if99.net

IF99 ITB

Mengenang Habibie

without comments

Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan tentang B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia yang wafat semalam. Habibie adalah orang yang sangat baik. Semua orang Indonesia pasti tahu tentang itu. Semua anak Indonesia dulu mengidolakan beliau. Kenapa tidak, Habibie adalah orang yang jenius, karya-karyanya dalam bidang aeronautika tersebar ke seluruh dunia. Banyak orangtua menamai anak lekakinya dengan nama Habibie. Di Prodi saya di Informatika ITB tidak terhitung jumlah mahasiswa bernama Habibi, baik sebagai kata did epan maupun di belakang. Orangtuanya tentu berharap anaknya kelak seperti B.J Habibie.

Tidak salah Presiden Soeharto memanggil Habibie pulang dari Jerman dan mengangkatnya menjadi menteri. Takdir hidup pula yang menggariskan dia kelak menjadi presiden Indonesia berikutnya setelah Soeharto mengundurkan diri akibat tekanan politik, kerusuhan sosial, dan kejatuhan rupiah saat itu.

Saat saya masih mahasiswa di ITB, nama Habibie adalah jaminan untuk sekolah ke luar negeri. Pak Habibie saat itu sebagai Menristek sekaligus ketua BPPT mengirim banyak lulusan SMA untuk sekolah di luar negeri, khsusnya ke Eropa dan Amerika. Kami menyebutnya program Beasiswa Habibie.Tujuannya tidak lain untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang teknologi. Tidak hanya teknologi dirgantara seperti keahlian Habibie, tetapi teknologi lainnya yang dibutuhkan negara.

Habibie saat muda (Aachen, Jerman, 1954)

Banyak sekali teman saya yang sudah diterima di ITB akhirnya mengundurkan diri dari kampus karena mendapat beasiswa Habibie. Sebuah prestise saat itu mendapat beasiswa ke Eropa dan Amerika. Mereka sekolah dari S1 sampai S3. Sebagian ada yang pulang kembali ke tanah air, tapi sebagian lagi tidak balik dan bekerja sebagai ekspatriat di Eropa.

Saya yakin seyakin-yakinnya hampir semua orang Indonesia mencintai Habibie. Beliau Presiden Indonesia yang tidak meninggalkan masalah selepas turun tahta. Dari tujuh presiden Indonesia (Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi), saya paling berkesan dengan Habibie. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut:
1. Cerdas. Beliau adalah salah satu orang Indonesia yang jenius. Ilmuwan hebat yang diakui dunia atas karya-karyanya dalam bidang aeronautika.
2. Rendah hati (humble). Tidak sombong, tidak suka berkoar-koar menebar janji-janji dan harapan palsu. Betapa presiden-presiden Indonesia terlalu sering membuat janji dan harapan semu sekedar gimmick atau lipstik. Tapi Habibie beda. Sekedar contoh saja, berkat tangan dinginnya dia mampu mengembalikan rupiah yang terpuruk saat kejatuhan Soeharto dari 17.000 menjadi 9000 per dollar. Saat ini kita tidak pernah melihat dollar bertengger di bawah sepuluh ribu rupiah.
3. Tidak menumpuk kekayaan selama berkuasa, karena memang pada dasarnya Habibie sudah kaya dari royalti yang diterimanya atas karya-karya pesawatnya. Habibie adalah sosok yang ikhlas. Kecintaannya pada tanah air jangan diragukan lagi.
4. Tidak punya kasus setelah tidak berkuasa.  Ini saya saya sebutkan tadi. Habibie bersih dari berbagai skandal, sepi dari segala rumor dan isu tidak sedap setelah turun tahta. Coba bandingkan dengan Soekarno, Soeharto, SBY, Megawati, masih saja diungkit-ungkit perbuatannya pada  masa lalu. Entah pula nanti Jokowi ketika nanti lengser, apa pula yang akan dipermasalahkan orang nanti.
5. Demokratis. Dialah yang membuka kran media massa sehingga puluhan media terbit. Media bebas bersuara, tidak takut lagi mengkritik penguasa. Pemilu multi partai pun dimulai pada era Habibie. Partai yang semula cuma 3 (Golkar, PPP, PDI) berkembang menjadi 48 partai. Luar biasa. Pantaslah Habibie disebuts ebagai Bapak Demokrasi.
6. Habibie mewakafkan hartanya untuk ilmu pengetahuan. Habibie Award adalah Nobel Price-nya Indonesia.
7. Habibie memadukan ilmu dengan agama. Salah satuwarisan yang dipopulerkan Habibie adalah frase “meningkatkan IMTAK dan IPTEK”. IMTAK = iman dan taqwa. IPTEK = ilmu pengetahuan dan teknologi.
8. Habibie menguasai banyak bahasa asing (Inggris, Jerman, Perancis)

Memang semua presiden di repulik ini punya keunikan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Namun Habibie-lah yang paling berkesan di hati.

Habibie saat muda adalah pria yang ganteng. Kegantengannya dan budi pekertinya yang santun meluluhkan hati Ainun, seorang mojang priangan kota Kembang yang cantik, saat Habibi kuliah di ITB dulu. Foto-foto Habibie saat masih muda bertebaran di media sosial seperti foto-foto di bawah ini.

Berkat film Ainun dan Habibie, yang mengisahkan perjalanan Hbibibie dan istrinya, orang Indonesia pun tahu bahwa Habibie tidak hanya cerdas tetapi juga romantis. Kisah hidupnya dengan Ainun menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bacalah sebuah tulisan yang saya tidak tahu siapa penulisnya tetapi saya rasa sungguh tepat menggambarkan Habibie dan istrinya itu. Saya copas di sini ya.

SELAMAT JALAN, RUDY..
9 Maret 1962. Saat itu malam hari raya Iedul Fitri.
Rudy – panggilan BJ Habibie – mengajak jalan Ainun. Ia ingin mengajaknya nonton bioskop, tapi sayang karena udara begitu cerah. Akhirnya mereka berjalan kaki menyusuri sepanjang kampus ITB. Hati Rudy berdetak tidak karuan. Ada yang ingin ia sampaikan. Tapi ia begitu malu. Sampai terlintas dalam pikirannya, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?”
Lalu ia memberanikan diri bertanya, “Ainun, maaf. Saya tidak ingin mengganggu masa depanmu. Tapi, apakah kamu punya kawan dekat ?”

Ainun, dengan detak jantung yang sama cepatnya, terdiam lama. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah Rudy sambil menjawab dengan lirih, “Tidak. Saya tidak punya kawan dekat..”

Hati Rudy bersorak. Perasaan yang sudah lama dipendamnya mendapatkan jawaban. Sesudah malam itu, merekapun selalu bersama, saling berbincang dan saling menyatukan hati hingga menikah pada tahun yang sama.

Perjalanan hidup kedua manusia ini menjadi cerita romansa yang tidak ada habisnya. Mereka tidak pernah berjauhan. Tidak sedikitpun. Ainun selalu mengikuti kemana Rudy pergi, sampai kekasihnya menjadi Presiden RI.

Tetapi janji itu putus sudah. Ainun harus pergi tanpa bisa meminta. Betapa hancurnya hati Rudy saat itu. Ia ingin menangis tapi suaranya tidak pernah keluar. Tubuhnya lunglai tanpa ia mampu menegakkan.

“Saat ini saya tidak takut lagi menunggu kematian, karena Ainun menunggu disana..” Perih hatinya menjadi sukacita. Ia menunggu hari-harinya dengan senyum kekasihnya yang selalu ada di setiap malam ketika rasa sepi membunuhnya.

Malam ini, Profesor Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie, dengan tersenyum menuju ke tempat hatinya berada. Ke tempat Ainun menunggunya dengan senyum yang tak pernah ada habisnya.
Ia berbahagia ketika seluruh bangsa menangis ditinggalkannya. Hati ini hancur seperti hancurnya Rudy ketika Ainun meninggalkannya.

Rudy dan Ainun, mereka bersama menari di alam yang berbeda. Mereka memang tidak terpisahkan. Tidak akan pernah…

Selamat jalan B.J Habibie. Anda akan dikenang sebagai seorang yang baik, malah sangat baik. Nama anda akan selalu ada di hati segenap bangsa Indonesia.

Written by rinaldimunir

September 12th, 2019 at 9:04 am

Posted in Indonesiaku

Mahasiswa Depresi dan Bunuh Diri

without comments

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati terenyuh.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran burruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning perlu kita tindak lanjuti.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Written by rinaldimunir

September 6th, 2019 at 11:31 am

Sedekah, Amalan yang Dahsyat

without comments

Kemarin, tiba-tiba saja seorang teman menghampiri saya lalu menyerahkan amplop berisi uang. Buat anak saya yang sekolah/kuliah, katanya. Ambillah, katanya lagi.

Saya pun terbingung-bingung bin terheran-heran. Lho, kok saya dikasih uang? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja saya diberi uang yang cukup besar. Teman saya itu memang tahu dua anak saya masuk sekolah tahun ini, satu di SMP dan satu lagi di perguruan tinggi lewat jalur seleksi mandiri. Oh, mungkin dipikirnya saya membutuhkan biaya besar untuk biaya sekolah/kuliah anak sehingga dia memberi saya uang?, pikir saya. Sudah saya tolak berkali-kali pemberiannya, merasa tidak enak menerimanya, itu tetapi tetap saja ia memaksa saya untuk menerimanya. Akhirnya saya menyerah dan menerima juga pemberiannya.

Saya pun berbaik sangka saja. Mungkin inikah cara Allah SWT mengganti uang yang saya sedekahkan dua hari yang lalu? Ada teman saya semasa SMP yang hidupnya susah. Dia selalu minta tolong dikirimkan uang. Tidak banyak yang dia minta, hanya seratus ribu saja, buat membayar kontrakannya. Sering begitu, dia selalu menelpon memohon dikirimkan uang karena hidupnya yang memang berkesusahan.

Ya Allah, Engkau baik sekali. Engkau ganti berlipat ganda dari yang saya beri. Yang saya berikan hanya receh saja, tetapi Engkau balas dengan tak terduga.

Saya semakin yakin saja bahwasanya bersedekah atau membelanjakan uang di jalan Allah tidak akan membuat harta kita berkurang, malah bertambah-tambah. Tidak akan menjadi miskin kita karena bersedekah. Benar yang dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa malaikat akan mendoakan orang yang bersedekah. “Ya Allah, berilah orang yang bersedekah, gantinya,” seru para malaikat sepenjuru langit mendoakan orang yang bersedekah. (HR Bukhari Muslim).

Rajin bersedekah dapat membuat rezeki datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka, seperti yang sering saya alami.

Sahabat, jangan ragu untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Jangan berat tangan merogeh kocek untuk sekedar memberi kepada orang yang yang mengalami kesulitan hidup.

Sedekah adalah amalan yang yang dirindukan oleh orang yang sudah mati. Orang yang sudah tiada dan sudah berada di alam barzah, sekiranya ia bisa dikembalikan ke dunia, maka amalan apakah yang akan dilakukannya? Jawabnya adalah sedekah. Di dalam Surat Al-Munafiqun ayat 11 Allah SWT berfirman

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS al-Munafiqun: 11).

Saya kutip tulisan dari sini:

Mengapa ia (si mayat. Red) menyebut bersedekah. Padahal, banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Sebut saja shalat sunah, baca Alquran, berpuasa, berzikir, berjihad, atau berangkat haji ke Tanah Suci. Mengapa ia memilih bersedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Para ulama mengatakan, karena ia melihat sedemikian dahsyatnya pahala sedekah setelah kematiannya.

Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Turmudzi, Ahmad, al-Baihaqi, an-Nasa`i, dishahihkan al-Albani).

Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah juga dapat melapangkan dadanya. Sehingga, ia dapat melepaskan nyawa dengan khusnul khatimah. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, sedekah memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk.” (HR Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Tirmizi).

Demikian juga, ketika seorang yang meninggal melihat api neraka yang siap menerkamnya, ia melihat amalan sedekah bisa menyelamatkannya dari api neraka. Inilah yang dipesankan Rasulullah SAW kepada istrinya Aisyah RA. “Wahai Aisyah, berlindunglah dari siksa api neraka walau dengan sebutir kurma.” (HR Ahmad, al-Bazzar, dan Ibnu Khuzaimah).

***********************

Begitulah dahsyatnya amalan sedekah. Sedekah  juga membuat hati kita tenteram dan bahagia. Tak percaya? Setiap kali kita telah melepaskan kesulitan orang lain, entah mengapa hati kita merasa senang dan bahagia. Bersedekah adalah salah satu cara melepaskan orang lain dari kesusahan hidup.

Janganlah kita enggan memberi sedekah kepada orang lain yang hidupnya berkesusahan. Orang yang pelit dan kikir digambarkan oleh Allah sebagai tangan terbelenggu. Tangan yang terbelenggu mengakibatkan keinginan untuk merogoh kocek dengan uang receh pun tidak bisa dilakukan. Padahal harta yang kita peroleh hanyalah titipan sementara di dunia, tidak akan dibawa mati. Justru yang dibawa mati adalah amalan sholeh kita sebagai teman kita di akhirat kelak.

Mohon ampuni kami, Ya Allah, jauhkan kami dari sifat kikir.

Written by rinaldimunir

August 13th, 2019 at 10:19 am

Posted in Agama,Renunganku

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 3 – Habis)

without comments

Woaaahhh….huff…selamat pagi Atambua! Pagi yang dingin sekali di Atambua. Setelah bermalam di hotel  (yang susah payah dicari semalaman untuk menemukan kamar yang kosong), saatnya sekarang berangkat ke Motaain. Jam 7 pagi kami memacu kendaraan kembali ke Motaain. Kenapa harus pagi-pagi, karena untuk urusan administrasi di perbatasan akan memakan waktu yang cukup lama, kira-kira satu jamlah, karena kita membawa kendaraan ke Timor Leste. Waktu satu jam itu sudah termasuk pemeriksaan di pintu perbatasan di sisi Timor Leste.

Di atas kendaraan yang dikendarai Daniel, saya mengamati lingkungan alam sekitar sepanjang perjalanan menuju Motaain. Adem sekali suasana di sisi kiri kanan jalan. Tidak banyak rumah saya lihat, hanya alam yang hening menyertai perjalanan. Satu hal yang paling menakjubkan bagi saya di tanah Timor adalah mataharinya. Matahari di sini bersinar sangat terang benderang bagaikan lampu sorot. Belum pernah saya lihat matahari seperti ini di Bandung atau di pulau Jawa. Begitu perkasa matahari di Pulau Timor. Matahari terlihat berukuran besar. Mungkin karena di Pulau Timor uap air sangat minim sehingga matahari bersinar tanpa ada penghalang. Langit terlihat super biru tanpa ada awan.

Kami berhenti sejenak di sebuah ketinggian. Dari sini tampakah negara Timor Leste. Itu negaranya, di balik bukit yang tampak di kejauhan. Tampak pula laut Timor secara samar-samar, seperti foto di bawah ini.

Dari kejauhan dibalik bukit itulah negara Timor Leste berada. Laut Timor tampak di kejauhan.

Jam 8.00 sampailah kami di pos perbatasan Motaain. Ternyata pintu pagar masih ditutup. Sebentar lagi kayaknya. Beberapa orang yang hendak menyeberang ke Timor Leste menunggu di luar seperti saya. Suasana di dekat pos perbatasan masih sepi.

Pintu perbatasan Motaain

Jalanan lengang di dekat pos perbatasan

Setelah menunggu selama setengah jam, pintu pagar pos perbatasanpun dibuka petugas. Kompleks pos perbatasan ini sangat luas. Di dalamnya banyak gedung baru dan terkesan megah.  Pemerintah Indonesia tampaknya membangun pos perbatasan laksana  bandara saja.

Berswafoto di dalam kompleks pos perbatasan

Bangunan di dalam kompleks pos perbatasan Motaain

Bagian informasi

Seperti halnya kalau kita mau pergi ke luar negeri, kita pun harus melewati pemeriksaan imgrasi. Dari Bandung saya memang sudah membawa paspor. Jadi, di sini kita mengisi kartu kedatangan lalu paspor kita dicap.

Pemeriksaan dokumen di imigrasi

Dalam sehari pos perbatasan Motaain melayani ratusan orang yang keluar masuk Indonesia dan Timor Leste. Mereka adalah para pelintas batas yang merupakan pedagang, pelajar, maupun penduduk lokal di kedua negara (maklum penduduk di masing-masing perbatasan masih bertalian darah). Untuk melintas batas kita harus membawa paspor dan membayar visa di pos Timor Leste.  Jenis visanya adalah Visa on Arrival yang biayanya  30 dollar. Sebaliknya, warga Timor Leste yang memasuki Indonesia tidak dikenai visa karena Indonesia menerapkan bebas visa untuk sejumlah negara termasuk Timor Leste.

Di ujung kompleks terdapat pos tentara Indonesia. Mereka berjaga-jaga di pintu keluar perbatasan mengamati orang-orang yang keluar masuk.

Pos tentara

Nah, di pintu keluar perbatasan terdapat sebuah jembatan. Jembatan ini menghubungkan tanah Timor Leste dan taah Indonesia. Sungai di bawah jembatan itulah yang memisahkan kedua negara. Uniknya, setengah dari jembatan itu dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itu terdapat  garis kuning yang menjadi batas kedua negara.

Jembatan yang menghubungkan tanah kedua negara

Setengah dari jembatan dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itulah garis batas kedua negara (garis kuning).

Saya melangkahkan kaki di garis kuning di atas jembatan ini. Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.  Wah, berati satu kaki saya sudah memasuki wilayah negara lain.

Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.

Setelah prosedur imigrasi dan bea cukai selesai, kendaraan kami melintasi jembatan itu. Akhirnya sampailah saya di negara Timor Leste meskipun baru di perbatasan saja. Selanjutnya kami memasuki pos perbatasan di sisi Timor Leste yang bernama Batugade. Tiba di sini semua tulisan sudah berganti dengan bahasa Porto, sudah hilang semua tulisan berbahasa Indonesia. Namun, sinyal Telkomsel masih terjangkau di sini, saya masih bisa berkirim kabar lewat Whatsapp dan meng-update status di Facebook.

Tanah Timor Leste diperbatasan

Selamat datang di Timor Leste

Pos perbatasan di Timor Leste bangunannya lebih sederhana dibandingkan pos di Motaain. Kesederhanaan itu mungkin mencerminkan negara Timor Leste yang taraf kehidupan rakyatnya yang masih bersahaja.

Tentara Timor Leste di depan pos perbatasan Batugade

Peta negara Timor Leste

Di pos Batugade kami melewati pemeriksaan imigrasi lagi dan membayar visa on arrival sebesar 30 dolar. Barang-barang kita diperiksa dan melewati detektor X-ray seperti halnya di bandara. Mobil dan isinya pun diperiksa.

Setelah beres pemeriksaan di pos Batugade, kendaraan kami meluncur keluar pos dan siap menuju kota Dili. Perjalanan dari pos perbatasan Batugade menuju kota Dili melewati pinggir pantai dengan pemandangan laut Timor yang indah. Perlu berhati-hati melewati ruas jalan karena di kirinya jurang yang dalam dengan laut di bawahnya. Hii..seram jika jatuh. Beberapa ruas jalan rusak parah, terutama beberapa ruas jalan peninggalan Indonesia, tetapi setelah melewati Liquica hingga Dili jalan aspal mulus. Dari pos perbatasan Baatugade kita akan melewati distrik Bobonaro dan Liquica sebelum sampai ke Dili.

Peta negara Timor Leste

Timor Leste adalah negara termiskin di dunia. Ngara ini tidak memiliki sumber daya alam kecuali hasil pertanian. Minyak di celah Timor belum dapat dinikmati negara Timor Leste.

Orang Timor Leste hidupnya sederhana, itu terlihat dari rumah-rumah mereka yang sederhana, sebagian masih rumah tradisionil beratap daun gowang.

Rumah-rumah tradisional beratap daun gowang sepanjang jalan di Bobonaro

Laut Timor menemani perjalanan menuju Dili

Seperti halnya di Atambua, matahari bersinar garang di bumi Lorosae. Matahari terlihat begitu besar dengan pancaran sinarnya yang menyala. Kami harus memburu waktu ke Dili karena kami harus bisa kembali ke pos perbatasan sebelum pukul 16.00 WITA (atau pukul 17.00 waktu Timor Leste. Waktu di Timor Leste mengikuti waktu WIT). Untuk mencapai kota Dili dari pos Batugade diperlukan waktu 2 hingga 3 jam dengan kendaraan.

Melewati jalan-jalan di Timor Leste maka kita dapat menyaksikan kehidupan penduduknya yang bersahaja. Anak-anak sekolah terlihat berjalan bersama-sama di pinggir jalan dengan riang gembira. Bangunan sekoalahnya seperti bangunan sekolah di kabupaten-kabupaten di Indonesia berupa bangunan memanjang. Bendera Timor Leste berkibar di rumah-rumah maupun sekolah. Tulisan-tulisan yang saya baca di pinggir jalan semuanya berbahasa Tetun atau bahasa Porto. Meskipun demikian, warga Timor Leste masih bisa berbahasa Indonesia.

Mereka memang miskin, tetapi seperti kata Pak Agustinus, warga Timor Leste tetap merasa bahagia dengan negara mereka yang sudah merdeka, tidak lagi dijajah oleh Indonesia.

Dikutip dari siniTimor Timur dijajah oleh Portugal pada abad ke-16, dan dikenal sebagai Timor Portugis sampai 28 November 1975, ketika Front Revolusi untuk Timor Leste Merdeka (FRETILIN) mengumumkan kemerdekaan wilayah tersebut. Sembilan hari kemudian, Indonesia melakukan invasi dan aneksasi terhadap Timor Timur dan Timor Timur dinyatakan sebagai provinsi ke-27 oleh Indonesia pada tahun berikutnya. Pendudukan Indonesia di Timor Timur ditandai oleh konflik yang sangat keras selama beberapa dasawarsa antara kelompok separatis (khususnya FRETILIN) dan militer Indonesia.

Pada tanggal 30 Agustus 1999, dalam sebuah referendum yang disponsori PBB, mayoritas rakyat Timor Timur memilih untuk lepas merdeka dari Indonesia. Segera setelah referendum, milisi anti-kemerdekaan Timor-Leste – yang diorganisir dan didukung oleh militer Indonesia – memulai kampanye militer bumi hangus. Milisi membunuh sekitar 1.400 rakyat Timor Timur dan dengan paksa mendorong 300.000 rakyat mengungsi ke Timor Barat. Mayoritas infrastruktur hancur dalam gerakan militer ini. Pada tanggal 20 September 1999, Angkatan Udara Internasional untuk Timor Timur (INTERFET) dikirim ke Timor Timur untuk mengakhiri kekerasan. Setelah masa transisi yang diorganisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara dan secara resmi merdeka dari Indonesia pada tanggal 20 Mei 2002. Sebelumnya bernama Provinsi Timor Timur, ketika menjadi anggota PBB, mereka memutuskan untuk memakai nama Portugis “Timor Leste” sebagai nama resmi.

Memasuki pedalaman Bobonaro ada kejadian yang membuat muka kami agak  pucat dan berasa khawatir. Jalan-jalan di Timor Leste lengang dari kendaraan, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Justru yang sering melintas adalah ternak seperti kambing dan babi. Daniel mengemudikan mobil cukup ngebut karena mengejar waktu ke Dili. Tanpa disadari seekor babi melintas menyeberang jalan dan kecelakaan pun tidak terhindarkan. Mobil melindas babi itu. Mati. Warga sekitar berlarian ke arah babi untuk melihat babi yang sekarat.

Mobil kami pun berhenti. Pak Agustinus dan Daniel berjalan menghampiri warga. Untungnya Pak Agustinus yang memang berasal dari Timor Leste dapat berbicara dengan bahasa Tetun. Dia berbicara kepada warga dan meminta maaf telah menabrak babi hingga tewas. Warga tampak mengerti karena babi memang sering lalu lalang menyeberang jalan. Kami mengganti harga babi yang mati itu dengan uang 100 dolar. Wah, menurut saya mereka “beruntung” sebab daging babi bisa mereka makan dan dapat uang 100 dolar pula. ?

Kami mengisi dulu di pom bensin di Bobonaro. Di pos bensin ini terdapat minimarket yang menjual berbagai makanan, sabun, sahampo, rokok, tidak ketinggalan bir dan wine. Ini wine impor dari Australia dan Portugis. Banyak dari barang yang dijual di sana berasal dari Indonesia. Timor Leste memang masih bergantung kepada Indonesia untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Pom bensin di Bobonaro

Ups…rumah makan Jawa Timur di dalam pom bensin

Pukul 13.00 siang akhirnya kami memasuki kota Dili. Karena waktu yang terbatas, maka kami hanya mengunjungi istana Perdana Menteri yang dulu pernah menjadi Kantor Gubernur Timor Timur. Istana yang cantik bekas peninggalan Portugis.

Welfie di sini

Pelabuhan Dili terhampar di seberang istana Perdana Menteri. Sebuah plaza di pinggir pantai menjadi tempat yang bagus untuk berjalan kaki menikmati laut dan kal-kapal yang berlabuh. Hmmm…saya membayangkan sore hari waktu yang pas untuk duduk-duduk di sini. Dua orang anak menghampiri saya menawarkan buah mangga yang telah dipotong-potong. Satu dolar saja, kata anak-anak itu. Tetapi saya tidak membawa uang dolar, jadi saya tidak bisa membelinya. Rupiah tentu tidak laku di sana.

Pelabuhan Dili di seberang istana

Pelabuhan Dili

Anak penjual mangga di pantai Dili. Mau beli, tapi uang rupiah tidak laku. 
Mereka cuma bisa bertransaksi menggunakan USD (Credit photo by Tutun Juhana)

Kami tidak bisa berlama-lama di Dili karena harus mengejar waktu kembali ke pos perbatasan di Batugade. Jika kami terlambat sampai ke pos perbatasan, pintu ditutup sehingga kami tidak bisa kembali ke Atambua hari itu, terpaksa harus kembali lagi ke Dili. Jadi, rencana melihat patung Yesus raksasa, rumah uskup Bello, rumah Xanana Gusmao pun tidak kesampaian. Bahkan rencana saya untuk shlat Dhuhud di Masjid An-Nur Dili pun tidak sempat karena waktu yang kasip. Secara berkelakar teman saya berkata kita nanti melewati rumah Raul Lemos, suami penyanyi Krisdayanti.

Beberapa foto yang saya abadikan merekam suasana kota Dili dan aktivitas pasar yang masih tradisionil.

Pasar kakilima

Angkot

Universitas Nasional Timor Lorosae

Demikianlah kunjungan singkat saya yang hanya satu jam berada di kota Dili. Benar-benar singkat dan belum bisa mengeksplorasi lebih jauh tempat-tempat menarik di Dili. Mungkin nanti jika ada kesempatan saya kembali lagi ke Dili.

Written by rinaldimunir

July 26th, 2019 at 4:24 pm

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 2)

without comments

Kami sampai pintu perbatasan di Motaain pukul 16.00. Yah, sudah tutup, tidak bisa menyeberang ke Timor Leste hari ini. Padahal kami ingin bermalam di kota Dili lalu melihat sunrise di Bumi Lorosae itu. Meskipun agak kecewa, kami berbalik kembali ke Atambua. Sebelum balik kami melapor terlebih dahulu di Polres Belu Sektor Motaain untuk menitipkan STNK mobil.

Perjalanan kembali ke Atambua tidak melewati jalan semula, tetapi melewati jalur jalan di pinggir pantai. Kami menikmati pantai Motaain di perbatasan Kabupaten  Belu dengan Timor Leste. Pantai yang sepi berpadu dengan langit biru yang super bersih tanpa awan dan polusi. Jika berjalan terus menyusuri pantai ke arah timur mungkin kita sampai ke kota Dili.

Pantai Motaain

Jalan aspal dari pinggir pantai menuju Atambua sepi dari kendaraan. Namun yang membanggakan adalah hampir semua jalan di Pulau Timor beraspal mulus. Melintasi jalan raya di sini kala sore dan pagi hari kita disuguhi pemandangan khas Pulau Timor yaitu bukit-bukit gersang berwarna kemerahan dengan tanaman perdu yang tumbuh di atasnya.

Jalan beraspal mulus di Kabupaten Belu

Setelah beristirahat di pantai Motaain, kami meneruskan perjalanan ke arah Atambua. Di tengah perjalanan kami melintasi pelabuhan Atapupu. Ini adalah pelabuhan antar pulau di Kabupaten Belu. Barang-barang kebutuhan di Atambua (termasuk untuk Timor Leste) diangkut dari Surabaya ke pelabuhan ini.

Pelabuhan Atapupu

Sore itu tampak langit di Pulau Timor benar-benar biru bersih tanpa awan. Matahari bersinar dengan perkasa. Sebuah kapal sedang memuat sapi dan rumput. Sapi-api itu itu akan dikirim ke Kalimantan untuk Hari Raya Idul Adha nanti.

Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Ataupu

Pelabuhan Atapupu yang hening dengan laut yang sangat bersih

Hari sudah benar-benar sore. Sebelum masuk ke Atambua, singgahlah kami terlebih dahulu di bendungan Rotiklot Kabupaten Belu yang diresmikan presiden beberapa waktu yg lalu. Bendungannya belum berisi air dan saat itu pengunjung masih dilarang masuk. Matahari terlihat menuju peraduannya dikala sunse. Benar-benar pemandangan sore yang menawan di negeri yang hening.

Pintu masuk ke bendungan Rotiklot

Akhirnya kami sampai kembali ke kota Atambua. Ada beberapa hotel di kota ini, baik kelas melati maupun hotel bintang dua. Kami agak kesulitan mencari kamar hotel yang kosong malam itu. Hampir semua hotel penuh. Maklum ini hari Sabtu. Pada akhir pekan banyak warga Timor Leste datang ke Atambua dan mereka menginap di hotel-hotel itu. Mereka pergi ke Atambua selain untuk menengok saudaranya (maklum orang Timor Leste masih bertalian darah dengan orang Timor bagian barat), mereka umumnya memborong barang kebutuhan sehari-hari di Atambua. Barang-barang di Atambua lebih murah dibandingkan dengan harga di Dili. Warga Timor Leste membawa uangnya dalam bentuk dollar Amerika (mata uang imor Leste adalah US $), ketika di-kurs ke rupiah di Atambua nilainya jadi besar. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

July 25th, 2019 at 2:03 pm

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua (NTT) dan Dili (Timor Leste) – Bagian 1

without comments

Mengunjungi kota Dili di Timor Leste tidak pernah terpikirkan oleh saya. Mungkin Dili tidak termasuk dalam daftar kota yang akan saya kunjungi. Namun, ketika saya mengadakan kunjungan ke kota Kupang dalam rangka penelitian dengan Politeknik Negeri Kupang, teman di sana menawarkan jalan-jalan ke kota Dili. Wah, kenapa tidak, pikir saya. Kapan lagi punya kesempatan mengunjungi bekas ibukota Propinsi Timor Timur yang sekarang menjadi ibukota negara Timor Leste itu?

Perjalanan ke Dili dari Kupang melalui kota perbatasan di NTT yang bernama kota Atambua. Tulisan pertama ini menceritakan perjalanan saya dari kota Kupang menuju kota Atambua.

Saya tiba di kota Kupang pukul 21.30 WITA setelah menempuh perjalanan panjang dengan pesawat Garuda dari Bandara Soekarno-Hatta dan transit di Surabaya. Daniel Bataona, dosen Poltek Kupang menjemput kami di Bandara Eltari. Bandara ini sedang dibangun bertingkat dan akan menjadi bandara yang megah. Kupang dan NTT mulai menjadi tujuan menarik wisatawan baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Alam NTT yang unik adalah daya tarik tersendiri. Mengunjungi Kupang tahun ini adalah kunjungan saya kedua kalinya setelah kunjungan pertama pada tahun yang lalu untuk urusan yang sama (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang).

Pagi hari pukul 7.00 setelah istirahat semalam di hotel Neo dekat bandara, kami memulai perjalanan menuju kota Atambua dan Dili. Seorang pegawai Poltek Kupang bernama Pak Agustinus akan ikut menemani kami hingga ke Dili. Pak Agustinus adalah orang asli Timor Leste. Dia termasuk warga Timor Timur yang pro integrasi saat jajak pendapat tahun 1999 dan memilih bergabung dengan Indonesia. Banyak juga orang Timor Timur yang tidak mau kembali ke kampung halamannya dan memilih tinggal di Pulau Timor bagian wilayah Indonesia.

Perjalanan dari Kupang ke Atambua menempuh waktu 6 jam dengan mobil. Wah, lama juga ya. Sebenarnya kita bisa pergi ke sana lewat udara. Dari Kupang ke Atambua ada dua kali penerbangan setiap hari yang dilayani oleh Wings Air. Tetapi saya memilih lewat darat supaya dapat melihat pemandangan alam Pulau Timor dan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Bulan Juli hingga September adalah waktu yang tepat untuk mengunjung Pulau Timor karena cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang dan langit biru bersih tanpa awan.

Kami keluar kota Kupang dan sekarang memasuki Kabupaten Kupang.  Ketika sampai di Oesao, kami berhenti sebentar untuk membeli jajanan khas yaitu kue cucur. Sebenarnya ingin berhenti di kedai jagung pulut yang pernah saya singgahi tahun lalu (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang), tapi pagi itu mungkin jagung pulut yang khas Oesao belum tersedia. Di depan warung kue cucur berhenti sebuah minibus yang hendak menuju kota Kefamananu di pedalaman di Pulau Timor. Bus-bus antar kota di Kupang tidak ada yang besar, umumnya berukuran minibus.  Seorang pemuda Pulau Timor dan lelaki tua dengan kain tenun ikat berdiri di depan bus.  Wajah-wajah orang Timor itu umumnya khas seperti pada foto ini. Berambut ikal, hidung mancung, kulit agak kehitaman, dan mata agak ke dalam. Inilah Indonesia yang multi etnis dan multi kultural.

Minibus yang membawa sebuah sepeda motor di belakangnya.

Pemandangan sepanjang jalan sungguh indah. Pohon-pohon sepe dan pohon jati berbaris sepanjang jalan. Alam pulau Timor tidaklah segersang yang kita kira. Jalanan menaik dan menurun mendaki dan menuruni bukit.  Bukit-bukit hijau berdiri memagar.

Kami telah keluar Kabupaten Kupang dan sekarang akan memasuki Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kami berhenti di desa Takari. Di pinggir jalan terlihat sebuah pemandangan alam yang mempesona. Sebuah lembah dengan sungai yang  hampir mengering dan bukit kapur terlihat sangat mempesona. Swafoto dulu ah…

Numpang foto di Takari, Kab TTS.

Di Takari kita melewati sebuah jembatan yang panjang bernama jemnbatan Noelmina (saya kira jembatan Wilhelmina :-). Jembatan ini menghubungkan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sebuah tugu dengan tiga jari tegak dan dua jari membentuk huruf O menyambut kami. Hmmm…apa ya makna susunan jari seperti itu?

Jembatan Noelmina

Tugu perbatasan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten TTS

Setelah dua jam perjalanan kami memasuki kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kota Kefamenanu, atau kota Kefa saja adalah ibukota Kabupaten TTU. Kami berhenti di sini untuk mengisi bensin. Sebuah gereja cantik bernama Gereja Masehi Injili di tanah Timor berdiri dengan megah. Penduduk Pulau Timor mayoritas beragama Katolik (55,39%) dan Kristen Protestan (34,32%). Penduduk beragama Islam sekitar 9.05%, sisanya agama lain dan kepercayaan lokal seperti Marapu (Sumber: NTT   di Wikipedia). NTT adalah propinsi dengan kerukunan beragama yang baik. Dua kali saya berkunjung ke Timor saya melihat masjid dan gereja mudah ditemukan. Perempuan berkerdudung banyak ditemukan di pasar-pasar bahkan hingga di kota pedalaman.

Jalanan di kota Kefamenanu

Gereja Masehi Injili di Timor

Kami memasuki hutan Jati di luar kota Kefa. Di pinggir hutan berdiri pondok-pondok yang menjual jambu biji dan jeruk lokal yang warnanya menggoda. Jeruk-jeruk diatur dalam tumpukan piring sehingga terlihat menarik. Rasa jeruknya agak asam, tapi lumayan memberikan kesegaran pada siang hari yang terik.

Jeruk lokal Kefa

Perjalanan ke Atambua masih jauh, sekitar 2 jam lagi. Terus terang saya merasa pusing dan mual selama perjalanan karena jalanan yang berbelok-belok. Ya, kita naik dan turun melingkar bukit sehingga isi perut serasa dikocok-kocok. Saya lebih banyak diam dan berbaring karena merasa mau muntah. Untung tidak jadi muntah karena makan jeruk lokal tadi. Nggak nyambung ya?

Pukul 13 siang kami memasuki kota Atambua. Gapura gerbang kota Atambua menyambut kami. Sepanjang jalan memasuki kota Atambua dipenuhi hutan jati. Pohon jati milik Pemerintah, sebagian lagi milik misi (organisisasi Katolik). Pohon jati di sini ditanam sejak zaman Belanda. Pohonnya tidak pernah ditebang-tebang, dibiarkan begitu saja. Pohon jatinya besar-beasar lho. Hmmmm…kalau dijual di Pulau Jawa harganya tentu selangit. Tapi pohon jati di sini tidak boleh ditebang, barang siapa yang menebang akan ditangkap polisi.

Gerbang kota Atambua. Ini difoto kala pulang dari sana (sore hari)

Hutan jati sepanjang jalan memasuki kota Atambua

Hutan jati

Berfoto bersama pak Agustinus, orang asli Timor Leste, yang menjadi guide kami ke Dili

Alhamdulillah, sampailah kami ke pusat kota Atambua. Perut sudah lapar nih. Kami pun berhenti di rumah makan padang.  Hehehe…kemanapun pergi, tetap makannya di rumah makan padang. Ada tiga sampai empat rumah makan Padang di kota Atambua. Ternyata cukup banyak juga perantau Minang di kota perbatasan dengan Timor Leste ini. Pemilik rumah makan yang saya singgahi ini adalah perantau dari Pariaman. Katanya ada sekitar 80 KK warga perantau Minang di sana. Banyak juga ya. Oh ya, selain rumah makanan padang, mencari makanan halal di Atambua  tidak sulit. Ada juga rumah makan Jawa Timur dengan soto ayamnya.

Rumah makan Padang Raya di tengah kota Atambua

atambua adalah ibukota Kabupaten Belu. Kota Atambua kecil saja. Tapi inilah kota perbatasan ke Timor Leste. Jam 19.00 malam kota ini udah sepi, toko-toko sudah tutup. Masjid dan gereja berdiri berdampingan. Di tengah kota terdapat gereja katedral dan masjid raya Al-Mujahidin. Saya sholat jamak Dhuhur dan Ashar di sana. Teman saya, Daniel dan Agustinus menunggu di halaman masjid.

 

Masjid Raya Mujahidin di Atambua

Selesai makan kami mengejar waktu untuk memasuki pintu perbatasan ke Timor Leste di Motaain. Tapi karena kami membawa mobil selama di Timor Leste, maka kami harus mengurus surat izin bea cukai terlebih dahulu di kantor bea cukai Atambua. Kantor bea cukai ini terletak setelah bandara Atambua dan taman makam pahlawan Seroja. Di sini dimakamkan tentara dan pejuang RI yang gugur di Timor Timur.  Oh ya, di kantor bea cukai ini juga terdapat kantor imigrasi di lantai dua.

Nampang di taman makam pahlawan Seroja

Taman makam pahlawan Seroja

Petugas bea cukai masih muda-muda. Mereka umumnya adalah lulusan STAN di Jakarta. Mereka adalah pegawai Kementerian Keuangan RI. Pegawai bea cukai ramah-ramah. Mereka menanyakan surat-surat kendaraan, setelah itu dilanjutkan dengan memeriksa fisik kendaraan.

Mengurus surat izin kendaraan di kantor Bea Cukai

Kantor bea cukai

Cukup lama juga kami mengurus suart-surat kendaran di kantor bea cukai Atambua. Hari sudah menunjukkan pukul 15.30, setengah jam lagi pintu perbatasan RI-Timor Leste di Motaain akan tutup. Pintu perbatasan dibuka pukul 8.00 pagi hingga pukul 16.00 WITA, setelah itu tutup dan jika terlambat maka kita harus menunggu keesokan harinya. Hmmm…apakah kami bisa terkejar waktunya ke Motaain yang jaraknya 10 km dari kantor bea cukai? (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

July 23rd, 2019 at 5:11 pm

Posted in Cerita perjalanan

Mencoba Kereta Bandara Minangkabau, Padang

without comments

Dua minggu lalu saya pulang mudik ke Padang. Ketika sedang tidak ada kegiatan di kampus, saya sempatkan pulang ke kampung halaman dengan anak-anak meski hanya sebentar (tiga hari).  Saya memang tidak sempat mudik saat lebaran, maka mudiknya sesudah lebaran saja. Hehe, orang lain sudah balik ke rantau, saya malah pulang ke kampung. Ketika saya melihat harga tiket Xpress Air Bandung – Padang sempat turun, langsung saya ambil keputusan mendadak pulang ke Padang hari Jumat siang. Mumpung pesawat masih terbang dari Bandara Husein Sastranegara, belum dari Bandara Kertajati yang dimulai tanggal 1 Juli.

Setiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) terbersit keinginan saya mencoba kereta api bandara dari BIM ke Padang. Ini bandara kedua di Indonesia yang memiliki kereta bandara sesudah Bandara Kualanamu, Medan. Bandara berikutnya yang memiliki kereta bandara adalah Bandara Soekarno – Hatta dan bandara YIA Yogyakarta.

Keluar dari terminal kedatangan, ada petugas yang menginformasikan kepada penumpang pesawat bahwa kereta bandara akan berangkat pada pukul 16.50, itu artinya sekitar 15 menit lagi. Stasiun bandara letaknya kira-kira 200 meter dari terminal kedatangan tapi belum terintegrasi dengan bangunan bandara sehingga kalau hujan agak kesulitan ke sana. Namun, kita bisa naik bus shuttle yang mengantarkan kita ke stasiun kereta. Naik bus shuttle ini gratis. Bus shuttle sudah menunggu di depan kedatangan.

Bus shuttle membawa penumpang ke stasiun bandara. Kita diarahkan ke loket penjualan karcis kereta. Tidak banyak penumpang yang antri membeli karcis. Petugas melayani penumpang dengan ramah.

Konter penjualan tiket kereta bandara

Harga tiketnya sangat murah, hanya Rp 10.000 ke stasiun Simpang Haru Padang yang berjarak 22 km dari bandara. Kalau naik taksi bandara ke rumah orangtua saya di kawasan Sawahan tarifnya 10 kali lipat yaitu 110.000.

Karcis kereta bandara BIM, sangat murah hanya 10.000 saja

Selanjutnya kita masuk ke pintu keberangkatan. Sekarang ini naik dan turun kereta layanannya seperti naik pesawat saja. Petugas memeriksa karcis kereta dan kita dipersilahkan masuk.

Pintu keberangkatan

Memasuki hall kereta, terlihatlah kereta bandara yang menanti penumpang. Kereta terdiri dari tiga gerbong, warnanya dicat hijau. Terlihat kinclong. Ini kereta buatan PT INKA di Madiun.

Hall kereta bandara

Kereta bandara yang cantik

Padang berjarak 22 km dari Bandara BIM. Kereta akan berangkat 5 menit lagi.  Hanya satu kereta saja di sana. Kereta berwarna hijau dengan tiga buah gerbong.

Masuk ke dalam kereta kita sudah merasakan kenyamanan.  Sore itu kereta tidak penuh penumpang, mungkin karena penumpang pesawat saat ini sudah berkurang.  Namun ada teman yang mengatakan jadwal keberangkatan kereta tidak sinkron dengan jadwal kedatangan pesawat dan masyarakat belum menjadijan kereta untuk pilihan transportasi ke dan dai bandara. Entahlah. Yang jelas langit sore sudah mendung, sebentar lagi turun hujan.

Memang kereta tidak bisa berjalan terlalu cepat, tetapi karena ini perjalanan santai maka tidak masalah bagi saya, yah sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan.

Bagi saya, memilih naik kereta bandara karena stasiun Simpang Haru tidak jauh dari rumah orangtua saya di Sawahan.  Jika naik taksi, selain ongkosnya lumayan mahal (Rp110.000), kita melewati titik-titik macet seperti di depan Minang Plaza di Air Tawar dan di depan Transmart di Jalan Khatib Sulaiman.

Kereta bandara di Padang tidak memerlukan pembangunan infrastruktur jalur kereta baru. Jalur kereta api sudah tersedia sejak zaman Belanda. Rel kereta api jalur Padang ke Pariaman melewati daerah dekat bandara. Tinggal menambahkan jalur rel dari dalam bandara ke luar bandara maka tersambunglah jalur rel kereta api dari bandara BIM ke Padang.

Kereta melewati stasiun Duku, Lubuk Buaya, Tabing, belakang hotel Basko, dan tujuan akhirnya di stasiun Simpang Haru Padang. Lima puluh menit waktu yang dibutuhkan dari bandara Minangkabau ke Padang. Jadi kalau kita naik kereta dari Padang ke bandara Minangkabau kita sudah dapat memprediksi waktu kedatangan sehingga tidak akan ketinggalan pesawat.

Stasiun Simpang Haru, Padang

Stasiun Simpang Haru, Padang

Stasiun Simpang Haru adalah kenangan saya kala kecil. Di sini saya waktu kanak-kanak naik kereta api ke Pariaman atau ke Teluk Bayur. Jadi, naik kereta bandara ini sebenarnya mengenang nostalgia saat masa kecil dulu di Padang. Sumatera Barat adalah salah satu dari empat propinsi di Sumatera yang memiliki jalur kereta api sejak zaman Belanda (propinsi lainnya adalah Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara). Dulu kereta api digunakan untuk membawa batubara dari Ombilin di Sawahlunto ke pelabuhan Teluk Bayur Padang. Sekarang tidak ada lagi batubara di Ombilin sehingga kereta api pun dihentikan. Satu-satunya jalur kereta api yang masih aktif adalah jalur Padang ke Pariaman yang rutin tiga kali sehari membawa penumpang, yang umumnya pegawai yang bekerja di Padang (baca: Naik Kereta Api dari Padang ke Pariaman).

Jadwal kereta bandara Minangkabau yang terbaru adalah sebagai berikut:

Demikianlah pengalaman saya mencoba kereta bandara di kampung halaman. Naik kereta sambil bernostalgia. Mungkin kalau pulang ke Padang lagi saya memilih naik kereta ini lagi.

Written by rinaldimunir

July 3rd, 2019 at 3:15 pm

Uneg-Uneg PPDB Sistem Zonasi (lagi)

without comments

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 untuk sekolah negeri SMP dan SMA di kota Bandung dan Jawa Barat umumnya sudah selesai. Hasil-hasilnya sudah diumumkan. Tentu ada yang sedih dan gembira dengan hasilnya. Diantara banyak kesedihan tersimpan kekecewaan mendalam dari sebagian orangtua yang merasa “dizalimi” dengan sistem penerimaan siswa berdasarkan jarak rumah. Dengan persentase kuota yang besar untuk jalur domisili berdasarkan jarak rumah ke sekolah (90%, termasuk kombinasi jarak dan NEM) dan hanya menyisakan 2,5% kuota untuk jalur berdasarkan nilai NEM dan 2,5% untuk prestasi perlombaan, PPDB sistem zonasi meninggalkan cerita pedih. Kekisruhan selama 1 bulan ini selama proses PPDB akhirnya membuat presiden turun tangan.

Menurut saya PPDB sistem zonasi merupakan kebijakan Mendikbud yang paling “konyol” dari seorang menteri miskin prestasi. Di akhir masa jabatannya ia membuat aturan zonasi 90% dalam PPDB. Setelah disentil oleh Pak Jokowi, akhirnya beliau mengubah kuota jalur prestasi dari 5% menjadi 15% dan menurunkan kuota jarak domisili menjadi 80%. Diubahnya hari Jumat sore, sedangkan di Jabar pendaftaran PPDB SMA terakhir hari Sabtu. Mana pula bisa formulir yang sudah dimasukin dicabut kembali? Sudah telat. Tidak dipikir dulu matang-matang sebelum bikin aturan, bisa diubah seenaknya di tengah jalan saat PPDB sedang injury time. Anak-anak sekolah jadi kelinci percobaan setiap tahun dengan aturan PPDB yang selalu berubah-ubah.

Untuk PPDB SMP di kota Bandung perubahan kuota jalur prestasi menjadi 15% bagaikan nasi sudah menjadi bubur. PPDB SMP di Bandung sudah tuntas sebelum lebaran dengan kuota jalur prestasi berdasarkan nilai USBN hanya 2,5% atau sama dg 8 orang siswa. Tentu penambahan kuota sampai 15% sudah tidak bisa lagi dilakukan. Sudah selesai. Andai waktu itu kuotanya 15%, tentu anak bungsuku bisa masuk ke SMP …., tapi ya sudahlah.

Pak menteri membuat aturan PPDB salah satu tujuannya adalah menghapus label sekolah favorit dan tidak favorit. Baiklah, saya tidak keberatan dengan maksud ini, labelisasi favorit dan tidak favorit telah mengkastakan sekolah negeri.  Dilanjutkan olehnya, bersekolah di mana saja sama.  Untuk pernyatan kedua ini saya tidak setuju. Jelas tidak sama, pak menteri. Bersekolah di SMP 2 Bandung dengan fasilitas sarana lengkap dan wah tentu tidak sama dengan bersekolah di SMP 5x yang sarana dan prasarananya memprihatinkan. Sekedar contoh, toilet di SMP 2 saja sekelas toilet hotel, sedangkan toilet di SMP xx jorok dan bau pesing. Itu baru toilet. Wajar orangtua mencari sekolah negeri yang berkualitas bua putra-putrinya.

Pak menteri lupa. PPDB sistem zonasi itu memiliki dua syarat sebelum dilaksanakan. Syarat pertama adalah penyebaran sekolah negeri harus merata di setiap kecamatan dan proporsional dengan jumlah penduduk. Ada kecamatan yang sama sekali tidak memiliki sekolah negeri. Jika mereka mendaftar ke sekolah negeri di kecamatan tetangga jelas mereka akan tersingkir karena kalah oleh faktor jarak rumah yang jauh. Padahal ketika belum ada sistem zonasi mereka seharusnya bisa bersaing masuk sekolah negeri berdasarkan NEM. Memang solusi untuk masalah ini adalah perlu ditambah jumlah sekolah negeri, tetapi itu kan perlu waktu beberapa tahun lagi, sekarang mereka mau sekolah di mana?

Syarat kedua adalah kualitas setiap sekolah -baik sarana dan prasaran maupun kualitas guru-  sudah sama atau setara. Jika kedua syarat itu sudah dipenuhi, barulah bisa dikatakan bersekolah di mana saja sama. Barulah PPDB sistem zonasi bisa diterapkan. Bukan seperti sekarang yang sangat jomplang. Faktanya saat ini penyebaran sekolah negeri belum merata dan kualitasnya satu sama lain jauh berbeda. Butuh waktu untuk menyamakan dan meratakan.

Selama penyebaran sekolah belum merata dan kualitasnya belum sama atau setara, maka PPDB sistem zonasi dilakukan secara bertahap dulu,  jangan langsung memaksakan full seperti sekarang. Artinya seleksi berdasarkan NEM tetap diadakan selain faktor jarak juga dipertimbangkan.  Jika tidak, maka yang terjadi adalah gejolak di tengah masyarakat.

Sistem zonasi telah membuat sekolah-sekolah negeri yang selama ini punya nama turun reputasinya. Sekolah-sekolah itu menerima siswa dengan NEM yang kecil-kecil. Padahal reputasi sekolah unggulan dicapai selama puluhan tahun. Tidak ada yang salah memiliki sekolah negeri favorit sebab sekolah itu terbentuk secara alami. Bahkan putri Gubernur Jabar pun mendaftar ke sekolah favorit (SMAN 3 Bandung) yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya, padahal Pak Gub sendiri dalam beberapa kesempatan berkoar-koar agar masyarakat memilih sekolah yang dekat rumah saja demi mengurangi kemacetan.

Memiliki sekolah negeri unggulan (baca: favorit) sepertinya “tidak diizinkan” dengan sistem zonasi. Semua sekolah harus sama rasa dan sama rata. Semua sekolah harus unggulan. Namun dengan kondisi yang jomplang saat ini, seperti yang diungkapkan di atas, jelas belum bisa.

PPDB sistem zonasi seakan-akan mempersulit siswa-siswa pintar masuk sekolah negeri idamannya karena kuota yang tersedia sangat sedikit (2,5%). Hasil kerja keras mereka belajar kurang diapresiasi dengan proporsional. Mereka kalah dengan seleksi berdasarkan meteran. Orangtua mereka mungkin telah “salah” memilih lokasi rumah di pinggiran kota atau di luar zona sehingga gagal masuk sekolah yang diinginkan.

Dalam pandangan saya, aturan PPDB zonasi memang terlihat adil bagi siswa yang rumahnya dekat sekolah, tetapi zalim bagi siswa berprestasi yang rumahnya di luar zona atau jauh dari sekolah negeri. Impiannya untuk masuk sekolah yang diidamkannya pupus karena tidak bisa mendaftar ke sana. Jika tidak lolos ke sekolah negeri, ya ke sekolah swasta saja, kata pak menteri. Dikiranya ke sekolah swasta itu bisa pakai uang pangkal kayak mengeruk uang di selokan depan rumah saja.

Sekarang bagaimana tanggung jawab menteri terhadap anak-anak yang tidak diterima di mana-mana dan tidak memiliki uang untuk masuk ke sekolah swasta?

 

Written by rinaldimunir

July 1st, 2019 at 1:54 pm

Shalat Ashar di Masjid PDAM Bandung

without comments

Setiap pulang kantor dari kampus ITB ke rumah, saya selalu melewati Jalan Ciung Wanar. Suaru kali saat pulang pas menjelang shlat Asha, adzan menggema dari masjid PDAM yang terletak persis di pinggir jalan Ciung Wanara. Kompleks PDAM Tirtawening Kota Bandung sangat luas, dikelilingi oleh Jalan Badak Singa, Jalan Tamansari, dan Jalan Ciung Wanara. Mendengar adzan saya pun singgah sejenak untuk menunakan sholat di  Masjid Maaimaaskuub, demikian nama masjid yang terletak di halaman kantor PDAM itu.

Masjid ini dibangun baru menggantikan bangunan masjid yang lama di lokasi yang sama. Saya belum pernah sholat di masjid yang baru ini, hanya selalu melewatinya setiap hari.

Setelah masuk ke masjid ini, saya terpesona. Ini masjid yang unik. Dikelilingi oleh air yang mengalir, kolam-kolam, dan air mancur. Bahkan di mihrab tempat imam pun ada kolam air.  Wajar bertema air karena ia terletak di kantor perusahaan air minum.

Nama Maaimaskuub artinya air yang terus mengalir dari surga. Suara gemercik air di dalam masjid membuat suasana hati jadi tenteram. Air memang menyejukkan jiwa. Mihrabnya pun tidak berdinding sehingga udara segar selalu keluar masuk masjid. Nyaman. Mirip seperti masjid di Kotabaru Parahyangan.

Selama ini masjid di PDAM Bandung adalah pilihan warga ganesha dan sekitarnya yang ingin sholat Jumat tidak lama-lama. Kalau ibadah sholat jumat di Masjid Salman memang cenderung lama, terutama khutbah jumatnya. Kalau di masjid PDAM sudah terkenal khutbah Jumatnya singkat sehingga secara berkelakar disebut sholat Jumat turbo. Entah kalau sekarang, karena saya baru satu kali sholat Jumat di sini. Tentang hal ini pernah aya tulis pada tulisan tahun 2013,  Pengalaman Shalat Jumat di Masjid PDAM Bandung. Pada tulisan tersebut juga ada foto masjid yang lama. Jauh berbeda dengan masjid yang baru ini.

Masjid Maaimaskuub tidak hanya digunakan oleh pegawai PDAM saja, tetapi juga oleh pelajar SMA dan masyarakat umum yang berada di sana. Semoga masjid ini selalu terawat dan menjadi berkah buat sekelilingnya.

Written by rinaldimunir

June 20th, 2019 at 11:08 am

Setelah PPDB SMP Kota Bandung Berlalu

without comments

Hari ini saya datang ke SMPN 44 Bandung di Jalan Cimanuk No. 1, pertigaan dengan Jalan Riau (Jl. R.E Martadinata, jalan yang terkenal dengan sederetan Factory Outlet atau FO). Tujuan ke sini adalah untuk melakukan daftar ulang anak yang diterima di SMP negeri tersebut. Alhamdulillah, Tuhan mentakdirkan anak bungsuku bersekolah di SMP ini melalui proses PPDB  pada bulan puasa yang lalu. Kota Bandung memang paling cepat menyelenggarakan PPDB di antara semua kota/kabupaten di Jawa Barat.

PPDB tahun ini menerapkan full sistem zonasi. Semua sekolah negeri di Indonesia harus tunduk pada Peraturan Menteri Kemendikbud yang mengharuskan penerimaan siswa baru SMP/SMA berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Siapa yang rumahnya makin dekat ke sekolah, maka peluangnya diterima di sekolah tersebut makin besar. Tidak perlu belajar serius di tingkat sekolah sebelumnya, punya nilai NEM (nilai USBN atau nilai UN) rendah pun tetap bisa masuk asal rumahnya tidak jauh dari sekolah. Siswa yang punya NEM tinggi tapi rumah jauh dari sekolah terpaksa gigit jari, tersingkir dari sekolah yang diinginkannya.

Sistem zonasi memang sudah berhasil menghilangkan sekolah-sekolah berlabel favorit. Siswa dengan NEM bagus tersebar merata di berbagai sekolah. Sekolah-sekolah SMP favorit yang terletak di tengah kota di Bandung seperti SMPN 2, 5, 7, 13, dan 44 melalui sistem zonasi tahun 2019 ini rata-rata menerima siswa dengan NEM yang rendah. Tidak banyak siswa memiliki NEM bagus. Sistem zonasi di Bandung hanya memberi kuota 2,5% saja menerima siswa berdasarkan nilai NEM, atau setara 7 hingga 8 orang saja, 2,5 % lagi berdasarkan prestasi perlomabaan, dan 5% untk siswa mutasi. Sisanya 90% berdasarkan jarak, itu sudah termasuk jalur kombinasi sebesar 20% yang menerima siswa berdasarkan kombinasi jarak rumah dan nilai NEM.

Sistem PPDB yang selalu berubah-ubah setiap tahun memang memusingkan orangtua. Saya mengapresisi tujuan sistem zonasi, yaitu untuk memeratakan mutu sekolah, tidak ada lagi sekolah favorit atau tidak favorit. Tetapi apresiasi itu dengan syarat, yaitu sekolah tersebar secara merata dan kualitasnya juga merata, sehingga masuk sekolah mana saja sama saja. Namun sayangnya, di kota Bandung penyebaran sekolah dan kualitasnya tidak merata, oleh karena itu sistem zonasi belum bisa diterapkan secara penuh. Tentang hal ini sudah  pernah saya tulis pada posting tahun lalu (baca ini). Kalau belum bisa diterapkan secara penuh, maka fifty-fifty saja, yaitu 50% menerima siswa berdasarkan jarak dan 50% lagi berdasarkan NEM. Lebih fair dan lebih adil bagi semua pihak.

Tahun ini kabinet menteri akan berganti lagi karena presidennya baru. Mendikbud yang sekarang kemungkinan akan diganti juga. Kita semua sudah mahfum dengan slogan ganti menteri ganti aturan. Bukan tidak mungkin Mendikbud yang baru akan mengubah lagi mekanisme PPDB. Siap-siap saja orangtua dipusingkan dengan aturan yang berubah-ubah. Tiga tahun lagi ketika anak saya tamat SMP entah seperti apa pula aturan PPDB masuk SMA.

Jalan Cimanuk yang teduh

Alhamdulillah, proses pendaftaran ulang siswa baru sudah selesai di tempat sekolah anak saya. Sekolah yang berada di kawasan belakang Gedung Sate ini berada di kawasan yang teduh dan rindang, banyak pohon besar, dan tidak dilalui kendaraan umum. Mudah-mudahan sekolah ini adalah yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk anak saya. Tahun lalu SMPN 44 meraih predikat sekolah berbudaya religi. Itu artinya SMPN 44 memiliki pola pendidikan karakter yang kuat. Insya Allah.

Written by rinaldimunir

June 17th, 2019 at 4:47 pm