if99.net

IF99 ITB

Kuburan di Atas Bukit

without comments

Bulan puasa Ramadhan pada tahun 2017 tinggal dalam hitungan hari. Kebiasaan umat Islam di Indonesia menjelang bulan Ramadhan adalah pergi beziarah ke makam orangtua atau keluarga yang sudah mendahului. Di Jawa dinamakan dengan tradisi nyekar atau nyadran. Tradisi ziarah kubur sebelum Ramadhan memang tidak dicontohkan oleh Nabi, tetapi ziarah kubur sendiri tidak dilarang, sebab mengunjungi makam orang yang sudah meninggal berguna agar kita selalu mengingat kematian.

Seperti orang Indonesia lainnya, minggu lalu saya menyempatkan diri pulang ke Padang untuk menziarahi makam kedua orangtua saya.  Di Padang kompleks pemakaman sering didasarkan atas kampung asal (orang Padang sendiri sebagian besar adalah perantau dari berbagai daerah kabupaten di  Sumatera Barat). Kompleks pemakaman orang-orang dari Koto Anau, Solok, di Padang adalah di sebuah bukit di daerah Seberang Palinggam. Di sanalah kedua orangtua saya dimakamkan.

Kota Padang sendiri dilingkari oleh perbukitan. Bukit-bukit di daerah selatan, yang berbatasan dengan sungai dan laut, sudah lama menjadi tempat pemakaman warga Tionghoa. Kuburan orang Cina, begitu kami menyebutnya, terentang di atas Bukit Siti Nurbaya (nama baru setelah ada jembatan Siti Nurbaya). Nah, kuburan orang kampung saya di sepanjang bukit itu juga, tapi agak ke timur.

Di atas bukit di daerah Seberang Palinggam itulah terdapat kompleks pemakaman orang kampung saya. Mungkin sudah ada ratusan kuburan di atas sana, dari dulu hingga sekarang. Pemakaman itu dijaga dan dirawat oleh sebuah keluarga dari suku Nias. Orang Nias cukup banyak juga di Padang, umumnya mereka tinggal di sekitar perbukitan dekat kawasan Muara.

13315652_1118877744846916_5869833978637917960_n

Untuk mencapai pemakaman ini, kita harus menaiki tangga, sebagian lagi melalui jalan setapak yang cukup terjal. Saya membayangkan betapa sulitnya membawa jenazah yang hendak dikubur di sini. Pada musim hujan jalan setapak ke atas bukit itu  cukup licin, jika tidak hati-hati kita bisa terpeleset ke bawah. Namun, bagi orang Nias yang banyak bermukim di bukit itu, mereka sudah biasa saja naik turun bukit yang terjal tersebut.

13266057_1118877698180254_3045192816838233239_n

Karena berada di atas bukit, maka kompleks pemakaman itu rawan longsor. Dua tahun lalu terjadi hujan deras yang begitu lebat di atas bukit. Air dari atas bukit meluncur deras dalam jumlah yang besar, menghanyutkan dan merobohkan apapun yang dilaluinya. Sejumlah kuburan terkena longsoran, termasuk makam ayah saya. Air yang deras meluluhlantakkan isi sejumlah makam sehingga tulang-belulang jenazah ikut jatuh ke bawah dan tidak dikenali lagi itu tulang belulang siapa.

Atas kesepakatan warga perantau kampung saya, maka seluruh tulang belulang itu dikumpulkan dan dimakamkan di dalam satu lubang. Sebagai simbol bahwa makam pernah ada, maka keluarga yang masih hidup membangun makam baru sebagai simbol saja, padahal isinya tidak ada. Tujuannya adalah agar keluarga yang masih hidup dapat tetap berizarah ke sana meskipun kuburan aslinya sudah hiang. Itu termasuk makam ayah saya.

Karana kompleks pemakaman ini berada di atas bukit, maka dari atas bukit ini kita dapat melihat pemandangan kota Padang. Dari kejauhan kita dapat melihat kantor gubernur, beberapa bangunan hotel, Masjid Raya Sumbar, Pantai Padang, dan lain-lain.

18485304_1472619679472719_10544900203165908_n

13325440_1118877774846913_1913774488892107167_n

18485281_1472619636139390_1941990409701227054_n

Tadi sudah saya sebutkan bahwa bukit ini berbatasan dengan sebuah sungai, namanya Sungai Batang Harau. Sungai ini bermuara ke Samudera Hindia sekitar 2 km ke arah barat. Di daerah Muara bertemulah air laut yang asin dengan air tawar dari sungai.

Anda semua pasti tahu jika kota Padang rawan gempa. Gempa bumi sering terjadi dalam skala kecil hingga skala besar. Beberapa kali gempa besar pernah terjadi di sini, terkahir tahun 2009 yang meluluhlantakkan kota. Kekhawatiran paling besar dari gempa bumi adalah tsunami. Peristiwa tsunami di Aceh telah memberi kesadaran bagi Pemerintah kota untuk membangun jalur evakuasi. Bagi warga yang bermukim di kawasan selatan, jalur evakuasi untuk menghindari tsunami adalah lari ke atas bukit-bukit itu. Pemerintah kota membangun beberapa jembatan evakuasi di atas sungai Batang Harau. Jika terjadi peringatan tsunami, maka warga bisa berlari ke atas bukit yang saya ceritakan ini.

Dari kompleks pemakaman tadi saya dapat melihat dengan jelas jembatan evakuasi tsunami.  Berlindung ke bukit yang tinggi ini cukup aman bagi warga sampai menunggu pertolongan datang.

13312673_1118877794846911_5475495546647719388_n

Jembatan evakuasi dari tsunami

13325620_1118958614838829_6122710926432889508_n

Yang paling penting dari jembatan ini adalah edukasi. Penting bagi Pemerintah kota untuk sering melakukan simulasi gempa dan tsunami agar warga menyadari bahwa jembatan ini bukan sekedar tempat penyeberangan biasa, tetapi adalah sarana evakuasi bencana.


Written by rinaldimunir

May 22nd, 2017 at 5:16 pm

Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suami

without comments

Beberapa waktu yang lalu saya ke kampus Ganesha naik Go-Jek (karena motor saya masih kena tilang di kantor polisi). Ketika mengorder Go-Jek, pengemudi yang menerima order ternyata perempuan. Wah, kaget! Susi namanya, begitu yang tertera di layar aplikasi. Waduh, bagimana ya, asa gimana gitu diboncengi tukang ojeg perempuan. Belum pernah sih. Tapi karena udah terlanjur pesan, saya merasa nggak enak juga membatalkannya.

Setelah dia datang, benar, ternyata ada rasa canggung juga bagi saya naik motornya. Risih.

“Nggak apa-apa nih, saya laki2”, tanya saya.

“Nggak apa2 pak, udah biasa”, katanya.

Ya sudah, saya pun naik motor gojeknya dengan tetap menjaga jarak di atas boncengan. Dari Antapani tujuan saya ke kampus ITB naik Go-Jek dengan pengemudinya bernama Teteh Susi. ?

Seperti biasa saya selalu mengajak ngobrol supir Go-Jek sepanjang perjalanan. Kata Teh Susi, dia biasanya berjualan buah lokal di Antapani. Tetapi sekarang jualan buah sedang sepi, musim hujan yg berkepanjangan membuat buah2an jarang ada. Akhirnya Teh Susi banting stir jadi pengemudi Go-Jek.

Bagi Teh Susi, kerja meng-gojek merupakan pekerjaan sampingan untuk membantu suaminya. Suami Teh Susi bekerja di sebuah bengkel motor di daerah Ujungberung. Bosnya orang Tionghoa. Baik. Suami Teh Susi meminjam uang kepada bosnya untuk membangun rumah di Pasir Impun. Cara pengembalian pinjaman adalah dengan memotong gaji suaminya. Kata Teh Susi, gaji suaminya di bengkel itu Rp3 juta per bulan. Tiap bulan dipotong 50% untuk membayar cicilan pinjaman. Suami Teh Susi meminjam Rp 100 juta kepada bosnya. Alhamdulilah, rumah yang dibangun di atas tanah seluas 5 tumbak (70 m2) sudah selesai dibangun, tinggal melunasi penjaman uang setiap bulan.

Untuk membantu melunasi pinjaman suaminya, Teh Susi bekerja menjadi supir Go-Jek dari jam 7 pagi sampai sore. Dia mangkal di kios buahnya di Jl. Indramayu yang kosong (tidak ada buah yang dijual). Anaknya dua orang masih kecil-kecil, dititipkan di rumah ibunya. Dari bekerja sebagai supir Go-Jek, Teh Susi bisa mendapat bonus (dari go-ride, go-food, go-send, dll) sampai 20 poin sehari, itu setara dengan Rp100.000. Kadang-kadang cuma dapat Rp50.000. Lumayan, alhamdullah.

Sampailah saya di Jl. Ganesha. Ongkos Go-Jek 15.000 saya lebihkan saja menjadi 20.000. Lima ribunya buat teh Susi saja, kata saya, buat wanita yang bekerja dengan ikhlas membantu suaminya.

Teteh, saya foto dulu ya..

teh susi


Written by rinaldimunir

May 18th, 2017 at 10:47 am

Kena Tilang (lagi), Slip Biru, dan Anti-korupsi

without comments

Beberapa hari yang lalu motor saya kena tilang pak polisi di depan PUSDAI Jalan Supratman, Bandung. Salah saya juga sih, plat nomor saya sudah kadaluarsa beberapa hari. Hari yang apes, karena pada hari itu saya justru mau urus STNK di kantor SAMSAT, tapi keburu kena tilang. Selain plat nomor yang kadaluarsa, SIM saya juga sudah lewat waktu (belum sempat ikut ujian SIM lagi. Saya harus bikin ulang SIM baru karena masa kadaluarsa SIM telat satu hari). Jadilah saya melanggar dua pasal.

Pak polisi yang menilang saya kemudian berkata: “Motor bapak kami tahan beserta kuncinya, nanti bisa diambil di Jalan Jawa (kantor Poltabes). Bagaimana, Pak? Apa bapak mau ikut sidang pengadilan tanggal 26 Mei atau dibantu diselesaikan di sini?”.

Saya sudah paham maksud Pak polisi itu. “Diselesaikan disini” artinya selesai di jalan saja, tidak perlu ikut sidang pengadilan, tapi cukup pakai “uang damai”.  Tawarannya saya tolak, sebab bertentangan dengan prinsip saya (anti menyuap). Menyelesaikan perkara dengan jalan uang damai sama saja dengan menyuruh Pak Polisi melakukan korupsi. Uang damai akan masuk ke kantongnya, bukan ke kas negara.

“Begini saja pak”, kata saya setelah diskusi yang cukup alot dengan Pak Polisi. “Saya minta slip formulir tilang yang berwarna biru. Nanti denda tilang saya setor ke Bank BRI”.

(Ini adalah alternatif jika kita tidak mau ikut sidang tilang.  Terlalu lama menunggu. Di Bandung sidang tilang setiap hari Jumat di Jalan Riau, yang antri sidang puluhan sampai ratusan orang. Kita harus pagi-pagi datang ke pengadilan supaya dapat nomor antrian kecil. Sidangnya tidak sampai 5 menit, tapi mengantrinya seharian)

Pak Polisi tampak agak ogah-ogahan memberikan slip tilang yang berwarna biru. Sepertinya dia agak keberatan. Dia pikir mungkin saya mau menyelesaikan di jalan saja, seperti pemotor lain yang kena tilang.

Setelah berdiskusi dengan temannya, akhirnya dia berikan juga slip biru itu. Dia cantumkan nomor rekening Bank BRI di formulir tersebut. Saya bisa setor denda tilang via ATM BRI atau ke teller BRI.  Saya coba bayar via ATM ternyata tidak berhasil (belakangan saya ketahui memang belum bisa, sebab besar denda tilang tidak tertulis di surat tilang tesrebut). Akhirnya saya minta pegawai kantor saya untuk membayar denda tilang di  kantor BRI. Teller BRI sudah tahu  berapa besar dendanya.  Denda yang kita bayar adalah denda maksimal (kalau ikut sidang pengadilan, maka dendanya lebih kecil lagi). Saya membayar denda Rp150.000.  Tak apalah, daripada seharian antri sidang pengadilan yang menurut saya tidak efektif.

Dua hari kemduian saya bisa mengambil motor kembali di Jalan Jawa , tapi sebelumnya saya harus mengurus perpanjangan STNK beserta plat nomor seharian di kantor Samsat. Perlu waktu dua hari untuk mengurus perpanjangan plat nomor ini.  Berhubung saya tidak punya waktu, maka saya kuasakan saja ke pegawai kantor saya. Untuk perpanjangan plat nomor ini (berikut denda keterlambatan),  biayanya sekitar Rp400 ribuan.

Moral dari cerita ini, setidaknya saya bersyukur. Bersyukur karena saya sudah terhindar memberikan uang suap, dan telah menghindarkan polisi itu dari berbuat korupsi. Itu saja.


Written by rinaldimunir

May 15th, 2017 at 3:12 pm

Posted in Pengalamanku

Ketika Islam Dibenturkan dengan Kebhinnekaan dan NKRI

without comments

Sebagai orang Islam, saya merasa cukup sedih ketika umat Islam dituding intoleran, radikal, anti-kebhinnekaan, anti-NKRI, anarkis, dan sebagainya. Sebutan-sebutan negatif itu berlangsung selama Pilkada DKI berlangsung hingga Ahok divonis bersalah dan dihukum dua tahun penjara oleh hakim Pengadilan Tinggi Jakarta Utara baru-baru ini.

Pilkada DKI memang kental dengan nuansa SARA. Puncaknya ketika Ahok dianggap menistakan Al-Quran dengan kasus Al-Maidah 51 yang sama-sama kita ketahui. Pro kontra terhadap ucapan Ahok itu telah membangkitkan sentimen keagamaan yang meluas ke seluruh tanah air. Aksi-aksi Bela Islam yang bertubi-tubi yang diikuti oleh ratusan ribu hingga jutaan umat Islam di Jakarta,  demo di mana-mana di seluruh negeri, dan perang kata-kata di media sosial, telah membuat situasi negara ini menjadi tambah panas. Hampir-hampir saja negara ini diambang perpecahan. Peserta demo-demo itu dituding anti-kebhinnekaan, radikal, intoleran, dan anti NKRI. Saya tidak mengerti kenapa disebut demikian, mungkin karena yang demo itu memakai sorban, peci, berbaju putih-putih, menggemakan takbir, dan sasaran demo adalah Ahok yang kebetulan non-muslim dan beretnik Tionghoa. Padahal yang diperjuangkan oleh peserta demo adalah tindakan hukum, bukan agama orang lain atau etnik.

Setelah Pilkada diketahui hasilnya, yang ternyata Ahok kalah, maka media asing pun ramai memberitakannya. Media asing menuding kemenangan Anis-Sandi adalah kemenangan kaum radikal dan menunjukkan meningkatnya intoleransi. Publik di dalam negeri yang Pro Ahok ikut-ikutan mengamini tudingan media luar negeri tersebut.  Itu artinya 58% pemilih DKI yang memilih Anies-Sandi (sekitar 3,2  juta pemilih) seluruhnya dianggap kaum radikal dan intoleran, dan 42% yang memilih Ahok dianggap toleran dan tidak radikal. Kesimpulan yang sama sekali gegabah, sebab, meski ada yang memilih karena alasan agama, lebih banyak warga DKI tidak memilih Ahok bukan karena pertimbangan agama, tetapi karena faktor attitude Ahok dan serangkaian peristiwa yang terjadi pada masa tenang yang telah menggerus elektabilitasnya. Peristiwa-peristiwa itu seperti pembagian sembako, kasus Steven yang mendiskreditkan pribumi, dan iklan kampanye Ahok yang kontroversial.

Pasca Pilkada, ternyata kegaduhan di dalam negeri belum usai. Sidang Ahok berakhir klimaks dengan vonis hukuman penjara dua tahun yang diberikan oleh hakim. Hakim memerintahkan Ahok ditahan. Media luar negeri pun kembali nyinyir dengan menyebut hukuman kepada Ahok sebagai bukti intoleransi dan radikalisme di Indonesia. Mereka menyebut vonis tersebut adalah hasil tekanan massa. Itu artinya media luar negeri meragukan independensi hakim Indonesia.

Para pendukung Ahok yang belum bisa move on tidak terima Ahok dipenjara. Mereka melakukan unjuk rasa dan menuntut Ahok dibebaskan. Dalam aksi unjuk rasanya mereka kembali menghina ulama dan menyebut vonis ini adalah akibat kaum radikal yang anarkis dan intoleran dan anti-NKRI.

Kawan. Umat Islam Indonesia sangat cinta NKRI. Kemerdekaan Indonesia ini diperjuangan dengan darah para syuhada dan ulama. Mana mungkin umat Islam mengkhianati hasil perjuangannya sendiri dengan mengancam NKRI?

Umat Islam tidak anti Pancasila. Sila-sila di dalam Pancasila itu adalah perwujudan ajaran Islam. Umat Islam tidak menuntut negara Islam. Soal dasar negara ini sudah selesai ketika para tokoh Islam pada tahun 1945 berbesar hati menghilangkan tujuh kata di dalam Piagam Jakarta untuk menjaga keutuhan NKRI dari ancaman pemisahan oleh saudara sebangsa di kawasan Indonesia Timur.

Umat Islam tidak anti kebhinnekaan. Sudah lama umat Islam hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama berbeda. Di Indonesia tidak hanya hari penting agama Islam saja yang dijadikan hari libur nasional, semua agama mendapat hari libur untuk hari rayanya. Bahkan hari Jumat tidak dijadikan hari libur, justru hari minggu yang menjadi hari libur. Kita hampir tidak menemukan libur nasional untuk hari raya umat Islam di Amerika, Inggris, Jerman maupun Perancis, mereka adalah negara-negara yang dianggap mbah-nya demokrasi.

Umat Islam bukanlah orang radikal, ekstrimis, teroris. Perilaku radikal sekelompk orang tidak dapat digeneralisasi bahwa semua orang Islam adalah radikal, ekstrimis, dan teroris. Mereka yang demo-demo kemarin itu dalam rangka membela agama dan kitab sucinya, sama sekali bukan menyerang agama lain dan etnik  lain. Demo-demo itu bahkan berlangsung tetib dan damai, jauh sekali dari kesan anarkis yang dilabelkan oleh kelompok yang tidak suka.

Kawan. Jangan kau benturkan Islam dengan label-label yang menyesatkan itu.  Indonesia bukan hanya soal Ahok. Indonesia adalah negara besar. Terlalu habis energi bangasa kita ini hanya mengurus masalah satu orang, padahal masih banyak persoalan bangsa ini yang menuntut perhatian.


Written by rinaldimunir

May 12th, 2017 at 5:04 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Bermula dari Satu Sekolah Muhammadiyah ini

without comments

Sebuah foto saya peroleh dari grup ilmuwan Muhammadiyah di WhatsApp. Ini foto jadoel, diperkirakan tahun 1912, foto sekolah Muhammadiyah pertama yang didirikan K.H Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta. Tampak di dalam foto K.H Ahmad Dahlan berdiri di pintu. Murid-muridnya berpakaian sederhana dan bersarung, sedangkan asisten guru memakai baju lurik dan blangkon Jawa.

SD Muhammadiyah Kauman 1912

Bermula dari sekolah kecil ini, organisasi Muhammadiyah kini mempunyai ribuan TK, SD, SMP, SMA, SMK, MI, MTs, MA, Pondok Pesantren, dan ratusan Perguruan Tinggi di seluruh Nusantara. Menurut data dari situs web Muhammadiyah, jumlah lembaga pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah saat ini adalah:

1 TK/TPQ 4.623
2
Sekolah Dasar (SD)/MI
2.252
3
Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs
1.111
4
Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK/MA
1.291
5
Pondok Pesantren
67
 6
Jumlah total Perguruan tinggi Muhammadiyah171
 171

Itulah amal usaha Muhammadiyah yang ikut mencerdaskan anak bangsa . Jika Ahmad Dahlan masih hidup, mungkin dia tidak akan percaya jika sekolah Muhammadiyah yang dirintisnya tahun 1912 berkembang luar biasa.

Saya yang pernah sekolah di SD Muhammadiyah Sawahan, Padang, dan hidup di lingkungan Muhammadiyah yang kental di Sumatera Barat juga ikut merasa bangga. Dua anak saya juga bersekolah di SD Muhammadiyah 7 Antapani Bandung. Meskipun saya bukan kader, hanya simpatisan saja, saya berharap Muhammadiyah akan selalu istiqamah dalam membentuk manusia Indonesia yang berpendidikan, beriman, berkarakter, dan berakhlaqul karimah. Amin.


Written by rinaldimunir

May 6th, 2017 at 3:35 pm

Posted in Pendidikan

Ingatlah Harapan-Harapan Ayahmu

without comments

Kuliah Semester Genap ini baru saja berakhir. Ujian Akhir Semester suah dimulai pada minggu ini.  Seperti biasa, pada sesi kuliah terakhir Semester Genap ini,  saya mengisi penutup kuliah dengan memberikan nasehat-nasehat dan pepatah petitih kepada para mahasiswa. Saya ingatkan lagi betapa besar harapan ayah bunda mereka yang menaruh harapan agar putra-putrinya selalu berhasil menempuh perkuliahan di ITB dan tentu saja kuliah kehidupan lainnya selama di kampus.

Saya berpesan agar para mahasiswa memberikan hasil terbaik kepada kedua orangtuanya. Jangan sia-siakan masa muda, masa muda adalah masa untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya sebagai bekal buat masa depan.

Sebagai penutup, saya putarkan video klip lagu “Yang Terbaik Bagimu (Ayah)”  dari ADA Band ini (feat Gita Guttawa) di layar proyektor. Saya suka lagu ini.  Ini lagu yang menurut saya sangat bagus, sebab mengingatkan seorang anak pada harapan yang dilontarkan orangtuanya, khususnya ayahnya.
Beberapa mahasiswi yang menyaksikan video klip ini tak mampu menutup wajahnya, matanya berkaca-kaca mendengarkan lirik lagu tersebut. Mungkin terbayang ayahnya di kampung halaman sehingga menjadi ia hiks…hiks… . Maafkan saya, tidak bermaksud membuatmu menangis.
Berikut ini lirik lagu Yang Terbaik Bagimu (Ayah) dari ADA Band:

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Chorus:Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

La la laaLa la la laa la

Silkan klik video di Youtube ini untuk mendengarkan lagu dan musiknya. Saya yakin kamu pun akan tersentuh.

Written by rinaldimunir

May 4th, 2017 at 3:06 pm

Facebook community now has more than 1.9 billion people,…

without comments

Facebook community now has more than 1.9 billion people, including almost 1.3 billion people active every day. http://ift.tt/2pHfwDq via http://ift.tt/2pJSxtr

Written by Veriyanta Kusuma

May 4th, 2017 at 11:47 am

Posted in Uncategorized

Antara Karangan Bunga dan Tasyakuran Warga

without comments

Ini masih tentang Pilkada DKI yang menjadi perhatian seluruh bangsa Indonesia, bahkan dunia. Pilkada sudah berlalu, pihak yang kalah dan yang menang sudah sama-sama kita ketahui. Sangat menarik mengamati bagaimana pendukung Anies dan Ahok merepson kemenangan dan kekalahan pemimpin yang didukungnya.

Meskipun Ahok kalah dalam Pilkada ini, namun para pendukungnya masih menaruh “cinta” yang mendalam kepadanya. Pendukung Ahok mengirim karangan bunga yang luar biasa banyaknya sebagai ungkapan tanda cinta dan terimakasih kepada Ahok dan Djarot yg sebentar lagi lengser. Say with flower, katakanlah dengan bunga, begitu kata sebuah peribahasa.

karanganbunga

Ribuan karangan bunga dari pendukung Ahok memenuhi halaman Balai Kota Jakarta.

(Sumber foto di atas dari sini: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/28/13063561/apa.kata.warga.soal.karangan.bunga.untuk.ahok-djarot)

Bagaimana dengan pendukung Anies? Pendukung Anies yang kebanyakan golongan menengah ke bawah memang tidak mengirim karangan bunga kepada Anies-Sandi, tetapi mereka cukup mengadakan tasyakuran berupa makan sedaun pisang bersama di sepanjang gang pemukiman. Sederhana dan bersahaja namun dapat menimbulkan ikatan persaudaraan.

makanbersama

Warga RW 06 Kramatjati mengadakan tasayakuran berupa makan bersama untuk kemenangan Anies-Sandi.

Sumber foto di atas dari sini: https://mobile.twitter.com/spardaxyz/status/855968857932021760?ref_src=twsrc%5Etfw&ref_url=http%3A%2F%2Fkumparan.com%2Fmuhamad-iqbal%2F5-ungkapan-kemenangan-anies-sandi-potong-sapi-hingga-makan-bersama)

Sebagai warga Indonesia, kita tidak perlu nyinyir menyikapi kedua peristiwa di atas. Biarlah pendukung kedua kubu mengungkapkan caranya masing-masing menerima kekalahan dan kemenangan orang yang didukungnya. Karena, itulah dua ungkapan berbeda namun sarat makna.


Written by rinaldimunir

April 30th, 2017 at 2:44 pm

Posted in Indonesiaku

Setelah Pilkada DKI Berlalu

without comments

Pilkada putaran kedua di DKI Jakarta baru saja selesai. Kita pun sama-sama sudah mengetahui hasilnya. Melalui hasil hitung cepat, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berhasil mengalahkan pasangan petahana Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat dengan angka yang cukup telak, yaitu 58% banding 42%. Hasil real count dari KPU tidak akan jauh berbeda dari hasil hitung cepat, yang ketika tulisan ini dibuat ternyata rekapitulasi hasilnya sudah diumumkan (Baca: Rekapitulasi Suara TPS di KPU DKI Jakarta Selesai, Ini Hasilnya).

Inilah Pilkada yang paling menegangkan dan paling panas dalam sejarah Pilkada. Pilkadanya di DKI Jakarta, tetapi menyedot perhatian seluruh rakyat Indonesia. Jadi, tidak heran ada yang mengatakan ini Pilkada rasa Pilpres.

Saya sebut Pilkada yang panas dan menegangkan karena Pilkada DKI melibatkan sisi emosional orang banyak. Sentimen SARA sudah mencuat jauh sebelum kampanye Pilkada dimulai. Faktornya adalah sang petahana, Ahok. Banyak orang menilai bahwa Ahok tidak disukai karena etnik dan agamanya. Betulkah begitu? Menurut saya penilaian itu tidak tepat. Orang Indonesia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan etnik dan penganut agama yang berbeda. Tidak ada masalah yang serius. Seperti yang pernah saya nyatakan dalam tulisan sebelumnya, Ahok sebenarnya memiliki kinerja yang bagus, jadi seharusnya dia bisa memenangkan pertandingan ini apabila  didasarkan pada hasil kerja nyatanya. Komitmennya menegakkan pemerintahan yang bersih dan anti korupsi juga sangat diapresiasi. Bahkan, hasil-hasil survey juga menunjukkan bahwa warga Jakarta mayoritas puas dengan kinerjanya. Namun ternyata mereka tidak memilih Ahok. Apa sebabnya?

Rupanya, kinerja dan prestasi saja tidak cukup. Orang juga melihat dari sisi yang lain, yaitu attitude. Inilah yang kurang dimiliki Ahok. Ahok tidak bisa menjaga bicaranya. Dia berbicara apa saja, mengomentari hal-hal yang bukan wilayahnya, menunjukkan sikap dan perilaku yang kurang santun, yang mana bagi masyarakat timur sikap dan perilaku masih sangat dijunjung tinggi. Apalagi seorang gubernur tidak hanya pemimpin administrasi pemerintahan, tetapi juga pemberi keteladanan. Apalah artinya kinerja yang bagus namun tertutup oleh attitude yang kurang pas.

Perilaku Ahok yang tidak bisa menjaga bicaranya menimbulkan ketersinggungan, khususnya umat Islam. Puncaknya adalah kasus Al-Maidah 51 yang terkenal itu yang sama-sama kita ketahui masalahnya. Karena sudah masuk ke ranah agama, sesuatu yang sangat esensial dan primordial bagi orang  Indonesia, maka mau tidak mau Pilkada DKI akhirnya “menyeret” partisisipasi hampir seluruh bangsa Indonesia untuk ikut-ikutan berkomentar. Dari semula berkomentar berubah menjadi sikap pro dan kontra.  Bangsa ini akhirnya terbelah dua dalam menyikapi Ahok.  Akibatnya sungguh menyedihkan. Hubungan pertemanan menjadi rusak hanya gara-gara berbeda sikap dan pandangan tentang Ahok. Keharmonisan hubungan antra umat beragama menjadi terganggu. Bangsa Indonesia berada diambang perpecahan. Media sosial memiliki peran besar dalam polarisasi bangsa ini, karena posting-an tentang kubu-kubuan ini beredar dengan cepat dan masif secara personal. Berita fintah dan hoax berseliweran setiap waktu yang membuat kebatinan bangsa ini semakin panas dan tegang.

Sekarang pesta sudah usai. Ahok kalah. Kekalahan itu menurut para pengamat tidak hanya karena faktor sentimen SARA semata, tetapi juga akibat beberapa kejadian  menjelang hari pemungutan suara, yang membuat pemilih rasional mengalihkan suaranya ke pasangan lain. Tiga kejadian yang menonjol adalah, pertama pembagian sembako secara masif pada masa tenang kepada rakyat miskin, yang dinilai sebagai bentuk politik uang dan dianggap menciderai demokrasi yang bersih. Kedua adalah konten video kampanye Ahok-Djarot yang memberi stigma negatif kepada kaum pribumi dan umat Islam. Ketiga adalah kasus penghinaan Steven kepada Gubernur NTB di Bandara Changi, Singapura. Ketiga kejadian ini beredar dengan cepat dan deras melalui media sosial, akibatnya sungguh tak terduga, pemilih rasional menjauhi Ahok.

Syukurlah Ahok menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Media sosial pun tiba-tiba berubah menjadi sejuk dan lebih tenang. Suasana panas berubah menjadi dingin. Ada “untungnya” juga Anies-Sandi yang menang, sebab jika Ahok yang menang maka saya khawatir polarisasi bangsa ini akan terus berlanjut hingga Pilpres 2019 dan sesudahnya. Rupanya Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri sehingga bangsa Indonesia luput dari perpecahan yang mengancam.

Sekarang yang  diperlukan adalah rekonsiliasi bangsa Indonesia yang terpecah akibat Pilkada DKI.  Sudahi permusuhan dan penebaran kebencian kepada masing-masing kelompok. Tidak ada gunanya.  Kita ini bangsa yang satu, yaitu Bangsa Indonesia.


Written by rinaldimunir

April 21st, 2017 at 1:56 pm

Posted in Indonesiaku

Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke

without comments

Dulu saya pernah menulis tentang kesabaran anak yang diuji dengan merawat orangtuanya yang sakit-sakitan di akhir hayatnya (Baca: “Ujian” dari Orangtua pada Saat Akhir Hayat). Kali ini saya menemukan kisah yang serupa lagi, yang dialami oleh tukang ojek langganan anak saya.

Saya punya ojek langganan yang khusus untuk mengantar jemput anak saya ke sekolah. Saya memanggilnya Kang Agus. Sudah hampir empat tahun saya berlangganan ojek dengannya. Dia mempunyai seorang istri tapi belum dikarunia anak.  Selain menjadi tukang ojek, dia juga berjualan kaos kaki di dekat sebuah sekolah. Penghasilannya tidak seberapa, baik menjadi tukang ojek maupun berjualan kaos kaki.

Sekarang menjadi tukang ojek sudah mulai dikuranginya, pasalnya ibunya terbaring sakit di rumah setelah mendapat serangan stroke tiga tahun lalu. Ibunya sejak lama tinggal seorang diri setelah berpisah dengan suaminya. Serangan stroke membuat ibunya lumpuh. Tidak bisa berjalan, tidak bisa duduk sendiri, dan bicara pun sudah kurang jelas. Sejak ibunya terkena stroke, Kang Agus pun pindah ke rumah ibunya demi bisa merawat ibunya yang sudah tidak bisa apa-apa. Ibunda Kang Agus benar-benar bergantung pada orang lain.

Sebenarnya Kang Agus punya dua orang saudara perempuan, sudah menikah, dan hidup terpisah, tetapi kedua suadaranya ini tidak mau merawat ibunya. Praktis hanya Kang Agus sendiri, dibantu istrinya, yang merawat ibunya setiap hari.

Karena sudah tidak bisa apa-apa (lumpuh sebelah), maka ibunya hanya berada di atas kasur dari pagi sampai malam hingga pagi lagi. Semua aktivitasnya hanya di atas kasur, baik makan, buang air besar, pipis, dan lain-lain. Satu-satunya aktivitas untuk mengusir rasa jenuh adalah membaca yasinan setiap hari.

Istri Kang Agus bekerja di rumah saya sebagai asisten rumah tangga. Rutinitas yang dilakukan mereka berdua setiap hari kepada ibunda dimulai sejak subuh. Setelah sholat subuh, ibunda dimandikan (digendong ke kamar mandi). Setelah dipakaikan pampers dan pakaian, selanjutnya ibunda digendong lagi ke atas kasur. Sarapan pagi pun disiapkan untuk sang ibu sebelum mereka berdua berangkat kerja. Jam setengah tujuh pagi Kang Agus sudah datang ke rumah saya untuk mengantar anak sulung ke sekolah. Istrinya baru datang ke rumah saya pukul delapan setelah selesai membereskan rumah mertua dan memasak untuk makan siang.

Ibunda Kang Agus ditinggalkan seorang diri di rumah dalam posisi duduk di atas kasur. Untuk merebahkan tubuhnya ke kasur tidak bisa dilakukan sendiri, harus dibantu. Kadang-kadang karena mengantuk setelah membaca yasinan, sang ibu rebah tertidur begitu saja di atas kasur, namun untuk bangkit duduk lagi tidak bisa dilakukannya karena syaraf di punggung sudah lumpuh. Harus menunggu anak atau menantunya pulang agar ia bisa duduk lagi.

Setelah mengantar anak saya ke sekolah, Kang Agus balik ke rumahnya sebentar untuk melihat kondisi ibunya, lalu keluar rumah lagi untuk berjualan kaos kaki. Jam satu siang istrinya pulang ke rumah sebentar untuk memberi makan ibunya, membersihkan pipis dan BAB di dalam pampers (sang ibu dipakaikan pampers karena untuk pipis dan buang air besar hanya bisa di atas kasur), lalu kembali lagi ke rumah saya melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Kang Agus menjemput anak saya dari sekolah pukul empat sore, lalu kembali ke rumah ibunya.

Begitulah rutinitas yang dilakukan Kang Agus setiap hari, diantara memikirkan nafkah dan merawat ibunya. Dapatkah kau mengerti ujian kesabaran yang dihadapinya. Jarang ada orang yang bisa tahan mengurus orangtuanya yang sakit-sakitan dan tidak berdaya lagi di atas kasur.  Siapa anak dan menantu yang dengan penuh kesabaran dan ketelatenan membersihkan kotoran ibunya, melap badannya, menceboki pantat dan membersihkan pipisnya? Semua itu dilakukan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun, dan dilakukan berdua.  Sungguh sebuah kesabaran dan pengorbanan yang tiada batasnya.

Minggu lalu saya menjenguk ke rumah Kang Agus karena sudah beberapa hari Kang Agus tidak bisa mengantar jemput anak saya ke sekolah. Rupanya Kang Agus sakit diabetes (turunan dari ibunya) sehingga hanya bisa di rumah saja. Dalam keadaan sakit pun kang Agus tetap merawat ibunya dengan setia.  Saya yang datang ke rumah itu melihat sendiri kondisi ibunya yang di atas kasur. Memang menyedihkan, ibu yang sudah tua, kesepian setiap hari, tidak punya teman bicara ketika anak dan menantunya pergi bekerja, dan hanya bisa duduk berjam-jam di atas kasur dari pagi sampai malam.

Saya hanya bisa membesarkan hati Kang Agus dan menyatakan bahwa yang dilakukannya kepada ibunya adalah amal sholeh sebagai bakti anak kepada orangtuanya. Insya Allah amalan sholeh itu akan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda. Mungkin sekali-sekali pernah terbersit perasaaan bosan dan jengkel menghadapi ibunya, itu manusiawi, namun Kang Agus tetaplah melakoninya dengan sabar.

Saya mendapat pelajaran berharga dari Kang Agus tentang kesabaran yang luar biasa.


Written by rinaldimunir

April 18th, 2017 at 11:34 am