if99.net

IF99 ITB

Beda Hari Raya Idul Adha (lagi)

without comments

Tahun ini terjadi perbedaan hari raya Idul Adha di Arab Saudi dan di Indonesia. Pemerintah Saudi menetapkan tanggal 10 Zulhijjah jatuh pada hari Sabtu 9 Juli 2022, sedangkan Pemerintah Indonesia pada hari Minggu 10 Juli 2022 (kecuali Muhammadiyah menetapkan Hari Raya Idul Adha pada hari Sabtu, sama dengan Saudi). Dua-duanya benar karena masing-masing pihak punya alasan dan dalil yang sama kuat.

Yang menjadi pertanyaan, lalu puasa sunnah Arafah pada hari apa? Hari Jumat atau Sabtu? Di Saudi hari wukuf di Arafah (9 Zulhijjah) jatuh pada hari Jumat, sedangkan di RI dan ASEAN tanggal 9 Zulhijjah jatuh pada hari Sabtu.

Bagi yang meyakini puasa Arafah pada saat wukuf di Arafah maka mereka melaksanakan puasanya pada hari Jumat, sama seperti di Saudi. Sedangkan bagi yang mengikuti ketetapan Pemerintah maka ia akan puasa Arafah pada hari Sabtu.

Saya memilih yang terakhir, yaitu pada hari Sabtu, ikut ulil amri saja. Alasannya, puasa Arafah itu adalah pada tanggal 9 Zulhijjah, dan tanggal 9 Zulhijjah itu di negara RI dan ASEAN ditetapkan pada hari Sabtu.

Jika meyakini puasa Arafah pada saat wukuf di Arafah (yaitu hari Jumat nanti), maka negara-negara yang waktunya 10 jam lebih lambat dari Saudi (misalnya di Amerika, CMIIW), maka mereka tidak akan pernah bisa puasa Arafah, sebab saat itu di negara mereka masih malam,dan jika mereka puasa Arafah pada keesokan harinya, maka wukuf di Arafah di Saudi sudah selesai.

Begitulah logika saya yang awam tentang agama. CMIIW. Maunya sih hari raya itu tidak ada perbedaan hari, inginnya serentak dan sama, bersatu gitu, baik NU, Muhammadiyah, maupun Pemerintah. Tapi perbedaan pendapat seperti ini sudah cukup sering berlangsung sejak zaman dulu, dan untunglah orang Islam di Indonesia tidak pernah mempersoalkan perbedaan hari raya itu. Mau duluan satu hari atau dua hari, mau telat satu hari atau dua hari, biasa-biasa saja. Silakan meyakini pilihan mana yang dianggap benar.

Written by rinaldimunir

July 5th, 2022 at 1:07 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Inspirasi dari Prof. Hariadi P. Soepangkat (alm)

without comments

Prof. Hariadi Paminto Soepangkat sudah dua tahun yang lalu wafat. Beliau adalah dosen Fisika ITB sekaligus mantan Rektor ITB. Sewaktu saya menjadi mahasiswa ITB, rektor ITB dijabat oleh Prof. Hariadi.

Secara pribadi saya tidak mengenal Prof Hariadi. Saya hanya tahu dia adalah rektor saya. Itu saja. Pun, saya tidak pernah diajar Fisika Dasar oleh Prof Hariadi ketika tahap TPB dulu.

Hari ini saya mendapat kiriman tulisan yang ditulis oleh Jansen Sinamo, salah satu mahasiswa Departmen Fisika ITB yang pernah menjadi murid Pak Hariadi. Tulisannya sangat berkesan bagi saya, sebab dari ceritanya itu saya mendapat gambaran seperti apa sosok Prof Hariadi dalam mengajar. Sungguh Prof Hariadi adalah seorang yang sangat inspirasional. Semoga saya bisa mencontoh hal yang positif ini dari Prof Hariadi dalam mendidik mahasiswa saya di ITB. Saya bagikan tulisan dari Jansen Sinamo ini kepada pembaca.

Prof. Hariadi P. Soepangkat (Sumber: Tempo)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bandung, 1980

Pada sebuah ruang kuliah bangunan Belanda di ITB

Sekitar dua puluh menit setelah kuliah Fisika Kuantum berlangsung, usai menggambar orbit-orbit lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis, tiba-tiba dipanggilnya nama saya.

“Saya, Pak,” jawab saya terkejut sambil mengangkat tangan.

Beliau lalu menanyakan kota asal saya. Saya katakan berasal dari Sidikalang. Langsung beliau ingat dengan seorang kawannya, Andi Hakim Nasution dari IPB konon daerah saya terkenal dengan kopinya.

Sambil menuruni panggung kuliah yang rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati saya di barisan depan.

“Dari Medan, berapa kilometer jauh, dan berapa ongkosnya?”

“Seratus lima puluh kilometer, dengan ongkos bus lima ribu rupiah, Pak”

“Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?”

“Berastagi, Pak.”

Sesudah kembali ke panggung, sambil memandang semua mahasiswa, Pak Hariadi berkata, “Kira-kira inilah yang dimaksud dengan energi ambang. Jika uang Saudara Jansen Sinamo cuma tiga ribu, ia tidak akan sampai ke Medan. Lima ribu adalah uang ambang yang diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang.”

“Demikian pula elektron: ia butuh energi ambang, yaitu energi minimum yang harus ia miliki untuk pindah ke orbit yang lebih tinggi.”

Dengan cara mengajar yang menarik tersebut, membuat saya kagum dan senang dengan mata kuliah Fisika Kuantum yang disampaikan oleh Doktor lulusan Universitas Purdue tersebut. Selain Teori Relativitas Umum, mata kuliah tersebut adalah mata kuliah bergengsi dengan nilai kredit empat.

Rupanya cara mengajar beliau itu berpengaruh besar terhadap prestasi saya.

Sejak saat itu, rasa suka saya pada Pak Hariadi Paminto Soepangkat kian berlipat ganda. Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada Fisika Kuantum. Singkat cerita, pada ujian akhir semester saya mendapat nilai A. Bagi saya, hal ini sungguh tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di antara angkatan 1978 lainnya, saya adalah mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai saya C, beberapa B, tapi nilai A sungguh sangat sedikit.

Tapi, mendapat A untuk Fisika Kuantum rasanya selangit. Buat saya, hal itu setara dengan nilai A untuk sepuluh mata kuliah lain. Fisika Kuantum adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan Fisika, dan kreditnya maksimum: empat.

Mengapa saya mendadak jadi sangat pintar? Saya akhirnya menyadari bahwa itu semua dikarenakan cara mengajar Pak Hariadi yang, buat saya, luar biasa.

Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum kuliah dimulai. Sedangkan hampir semua mata kuliah lain, mahasiswanya yang menunggu dosen. Pak Hariadi sebaliknya.

Pak Hariadi selalu tampil necis. Beliau juga selalu memastikan kelasnya bersih. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain lap basah yang dibawanya. Ada tiga papan tulis besar di kelas kami. Dibersihkannya dulu papan tulis ketiga saat ia mulai memakai papan tulis pertama, sehingga papan tulis ketiga itu sudah kering saat ia akan memakainya. Demikian seterusnya sampai kuliahnya yang berdurasi 120 menit itu selesai.

Selama lima tahun masa perkuliahan saya, tidak pernah saya bertemu dengan dosen lain yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak Hariadi.

Pak Hariadi juga pekerja cepat. Jika hari ini diadakan ujian, esok harinya jawaban soal-soal sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika, hanya Pak Hariadi yang mampu dan cukup disiplin untuk berbuat demikian.

la pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Ia mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan, seperti saya sebelumnya, setiap mahasiswa yang disebut namanya diajaknya berinteraksi. Dari interaksi pendek tersebut, keluarlah ilustrasi yang menjelaskan konsep Fisika Kuantum. Ilustrasi yang membumi tersebut tidak hanya sangat menolong. Dalam tataran psikologis, mahasiswa juga merasa dilibatkan, bahkan dijadikan bintang dalam momen pendek tersebut. Tak pelak, kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi. Fisika Kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik untuk ditelusuri.

Pak Hariadi bukanlah tipe dosen yang merasa puas jika kuliahnya sukar diikuti. la bukan tipe pengajar yang berbahagia melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu jadi takut dan jeri pada pelajarannya. Tak ada sedikit pun perangai galak padanya, apalagi killer. la memenuhi ciri orang cerdas menurut Albert Einstein: orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit menjadi mudah, sedangkan orang bodoh malah membuat perkara mudah menjadi sukar. Fokus keguruan Pak Hariadi adalah membantu mahasiswanya memahami pelajaran dengan mudah, supaya tumbuh gairah dan kecintaan pada pelajaran tersebut. Jadi, sebenarnya tidak terlalu mengherankan jika saya bisa dapat nilai A.

Saat liburan ke Sidikalang, sensasi nilai A itu masih terbawa. Tak tahan, saya menulis surat kepada pak Hariadi mengucapkan rasa syukur dan terimakasih dan apresiasi saya terhadap cara beliau mengajar.

Dengan cepat surat itu dibalasnya, yang mengatakan dari 30 mahasiswa yang mendapat nilai A, hanya saya yang berkirim surat. Beliau juga mengucapkan terimakasih atas apresiasi saya. Di penutup surat, usai menitipkan salam kepada orang tua saya, beliau mengundang saya untuk datang ke kantornya usai liburan.

Saya ceritakan hal itu kepada orangtua, dan mereka lalu menitipkan ulos, selain kopi Sidikalang yang pernah beliau sebut saat perkuliahan.

Sampai di Bandung, saya pun menghadap ke kantor Dekan F-MIPA. Di ujung percakapan, tanpa saya duga Pak Hariadi meminta agar saya bersedia menjadi asistennya untuk semester berikut. Terhenyak saya. Tubuh saya mendadak ringan seperti kapas di awang-awang. Tanpa pikir panjang, tawaran itu segera saya sambut.

Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa cinderamata ulos, dia sempat tertegun lalu berkata, “Wah, istri saya harus ikut bersama saya menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat tinggi.” Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi di bilangan Sangkuriang, saya menjadi tamu keluarga. Saya diundang untuk makan malam dan bercakap-cakap dengan akrab. Dalam momen itulah saya menyerahkan ulos dan kopi Sidikalang.

Hingga saya tamat kuliah pada akhir 1983-saat itu Pak Hariadi sudah menjabat sebagai Rektor ITB-saya membantunya sebagai asisten kuliah Fisika Kuantum. Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya merupakan salah satu pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting untuk saya selama kuliah di ITB Bandung.

Andai semua guru Matematika, Fisika, dan Kimia di semua SMA di negeri ini sanggup mengajar seperti Pak Hariadi, niscaya semua mata pelajaran sulit itu tidak akan menjadi momok untuk generasi muda kita. Malah, Matematika dan Sains akan menjadi mata pelajaran favorit.[]

Sumber: Buku 8 Etos Keguruan Jansen Sinamo

Written by rinaldimunir

June 25th, 2022 at 2:51 pm

Hari gini mahasiswa belum punya paspor?

without comments

Suatu siang saya ngobrol-ngobrol dengan mahasiswa bimbingan TA yang akan wisuda bulan Juli nanti.

+ Sudah punya paspor?

Belum, pak.

+ Hah, hari gini mahasiswa belum punya paspor? Udah mau lulus lagi.

Iya pak, belum terpikir

+ Katanya kamu udah diterima bekerja di perusahaan X tersebut. Kalau tiba-tiba kamu ditugaskan ke Singapore atau ke India, bagaimana? Kamu belum punya paspor. Tidak cepat lho mengurus paspor itu, tidak bisa mendadak dua hari sebelum pergi.

Banyak dari mahasiswaku yang tingkat akhir, dan sebentar lagi akan wisuda, sudah mendapat pekerjaan tetap sebelum lulus. Perusahaan tempat mereka bekerja rata-rata perusahaan ternama dengan gaji wah. Ada yang di Jakarta, Singapura, Jepang, dan lain-lain. Kalau mahasiswa yang sudah pasti dapat pekerjaan di luar negeri tentu sudah mengurus paspor. Tapi bagi yang bekerja di dalam negeri juga sudah seharusnya memiliki paspor, karena ada kemungkinan tiba-tiba mendapat tugas ke luar negeri. Tanpa paspor tentu orang tidak bisa menyeberangi perbatasan.

Saya jadi teringat tulisan Rhenald Kasali tentang paspor (pernah saya tulis pada postingan ini: Passport, Tiket Untuk Melihat Dunia (Tulisan Inspiratif dari RhenaldĀ Kasali). Paspor adalah surat izin untuk memasuki dunia global. Tanpa paspor, kita tidak bisa pergi ke mana-mana. Mau jalan-jalan ke luar negeri, mau sekolah atau magang di LN, mau pergi dinas, mau pergi umrah dan haji, tentu membutuhkan paspor.

Dulu saya berpikiran membuat paspor itu membutuhkan waktu setidaknya satu minggu, mulai dari memasukkan berkas persyaratan, antri wawancara, sesi foto, sampai mendapat paspor yang berupa buku setebal buku nikah. Tetapi sekarang ada e-paspor yang lebih cepat lagi prosesnya. Malah saya baru tahu kalau sekarang juga bisa membuat paspor dalam waktu sehari saja, yang tentu saja biayanya lebih mahal (tiga kali lipat). Baca: Cara Membuat Paspor dalam Waktu Satu Hari.

Jadi, sudah saatnya mahasiswa mengurus paspornya mulai dari kini. Siapa tahu tiba-tiba Anda mendapat kesempatan magang atau pertukaran pelajar di luar negeri, atau sekedar refreshing saja menjadi turis backpacker ke negara tetangga.

Ngomong-ngomong paspor saya sudah habis masa berlakunya dan harus diperpanjang lagi. Ke kantor imigrasi dulu ah…

Written by rinaldimunir

June 16th, 2022 at 11:06 am

Oleh-oleh dari Kampung dari Mahasiwa Bimbingan

without comments

Suatu hari mahasiswaku datang mau bimbingan Tugas Akhir (TA). Dia membawa oleh-oleh dari kampung halamannya. Kebetulan saat itu baru selesai libur lebaran dan kampus sudah buka kembali.

“Ini buat bapak”, katanya, sambil menyerahkan sebuah plastik keresek berisi kue khas kampung halamannya.

Saya tahu niat baiknya, tulus, namun saya tidak bisa menerimanya karena dia masih dalam penilaian saya. Dia mahasiswa bimbingan saya, nilai tugas akhirnya tergantung dari saya.

“Bagikan saja buat teman-temanmu di kosan ya”, kata saya sambil tersenyum. Saya tidak ingin menyakiti perasaannya, jadi oleh-oleh tersebut tetap bermanfaat bagi teman-temannya di kos-kosan. Alhamdulillah, dia bisa memahami dan mengerti sikap saya tersebut. Akhirnya bimbingan TA pun dilanjutkan kembali tanpa terganggu dengan kejadian tadi.

Meskipun saya tahu ini adalah budaya keramahtamahan bangsa kita, yaitu sering membawa oleh-oleh ketika bertamu, namun menurut saya momennya tidak tepat.

Saya pun paham mereka memberi itu tidak punya maksud apa-apa sih, tetapi prinsip tidak menerima pemberian apapun dari orang yang berada di bawah tanggung jawab kita, di bawah penilaian kita, harus diterapkan. Dengan demikian kita tidak punya beban dalam menilai mereka. Tidak terikat dengan pemberian yang pernah mereka berikan.

Saya tidak akan menyebut itu gratifikasi atau pun istilah lainnya. Selama mahasiswa masih terikat dengan saya, saya tidak mau menerima apapun dari mereka.

Sebaiknya mahasiswa tidak usah memberi kami apa-apa. Menurut saya itu sikap yang terbaik agar kami tidak serba salah menanggapinya.

Written by rinaldimunir

June 3rd, 2022 at 10:49 am

Posted in Pengalamanku

Tegak lurus yang tidak tepat

without comments

“Kita harus tegak lurus mengikuti arahan Ibu Ketua Umum”, kata Puan Maharani kepada kader partai PDIP (Berita: “Puan Bertekad PDIP Hattrick Menang Pemilu, Kader Tegak Lurus Megawati” )

“Golkar selalu tegak lurus pada peraturan,” kata Nurul Arifin dalam keterangannya, Senin (11/4/2022).
Nurul menyampaikan selama ini Golkar selalu mengikuti aturan terkait Pemilu, termasuk Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. (Berita: “Dukung Pemilu 2024, Nurul Arifin: Golkar Selalu Tegak Lurus pada Aturan” )

Relawan Jokowi Plat K meneguhkan sikap mendeklarasikan untuk tegak lurus setia 2024 bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi), dalam acara Silahturahmi Daerah (Silatda) eks karesidenan Pati Plat K yang terdiri dari Kabupaten Pati, Rembang, Grobogan, Blora, Kudus, Jepara. (Berita: Relawan Plat K Tegak Lurus Setia Bersama Jokowi hingga 2024)

“Menteri-menteri harus tegak lurus dengan kebijakan presiden”, kata seorang pengamat politik dalam penjelasannya di Jakarta kemaren.”

Saya sering mendengar dan membaca pernyataan seperti itu, kata tegak lurus. Ini pengunaan istilah matematika yang tidak tepat. Kenapa digunakan istilah “tegak lurus”? Bukankah tegak lurus itu berarti berbeda 90 derajat? Satu ke barat satu ke utara, atau satu ke timur ssatu ke selatan. Berarti tidak sejalan kalau begitu. Ibarat dua vektor yang ortogonal, hasil kali titiknya sama dengan 0. Saling meniadakan.

Istilah yang tepat adalah “paralel” yang berarti “searah” atau “sejalan”, jadi tidak ada perbedaan. Atau “selaras”, “sinkron”, dan sebagainya. Tererah pakai istilah yang mana yang lebih pas.

Jadi, seharusnya:

“Kita harus sejalan mengikuti arahan Ibu Ketua Umum” atau “Kita harus selaras mengikuti arahan Ibu Ketua Umum”

“Golkar selalu searah pada peraturan,” atau “”Golkar selalu paralel pada peraturan,””

“Menteri-menteri harus selaras dengan kebijakan presiden” atau “Menteri-menteri harus sejalan dengan kebijakan presiden”

Written by rinaldimunir

May 18th, 2022 at 12:40 pm

Posted in Gado-gado

Di dalam doa anakku, namaku disebut

without comments

Si bungsu (yang masih SMP) setiap selesai sholat, baik sholat sendiri maupun sholat berjamaah di rumah ata di masjid, selalu berzikir dan berdoa cukup lama. Beda dengan diriku yang bezikir dan berdoa sebentar lalu cepat berdiri setelah sholat. Jadi malu sendiri dengan anakku ?

Karena sering lama seperti itu, maka suatu kali, setelah selesai berdoa, saya pun iseng bertanya kepadanya.

Apakah ada kamu selipkan ayah dan ibumu di dalam doamu, Nak?, tanyaku kepadanya.

Ada, jawabnya pendek.

Alhamdulillah, di dalam doa anakku namaku disebut (pinjam judul lagu penyanyi cilik, Nikita, Didoa Ibuku Namaku Disebut).

Tissu mana tissu. 😢

Tentu saja saya merasa terharu. Saya tidak pernah meminta dia mendoakan kami, tidak pernah menyuruh. Mungkin dia dapat ilmu itu dari guru agama di sekolah, atau dari guru mengajinya di TPA waktu masih SD dulu? Entahlah…

Salah satu kebahagiaan orangtua jika mereka sudah tiada nanti di dunia ini adalah doa anak yang sholeh yang mendoakan ibu-bapaknya. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim berbunyi begini (dikutip dari sini):

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim).

Jadi, meskipun kita nanti sudah tidak ada di dunia ini, sudah dipanggil oleh Allah SWT, amal pahala kita masih terus mengalir dari sedekah jariyah yang pernah kita berikan selama di dunia, dari ilmu yang bermanfaat yang pernah kita ajarkan kepada orang lain, dan jika tidak ada keduanya, maka minimal dari anak sholeh yang selalu mendoakan kita.

Saya tahu hadis ini sejak kecil. Dulu ketiak ibu bapak saya masih hidup, saya sering mendoakan mereka setiap selesai sholat, Sekarang pun, meski saya sudah yatim piatu (sudah tidak punya kedua orangtua lagi), namun saya tetap selalu mendoakan mereka yang sudah berada di alam sana setiap selesai sholat. Doa apakah itu? Doa memohon kepada Allah SWT untuk mengampuni kedua orangtuaku.

Mudah-mudahan anak-anakk selalu menyelipkan nama kami di antara doa-doanya. Harta yang paling berharga adalah anak yang sholeh, bukan?

Written by rinaldimunir

May 15th, 2022 at 8:22 pm

Posted in Agama

Hujan dan Jemuran Mahasiswa Kos

without comments

Saat mengajar di kelas, tiba-tiba hujan deras turun. Semua mata mahasiswa menoleh ke arah jendela, melihat hujan turun dengan lebatnya. Terlihat sebagian mereka agak gelisah. Mungkin gelisah memikirkan bagaimana pulang ke kosan nanti?

Saya pun bertanya kepada mereka:

+ Kenapa kalian tampak gelisah? Ingat jemuran di kosan basah kuyup ya?

Semua mahasiswa tertawa. Hahaha…

Saya pun bercerita. Dulu saat saya jadi mahasiswa ITB, saya biasa mencuci pakaian sendiri, baik waktu ngekos maupun saat tinggal di asrama mahasiswa ITB. Tiga hari sekali mencucinya. Ditumpuk dulu semua pakaian kotor di dalam keranjang. Nggak repot-repot amat mencucinya, cukup direndam di dalam ember dengan deterjen Rinso. Rinso kan mencuci sendiri (demikian bunyi tagline iklan Rinso zaman itu) 🙂 . Biarkan rendaman cucian selama satu jam, kucek-kucek, lalu bilas. Setelah diperas, dijemur di atas atap kosan (ada tali jemuran di atas atap), kemudian ditinggal pergi kuliah. Sore atau siang sepulang kuliah jemuran sudah kering.

Nah, apesnya saat sedang asik kuliah di kampus, tiba-tiba hujan turun. Saya yang sedang mendengarkan dosen menerangkan kuliah langsung buyar fokusnya, teringat cucian di jemuran tadi, pasti basah lagi. Siapa yang mengangkat jemuran saya nih? Apakah ada teman yang sedang berada di kosan mau membantu mengangkatnya sebelum hujan? Hihihihi…kalau semua teman kosan juga sedang di kampus, apes deh, nggak selamat jemuran saya.

Kalau semua pakaian basah dan tidak punya persediaan yang kering lagi, terpaksa deh saya pakai CD side A side B. Hahahaha…

Namun ketika saya dan teman-teman satu alumni SMA mengontrak rumah ramai-ramai, maka saya tidak lagi mencuci sendiri. Kami mengambil pembantu yang dipanggil bibi. Bibi ini umumnya warga sekitar rumah kontrakan kami. Kami iuran per orang per bulan untuk menggaji bibi. Selain mencuci baju dan menyetrika pakaian kami, bibi bertugas berbelanja ke pasar, memasak dan menyiapkan sarapan untuk kami. Kami tinggal belajar dan kuliah saja, tidak pusing urusan mencuci dan makan lagi. Tetapi tinggal bersama dalam satu kontrakan hanya setahun saja, setelah itu kami berpisah dan kos sendiri-sendiri. Saya pun mulai mencuci sendiri lagi.

Kalau mahasiswa kos zaman sekarang apa masih ada yang mencuci sendiri ya? Sekarang kan serba mudah, jika malas mencuci, cukup cuci pakaian di tempat laundry saja. Laundry ada di mana-mana. Murah lagi, sebab hitungannya per kilo pakaian. Nggak perlu resah jika hujan turun saat sedang di kampus.

Written by rinaldimunir

April 29th, 2022 at 6:36 pm

Posted in Pengalamanku

Nasi Goreng Ibu

without comments

Anak saya yang bungsu, kalau mau sarapan pagi seringkali minta nasi goreng. Nasi goreng ibu, katanya. Kalau ibunya yang membuatkan nasi goreng maka biasanya makannya habis. Namun jika saya yang memasakkan nasi goreng maka seringkali tidak habis dimakannya, selalu saja bersisa. ?

Padahal bumbu nasi goreng yang saya dan istri gunakan sama, bumbu sederhana saja, yaitu bumbu racik instan dari Indofood. Cara memasaknya juga sama, yaitu panaskan satu sendok margarin blue band di atas teflon, masukkan telur, aduk-aduk, campurkan nasi, tambahkan garam, udah gitu aja.

Nasi goreng minimalis untuk si bungsu

Mungkin beda tangan dan sentuhan bisa beda rasa ya nasi gorengnya. Mungkin juga faktor hubungan batin ibu dan anak membuat masakan jadi lebih enak kali ya. Ibu memasak dengan kasih, ayah memasak dengan cinta. (Eh, sama aja ya.. 🙂 )

Menurut saya, di rumah kita memang seharusnya ada sesuatu seperti masakan kesukaan anak buatan orangtuanya yang akan dirindukan oleh anak kita saat mereka jauh dari rumah nanti. Membuat mereka rindu rumah dan kangen dengan masakan ibu/ayahnya. Membuat mereka rindu untuk pulang.

Sama seperti kita orang dewasa, kita pun sering merasa kangen dengan masakan orangtua kita saat kita berada jauh di negeri orang. Rindu masakan yang dulu sering dibuat oleh ibu saat kita kecil. Orangtua kita tahu betul apa makanan kesukaan kita, dan saat kita pulang ke rumah masakan itulah yang dicari atau diminta buatkan, atau bahkan tanpa diminta orangtua kita sudah menyiapkan masakan itu ketika kita pulang ke rumah.

Jadi, penting bagi orangtua untuk mengingat apa yang menjadi kesukaan anak kita saat mereka masih tinggal di rumah. Mungkin kita kadang-kadang jengkel karena anak merengek-rengek minta dibuatkan makanan kesukaanya. Jangan merasa mersa repot dan cape mengurus anak, sebab masa-masa mengasuh anak itu hanya sekali saja dalam seumur hidup. Sebelum nanti kita menyesal karena telah melewatkan masa-masa yang berharga itu sehingga tidak meninggalkan kenangan manis pada anak kita.

Written by rinaldimunir

April 24th, 2022 at 2:40 pm

Posted in Pengalamanku

Kabar Bahagia dari Mahasiswaku

without comments

Seorang guru atau dosen di manapun pasti merasa bahagia mendengar muridnya berhasil dalam pendidikan atau karirnya. Meski bukan suatu keharusan bagi mereka memberi kabar bahagia, namun adakalanya beberapa mahasiswaku mengirim kabar bahagia melalui surel atau pesan di whatsapp. Sekedar berbagi kabar gembira itu, mungkin.

Seperti dua kabar berikut ini.

Yth.

Bp. Rinaldi Munir

di tempat

Dengan hormat,

dengan diselenggarakannya acara wisuda pada hari ini, saya, …….. (nama sengaja dirahasiakan, Red) — yang juga merupakan mahasiswa perwalian Bapak sewaktu S1 — hendak mengucapkan terima kasih. Saya berterima kasih atas bimbingan Bapak selama 3 tahun saya berkuliah di informatika ITB. 

Selain itu, seperti yang mungkin sudah Bapak ketahui, saya akan melanjutkan studi PhD ke University of Trento. Terkait hal tersebut, Bapak merupakan orang pertama yang saya mintai pendapat terkait profesi dosen, yang tentunya berperan dalam keputusan saya apply studi lanjut. Saya berterima kasih atas pendapat/ referensi/ nasihat yang Bapak berikan pada waktu itu.

Akhir kata, saya juga mohon maaf apabila selama menjadi mahasiswa perwalian Bapak ada kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya berdoa agar Bapak sehat selalu dan terus menginspirasi.

Alhamdulillah, saya ikut senang membaca surat tersebut. Sejak dia kuliah di Informatika ITB, saya tahu sekali dia seorang anak perempuan yang sangat cerdas. Kalau duduk selalu paling depan di ruang kuliah, mendengarkan dosen menjelaskan materi kuliah dengan seksama, sekali-sekali dia mencatat pada buku catatannya. Tekun sekali. Kalau berpapasan dengan dosen di jalan dia selalu menyapa dengan santun. Setela menempuh program fastrack (S1 dan S2 sekaligus) di ITB selama 4 + 1 tahun, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke level pendidikan yang lebih tinggi, S3, di Italia.

Ah, bahagia sekali mendengarnya….

Kabar bahagia kedua saya terima baru-baru ini dari seorang mahaisswa saya yang pernah menjadi asisten lab. Dia mengabarkan melalui aplikasi perpesanan, whatsapp:

+ Assalamu’alaikum Pak Rinaldi, selamat sore. Semoga Bapak sehat selalu.

+ Pak Rinaldi, saya mohon izin update terkait status pendaftaran program PhD saya

+ Alhamdulillah, saya menerima 6 Letter of Acceptance dari 14 kampus yang saya daftar : University of Illinois Urbana Champaign, Purdue, Penn State, UC Santa Barbara, Virginia Tech dan SUNY Stony Brook

+ Syukur juga Pak saya diterima di pilihan pertama saya (Illinois), jadi Insya Allah saya akan lanjut PhD di Illinois

+ Untuk program PhD di Illinois dijamin funded selama keberlangsungan programnya Pak. Jadi, saya tidak perlu untuk apply beasiswa semacam LPDP/Fullbright.

+ Insya Allah saya akan berangkat ke US bulan Juli/Agustus tahun ini.

+ Terima kasih banyak Pak atas bantuan dan bimbingannya selama studi saya di ITB 🙏🙏

Alhamdulillah. Saya merasa ikut senang dan terharu. Mudah-mudahan dia sukses menempuh studi PhD di kampus yang diidamkannya di Amerika. Seperti mahasiswiku di atas, saya mengenalnya sebagai mahasiswa yang antusias belajar. Duduk selalu paling depan di ruang kuliah. Sejak menjadi mahasiswaku, sudah terlihat ketertarikannya dalam bidang keilmuan. Karena minatnya yang kuat dengan keilmuan dan riset, saya memilihnya menjadi asisten mata kuliah yang saya ampu. Sekarang dia berjodoh dengan program PhD di Amerika dan akan melakukan riset di sana.

Dari kedua tulisan (surel maupun whatsapp) yang dikirim kepada saya itu, terlihat sekali adab mereka yang sangat baik. Betul kata orang-orang bijak, dalam menuntut ilmu kepada guru, adab dulu yang didahulukan, baru ilmu. Beruntunglah kami memiliki mahasiswa-mahasiswa yang tidak hanya cerdas tetapi juga baik etikanya.

Itu hanyalah beberapa kabar bahagia yang saya terima dari mahasiswa-mahasiswa saya. Masih banyak lagi, semuanya terekam dengan jelas dalam ingatan saya.

Murid harus lebih maju dari gurunya. Mahasiswa harus lebih pintar dari dosennya. Mereka berhasil, kami pun ikut bahagia.

Written by rinaldimunir

April 17th, 2022 at 11:39 am

Serumah dengan Pasien Covid

without comments

Tiga minggu lalu, hari Jumat sore, istri saya pulang dari Surabaya. Sehari setelah tiba di rumah dia biasa-biasa saja. Tapi tiga hari kemudian, hari Senin, dia mulai merasa tidak enak badan. Malam hari badan terasa demam. Keesokan harinya tenggorokan dan kerongkongan mulai terasa sakit, susah menelan makanan. Batuk pun mulai terdengar satu satu. Jangan-jangan…., ya jangan-jangan positif. Kata positif dulu untuk kehamilan, sekarang berganti untuk kasus covid. Dulu saat awal menikah kata yang ditunggu adalah positif, sekarang kata yang didambakan adalah kata negatif. ?

Hari Selasa sore dia minta diantar oleh anak saya yang nomor dua untuk tes rapid antigen di klinik Medika Antapani. Setelah menunggu tiga puluh menit, hasilnya keluar. Qadarullah, positif!

Saya pun terhenyak mendengarnya. Sudah dua tahun sejak pandemi dimulai bulan Maret 2020, belum pernah ada kasus positif di rumah kami. Akhirnya pertahanan itu jebol juga. Yang terkena adalah istri saya yang mungkin dapat oleh-oleh virus di Surabaya atau di atas kereta api (Bandung-Surabaya naik kereta Argo Wilis pp). Tak tahulah dapat di mana. Istri sudah vaksin dua kali. Anak-anak di rumah juga sudah vaksin dua kali, sedangkan saya sudah booster (vaksin ketiga).

Setelah istri sampai di rumah, maka SOP pun saya terapkan. Istri isoman saja di kamarnya. Keluar hanya jika ke kamar mandi saja. Kalau keluar kamar pun harus pakai masker. Makan minum saya antarkan ke depan pintu kamar. Anak-anak diminta tidak ke kamar ibunya dan tidak berada dekat-dekat dengan ibunya. Kalau istri mau keluar kamar, maka anak-anak saya suruh mengumpet dulu di kamar. Pembantu rumah tangga pun saya suruh menjauh ke belakang rumah. Hehehe…, agak parno ya, tapi bagaimana lagi, ini kan dalam rangka ikhtiar tidak terkena. Kalau terkena semua kan gawat. Apalagi kami punya anak sulung yang ABK (anak berkebutuhan khusus), yang tidak paham apa itu covid, dan tidak mungkin bisa diisolasi jika terkena. Dia tidak bisa diam. Maklum anak autis.

Setelah berdiskusi dengan istri via WA, akhirnya pembantu rumah tangga yang biasa datang pagi dan pulang sore terpaksa saya “rumahkan”. Tidak usah masuk kerja dulu, karena dia punya komorbid, diabetes, dan lagipula dia belum pernah vaksin sama sekali (karenakadar gulanya tinggi, di atas 200 sehingga tidak bisa divaksinasi). Jika dia terkena bisa parah ‘kan.

Setelah pembantu pulang, malam hari anak sulung yang ABK itu badannya panas. Semalaman dia gelisah tidur. Saya pun agak panik. Jangan-jangan…. ah, tetapi pikiran itu saya buang, karena anak sulung ini mudah masuk angin. Jika masuk angin maka badannya pasti demam. Saya ukur suhunya 38 deajat. Saya pun tidak bisa tidur semalaman karena si sulung terus terbangun. Saya kompres dahinya, saya usap badannya dengan minyak kayu putih, dan saya minumkan Decolgen. Itu cara saya yang biasa menurunkan demamnya.

Besok pagi panas si sulung mulai turun. Dia mulai ceria lagi. Tapi sore harinya panasnya mulai naik lagi. Minum Decolgen lagi, dan alhamdulillah malamnya sudah normal kembali. Jadi saya makin yakin dia memang masuk angin saja. Tinggal saya yang karena tidak tidur semalaman maka badang terasa tidak enak, tetapi tidak panas. Batuk mulai satu-satu.

Kembali ke istri saya. Dia hanya di kamar saja, tidur saja, karena badan tidak enak. Batuk pun mulai keras. Obat gratis yang diharapkan dikirim dari Kemenkes tidak datang-datang, padahal di aplikasi Peduli Lindungi statusnya sudah hitam (yang berarti terkena covid). Kemenkes sudah menghubungi istri via WA, tetapi anehnya disuruh menghubungi Puskesmas Kuta, Bali. Kacau nggak tuh data di Peduli Lindungi, kok Kuta? Ini kan di Bandung Jawa Barat gaesss. Hehehe…

Akhirnya saya menghubungi, Rosye, teman di Dinas Kesehatan Kota Bandung, minta dikirimi obat untuk penderita covid. Kok nggak dari awal-awal, katanya? Dengan sigap dia kirim paket obat ke rumah via gojek. Isinya tiga macam obat: pertama obat antivirus yang namanya Avigan, lalu multivitamin + zinc, dan terakhir vitamin D3 1000 IU. Avigan sebanyak 40 tablet, diminum pada hari pertama 2 x 8 butir (haaa? 8 butir sekali minum? ), hari ke-2 sampai hari ke-5 sebanyak 2 x 3 butir. Multivitamin satu kali sehari saja untuk 10 hari. Kalau badan masih panas minum parasetamol saja. Begitu juga kalau batuk pakai obat pasaran saja.

Jadi, selain istri, di rumah hanya saya dan si sulung ABK yang gejalanya seperti orang positif covid karena ada batuk dan sedikit pilek, sedangkan si tengah dan si bungsu tidak apa-apa. Maklum mereka berdua lebih banyak di kamar saja. Saya sendiri antara yakin dan tidak yakin ini covid atau bukan, karena gejalanya mirip dengan flu. Kalau mau kepastian positif atau negatif sih tes antigen atau PCR saja. Mungkin saya dan si sulung OTG, tapi anggap sajalah terkena omicron, jadi tidak perlu dites lagi. Toh dua hari juga sudah sembuh, hanya tersisa batuk sesekali. Resep yang saya tulis pada tulisan sebelumnya benar-benar saya laksanakan, yaitu minum air putih sesering mungkin, berjemur pagi, minum multvitamin. Kasus covid oleh virus omicron memang cepat sembuhnya karena gejalanya ringan bagi orang yang sudah vaksin dua kali dan tidak punya komorbid.

Istri saya yang karena tes rapid antigennya di Antapani, maka datanya cepat masuk ke Puskesmas Jajaway dan ke Satgas covid di RW kami. Pada hari kelima datanglah Pak RW dan Bu RW ke rumah mengantar paket sembako. Isinya seplastik telur ayam, pisang, dan madu. Untuk meringankan, katanya. Alhamdulillah, bentuk perhatian dari RW. Ternyata di RT saya yang terkena omicron tidak hanya istri saya saja, tetapi ada 15 orang! Waduh, banyak juga, tapi semuanya gejala ringan.

Setelah sepuluh hari isoman, istri saya merasa sudah lebih baik. Makan sudah enak, kerongkongan sudah tidak sakit lagi, batuk sudah jarang. Tanda hitam di Peduli Lindungi sudah berubah mejadi hijau. Alhamdulillah sudah sembuh, dan besok sudah mulai masuk kerja lagi.

Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.

Written by rinaldimunir

March 7th, 2022 at 9:13 pm

Posted in Pengalamanku