if99.net

IF99 ITB

Bapak Penjual Ember Keliling

without comments

Seorang penjual ember dan baskom keliling lewat di dekat rumah saya di Antapani.  Penampilannya menarik perhatian saya. Hanya bersendal jepit, baju kaos yang sudah baah dengan keringat, dia membawa begitu banyak ember dan baskom berukuran besar-besar. Dua buah baskom dipegang pada masing-masing tangannya, tujuh  buah ember berukuran besar ditumpuk menjadi “topi” menutupi kepalanya, dan beberapa ember serta keranjang plastik diselempangkan di belakang punggungnya.

Berat sekali beban yang dipikulnya. Sambil berjalan kaki, dua ember di tangannya saling diadunya menghasilkan bunyi gaduh untuk menarik perhatian orang. Dia berharap ada orang yang membeli ember atau baskom itu. Dia berkeliling perumahan di Antapani menawarkan embernya.

Saya dulu pernah membeli ember besar dari mamang seperti ini. Harganya sekiitar 60 ribu. Menurut saya ember yang dijualnya sangat kuat, terbuat dari bahan karet yang kenyal. Bahkan diinjak-injak oleh anak kecilpun tidak akan pecah.

Saya tanya ini produksi ember dari mana. Penjual itu mengatatakan pabriknya di Tangerang. Dia hanya menjajakan secara keliling.

Kasihan bapak itu. Sedari tadi dia berkeliling belum ada yang laku. Ketika saya keluar rumah lagi, saya menemukannya berjalan di pinggir jalan besar, masih dengan jumlah ember yang sama.

Bapak penjual ember keliling terus mencoba peruntungan nasib. Mudah-mudahan ada orang yang mau membeli embernya sehingga dia pulang tanpa tangan hampa.  Anak istrinya tentu menunggu jerih payahnya di rumah.

Semoga lelahnya menjadi pahala, berkah dan penghapus dosanya karena mencari rezeki secara halal.

Written by rinaldimunir

February 14th, 2019 at 11:37 am

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Kebiasaanku Bila Bepergian

without comments

Saya punya beberapa kebiasaan jika bepergian ke luar kota.  Kebiasaan ini saya lakukan adalah hasil lesson learned dari kejadian apes  yang dialami orang kain, Agar kejadian yang sama tidak menimpa saya, maka saya selalu mengamalkan tiga kebiasaan di bawah ini.

Kebiasaan 1.

Kebiasaan saya kalau pergi ke luar kota adalah selalu meninggalkan SIM, STNK, dll di rumah. Saya cukup membawa KTP dan beberapa ATM. Ini untuk mengantisipasi kalau dompet hilang maka tidak seluruh kartu penting hilang.

Sabtu kemarin ketika pergi tugas mengajar ke Lampung saya tinggalkan lagi SIM dan STNK di rumah. Tapi hari Senin saya lupa memasukkannya ke dalam dompet. Alhasil, ketika bawa motor saya baru sadar ketinggalan di rumah. Sudah tangung mau balik lagi ke rumah. Sudah setengah perjalanan. Saya khawatir saja ada polisi yang razia. Jadilah saya celingak-celinguk dan waspada. Lewat jalan alternatif yang tidak ada polisinya. Nakal.

Ketika pulang kantor kekhawatiran yang sama kena razia terulang lagi. Tapi alhamdulilah tidak ada. Polisinya sibuk mengatur kemacetan saat jam pulang kerja.

Sekarang kalau pergi ke luar kota lagi saya harus pasang alarm di HP: ingat, SIM dan STNK di lemari!!! Alarm itu akan berbunyi pada hari Senin pagi.

Kebiasaan 2

Selain meninggalkan SIM dan STNK di rumah, saya juga punya kebiasaan memasukkan dua kartu ATM di dalam tas ransel setiap pergi ke luar kota (saya backpackeran). Saya punya tiga kartu ATM dari tiga bank berbeda: BNI, Muamalat, dan BSM. BNI buat penampungan gaji PNS, Muamalat dan BSM buat masa depan .

Nah, kartu ATM dan Muamalat saya selipkan di dalam tas ransel. Kartu BNI di dalam dompet. Jadi, jika dompet saya hilang atau ketinggalan, saya tidak panik kehabisaan uang buat makan atau beli tiket bus. Masih ada dua kartu ATM di dalam tas ransel. Bayangkan jika kita berada pada situasi dimana tidak kenal seorang pun di sebuah tempat, kemana mau minta uang? Oh ya, saya juga menyelipkan dua atau tiga lembar uang 10.000-an di dalam tas.

Kebiasaan ini saya lakukan berkaca dari pengalaman seorang teman, rekan saya, yang ketinggalan dompet di tempat penginapan. Dia sudah sampai di bandara tujuan, tetapi mau pulang ke rumah tidak punya uang. Setelah dia bongkar semua sudut di dalam tas ranselnya, alhamdulillah nyelip uang 3000.  Dia akhirnya bisa pulang ke rumah naik angkot.  Dia mengatakan sering memasukkan uang receh ke dalam tasnya, siapa tahu nanti diperlukan saat dibutuhkan. Ternyata memang sangat dibutuhkan saat terjepit seperti itu.

Sebuah peribahasa mengatakan jangan simpan semua telur di dalam satu keranjang. Jatuh keranjang, pecah semua telur. Simpanlah telur di dalam beberapa keranjang.

Kebiasaan 3

Kalau berada di bandara lalu KTP ketinggalan atau hilang, bagaimana? Tentuk kita akan kesulitan melakukan check-in, apalagi SIM juga sudah disimpan di rumah.

Kalau berada diluar negeri lalu paspor hilang, bagaimana? Tidak kita tidak bisa melewati imigrasi. Kepulangan tertunda, harus lapor dulu ke Kedubes.

Saya selalu memfoto semua identitas dan kartu penting: KTP, paspor, kartu NPWP, bahkan halaman pertama buku tabungan. Semua foto ada di dalam memori hp. Bukan apa-apa, jaga-jaga saja kalau ada apa-apa. Memang foto KTP atau paspor tidak bisa dijadikan bukti identitas diri di bandara, tetapi sering berguna jika dianggap “pendatang haram” atau orang tidak jelas. Tunjukkan saja foto identitas tersebut bersama tiket pesawat.

Namun ada sisi praktisnya punya foto identitas penting tersebut. Seringkali pihak pengundang meminta foto kartu NPWP, halaman pertama buku tabungan, dan KTP. Buat bukti potongan pajak katanya. Atau minta foto paspor. Buat dibelikan tiket, katanya. Nah, kita kan tidak selalu bawa paspor , NPWP, buku tabungan. Tapi karena fotonya ada di hp, tinggal kirim saja pakai WA atau email via hp. Tidak repot buka laci lemari mencari dan memfotonya lagi.

Dengan teknologi internet yang sangat mudah saat ini, kita pun dapat menyimpan foto-foto itu secara otomatis di private cloud., misalnya di  onedrive atau dropbox. Kita pun dapat mensinkronkan ponsel dengan Google Photo sehingga setiap kali memotret foto langsung terunggah ke onedrive.

Written by rinaldimunir

February 7th, 2019 at 7:10 am

Posted in Pengalamanku

Terbelah (Lagi) karena Pilpres 2019

without comments

Keterbelahan orang Indonesia akibat Pipres 2014 belum sepenuhnya pulih, sekarang keterbelahan itu semakin menguat menjelang Pemilu Presiden (Pilpres) bulan April 2019 mendatang. Penyebabnya adalah jagoan yang bertarung di Pilpres masih yang itu lagi: Jokowi dan Prabowo. Keduanya revenge kembali pada Pilpres 2019.

Pilpres 2014 masih menyisakan kubu-kubuan antara pendukung Jokowi dan Prabowo. Kedua kubu gontok-gontokan di udara melalui media sosial dan media daring.  Perang kata-kata, perang urat syafaf, dan psycological war antar kedua kubu. Saya kira bersamaan dengan berjalannya waktu perseteruan antara dua kubu akan berkurang, ternyata tidak. Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah arena perseteruan berikutnya karena dua orang calon gubernur DKI kebetulan dari dua kubu yang itu lagi.

Sekarang  menjelang Pilpres 2019 kita merasakan panasnya suasana perseteruan dua kubu. Kubu petahana dan kubu oposisi. Berbagai sindiran, ujaran kebencian, berita hoaks, adu opini, perdebatan, dan adu komentar antara kedua kubu menghiasi media sosial. Banyak pihak merasakan ketidaknyamanan dengan situasi ini. Di media sosial yang kita ikuti (whatsapp, facebook, instagram, twitter, dll) selalu ada saja teman yang berseberangan dengan kita soal pilihan capres mengirim posting yang memburukkan capres lawan. Kalau sudah begitu, persahabatan dan hubungan pertemanan menjadi terganggu karena posting yang memanas-manaskan itu. Left group, unfriend, dan unfollow adalah tindakan ekstrim yang dilakukan sebagian orang ketika teman yang berseberangan dan selalu memburuk-burukkan capres lawan.

Saya yang aktif di Facebook setidaknya mengamati pendukung seorang capres selalu mengirim posting foto, tautan berita, kata-kata atau video yang berisi hal-hal negatif capres lawan. Seolah-olah dengan mengirim posting yang demikian dia merasa puas menghajar kubu lawan, merasa senang telah mentertawakan kedunguan lawan. Dia  merasa mendapat kepuasan batin dengan mem-posting demikian seolah-olah mengatakan “tuh lihat, capres jagoanmu begitu-begini, capresku nggak seperti capresmu“.

Padahal kedua capres tersebut mungkin baik-baik saja hubungan keduanya, tetapi pendukungnya yang mati-matian membela. Kalau dipikir-pikir, capres yang kita bela mati-matian itu belum tentu masih ingat kepada kita kalau nanti menang. Dia naik tahta, kita ya tetap begitu-begitu saja. Sudah sering terjadi, pemimpin yang kita dukung ternyata jauh dari ekspektasi kita. Saat awal-awal terlihat manisnya, tetapi setalah agak lama berkuasa barulah terlihat boroknya. Janji-janji yang diucapkan selama kampanye ternyata bohong belaka. Janji tinggallah janji.

Sayangnya Pilpres kita kali hanya diiukuti oleh dua pasang calon saja. Jokowi cs dan Prabowo cs.  Kita tidak diberikan pilihan ketiga, karena ketika penjaringan capres, undang-undang Pemilu yang baru seolah-olah memustahilkan muncul capres ketiga. Pasangan capres-cawapres hanya boleh diusulkan parpol atau gabungan parpol yang memiliki kursi di DPR minimal 20%. Itu jumlah kursi dari Pemilu 2014 yang lalu, bukan berdasarkan hasil Pemilu yang sekarang. Pada Pemilu sekarang Pileg dan Pilpres bersamaan, jadi tidak mungkin parliementary threshold itu terpenuhi dari hasil Pileg sekarang. Barulah nanti pada Pilpres 2024 tidak ada parliementary threshold lagi, setiap parpol bebas mengusn capresnya sendiri. Tapi itu kan annti, masih lama.

Apa boleh buat, kita hanya disodorkan dua pilihan itu saja. Baik Jokowi maupun Prabowo menurut saya sama-sama capres yang mengecewakan. Jokowi terlalu banyak berjanji dan tidak ditepati, terlalu sering berutang sehingga terus menumpuk, menggunakan aparat penegak hukum sebagai alat kekuasaan untuk melibas lawan, kurang responsif dengan aspirasi mayoritas. Positifnya dia tipe pekerja, sederhana, merakyat, keluarganya tidak terlibat bisnis yang menggunakan kekuasaanya. Sedangkan Prabowo belum punya track record dalam pemerintahan, sering berbicara tanpa data, dan sudah dua kali kalah. Positifnya dia punya karakter tegas karena dari militer. Itu penilaian dari saya lho, anda boleh setuju atau tidak setuju. Meskipun demikian, nanti saat Pilpres saya harus memilih yang terbaik dari yang terburuk. Saya tidak akan golput.

Saya tidak tahu sampai kapan bangsa ini terus terbelah karena berbeda pilihan capres. Apakah pasca 2019 akan terus terpecah dan kubu-kubuan lagi? Wallahu alam. Menurut pengamatan saya, masih terus terjadinya perseteruan dua kubu pendukung Jokowi dan Prabowo pasca 2014 adalalah karena pihak yang menang tidak mau merangkul pihak yang kalah. Pihak yang kalah terus diwacanakan sebagai oposisi dan kelompok pengganggu. Kalau pasca 2019 pihak yang menang tidak mau merangkul kubu yang kalah, saya yakin bangsa ini akan terus terbelah.

Written by rinaldimunir

January 29th, 2019 at 5:35 pm

Posted in Indonesiaku

Punya SIM Lagi Setelah Hangus

without comments

Selama dua tahun saya mengendarai motor dengan SIM C yang sudah hangus. Mati. Penyebabnya adalah saya lupa memperpanjang SIM. Masa berlaku SIM adalah lima tahun, dan tanggal kadaluarsanya sesuai dengan tanggal lahir kita. Nah, masalahnya saya tidak menyadari kalau SIM saya harus diperpanjang sebelum tanggal kadaluarsanya habis. Lupa, benar-benar lupa. Saya kira masih satu tahun lagi kadaluarsanya. Sekarang kepolisian tidak memberi maaf, lewat satu hari dari tanggal kadaluarsa maka SIM kita hangus. Kita harus daftar ulang untuk membuat SIM baru dari awal lagi, harus tes drive lagi, harus ujian teori lagi.

Saya tidak masalah dalam ujian teori, tetapi tes drive itu yang bikin deg-degan. Kenapa deg-degan, sebab jika gagal melewati salah satu tes drive, misalnya kaki menginjak tanah saat melewati lintasan angka 8, maka tes drive gagal. Jika gagal, kita harus mengulang lagi minggu depannya. Jika gagal lagi, maka datang lagi minggu depan, begitu seterusnya sampai berhasil. Tes melewati angka 8 itu yang paling sulit. Tidak masuk akal memang, mana ada dalam kehidupan sehari-hari kita melewati jalur sempit angka 8. Tetapi, karena tesnya demikian maka ya dijalani saja.

Jarang ada peserta yang lolos tes drive satu kali. Beberapa orang yang pernah mengikuti tes drive menceritakan mereka sampai empat hingga enam kali mengulang baru berhasil lolos tes drive. Itu berarti empat minggu hingga enam minggu harus datang ke kantor polisi. Padahal, untuk mengikuti tes drive ini kita harus antri menunggu giliran. Orang yang mengantri juga banyak. Kita perlu menyediakan waktu setengah hari untuk mengikuti tes drive ini. Tentu kita harus mengorbankan waktu kerja. Kalau berulang-ulang mengikuti tes drive ya rugi waktu juga dan buang-buang tenaga.

Tahun 2016, saya mengamati ujian tes drive di Polrestabes Bandung.

Salah satu tes yang paling sulit adalah melintasi jalur angka 8. Banyak peserta yag gagal.

Orang-orang yang tidak mau bersusah payah mengikuti ujian praktek SIM yang berulang-ulang biasanya mengatakan begini: “Sudahlah, ambil SIM tembak saja, beres!”.  SIM tembak? Ah, saya tidak mau. SIM tembak artinya sama saja memberi suap kepada oknum polisi. Pungli. Tidak mendidik, dan yang jelas dosa memberi suap maupun menerima suap. SIM tembak itu tidak prosedural, jalur pintas, lewat jalan belakang. Membuat SIM tembak artinya melalui oknum polisi, kita tidak perlu ikut tes drive atau ujian teori. Pokoknya tinggal beres. Tapi harganya mahal, ada yang bilang 750 ribu, ada yang bilang 800 ribu. Uang itu entah dibagi buat siapa saja. Saya tidak tahu apakah sekarang masih ada praktek SIM tembak itu, karena kepolisian saat ini sudah berbenah dan lebih disiplin menegakkan aturan.

Karena “takut” gagal mengikuti tes  drive, maka selama dua tahun saya membawa motor dengan SIM yang sudah mati.  Nakal saya ini, melanggar aturan. Benar-benar nekat. Saya terpaksa kucing-kucingan supaya tidak bertemu polisi. Ketika melewati suatu jalan, saya harus waspada apakah ada razia. Jika ada, maka saya harus mencari jalan lain. Dua kali saya pernah apes, kena tilang saat ada razia. Tentu saya kena denda atau ikut pengadilan tilang. Namun, saya tidak mau membayar uang damai kepada polisi yang menawarkan dielesaikan di jalan saja.  Tidak. Saya meminta slip tilang berwarna biru, lalu saya membayar denda tilang di Bank BRI (baca: Kena Tilang (lagi), Slip Biru, dan Anti-korupsi).

Namun, perasaan saya tidak tenang setiap kali membawa motor dengan SIM yang sudah mati. Saya merasa bersalah. Namun, saya juga punya perasaan khawatir gagal melewati tes drive. Saya itu orangnya suka gugup jika menjalankan sebuah hal yang baru (curhat nih).  Untuk menghilangkan rasa bersalah, maka saya putuskan saya harus ikut ujian SIM. Harus, tidak bisa saya tunda-tunda lagi. Tapi bagaimana cara bisa lulus tes drive yang sulit itu?

Seminggu sebelum ikut ujian SIM, saya mengikuti pelatihan tes drive di belakang Lotte Jalan Soekarno-Hatta. Saya baru tahu ternyata ada lembaga pelatihan tes drive, baik untuk motor maupun mobil. Lumayan mahal biayanya, 500 ribu. Di sana saya dilatih sampai bisa (lulus) mengikuti tes drive yang sama persis dengan tes drive di kantor polisi. Memang sulit tes drive ini, beberapa kali saya melanggar plang, beberapa kali kaki terpaksa jatuh ke tanah karena tidak seimbang. Yang sangat sulit itu melewati angka 8 dan zig-zag (slalom test). Tetapi pembimbing di sana melatih terus dan memberikan trik dan tips. Akhirnya setelah beberapa kali dicoba akhirnya bisa juga, dan alhamdulillah lulus. Butuh waktu empat jam berlatih tes drive berkali-kali, sebelum akhirnya saya lulus.  Fiuh… Saya pun mendapat sertifikat lulus tes drive.

Sertifikat telah lulus ujian mengemudi

Ketika mendaftar pembuatan SIM di kantor polisi, sertifikat ini saya bawa saat pendaftaran dan dilampirkan pada formulir. Saya perhatikan hampir semua pemohon SIM (baik SIM A maupun SIM C) saya lihat membawa sertifikat lulus mengemudi.

Setiap pemohon SIM hampir semuanya membawa map yang berisi sertifikat lolos tes drive.

Prosedur pembuatan SIM tetap harus dilalui peserta sebanyak 7 loket. Loket satu sampai loket 7.  Tetap antri di loket manapun. Tetap harus ikut tes teori secara daring di depan komputer.

Tes teori

Serius mengikuti ujian teori

Ada 30 soal, soal-soal ujian umumnya tentang tertib berlalu lintas. Peserta ujian harus menjawab benar 21 soal dari 30 soal. Jika kurang dari 21, maka tidak lulus. Peserta yang tidak lulus ujian teori masuk ke ruang simulator. Di sana Pak Polisi menjelaskan cara tertib berlalu lintas kepada peserta yang tidak lulus ujian teori.

Loket simulator

Masuk ke ruang simulator bagi yang tidak lulus ujian teori.

Akhirnya, tibalah di loket 6, yaitu loket untuk tes drive. Ketika tiba di loket 6, ternyata peserta yang membawa sertifikat tidak dipanggil untuk mengikuti tes drive. Makanya saya tidak heran kenapa arena tes drive di luarnya sepi. Ya, karena pemohon SIM sudah lulus tes drive di tempat pelatihan sehingga tidak diuji lagi.  Apakah ini kebijakan baru di kantor polisi, saya tidak tahu. Hmmm…saya masih bertanya-tanya apakah data hasil kelulusan tes drive di tempat pelatihan tersambung secara online ke kantor polisi? Wallahu alam.

Arena tes drive yang sepi.

Dari loket 6 saya langsung langsung ke loket 7 (loket BRI) untuk pembayaran biaya SIM sebesar 100 ribu (untuk SIM A besarnya 120 ribu). Dan akhirnya SIM baru bisa diambil di ruang sebelahnya. Proses pembuatan SIM ini hanya memakan waktu 2 sampai 3 jam saja, kecuali jika jaringan tiba-tiba mati (offline) seperti hari ini. Sangat mudah membuat SIM sekarang ini. Kepolisian saat ini telah berevolusi menjadi lebih mangkus dan sangkil. Lebih ramah melayani, dan no tips.

Alhamdulillah, sekarang saya sudah memiliki SIM yang baru. Saya jadi tenang membawa motor, tidak takut razia lagi. Saya juga senang karena lulus godaan membuat SIM tembak atau lewat  calo. Saya akui memang saya mengeluarkan biaya tambahan sebesar 500 ribu untuk ikut pelatihan tes mengemudi sehingga biaya membuat SIM menjadi 600 ribu, tidak jauh beda dengan biaya SIM tembak. Tidak masalah. Saya tidak mempersoalkan  biaya tambahan 500 ribu itu, tetapi saya telah menghemat waktu karena tidak ikut tes drive berminggu-minggu di kantor polisi. Uang bisa dicari lagi, tetapi waktu sangat berharga untuk dibuang. Dan yang paling penting, saya telah mengikuti semua ujian SIM secara prosedural, tidak lewat calo atau pakai perantara.

Ayo bikin SIM sendiri tanpa nembak, tanpa calo, dan tanpa pakai biro jasa. Mudah kok dan cepat.

Written by rinaldimunir

January 25th, 2019 at 3:58 pm

Posted in Pengalamanku

Berkunjung ke Kota Kupang

without comments

Beberapa waktu yang lalu saya menginjakkan kaki pertama kali di Tanah Timor, tepatnya ke kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Saya berkunjung ke kota Kupang dalam rangka memantau kemajuan hasil penelitian rekan dosen di Politeknik Negeri Kupang. Hibah penelitan ini berasal dari Kemenristekdikti dengan skema PKPT (Peneliti Kerjasama Perguruan Tinggi) dengan ITB sebagai mitranya.

Tidak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Kupang, jadi saya menggunakan penerbangan transit. Dari Bandung saya transit di Denpasar dengan Garuda, lalu dari Denpasar terbang dengan maskapai yang sama ke Kupang.  Saya tiba di Bandara El Tari  Kupang pukul 21.30 malam. Rekan saya dosen dari Poltek Kupang, Daniel Bataona,  menjemput di Bandara.

Bandara El Tari Kupang. Ikon alat musik Sasando terlihat di atas nama bandara

Kota Kupang terletak di Pulau Timor dan menjadi ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  Propinsi NTT adalah propinsi kepulauan yang mencakup ratusan pulau. Pulau utama adalah Pulau Timor, Pulau Sumba, Pulau Flores, Pulau Alor, dan Pulau Rote. Pulau Timor sendiri terbagi menjadi dua negara. Sebelah timur Pulau Timor adalah negara Timor Leste yang dulu pernah menjadi propinsi ke 27 di Indonesia dengan nama Timor Timur.

Peta Propinsi NTT dengan ibukotanya Kupang  (Sumber: ttps://www.lavalontouristinfo.com/lavalon/map-ntt.htm)

Saya menginap di Hotel Neo yang tidak jauh dari Universitas Cendana (Undana) dan Politeknik Negeri Kupang. Politeknik Negeri Kupang bersebelahan letaknya dengan kampus Undana. Dari kamar hotel saya dapat melihat kalau tanah di kota Kupang banyak  unsur batu karang, sehingga kota Kupang dinamakan juga Kota Karang.

Batu karang yang menyusun tanah kota Kupang. Laut

Kota Kupang bercuaca panas. Panasnya terik.  Curah hujan di sini cukup rendah dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Dikutip dari laman Wikipedia, curah hujan selama tahun 2010 tercatat 1.720,4 mm dan hari hujan sebanyak 152 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, yaitu tercatat 598,3 mm, sedangkan hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 28 hari hujan.

Meskipun panas, namun saya mengagumi langit di kota Kupang. Langitnya biru bersih tanpa polusi, biru sebenar-benar biru, tanpa ada awan. Saya mengunjungi kota Kupang pada bulan Oktober, masih musim kemarau saat itu. Langit biru bersih seperti ini jarang saya lihat di Pulau Jawa. Saya berfoto di depan rektorat Undana, lihatlah birunya langit di atas kota Kupang. Tidak heran jika observatorium  bintang rencananya akan dibangun di Kota Kupang. Langit di Pulau Jawa sudah terkontaminasi polusi sehingga perlu dibuat observatorium kedua setelah Lembang.

Birunya langit di atas Kota Kupang

Menyusuri jalanan di kota Kupang maka yang saya lihat adalah pemandangan yang kering. Mungkin karena sedang musim kemarau maka pemandangan di kota Kupang sangat khas.  Pohon-pohon sepe, pohon khas di Kupang, berdiri meranggas di sepanjang jalan.

Pemandangan khas sepanjang jalan di kota Kupang, pohon sepe sepanjang jalan

Pohon-pohon sepe di sepanjang jalan di dalam kampus Undana

Di bawah lindungan pohon sepe

Tapi jangan salah, kata teman saya di Kupang, pada buan Desember pohon-pohon sepe itu berbunga dengan indahnya. Bunga-bunga merahnya keluar, menyembul dari balik daun, menjadikanya seperti bunga Sakura yang mekar di Jepang, seperti foto di bawah ini yang bersumber dari situs ini. Foto-foto kota Kupang yang berbunga pada bulan Desember dapat dilihat pada tulisan “Sepe, Sang Bunga Harapan” The December Flower, dan tulisan Mekarnya Bunga Sepe, Jadi Momen Terbaik untuk Traveling ke Kupang.

Pohon sepe berbunga merah pada bulan Desember (Sumber: https://cvaristonkupang.com/2013/11/27/sepe-sang-bunga-harapan-the-december-flower/)

Kota Kupang terletak  di pinggir pantai. Pantainya berpasir putih dan bersih, ombaknya tidak terlalu besar. Salah satu pantai di dalam kota yang saya kunjungi adalah Pantai Pasir Panjang.  Banyak pohon di pantai ini sehingga tidak terasa gerah. Duduk-duduk di sini saja bisa membuat kitatertidur. Anginnya itu sepoi-sepoi menghanyutkan.

Pantai Pasir Panjang

Di pinggir pantai ini ada sebuah restoran seafood yang cukup luas dan asri, di sanalah saya dan teman menikmati makan siang dengan hidangan seafood. Masakan ikan yang khas di Kupang adalah ikan kuah asam. Kuahnya bukan dari santan, tetapi dari air yang yang sudah mengandung bumbu-bumbu seperti kunyit, laos, bawang, cabe rawit, dan-lain, dan tentu saja jeruk asam.  Selain ikan kuah asam, salad tuna juga masakan khas di Kupang.

Rumah makan seafood di pantai Pasir Panjang

Salad ikan tuna yang yummy

Saya sampai lupa menceritakan kalau tugas utama saya ke Kupang adalah melihat kemajuan hasil penelitian penelitian kami di Politeknik Negeri Kupang. Purwarupa aplikasi Powerplan (Power Point menggunakan LAN) diuji coba oleh mahasiswa di dalam kelas. Dengan aplikasi ini, keterbatasan LCD untuk menayangkan slide presentasi dapat teratasi dengan menggunakan Local Area Network.

Mahasiswa Politeknik Kupang sedang melakukan uji coba aplikasi Powerplan

Wajah-wajah mahasiswa khas Kupang

Bersama dosen Politeknik Negeri Kupang

Malam hari di kota Kupang adalah waktu yang tepat menimati ikan segar di Kampung Solor. Kampung Solor adalah salah satu wilayah yang banyak didiami pemukiman muslim, si sini ada kampung nelayan dan pasar kuliner yang rata-rata menawarkan masakan ikan segar, kepiting, udang dan sebagainya. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan Kampung Solor dijejerkan di sepanjang ruas jalan. Kita tinggal pilih ikan yang mana dan mau dimasakkan apa. Mau dibakar, digoreng, atau dibuat masakan kuah asam kuning. Terserah.

Pasar kuliner di Kampung Solor

Ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan di Kampung Solor

Salah satu warung kuliner di Kampung Solor

Hmmm…ikan bakar yang yummy

Tidak lengkap pulang dari Kupang tanpa membawa oleh-oleh. Salah satu oleh-oleh khas koyta Kupang adalah seí. Seí adalah daging asap, yaitu daging yang diawetkan dengan cara diasap selama berjam-jam. Daging yang digunakan bisa daging babi, daging sapi, atau ikan. Seí adalah tradisi mengawetkan makanan yang berasal dari Pulau Rote, tetapi di Kupang dapat kita temukan penjual seí. Karena saya muslim tentu saya mencari seí  yang halal, salah satunya di kedai Ibu Soekiran di Jalan Muhammad Hatta. Seí dapat diolah lagi menjadi aneka masakan, misalnya digoreng, ditumis, digulai, dipindang, dan sebagainya. Orang Kupang sendiri makan seí dengan sambal khas Kupang yaitu sambal luat. Sambal luat terbuat dari cabe rawit dicampur dengan daun kemangi. Harum dan pedas.

Seí sapi dan se’i ikan tuna

Kedai Ibu Soekiran yang menjual seí halal

Esok harinya sebelum pulang ke Bandung (jadwal pesawat saya sore hari), rekan saya di Politeknik Kupang mengajak menikmati jajanan khas NTT di desa  Oesao, di Kabupaten Kupang. Sepanjang jalan menuju Oesao yang saya lihat adalah alam yang kering dan gersang. Penduduk Pulau Timor sudah biasa hidup dengan kondisi alam yang kering dan panas seperti itu. Saya juga melewati pemukiman penduduk Timor Timur pro integrasi, mereka adalah warga Timor Timur yang menolak referendum dan memilih tetap bergabung dengan  Indonesia. Sungguh menyedihkan melihat rumah-rumah mereka yang seperti bedeng dan jauh dari layak. Pemerintah RI seharusnya memperhatikan nasib mereka

Jajanan khas di Oesao jagung pulut. Jagung pulut adalah jagung putih yang digoreng dengan bumbu-bumbu dan dimakan dengan sambal. Hmmm…enak.

Jagung pulut

Kedai cucur

Jalan raya menuju Kab. Timor Tengah Selatan, Atambua, dan Timor Leste

Dari Oesao saya menuju Bandar El Tari untuk kembali ke Bandung. Meskipun dua hari saya di Kupang, tapi cukup banyak yang saya lihat. Insya Allah lain waktu saya ingin ke Kupang lagi. Jika ada kesempatan saya ingin mengunjungi Timor Leste karena jaraknya tidak terlalu jauh dari Kupang.

Ruang tunggu keberangkatan di Bandara El Tari

See you, Kupang!

Written by rinaldimunir

January 17th, 2019 at 5:06 pm

Posted in Cerita perjalanan

Lima Ratus Rupiah yang Berarti

without comments

Beberapa kali melewati sekitar Jalan Supratman Bandung saya sering melihat bapak bersepeda dengan tulisan di depan sepedanya “Isi Korek Gas Keliling”.

Kemarin ketika melewati Jalan Cilaki saya melihatnya lagi. Saya pun menghentikannya untuk mengetahui apa yang dia jual. Oh, ternyata dia menawarkan jasa isi korek gas. Korek gas adalah korek api yang memakai bahan gas.

Biasanya kalau kita menggunakan korek apai gas lalu gasnya sudah habis, korek api gas tersebut kita buang. Tetapi bagi Pak Dedi, demikian namanya, korek gas itu bisa jadi sumber rezeki. Dia menawarkan jasa mengisi korek gas yang kosong, hanya 500 rupiah saja sekali isi. Lima ratus yang tidak berarti apa-apa pada zaman sekarang, tetapi bagi Pak lima ratus rupiah Dedi sangat berarti.

Pak Dedi juga menjual korek gas kosong. Korek gas itu dibelinya dari pemulung, lalu dibentuknya dengan sentuhan seni sehingga meliuk-liuk. Kita bisa membeli korek gas kosong itu beserta isi gasnya. Harganya hanya 2000 rupiah saja beserta isi gasnya, berikut batere kecil untuk pemantik api.

Saya memperhatikan Pak Dedi cara memasukkan gas ke dalam korek kosong. Saya beli tiga buah korek gasnya yang antik itu beserta isi gasnya. Pak Dedi bilang 5000 rupiah saja untuk tiga buah korek api gas beserta isi gasnya. Ketika saya lebihkan membayarnyam, dia kaget. Ini terlalu banyak, katanya. Tidak apa-apa, buat bapak saja, kata saya. Saya pun berlalu meninggalkannya.

Zaman sekarang ketika orang sudah jarang menggunakan kompor minyak tanah, korek api mungkin tidak terlalu diperlukan. Cukup klik kompor gas, lalu kompor menyala. Mungkin korek api gas maupun korek api biasa masih dibutuhkan kaum perokok. Atau, dibutuhkan kalau pergi camping untuk membakar api unggun.

Menurut saya pekerjaan mengisi gas korek ini terbilang unik dan langka, namun masih ada orang yang mau menjalaninya dengan tekun dan tabah. Tuhan selalu punya cara memberikan rezeki bagi makhluk-Nya.

Kalau Anda bertemu Pak Dedi berkeliling di jalan, belilah korek gasnya, atau isilah korek gas yang kosong di rumahmu dengan gas yang dijualnya. Hanya 500 perak saja. Sambil membantu dia mencari rezeki halal.

Written by rinaldimunir

January 15th, 2019 at 3:03 pm

Berdamai dengan Diri Sendiri (Dialog dengan Mahasiswaku)

without comments

Sambil berjalan kaki dari Masjid Salman ke Labtek 5 di Kampus Ganesha, seorang mahasiswa yang ikut berjalan di samping saya menceritakan dirinya yang sekarang telah berubah. Selama dua tahun dia merasa tidak punya motivasi kuliah, tidak semangat, merasa tidak cocok kuliah di Informatika. IPK pas-pasan. Jauh tertinggal dari teman seangkatan.

+ Lalu apa yang membuatmu sekarang berubah? Tanya saya.

– Saya mencoba mengerjakan proyek kecil-kecilan, pak. Tidak apa-apa dibayar murah. Itu cara saya untuk menyukai bidang Informatika.

+ Berapa nilai proyeknya?, tanya saya lagi.

– Satu juta saja, Pak.

+ Oh, tak apa-apa, biar kecil, yang penting kamu mulai menyukai bidangmu. Lalu apa lagi?

– Saya mencoba memasukkan lamaran magang ke beberapa perusahaan dari situs online. Tetapi semua ditolak. Ndak masalah. Saya mau coba cari lagi untuk mengisi liburan semester Desember dan Januari ini.

+ Baguslah. Itu artinya kamu sekarang sudah berdamai dengan dirimu sendiri. Perlu dua tahun untuk merenung. Belum terlambat. Kalau di tingkat empat kamu baru sadar, barulah itu terlambat.

…….

Dialog berakhir. Saya sudah sampai ke ruangan saya. Diapun berbalik pergi.

 

******

Begitulah. Setiap tahun ada saja di antara mahasiswa saya yang keteteran dalam kuliah. Ketinggalan dari teman-temannya yang lain. Penyebabnya macam-macam. Tidak semangat, tidak punya motivasi, malas, kecanduan game, dan sebagainya. Padahal mereka tidaklah bodoh. Kalau bodoh, tentu kamu tidak mungkin bisa lolos masuk Informatika STEI- ITB, kata saya selalu setiap memberi wejangan di kelas. Lolos masuk STEI-ITB itu susah, passing grade-nya paling tinggi se-Indonesia. Seharusnya kamu bersyukur bisa masuk ke sini, kata saya lagi.

Jika tidak mau mengubah diri sendiri, maka dunia tidak akan berubah. Apakah seterusnya malas, merasa kurang semangat? Wejangan dan nasehat setumpuk tidak mempan.

Saya yakin, mereka-mereka yang merasa tidak semangat kuliah itu karena belum berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Mereka selalu dihantuai rasa bersalah sebagai orang yang tiada beruna. Hanya menghabiskan kiriman dari orangtua, tetapi di Bandung kuliah tanpa ada rasa.

Untunglah ada saja mahasiswa model begini tersadar. Setahun dua tahun habis waktunya untuk berperang dengan batin. Akhirnya dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dia bangkit dari kekeliruannya yang selama ini sia-sia saja membuangbuang waktu. Mahasiwaku di atas contohnya.

Written by rinaldimunir

January 11th, 2019 at 5:12 pm

“Harta Karun” dari Almarhumah Ibunda; Rezeki Anak Sholeh

without comments

Tukang ojek langganan anakku, yang selama 5 tahun ini selalu mengantar jemput anakku ke sekolah, tiba-tiba mendapat “harta karun” yang tak terkira.

Jadi begini ceritanya (dulu saya pernah tuliskan di sini: Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke).  Tukang ojek ini dan istrinya (mereka belum punya anak) hidupnya susah. Namun dia adalah tipe anak yang berbakti kepada orangtuanya. Sudah tiga tahun lebih ibunya terbaring tidak berdaya di atas kasur karena terkena stroke. Lumpuh. Segala-galanya dilakukan di atas kasur. Tidur, mandi, makan, pipis, BAB, semua di atas kasur. Sudah menipis badannya, tinggal tulang saja.

Namun tukang ojek langganan anakku ini merawat ibunya dengan sabar dan telaten. Sebelum mengantar anakku ke sekolah, dia mandikan dulu ibunya di atas kasur (dilap). Setelah itu diberinya makan. Setiap hari Minggu pagi dijemur di bawah sinar matahari pagi. Selama dia mencari nafkah, istrinya yang di rumah yang mengurus ibunya. Jika ibunya BAB, dia yang membersihkan kotorannya, membersihkan pipisnya. Memang pakai pampers, tapi pampers jika penuh dengan kotoran BAB tetap harus diganti. Satu pampers setiap hari. Sudah habis barang-barang di rumahnya dijual untuk biaya pengobatan dan biaya kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaan merawat ibunya ini dilakukan sudah hampir tiga tahun lebih. Pada bulan Agustus 2018 yang lalu, bertepatan saat saya masih menunaikan ibadah haji di Mekkah, ibunya dipanggil oleh Allah SWT. Wafat. Berakhirlah penderitaan ibunya, , dan berakhir pulalah tugas ia merawat ibunya. Mungkin itulah jalan terbaik menurut Allah SWT.

Pada bulan November 2018, ketika tukang ojek anakku membersihkan lemari tua ibunya, dia menemukan “harta karun” tak disangka-sangka. Sebuah surat tanah di Kabupaten Cianjur seluas 5000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya. Selama ini ibunya tidak pernah bercerita tentang surat tanah tersebut.

Bergegas dia dan keluarganya mencari lokasi tanah itu di Cianjur. Ternyata memang benar ada. Karena sudah lama tidak diurus (15 tahun lebih), tanah itu dirawat oleh kelurahan di Cianjur. Tanah masih kosong, hanya ditanami tanaman palawija. Segeralah tanah itu diurus sertifikatnya melalui notaris.

Jika tanah tersebut dijual dengan harga 300.000/M2, dia akan mendapat uang sebesar Rp 1,5 milyar. Mungkin harga bisa naik lagi karena tanah itu terletak di pinggir jalan raya, cocok untuk perumahan atau hotel.

Alhamdulillah, saya pun ikut bersyukur dan berbahagia. Ternyata alamarhumah ibunya meninggalkan warisan berupa “harta karun” yang besar sekali nilainya.

Saya katakan kepadanya, bahwa tanah itu tidak sekedar warisan, tetapi mungkin balasan dari Allah SWT atas baktinya merawat ibunya yang sakit stroke selama bertahun-tahun. Rezeki anak Sholeh.

Written by rinaldimunir

January 7th, 2019 at 4:34 pm