if99.net

IF99 ITB

Anak Kecil Penjual Serbet dan Keset

without comments

“Assalaamu’alaikum, Pak. Beli serbet dan kesetnya, Pak”

Seorang bocah dengan baju yang tamapk kebesaran tiba-tiba muncul di depan pagar rumah. Dia, si Ujang dari Cicalengka, menjajakan serbet dan keset dari rumah ke rumah di Antapani. Serbet lima belas ribu dua, keset duapuluh ribu satu. Ibunya menunggu di sudut jalan, mengerahkan anak-anaknya berjualan dari pintu ke pintu.

Sayapun menemuinya. Saya tidak butuh-butuh amat sih, masih banyak serbet dan keset kaki di rumah. Namun, saya beli juga. Iba.

Berikut dialog saya dengan si Ujang, tentu dalam Bahasa Sunda, Sunda minimalis . Maklum, meski saya sudah puluhan tahun di Bumi Parahyangan, namun bahasa Sunda saya masih saeutik-saeutik.

+ Umurnya berapa, Jang?
– Tujuh tahun, Pak
+ Sekolah kelas berapa?
– Kelas dua
+ Dari Cicalengka naik apa?
– Naik kereta
+ Berapa orang ke sini?
– Empat. Mama, Aa, adik, dan saya
+ Pulang ke Cicalengka lagi jam berapa?
– Nanti kalau udah habis

Apa yang dilakukan si Ujang dan mamanya masih lebih baik daripada mengemis. Sejak kecil ibunya sudah memperkenalkan beratnya perjuangan hidup. Sekarang sih dia belum mengerti. Kalau sudah besar baru dia paham betapa kerasnya kehidupan.

Mungkin ada orang yang berpikir, ah, itu strategi “orangtua” untuk memanfaatkan anak-anaknya berjualan agar memancing rasa iba. Child abuse. Sama seperti kisah anak-anak penjual coet atau batu cobek atau batu ulekan (batu untuk menghaluskan bumbu) dari Padalarang. Entahlah, saya tidak peduli. Saya beli saja, hitung-hitung niat sedekah.

Hati-hati di jalan ya, Jang. Dia pun pergi ke pintu yang lain. Menjajakan dagangan yang sama. Serbet dan keset.

Written by rinaldimunir

November 10th, 2019 at 4:32 pm

Ubuntu, Saya Ada karena Kita Ada

without comments

Bagi anda yang menekuni bidang komputer, tentu pernah mendengar nama Ubuntu. Ubuntu adalah nama sistem operasi keluarga Linux. lebih tepatnya, Ubuntu adalah sebuah sistem operasi distribusi Linux berbasis Debian yang gratis dan bersifat kode terbuka (open-source). Sistem operasi ini dirilis pada tahun 2004 dan dengan cepat menjadi populer karena mudah diinstalasi dan digunakan.

Logo Ubuntu

Tulisan saya ini tidak akan membahas spesifikasi Ubuntu, silakan baca informasinya yang banyak bertebaran di Internet. Saya akan menceritakan kisah yang sangat  menarik dari nama Ubuntu itu. Ternyata nama Ubuntu berasal dari filosofi dari Afrika Selatan yang bemakna kemanusiaan kepada sesama. Ada motivasi di balik budaya Ubuntu di Afrika.

Begini ceritanya.

Seorang antropologis mengajukan sebuah permainan kepada anak-anak suku Afrika.

Dia menempatkan sekeranjang permen di bawah sebuah pohon, lalu meminta kepada anak-anak itu untuk berdiri 100 meter dari keranjang itu. Dia mengumumkan bahwa siapa saja yang pertama kali mencapai keranjang, maka ia akan mendapatkan semua permen di dalam keranjang. Ketika dia mulai mengatakan ‘siaaapp…Go!’….

Tahukah anda apa yang dilakukan oleh anak-anak itu? Mereka saling bergandengan tangan, lari bersama-sama menuju keranjang di bawah pohon, membagi permen-permen itu sama banyak di antara mereka, memakan permen dan menikmatinya.

Ketika antropologis bertanya mengapa mereka melakukan hal itu. Mereka menjawab…”Ubuntu“,  yang mana berarti “bagaimana bisa seseorang bahagia ketika yang lainnya merasa sedih?”

Ubuntu dalam bahasa mereka berarti:

“Saya ada karena kami ada” (I am because we are)

Ini adalah pesan yang sangat kuat  untuk semua generasi.

Marilah kita selalu memiliki perilaku ini dan menyebarkan kebahagiaan kemana saja kita pergi.

Marilah memiliki kehidupan “Ubuntu”…

SAYA ADA KARENA KITA ADA

(I AM BECAUSE WE ARE)

Kisah Ubuntu

Written by rinaldimunir

October 21st, 2019 at 3:04 pm

Ketika Menjadi Sholeh Menimbulkan Kecurigaan

without comments

Sudah puluhan tahun saya hidup di tanah air tercinta, baru pada zaman pemerintahan sekarang, kira-kira 5 tahun ke belakanglah, saya merasa banyak hal menjadi terbalik-balik. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Banyak contohnya.

Memakai gamis, memakai jilbab panjang, menumbuhkan jenggot, atau memakai celana semata kaki (dikenal dengan nama celana cingkrang) akan dicap sebagai orang radikal, khilafah, HTI, fundamentalis, PKS, bahkan teroris. Dengan gampang saja label itu disematkan kepada mereka oleh kelompok pembenci. Waspada kepada paham radikalisme boleh-boleh saja, tetapi menggeneralisasi semua orang yang mengikuti sunnah Rasul adalah radikal adalah sikap kebablasan.

Pada kasus revisi UU KPK misalnya, buzzer-buzzer pendukung Pemerintah melancarkan opini bahwa KPK adalah sarang kelompok radikal. Tudingan itu dibuat karena di sana ada penyidik Novel Baswedan yang sekarang suka memakai celana cingkrang, juga karena setiap pekan ada pengajian buat karyawan yang muslim ( sementara kebaktian bagi karyawan kristiani tidak dipermasalahkan).

Fenomena lain yang membuat saya prihatin adalah seringnya ustad dihadang di bandara, pengajian dibubarkan oleh sekelompok orang atau ormas hanya karena ustad  yang akan mengisi pengajian dicap sebagai ustad radikal, khilafah, HTI, dan sebagainya. Ustad Felix Siaw adalah ustad yang paling sering dihadang dan pengajiannya dibubarkan, disamping ustad-ustad lain. Meskipun saya tidak kenal Felix Siaw, tidak selalu sepaham dengan Felix Siaw, tidak pernah mendengarkan ceramahnya, namun membubarkan pengajian atau menghadang ulama dalam kacamata saya adalah perbuatan yang tidak menghargai demokrasi. Tidak Pancasilais, anti Pancasila malah, sebab Pancasila menjunjung tinggi demokrasi, menghargai kebebasan berpendapat, dan menjamin setiap orang menjalankan agama dan kepercayaannya.

Parahnya, ormas yang membubarkan pengajian sama-sama ormas Islam juga. Lha, kok?  Aneh, bukan? Sama-sama mengucapkan syahadat, sama-sama mempunyai kitab Al-Quran, Nabinya sama, Tuhannya sama, tetapi kok sangat beringas kepada saudaranya. Dialog tidak dikedepankan, tetapi kekerasan fisik dan verbal lebih diutamakan.

Kemarin saya membaca berita Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak oleh UGM mengisi diskusi di masjid kampus dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Menurut kabar karena tekanan sebagian alumninya. Sebagai kampus yang menyediakan mimbar akademis dan tempat beradu gagasan, penolakan itu tidaklah pada tempatnya. Apa yang ditakutkan dengan ceramah seorang ustad? Penolakan terhadap UAS tidak hanya sekali ini saja, tetapi sudah beberapa kali di beberapa tempat karena alasan dia ustad radikal. Benarkah?

Saya menduga, penyebab berbagai tudingan radikal, fundamentalis, khilafah, membubarkan pengajian, menghadang ulama, menolak ustad, dan sebagainya, benang merahnya sama: mereka dianggap oposan, tidak pro rezim, mereka tidak berada di kubu 01. Politis sekali, bukan? Karena anda tidak berada di kubu kami, maka anda adalah lawan. Mengerikan. Polarisasi akibat Pilpres (dan juga Pilkada DKI) memang sangat buruk. Bangsa kita terbelah dua. Efeknya masih terasa sampai sekarang meskipun Pilkada DKI dan Pilpres sudah selesai, meskipun Prabowo sudah menyalami Jokowi, tetapi dampaknya belum hilang. Orang-orang yang dianggap oposan itu citranya dibuat buruk

Keberadaan para pendengung (buzzer) seperti Denny Siregar, Abu Janda, dan lain-lain ikut memperkeruh suasana. Para pendengung itu meniupkan isu, menyebarkan hoaks (ingat isu ambulan membawa batu yang disebarkan oleh DS), paling sering melontarkan isu radikal, khilafah, dan lain-lain, sehingga membuat suasana menjadi panas. Keberadaan para pendengung ini merusak demokrasi karena membuat bangsa ini terpecah belah. Sayangnya, meski telah berkali-kali dilaporkan ke kepolisian, mereka untouchable. Sampai lima tahun ke depan saya prediksi persatuan bangsa ini akan mudah tercabik-cabik karena kepentingan kekuasaan. Mengerikan!

Written by rinaldimunir

October 11th, 2019 at 1:21 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Pengemudi Gojek Perempuan itu Ternyata…

without comments

Sore hari saat jam pulang kantor saya memesan gojek motor dari sebuah rumah makan di Jalan Katamso. Saya mau pesan gojek ke rumah saya di Antapani. Di layar aplikasi ternyata yang mengambil order adalah seorang driver wanita.  Hmmm…batalkan nggak ya? Ini kedua kalinya saya mendapat pengemudi perempuan (pengalaman pertama mendapat pengemudi perempuan saya tulis di sini:  Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya).

Sebenarnya saya risih jika memboncengi motor yang dikemudikan perempuan bukan mahram. Perasaan risih ini sudah saya ceritakan pada tulisan pertama tadi. Tapi lagi-lagi rasa kasihan saya mengalahkan perasaan risih. Baiklah, saya  OK-kan saja.  Pengemudi perempuan itu mengatakan bahwa dia sudah biasa mendapat penumpang laki-laki.  Di dalam hati saya berkata, jika perempuan sampai terjun menjadi tukang ojek atau gojek pastilah karena alasan yang sangat mendesak atau alasan-alasan yang luar biasa.


Dia mengemudikan motor dengan tenang. Tidak mengebut dan selalu hati-hati. Saya duduk sedikit agak menjauh dari punggungnya.

Tiba di Antapani. Sayapun turun. Lalu saya tanya:
+ Dari jam berapa nge-gojek, Teh?  (Saya memanggil dia “teteh”, panggilan kepada  perempuan Sunda)
– Dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, Pak.
+ Punya anak?
– Punya
+ Suami?
– Sudah enggak.

Oh, berarti dia single parent, dia mencari nafkah untuk menghidupi anaknya. Kasihan ya. Dari pagi sampai malam. Untung tadi tidak jadi saya batalkan. Ternyata dia perempuan perkasa. Di akhir perjalanan saya tambahkan bonus kepadanya.

~~~~~~

Saya kagum pada perjuangan pengemudi gojek perempuan. Mereka melakukan pekerjaan yang halal. Soal mahram dan hijab dapat saya atur, saya duduk tidak terlalu merapat ke badannya, ada ruang kosong. Membatalkan pesanan gojek  kalau tidak terpaksa sekali jangan  dilakukan, karena berpengaruh pada performa driver. Kalo performa turun, mereka susah mendapat order.

Seorang teman memberi saran, jika mendapat pengemudi perempuan, maka dia tukaran tempat. Dia yang mengemudi motor, sedangkan si perempuan yang menjadi penumpang. Menurut saya cara ini pun kurang sopan, sebab seolah-olah merendahkan perempuan karena dianggap tidak mampu menjadi driver.

Paa perempuan tukang ojek adalah perempuan perkasa. Banyak perempuan perkasa di sekitar kita. Mereka terjun mencari nafkah karena alasan yang terpaksa. Mungkin suami sudah tidak ada, atau ada suami tetapi penghasilan suami jauh dari mencukupi. Menjadi tukang ojek atau gojek mungkin adalah  pilihan yang cukup realistis saat ini. Mengapresiasi pekerjaan mereka adalah dengan menghargai mereka dan tidak melecehkannya.

Written by rinaldimunir

October 7th, 2019 at 4:47 pm

Generasi Milenial Ternyata tidak Apatis Sosial Politik

without comments

Aksi demo besar-besaran mahasiswa di berbagai kota di Indonesia yang meminta pencabutan revisi RUU KPK dan beberapa RUU lainnya telah membuat tercengang berbagai kalangan. Bagaimana tidak, mahasiswa-mahasiswa yang berdemo ini merupakan generasi milenial, yaitu mereka yang lahir sekitar tahun 2000. Generasi mileneal sering dianggap apatis, cuek, atau kurang peduli  terhadap kondisi sosial politik di tanah air. Mereka dibesarkan oleh gawai dan sangat aktif ber-sosmed ketimbang memikirkan urusan perpolitikan.

Namun, tanpa diduga, ternyata masih ada dan masih banyak mahasiswa yang peduli tentang negeri ini dengan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka menyuarakan keresahan di tengah masyarakat terkait dengan revisi UU KPK yang dianggap mengkerdilkan lembaga anti rasuah tersebut serta bebrbagai RUU yang dianggap kontroversial. Surprise karena di tengah kondisi mahasiswa kita yang umumnya  lebih mementingkan urusan kuliah, gawai, medsos, dan juga asmara rupanya masih ada sebagian mahasiswa yang tergerak hati nuraninya menyuarakan keprihatinan masyarakat. Ketika tidak ada lagi yang mampu menyuarakan keprihatinan, maka harapan masyarakat disandangkan ke pundak para mahasiswa itu.

Aksi demo berlangsung masif dan brhari-hari. Dimulai dari aksi  #GejayanMemanggil Yogyakarta, dengan cepat aksi mahasiswa di Yogya menular ke berbagai kota di Indonesia. Mereka turun ke jalan. Mahasiswa yang selama ini diam akhirya terpanggil bergerak. Aksi demo semakin dramatis dengan kehadiran pelajar-pelajar STM (sebutan SMK untuk jurusan teknik) yang membantu kakak-kakaknya berdemo. Sejak aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa tahun 1998, barangkali inilah aksi demo yang terbesar sesudah tahun 1998.

Namun ingat, mereka berdemo bukanlah untuk menurunkan presiden. Bukan. Pemilu dan Pilpres sudah selesai. Mereka menyuarakan keprihatinan dan kekecewaan masyarakat terhadap berbagai UU dan RUU yang dibuat kejar tayang oleh DPR dan Pemerintah. Naif juga mengaitkan aksi mereka dengan radikalisme dan isu-isu seperti khilafah dan sebagainya. Saya melihat aksi demo mereka murni dan tidak ditunggangi.

Selama aksi-aksi mahasiswa itu murni, konstitusional, dan tidak anarkis, tentu akan  didukung oleh masyarakat. Menyuarakan pendapat dijamin oleh UU. Tentu saja aksi demo mereka berhadapan dengan aparat keamanan yang menjaga ketertiban. Hanya saja kalau ada mahasiswa yang terluka, terkena gas air mata, apalagi sampai ada yang mati, saya merasa sangat sedih. Tidak seharusnya aksi damai berubah menjadi “pertarungan” antara anak-anak muda harapan bangsa itu dengan polisi dan berakhir dengan kesedihan.

Generasi milenial ternyata tidak identik dengan anak manja, apatis, cuek, kurang peduli, dan stereotip lainnya. Mereka akan “bangun” pada waktunya, sekali mereka bangun bergemuruhlah seluruh negeri.

Written by rinaldimunir

October 3rd, 2019 at 3:35 pm

Posted in Indonesiaku

Mengenang Habibie

without comments

Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan tentang B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia yang wafat semalam. Habibie adalah orang yang sangat baik. Semua orang Indonesia pasti tahu tentang itu. Semua anak Indonesia dulu mengidolakan beliau. Kenapa tidak, Habibie adalah orang yang jenius, karya-karyanya dalam bidang aeronautika tersebar ke seluruh dunia. Banyak orangtua menamai anak lekakinya dengan nama Habibie. Di Prodi saya di Informatika ITB tidak terhitung jumlah mahasiswa bernama Habibi, baik sebagai kata did epan maupun di belakang. Orangtuanya tentu berharap anaknya kelak seperti B.J Habibie.

Tidak salah Presiden Soeharto memanggil Habibie pulang dari Jerman dan mengangkatnya menjadi menteri. Takdir hidup pula yang menggariskan dia kelak menjadi presiden Indonesia berikutnya setelah Soeharto mengundurkan diri akibat tekanan politik, kerusuhan sosial, dan kejatuhan rupiah saat itu.

Saat saya masih mahasiswa di ITB, nama Habibie adalah jaminan untuk sekolah ke luar negeri. Pak Habibie saat itu sebagai Menristek sekaligus ketua BPPT mengirim banyak lulusan SMA untuk sekolah di luar negeri, khsusnya ke Eropa dan Amerika. Kami menyebutnya program Beasiswa Habibie.Tujuannya tidak lain untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang teknologi. Tidak hanya teknologi dirgantara seperti keahlian Habibie, tetapi teknologi lainnya yang dibutuhkan negara.

Habibie saat muda (Aachen, Jerman, 1954)

Banyak sekali teman saya yang sudah diterima di ITB akhirnya mengundurkan diri dari kampus karena mendapat beasiswa Habibie. Sebuah prestise saat itu mendapat beasiswa ke Eropa dan Amerika. Mereka sekolah dari S1 sampai S3. Sebagian ada yang pulang kembali ke tanah air, tapi sebagian lagi tidak balik dan bekerja sebagai ekspatriat di Eropa.

Saya yakin seyakin-yakinnya hampir semua orang Indonesia mencintai Habibie. Beliau Presiden Indonesia yang tidak meninggalkan masalah selepas turun tahta. Dari tujuh presiden Indonesia (Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi), saya paling berkesan dengan Habibie. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut:
1. Cerdas. Beliau adalah salah satu orang Indonesia yang jenius. Ilmuwan hebat yang diakui dunia atas karya-karyanya dalam bidang aeronautika.
2. Rendah hati (humble). Tidak sombong, tidak suka berkoar-koar menebar janji-janji dan harapan palsu. Betapa presiden-presiden Indonesia terlalu sering membuat janji dan harapan semu sekedar gimmick atau lipstik. Tapi Habibie beda. Sekedar contoh saja, berkat tangan dinginnya dia mampu mengembalikan rupiah yang terpuruk saat kejatuhan Soeharto dari 17.000 menjadi 9000 per dollar. Saat ini kita tidak pernah melihat dollar bertengger di bawah sepuluh ribu rupiah.
3. Tidak menumpuk kekayaan selama berkuasa, karena memang pada dasarnya Habibie sudah kaya dari royalti yang diterimanya atas karya-karya pesawatnya. Habibie adalah sosok yang ikhlas. Kecintaannya pada tanah air jangan diragukan lagi.
4. Tidak punya kasus setelah tidak berkuasa.  Ini saya saya sebutkan tadi. Habibie bersih dari berbagai skandal, sepi dari segala rumor dan isu tidak sedap setelah turun tahta. Coba bandingkan dengan Soekarno, Soeharto, SBY, Megawati, masih saja diungkit-ungkit perbuatannya pada  masa lalu. Entah pula nanti Jokowi ketika nanti lengser, apa pula yang akan dipermasalahkan orang nanti.
5. Demokratis. Dialah yang membuka kran media massa sehingga puluhan media terbit. Media bebas bersuara, tidak takut lagi mengkritik penguasa. Pemilu multi partai pun dimulai pada era Habibie. Partai yang semula cuma 3 (Golkar, PPP, PDI) berkembang menjadi 48 partai. Luar biasa. Pantaslah Habibie disebuts ebagai Bapak Demokrasi.
6. Habibie mewakafkan hartanya untuk ilmu pengetahuan. Habibie Award adalah Nobel Price-nya Indonesia.
7. Habibie memadukan ilmu dengan agama. Salah satuwarisan yang dipopulerkan Habibie adalah frase “meningkatkan IMTAK dan IPTEK”. IMTAK = iman dan taqwa. IPTEK = ilmu pengetahuan dan teknologi.
8. Habibie menguasai banyak bahasa asing (Inggris, Jerman, Perancis)

Memang semua presiden di repulik ini punya keunikan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Namun Habibie-lah yang paling berkesan di hati.

Habibie saat muda adalah pria yang ganteng. Kegantengannya dan budi pekertinya yang santun meluluhkan hati Ainun, seorang mojang priangan kota Kembang yang cantik, saat Habibi kuliah di ITB dulu. Foto-foto Habibie saat masih muda bertebaran di media sosial seperti foto-foto di bawah ini.

Berkat film Ainun dan Habibie, yang mengisahkan perjalanan Hbibibie dan istrinya, orang Indonesia pun tahu bahwa Habibie tidak hanya cerdas tetapi juga romantis. Kisah hidupnya dengan Ainun menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bacalah sebuah tulisan yang saya tidak tahu siapa penulisnya tetapi saya rasa sungguh tepat menggambarkan Habibie dan istrinya itu. Saya copas di sini ya.

SELAMAT JALAN, RUDY..
9 Maret 1962. Saat itu malam hari raya Iedul Fitri.
Rudy – panggilan BJ Habibie – mengajak jalan Ainun. Ia ingin mengajaknya nonton bioskop, tapi sayang karena udara begitu cerah. Akhirnya mereka berjalan kaki menyusuri sepanjang kampus ITB. Hati Rudy berdetak tidak karuan. Ada yang ingin ia sampaikan. Tapi ia begitu malu. Sampai terlintas dalam pikirannya, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?”
Lalu ia memberanikan diri bertanya, “Ainun, maaf. Saya tidak ingin mengganggu masa depanmu. Tapi, apakah kamu punya kawan dekat ?”

Ainun, dengan detak jantung yang sama cepatnya, terdiam lama. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah Rudy sambil menjawab dengan lirih, “Tidak. Saya tidak punya kawan dekat..”

Hati Rudy bersorak. Perasaan yang sudah lama dipendamnya mendapatkan jawaban. Sesudah malam itu, merekapun selalu bersama, saling berbincang dan saling menyatukan hati hingga menikah pada tahun yang sama.

Perjalanan hidup kedua manusia ini menjadi cerita romansa yang tidak ada habisnya. Mereka tidak pernah berjauhan. Tidak sedikitpun. Ainun selalu mengikuti kemana Rudy pergi, sampai kekasihnya menjadi Presiden RI.

Tetapi janji itu putus sudah. Ainun harus pergi tanpa bisa meminta. Betapa hancurnya hati Rudy saat itu. Ia ingin menangis tapi suaranya tidak pernah keluar. Tubuhnya lunglai tanpa ia mampu menegakkan.

“Saat ini saya tidak takut lagi menunggu kematian, karena Ainun menunggu disana..” Perih hatinya menjadi sukacita. Ia menunggu hari-harinya dengan senyum kekasihnya yang selalu ada di setiap malam ketika rasa sepi membunuhnya.

Malam ini, Profesor Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie, dengan tersenyum menuju ke tempat hatinya berada. Ke tempat Ainun menunggunya dengan senyum yang tak pernah ada habisnya.
Ia berbahagia ketika seluruh bangsa menangis ditinggalkannya. Hati ini hancur seperti hancurnya Rudy ketika Ainun meninggalkannya.

Rudy dan Ainun, mereka bersama menari di alam yang berbeda. Mereka memang tidak terpisahkan. Tidak akan pernah…

Selamat jalan B.J Habibie. Anda akan dikenang sebagai seorang yang baik, malah sangat baik. Nama anda akan selalu ada di hati segenap bangsa Indonesia.

Written by rinaldimunir

September 12th, 2019 at 9:04 am

Posted in Indonesiaku

Mahasiswa Depresi dan Bunuh Diri

without comments

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati terenyuh.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran burruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning perlu kita tindak lanjuti.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Written by rinaldimunir

September 6th, 2019 at 11:31 am

Sedekah, Amalan yang Dahsyat

without comments

Kemarin, tiba-tiba saja seorang teman menghampiri saya lalu menyerahkan amplop berisi uang. Buat anak saya yang sekolah/kuliah, katanya. Ambillah, katanya lagi.

Saya pun terbingung-bingung bin terheran-heran. Lho, kok saya dikasih uang? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja saya diberi uang yang cukup besar. Teman saya itu memang tahu dua anak saya masuk sekolah tahun ini, satu di SMP dan satu lagi di perguruan tinggi lewat jalur seleksi mandiri. Oh, mungkin dipikirnya saya membutuhkan biaya besar untuk biaya sekolah/kuliah anak sehingga dia memberi saya uang?, pikir saya. Sudah saya tolak berkali-kali pemberiannya, merasa tidak enak menerimanya, itu tetapi tetap saja ia memaksa saya untuk menerimanya. Akhirnya saya menyerah dan menerima juga pemberiannya.

Saya pun berbaik sangka saja. Mungkin inikah cara Allah SWT mengganti uang yang saya sedekahkan dua hari yang lalu? Ada teman saya semasa SMP yang hidupnya susah. Dia selalu minta tolong dikirimkan uang. Tidak banyak yang dia minta, hanya seratus ribu saja, buat membayar kontrakannya. Sering begitu, dia selalu menelpon memohon dikirimkan uang karena hidupnya yang memang berkesusahan.

Ya Allah, Engkau baik sekali. Engkau ganti berlipat ganda dari yang saya beri. Yang saya berikan hanya receh saja, tetapi Engkau balas dengan tak terduga.

Saya semakin yakin saja bahwasanya bersedekah atau membelanjakan uang di jalan Allah tidak akan membuat harta kita berkurang, malah bertambah-tambah. Tidak akan menjadi miskin kita karena bersedekah. Benar yang dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa malaikat akan mendoakan orang yang bersedekah. “Ya Allah, berilah orang yang bersedekah, gantinya,” seru para malaikat sepenjuru langit mendoakan orang yang bersedekah. (HR Bukhari Muslim).

Rajin bersedekah dapat membuat rezeki datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka, seperti yang sering saya alami.

Sahabat, jangan ragu untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Jangan berat tangan merogeh kocek untuk sekedar memberi kepada orang yang yang mengalami kesulitan hidup.

Sedekah adalah amalan yang yang dirindukan oleh orang yang sudah mati. Orang yang sudah tiada dan sudah berada di alam barzah, sekiranya ia bisa dikembalikan ke dunia, maka amalan apakah yang akan dilakukannya? Jawabnya adalah sedekah. Di dalam Surat Al-Munafiqun ayat 11 Allah SWT berfirman

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS al-Munafiqun: 11).

Saya kutip tulisan dari sini:

Mengapa ia (si mayat. Red) menyebut bersedekah. Padahal, banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Sebut saja shalat sunah, baca Alquran, berpuasa, berzikir, berjihad, atau berangkat haji ke Tanah Suci. Mengapa ia memilih bersedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Para ulama mengatakan, karena ia melihat sedemikian dahsyatnya pahala sedekah setelah kematiannya.

Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Turmudzi, Ahmad, al-Baihaqi, an-Nasa`i, dishahihkan al-Albani).

Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah juga dapat melapangkan dadanya. Sehingga, ia dapat melepaskan nyawa dengan khusnul khatimah. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, sedekah memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk.” (HR Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Tirmizi).

Demikian juga, ketika seorang yang meninggal melihat api neraka yang siap menerkamnya, ia melihat amalan sedekah bisa menyelamatkannya dari api neraka. Inilah yang dipesankan Rasulullah SAW kepada istrinya Aisyah RA. “Wahai Aisyah, berlindunglah dari siksa api neraka walau dengan sebutir kurma.” (HR Ahmad, al-Bazzar, dan Ibnu Khuzaimah).

***********************

Begitulah dahsyatnya amalan sedekah. Sedekah  juga membuat hati kita tenteram dan bahagia. Tak percaya? Setiap kali kita telah melepaskan kesulitan orang lain, entah mengapa hati kita merasa senang dan bahagia. Bersedekah adalah salah satu cara melepaskan orang lain dari kesusahan hidup.

Janganlah kita enggan memberi sedekah kepada orang lain yang hidupnya berkesusahan. Orang yang pelit dan kikir digambarkan oleh Allah sebagai tangan terbelenggu. Tangan yang terbelenggu mengakibatkan keinginan untuk merogoh kocek dengan uang receh pun tidak bisa dilakukan. Padahal harta yang kita peroleh hanyalah titipan sementara di dunia, tidak akan dibawa mati. Justru yang dibawa mati adalah amalan sholeh kita sebagai teman kita di akhirat kelak.

Mohon ampuni kami, Ya Allah, jauhkan kami dari sifat kikir.

Written by rinaldimunir

August 13th, 2019 at 10:19 am

Posted in Agama,Renunganku

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 3 – Habis)

without comments

Woaaahhh….huff…selamat pagi Atambua! Pagi yang dingin sekali di Atambua. Setelah bermalam di hotel  (yang susah payah dicari semalaman untuk menemukan kamar yang kosong), saatnya sekarang berangkat ke Motaain. Jam 7 pagi kami memacu kendaraan kembali ke Motaain. Kenapa harus pagi-pagi, karena untuk urusan administrasi di perbatasan akan memakan waktu yang cukup lama, kira-kira satu jamlah, karena kita membawa kendaraan ke Timor Leste. Waktu satu jam itu sudah termasuk pemeriksaan di pintu perbatasan di sisi Timor Leste.

Di atas kendaraan yang dikendarai Daniel, saya mengamati lingkungan alam sekitar sepanjang perjalanan menuju Motaain. Adem sekali suasana di sisi kiri kanan jalan. Tidak banyak rumah saya lihat, hanya alam yang hening menyertai perjalanan. Satu hal yang paling menakjubkan bagi saya di tanah Timor adalah mataharinya. Matahari di sini bersinar sangat terang benderang bagaikan lampu sorot. Belum pernah saya lihat matahari seperti ini di Bandung atau di pulau Jawa. Begitu perkasa matahari di Pulau Timor. Matahari terlihat berukuran besar. Mungkin karena di Pulau Timor uap air sangat minim sehingga matahari bersinar tanpa ada penghalang. Langit terlihat super biru tanpa ada awan.

Kami berhenti sejenak di sebuah ketinggian. Dari sini tampakah negara Timor Leste. Itu negaranya, di balik bukit yang tampak di kejauhan. Tampak pula laut Timor secara samar-samar, seperti foto di bawah ini.

Dari kejauhan dibalik bukit itulah negara Timor Leste berada. Laut Timor tampak di kejauhan.

Jam 8.00 sampailah kami di pos perbatasan Motaain. Ternyata pintu pagar masih ditutup. Sebentar lagi kayaknya. Beberapa orang yang hendak menyeberang ke Timor Leste menunggu di luar seperti saya. Suasana di dekat pos perbatasan masih sepi.

Pintu perbatasan Motaain

Jalanan lengang di dekat pos perbatasan

Setelah menunggu selama setengah jam, pintu pagar pos perbatasanpun dibuka petugas. Kompleks pos perbatasan ini sangat luas. Di dalamnya banyak gedung baru dan terkesan megah.  Pemerintah Indonesia tampaknya membangun pos perbatasan laksana  bandara saja.

Berswafoto di dalam kompleks pos perbatasan

Bangunan di dalam kompleks pos perbatasan Motaain

Bagian informasi

Seperti halnya kalau kita mau pergi ke luar negeri, kita pun harus melewati pemeriksaan imgrasi. Dari Bandung saya memang sudah membawa paspor. Jadi, di sini kita mengisi kartu kedatangan lalu paspor kita dicap.

Pemeriksaan dokumen di imigrasi

Dalam sehari pos perbatasan Motaain melayani ratusan orang yang keluar masuk Indonesia dan Timor Leste. Mereka adalah para pelintas batas yang merupakan pedagang, pelajar, maupun penduduk lokal di kedua negara (maklum penduduk di masing-masing perbatasan masih bertalian darah). Untuk melintas batas kita harus membawa paspor dan membayar visa di pos Timor Leste.  Jenis visanya adalah Visa on Arrival yang biayanya  30 dollar. Sebaliknya, warga Timor Leste yang memasuki Indonesia tidak dikenai visa karena Indonesia menerapkan bebas visa untuk sejumlah negara termasuk Timor Leste.

Di ujung kompleks terdapat pos tentara Indonesia. Mereka berjaga-jaga di pintu keluar perbatasan mengamati orang-orang yang keluar masuk.

Pos tentara

Nah, di pintu keluar perbatasan terdapat sebuah jembatan. Jembatan ini menghubungkan tanah Timor Leste dan taah Indonesia. Sungai di bawah jembatan itulah yang memisahkan kedua negara. Uniknya, setengah dari jembatan itu dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itu terdapat  garis kuning yang menjadi batas kedua negara.

Jembatan yang menghubungkan tanah kedua negara

Setengah dari jembatan dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itulah garis batas kedua negara (garis kuning).

Saya melangkahkan kaki di garis kuning di atas jembatan ini. Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.  Wah, berati satu kaki saya sudah memasuki wilayah negara lain.

Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.

Setelah prosedur imigrasi dan bea cukai selesai, kendaraan kami melintasi jembatan itu. Akhirnya sampailah saya di negara Timor Leste meskipun baru di perbatasan saja. Selanjutnya kami memasuki pos perbatasan di sisi Timor Leste yang bernama Batugade. Tiba di sini semua tulisan sudah berganti dengan bahasa Porto, sudah hilang semua tulisan berbahasa Indonesia. Namun, sinyal Telkomsel masih terjangkau di sini, saya masih bisa berkirim kabar lewat Whatsapp dan meng-update status di Facebook.

Tanah Timor Leste diperbatasan

Selamat datang di Timor Leste

Pos perbatasan di Timor Leste bangunannya lebih sederhana dibandingkan pos di Motaain. Kesederhanaan itu mungkin mencerminkan negara Timor Leste yang taraf kehidupan rakyatnya yang masih bersahaja.

Tentara Timor Leste di depan pos perbatasan Batugade

Peta negara Timor Leste

Di pos Batugade kami melewati pemeriksaan imigrasi lagi dan membayar visa on arrival sebesar 30 dolar. Barang-barang kita diperiksa dan melewati detektor X-ray seperti halnya di bandara. Mobil dan isinya pun diperiksa.

Setelah beres pemeriksaan di pos Batugade, kendaraan kami meluncur keluar pos dan siap menuju kota Dili. Perjalanan dari pos perbatasan Batugade menuju kota Dili melewati pinggir pantai dengan pemandangan laut Timor yang indah. Perlu berhati-hati melewati ruas jalan karena di kirinya jurang yang dalam dengan laut di bawahnya. Hii..seram jika jatuh. Beberapa ruas jalan rusak parah, terutama beberapa ruas jalan peninggalan Indonesia, tetapi setelah melewati Liquica hingga Dili jalan aspal mulus. Dari pos perbatasan Baatugade kita akan melewati distrik Bobonaro dan Liquica sebelum sampai ke Dili.

Peta negara Timor Leste

Timor Leste adalah negara termiskin di dunia. Ngara ini tidak memiliki sumber daya alam kecuali hasil pertanian. Minyak di celah Timor belum dapat dinikmati negara Timor Leste.

Orang Timor Leste hidupnya sederhana, itu terlihat dari rumah-rumah mereka yang sederhana, sebagian masih rumah tradisionil beratap daun gowang.

Rumah-rumah tradisional beratap daun gowang sepanjang jalan di Bobonaro

Laut Timor menemani perjalanan menuju Dili

Seperti halnya di Atambua, matahari bersinar garang di bumi Lorosae. Matahari terlihat begitu besar dengan pancaran sinarnya yang menyala. Kami harus memburu waktu ke Dili karena kami harus bisa kembali ke pos perbatasan sebelum pukul 16.00 WITA (atau pukul 17.00 waktu Timor Leste. Waktu di Timor Leste mengikuti waktu WIT). Untuk mencapai kota Dili dari pos Batugade diperlukan waktu 2 hingga 3 jam dengan kendaraan.

Melewati jalan-jalan di Timor Leste maka kita dapat menyaksikan kehidupan penduduknya yang bersahaja. Anak-anak sekolah terlihat berjalan bersama-sama di pinggir jalan dengan riang gembira. Bangunan sekoalahnya seperti bangunan sekolah di kabupaten-kabupaten di Indonesia berupa bangunan memanjang. Bendera Timor Leste berkibar di rumah-rumah maupun sekolah. Tulisan-tulisan yang saya baca di pinggir jalan semuanya berbahasa Tetun atau bahasa Porto. Meskipun demikian, warga Timor Leste masih bisa berbahasa Indonesia.

Mereka memang miskin, tetapi seperti kata Pak Agustinus, warga Timor Leste tetap merasa bahagia dengan negara mereka yang sudah merdeka, tidak lagi dijajah oleh Indonesia.

Dikutip dari siniTimor Timur dijajah oleh Portugal pada abad ke-16, dan dikenal sebagai Timor Portugis sampai 28 November 1975, ketika Front Revolusi untuk Timor Leste Merdeka (FRETILIN) mengumumkan kemerdekaan wilayah tersebut. Sembilan hari kemudian, Indonesia melakukan invasi dan aneksasi terhadap Timor Timur dan Timor Timur dinyatakan sebagai provinsi ke-27 oleh Indonesia pada tahun berikutnya. Pendudukan Indonesia di Timor Timur ditandai oleh konflik yang sangat keras selama beberapa dasawarsa antara kelompok separatis (khususnya FRETILIN) dan militer Indonesia.

Pada tanggal 30 Agustus 1999, dalam sebuah referendum yang disponsori PBB, mayoritas rakyat Timor Timur memilih untuk lepas merdeka dari Indonesia. Segera setelah referendum, milisi anti-kemerdekaan Timor-Leste – yang diorganisir dan didukung oleh militer Indonesia – memulai kampanye militer bumi hangus. Milisi membunuh sekitar 1.400 rakyat Timor Timur dan dengan paksa mendorong 300.000 rakyat mengungsi ke Timor Barat. Mayoritas infrastruktur hancur dalam gerakan militer ini. Pada tanggal 20 September 1999, Angkatan Udara Internasional untuk Timor Timur (INTERFET) dikirim ke Timor Timur untuk mengakhiri kekerasan. Setelah masa transisi yang diorganisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara dan secara resmi merdeka dari Indonesia pada tanggal 20 Mei 2002. Sebelumnya bernama Provinsi Timor Timur, ketika menjadi anggota PBB, mereka memutuskan untuk memakai nama Portugis “Timor Leste” sebagai nama resmi.

Memasuki pedalaman Bobonaro ada kejadian yang membuat muka kami agak  pucat dan berasa khawatir. Jalan-jalan di Timor Leste lengang dari kendaraan, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Justru yang sering melintas adalah ternak seperti kambing dan babi. Daniel mengemudikan mobil cukup ngebut karena mengejar waktu ke Dili. Tanpa disadari seekor babi melintas menyeberang jalan dan kecelakaan pun tidak terhindarkan. Mobil melindas babi itu. Mati. Warga sekitar berlarian ke arah babi untuk melihat babi yang sekarat.

Mobil kami pun berhenti. Pak Agustinus dan Daniel berjalan menghampiri warga. Untungnya Pak Agustinus yang memang berasal dari Timor Leste dapat berbicara dengan bahasa Tetun. Dia berbicara kepada warga dan meminta maaf telah menabrak babi hingga tewas. Warga tampak mengerti karena babi memang sering lalu lalang menyeberang jalan. Kami mengganti harga babi yang mati itu dengan uang 100 dolar. Wah, menurut saya mereka “beruntung” sebab daging babi bisa mereka makan dan dapat uang 100 dolar pula. ?

Kami mengisi dulu di pom bensin di Bobonaro. Di pos bensin ini terdapat minimarket yang menjual berbagai makanan, sabun, sahampo, rokok, tidak ketinggalan bir dan wine. Ini wine impor dari Australia dan Portugis. Banyak dari barang yang dijual di sana berasal dari Indonesia. Timor Leste memang masih bergantung kepada Indonesia untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Pom bensin di Bobonaro

Ups…rumah makan Jawa Timur di dalam pom bensin

Pukul 13.00 siang akhirnya kami memasuki kota Dili. Karena waktu yang terbatas, maka kami hanya mengunjungi istana Perdana Menteri yang dulu pernah menjadi Kantor Gubernur Timor Timur. Istana yang cantik bekas peninggalan Portugis.

Welfie di sini

Pelabuhan Dili terhampar di seberang istana Perdana Menteri. Sebuah plaza di pinggir pantai menjadi tempat yang bagus untuk berjalan kaki menikmati laut dan kal-kapal yang berlabuh. Hmmm…saya membayangkan sore hari waktu yang pas untuk duduk-duduk di sini. Dua orang anak menghampiri saya menawarkan buah mangga yang telah dipotong-potong. Satu dolar saja, kata anak-anak itu. Tetapi saya tidak membawa uang dolar, jadi saya tidak bisa membelinya. Rupiah tentu tidak laku di sana.

Pelabuhan Dili di seberang istana

Pelabuhan Dili

Anak penjual mangga di pantai Dili. Mau beli, tapi uang rupiah tidak laku. 
Mereka cuma bisa bertransaksi menggunakan USD (Credit photo by Tutun Juhana)

Kami tidak bisa berlama-lama di Dili karena harus mengejar waktu kembali ke pos perbatasan di Batugade. Jika kami terlambat sampai ke pos perbatasan, pintu ditutup sehingga kami tidak bisa kembali ke Atambua hari itu, terpaksa harus kembali lagi ke Dili. Jadi, rencana melihat patung Yesus raksasa, rumah uskup Bello, rumah Xanana Gusmao pun tidak kesampaian. Bahkan rencana saya untuk shlat Dhuhud di Masjid An-Nur Dili pun tidak sempat karena waktu yang kasip. Secara berkelakar teman saya berkata kita nanti melewati rumah Raul Lemos, suami penyanyi Krisdayanti.

Beberapa foto yang saya abadikan merekam suasana kota Dili dan aktivitas pasar yang masih tradisionil.

Pasar kakilima

Angkot

Universitas Nasional Timor Lorosae

Demikianlah kunjungan singkat saya yang hanya satu jam berada di kota Dili. Benar-benar singkat dan belum bisa mengeksplorasi lebih jauh tempat-tempat menarik di Dili. Mungkin nanti jika ada kesempatan saya kembali lagi ke Dili.

Written by rinaldimunir

July 26th, 2019 at 4:24 pm

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 2)

without comments

Kami sampai pintu perbatasan di Motaain pukul 16.00. Yah, sudah tutup, tidak bisa menyeberang ke Timor Leste hari ini. Padahal kami ingin bermalam di kota Dili lalu melihat sunrise di Bumi Lorosae itu. Meskipun agak kecewa, kami berbalik kembali ke Atambua. Sebelum balik kami melapor terlebih dahulu di Polres Belu Sektor Motaain untuk menitipkan STNK mobil.

Perjalanan kembali ke Atambua tidak melewati jalan semula, tetapi melewati jalur jalan di pinggir pantai. Kami menikmati pantai Motaain di perbatasan Kabupaten  Belu dengan Timor Leste. Pantai yang sepi berpadu dengan langit biru yang super bersih tanpa awan dan polusi. Jika berjalan terus menyusuri pantai ke arah timur mungkin kita sampai ke kota Dili.

Pantai Motaain

Jalan aspal dari pinggir pantai menuju Atambua sepi dari kendaraan. Namun yang membanggakan adalah hampir semua jalan di Pulau Timor beraspal mulus. Melintasi jalan raya di sini kala sore dan pagi hari kita disuguhi pemandangan khas Pulau Timor yaitu bukit-bukit gersang berwarna kemerahan dengan tanaman perdu yang tumbuh di atasnya.

Jalan beraspal mulus di Kabupaten Belu

Setelah beristirahat di pantai Motaain, kami meneruskan perjalanan ke arah Atambua. Di tengah perjalanan kami melintasi pelabuhan Atapupu. Ini adalah pelabuhan antar pulau di Kabupaten Belu. Barang-barang kebutuhan di Atambua (termasuk untuk Timor Leste) diangkut dari Surabaya ke pelabuhan ini.

Pelabuhan Atapupu

Sore itu tampak langit di Pulau Timor benar-benar biru bersih tanpa awan. Matahari bersinar dengan perkasa. Sebuah kapal sedang memuat sapi dan rumput. Sapi-api itu itu akan dikirim ke Kalimantan untuk Hari Raya Idul Adha nanti.

Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Ataupu

Pelabuhan Atapupu yang hening dengan laut yang sangat bersih

Hari sudah benar-benar sore. Sebelum masuk ke Atambua, singgahlah kami terlebih dahulu di bendungan Rotiklot Kabupaten Belu yang diresmikan presiden beberapa waktu yg lalu. Bendungannya belum berisi air dan saat itu pengunjung masih dilarang masuk. Matahari terlihat menuju peraduannya dikala sunse. Benar-benar pemandangan sore yang menawan di negeri yang hening.

Pintu masuk ke bendungan Rotiklot

Akhirnya kami sampai kembali ke kota Atambua. Ada beberapa hotel di kota ini, baik kelas melati maupun hotel bintang dua. Kami agak kesulitan mencari kamar hotel yang kosong malam itu. Hampir semua hotel penuh. Maklum ini hari Sabtu. Pada akhir pekan banyak warga Timor Leste datang ke Atambua dan mereka menginap di hotel-hotel itu. Mereka pergi ke Atambua selain untuk menengok saudaranya (maklum orang Timor Leste masih bertalian darah dengan orang Timor bagian barat), mereka umumnya memborong barang kebutuhan sehari-hari di Atambua. Barang-barang di Atambua lebih murah dibandingkan dengan harga di Dili. Warga Timor Leste membawa uangnya dalam bentuk dollar Amerika (mata uang imor Leste adalah US $), ketika di-kurs ke rupiah di Atambua nilainya jadi besar. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

July 25th, 2019 at 2:03 pm

Posted in Cerita perjalanan