if99.net

IF99 ITB

Cara Menghilangkan Ujub dan Riya saat Sholat ke Masjid

without comments

Seorang teman pernah mengatakan bahwa tantangan sholat ke masjid itu cuma dua. Tantangan pertama adalah mengalahkan rasa malas. Tantangan kedua adalah mengalahkan rasa ujub dan riya . Ujub artinya merasa lebih baik dari orang lain, termasuk juga  merendahkan orang lain yang tidak pergi sholat ke masjid. Riya artinya mengharapkan dipuji oleh orang lain.

Bagi laki-laki muslim, sholat fardhu wajib dilakukan di masjid secara berjamaah.  Meskipun demikian, sholat fardhu yang dilakukan di rumah tetap sah (Baca: Laki-Laki Wajib Shalat Berjamaah di Masjid, Benarkah?).

Saya pribadi selalu mengusahakan sholat fardhu di masjid, meskipun beberapa kali sering timbul rasa malas (seharusnya tidak boleh ya).

Kembali ke tantangan yang ditulis oleh teman saya tadi. Dia mengatakan bahwa kebanyakan dari kita mampu mengatasi tantangan nomor  satu. Rasa malas bisa dibuang dengan memotivasi diri. Ayo, jangan malas

Tetapi, katanya, tidak banyak orang yang mampu melewati tantangan nomor dua.  Perasaan ujub dan riya jika muncul di dalam hati dapat membuat amalan kita sia-sia, karena tidak diterima oleh Allah SWT.

Perasan ujub sering timbul pada manusia, termasuk ahli ibadah. Merasa dirinya lebih baik dari orang lain, merasa lebih sholeh, lebih alim, lebih islami, dan sebagainya. Orang lain yang tidak berbuat seperti dia dipandangnya kurang sholeh, kurang taat, dan lebih rendah dari dirinya. Orang muslim yang tidak sholat ke masjid dianggapnya lebih rendah dari dirinya yang rajin sholat ke masjid.

Perasaan ujub membuat manusia tinggi hati, lama-lama menjadi angkuh dan sombong. Merasa Allah menilainya lebih tinggi beberapa derajat dibandingkan orang yang tidak sholat ke masjid.

Perasaan riya adalah ingin dipuji dan disanjung. Sholat ke masjid dipamer-pamerkan supaya orang lain menilai dirinya ahli ibadah, orang sholeh, orang paling taat agama, dan sebagainya.

Kalau rasa malas bisa dikalahkan, tidak demikian dengan rasa ujub dan riya. Saya punya dua cara menghilangkan ujub dan riya itu. Jika anda pergi sholat ke masjid, maka  janganlah menengok kiri kanan ke arah tetangga supaya ingin dilihat,  terus saja jalan ke depan ke arah masjid. Konsentrasikan saja pikiran ke masjid.  Cara kedua adalah tidak perlu memakai asesoris seperti peci, sarung, kupiah, jika pergi ke masjid. Berpakaian biasa saja sehingga orang lain tidak tahu kalau kita mau ke masjid. Insya Allah dengan kedua cara tersebut kita dijauhi darai rasa ujub dan riya sehingga amalan kita menjadi tidak sia-sia dan diterima oleh Allah SWT.

Saya teringat sebuah pepatah yang menyatakan  penyakit ahli ilmu adalah sombong dan penyakit ahli ibadah adalah riya. Semoga kita dijauhkan dari keduanya. Amiin.

Written by rinaldimunir

June 11th, 2019 at 3:32 pm

Posted in Agama,Renunganku

THR. Berterimakasihlah kepada Gerakan Kaum Buruh

without comments

Menjelang Hari Raya Idul Fitri yang segera tiba, kata apa yang paling sering disebut oleh kaum pekerja? Ya, THR, atau Tunjangan Hari Raya. THR adalah kebahagiaan tersendiri bagi seluruh pekerja di tanah air. Kaum pekerja itu adalah PNS, pegawai swasta, buruh, satpam, supir perusahaan, bahkan pembantu rumah tangga.

THR merupakan rezeki tambahan para pekerja di tengah himpitan ekonomi menjelang hari raya. Menjelang lebaran kebutuhan masyarakat umumnya bertambah untuk membeli berbagai kebutuhan lebaran, termasuk biaya buat mudik. Maka, THR selalu didamba menjelang lebaran. Saat ini THR wajib diberikan oleh Pemerintah, perusahaan, atau institusi yang mempekerjakan orang. Besar THR bervariasi, minimal satu bulan  gaji. Beberapa perusahaan ada yang memberikan kurang dari satu bulan gaji tergantung kemampuan perusahaan tersebut.

Ketahuilah, THR hanya ada di Indonesia, kita tidak menjumpai pemberian THR di negara lain, apalagi di negara-negara non-muslim sekalipun yang masyarakatnya merayakan hari raya agama seperti Natal, Dipawali, Waisyak, dan sebagainya. Tidak ada THR di sana.

Menurut cerita seorang teman, para ekspatriat yang bekerja di Indonesia sering terheran-heran dengan THR buat pegawai lokal, karena di negara mereka tidak ada THR. Memang di negaranya ada bentuk hadiah saat Natal, tetapi dalam bentuk barang, dan nilainya tidak sebesar gaji satu bulan. Tidak ada THR di negara asing karena mereka menerima gaji tidak hanya 12 kali selama satu tahun, tetapi bisa lebih dari 12 kali. Di Indonesia, beberapa perusahaan swasta dan BUMN memberi gaji pegawainya juga lebih dari 12 kali dalam satu tahun dalam bentuk bonus atau insentif. Sedangkan di lingkungan pegawai negeri sipil dikenal pula gaji ke-13 menjelang tahun ajaran baru. Jika ditambah dengan THR maka PNS mendapat 14 kali gaji dalam satu tahun.

Kewajiban memberi THR di Indonesia memiliki sejarah panjang. Sejarah THR dapat dibaca dari tulisan Sejarah Gerakan Buruh di Balik Kewajiban THR. Ternyata organisasi kaum buruhlah yang pertama kali menginisiasi kewajiban pemberian THR. Pada tahun 1950-an situasi ekonomi sangat sulit, harga barang kebutuhan sangat tinggi. Kaum buruh terjepit di tengah kemiskinan absolut dengan upah rendah tetapi kebutuhan hidup terasa mahal, apalagi menjelang lebaran.

Saya kutip tulisan dari artikel tersebut:

“Everett Hawkins, dalam artikelnya “Labour in Developing Economics” (1962), menggambarkan kemiskinan yang dialami para buruh pada dekade 1950an “[…] bukan hanya upah yang rendah tapi juga harga 19 bahan pokok di Jakarta naik 77 persen dari tingkat awal 100 persen pada 1953 menjadi 177 persen pada 1957, dan kemudian naik makin cepat, dari 258 pada 1958 menjadi 325 pada akhir 1959.”

Menurut Jafar, “Sepanjang 1951-1952 masih belum ada aturan atau keputusan resmi pemerintah menyangkut THR—baik soal kepastiannya sebagai salah satu hak buruh (bukan semata-mata hadiah) maupun soal isi besarannya.” Dengan mengutip artikel K. Gunadi, “Hadiah Lebaran Dalam Rangka Kebijaksanaan Pemerintah” (1957), Jafar menyebut THR di masa itu dipandang sebagai “pemberian yang bersifat sukarela dan yang tidak dapat dipaksakan”.

Sebagai organisasi buruh terbesar masa itu, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), tulis Jafar, “teguh dalam memimpin perjuangan gerakan buruh demi terpenuhinya tuntuan akan THR.” Dalam Sidang Dewan Nasional II di bulan Maret 1953 di Jakarta, SOBSI, organisasi buruh yang belakangan dicap PKI ini, mulai menyuarakan: “Pemberian tundjangan hari raya bagi semua buruh sebesar satu bulan gadji kotor.”

Karena THR kala itu hanya dianggap sukarela, organ buruh yang lain tak terlalu keras menuntut. Melihat sulitnya perekonomian pada era 1950an, keberadaan THR akan membuat hati buruh tentram. SOBSI tahu benar hal itu. Dan SOBSI, dari waktu ke waktu, terus mendesak pemerintah untuk mewujudkan THR.

Semuanya tidak serta merta terpenuhi seperti dituntut serikat buruh (termasuk SOBSI). “Apa yang terjadi muncul perlahan dan bertahap, sesuai dengan desakan tuntutan gerakan buruh dan kehati-hatian politik pemerintah dalam menghadapi kekuatan sosial gerakan buruh,” tulis Jafar.

Perlu juga dicatat, bahwa pada 1954, sudah ada “Persekot Hari Raja” yang kala itu hanya bisa dinikmati pegawai negeri. Persekot itu keluar dengan dalil Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 1954, tanggal 19 Maret 1954, tentang Pemberian Persekot Hari Raja Kepada Pegawai Negeri.

Karena istilahnya persekot, uang itu hanya bersifat uang muka pinjaman kepada pegawai dan setelahnya harus dikembalikan. Menurut pasal 6 ayat 1 PP tersebut, pengembalian “dilakukan dalam enam angsuran dengan memotong gaji pegawai yang bersangkutan tiap-tiap bulannya.”

Sedangkan untuk para buruh, ada istilah “Hadiah Lebaran” berdasar Surat Edaran nomor 3676/54 yang dikeluarkan Menteri Perburuhan S.M. Abidin dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I yang berkuasa dari 1953 hingga 1955. Hal itu dilakukan guna meredam tuntutan buruh yang diberikan berdasarkan sukarela oleh pihak perusahaan. Besarannya, “seperduabelas dari upah yang diterima buruh dalam masa antara lebaran sebelumnya dan yang akan datang, sekurang-kurangnya 50 rupiah dan sebanyak-banyaknya 300 rupiah.”

Pada 1955, 1956, 1957, 1958, surat edaran itu sama isinya. Sayangnya surat edaran tidak punya kekuatan hukum. Surat itu hanya beredar saja dan sama sekali tidak menenangkan perut buruh di kala lebaran. Menurut Jafar, surat edaran hanyalah jalan tengah pemerintah saja. Untuk itulah serikat buruh, terutama SOBSI, terus bergerak.

Titik cerah makin terlihat ketika Ahem Erningpraja menjadi Menteri Perburuhan dalam Kabinet Kerja II (18 Februari 1960 hingga 6 Maret 1962). Meski besarannya belum sebulan gaji kotor, THR wajib dibayarkan dan menjadi hak buruh dengan masa kerja sekurang-kurangnya 3 bulan kerja. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perburuhan nomor 1/1961 yang dikeluarkan oleh Ahem.”

*******************

Sekarang tidak hanya buruh saja yang mendapat THR, tetapi THR adalah hak semua pekerja tanpa terkecuali. Kepada kaum buruh kita perlu berterima aksih atas perjuangannya.

Meskipun pembantu rumah tangga (atau asisten rumah tangga) tidak termasuk pekerja di dalam perusahaan, namun majikan yang mempekerjakan pembantu, supir, satpam juga diminta memberikan THR bagi pekerja di rumahnya.

Saya pribadi sudah menyiapkan THR buat pembantu saya di rumah, termasuk juga buat pengemudi ojek yang selalu rutin antar jemput anak saya ke sekolah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H.

Written by rinaldimunir

June 1st, 2019 at 10:33 am

Posted in Indonesiaku

Puasa Makan Gorengan

without comments

Pada bulan Ramadhan ini camilan yang sangat menggoda untuk buka puasa adalah gorengan (bakwan, bala-bala, gehu, comro, tempe mendoan, goreng pisang, dll). Sepanjang jalan menuju rumah di Antapani bertebaran penjual gorengan. Pada bulan puasa orang-orang tampaknya lebih suka berbuka dengan makanan yang asin-asin daripada yang manis-manis.

gorengan2

Gorengan yang menggoda

Saya sangat suka- makan bala-bala (bakwan khas di Bandung). Bala-bala adalah jajanan gorengan yang terbuat dari tepung terigu dengan campuran kol, wortel, dan bumbu-bumbu. Bala-bala dimakan dengan cabe rawit dalam keadaan masih panas, hmmm… nyam… nyam. Saya bisa makan sampai 4 buah bala-bala.

Tapi, kesenangan makan gorengan itu adalah riwayat tahun lalu. Tahun ini saya “puasa” makan gorengan semacam bala-bala dan sejenisnya. Akibat sering makan gorengan kolesterol saya naik. Sekarang saya lagi diet makanan berminyak terutama gorengan itu. Gorengan memang enak, tetapi dampak negatifnya juga besar. Di dalam gorengan tersimpan senyawa lemak trans yang memicu kolesterol jahat (LDL). Kita tahu sendiri minyak goreng dipakai oleh pedagang berkali-kali untuk menggoreng. Dikutip dari sini, minyak goreng jika dipanaskan pada suhu tinggi akan mengubah struktur kimiawi lemak, sehingga nantinya akan lebih sulit untuk dicerna oleh tubuh. Alhasil, akan timbul berbagai efek buruk bagi kesehatan akibat kandugan lemak trans. Mulai dari meningkatnya risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, hingga obesitas (Lebih lengkap baca: Hati-Hati, Ini 5 Bahaya Kesehatan yang Mengintai Akibat Sering Makan Gorengan).

Oleh karena itu, saya sekarang menghindari makanan yang digoreng, Kalaupun terpaksa ya sekali-sekali saja. Kalau ingin menggoreng sendiri saya beli minyak goreng dengan kadar asam lemak jenuh yang rendah, misalnya minyak dari biji bunga matahari (canola), minyak kedele, atau minyak jagung.

Pada bulan puasa ini saya juga berhenti membeli camilan gorengan yang menggoda itu. Setiap pulang ke rumah saya pasti melewati banyak pedagang kaki lima yang menjajakan hidangan buka puasa, antara lain gorengan. Menggoda selera, tetapi kesehatan adalah nomor satu.

Written by rinaldimunir

May 10th, 2019 at 3:06 pm

Posted in Makanan enak

Membiasakan Sejak Kecil

without comments

Sudah puluhan tahun saya menjalani ibadah puasa Ramadhan setiap tahun, alhamdulillah selalu lancar, tidak pernah batal kecuali sakit. Menjalani puasa sebulan penuh tidak ada rasa berat, malah sudah terbiasa. Hanya hari pertama dan kedua saja tubuh memerlukan penyesuaian, selebihnya biasa saja.

Sejak kecil kebanyakan orangtua (muslim) sudah mendidik anak-anaknya untuk berlatih berpuasa. Mula-mula puasa setengah hari, lalu kalau sudah kuat puasa seharian penuh. Setiap tahun demikian hingga tumbuh dewasa, maka berpuasa menjadi hal yang terbiasa, tidak lagi ibadah yang berat.

Membiasakan anak-anak melakukan hal-hal yang berulang-ulang sejak kecil adalah metode pendidikan karakter yang baik. Karakter itu akan melekat hingga dewasa dan menjadi sebuah habit (kebiasaan). Contoh sederhana saja misalnya menyuruh anak gosok gigi dua kali sehari, setiap pagi dan setiap akan tidur, melipat selimut setiap bangun tidur, berdoa sebelum makan, mengucapkan salam setiap masuk rumah, membaca buku, dan sebagainya.  Jika kebiasaan ini sudah dilakukan sejak kecil, maka lama-lama akan menjadi kebiasaan dan terbawa hingga besar. Semua kegiatan yang berulang-ulang akan menjadi program yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar dan akan berjalan secara otomatis.

Orangtua sering mengeluh anaknya malas membaca buku, apalagi buku pelajaran, malas sholat, malas mengaji, malas membersihkan kamar tidur, dan sebagainya. Ya itulah karena tidak dilatih sejak kecil dan tidak menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Seperti sebuah peribahasa mengatakan, alah bisa karena biasa, yang artinya apabila suatu pekerjaan telah terbiasa dilakukan, maka tidak terasa lagi kesukarannya atau sudah memiliki pengalaman praktek yang lebih baik.

Masa kecil adalah masa emas untuk menanamkan pendidikan karakter. Saat kecil anak mudah dibentuk sesuai dengan keinginan orangtuanya. Otak anak-anak belum berkembang, maka saat itu otak anak bisa dilatih untuk menanamkan kebiasaan yang baik. Sebuah peribahasa mengatakan kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua terubah tidak , yang artinya satu kebiasaan yang dilakukan sejak kecil akan menjadi tabiat yang sukar diubah.

Saya bersyukur orangtua saya sejak kecil sudah mendidik saya sholat, puasa, mengaji, jujur, berkata sopan, dan sebagainya. Sekarang semua didikannya membekas dan menjadi kebiasaan hingga sekarang. Kalau belum sholat saja di dalam perjalanan atau acara yang memakan waktu lama saya sudah resah dan gelisah, sepertinya ada yang kurang. Berkata kurang sopan saya merasa bersalah. Apalagi bulan puasa seperti sekarang, mana pula terpikir rasa berat menjalankannya.

Alhamdulillah semua pendidikan baik yang saya dapatkan dari orangtua saya wariskan pula ke anak-anak. Sejak kecil anak-anak saya sudah berpuasa, sholat lima waktu, mengaji setiap hari, dimasukkan ke sekolah mengaji (TPA), dan sebagainya. Tujuannya agar semua yang dilakukannya sejak kecil akan menjadi habit ketika dewasa.

Written by rinaldimunir

May 7th, 2019 at 10:23 am

Posted in Pendidikan

Kejutan PKS dan PSI pada Pemilu 2019

without comments

Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 membawa berbagai kejutan kejutan. Beberapa partai naik suaranya (Nasdem, PKS, Gerindra), beberapa partai lagi turun (PPP, Demokrat, PBB), demikian menurut hasil hitung cepat (quick count). Satu kejutan yang masih menjadi perbincangan pengamat politik adalah naiknya perolehan suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan tidak lolosnya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke Senayan. Padahal PKS diprediksi oleh lembaga-lembaga survey tidak akan lolos ambang batas 4% akibat konflik internal dan berbagai kasus miring yang mendera kadernya. Sebaliknya, PSI dianggap oleh banyak orang sebagai partai harapan baru karena berisi anak-anak muda millenial sehingga punya kans besar untuk meraih suara dari kalangan anak muda.

Kenyataannya tidaklah demikian. PKS malah melejit raihan suaranya, dari semula sekitar 6% pada Pemilu 2014 menjadi sekitar 8% hingga 9% pada Pemilu tahun ini. Sebaliknya PSI malah hanya mendapat sekitar 2% suara nasional sehingga sangat sulit untuk lolos ke DPR.

Apa yang membuat kejutan ini terjadi? Saya akan membuat analisis amatiran di bawah ini.

PKS dan PSI dapat dianggap dua partai yang berbeda ideologi dan arah politik. PKS adalah partai Islam, tergabung ke dalam koalisi Capres-cawapres Prabowo-Sandi. PSI adalah partai nasionalis dan tergabung ke dalam koalisi Jokowi-Amin. Selama kampanye Pemilu sangat terihat kedua partai ini berbeda secara diametral. PSI sangat sering menyerang PKS terkait ideologinya itu. Bahkan dalam berbagai kesempatan salah satu petinggi partainya pernah mengatakan “haram” berkoalisi dengan PKS baik di legislatif maupun di Pilkada kelak. Para petinggi PKS menanggapi serangan itu dengan kalem saja, mereka menyatakan buktikan dulu PSI masuk ke Senayan baru kemudian bermanuver.

Sebenarnya publik menaruh harapan kepada PSI sebagai pendatang baru. Ada harapan partai ini membawa angin baru di tengah kejenuhan terhadap partai-partai lama yang selalu terlilit kasus-kasus korupsi dan asusila. PSI diisi oleh anak-anak muda. Para calegnya bersih dari kasus korupsi. Anak-anak muda generasi milenial adalah kaum terpelajar, rasional, melek internet, dan aktif di media sosial. Merekalah pangsa potensial pemilih PSI.

Namun sayang seribu sayang, partai ini membuat posisitioning yang melahirkan resistensi dari mayoritas muslim di tanah air. Dalam berbagai kesempatan partai ini mewacanakan akan melarang poligami di Indonesia dengan alasan poligami lebih sering merugikan perempuan. Harapannyaadalah kaum perempuan akan simpati dengan wacana ini sehingga akan memilih PSI. Namun, partai ini lupa jika mereka hidup di Indonesia yang masih menjunjung tinggi ajaran agama. Publik mengaitkan larangan poligami dengan ajaran Islam. Di dalam agama Islam poligami itu dibolehkan tetapi dengan syarat-syarat yang ketat. Meskipun tidak semua laki-laki muslim setuju poligami, tetapi mewacanakan penentangan terhadap poligami dianggap menentang syariat Islam. Hal ini dipandang sebagai persoalan serius karena menyentuh ajaran agama yang dipeluk mayoritas rakyat Indonesia. Sudah dapat diduga publik pun mulai menentang partai baru ini.

Belum berhenti dengan isu poligami, PSI terus mewacanakan isu sensitif lainnya seperti menolak perda-perda yang mereka sebut Perda Syariah. Perda syariah dituding oleh PSI melahirkan diskriminasi terhadap minoritas. Meskipun soal diskriminasi ini masih dapat diperdebatkan, namun Perda-Perda yang dinilai berbau syariah itu sebenarnya adalah kearifan lokal di masyarakat setempat yang dijadikan undang-undang. Misalnya Perda yang mengatur penutupan rumah makan selama siang hari pada bulan puasa, Perda yang mengatur penggunaan busana muslimah bagi perempuan muslim di Aceh, dan sebagainya. Hal ini mirip seperti Perda di Bali yang melarang kegiatan selama Hari Raya Nyepi.

Namun, sikap penolakan PSI terhadap Perda Syariah itu diartikan oleh publik yang mayoritas muslim sebagai penolakan terhadap syariat Islam. PSI dipesepsikan sebagai partai anti-syariah, partai anti Islam, dan sebagainya. Cap sebagai partai anti-syariah semakin bertambah ketika publik mengaitkan partai ini dengan pendukung Ahok yang dianggap penista agama, karena memang para pendiri PSI dulunya adalah komunitas Teman Ahok. Jika potitioning PSI terus seperti itu, maka publik akan selalu mengingatnya sebagai partai anti-syariah.

Positioning yang salah tempat dan waktu itu akibatnya fatal. PSI mendapat penolakan oleh kaum mayoritas. Menariknya lagi, kaum minoritas pun tidak banyak yang memilih PSI, sebab mereka telah melabuhkan pilihannya kepada partai nasionalis lain seperti PDIP dan Nasdem. Maka, wajar saja raihan suara PSI pada Pemilu 2019 jebok. Hanya di kota-kota besar suaranya lumayan seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan sebagainya. Di kota-kota ini PSI dipilih oleh kelompok terpelajar seperti mahasiswa. Di kota Bandung suara PSI cukup lumayan di daerah kos mahasiswa seperti di kecamatan Coblong (Dago).

Bagaimana dengan PKS? PKS mendapat “rezeki” peningkatan suara karena lima faktor. Faktor pertama adalah PKS tidak lagi mengangkat isu-isu keislaman dalam kampanyenya. Tetapi mereka “menjual” isu-isu populis seperti SIM seumur hidup dan penghapusan pajak motor. Isu-isu ini meskipun sangat sulit direalisasikan kelak, namun kalangan menengah ke bawah yang menempati porsi terbesar pemilih tertarik dengan isu ini. Motor identik dengan rakyat kecil. Kader-kader PKS yang terkenal militan berhasil mensosialisasikan isu-isu ini ke tengah masyarakt melalui baliho-balihonya yang hamoir semuanya bertuliskan SIM seumur hidup dan pajak motor dihapuskan.

Faktor kedua adalah dampak isu-isu besar nasional yang lahir selama dan pasca Pilkada DKI, yang dianggap tidak memberi keadilan bagi ummat Islam. Aksi-aksi massa spektakuler di Monas, yang dikenal sebagai aksi 212 dan demo berjilid-jilid sesudahnya mempengaruhi persepsi umat Islam terhadap pemerintah. Isu-isu pun berkembang di tengah masyarakat seperti Pemerintah  mengkriminalisasi ulama,  menangkap para tokoh dan aktivis Islam, dan lain-lain.

Sejak aksi 212 hingga sekarang bermunculan tokoh-tokoh medsos yang sering mengeluarkan postingan kontroversial dan melecehkan rasa keberagamaan umat Islam, antara lain Ade Armando, Abu Janda, Deny Siregar, dll.  Hal itu ditambah lagi dengan kasus-kasus seperti pembakaran bendera tauhid dan ormas tertentu yang mempersekusi ustad beken. Muara dari kekecewaan itu adalah partai-partai pendukung Pemerintah pun dijauhi. Pemilih muslim yang kecewa dengan Pemerintahan Jokowi kemudian melihat PKS adalah partai yang paling dekat dengan sisi emosional mereka. Memang ada partai-partai Islam lain seperti PPP, PKB, dan PBB, namun pemilih muslim ini melihat ketiga partai ini bagian dari koalisi Jokwowi sehingga mereka tidak mau memilihnya. PKS-lah yang mendapat berkah dari kekecewaan pemilih muslim ini.

Faktor ketiga yang meningkatkan suara PKS adalah kasus hukum yang menimpa Ketum PPP, Rommaharmuzzy alias Rommi. Rommy ditangkap oleh KPK karena diduga menerima suap pengaturan jabatan di Kemenag. Kasus Rommy ibarat tsunami politik bagi PPP karena terjadi sebulan sebelum Pemilu. Sebagian pemilih PPP yang kecewa dengan aib yang mencoreng nama partainya mengalihkan dukungannya kepada partai Islam lain seperti PKB, PAN, dan PKS. Jadi, PKS ikut mendapat limpahan suara dari pemilih PPP yang kecewa itu.

Faktor keempat adalah limpahan suara dari pemilih loyal PBB. Semula ada harapan PBB yang dinakhodai oleh Yusril sebagai harapan baru umat Islam. Namun, tindakan Yusril yang membawa PBB mendukung capres Jokowi berseberangan dengan suara akar rumput kader partainya yang sebagian besar mendukung Prabowo. Pertentangan antara elit PBB dengan kaum akar rumput menghasilkan penolakan terhadap PBB. Akar rumput PBB yang kecewa kemudian mengalihkan suaranya ke partai Islam pendukung Prabowo, yaitu PKS dan PAN.

Faktor kelima adalah video Ustad Abdul Somad (UAS) yang viral menyatakan hanya ada dua partai yang masih konsisten menolak legalisasi miras dan LGBT, yaitu PKS dan PAN. Seperti diketahui, Abdul Somad adalah ustad paling populer saat ini.  UAS mempunyai jutaan jamaah pengajian di seluruh tanah air. Kata-katanya selalu didengar orang. Peredaran video yang viral itu ikut andil menaikkan suara PKS dan PAN. Menurut hasil hitung cepat malah PKS adalah peraih suara terbanyak di propinsi Riau.

Begitulah analisis pengamat amatir terhadap kejuatan kedua partai ini, PKS dan PSI. Boleh setuju atau tidak. Namanya juga orang Informatika merangkap pengamat amatiran politik. ?

Written by rinaldimunir

May 3rd, 2019 at 2:16 pm

Posted in Indonesiaku

Pengemudi Gojek Mantan Pelaut

without comments

Selalu ada saja cerita menarik tentang supir gojek. Sudah sering saya temuka pengemudi gojek dulunya memiliki profesi hebat. Namun perjalanan hidup tidak selalu indah, kadangkala terjatuh dan harus bangkit lagi.

Kali ini saya mendapat pengemudi gojek yang punya pengalaman hidup hebat. Suatuagi saya akan berangkat naik kereta api ke Jakarta. Saya pesan gojek. Tidak sampai beberapa detik order langsung berbalas.  Seorang lelaki dengan muka ditutup kain datang menjemput ke rumah. Dari aplikasi saya baca namanya Heri.

Seperti biasa, saya selalu kepo, suka bertanya ke pengemudi gojek sepanjang perjalanan. Naluri jurnalisitk saya selalu muncul setiap kali naik gojek. Dari obrolan sepanjang jalan tahulah saya, Kang Heri yang mengantar saya ke stasiun kereta api Bandung ini dulunya pegawai kapal pesiar mewah (Cruise) di Samudra Atlantik.  Dia bekerja sebagai officer di anjungan kapal. Menurut Kang Heri dia dulu lulusan akademi pelayaran di Cirebon. Kapal pesiarnya adalah hotel terapung berlantai 15, membawa turis menyinggahi kota-kota pelabuhan di Eropa, Amerika hingga sampai ke kutub Utara. Kang Heri sudah mengunjungi hampir semua negara Eropa, mengujungi ke menara Eiffel, menara Pisa, New York, Florida, dan lain-lain. Dia bisa berbahasa Inggris pula.

Saya ternganga-nganga mendengar cerita masa lalunya.  Wow, sudah berkelana ke Eropa hingga ke utub utara? Jika kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya bermimpi menjelajahi Eropa dan Amerika, dia sudah ke sana. Termasuk impian saya juga.

Kerja di kapal pesiar itu katanya ada senang dan ada sedihnya. Senangnya karena bertemu orang berbagai bangsa, mengenal berbagai kultur, makanan enak berlimpah di atas kapal, mengunjungi berbagai kota dunia. Kerja sembilan bulat di laut dan libur 3 bulan di darat. Gaji lumayan besar, dalam mata uang dolar. Sedihnya jika bosan berada di laut, kangen makanan Indonesia, atau berada hidup dan mati jika kapal pesiar dihantam, topan.

Lalu kenapa jadi tukang gojek?, tanya saya heran. Ya, kalau sudah senang kerja di sana kenapa menjadi tukang ojek?

Saya itu cita-citanyanya ingin mempunya usaha sendiri, jawabnya. Heri bercerita, setelah dua tahun bekerjka di kapal pesiar, dia lalu tidak memperpanjang kontrak di kapal lagi, pulang ke tanah air. Dengan bekal tabungan gajinya dalam dolar, dia membuka usaha clothing di Bandung. Tetapi suatu kali dia tertipu sehingga modal habis. Bangkrut. Sekarang dia banting setir jadi tukang ojek/gojek. Semua orderan gojek dia ambil, tak peduli jarak jauh atau dekat. Tidak pilih-pilih orderan.

Tidak ingin kerja di kapal lagi?, tanya saya.

Pingin sih, tapi perlu biaya banyak untuk urus surat-surat dan segala macam, jawabnya. Lagipula dia sudah lebih dua tahun berada di darat, sehingga sulit untuk bekerja di kapal pesiar lagi.

Setelah asyik ngobrol di jalan, akhirnya saya sampai di stasiun Bandung. Saya minta izin mengambil gambnarnya, akan saya bagi cerita ini kepada orang lain sebagai pelajaran kehidupan. Benar, hidup itu bagai roda pedati, kadang di atas kadang di bawah.

gojek

 

Written by rinaldimunir

April 30th, 2019 at 1:25 pm

Seberapa Tahan Memboikot Rumah Makan Padang (Nasi Padang)?

without comments

Di media sosial viral seruan netizen untuk memboikot rumah makan masakan padang (lebih tepatnya rumah makan masakan minang) atau nasi padang, gara-gara Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Menurut hasil hitung cepat, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin hanya mendapat 11-12% suara, sisanya 88-89% untuk pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Sudah dua kali Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Pada Pemilu 2014, Jokowi mendapat 22% suara. Tahun 2019 ini malah semakin turun lagi suaranya.

Pendukung pasangan 01 yang kecewa lalu mem-posting seruan di akun Facebook untuk berhenti makan di rumah makan padang, seperti gambar berikut. Tujuannya adalah untuk membangkrutkan semua rumah makan padang, sebagai balasan terhadap kekalahan Jokowi.

boikot

Entah seruan itu bercanda, sarkasme, atau memang serius, tetapi posting-an di atas terlanjur viral dan mendapat respon luar biasa dari netizen. Tidak semudah itu membangkrutkan rumah makan padang, Ferguso! Masakan padang (minang) sudah terlanjur melekat bagi kebanyakan orang Indonesia. Masakannya enak, kaya bumbu, dan mudah diterima oleh lidah siapapun. Tidak hanya oleh lidah rakyat nusantara, tetapi sudah melampaui selera bangsa-bangsa di dunia. Siapa yang tidak suka rendang yang dinobatkan sebagai masakan terenak nomor 1 di dunia oleh CNN.

Rumah makan padang menyebar di berbagai pelosok tanah air hingga ke luar negeri. Sepahit-pahitnya orang minang itu mencari penghasilan di perantauan, maka kalau tidak berdagang kaki lima, maka ia membuka usaha rumah makan di pinggir jalan. Lama-lama rumah makannya tumbuh besar, lalu pemiliknya beralih menyewa tempat/toko, akhirnya punya restoran sendiri. Para karyawannya yang masih orang sekampungnya pun tidak lama-lama bekerja, setelah beberapa tahun bekerja mereka keluar lalu membuka usaha rumah makan sendiri. Dari satu rumah makan di sebuah kota tumbuh menjadi beberapa rumah makan.

Rumah makan padang merupakan “penyelamat” para turis  muslim jika berada di negeri yang bukan mayoritas muslim, seperti di Bali, Manado, Toba, Singapura, bahkan di Eropa. Jika ragu dengan kehalalan makanan di tempat itu, makan saja di rumah makan padang, sebab sudah pasti halal.

Boikot- memboikot produk bukan hal yang baru di Indonesia karena perbedaan pandangan politik dan ideologi. Sari Roti pernah diboikot tahun 2017 saat aksi demo berjilid-jilid di Monas. Nyatanya merek roti itu tetap eksis karena orang sudah terlanjur suka dengan roti itu. Ingat roti ya ingat Sari Roti.

Saya yakin orang-orang yang memboikot rumah makan padang tidak akan kuat berlama-lama melakukan aksi boikotnya. Mana kuat dia menahan diri untuk untuk tidak memakan masakan padang yang enak-enak itu. Sebut saja rendang, gulai ayam, gulai tunjang, teri balado, gulai kepala kakap, ikan asam padeh, gulai otak, gulai nangka, sambal cabe hijau, itik lado mudo, gulai cancang, dan masih banyak lagi yang menerbitkan air liur.  Paling kuat memboikot satu bulan, dua bulan, atau setahun, lalu pasti kembali lagi makan di sana dengan menahan rasa malu.

Rumah makan padang tidak akan bangkrut karena ulah kekanak-kanakan pendukung Jokowi yang mutung gara-gara capresnya kalah. Masih banyak orang Indonesia, termasuk pendukung Jokowi sendiri, yang berakal sehat tidak menghiraukan seruan boikot itu. Kalau makan ya makan, urusan politik ya lain lagi.  Tidak ada hubungannya pilihan politik dengan kuliner.  Jika pilihan politik dihubungkan dengan kuliner, maka daftar makanan daerah yang diboikot (karena Jokowi kalah di sana) akan bertambah panjang. Apa juga mau memboikot makanan enak-enak seperti mpek-mpek palembang, coto makassar, sate madura, mie aceh, batagor bandng, ayam taliwang, soto banjar, soto mie bogor, sate ikan banten, dodol garut, dan lain-lain?

Ada-ada saja. Lebay ah. Biasa sajalah berdemokrasi. Kalah menang itu hal yang biasa saja.

(Tulisan serupa: Seberapa Kuat Kalian Mau Boikot Rumah Makan Padang?)

Written by rinaldimunir

April 23rd, 2019 at 5:21 pm

In Memoriam Prof. Iping Supriana

without comments

Sudah hampir dua minggu guru kami, Prof. Iping Supriana, meninggalkan kami di Informatika ITB. Kepergiannya sangat mendadak. Pagi hari Jumat 29 Maret 2019 pukul 6.30 pagi saya menerima pesan dari grup WA tentang kabar duka tersebut. Kaget dan shock! Ya, bagaimana tidak kaget, sebab satu hari sebelumnya saya masih melihat beliau di Aula Timur ITB, saat ada acara asesor serdos di kampus ITB.  Selama ini kami tidak pernah mendengar Prof mederita sakit. Sehat-sehat saja nampaknya. Hari Rabu pun kami di Kelompok Keilmuan Informatika masih rapat bersama dengan beliau. Tapi umur memang rahasia Ilahi. Ajal bisa datang sewaktu-waktu kapan saja dan kita tidak pernah tahu kapannya itu. Prof Iping wafat pada hari baik, hari Jumat subuh dan tidak menyusahkan siapapun, sebab meninggalnya dalam keadaan tidur. Semoga khusnul khotimah, amin.

prof iping

Sesungguhnya saya cukup intens berinteraksi dengan beliau. Saya yunior, beliau senior. Lab saya di depan lab beliau. Kami pun satu kelompok keahlian, dan beliau adalah ketuanya.

Prof Iping adalah sosok humoris, ramah, suka menyapa siapapun, dan jenius. Untuk yang terakhir, siapapun pasti angkat topi. Risetnya banyak,  karyanya tak terhitung. Meskipun sudah sangat senior, tetapi beliau masih aktif melakukan programming, menulis program atau mengembangkan aplikasi untuk riset maupun karyanya. Biasanya banyak guru besar sudah tidak menekuni lagi aktivitas programminng karena lebih fokus pada level abstraksi atau konstruksi model penyelesaian masalah sehingga memprogram sudah tidak dilakukan lagi, jarang, atau bahkan tidak pernah lagi. Sebaliknya, Prof Iping masih melakukan keduanya, ya konstruksi model, abstraksi persoalan, hingga memprogramnya.

Konsistensinya melakukan aktivitas coding dan programming (dua hal yang berbeda) sungguh luar biasa, tidak mengenal tempat dan waktu. Di sela-sela rapat dan seminar pun beliau masih menyempatkan diri menyelesaikan programnya. Bahkan, ketika kami jalan-jalan rekreasi pun beliau tetap asyik memprogram di laptopnya. Sebatang rokok tidak pernah lepas dari tangan.

Foto di bawah ini adalah di Pantai Senggigi, Lombok pada tahun 2015. Ketika kami asyik menikmati suasana sore di pantai menjelang sunset, beliau malah asyik sendiri memprogram di tepi pantai dengan laptop setianya.

Kalau foto di bawah ini di Chonburi, Thailand. Pagi-pagi di halaman belakang hotel di Chonburi, Thailand, beliau sudah sibuk mengkoding program, padahal rekan-rekan kami sedang sarapan dan menyiapkan konferensi ICAICTA 2015 di Chonburi, Thailand.

Meskipun rajin meneliti dan memprogram, namun sholat berjamaah di mushola maupun di masjid Salman ITB tidak pernah dilalaikannya. Beliau selalu sholat Dhuhur dan Ashar di Salman.

Jika tidak sholat di Salman, beliau sholat di mushola di LabTek 5. Saya sering jadi makmumnya. Nah, seringkali sesudah sholat berjamaah beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang susah saya jawab, namun dari situ saya belajar hal yang baru yang banyak belum saya ketahui tentang ilmu agama. Setiap kali selesai diskusi dengan Prof Iping, selalu saya tuangkan ke dalam tulisan di blog ini. Beberapa tulisan saya di blog wordpress terinspirasi dari diskusi dengan beliau. Berikut beberapa tulisan saya yang saya sarikan dari beliau.

  1. Sedang Apa Allah Sekarang

Setelah sholat Dhuhur berjamaah dengan seorang profesor di kampus saya, beliau mengajukan pertanyaan kepada kami (jamaah sholat): “Pernahkah terpikir, sedang apa Allah sekarang?”

Hmmm…pertanyaan sederhana, namun sulit juga menjawabnya. Selama ini saya atau kita tidak pernah terpikir Tuhan itu sedang melakukan apa. Tidak terpikir sampai ke situ. Sedang melihatkah? Sedang mendengarkah? Sedang mengamati makhluk-Nya kah?

Pak Prof menunjukkan jawabannya. Coba buka Surat Ar-Rahman ayat 29 katanya, di sana ada jawabannya. Saya bukalah Al-Quran, dan ketemulah ayat 29 pada Surat Ar-Rahman yang artinya sbb: …. (dst, silakan baca selengkapnya pada tautan di atas)

2. Allah Menjawab Al-Fatihah yang Kita Baca 

(Ini masih lanjutan posting saya sebelumnya)

Pak Prof bertanya kepada kami, pernahkah terpikirkan bahwa Allah SWT selalu menjawab setiap bacaan Al-Fatihah yang kita baca di dalam sholat? Hal itu ditemukan penjelasannya dalam sebuah hadis qudsi, kata Pak Prof.

Benar, saya baru tahu jika Allah selalu menjawab setiap kali kita membaca ayat-ayat Al-Fatihah di dalam sholat. Maklum, ilmu saya masih dangkal sekali.

Lanjut Pak Prof, ketika kita membaca “Alhamdulillahirabbil ‘alamiin“, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku telah memujiKu” …. ( …. (dst, silakan baca selengkapnya pada tautan di atas)

3.  Zikir pagi dan petang

(Pencerahan ketiga dari Prof.  Kalau yang ini tidak ada tulisannya di blog, saya tulis di laman Facebook) Ketika jalan-jalan di Lombok kemarin, saya sekamar dengan Prof Iping Supriana. Usai sholat maghrib, beliau bertanya kepada saya, “Pernah dengar nggak sayyidul istighfar?”

“Belum”, jawab saya polos, maklum ilmu saya masih jauuuh di bawah .

“Kalau dibaca setiap pagi dan sore, maka kita dijamin menjadi ahli surga”, lanjut Pak Prof.

Saya manggut-manggut, penasaran, seperti apa sayyidul istighfar itu sehingga membacanya pagi dan petang maka jika kita mati akan menjadi ahli surga.

Segera deh saya langsung gugling di Internet, dan dapatlah penjelasannya. Sayyidul istighfar adalah penghulunya istighfar atau the king of istighfar. Istighfar ini merupakan bacaan istighfar yang seharusnya menjadi nomor urut pertama apabila kita ingin membiasakan membacanya, artinya jangan sampai bacaan sayyidul istighfar ini ditinggalkan, sementara bacaan istighfar yang lainnya selalu dibaca.

Begini bunyi dzikir sayidul istighfar:

?????????? ?????? ?????? ??? ?????? ?????? ??????? ??????????? ??????? ????????? ??????? ????? ???????? ?????????? ??? ???????????? ??????? ???? ???? ????? ??? ????????? ??????? ???? ???????????? ???????? ????????? ???? ????????? ????????? ???? ????????? ??? ???????? ?????????? ?????? ??????

ALLAA-HUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTA-NII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MAS-TA-THA’-TU A-‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’THU ABUU-U LAKA BINI’-MATI-KA ALAYYA WA ABUU-U LAKA BI DZAM-BII FAGH-FIR-LII FAINNAHUU LAA YAGH-FIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA

yang artinya:

“Yaa Allah, Engkau adalah RabKu, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau yang telah menciptakan aku, aku hambaMu, aku senantiasa dalam ikrarku kepadaMu (untuk mengesakan-Mu) dan janjiMu (kepadaku untuk membalas dengan surga karena tauhidku) sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan perbuatanku. Aku akui segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan aku akui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena tiada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau.”

Tentang keutamaan sayyidul istighfar, begini hadisnya:

Dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sayyidul Istighfar adalah bacaan: ….beliau menyebutkan doa di atas. Kemudian beliau menyebutkan keutamaannya:

“Barangsiapa yang membaca do’a ini dengan penuh keyakinan di sore hari, kemudian dia mati pada malam harinya maka dia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan penuh keyakinan di pagi hari, kemudian dia mati pada siang harinya maka dia termasuk ahli surga.” (HR. Al Bukhari 5522)

Subhanallah, Maha Suci Allah SWT.

Yuukk… mari membaca Isayyidul istighar ini pagi dan petang, sehingga jika kita mati pada siang atau malamnya, maka Allah menjadikan kita ahli syurga.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Demikianlah kenangan saya dengan guru kami, Prof. Iping Supriana. Semoga beliau mendapat tempat yang layak di Sisi-Nya, dan amal sholehnya diterima oleh Allah SWT. Amin. Selamat jalan, Prof.

Written by rinaldimunir

April 11th, 2019 at 2:11 pm

Jamu Tol*k An*in, Obat Sapu Jagat

without comments

Di rumah saya selalu menyediakan jamu Tol*k Ang*n (sengaja saya samarkan namanya supaya tidak dianggap iklan). Jika saya masuk angin, perut kembung, badan hangat, nggak enak badan, pusing, segera saya minum itu jamu. Alhamdulillah ampuh. Tidak lama kemudian badan saya enakan lagi. Obat sapu jagat, begitu sebutan untuk jamu itu, karena dapat digunakan untuk penyakit yang saya sebutkan di atas. Padahal bahan bakunya hanya jahe dan madu tetapi komposisinya pas. Memang jahe itulah zat aktifnya yang membuat badan terasa enak. Ditambah lagi dengan madu yang sudah disebutkan di dalam ASl-Quran sebagai obat  dari segala obat.

Saya punya pengalaman tidak terlupakan dengan jamu tersebut. Pernah waktu saya naik haji tahun lalu, dalam perjalanan dari Masjid Bir Ali menuju Mekah untuk umrah, saya masih berpakaian ihram, hanya itu yang saya pakai, badan dan perut sedikit terbuka. Bus pakai AC. Kalau sudah seperti itu kondisinya gampanglah saya masuk angin. Perut saya kembung dan keras. Masuk angin. Di dalam bus yg melaju di jalan tol perut saya melilit sakit. Mau berhenti tidak tahu kapan berhenti itu bus. Mekkah masih jauh. Lima jam lagi.

Bus akhirnya berhenti di sebuah rest area. Jangan bayangkan seperti rest area di Indonesia. Kecil. Saya cari warung atau toko yang menjual jamu Tol*k Ang*n di sana. Tidak ada. Saya lupa ini bukan di Indonesia yang segalanya ada. Melihat saya yang kebingungan, pak ustad pembimbing haji bertanya,mau beli apa. Saya jawab jamu tersebut. Oh, saya bawa, katanya. Diberinya saya satu. Segera saya minum. Beberapa menit kemudian saya mulai buang angin berturut-turut. Perut saya kempes dan enakan lagi.

Sejak kejadian di Mekkah tsb saya selalu sedia jamu Tol*k Ang*n di rumah maupun kalau bepergian ke luar kota. Di dalam tas saya selalu saya sediakan jamu tersebut. Pernah saya coba merek yang lain lagi karena di warung kosong, tetapi tidak cocok. Tadi siang anak saya masuk angin dan muntah, setelah minum jam Tol*k Ang*n jadi segar lagi.

Nenek moyang kita yang menemukan jamu memang hebat ya.

 

Written by rinaldimunir

March 26th, 2019 at 4:10 pm

Posted in Pengalamanku

Nasib Partai-partai Islam pada Pemilu 2019

without comments

Kasus  penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). M Romahurmuziy,  oleh KPK pada hari Jumat minggu lalu mengagetkan publik di tanah air. KPK terlah menetapkannya Rommy, demikian namanya, sebagai tersangka. Seorang Ketum partai berasaskan Islam terlibat menerima suap terkait pengaturan jabatan tinggi di Kementerian Agama. Sedih dan miris. Bagaimana tidak miris, dia membawa nama partai Islam, lambang partainya ka’bah, tetapi perilaku korupsinya bertolak belakang dengan asas partai maupun lambang partainya.

Ketika partai belum sebanyak sekarang (hanya ada Golkar, PPP, dan PDI(P)), saya dulu adalah salah satu pemilih PPP.  Dengan kasus OTT Rommy oleh KPK ini, tentu masyarakat akan memberikan hukuman sosial kepada PPP. Apalagi Pemilu tinggal satu bulan lagi.  Peristiwa OTT terhadap Ketum PPP bagaikan tsunami yang akan meruntuhkan kepercayaan publik kepadanya. Hukuman sosial dari publik jauh lebih kejam daripada hukuman terhadap Ketum itu sendiri. Masih ingat kita ketika Partai Demokrat dilanda kasus korupsi yang dilakukan para kadernya, suara Demokrat langsung turun drastis. Begitu pula kasus korupsi yang menimpa Presiden PKS yang berdampak pada suara PKS. tapi untunglah kedua partai ini dapat bangkit kembali.

Sekarang PPP yang kena. Saya merasa sedih dan prihatin melihat nasib partai PPP dan partai-partai berasaskan Islam lainnya atau mempunyai basis massa dari kalangan ormas Islam (PKS, PKB, PBB, dan PAN).  Sebagai salah satu aset umat Islam seharusnya partai-partai Islam itu harus dijaga tetap eksis dan besar. Di parlemen wakil-wakil partai Islamlah yang vokal menentang UU yang kurang ramah dengan kepentingan ummat.

Tetapi makin ke sini partai-partai Islam semakin kerdil. Kecuali PKB yang mungkin masih bisa bertahan karena memiliki pemilih yang loyal dari kalangan nahdlyin (NU), saat ini pemilih sudah banyak tidak tertarik dengan partai berbasis agama, karena partai-partai itu kurang inovatif, kurang kreatif, dan berkutat pada jargon-jargon yang itu-itu saja. Partai-partai Islam hanya mendekati ummat ketika mau pemilu saja. Di luar pemilu mereka nyaris sama saja dengan partai-partai nasionalis atau partai sekuler.

Banyaknya kader partai Islam yang terlibat korupsi atau perilaku amoral lainnya membuat ummat melihat mereka hampir tidak ada bedanya dengan kader partai nasionalis. Kelakuannya sama saja.

Peristiwa yang menimpa Rommi pasti membuat kepercayaan ummat makin jatuh ke titik nadir. Perilaku elit partai-partai Islam yang jauh dari aspirasi akar rumput membuat partai Islam makin ditinggalkan ummat. Pilkada DKI tahun 2017 adalah contohnya.  Saat itu PPP dan PKB malah malah mendukung Cagub kontroversial yang terlibat kasus penistaan agama.  Demi kepentingan pragmatis dan kekuasaan semata, elit-elit partai Islam mengambil pilihan yang berbeda dengan suara akar rumput. Pada Pilpres 2019 pun terulang kembali, elit-elit partai-partai Islam seperti PPP dan PBB berlawanan dengan suara akar rumput dalam mendukung Capres.

Hasil-hasil survey sementara menunjukkan posisi partai-partai Islam terancam tidak lolos parliamentary threshold sebesar 4%. PKS dan PAN di ujung tanduk, PBB hanya mendapat nol koma, PPP mungkin akan tenggelam karena kasus Rommi, hanya PKB yang mungkin bisa lolos. Hasil pastinya baru kita ketahui setelah tanggal 17 April 2019.

Sekarang apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Sulit meraih kepercayaan ummat lagi. Kepercayaan ummat dirusak oleh kelakuan para elit partai-parttai Islam.

Written by rinaldimunir

March 19th, 2019 at 2:42 pm

Posted in Agama,Indonesiaku