if99.net

IF99 ITB

Orchid. #orchid #cgk #bokeh #tangerang (at Terminal 3 Ultimate…

without comments

Orchid. #orchid #cgk #bokeh #tangerang (at Terminal 3 Ultimate Bandara International Soekarno Hatta) via http://ift.tt/2lXUgK0

Written by Veriyanta Kusuma

February 26th, 2017 at 6:07 pm

Posted in Uncategorized

Jakarta’s little Japan. #jakarta (at Blok M Square…

without comments

Jakarta’s little Japan. #jakarta (at Blok M Square Jakarta Selatan) via http://ift.tt/2lCWOdY

Written by Veriyanta Kusuma

February 24th, 2017 at 8:07 pm

Posted in Uncategorized

Smokey chicken satay. #food #kuliner #tangerang #satay (at…

without comments

Smokey chicken satay. #food #kuliner #tangerang #satay (at Kuliner pasar lama Tangerang) via http://ift.tt/2lcozt6

Written by Veriyanta Kusuma

February 23rd, 2017 at 8:07 pm

Posted in Uncategorized

Upgraded! #office #lenovo #thinkpad #laptop #work

without comments

Upgraded! #office #lenovo #thinkpad #laptop #work via http://ift.tt/2meuIWs

Written by Veriyanta Kusuma

February 23rd, 2017 at 10:45 am

Posted in Uncategorized

Heavy rain since last night until morning. Flood in some parts…

without comments

Heavy rain since last night until morning. Flood in some parts of Jakarta. Train schedule delayed due to some stations flooded. #jakarta #flood #rain #landscape #city (at Indosat Ooredoo Head Office) via http://ift.tt/2lANtpc

Written by Veriyanta Kusuma

February 21st, 2017 at 9:55 am

Posted in Uncategorized

Pengorbanan AHY dan Teladan yang Ditunjukkannya

without comments

Pilkada DKI Jakarta putaran pertama sudah berlalu. Paslon nomor 1, yaitu Agus Harymurti Yudhoyono, atau disingkat AHY, dengan pasangannya Sylviana tersingkir dari putaran pertama. Paslon nomor 2, Ahok-Djaror dan Paslon nomor 3, Anies-Sandi, melaju ke putaran kedua. AHY sebenarnya adalah bintang yang cemerlang, di awal-awal kampanye elektablitas AHY naik cepat di atas  30%, namun cepat pula merosot hingga akhirnya hanya dapat suara 17% sesuai hasil quick count kemarin. Penurunan itu akibat banyak faktor, mulai dari penampilan yang kurang memuaskan pada acara debat, hingga serangan-serangan yang berbau politis yang ditujukan untuk menjatuhkan elektabilitasnya.

OK, saya tidak akan membicarakan lagi mengenai hasil Pilkada putaran pertama itu. Saya ingin menyoroti satu sisi lain, yaitu fenomena AHY. Menurut saya,  Mas Agus, panggilan AHY, adalah fenomena baru perpolitikan di negeri ini. Dia adalah bintang yang bersinar. Dia anak mantan Presiden (SBY). Karir militernya sangat bagus, tidak lama lagi akan menjadi Letkol.  Dia sepi dari diberitakan, tidak pernah ada gosip negatif  tentang dirinya. Hal itu ditunjung dengan penampilan fisiknya yang tampan dan postur tubuh yang bagus (atletis).

Di tengah karir militernya yang cemerlang, tiba-tiba dia dipanggil (entah oleh bapaknya atau entah oleh Parpol yang dihimpun SBY) untuk maju ke gelanggang percaturan politik Pilkada DKI. Sebagai anak yang taat kepada orangtua, dia mematuhi permintaan itu, meskipun resikonya sangat besar: dia harus mundur dari TNI, dan jika dia gagal dalam Pilkada DKI, dia tidak bisa kembali lagi ke TNI. Pengorbanan yang sangat berat bagi seorang muda seperti AHY.

ahy

Selama proses kampanye Mas Agus dielu-elukan rakyat kecil. Dia menjadi pilihan alternatif diantara  Ahok (yang dipersepsikan berperilaku kasar) atau Anies (yang dipersepsikan saat itu belum punya program terobosan). Perlahan-lahan Mas Agus yang tidak begitu dikenal tiba-tiba menjadi idola baru. Elektabilitasnya naik bahkan mengalahkan Ahok dan Anies.

Tetapi, politik itu sangat kejam. Mulailah berbagai cara untuk menjatuhkan citra Mas Agus. Mula-mula suami pasangannya, Mpok Sylvi, dikaitkan dengan isu makar. Selanjutnya Mpok Sylvi dikaitkan dengan isu korupsi pembangunan masjid. Kedua kasus tersebut tidak terdengar lagi perkembangannya, kemungkinan memang disengaja dibuka pada masa Pilkada. Dua pemberitaan tersebut perlahan mulai menurunkan elektablitas Mas Agus, disamping karena performa debatnya yang agak mengecewakan.

Penurunan elektabilitas tidak berhenti sampai di situ. Pak Beye tidak dapat menahan perasaannya untuk sering “curhat” di Twitter mengenai  kasus-kasus yang mengaitkan dirinya dengan berbagai tudingan miring. Puncaknya adalah “serangan fajar” yang dilakukan oleh mantan ketua KPK, Antasari Azhar, sehari sebelum pencoblosan, yang menuding SBY berada dibalik kriminalisasi dirinya.

Lengkaplah sudah berbagai sebab itu membuat pemilih AHY lari ke Paslon lain. Dia tersingkir dari gelanggang Pilkada. Namun lihatlah bagaimana reaksi AHY. Setelah mengetahui hasil quick count yang tidak memenangkan dirinya, AHY mengakui kekalahan secara ksatria. Dia tidak perlu ngeles segala atau menuding ada kecurangan, atau mencari-cari alasan dengan menyalahkan pihak lain, namun dia terima hasilnya dengan lapang dada. Mas Agus telah memberi contoh teladan yang baik dalam berkompetisi. Sportivitas prajurit benar-benar dia laksanakan, tidak hanya retorika belaka.

Barangkali ini semua adalah hasil jerih payah orangtuanya yang berhasil mendidik anak-anaknya. SBY boleh kecewa karena AHY terlempar, tapi menurut saya Indonesia butuh orang-orang seperti AHY yang telah memberikan contoh yang baik dalam berkompetisi. Jangan melihat pada hasil akhir saja, tetapi lihat pulalah prosesnya.

Meskipun saya tidak memilih Mas Agus (bukan warga DKI), namun terus terang saya bangga dan terharu dengan Mas Agus. Mas Agus masih memiliki harapan untuk nanti tampil kembali menjadi pemimpin Indonesia masa depan. Dia masih muda, mungkin sekitar sepuluh tahun lagi, ketika para jago-jago tua sudah tiada atau sudah  undur diri dari gelanggang, dia dapat maju ke gelanggang dengan performa yang lebih matang. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Kepada Pak Beye, selamat Pak anda memiliki anak yang taat kepada orangtua, bangsa, dan agama.

Semoga Allah SWT selalu menjaga Mas Agus.


Written by rinaldimunir

February 20th, 2017 at 4:09 pm

Posted in Indonesiaku

Tutktuk Bajaj shaky sneaky wobbly ride. #jakarta #bajaj #tuktuk …

without comments

Written by Veriyanta Kusuma

February 20th, 2017 at 9:16 am

Posted in Uncategorized

Happy Monday! #coffee #monday

without comments

Happy Monday! #coffee #monday via http://ift.tt/2lFkIEw

Written by Veriyanta Kusuma

February 13th, 2017 at 12:41 pm

Posted in Uncategorized

Tight crowded platform. Very tight, just few cm from the passing…

without comments

Written by Veriyanta Kusuma

February 12th, 2017 at 8:41 pm

Posted in Uncategorized

Konflik Rasial adalah Akibat Kesenjangan Sosial

without comments

Konflik rasial yang bermuatan SARA (suku, agama, ras, antar golongan) cukup sering terjadi di Indonesia. Konflik rasial ini semakin marak sejak fase reformasi (1998). Makin ke sini makin sering saja. Contoh yang berkaitan dengan agama misalnya masalah pembangunan rumah ibadah agama minoritas di tengah masyarakat mayoritas (ingat kasus di Bogor, Bekasi, Papua, Bali, Kupang, dsb). Contoh yang berkaitan dengan etnik misalnya pengusiran warga Madura oleh warga Dayak di Kalimantan, konflik antara masyarakat keturunan Bali dengan warga pribumi di Lampung, konflik antara warga Tionghoa dengan warga pribumi di Tanjungbalai.

Pertanyaannya, apakah konflik rasial itu disebabkan karena bangsa kita anti perbedaan? Tidak suka hidup berdampingan dengan orang berbeda etnik, agama, dan golongan? Kenapa dulu bangsa kita rukun-rukun saja, kenapa sekarang makin sering terjadi konflik?

Saya yakin jawabannya bukanlah karena bangsa kita anti perbedaan. Konflik rasial itu bukan disebabkan karena perbedaan agama maupun etnik. Jika karena berbeda agama maupun etnik, pasti sejak dulu bangsa kita sudah perang bratayudha antara satu agama dnegan agama lain, antara satu suku dnegan suku lain, antara satu golongan dengan golongan lain. Nyatanya tidak, bukan? Lihatlah di berbagai daerah, masjid, gereja, pura, dan wihara bisa berdiri tanpa ada yang mengganggu. Orang-orang di kota dan di desa sudah biasa punya tetangga berbeda agama maupun etnik. Di dalam satu keluarga bisa saja anggota keluarga berbeda agama. Di beberapa suku di Maluku ada tradisi pelagandong yang mengikat masyarakat yang berbeda agama (Islam dan Nasrani). Jadi, bangsa kita sudah terbiasa hidup dengan orang berbeda agama dna suku sejak dahulu kala.

Lalu, kenapa kok masih sering terjadi konflik rasial? Apa sebabnya? Saya menduga, penyebab konflik tersebut adalah akibat kesenjangan sosial yang semakin lebar. Harmoni yang sudah terbangun sejak lama menjadi rusak karena faktor kesenjangan sosial. Melihat kaum pendatang sukses di suatu daerah, lalu mereka membawa semakin banyak kaumnya ke tanah rantau, maka muncullah ketidakseimbangan. Kaum pendatang membawa tradisi dan agamanya, mereka membangun banyak rumah ibadah tanpa memperhatikan perasaan warga lokal yang mulai terusik. Secara ekonomi mereka lebih baik daripada warga lokal, mereka membangun jaringan ekonomi dengan sesama sukunya. Warga lokal hanya menjadi kuli atau pegawai rendahan. Maka, ketika ada kasus yang melibatkan warga lokal dengan warga pendatang, maka siap-siaplah akan meletus konflik sosial yang dibaca orang sebagai konflik rasial. Provokator akan masuk untuk membuat suasana semakin panas dan runyam.

Di ibukota, dan di kota-kota besar lainnya, di mana kesenjangan sosial sedemikian parahnya antara masyarakat kaya dan miskin, antara konglomerat dengan masyarakat bawah, antara penguasa dengan rakyat, konflik rasial mudah untuk meletus. Ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat menemukan tempat untuk dilampiaskan dalam bentuk kerusuhan (rasial).

Solusi untuk masalah ini adalah menegakkan keadilan. Adil di sini bukan berarti sama rata sama rasa, tapi adil itu adalah meletakkan sesuatu sesuai tempatnya. Jangan merasa mentang-mentang berkuasa, maka anda bisa sewenang-wenang kepada masyarakat yang tidak memilih anda. Jangan karena anda mempunyai kekayaan melimpah, maka hukum bisa anda beli. Jangan karena kaum anda semakin banyak, anda bisa membuat apa saja di tanah rantau tapa menghormati budaya dan agama setempat. Jangan karena anda menguasai media, maka anda bisa membuat berita yang menyudutkan suatu kelompok. Jangan karena anda merasa paling benar dan merasa banyak beking maka anda bisa melecehkan suatu kepercayaan atau simbol-simbol agama maupun etnik. Jika anda sudah bisa berlaku adil, maka niscaya kesenjangan sosial akan semakin kecil gap-nya. Bangsa ini tidak akan mudah bergejolak.

Ketahuilah, bangsa kita tidak suka berkonflik. Mereka ingin hidup tenang dan damai. Bangsa kita rindu  hidup rukun seperti dulu. Mereka tidak anti perbedaan.


Written by rinaldimunir

February 6th, 2017 at 5:09 pm

Posted in Indonesiaku