if99.net

IF99 ITB

Kisah Sir Edmund Hillary dan Pemandu (Sherpa) ke Puncak Mount Everest

without comments

Copas dari milis tetangga, tidak diketahui siapa penulis pertamanya. Semoga dapat memberi hikmah kepada kita yang membacanya.

~~~~~~~~~~~~~

Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay (pemandu/sherpa) kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :

Reporter: “Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?”

Tenzing Norgay: “Sangat senang sekali”

Reporter: “Anda khan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?”

Tenzing Norgay: “Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya & menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia”.

Reporter: “Mengapa Anda lakukan itu?”

Tenzing Norgay: “Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya”.

Di sekitar kita, banyak sekali orang seperti Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay. Pepatah mengatakan, “Bila Anda hendak jadi pahlawan, harus ada yang bertepuk tangan dipinggir jalan”.

Di dunia ini, tidak semua manusia berkeinginan dan memiliki impian seperti Sir Edmund Hillary, menjadi pahlawan.Mereka ini cukup berbahagia dengan memberikan pelayanan dengan membantu orang lain mencapai impiannya. Mereka merasa cukup menjadi “orang2 yang bertepuk tangan saja dipinggir jalan”.Kadang, orang2 seperti ini diperlakukan ibarat “telor mata sapi”.Yang punya telur si Ayam, yang tersohor malah Sapi.

Sudahkah Anda menghargai, menghormati dan mengangkat orang-orang seperti Tenzing Norgay dalam tim Anda?


Written by rinaldimunir

May 18th, 2012 at 7:28 pm

Posted in Kisah Hikmah

Kisah Angga Mencari Ayahnya di “Lembah Sukhoi” Gunung Salak

without comments

Peristiwa kecelakaan pesawat super jet Sukhoi yang menabrak tebing Gunung Salak masih mengharu biru masyarakat kita hari-hari ini. Hingga saat tulisan ini dibuat Tim Basarnas dibantu prajurit TNI dan para relawan masih kesulitan mengevakuasi jenazah para korban yang hancur bercerai berai. Medan yang sangat berat, tebing yang terjal hampir membentuk sudut 90 derajat dan lembah yang dalam membuat proses evakuasi menjadi sangat berat dan beresiko.

Diantara kisah sedih dan tragedi Sukhoi yang memilukan itu, ada sebuah kisah yang mengharukan. Ini adalah kisah tentang anak dari salah seorang korban pesawat –yang mudah-mudahan adalah anak yang shaleh– yang ikut mencari ayahnya bersama tim evakuasi. Dengan bermodalkan hubungan batin antara ayah dan anak, disertai Kuasa Tuhan dan doa anak yang shaleh, dia berhasil mendapat petunjuk keberadaan ayahnya di “lembah Sukhoi” dan memberikan informasi tersebut kepada Tim Evakuasi. Kisah ini saya rangkum dan kutip dari tiga berita daring di bawah ini:
1. Angga Dapat ‘Mukjizat’, Marinir Terbantu Temukan Lokasi Korban Sukhoi
2. Kisah Angga Berjuang Mendaki Gunung Salak Mencari Ayahnya
3. VIDEO: Kisah Angga Cari Ayah di Gunung Salak

~~~~~~~~~~~~~~~~

Namanya Angga Tirta (27), bukan seorang pendaki gunung. Tapi dengan tekad yang kuat dia bisa bertahan mendaki Gunung Salak bersama tim evakuasi korban Sukhoi Superjet 100. Ayah Angga, Aan Husdiana, adalah salah satu penumpang Sukhoi nahas itu.

Rabu (9/5) sore, Angga baru mendengar kabar Sukhoi yang ditumpangi ayahnya lost contact. Ayahnya, Aan, yang merupakan seorang pilot di Kartika Airlines menjadi salah satu penumpang pesawat. Kartika Airlines merupakan calon konsumen Sukhoi.

Rabu malam, Angga bersama kakak ayahnya dan keluarganya, total ada 6 orang, berangkat menuju Pos Cidahu. Keluarga besar Angga ingin tahu langsung kepastian nasib Sukhoi itu. Kamis (10/5) dini hari, dia bersama keluarganya tiba di Pos Cidahu. Di sini muncullah niat Angga untuk ikut mencari ayahnya. Pada mulanya keinginan Angga itu ditolak, Angga tidak diperbolehkan ikut mencari. Tapi dengan tekadnya yang membaja dia membujuk Tim Evakuasi agar diperbolehkan ikut. Dia meyampaikan kepada Komandan bahwa feeling-nya mengatakan ayahnya ada di lereng.

Kamis pagi, Angga bersama prajurit TNI AD ikut mendaki menuju Puncak Gunung Salak. Dia mendengar kabar, untuk menuju lokasi, perlu perjalanan sekitar 2-3 jam. Angga membulatkan tekad untuk ikut. Angga bergerak bersama Tim Marinir, melakukan pencarian lokasi jatuhnya Sukhoi. Angga ingin ikut agar dia dapat mengetahui kondisi Sukhoi dan ayahnya sebenar-benarnya. Tim Marinir kagum dengan kesungguhan Angga, walau tanpa bekal dia bersungguh-sungguh mencari lokasi jatuhnya Sukhoi dan mencari jenazah ayahnya.

“Saya tidak membawa apa-apa, hanya jaket, dan sebotol air mineral,” terang Angga.

Perjalanan mendaki Gunung Salak menempuh medan yang berat. Angga menahan diri untuk tidak meminum air mineral yang dia bawa. Dia berjaga-jaga untuk perjalanan panjang.

“Ternyata kalau saya minum air, saya bisa keram. Itu aturan pendaki gunung,” imbuhnya.

Tanpa bekal logistik yang cukup, Angga berjalan menuju lokasi di puncak. Jalur yang belum dibuka membuat perjalanan menjadi lama. Angga mengaku selalu teringat bau-bauan ayahnya sehingga dia merasa kuat. Dalam pendakian itu, dia kehilangan sepatunya yang jebol.

“Dia kasih petunjuknya lewat bau jengkol, bau petai (makanan favorit ayah Angga yang mengarahkan ke lokasi penemuan, red)”, ucapnya.

Yang menarik, sepanjang perjalanan, Angga tidak melupakan melakukan ibadah shalat. “Sepanjang perjalanan, Angga rajin shalat. Usai shalat dia berdoa meminta petunjuk kepada Yang Kuasa,” kata komandan Tim Marinir, Letkol Oni Junianto.

Angga bersyukur dalam perjalanan melelahkan itu, dirinya mendapat kemudahan-kemudahan. “Alhamdulillah, saat saya butuh air, menemukan mata air. Saya sempat makan daun pakis, sebelum akhirnya bertemu Tim Marinir yang memberi ransum,” imbuh Angga.

Kamis malam, Angga bermalam di kawasan Puncak Gunung Salak. Sebelumnya di perjalanan bertemu Tim Marinir yang memberikan bantuan logistik. Angga tidur beralaskan kantung jenazah yang dibawa TNI.

Nah, keajaiban datang. Usai salat Subuh pada Jumat (11/5) pagi, Angga mengaku ditemui ayahnya. Saat itu, ayahnya memberitahu supaya dirinya tidak usah datang ke lokasi jatuhnya Sukhoi karena daerah itu berbahaya. Petunjuk itu diperoleh Angga saat tim Marinir sudah berada di Puncak Gunung Salak.

Angga pun, lanjut Oni, dalam doanya itu sempat bertanya di mana ayahnya berada. Dia diberi petunjuk bahwa ayahnya berada di lereng gunung. Angga juga diminta pulang. Mendapat petunjuk seperti itu, Angga lalu memberi kabar kepada tim Marinir.

“Kami kemudian turun ke lereng”, jelas Oni.

Tebing yang curam inilah yang ditabrak oleh pesawat Sukhoi sehingga meledak dan hancur berkeping-keping. Di lereng tebing itu ditemukan jenazah korban pesawat termasuk SIM ayahnya Angga (Sumber foto: http://www.tribunnews.com/2012/05/10/lokasi-jatuhnya-sukhoi-ditemukan-mayor-penerbang-fahlevi)

Jumat pukul 07.20 WIB, Tim Marinir turun ke jurang. Angga sempat meminta ikut turun, namun Tim Marinir meminta dia menunggu di atas. Untuk turun ke jurang membutuhkan tali. Dan benar, ternyata sejumlah korban Sukhoi ada di jurang itu. Tim Marinir juga menemukan SIM ayah Angga atas nama Aan Husdiana.

“Setelah SIM ditemukan dan diberikan kepada Angga, dia sempat histeris. Namun akhirnya Angga bisa menerima dan dia pulang bersama tim logistik kami,” tutur Oni.

“Saya sudah cukup puas dengan itu. Walau sebenarnya saya ingin menemukan cincin atau benda yang lain. Tapi itu sudah cukup,” imbuhnya.

Jumat sore, setelah melihat tim Marinir membawa SIM ayahnya, Angga akhirnya memutuskan turun bersama tim Marinir. Angga mengucapkan terima kasih kepada Tim TNI AD dan Tim Marinir, relawan serta Basarnas yang memberi bantuan.

“Sekarang kami berharap identifikasi bisa cepat dan akurat,” tutur Angga, putra sulung almarhum Aan.

Simak penuturan Angga pada video di tautan ini.

~~~~~~~~~~~~~~

Setelah membaca ini, saya terhenyak. Mungkin inilah petunjuk atau ilham yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya. Adapun kemudahan yang diperoleh Angga seperti menemukan mata air ketika Tim Evakuasi kehausan dan tidak menemukan air, itu adalah keajaiban yang diturunkan-Nya. Pada saat-saat yang sulit Allah SWT akan selalu datang menolong. Semoga kisah yang membawa hikmah ini dapat memperteguh iman kita kepada Allah SWT.


Written by rinaldimunir

May 15th, 2012 at 10:31 am

Posted in Kisah Hikmah

Direktur Baru PT Telkom dari IF-ITB

without comments

Ada kabar menggembirakan bagi alumni Informatika ITB minggu lalu. Manajemen PT Telkom Indonesia baru saja berganti wajah. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BUMN tersebut memutuskan pergantian direksi. Direktur Utamanya adalah Arief Yahya (Teknik Sipil Teknik Elektro ITB, angkatan berapa saya tidak tahu). Anda bisa membaca beritanya di sini: Arief Yahya Pimpin Telkom.

Salah satu direksi yang baru adalah Rizkan Chandra. Rizkan menjabat Direktut Network and Solution. Dia dulu adalah adik kelas saya di IF-ITB Angkatan 1987. Meski tidak mengenal Rizkan terlalu pribadi, yang saya tahu dia memang cerdas, hal itu terlihat dari cara bicaranya, selain itu juga humoris. Saya dengar dia mengambil master di bidang telekomunikasi di NUS Singapura. Sebelumnya Rizkan menjabat Dirut di Telkom Sigma, anak perusahaan PT Telkom. Selamat buat Rizkan Chandra, semoga anda dapat membawa PT Telkom Indonesia menjadi perusahaan yang lebih maju. Sebagai alumni Informatika ITB tentu kami merasa bangga ada wakil almamater kami di perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini. Selangkah lagi menjadi Dirut PT Telkom.

Tentu saja saya merasa surprise, sebab pelan-pelan alumni Informatika ITB sudah mulai menduduki jabatan direksi di perusahan besar seperti PT Telkom. Sebelumnya Irfan Setiaputra dari IF angkatan 1981, yang dikenal dengan panggilan Ayak, ditunjuk menjadi Dirut PT INTI di Bandung. Angkatan 1981 adalah angkatan pertama di IF ITB dan Ayak adalah Kahim pertama di HMIF ITB, sekaligus pendiri himpunan mahasiswa Informatika itu. Setahu saya sebelum di PT INTI Pak Irfan menjadi Direktur Manager Cisco Indonesia di Jakarta.

Sudah 30 tahun Informatika ITB berdiri, namun baru sedikit yang mencapai posisi yang penting di Pemerintahan dan BUMN. Setahu saya baru dua orang itu alumni IF ITB yang menjabat posisi puncak di BUMN. Sedikit sekali ya. Kalau menjadi direktur di perusahaan swasta pasti banyak, minimal direktur perusahaan start up company, he..he.

Memang baik menjadi orang penting, tapi jauh lebih penting menjadi orang baik (quote Ebet Kadarusman).


Written by rinaldimunir

May 14th, 2012 at 4:12 pm

Kekerasan dan Irshad Manji

without comments

Baru-baru ini kedatangan seorang wanita yang disebut tokoh feminis menimbulkan kontroversi di negara kita. Dialah Irshad Manji. Dia ditolak di beberapa tempat, beberapa acara diskusinya dibatalkan, termasuk di Kantor Muhammadiyah dan yang terakhir di UGM. Tragisnya lagi acara diskusi dengan Irshad Manji di LKIS Yogyakarta diserbu sebuah Ormas dan beberapa orang peserta diskusi luka-luka.

Saya tidak terlalu tahu Irshad Manji, yang saya tahu dia seorang lesbian atau penyuka sesama jenis. Dia menjadi populer di kalangan liberal (kalau di Indonesia namanya JIL) karena pemikirannya dianggap sebuah ijtihad atau membawa “pembaruan” tentang beberapa ajaran Islam. Pemikiran Manji begitu disanjung dan dibela oleh orang-orang JIL, Manji dianggap sebagai seorang mujtahid atau pembaru yang membawa ide pencerahan.

Jujur saya tidak pernah membaca buku-buku Manji itu, tetapi berdasarkan yang saya baca dari beberapa sumber di Internet, buku Manji seperti The Trouble with Islam berisi curhat dan perjalanan hidupnya yang pahit, termasuk tentang masa kecilnya yang pernah mendapat kekerasan dari ayahnya, plus interaksinya dengan beberapa orang pernah dizalimi atas nama Islam. Satu bukunya lagi, Allah, Liberty and Love berisi korespondensinya dengan orang-orang di berbagai belahan dunia yang ingin mendapat dukungan semangat dari Manji (baca tulisan ini: Transformasi Akademik Seperti Apa yang Diharapkan dari Irshad Manji? dan yang ini: Poor Irshad Manji).

Isi buku Manji juga banyak berisi kata-kata yang kasar dan tidak pantas. Secara tidak langsung pada buku yang terakhir dia mempromosikan tentang gagasan lesbian dan pemahamannya tentang Nabi Luth. Dikutip dari sini: “Nah sekali lagi, patahkan keyakinan dengan ayat-ayat Al-Quran sederhana yang mendorongmu untuk tidak terlalu berlebihan dengan ayat-ayat yang tersirat. Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar. Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kaupun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”

Dari sini saya bisa menilai bahwa penafsiran Irshad Manji tentang ajaran Islam dan Al-Quran sangat keterlaluan. Beberapa pemikirannya lainnya yang kebablasan dapat anda baca pada tulisan ini: http://filsafat.kompasiana.com/2012/05/12/irshad-manji-hasil-kebebasan-pemikiran-yang-kebablasan/.

Apakah pantas pula dia disebut sebagai seorang pemikir atau pembaru Islam sementara dia melakukan maksiat dengan menjadi seorang lesbian yang melakukan hubungan sesama jenis. Larangan homoseksual sudah ditegaskan di dalam Surat Al-A’raaf ayat 80-81:

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka:` Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al A’raaf Ayat 80).

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.(QS. Al A’raaf Ayat 81).

Saya tidak setuju kekerasan, tetapi saya bisa mengerti mengapa ada sekelompok orang yang marah dengan isi buku Manji lalu ingin mengusir Manji bahkan sampai melakukan kekerasan kepadanya. Itu karena Irshad Manji memutarbalikkan penafsiran Al-Quran, menghina Rasul, dan menghina ajaran agama. Orang Islam pasti akan marah jika hal itu dilakukan Manji, karena yang disebarkannya adalah pemikiran yang kebablasan yang dan merusak iman. Bukan berarti berbeda pendapat tidak boleh, orang boleh berbeda pendapat tetapi jangan memutarbalik atau mengacaukan tafsir. Itu pulalah yang dilakukan oleh orang-orang JIL yang menafsirkan ajaran agama berdasarkan hawa nafsunya.

Seorang rekan di sebuah milis menulis:

Kekerasan itu memang memprihatinkan. Ketika Salman Rushdie akan ceramah disuatu tempat di Montreal, juga hampir terjadi kekerasan, bahkan batal, tetapi ada juga yang bisa berjalan ditempat lain.

Disisi lain, banyak dialog antar agama, bahkan dengan pandangan yang sangat ekstrim tapi bisa berjalan dg lancar. Kenapa?
Yang bisa saya tangkap adalah, orang boleh beda pendapat, tetapi jangan memutar balik, mengacaukan tafsir, apalagi meng-asor-kan. Orang akan marah kalau itu yang dilakukan, apalagi jika dilakukan oleh orang yang dianggap punya pengaruh (oleh presenter, bukan oleh audien).

Bahkan tafsir (Al Quran) pun boleh beda. Cuma perbedaannya, pemuka yang menawarkan perbedaan tafsir tanpa mengakibatkan ada rasa permusuhan bagi lawan pendengar, adalah yang disampaikan dengan dalih-dalih kuat, ada dasarnya (misalnya dari berbagai hadist dsb).

Saya tidak mendukung kekerasan, tetapi bisa mengerti kenapa orang bisa marah kalau membaca buku The Trouble with Islam nya Irshad Manji. Karena cara tafsirnya tidak memenuhi kriteria yg saya sampaikan tadi.

Ya itulah Irshad dan Salman, siapa menabur angin, menuai badai.

Maka, kontroversi dan riuh rendah media mainstream yang mengekspos berita reaksi penolakan atas Manji mungkin sangat dinikmati oleh pengusung Manji, yaitu orang-orang JIL. Itu berarti donor dari luar negeri untuk LSM mereka akan semakin deras mengalir sebab pendonor melihat orang-orang JIL telah “berkeringat” melawan kaum fundamentalis yang menolak Manji.


Written by rinaldimunir

May 12th, 2012 at 4:01 pm

Posted in Agama

Dari Sup*a F*t ke Spa*y

without comments

Dua minggu lalu saya menjual sepeda motor yang selama ini menemani saya ke mana-mana di Bandung ini. Motor Sup*a F*t keluaran Hond* itu saya beli pada akhir tahun 2005. Motor ini sangat bersejarah bagi saya pribadi, karena ia telah mengantarkan saya ke kampus sehingga tidak telat mengajar. Ia juga telah mengantarkan anak-anak saya ke sekolah, ke dokter bilamana mereka sakit, jalan-jalan keliling kota, ke swalayan, ke pasar, mengantar istri ke resepsi pernikahan, dan sebagainya. Yang paling berkesan adalah ia telah mengantarkan ASI ke rumah sakit ketika anak saya yang bungsu masuk inkubator karena dia lahir dalam keadaan kuning. Malam-malam jam 1 dinihari saya tembus kegelapan jalan menuju rumah sakit mengantarkan susu ASI itu buatnya ditemani Sup*a F*t yang setia.

Sekarang sudah waktunya saya ganti itu sepeda motor karena sudah butut. Ada perasaan sedih juga ketika menjualnya, namun saya tidak ingin larut dalam kesedihan. Dunia ini fana dan kita tidak perlu mengekalkan kefanaan. Yang lama akan pergi dan yang baru akan menggantikan, itulah sunnatullah yang sudah menjadi keniscayaan hidup. Sebelum menjualnya, sebagai kenang-kenangan, satu hari ketika motor tersebut belum berpindah tangan, saya foto ia di tempat parkir di dalam kampus.

Sup*a F*t-ku yang telah berjasa

Sebagai penggantinya saya beli sebuah motor baru keluaran Hond* juga yaitu Spa*y Helm in. Ini motor matik yang tidak perlu kopling, cukup permainan gas dan rem saja. Yang membuat saya jatuh hati dengan Sp*y ini karena dia mempunyai bagasai yang sangat lapang. Satu helm bisa masuk ke dalamnya, jadi kalau hujan dan motor diparkir di luar maka helm tidak basah. Saya bisa menyimpan buku dan barang-barang lain di dalam bagasi yang lapang itu.

Hond* Spa*y yang menawan dan lapang

Kapasitas mesinnya 108 cc, beda 8 cc dibandingikan motor yang lama yang hanya 100 cc. Tangki bensinnya bisa menampung 5,5 liter bensin. Tarikannya mantap dan suara mesinnya halus (mungkin karena masih baru kali ya). Beratnya lumayan, tetapi bodinya mantap dan menawan. Teknologinya full injection lagi (motor yang lama masih teknologi karburator). Menariknya lagi, jika sudah distarter maka lampu depan akan otomatis menyala, jadi saya tidak perlu khawatir lagi kena tilang karena luapa menyalakan lampu depan motor (seperti pengalaman saya ditilang tiga minggu lalu).

Hanya saja saya masih penasaran dengan km per liternya. Saya hanya bisa maksimal menempuh 40 km per liter bensin. Apakah itu boros? Padahal teknologinya full injection, seharusnya lebih irit dibandingkan motor biasa, bukan? Padahal lagi saya hanya tancap gas dengan kecepatan 20 hingga 30 km/jam. Seharusnya tidak boros bensin, bukan? Saya tidak berani ngebut lebih dari 30 km/jam. Takut tidak terkendali. Bayangan wajah anak istri di rumah lebih penting ketimbang harus buru-buru dengan mengeber lebih dari 40 km/jam. Biar lambat yang penting selamat.

Kata teknisi di Hond*, seharusnya motor matik saya itu bisa mencapai 50 km hingga 60 km per liter bensin, tetapi mungkin karena belum diservis pertama sehingga kocoran injeksinya masih besar, masih setelan pabrik ceunah. Nanti kalau sudah diservis pertama kali bisa diatur oleh teknisi di AHA** supaya bisa mencapai lebih dari 40 km per liter. Iya deh, nanti kalau odometernya sudah mencapai 500 km baru saya servis.


Written by rinaldimunir

May 10th, 2012 at 4:18 pm

Posted in Gado-gado

Masalah "Out of Resource When Opening File" di MySQL

without comments

Barusan ngalamin error di database backup. Error yang dimunculkan adalah "Out of resources when opening file './database_name/table_name.MYD' (Errcode: 24) (23)".

Seperti biasa gw cari beritanya di google. Dan beberapa sumber (stackoverflow, ) memberi solusi dengan cara memperbesar nilai open-files-limit sebab nilai default 1024 dianggap terlalu kecil untuk transaksi-transaksi database.

Namun, gw pikir solusi itu tidak dapat digunakan untuk database backup. Kenapa? Karena paramater open-files-limit di database backup telah diperbesar menjadi 45970. Artinya gw butuh solusi lain.

Lalu gw teringat dengan persoalan serupa di database yang digunakan untuk serving ads. "Out of resource" terjadi karena DBMS membuat file descriptor untuk setiap query. Solusi yang kemudian digunakan untuk hal ini adalah dengan memaksa DBMS menutup atau melepas file-file descriptor tadi dengan perintah flush. 

Maka gw coba mengeksekusi perintah: FLUSH QUERY CACHE; FLUSH TABLES; FLUSH TABLES WITH READ LOCK; Dan, voila, berhasil ^^

PS:
Ada juga alternatif lain yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk menangani hal ini:

  1. Memperkecil nilai variable table_cache (sumber forum mysql)
  2. Memperkecil nilai variable max_connection (sumber forum mysql)
Tentunya solusi alternatif ini perlu dipertimbangkan sesuai dengan keadaan database/aplikasi

Written by mridwana

May 10th, 2012 at 1:01 pm

Posted in Uncategorized

Kantin Salman yang Tetap Lestari

without comments

Hampir semua mahasiswa ITB zaman dulu (1970-an) hingga sekarang tahu tempat makan yang bersih, murah, dan variatif di sekitar kampus, yaitu Kantin Salman. Kantin yang berada di lingkungan Masjid Salman ITB ini memang menjadi pilihan banyak mahasiswa ketika sarapan, makan siang, dan sekali-sekali makan malam. Kantin ini selalu ramai pada puncak jam makan siang (12.00 – 14.00).

Dulu ketika saya kuliah belum banyak kantin di dalam kampus. Hanya ada kantin Kokesma di gedung RSG yang sekarang telah dihancurkan dan bangun menjadi gedung Student Center, kemudian kantin GKU Barat dengan ibu kasir yang terkenal amat galak itu (he..he, saya masih ingat dulu pernah dibentak oleh ibu galak itu yang kemudian saya tahu dia adalah istri dosen Teknik Fisika. Gimana suaminya bisa tahan ya dengan perempuan galak itu, he..hee.). Kantin Borju di dasar LabTek V baru ada pada tahun 1996 (disebut borju karena dulu makanannya agak aneh dan mahal gitu). Kemudian bermunculan Kantin Gedung Bengkok dan kafe di Student Center sekarang. Di luar kampus juga muncul kantin pujasera yang berjejer di Jalan Gelapnyawang, kantin pujasera itu baru ada pada tahun 2000-an setelah para pedagang kaki lima di Jalan Ganesha direlokasikan ke sana. Ini belum termasuk kantin-kantin kaki lima di belakang kampus sekitar Jalan Tamansari dan Dayang Sumbi.

Untuk urusan makan memang ITB tidak menyediakan kantin yang cukup banyak, nyaman, murah dan sehat. Padahal setiap hari ada sekitar 15.000 orang lebih di dalam kampus yang perlu mencari makan siang. Kantin Salman adalah alternatif bagi mahasiswa yang ingin mencari makan siang yang murah, sehat, dan banyak variasinya, selain itu swalayan alias ambil sendiri menunya sesuai selera baru kemudian bayar. Memang perlu berjalan kaki ke luar kampus menuju Masjid Salman, tetapi sekalian shalat Dhuhur di masjid tentu tidak masalah.

Kantin Salman adalah tempat “pelarian” saya dulu untuk sarapan dan makan siang. Dengan uang kiriman yang pas-pasan dari orangtua, makan di kantin ini adalah alternatif yang tepat. Mulanya saya kurang sreg dengan menu masakan di sana, agak jawa dan nyunda gitu. Maklum selera makan saya agak payah bilamana tidak ketemu masakan Minang. Tapi, lama-kelamaan akhirnya bisa juga saya menyesuaikan asalkan masakannya tidak yang manis. Kalau di rumah makan Padang terus-terusan bisa tekor saya karena agak mahal untuk ukuran kantong mahasiswa seperti saya.

Bila saya mau kuliah dan tidak sempat sarapan di sekitar kosan, maka saya makan di kantin ini dengan menu favorit adalah telur dadar gulung. Saya sarapan sekitar jam 9 pagi gitu, seusai jam kuliah pertama. Kalau makan siang saya suka pecelnya, pecel khas Jawa yang enak dan pedas, sedangkan untuk lauknya favorit saya adalah ayam goreng tepung dan tempe goreng garing.

Meskipun saya masih tetap di ITB, saya sudah sangat jarang saya makan di kantin Salman. Apalagi sejak saya menikah, lebih banyak saya membawa bekal makan siang sendiri dari rumah. Kadang-kadang saya dapat makan karena ada rapat atau sidang tugas akhir di kampus, oleh karena itu saya jarang makan di luar. Kalau tidak dapat makan siang, biasanya saya menyuruh pramukantor membeli nasi kapau (masih Padang juga, he..he) atau mi goreng aceh di jalan Dago.

Sekali-sekali saja saya masih makan di Kantin Salman. Mbak-mbak pelayannya ada yang masih saya kenal bertahan hingga sekarang. Minggu lalu saya membeli makan siang di sana. Saya sempat foto-foto suasana dan menu masakannya seperti di bawah ini:

Pembeli memilih sendiri makanannya (self service). Jalur untuk pria dan wanita dipisah sesuai syariat agama.

Aneka ragam masakan yang bisa dipilih sendiri sesuka hati

Aneka minuman mulai dari yoghurt, cendol, kacang hijau, teh manis, dll. Silakan tambahkan es batunya sendiri.

Puluhan jenis kue basah yang menggoda selera

Silakan ambil nasi sendiri, banyak atau sedikit. Jika anda punya perut dengan porsi besar, anda bisa mengambil nasi dengan porsi banyak. Harganya dianggap satu porsi.

Ruang makan. Tidak terlalu ramai, maklum saya ke sana jam 10 pagi.

Kantin Salman tampak dari luar

Sampai sekarang menu-menu favorit saya masih ada di sana yaitu telur dadar gulung, ayam goreng tepung, pecel, tempe goreng tepung, soto ayam, dan lain-lain. Tentu sudah banyak menu-menu baru yang mengindonesia sehingga rasanya tidak lagi dominan Jawa.

Agar anda bisa menilai seberapa murah makan di Kantin Salman, menu makan siang yang saya pilih untuk dibungkus adalah nasi satu porsi, satu potong ayam goreng tepung (dada), sayur tahu, sambal, buah pisang dan buah semangka, semuanya hanya Rp8.500 rupiah saja. Relatif murah untuk ukuran makan di seputaran kampus dengan menu sejenis itu.

Meskipun berada di lingkungan Masjid Salman, namun mahasiswa yang makan di sana siapa saja, baik yang muslim atau bukan, baik suku jawa, sunda, minang, batak atau etnis cina. Alasan mengapa banyak orang makan di sana tak lain karena hal-hal yang saya sebutkan di atas: murah, sehat, dan variatif. Hingga kini kantin Salman tetap eksis dan menjadi andalan mahasiswa perantauan.


Written by rinaldimunir

May 9th, 2012 at 3:20 pm

Posted in Seputar ITB

Pengadilan Tilang Karena Tidak Menyalakan Lampu Motor

without comments

Tiga minggu lalu saya kena tilang karena tidak menyalakan lampu depan sepeda motor. Lokasinya di depan Gedung Sate. Biasanya saya aman-aman saja berkendara, tidak pernah kena tilang. Lampu depan selalu saya nyalakan setiap kali jalan, tetapi nasib saya hari itu mungkin lagi apes, lampu depan dalam keadaan tidak menyala. Mungkin ini ulah anak bungsu saya yang suka mengutak-atik tombol di stang motor. Anak saya ini setiap kali saya antar ke sekolah TK selalu duduk di depan saya, dan kalau sudah di depan dia senang mengutak-atik tombol yang ada di stang, termasuk tombol lampu itu barangkali sehingga posisinya dalam keadaan off.

Seorang polisi menyetop motor saya dan mempersilakan saya duduk di dalam tendanya. Setelah basa-basi dia meminta saya mengeluarkan SIM dan STNK. Setelah itu dia menjelaskan bahwa saya melanggar Undang-undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, khususnya pasal 107 (tentang Penggunaan Lampu Utama). Saya mahfum, memang saya yang salah kok.

Bapak polisi itu menanyakan apakah saya ada waktu mengikuti sidang tanggal 4 Mei 2012 di Pengadilan Negeri (PN) Bandung di Jalan R.E Martadinata (Riau)? Hmmm… pertanyaan apa pula itu, seharusnya polisi tersebut tidak usah bertanya begitu ya, bukankah kalau kena tilang maka pelanggar wajib menjalani sidang? Ah, mungkin polisi itu menawarkan solusi lain? Saya sudah paham dan sudah tahu arah pertanyaan itu, tetapi karena saya anti suap maka saya jawab mantap: “ya, saya ada waktu, Pak”.

Lalu polisi itu membuat berita acara tilang dan saya wajib mengikuti sidang tilang di PN Bandung tanggal 4 Mei. Polisi menawarkan apakah STNK atau SIM saya yang akan ditahan. He..he, SIM saja deh, sebab kalau STNK yang ditahan nanti saya tidak bisa menjualnya (saya memang sudah berniat mau menjual motor itu, mau ganti yang matic saja).

Tanggal 4 Mei 2012 itu jatuh pada hari Jumat. Sidang tilang di PN Bandung memang selalu diadakan pada Hari Jumat, padahal hari Jumat itu hari yang pendek karena terpotong shalat Jumat. Saya sering mendengar cerita kalau sidang tilang di PN Bandung itu sangat ramai sebab yang kena tilang dan menunggu gilran disidang mencapai ratusan orang. Orang harus antri dari pagi sampai siang bahkan sampai sore menunggu giliran dipanggil. Maka, tidak heran bila banyak bermunculan para calo yang menjual jasa menggantikan peserta sidang tilang atau mungkin kongkalingkong dengan oknum Jaksa/Hakim agar sidang tilangnya cepat dan tidak perlu antri. Maklum orang zaman sekarang adalah orang-orang yang super sibuk dan tidak punya waktu untuk urusan demikian.

Empat hari sebelum sidang tilang saya mendapat pemberitahuan dari DIKTI bahwa tanggal 4 Mei itu ada lokakarya yang harus saya ikuti di Bandung. Bagaimana ini, padahal saya sudah berniat akan mengikuti sidang tilang. Setelah saya baca dengan teliti berita acara pelanggaran yang diberikan oleh polisi, saya sedikit lega. Di bagian belakang tertulis bahwa menurut Pasal sekian-sekian sidang tilang dapat diwakilkan kepada orang lain dan nama orang itu dituliskan pada bagian yang berupa titik-titik. Karena ada kebolehan itu maka saya meminta pramukantor (office boy) mewakili saya di sidang tilang. Saya jelaskan pada dia agar datang pagi-pagi supaya tidak antri lama.

Jam sepuluh siang pramukantor saya sudah kembali, katanya yang antri ada sekitar 50 orang. Katanya, di pengadilan itu tertulis bahwa sidang tilang dilarang menggunakan calo atau diwakilkan kepada orang lain. Lho, kok? Padahal di kertas berita acara tertulis bisa diwakilkan, kenapa bisa bertentangan? Ah, sudahlah, yang penting bisa diwakilkan tuh.

Cerita pramukantor saya, sidang tilang itu hanya berlangsung dua menit saja. Jaksa hanya bilang bahwa dia (atau saya, he..he) melanggar Pasal 107 karena tidak menyalakan lampu motor. Pramukantor saya hanya menjawab iya-iya saja. Hanya itu saja yang diomongkan jaksa, lalu jaksa menyuruh membayar denda sebeser Rp65.000. Selesai.

Waw, hanya untuk dua menit sidang tilang perlu antri berjam-jam waktunya. Sangat tidak sangkil (efektif) dan membuang-buang waktu. Mengapa tidak dilegalkan saja membayar langsung di TKP, tetapi pakai kwitansi pembayaran yang dicap resmi dan pelanggar diberi tembusannya. Kalau oknum polisi di TKP mengkorupsinya itu urusan lain, yang penting pelanggar sudah membayar kewajibannya. Atau pelanggar membayar langsung ke kas negara via ATM terdekat (yang ini katanya belum dimungkinkan, tapi sampai kapan?). Negara kita perlu lebih mangkus lagi dalam menyelesaikan perkara tilang yang sepele ini.


Written by rinaldimunir

May 7th, 2012 at 2:39 pm

Posted in Pengalamanku

Terkenang Lagu Anak “Belaian Sayang”

without comments

Kemarin hujan turun sore hari. Sebelumnya langit memang terlihat gelap pertanda sebentar lagi hujan akan turun. Benar saja, tidak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Saya melihat ke arah jendela, air hujan serasa ditumpahkan begitu saja dari langit. tiga orang anak saya sedang tidur dengan nyenyaknya dalam satu ranjang, bersusun-susun antara adik dan kakak.

Saya pandang wajah anak-anak itu, ingatan saya kembali melayamg pada tahun-tahun yang silam ketika mereka masih bayi atau balita. Setiap kali hujan saya terkenang dengan lagu dendang pengantar tidur yang saya nyanyikan ketika mereka akan tidur. Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan terdahulu, lagu Timang-timang adalah favorit saya untuk didendangkan. Sambil mendekap anak dalam pelukan, saya timang-timang dia dan saya mulai menyanyikan lagu itu hingga dia tertidur lelap. Bahkan, ketika anak saya sedang sakit panas dan dia selalu menangis tidak bisa tidur, dendang lagu semacam itu tidak lupa saya nyanyikan dengan mata yang basah. Sungguh berat hidup ini, Nak.

Nah, selain lagu Timang-timang, saya juga sering mendendangkan lagu Belaian Sayang yang ditulis oleh almarhum Bing Slamet. Lagu melankolis ini pas benar dinyanyikan ketika hujan turun. Sunggu menyentuh bait-bait dan irama lagunya. Begini syairnya:

Waktu hujan turun
rintik perlahan
bintangpun menyepi
awan menebal

Kutimang si buyung
belaian sayang
anakku seorang
tidurlah tidur

Ibu mendoa
ayah menjaga
agar kau kelak
jujur melangkah

Jangan sampai lupa
tanah pusaka
tanah air kita
Indonesia

Saya cari-cari lagu tersebut di Youtube, ketemu ini yang dinyanyikan oleh grup Elfa Secoria. Sangat pas dinyanyikan oleh penyanyi itu, sangat menyentuh rasanya. Tak terasa mata saya basah menahan keharuan.

Satu klip video lagi dengan lagu yang sama di bawah ini, mengingatkan pada kita betapa anak-anak itu adalah amanah titipan Ilahi yang perlu kita jaga. Masa kecil anak adalah usia emas yang menjadi kenang-kenangan indah bagi ayah dan ibu.


Written by rinaldimunir

May 6th, 2012 at 4:18 pm

Foto-Foto Kampus ITB Tempo Doeloe (1920 – 1930)

without comments

Foto-foto zaman dulu banyak bercerita tentang situasi saat itu. Kata sebuah peribahasa terkenal a picture is more than words. Melihat foto-foto kampus ITB zaman dulu terbayang kesederhanaan orang-orang kala itu.

Saya menemukan beberapa foto kampus ITB tempo doeloe (antara tahun 1920 – 1930) yang saya unduh dari beberapa sumber di Internet, yaitu Babad Tanah Ganesha di Kaskus dan laman akun fesbuk Mahanagari.

1. Dikutip dari sini: “Foto udara kampus Technische Hoogeschool (TH) — sekarang ITB — sekitar tahun 1924-1933, dari kanan ke kiri adalah 2 buah hulpgebouwen (bangunan tambahan) di belakang Barakgebouw B (tahun 1990-an dibongkar jadi Gedung FSRD yang sekarang) (selesai tahun1920); sebelah kirinya adalah Barakgebouw B (sekarang Aula Timur) (selesai tahun 1920); area gerbang; Barakgebouw A (sekarang Aula Barat) (selesai 1920-akhir); Gedung Kelas & Ruang Gambar (sekarang Jurusan Teknik Sipil) (selesai tahun 1923); Bosscha-Laboratorium Natuurkunde (sekarang Jurusan Fisika) (selesai tahun 1922)”.

2. Dikutip dari sini: “Foto udara kampus TH sekitar tahun 1924-1933-an yang pasti lbh muda dari foto sebelumnya karena sudah ada proefbaan (jalur uji coba – lihat kanan atas) di belakang hulpgebouwen (bangunan tambahan). Tapi yg pasti sebelum tahun 1935 dimana Laboratorium Technische Hygiene & Assaineering (laboratorium teknik lingkungan) berdiri.”

3. Gerbang Utara sedang dibangun. Sumber foto: Mahanagari.

4. Lapangan di sekitar Aula Barat atau Aula Timurkah ini? Sumber foto: Mahanagari.

5. Pembangunan Aula Timur. Dari kejauhan atap Aula Barat sedang dipasang.

6. Aula Timur sudah selesai dengan tanaman perdu di depannya

7. Taman Ganesha dengan latar belakang kampus ITB.

8. Foto Taman Ganesha yang lain. Tampak gunung Tangkubanperahu di kejauhan.

9. Beberapa bangunan: Aula Barat, Aula Timur, teknik Sipil, dan Jurusan Fisika

10. Beberapa orang meneer berfoto di depan Aula Timur


Written by rinaldimunir

May 4th, 2012 at 3:10 pm

Posted in Seputar ITB