimkan tagihan ke saya untuk saya lunasi melalui potong gaji.

Kali kedua, istri saya menjalani operasi kecil dan dirawat di rumah sakit yang lain. Kali ini saya tidak membawa kartu asuransi. Lupa. Saya pulang ke rumah dulu untuk mengambilnya. Untuk rawat inap yang kedua ini ternyata proses persetujuan asuransinya memakan waktu yang lama.  Jadi, ketika saya mendaftar di rumah sakit, saya  belum mendapat kepastian apakah bisa ditanggung asuransi atau tidak. Tapi jawaban dari rumah sakit adalah: kami akan proses dulu dan akan mengontak pihak asuransinya. Setelah operasi dan rawat inap selesai, dan saya mengurus kepulangan, barulah saya mendapat jawaban ternyata bisa ditanggung asuransi. Total biayanya sekitar 9 jutaan, dan saya hanya membayar kelebihan biaya sekitar 300-an ribu saja. Alhamdulillah.

Setelah mengalami dua peristiwa ini barulah saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan. Sakit itu mahal, maka hendaklah kita berusaha jangan sampai sakit. Namun jika akhirnya sakit dan menjalani rawat inap, apalagi sampai operasi, maka disitulah pentingnya punya kartu asuransi.

Sayangnya kartu asuransi kesehatan yang saya miliki tidak dapat digunakan untuk biaya rawat jalan atau konsultasi/diagnosis ke dokter. Saya pernah membawa istri ke rumah sakit swasta yang lain untuk konsultasi ke dokter penyakit dalam dan dokter spesialis ginjal. Cukup mahal juga biaya ke dokter tersebut (termasuk pemeriksaan lab radiologi), tetapi tidak dapat di-cover oleh asuransi. Jadi, sebaiknya kita perlu mengetahui poin-poin apa saja yang ditanggung oleh suransi kesehatan, apakah rawat inap saja atau juga termasuk rawat jalan.

Demikianlah pengalaman saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan.


Written by rinaldimunir

October 9th, 2017 at 2:35 pm

Posted in Pengalamanku

Sepinya Pasar Tanah Abang

without comments

Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke toko sepatu seorang teman lama di Pasar Tanah Abang Blok A. Pasar Tanah Abang adalah pusat perkulakan terbesar di Asia Tenggara, selalu ramai dan padat pembeli. Pengunjungnya datang dari seluruh daerah nusantara dan manca negara. Tapi hari itu saya menemukan pemandangan yang cukup “aneh”. Lengang. Jarang ada pembeli. Saya hampir tidak percaya apakah ini benar Pasar Tanah Abang, kok sepi begini. Padahal ini hari minggu lho, hari banyak orang berbelanja ke toko-toko.

Sebuah toko di Pasar Tanah Abang

Apakah kondisinya selalu begini?, tanya saya kepada teman saya pemilik toko. Dia membenarkan. Kondisi sepi dan lesu sudah berlangsung sejak awal tahun ini. Hanya menjelang lebaran saja ramai, sesudah itu sepi. Padahal dulu biasanya pembeli selalu ramai setiap hari. Pembeli dengan partai besar umumnya berasal dari Indonesia Timur. Mereka membeli barang dalam jumlah besar untuk dijual kembali di daerahnya. Tapi itu dulu, sekarang sudah hampir tidak ada.

Dia mengeluhkan omset yang terus menurun. Biasanya omset perbulan minimal 200 juta rupiah. Sekarang dapat 100 juta per bulan saja sudah lumayan. Jika omset sudah kurang dari 100 juta maka dia khawatir tidak akan mampu lagi bertahan.  Pengeluaran untuk gaji karyawan, listrik,  dan sebagainya tidak akan tertutupi.

Kondisi sepi dan  lesu tidak hanya menimpa Pasar Tanah Abang, tetapi juga Mangga Dua, Glodok, dan sebagainya. Pergilah anda ke sana, sepi (Baca:  Glodok dan WTC Mangga Dua Sepi, Ekonomi Lagi Lesu?). Beberapa supermarket dan minimarket pun mulai menutup gerainya.

Saya menduga-duga apa penyebab lesunya pusat perbelanjaan akhir-akhir ini. Mungkin memang perekonomian Indonesia saat ini sedang lesu seperti yang diungkap oleh para pakar ekonomi. Tapi penyebab lain adalah bergesernya pola belanja orang Indonesia saat ini. Orang Indonesia senang berbelanja secara daring (online) (Baca: Pengunjung Sepi, Pedagang Mangga Dua Mall Keluhkan Toko Online). Tidak perlu datang ke toko, tetapi beli saja lewat Internet. Cukup dari ponsel di tangan, anda sudah bisa memilih barang-barang yang anda inginkan dari rumah. Jika cocok, maka bayar dengan bermacam cara (ATM, kartu kredit, Internet Banking, dan sebagainya), lalu barang akan diantar ke rumah dalam satu dua hari. Usaha jasa kurir yang marak belakangan ini ikut bergairah dengan banyaknya orang belanja daring.

Nah, pedagang konvensional yang tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi akan terancam punah secara perlahan. Satu-satunya cara agar mereka bertahan adalah ikut menjual dagangannya secara daring. Jadi, toko secara fisik tetap ada, tetapi toko virtual juga ada. Keduanya saling melengkapi.

Dugaan saya di atas dibantah oleh teman saya yang berdagang sepatu di Tanah Abang tadi. Jikapun orang beralih belanja secara daring, maka pengaruhnya tidak banyak, karena orang membeli hanya satu atau dua buah. Saya tidak mengiyakan dan juga tidak membantah yang dia katakan. Mungkin saja memang tidak besar pengaruhnya, tetapi pembeli partai besar yang selama ini menjadi pelanggan utama toko-toko di Tanah Abang mungkin saja sudah beralih membeli barang dalam partai besar secara daring namun bukan ke toko yang biasanya mereka kunjungi, tetapi langsung ke pabrik atau distributor barang. Jika sudah demikian kondisinya, Tanah Abang akan tinggal legenda.


Written by rinaldimunir

October 5th, 2017 at 11:10 am

Posted in Gado-gado

Sebaskom Kecil Air Minum Untuk Kucing Liar

without comments

Di halaman rumah saya ada ember kecil untuk menampung cucuran air dari talang di atap rumah. Talang itu berfungsi untuk mengalirkan air hujan, selain itu juga untuk mengalirkan limpahan air dari toren penampung  air ledeng yang juga berada di atas atap rumah.

Setiap hari ember tersebut selalu berisi air bersih limpahan dari toren semalam. Karena di sekitar rumah saya jarang ada genangan air, maka kucing-kucing liar yang lalu lalang di depan rumah sering mendatangi ember itu untuk minum dikala kehausan. Nikmat sekali tampaknya kucing itu meneguk air dengan lidahnya. Cukup lama ia minum, ada sekitar dua hingga tiga menit hingga lambungnya sudah penuh dengan air.

Melihat kucing minum dengan nikmatnya dari ember itu merupakan pemandangan yang mengharukan bagi saya. Saya teringat sebuah tulisan seorang Ustadz yang berisi contoh amal sholeh kecil yang dapat kita lakukan setiap hari. Isinya kurang lebih begini: sediakan satu wadah atau ember kecil di depan rumahmu yang berisi air bersih untuk minum kucing-kucing liar atau anjing liar yang sering lewat. Mudah-mudahan setiap tetes air yang diminum oleh hewan itu menjadi tambahan timbangan pahalamu kelak di Padang Mahsyar nanti. Amin.

Sekarang ember kecil hitam itu saya ganti dengan baskom yang lebih rendah sehingga tidak menyulitkan kucing-kucing yang mampir untuk minum. Setiap hari air tersebut perlu diganti agar tidak menjadi sarang nyamuk. Idealnya saya taruh di pinggir jalan di depan rumah agar hewan lain seperti anjing liar yang lewat pun bisa minum, tapi untuk sementara masih di dalam halaman dulu.

Saya kutip tulisan dari seorang teman: kata bijak mengatakan, janganlah engkau meremehkan sebuah kebaikan kecil untuk selama lamanya, karena boleh jadi jadi saat engkau tengah terlelap dalam tidur, pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu dari kucing-kucing atau anjing-anjing liar yg kehausan yang telah engkau tolong. Amin.


Written by rinaldimunir

September 22nd, 2017 at 4:01 pm

Keluar dari Grup Whatsapp

without comments

Berbincang-bincang melalui aplikasi whatsapp (WA) di dalam sebuah grup diskusi memang mengasyikkan. Pada era smartphone saat ini hampir semua pemilik gawai (gadget) memiliki aplikasi whatsapp. Perbincangan di dalam grup bisa membahas masalah serius, tapi bisa pula hanya berisi senda gurau belaka yang dapat melenakan penggunanya sehingga keasyikan  chatting berjam-jam.

Setiap orang mungkin tergabung dalam beberapa grup di WA. Grup WA yang banyak  jumlahnya adalah grup alumni, baik alumni SD, SMP, SMA, kuliah, alumni prajabatan CPNS, alumni umroh dan haji, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk grup komunitas, grup pegawai di kantor, grup RT, grup arisan, dan sebagainya. Memori ponsel bisa-bisa penuh dengan pesan-pesan yang terkirim di WA. Jika dilayani semua, chatting melalui WA dapat melalaikan pekerjaan kita atau tugas utama kita sehari-hari. Sikap yang paling bijak adalah berkomunikasi melalui WA seperlunya saja.

Pesan atau informasi apa saja dapat dikirim melalui WA. Tidak hanya pesan teks, tetapi juga dokumen (Word, Excell, PPT, pdf, dll), gambar, video, animasi, tautan ke situs berita daring dan sebagainya. Nah, di sinilah letak masalahnya. Karena terlalu bersemangat, anggota grup WA seringkali kebablasan. Humor-humor yang berbau pornografi sering kali melintas. Namun yang lebih parah adalah gambar-gambar mesum atau video mesum yang dikirim anggota grup.

Saya yang menerima gambar-gambar atau video mesum tersebut masih dapat bersabar. Gambar dan video tersebut saya hapus dari memori ponsel. Tetapi gambar-gambar mesum lain masih saja terus lalu lalang yang dikirim oleh anggota grup. Default-nya adalah gambar-gambar yang dikirim melalui WA akan tersimpan secara otomatis kecuali kalau kita men-seting perlu persetujuan user.

Pengirim gambar-gambar mesum sering berkilah, tujuannya hanya untuk sekedar fun, biar nggak stres, atau hanya sekedar iseng mencari perhatian anggota grup. Namun, pengirim gambar tidak sadar, bahwa tidak semua anggota grup mempunyai pola pikir seperti dia. Tidak semua anggota suka dengan gambar-gambar mesum tersebut.

Saya sering komplain pada beberapa grup, mempertanyakan anggota grup yang suka mengirim gambar-gambar yang tidak pantas ke jalur umum. Jika ingin menikmati gambar-gambar koleksi mesum tersebut, nikmati saja sendiri, tanggung jawab sendiri, itu urusan Anda, dosanya dosa anda, kenapa harus disebar ke dalam grup yang anggotanya beragam?

Saya punya alasan mengapa saya harus “marah”. Anak saya di rumah suka meminjam ponsel saya, sekedar main game atau mengakses video di Youtube. Kadang-kadang dia juga suka melihat koleksi gambar di Gallery ponsel.  Nah, inilah yang saya takutkan. Setiap kali saya menerima kiriman gambar mesum dari grup WA, saya dengan sigap selalu menghapusnya. Saya khawatir anak-anak saya melihatnya dan mengira saya mengkoleksi gambar-gambar mesum tersebut. Namun, ada kalanya saya lupa menghapusnya. Kecepatan saya menghapus juga tidak selalu secepat anak saya melihatnya. Bisa saja ketika dia menggunakan ponsel saya, gambar-gambar tersebut masuk dan saya belum menghapusnya. Itulah yang saya takutkan, dia melihat gambar-gamba pornografi kiriman anggota grup.  Saya membenarkan pendapat Bu Elly Risman yang menyatakan kalau peredaran pornografi secara masif adalah melalui ponsel.

Berhubung komplain saya tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, maka apa boleh buat, saya pun terpaksa left atau keluar dari grup. Daripada anak saya menjadi korban pornografi, biarlah saya rela tidak mengikuti grup diskusi yang ramai itu. Keluar dari grup WA tidak berarti memutus hubungan pertemanan di darat. Hubungan saya dengan teman di grup tetap baik-baik saja.


Written by rinaldimunir

September 19th, 2017 at 5:19 pm

Posted in Pengalamanku

Mendidik dengan Memberi Contoh

without comments

Suatu hari anak saya yang bungsu pergi belanja sendiri ke minimarket dengan menggunakan sepeda. Diam-diam saya buntuti dia, karena saya agak khawatir kalau dia tidak lihat kiri kanan saat menyeberang jalan dengan sepedanya (minimarket itu berada di seberang jalan). Tiba di minimarket, saya amati dia dari jauh. Setelah membayar belanjaan di kasir, ternyata ada sisa kembalian berupa uang receh. Uang receh itu lalu dia masukkan ke kotak amal yatim piatu yang terletak di luar dekat pintu masuk minimarket. Dia melakukan hal itu (memasukkan uang ke dalam kotak amal) karena sering melihat saya melakukan hal yang sama ketika dia diajak berbelanja ke minimarket. Hmmm…padahal saya tidak pernah lho menyuruh dia untuk memasukkan uang ke kotak kencleng, tapi sekarang dia melakukan amal kecil yang pernah saya lakukan.

Saya pun tersadar. Pendidikan terbaik bagi anak-anak adalah dengan memberikan contoh. Tidak perlu berteori yang muluk-muluk atau berceramah  panjang lebar, tapi perlihatkan dengan contoh teladan. Apa saja yang anda lakukan, maka anak anda akan menirunya karena dia menganggap orangtua dan guru adalah contoh yang patut ditiru, terlepas apakah perbuatan itu baik atau buruk. Anak anda akan mem-foto-copy apa yang anda lakukan.

Maka, bila anda memperlihatkan teladan baik, anak anda akan mencontohnya. Bila anda memperlihatkan sikap buruk, anak anda  pun akan menirunya. Anda membanting pintu sebagai pelampiasan marah di depan anak anda, maka anak anda akan melakukan hal yang sama. Anda merokok di depannya, anak anda akan jadi perokok juga, diam-diam atau terang-terangan. Pada contoh cerita saya di atas, anda bersedekah di dekatnya, maka dia pun akan melakukan hal yang sama kelak. Percayalah.

Saya merasa tindakan apa yang saya lakukan selama ini ternyata berpengaruh besar terhadap sikap anak. Selain sikap yang menurut pandangan umum adalah baik, kadang-kadang saya menyesal bila pernah memberi contoh yang kurang baik. Makan minum sambil berdiri misalnya, maka anak saya pun sering begitu. Membawa ponsel ke toilet, maka anak pun juga membawa ponselnya ke sana. Duh, saya menyesal telah memberi contoh yang  kurang baik dan sekarang harus memperbaiki kembali bangunan yang sudah salah terbentuk.


Written by rinaldimunir

September 11th, 2017 at 2:49 pm

Posted in Pendidikan