if99.net

IF99 ITB

Rindu Mengajar Lagi di Kampus

without comments

Jika ada yang saya rindukan saat ini adalah mengajar di kampus. Sudah hampir 12 bulan saya di rumah saja, mengajar dari rumah, bimbingan mahasiswa dari rumah, diskusi dari rumah, segalanya serba dari rumah. Mahasiswa pun begitu, kuliah dari rumahnya. Pandemi tampaknya masih lama, jadi keinginan mengajar di dalam kelas di kampus rasanya belum bisa terwujud saat ini. Kampus masih ditutup untuk perkuliahan dan praktikum.

mengajar1

Hanya beberapa kali saja saya masuk ke dalam kampus, itu pun hanya untuk mengambil buku di lemari ruangan kerja di lab, atau ke kantor fakultas memasukkan surat. Masuk kampus pun tidak bisa sesuka hati, ada prosedur yang harus ditempuh, mengisi form. Ya, bisa dimengerti, jika terjadi apa-apa di kampus, misalnya kasus positif covid, maka pelacakan dapat dilakukan dari daftar surat izin civitas academica yang masuk ke dalam kampus.

Bagi saya mengajar itu sangat menyenangkan dan memberikan kepuasan batin. Bisa berbagi ilmu dan membuat orang lain mengerti apa yang saya ajarkan itu sudah memberi kebahagiaan. Dunia saya itu adalah dunia pendidikan. Saya suka mengajar. Kalau tidak mengajar ya menulis. Itu dua passion yang saya miliki.

Bertemu dengan anak-anak muda yang haus ilmu pengetahuan bagi saya sangat menyenangkan. Memang mengajar secara onlen (daring) tetap dapat dilakukan, tetapi ada nuansa  yang hilang jika mengajar secara onlen. Saya tidak dapat melihat wajah-wajah mahasiswa yang terkejut ketika saya panggil namanya dan saya beri pertanyaan. Saya tidak bisa berbagi cerita-cerita menarik sebagai selingan supaya kelas tidak garing. Dan saya tidak bisa memberi hadiah seperti coklat atau brownis bagi mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi. ?

mengajar4

mengajar3

Ketika beberapa kali masuk kampus untuk suatu urusan, saya longok kelas yang kosong, lab yang sunyi, dan lorong-lorong yang sepi. Tidak terdengar riuh rendah suara mahasiswa yang meramaikan lorong dan sudut-sudut selasar tempat mahasiswa belajar atau mengerjakan tugas seperti foto di selasar LabTek 5 di bawah ini. 

selasar1

selasar2

Tampaknya suasana seperti di atas tidak akan mungkin terwujud dalam satu dua tahun ini. Jika pun kampus sudah dibuka untuk perkuliahan tatap muka pada semester depan (mudah-mudahan, Amiin) tetap akan ada pembatasan-pembatasan aktivitas dan serba bergiliran daring dan luring.  Jadi, suasana seperti foto-foto di atas mungkin baru bisa terulang setelah corona benar-benar bisa diatasi. Untuk sementara cukuplah memasang foto kenangan di atas.

Written by rinaldimunir

February 19th, 2021 at 5:45 pm

Studio Pandemi

without comments

Selama masa pandemi corona saya lebih banyak berkutat di ruang kecil di lantai dua rumah. Ini ruang kecil yang dulu dijadikan mushola keluarga. Karena sekarang kami lebih banyak sholat di lantai satu, maka ruangan mushola tersebut jarang digunakan.

studio1

Sejak pandemi corona bulan Maret 2020 yang lalu, praktis saya hanya di rumah saja, bekerja dari rumah. Mengajar dari rumah, rapat dari rumah, segalanya dari rumah. Onlen atau daring. Mengajar, seminar, sidang,  dan rapat dari rumah mengandalkan suara yang lumayan keras kalau berbicara. Oleh karena itu, supaya tidak mengganggu yang lain dan juga tidak diganggu anak, maka saya pindah ke ruang kecil ex mushola ini.

Sekarang ruang kecil di pojok rumah itu saya jadikan tempat untuk mengajar onlen, seminar onlen, rapat onlen, sidang onlen, bimbingan onlen, perwalian onlen, dan juga menjadi studio dadakan untuk memproduksi video-video kuliah. Sebuah kasur tipis dihampar di lantai untuk rebahan jika penat. Saya menyebut studio kecil ini dengan nama studio pandemi.

studio2

Hampir setiap hari saya berada di sini karena pekerjaan pada semester genap ini lumayan menyita waktu juga. Sebagian besar waktu saya di sini habis untuk menyiapkan bahan kuliah daring dan merekam video kuliah yang akan diunggah di YouTube. Melayani mahasiswa yang perwalian, bimbingan Tugas Akhir, dan seminar-seminar serta sidang juga dari sini.

Kalau cape dan mengantuk saya berbaring sebentar di kasur di samping meja kerja (meja belajar anak saya dulunya). Di seberang ruang kecil ada balkon. Di sanalah saya berjemur pada pagi hari atau melihat suasana sore dari lantai dua rumah. Kalau hujan saya dapat melihat langsung airnya turun di sini.

Jenuh? Ya, bagaimana lagi, kondisinya seperti ini. Saya sudah rindu memgajar di kampus seperti dulu, bertemu mahasiswa, bercanda, bimbingan di kampus, dan bertemu kolega. Tapi keinginan tersebut sepertinya belum bisa terwujud saat ini. Kampus masih ditutup untuk aktivitas perkuliahan. Artinya sampai akhir semester saya saya kembali bertapa di ruang kecil ini. Entah bagaimana pada semester ganjil tahuna ajaran yang baru nanti. ? ?

Written by rinaldimunir

February 13th, 2021 at 10:31 am

Mamang Pedagang Bacang

without comments

Pagi-pagi dia sudah berkeliling perumahan di Antapani dengan sepedanya, menjajakan bacang yang masih hangat. Tiga buah bacang harganya sepuluh ribu. Saya yang olahraga jalan kaki setiap pagi selalu bertemu dengan mamang ini. Saya lupa menanyakan namanya, sebut saja Mang Aryo.

bacang2

Bacaaaanggg…bacaaaanggg...”,teriak Mang Aryo dengan suara khas sambil terus mengayuh sepeda.

Bacang adalah penganan yang terbuat dari beras ketan dan diisi dengan daging cincang (ayam atau sapi) yang dimasak dengan kecap dan bumbu-bumbu lainnya, kemudian dibungkus dengan daun bambu, lalu dikukus sampai matang.

Bacang berbentuk limas segitiga. Dulu saya kira bacang adalah penganan khas Sunda, karena orang Sunda suka makan bacang. Ternyata saya salah, bacang adalah penganan khas Tionghoa (cina), dan tentu saja daging di dalam bacang adalah daging babi. Dalam budaya lokal, bacang diadaptasi yang tadinya daging babi menjadi daging sapi atau daging ayam.

bacang1

Di Bandung bacang mudah ditemukan di warung atau di kedai kue basah. Ia dijajarkan dengan jajanan seperti bala-bala, risoles, kue sus, dan sebagainya. Bacang lebih enak dimakan dalam keadaan hangat, terutama yang baru dikukus.

Dikutip dari situs ini, “Bacang adalah tradisi Tionghoa. Bacang sudah menjadi makanan yang bisa ditemukan setiap hari oleh para pedagang di pasar. Namun sebelum dijual secara umum, makanan ini hanya dimakan pada saat perayaan suku Tionghoa di Indonesia, yaitu festival Peh Cun.

Pada festival ini, orang-orang Tionghoa akan sembahyang kepada para leluhur dan mempersembahkan bacang yang sudah dibuat. Pada festival ini juga ada perlombaan perahu naga. Festival Peh Cun dirayakan setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Anak saya yang sekarang kuliah onlen suka makan bacang. Makanya, ketika saya jalan pagi dan ketemu Mang Aryo, saya beli bacangnya untuk penganan anak saya. Kalau saya sendiri sih kurang suka makan bacang  karena rasa dagingnya manis. Lidah Minang saya masih susah menerima masakan yang rasanya manis seperti gudeg, abon, termasuk bacang, meskipun saya sudah puluhan tahun di tanah Sunda. Bagi saya masih lebih enak makan lemang daripada makan bacang.?

Bacang yang dijual Mang Aryo memang bukan dia sendiri yang membuatnya, tetapi bersama-sama dengan temannya. Dia menjual beberapa puluh ikat di dalam box di belakang sepedanya. Ketika matahari baru terbit di timur, saat sebagian orang masih di dalam selimut, dia sudah mengayuh sepeda keliling Antapani menjajakan bacangnya.

bacang3

Keuntungan menjual bacang yang tidak banyak itu memang tidak seberapa. Tetapi saya salut dengan usahanya yang gigih mencari nafkah halal dengan  berjualan bacang.

Usai menyerahkan tiga buah bacang di dalam kantong keresek, Mas Aryo segera mengayuh sepedanya lagi menawarkan bacangnya.

Bacaaaanggg…bacaaaanggg...”,teriaknya sambil terus mengayuh sepeda.

Semoga rezeki yang diperolehnya setiap pagi  barokah.

Written by rinaldimunir

January 23rd, 2021 at 8:46 pm

Kenangan pada Sriwijaya Air

without comments

Awal tahun 202, tepatnya tanggal 9 Januari 2021, bangsa Indonesia dikejutkan oleh kecelakaan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan kode SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Baru mengudara 4 menit setelah take off dari Bandara Soekarno Hatta, pesawat itu jatuh menghunjam laut. Hingga hari ini pencarian korban (yang kemungkinan besar tewas semua) masih berlangsung di tengah hujan yang selalu mengguyur setiap hari. Duka mendalam bagi para keluarga korban, insya Allah penumpang yang tewas itu mati dalam keadaan syahid.

Inilah salah satu dari lima kecelakaan pesawat terburuk di Indonesia (Baca: Sriwijaya Air Jatuh, Ini 5 Kecelakaan Pesawat Terburuk di Indonesia). Saya yang sudah 10 bulan lebih tidak pernah terbang lagi karena pandemi corona, sehingga tidak bisa (dan tidak mau) pergi ke mana-mana, tetap ada perasaan bergidik setiap kali mendengar ada pesawat terbang jatuh. Namun seperti yang pernah saya tulis dulu, kalau sudah berada di atas pesawat, maka seluruhnya total saya berserah diri dan memasrahkan diri kepada Allah SWT semata, memohon keselamatan dan perlindungan di dalam perjalanan. Hidup dan mati sudah ditentukan waktunya oleh Allah Yang Maha Kuasa. Saya kutip quote dari foto profil pilot SJ-182 yang jatuh itu, Captain Afwan, yang menginspirasi:

“Setinggi apapun aku terbang, tidak akan mencapai surga bisa tidak shalat lima waktu”

Gambar dan kutipan diambil dari sini. Artikel lainnya bisa dibaca di sini.

sriwijaya0
Tulisan pada foto profil akun whatsapp kapten pilot Afwan. Sumber gambar dari sini

Saya terkenang naik pesawat ini. Dulu sebelum pandemi saya cukup sering naik pesawat Sriwijaya Air, baik kalau pulang kampung ke Padang, atau jalan-jalan bersama keluarga ke tempat wisata yang penerbangan ke kota tujuan dilayanai oleh Sriwjaya Air (antara lain ke Malang dan Tanjungpandan, Belitung), atau kalau transit ke Jakarta dari Bandar Lampung. Saya mengajar menjadi dosen terbang di ITERA Lampung.  Saat balik, jika tidak naik pesawat Wings Air yang ke Bandung, biasanya saya naik Garuda atau Sriwijaya ke Jakarta. Barulah dari Jakarta saya naik travel ke Bandung.  

sriwijaya1

sriwijaya3

Dibanding Lion Air, pelayanan Sriwijaya Air menurut saya jauh lebih baik meski keduanya sesama low cost carrier.  Dari pengalaman saya terbang, Sriwijaya delay-nya tidak sesering/selama Lion, kita pun dapat makanan ringan dan minum di dalam pesawat (layanan ini tidak ada pada maskapai low cost carrier lainnya), pramugarinya pun ramah-ramah. 

Namun satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah kebijakan maskapai ini yang  membuat saya simpati. Pemilik Sriwijaya Air (seorang Tionghoa dermawan asal Pulau Bangka) membebaskan pramugarinya memakai seragam sesuai keyakinan agamanya, yaitu memakai busana muslimah (jilbab).

Kebijakan ini menurut saya sesuatu yang mungkin agak sulit terjadi di maskapai lain. Ketika saya naik Sriwijaya Air dari Bandar Lampung, beberapa orang pramugarinya tampak mengenakan jilbab. Mereka terlihat charming, rapi, cantik, dan elegan memakai seragam pramugari Sriwijaya dalam balutan jilbabnya. Memakai busana muslimah tidak menghalanginya untuk tetap gesit membantu penumpang mengangkat koper ke dalam kabin, menutup bagasi kabin, membagikan snack, dan melayani  permintaan penumpang.

sriwijaya2

Saya mengapresiasi kebijakan maskapai ini yang memperbolehkan pramugarinya memakai busana muslimah. Menurut saya pemilik dan manajemen Sriwijaya Air memiliki jiwa yang bhinneka tunggal ika dan menghayati betul Pasal 29 UUD yang menghormati setiap orang memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Semoga musibah yang baru terjadi tidak menyurutkan orang untuk naik pesawat. Pesawat terbang merupakan mode tranportasi yang paling aman dari segi keselamatan. Kecelakaan yang terjadi pada pesawat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mode transportasi darat (bus, mobil, kereta api) dan laut (kapal penumpang, ferry, perahu). Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, setiap kali kita bepergian, pasrahkan diri dan serahkan diri kepada Allah SWT saja.

Written by rinaldimunir

January 16th, 2021 at 5:49 pm

Posted in Indonesiaku

Bapak Penjual Tahu Sumedang (2)

without comments

Tahuuu…..

Setiap pagi bapak penjual tahu sumedang lewat di depan rumah saya. Dia memikul dua buah ketiding bambu (apa ya Bahasa Indonesianya?). Satu ketiding berisi penuh tahu goreng, satu ketiding lagi berisi lontong. Di kota besar seperti Bandung masih cukup banyak pedagang yang berjualan makanan dengan cara dipikul secara tradisionil pada bahu seperti itu.

tahu1

Selain tahu dan lontong, dia juga menambah jualannya dengan membawa telur asin, kerupuk-keripik, dan camilan-camilan lain dari Sumedang. Sesak sekali pikulannya. Tentu berat sekali.

+ Wah, berat sekali ini, Pak. Berapa kilo berat semuanya?
Awalnya 40 kg, tapi berkurang terus setiap ada yang beli.
Sudah berapa tahun jualan seperti ini, Pak?
+ Sudah 30 tahun lebih pak, sejak Antapani ini masih sawah-sawah, belum perumahan seperti sekarang.

Tahu yang dijualnya didatangkan langsung dari Sumedang. Sumedang terkenal dengan tahunya yang khas. Tahu-tahu itu dipasok dari juragan tahu di Sumedang. Dia hanya menjualkan saja secara keliling, masuk kampung keluar kampung. Tapi dia memang tinggal di Sumedang, bolak balik ke Bandung.

+ Dari Sumedang ke Bandung naik apa, Pak?
Naik colt buntung, Pak
+ Kalau tahunya tidak habis bagaimana?
Kalau tidak habis saya menginap dulu di mess yang disediakan juragan.

Juragan tahu menyediakan mess bagi penjual tahunya di daerah Bandung Timur. Para penjual tahu menginap di sana. Setiap pagi pasokan tahu goreng datang langsung dari Sumedang. Seminggu sekali mereka pulang ke Sumedang membawa penghasilan berjualan tahu, kemudian kembali lagi ke Bandung. Profesi ini sudah dilakoninya selama 30 tahun! Itu artinya sejak saya datang ke kota Bandung ini.

Saya sampai hampir lupa membeli tahunya karena asyik mengobrol.

+ Berapa harga tahunya, Pak?
Biasa, sepuluh lima ribu.
+ Saya beli dua puluh ya

Tahu Sumedang dan uang sepuluh ribu berpindah tangan. Cocok untuk teman sarapan pagi dengan nasi hangat.

tahu2

Saya selalu bersimpati kepada orang-orang kecil yang gigih mencari nafkah secara halal. Betapa berat beban yang dia pikul, tetapi keikhlasan tampak di matanya. Orang-orang seperti ini berjuang mencari rezeki untuk keluarga yang ditinggalkannya.

Saya jadi teringat almarhum ayah saya. Setiap hari, usai sholat Subuh, ia berjalan kaki menuju terminal bus. Bapak saya adalah penjual daging sapi. Daging sapi itu dibeli di luar kota, awalnya di Lubuk Alung, lalu di Padangpanjang, kemudian di Bukittinggi. Daging-daging segar itu dibeli di sana, lalu dibawa lagi ke Padang sebelum siang dengan menggunakan bus umum. Di Padang daging sapi itu dijual ke pedagang sate atau dijual ke pedagang daging di los  Pasar Raya Padang. Hal itu dilakukannya setiap hari untuk nafkah keluarga kami. Dari perbedaan harga beli dan harga jual itulah ayah saya mendapat sedikit keuntungan membiayai sekolah saya dan kakak-kakak saya, hingga saya bisa berkuliah di Bandung. Saya bisa seperti sekarang adalah karena perjuangan ayah saya yang rela berjualan setiap hari. Alfatihah buat almarhum ayah dna ibu saya. Amiin.

Written by rinaldimunir

January 3rd, 2021 at 5:00 pm

Menanti Panggilan Kerja

without comments

Setiap pagi para pekerja serabutan duduk menanti di Jalan Indramayu, Antapani, Bandung. Mereka adalah buruh-buruh kuli yang umumnya berasal dari kampung yang sama di Majalengka, sebuah kabupaten di bagian timur Jawa Barat. Mereka datang ke Bandung jika di kampung tidak ada orderan menggarap sawah, karena mereka umumnya tidak memiliki sawah.

kuli
Saat musim panen dan awal musim tanam di kampung, mereka pulang kembali ke kampungnya menggarap sawah milik juragan. Setelah itu mereka balik lagi ke Bandung mencari penghasilan sebagai buruh serabutan.  Di Bandung buruh-buruh tersebut menginap di saung-saung, emperen kantor pos, atau mengontrak kamar ramai-ramai.

Sekali sebulan atau dua bulan sekali mereka pulang ke kampungnya mengantarkan hasil jerih payah untuk belanja anak dan istrinya. Hasil menguras tenaga selama menjadi kuli serabutan di Bandung diserahkan kepada istrinya. Pada umumnya mereka adalah para suami yang setia.

Modal kerja mereka hanyalah cangkul, parang, dan pikulan beban. Tiap pagi buruh-buruh ini menunggu panggilan warga yang membutuhkan tenaganya untuk membersihkan kebun, taman, halaman rumah, angkut-angkut bahan bangunan, angkut barang, angkut galian, dll. Jika tidak ada panggilan kerja, mereka berkeliling kompleks perumahan, berharap siapa tahu ada warga yang memerlukan tenaganya.

kuli2Tidak ada tarif yang pasti berapa bayaran untuk buruh kuli ini, tergantung kesepakatan pemberi kerja dengan mereka. Yang jelas kita harus dapat mengukur berapa volume kerjanya dana apa saja yang harus dikerjakan sehingga kita dapat memperkirakan ongkosnya.

Saya sendiri sering menggunakan buruh kuli ini untuk membersihkan halaman rumah dan kebun/taman di seberang rumah. Yah hitung-hitung membantu mereka dengan memberi kerjaan. Tidak hanya saya beri uang jasa, tetapi juga makan. Alangkah senangnya mereka mendapat kerjaan.

Mereka yang duduk-duduk pada pagi hari itu mungkin juga sedang menunggu orang-orang yang ingin memberi sedekah sarapan . Hampir setiap hari hari, khususnya pada hari Jumat, ada saja orang baik yang mendrop nasi bungkus buat mereka.

Semoga mendapat rezeki yang barokah untuk keluarganya.

Written by rinaldimunir

December 30th, 2020 at 11:54 am

Majalah Udaraku

without comments

Saya punya koleksi yang unik, yaitu koleksi majalah-majalah udara, majalah yang disediakan di atas pesawat selama penerbangan (inflight magazine). Majalah-majalah tersebut berasal dari berbagai maskapai penerbangan yang berbeda-beda yang pernah saya naiki, baik maskapai dalam negeri maupun maskapai luar negeri. Umumnya majalah-majalah tersebut terbit setiap bulan. Jadi setiap bulan ada edisi barunya.

Foto pertama adalah majalah “Colours” dari Garuda Indonesia, majalah “Linkers” dari Citilink (anak perusahaan Garuda). Lalu majalah dari Lion Group, yaitu “Lionmag” dari Lion Air, majalah “Batik” dari Batik Air, majalah “Wings” dari Wings Air. Kemudian majalah “Sriwijaya” dari Sriwijaya Air, dan majalah “Xpressair” dari Xpress Air.

Majalah1
Foto kedua adalah majalah-majalah yang maskapainya sekarang sudah tidak ada lagi atau tidak terbang lagi, yaitu majalah dari Batavia Air, Tiger Airways, dan Merpati Nusantara Airlines. Ada satu lagi maskapai yang pernah saya naiki tetapi tidak sempat mengkoleksi majalahnya yaitu Adam Air. Adam Air ini dihentikan operasinya tidak lama setelah pesawatnya jatuh di Selat Makassar ketika terbang dari Surabaya ke Manado.

Majalah2
Foto ketiga adalah majalah dari maskapai asing yaitu majalah “going places” dari Malaysia Airlines, majalah “3sixty” dari Air Asia, majalah “Heritage” dari Vietnam Airlines, majalah “Morningcalm” dari Korean Air, majalah “Ahlan Wasahlan” dari Saudi Arabia Airlines (Saudia), dan majalah “Sawasdee” dari maskapai Thai Airways yang baru-baru ini mengalami kebangkrutan akibat pandemi corona.

Majalah3
Majalah2 tersebut ada yang gratis (dapat dibawa pulang) seperti majalah Colours dari Garuda Indonesia, ada pula yang hanya untuk dibaca di tempat. Untuk kategori yang terakhir biasanya saya minta izin kepada pramugari saat akan turun dari pesawat. “Mbak,minta satu majalahnya ya untuk dibaca-baca“, pinta saya saat keluar pintu pesawat. “Oh, silakan, Pak“, kata pramugari tersebut ramah.

Ada cerita yang menarik saat saya lupa minta izin kepada pramugari ketika membawa majalah turun dari pesawat (lupa minta ? ). Tiba di darat lalu saya kirim surel kepada redaksinya dan minta izin sudah membawa majalah udaranya. Apa jawabnya? Eh, malah saya dikirimi via pos setumpuk majalah udara maskapainya edisi 6 bulan berturut-turut. Itu dari Xpress Air. Tampaknya mereka senang dengan perhatian saya pada majalah udaranya.

Berhubung dulu saya sangat sering naik pesawat, maka jadilah di rumah saya koleksi majalah2 tersebut memenuhi lemari buku. Di lemari buku majalah2 tersebut menempati satu baris lemari besar dan tersusun dengan rapi (foto keempat), disusun rapi oleh istri saya.

Majalah4
Kenapa saya tertarik mengkoleksi majalah-majalah udara ini? Itu karena majalahnya banyak berisi foto-foto nan rancak, yaitu foto-foto tempat wisata dan budaya di tanah air maupun di luar negeri. Fotografernya sangat pandai memotret sehingga menghasilkan foto-foto yang bagus.

Apalagi kertas majalahnya terbuat dari kertas lux sehingga foto-foto itu tampak cerah dan menawan. Sedikit banyaknya kegemaran saya pada foto-foto (meskipun saya tidak mahir fotografi) adalah karena salah satu minat saya di Informatika adalah bidang image processing.

Saat ini sudah sembilan bulan lebih saya tidak pernah terbang lagi. Akibat pandemi corona maka saya tidak bisa pergi kemana-mana. Masih takut bepergian, apalagi memang tidak ada keperluan ke luar kota naik pesawat. Jadilah saya baca2 majalah udara ini saja. Majalah2 tersebut merupakan saksi bisu saya pernah ke mana-mana. ?

Written by rinaldimunir

December 28th, 2020 at 8:39 pm

Posted in Gado-gado

Sepenggal Dialog Siang

without comments

Seorang pegawai Pizza H*t (sebuah waralaba pizza yang terkenal)  lewat di depan rumah dengan motornya menawarkan paket pizza seratus ribu empat buah. Saya yang sedang berdiri di depan rumah disapanya.

+Pak, beli pizzanya, seratus ribu empat biji. Masih hangat pak, baru dibakar. (Ia menunjukkan box di sadel motor yang penuh berisi pizza)

Saya sebetulnya tidak tertarik dengan paket pizza seratus ribu empat itu, sebab kata seorang teman, pizzanya keras, udah dingin, banyak tepung, topping-nya dikit lagi.

-Boleh nggak dua saja (saya menawar 🙂 )

+Maaf pak, nggak bisa, sudah aturannya begitu. Kalau di restoran harganya 150 ribu pak (dia mencoba berpromosi)

Sudah lama jualan seperti ini?

+Iya pak, sekarang sepi. Jadi sekarang kami yang mencari pembeli door to door

Begitulah waralaba pizza yang dulu dikenal sebagai makanan elit, sekarang turun kelas menjadi makanan ‘murahan’ yang ditawarkan secara asongan di pinggir jalan atau dijajakan keliling kampung. Sejak pandemi corona banyak bisnis bertumbangan, termasuk waralaba makanan asing yang mengalami kerugian besar. Sepi pembeli, karena banyak orang takut makan di restoran, atau menghindar makan di dalam ruangan bersama.

pizza

Pizza ditawarkan di pinggir jalan

Oh, begitu?
+ Iya pak, sudah banyak pegawai kami di-PHK. Ini kami ditugaskan berjualan keliling.
Boleh nggak setengah saja (kembali saya menawar). Empat buah pizza mah kebanyakan.
+ Nggak bisa pak. Ini saya dari tadi keliling belum laku pak (katanya sedih)
(Ya iyalah, agak sulit laku, sebab seratus ribu itu bagi orang awam sangat besar kalau hanya untuk membeli pizza. Dengan uang segitu sudah dapat lima bungkus nasi ramas di rumah makan Padang. Kalau ingin menyasar kalangan menengah ke bawah seharusnya mereka menjualnya satuan atau minimal dua buah)
Karena raut wajahnya terlihat suram, akhirnya pertahanan saya tumbang. Kasihan aja. 🙂 Terbayang anaknya pasti menunggu ayahnya pulang bawa rezeki.
Ya udah, saya beli ya    (saya beli saja dengan niat menolong saja, meski saya tidak berminat makan pizza)
+ Terimakasih banyak ya pak (dengan nada gembira).
Empat buah pizza dan uang seratus ribu pun berpindah tangan.

Written by rinaldimunir

December 24th, 2020 at 10:22 am

Usai Kuliah Onlen Semester Ganjil 2020

without comments

Alhamdulillah, tuntas sudah perkuliahan onlen (daring) selama semester pertama (semester ganjil) tahun 2020. Dua pekan ke depan mahasiswa di kampus ITB memasuki masa Ujian Akhir Semester (UAS).

Capek? Ya, kuliah onlen ini sungguh melelahkan bagi saya. Meskipun kita tinggal di rumah, namun bekerja menyiapkan bahan kuliah menyita banyak waktu. Sebagian besar waktu di rumah habis untuk membuat video kuliah. Saya memegang tiga mata kuliah semester ini, dua mata kuliah berbagi tugas dengan rekan dosen satu tim membuat video kuliah secara bergantian, sedangkan satu mata kuliah lagi berupa kuliah pilihan, saya sendiri yang membuat seluruh videonya.

Tidak mudah lho membuat video kuliah, seringkali harus diulang-ulang untuk merekamnya karena banyak kesalahan. Video kuliah sekali selesai dibuat dan diunggah ke platform Youtube kan tidak bisa diubah lagi. Malu-maluin saja jika di tengah video ada materi yang salah, heheh…

Saya memang tidak terampil membuat video kuliah yang bagus, tidak nyeni, tidak pakai animasi, tidak gebyar-gebyar dan tidak memakai musik. Video kuliah saya baru sebatas materi presentasi PPT bersuara. Saya membuat video kuliah seakan-akan saya mempresentasikan file PPT di kelas. Semangatnya cuma satu, jika mahasiswa ingin mengulang-ulang kembali paparan materi kuliah saya, cukup putar ulang videonya di Youtube. Ada tiga kanal kuliah di Youtube yang saya buat, yang pertama ini, kedua ini, dan ketiga ini. Siapapun bebas mengakses, mengunduh, dan menggunakannya di kampus lain.

Semester lalu dan semester ini berjalan bersamaan dengan pandemi corona yang masih terus mewabah di Indonesia. Belum terlihat ujung pandemi ini akan berakhir kapan. Pendidikan pun terganggu akibat pandemi ini, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Namun “untungnya” pandemi berlangsung pada saat kondisi teknologi pembelajaran dan komunikasi (internet) sudah maju. Berbagai paltform video conference untuk mendukung proses belajar-mengajar jarak jauh sudah tersedia, seperti Zoom, Google Meet, Micosoft Teams, dan lain-lain. Kelas-kelas perkuliahan berlangsung secara virtual, seminar pun secara virtual. Komunikasi dan diskusi bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari WA, email, hingga fasilitas video conference yang disebutkan di atas.

Foto bersama setelah kuliah onlen dengan menggunakan Microsoft Teams
Seminar dan sidang Tugas Akhir pun dilakukan secara onlen dengan fasilitas Google Meet

Bagaimana dengan ujian-ujian? Karena ujian dilakukan di rumah mahasiswa masing-masing, maka ujian pun dilakukan secara onlen juga. Soal ujian didistribusikan dapat didistribusikan dengan fasilitas email, WA, Google Form, atau menggunakan platform ujian yaitu exam.net dan sebagainya. Mahasiswa mengerjakannya di rumah masing-masing secara bersamaan, kamera di komputer diaktifkan, dosen dan asisten pengawas memantau ujian melalui kamera. Ujian di rumah namun serasa ujian di kelas saja.

daring4

Ujian secara onlen dan dipantau dengan menggunakan Google Meet

Salah satu hal yang menarik bagi saya selama kuliah onlen ini adalah memberi soal latihan, PR, kuis, UTS/UAS dengan menggunakan Google Form. Soal-soal bertipe hitungan/algoritma saya tulis di Google Form, lalu tautan Google Form- nya dikirim ke setiap mahasiswa via gmail. Mahasiswa menjawab setiap soal di Google Form pada kertas biasa di rumahnya, lalu memfoto lembar jawabannya, kemudian mengunggah (upload) fotonya dalam format JPG atau PDF ke Google Form.

daring1

Soal latihan menggunakan Goog


File-file foto jawaban masuk ke dalam akun Google Drive saya. Tinggal dibaca lalu dinilai. Praktis, hemat (tidak butuh kertas), dan mangkus. Kelemahannya adalah mata mudah lelah dan cape membaca lembar jawaban di layar komputer (ada 56 mahasiswa per kelas, dan ada 4 kelas). Bagi saya tetap lebih nyaman memeriksa lembar jawaban dalam bentuk kertas daripada bentuk digital.

Kalaupun nanti kuliah tatap muka sudah bisa dimulai pada semester depan (wallahu alam), cara pemberian soal latihan dan kuis menggunakan Google Form ini tampaknya akan saya lanjutkan.

Moral dari cerita di atas, pandemi corona tidak menghalangi proses belajar mengajar. Semua berjalan seperti biasa, hanya bertemu muka secara fisik yang tidak ada. Untung ada internet sehingga proses pendidikan saat ini agak tertolong. Jika tidak ada, sulit membayangkan apa yang harus dilakukan.

Written by rinaldimunir

December 5th, 2020 at 4:31 pm

Posted in Pendidikan

Charlie Hebdo, Macron, dan Kecintaan kepada Rasulullah

without comments

Mengapa Nabi Muhammad yang dicintai oleh umat muslim di seluruh dunia selalu menjadi sasaran pelecehan dan penghinaan oleh sebagian orang di Barat. Kesalahan apa yang dilakukan oleh junjungan umat Islam itu sehingga selalu menjadi objek penghinaan? Koran Charlie Hebdo di Perancis misalnya, sudah berulang-ulang menampilkan karikatur Nabi dengan narasi dan gambaran yang sangat merendahkan. Sudah berkali-kali pula kantor mereka diserang oleh muslim yang sangat tersinggung bahkan sampai melakukan pembunuhan segala (yang tentu saja sangat tidak dibenarkan oleh ajaran Islam). Koran itu berlindung dibalik kebebasan berekspresi yang selalu dipuja dan diagung-agungkan oleh dunia Barat.

Apa sebenarnya tujuan mereka menampilkan kartun tersebut? Untuk memancing kemarahan kaum muslimin di seluruh dunia kah? Lalu kalau sudah marah, apakah mereka mendapat kepuasan dari kemarahan itu?

Presiden Perancis, Macron, sama saja. Bukannya mengecam pemuatan kartun yang merendahkan junjungan umat Islam itu, tetapi malah memberi dukungan dan melontarkan kata-kata yang malah membuat situasi semakin runyam.

Tentu umat Islam tidak perlu membalas aksi Charlie Hebdo dan Macron itu dengan kemarahan yang berlebihan sehingga sampai melakukan kekerasan. Itu bukan ajaran Nabi Muhammad. Marah boleh, demo dan protes silakan, melakukan boykot sebagai aksi senyap tidak masalah.

Meskipun Nabi Muhammad SAW sering direndahkan, dilecehkan, dan dicela, namun semua hinaan itu tidak akan mengurangi sedikitpun kemuliaannya. Tidak juga akan mengurangi kecintaan kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia untuk selalu mencintainya, selalu mengucapkan shalawat kepadanya siang dan malam pada setiap sholat.

Manusia boleh datang dan pergi dari dunia ini, bangsa-bangsa berjaya dan runtuh silih berganti, namun kecintaan kepada Rasulullah akan terus hidup sepanjang masa.

Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di Surga”. (Hadis Riwayat Tarmidzi).

Mengapa ummat Islam sangat mencintai Rasulnya itu? Selalu bershalawat dan mengirim salam kepadanya sepanjang waktu? Selalu merindukan untuk bertemu dengannya? Karena beliaulah yang menuntun ummatnya ke jalan yang lurus, keberkahan, dan kemuliaan hidup. Beliaulah satu-satunya pemberi syafaat di Hari Pembalasan nanti. Siapa yang bisa menolong umatnya terlepas dari siksaan api neraka kalau bukan Nabi Muhammad?

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu

Kan pasti mengalir air mataku
Karena pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu

Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Kami rindu padamu

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad
Ya Robbi sholli ‘alaihi wassalim

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad
Ya Robbi sholli ‘alaihi wassalim

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu

Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya Tuhan saja yang tahu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Kami rindu padamu

Kutahu cintamu kepada ummat
Umati umati

Kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafa’atkan kami

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Kurniakanlah syafa’atmu

(Raihan – Ya Rasulullah)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad.

Written by rinaldimunir

November 1st, 2020 at 8:03 pm

Posted in Agama