if99.net

IF99 ITB

Nasib Partai-partai Islam pada Pemilu 2019

without comments

Kasus  penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). M Romahurmuziy,  oleh KPK pada hari Jumat minggu lalu mengagetkan publik di tanah air. KPK terlah menetapkannya Rommy, demikian namanya, sebagai tersangka. Seorang Ketum partai berasaskan Islam terlibat menerima suap terkait pengaturan jabatan tinggi di Kementerian Agama. Sedih dan miris. Bagaimana tidak miris, dia membawa nama partai Islam, lambang partainya ka’bah, tetapi perilaku korupsinya bertolak belakang dengan asas partai maupun lambang partainya.

Ketika partai belum sebanyak sekarang (hanya ada Golkar, PPP, dan PDI(P)), saya dulu adalah salah satu pemilih PPP.  Dengan kasus OTT Rommy oleh KPK ini, tentu masyarakat akan memberikan hukuman sosial kepada PPP. Apalagi Pemilu tinggal satu bulan lagi.  Peristiwa OTT terhadap Ketum PPP bagaikan tsunami yang akan meruntuhkan kepercayaan publik kepadanya. Hukuman sosial dari publik jauh lebih kejam daripada hukuman terhadap Ketum itu sendiri. Masih ingat kita ketika Partai Demokrat dilanda kasus korupsi yang dilakukan para kadernya, suara Demokrat langsung turun drastis. Begitu pula kasus korupsi yang menimpa Presiden PKS yang berdampak pada suara PKS. tapi untunglah kedua partai ini dapat bangkit kembali.

Sekarang PPP yang kena. Saya merasa sedih dan prihatin melihat nasib partai PPP dan partai-partai berasaskan Islam lainnya atau mempunyai basis massa dari kalangan ormas Islam (PKS, PKB, PBB, dan PAN).  Sebagai salah satu aset umat Islam seharusnya partai-partai Islam itu harus dijaga tetap eksis dan besar. Di parlemen wakil-wakil partai Islamlah yang vokal menentang UU yang kurang ramah dengan kepentingan ummat.

Tetapi makin ke sini partai-partai Islam semakin kerdil. Kecuali PKB yang mungkin masih bisa bertahan karena memiliki pemilih yang loyal dari kalangan nahdlyin (NU), saat ini pemilih sudah banyak tidak tertarik dengan partai berbasis agama, karena partai-partai itu kurang inovatif, kurang kreatif, dan berkutat pada jargon-jargon yang itu-itu saja. Partai-partai Islam hanya mendekati ummat ketika mau pemilu saja. Di luar pemilu mereka nyaris sama saja dengan partai-partai nasionalis atau partai sekuler.

Banyaknya kader partai Islam yang terlibat korupsi atau perilaku amoral lainnya membuat ummat melihat mereka hampir tidak ada bedanya dengan kader partai nasionalis. Kelakuannya sama saja.

Peristiwa yang menimpa Rommi pasti membuat kepercayaan ummat makin jatuh ke titik nadir. Perilaku elit partai-partai Islam yang jauh dari aspirasi akar rumput membuat partai Islam makin ditinggalkan ummat. Pilkada DKI tahun 2017 adalah contohnya.  Saat itu PPP dan PKB malah malah mendukung Cagub kontroversial yang terlibat kasus penistaan agama.  Demi kepentingan pragmatis dan kekuasaan semata, elit-elit partai Islam mengambil pilihan yang berbeda dengan suara akar rumput. Pada Pilpres 2019 pun terulang kembali, elit-elit partai-partai Islam seperti PPP dan PBB berlawanan dengan suara akar rumput dalam mendukung Capres.

Hasil-hasil survey sementara menunjukkan posisi partai-partai Islam terancam tidak lolos parliamentary threshold sebesar 4%. PKS dan PAN di ujung tanduk, PBB hanya mendapat nol koma, PPP mungkin akan tenggelam karena kasus Rommi, hanya PKB yang mungkin bisa lolos. Hasil pastinya baru kita ketahui setelah tanggal 17 April 2019.

Sekarang apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Sulit meraih kepercayaan ummat lagi. Kepercayaan ummat dirusak oleh kelakuan para elit partai-parttai Islam.

Written by rinaldimunir

March 19th, 2019 at 2:42 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

2019, Tahun Hilangnya Akal Sehat

without comments

Tahun 2019 adalah tahun yang melelahkan pikiran anak bangsa. Sebentar lagi kita akan melaksanakan Pilpres dan Pileg secara serentak, tetapi pertentangan di tengah masyarakat mengenai Pilpres masuk hingga ke ranah privat. Banjir kiriman berita hoaks, kata-kata dan gambar hasutan, serta ujaran kebencian masuk ke ponsel kita. Pendukung kedua kubu 01 dan 02 perang kata-kata untuk membela jagoannya sambil mendegradasikan lawannya.

Memang pemilu kali ini ada pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (Pileg, meliputi anggota DPR, DPRD Propinsi, D{RD Kota/Kabupaten, dan DPD), tetapi Pileg tenggelam oleh hiruk pikuk Pilpres. Masyarakat lebih memperhatikan Pilpres ketimbang Pileg.  Hingga hari ini saya, dan mungkin juga publik seperti anda, tidak pernah tahu atau malas mencari tahu tentang calon legislatif yang akan dipilih. Jika sampai hari H demikian kondisinya, maka Pileg akan mundur seperti Pemilu dua periode sebelumnya, yaitu menusuk lambang partai ketimbang meusuk foto caleg.

Pilpres hanya diikuti oleh dua pasang calon (paslon), Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf, namun masyarakat sudah terlanjur terbelah karena mendukung salah satu paslon. Masalahnya dalam mendukung jagoannya, seringkali pendukung terlalu berlebihan alih-alih kebablasan. Sudah tidak rasional lagi bicaranya.

Marilah kita lihat dua kasus berbeda, masing-masing pada setiap kubu 01 dan 02. Pendukung 01 (Jokowi-Ma’ruf) terlalu jumawa dalam membanggakan keberhasilan Jokowi membangun proyek infrastruktur seperti jalan tol. Saking jumawanya mereka mengancam masyarakat yang tidak memilih Jokowi dilarang lewat jalan tol yang dibangun oleh Jokowi. Menurut saya ini pikiran kekanak-kanakan, Kenapa pakai larang melarang segala? Jalan tol itu dibangun dengan uang rakyat, bukan dibangun oleh uang pribadi Jokowi. Maka, siapapun rakyat boleh melewatinya. Membangun proyek infrastruktur adalah kewajiban pemerintah, siapapun presidennya. Jika sampai larang melarang begitu, nanti akan ada serangan balasan dari kubu 02 yang melarang pendukung 01 melewati jalan tol yang dibangun pada era Soeharto atau era SBY. Kacau bukan?

Sekarang kita lihat pula kasus yang irasional pada pendukung 02 (Prabowo-Sandi). Baru-baru ini beredar video viral tiga orang ibu-ibu di Karawang yang mengatakan jika Jokowi menang maka adzan akan dilarang. Lalu video yang sejenis di tempat lain mengatakan jika Jokowi menang maka pernikahan sejenis akan diizinkan. Menurut saya pernyataaan pendukung 02 ini jelas tidak masuk akal. Mana mungkin adzan akan dilarang di negara yang penduduknya mayoritas muslim? Cari mati itu namanya, sebab presiden yang demikian akan berhadapan dengan ratusan juta umat Islam. Tidak mungkinlah Jokowi melarang adzan jika dia menang. Begitu pula, tidak akan mungkin pernikahan sejenis akan dilegalkan di Indonesia yang masyarakatnya masih menjadikan agama sebagai pegangan hidup. Agama manapun melarang pernikahan sejenis. Indonesia tidak akan seperti Eropa yang mengizinkan pernikahan sesama lelaki atau sesama perempuan. Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia adalah tameng terkuat yang akan menentangpernikahan sejenis maupun  LGBT sampai kapanpun karena haram hukumnya.

Masih banyak lagi berita hoaks yang beredar di ruang privat kita dari kedua pendukung capres. Tujuannya satu, menjatuhkan citra lawan dengan fitnah yang keji atau memberi ancaman jika tidak memilih paslon tertentu. Inilah yang saya sebut sudah tidak rasional lagi aksi dukungan dari kedua kubu. Sudah hilang tingkat kewarasannya demi membela jagoannya. Fanatisme yang berlebihan dari pendukung capres telah melunturkan akal sehat. Apa saja mereka sampaikan untuk memanipulasi keadaan. Banyak orang yang gerah dan tidak nyaman dengan kondisi panas seperti ini. Mereka berharap Pilpres cepatlah berlalu. Sudah tidak sehat lagi . Sudah hilang akal sehat.

Written by rinaldimunir

March 15th, 2019 at 2:45 pm

Posted in Indonesiaku

Pentingnya Sering Minum Air Putih

without comments

Saya mendapat kiriman dari seorang teman sebuah berita tentang wafatnya salah satu ahli geologi Indonesia, Rovicky Dwi Putrohari (Alumni Fisika UI). Beliau meninggal dunia karena ada masalah dengan ususnya. Tahun 2016 berliau pernah menulis tentang penyakit ususnya itu, yang disebabkan oleh kurang minum air putih. Berikut tulisannya yang berjudul Allah mengingatkan saya tentang air.

Saya menuliskan tentang air tapi saya malas minum *air putih.* Akibatnya saya ditegur untuk mengamalkan ilmu tidak hanya dibagi tapi juga dipakai sendiri.

Saat ini saya baru saja operasi menyambung usus besar akibat _*”sigmoid diverticulosis”*_ salah satu akibat kurang bagusnya mekanisme pembersihan usus.

Memang benar makanan berserat itu sangat diperlukan untuk mengikat sisa makanan dan mengantarkan ke pembuangan. Namun *air putih* sangat diperlukan sehingga membuat pup itu tidak mengeras, abrasif dan menggelontor seluruh permukaan usus dengan baik.

Penyakit _Diverticulosis_ memang tidak diketahui ahli kesehatan secara pasti penyebabnya. Namun salah satu yg terkena pada saya adalah kurangnya minum air putih. Saya cukup minum (teh tawar, jus dll) hanya menjaga utk tidak dehidrasi tapi semestinya memang harus dibarengi “air putih” utk pembersihan sisa makanan ini.

*Usus itu memang unik*

Usus tersusun dari otot yg tidak sadar, artinya usus itu berkontraksi karena sinkronisasi dengan gerakan otot lainnya. Jadi kalau anda ingin pencernaannya sehat, maka anda WAJIB berolah raga. Otot usus akan bekerja saat otot lain bekerja.

*Usus juga tidak memiliki syaraf perasa* , sehinggga ketika usus terganggu kita sepertinya tidak merasakan apapun. Dan itu yang terjadi pada saya empat bulan lalu.

Siang itu, empat bulan lalu, saya tidak merasakan apapun, namun sorenya saya sama sekali tidak dapat berdiri tegak karena sakit bagian bawah perut. Dan ketika esoknya ke dokter diperiksa memakai CT Scan saya disarankan untuk operasi esok paginya !!

Akhirnya usus saya dipotong 8cm esok harinya. Ususnya juga *belum dapat disambung*. Dan saya harus memakai “stoma”. Pembuangan pup lewat samping.

Barangkali penyakit ini salah satu *”silent killer”* yang harus kita waspadai secara serius, karena bisa muncul tanpa peringatan dini.

Saya menjalani sebagai ostomed selama 4 bulan. Nanti kapan” saya mendongeng ttg ostomed.

Empat hari lalu saya menjalani operasi kedua utk menutup “stoma” yg sudah menemani saya selama 4 bulan sebelumnya. Dan sekarang masih menjalani recovery.

Allah mengingatkan saya tentang manfaat *air putih*.

Saya pernah menulis beberapa artikel tehnis ilmiah populer dongeng geologi tentang Sumur Zam-Zam ini sudah hampir sepuluh tahun lalu. Tapi saya masih diberi peringatan Allah utk mengerti khasiat *air putih*.

Alhamdulillah,
Semoga teguran ini pertanda cintaNya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Pengalaman sakit (alm) Rovicky menyadarkan kita pentingnya sering minum air putih. Banyak orang yang menganggap remeh soal minuma air, jarang minum, dan setelah sakit barulah sadar telah lalai kurang minum.

Bahwa kita harus sering minum air putih untuk menjaga  badan tetap sehat sudah saya buktikan sendiri khasiatnya. Kalau saya merasa agak pusing (saya kadang-kadang memiliki tekanan darah rendah), saya langsung minum banyak air putih, beberapa saat kemudian saya merasa segar kembali. Minum air putih adalah terapi yang ampuh untuk menjaga kestabilan tekanan darah, kesehatan jantung, saluran pencernaan, dan menjaga tubuh agar tetap fit.

Sewaktu menunaikan ibadah haji tahun lalu, ustad pembimbing haji selalu mengingatkan jamaah haji agar sering minum air putih selama di Mekkah dan  Madinah. Tidak hanya untuk mencegah dehidrasi akibat cuaca panas (40-50 derajat celcisu), tetapi untuk menjaga agar tubuh selalu sehat dan tidak gampang sakit.

Sejak tahun lalu sepulang haji saya selalu membiasakan diri sering minum air putih  meskipun sedang tidak haus. Pusing sedikit, langsung minum air putih. Tidak pusingpun selalu minum. Saya sudah kapok sudah tiga kali terkena penyakit ISK (Infeksi Saluran Kemih) yang sakitnya luar biasa, sampai-sampai saya berguling-guling menahan sakit yang tidak terperi di perut bagan bawah. Salah satu cara pencegahan ISK adalah rajin minum air putih untuk membuang bakteri yang menginfeksi saluran kemih. Jika ingin ginjal kita tetap sehat, banyaklah minum air pada siang hari, sedikit minum pada malam hari, dan kosongkan kandung kemih sebelum tidur, demikian tips sehat yang saya baca.

Saya menerima kiriman gambar yang sangat bagus untuk mengingatkan kita agar selalu minum pada waktu-waktu berikut: setelah bangun tidur, sebelum makan, sebelum mandi, dan sebelum pergi tidur.

Minum setelah bangun tidur berfungsi untuk membersihkan organ di dalam tubuh dengan air, lalu kotoran dan kuman di dalam organ itu akan keluar ketika kita buang air kecil.

Minum segelas air sebelum makan bertujuan untuk mengencerkan cairan di dalam saluran pencernaan sehingga makanan yang masuk menjadi lebih mudah untuk dicerna.

Minum  air sebelum mandi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah sehingga tubuh tidak kaget ketika menerima guyuran air.

Minum air sebelum tidur bertujuan untuk menjaga tubuh tetap terhidarsi, tidak kekurangan cairan selama tidur.

Semoga kita tidak lalai untuk menyuskuri nikmat Allah SWT ini berupa khasat air.

Written by rinaldimunir

March 12th, 2019 at 4:44 pm

Posted in Pengalamanku

Mempermasalahkan Istilah “Kafir”

without comments

Bahtsul Masail hasil Konferensi Alim Ulama dan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (NU) di Banjar, Jawa Barat minggu lalu merekomendasikan untuk mengganti istilah “kafir” kepada nonmuslim.  Sebagai gantinya, NU lebih memilih untuk mengajukan istilah “Muwathinun” yang berarti warga negara sebagai gantinya. Menurut kyai di NU, istilah “kafir” dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Seperti dikutip dari sini ( NU dan Usul Penghapusan Label Kafir untuk Nonmuslim), “Abdul Moqsith Ghazali yang jadi pimpinan sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia.”

“Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Alquran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.”

Saya agak heran dengan rekomendasi NU ini. Bukan saya anti, tetapi sebenarnya di mana masalahnya? Dalam konteks muamalah, atau hubungan sesama manusia, saya rasa hampir tidak pernah ada orang Islam Indonesia di dalam pergaulan sehari-hari menyebut saudaranya yang tidak seiman dengan sebutan kafir. Bangsa kita juga mempunyai tata krama dan sopan santun, mereka tidak mau menyakiti hati saudaranya sebangsa dengan sebutan “hai, kafir”, “hai para kafirin”, dan sebagainya. Tidak pernah, saya rasa.

Sebutan kafir hanya kita dengar dalam ceramah-ceramah agama pada konteks teologis, untuk membedakan orang yang beriman kepada Allah SWT dengan orang yang kufur nikmat, yang disebut kafir. Di dalam surat Al-Kafirun Allah sudah dengan tegas menyebut dengan kalimat “ya ayyuhal kaafirun”.  Jadi, bukan dalam konteks muamalah seperti yang disebutkan oleh para kyai.

Setahu saya, orang-orang nosmuslim pun tidak keberatan mereka disebut kafir (dalam pengertian teologis), karena mereka tahu sebutan kafir itu dalam sudut pandang Islam, bukan dalam pemahaman mereka (Baca: Soal Sebutan Kafir Hilang, Walubi: Urusan Mereka Panggil Kami Apa). Dalam sudut pandang agama non-Islam, orang Islam pun tentu dianggap “kafir” dari sudut pandang ajaran mereka, mungkin dengan istilah yang tidak sama tetapi maksudnya kurang lebih sama. Misalnya, sebagai contoh saja, CMIIW (mohon maaf kalau saya  salah memahami), menolak mengimani Kristus sebagai juru selamat tentu dianggap “kafir” dalam pandangan Kristen, atau istilahnya “domba-domba yang tersesat”. Biasa saja bagi orang Islam disebut demikian, dan biasa juga bagi orang non-muslim jika dianggap kafir dalam pemahaman orang Islam.

Tetapi ilmu saya tentu tidak sedalam ilmu para kyai di NU. Pemahaman saya yang sederhana ini tentang kafir memang seperti demikian, saya rasa banyak orang Islam pun sama pemahaman dengan saya. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada masalah dengan istilah kafir, lalu mengapa tiba-tiba menjadi masalah saat ini? Saya tidak mengerti.

Written by rinaldimunir

March 5th, 2019 at 3:58 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Antri Membeli Sate Jando di Jalan Cimandiri

without comments

Hari masih pukul 9 pagi ketika saya melewati Jalan Cimandiri di belakang Gedung Sate Bandung, tetapi belasan orang sudah antre di depan jongko pedagang sate di seberang gedung Program Magister Ekonomi UNPAD. Mereka antri untuk mendapatkan seporsi sate yang terkenal dengan nama sate jando. Nanti saya ceritakan apa arti “jando” itu. Saya yang setiap hari lewat di jalan itu ketika menuju kampus ITB cukup penasaran apa yang membuat orang begitu rela antri hanya untuk mendapatkan sate.

Saya pun mencoba ikut antri untuk mencoba satenya itu. Seorang ibu dibantu beberapa “karyawannya” sedang melayani para pembeli yang antri. Ia menggelar dagangan sate di atas trotoar. Sate dibakar langsung di sana dan pembeli makan di situ juga, duduk di atas kursi plastik atau sambil jongkok di dekat selokan yang membatasi trotoar dengan pagar gedung. Pembeli sate banyak juga orang yang membawa mobil dan sengaja parkir di situ hanya untuk makan sate jando.

Ada tiga macam sate yang dijual Bu Sri Rezeki, demikian namanya. Sate ayam, sate sapi, dan sate jando. Nama yang terakhir ini terdengar aneh, tetapi istilah jando adalah sebutan pembeli untuk sate dari gajih yang diambil dari lemak payudara sapi. Seporsi sate dihidangkan di dalam pincuk daun pisang, ditambah lontong, dan disiram bumbu kuah kacang. Seporsi sate ayam harganya Rp22.000, sedangkan sate sapi atau sate jando Rp24.000.

Rasanya? Lumayan enak. Saya nilai 7,5 lah. Soal rasa memang relatif bagi setiap orang. Bumbunya gurih, bisa ditambah sambal supaya lebih pedas. Sate ini menjadi terkenal karena cerita dari mulut ke mulut lalu dari medsos ke medsos. Nama “jando” memang unik dan memancing penasaran banyak orang, termasuk wisatawan yang ke Bandung. Begitu terkenalnya sate jando ini sehingga ia sudah beberapa kali dimuat di media massa seperti di dalam artikel ini, ini, dan ini, serta beberapa situs kuliner.

Setiap hari sate jando hadir di trotoar Jalan Cimandiri. Keberadaannya menimbulkan simbiosa mutualisme dengan pedagang kaki lima lain di sebelahnya. Pedagang lain yang ikut mangkal di sana adalah pedagang minuman, sop buah, dan baso tahu. Tukang parkir pun menikmati kehadiran pembeli yang menepi memarkir motor dan mobil mereka.

Namun bukan berarti pedagang sate jando ini selalu aman berjualan di sana. Karena mereka berjualan di atas trotoar jalan yang dianggap mengganggu hak pejalan kaki, maka kehadiran Satpol PP yang melakukan razia adalah persoalan klasik yang selalu dihadapi pedagang kaki lima.

Sautu kali saya hendak membeli sate jando, tiba-tiba datanglah Satpol PP. Buyar deh rencana saya membeli sate.  Namun untungnya petugas Satpol PP nya masih “baik”, dagangan Bu Sri Rezeki tidak diangkut, hanya diambil KTP saja lalu dagangannya difoto. Entah ada deal atau apa :-). Hanya sebentar saja, dan bussiness as usual. Kembali seperti biasa dan pembeli pun antri kembali.

Petugas Satpol PP merazia pedagang sate jando

Begitulah sejumput keramaian di sebuah ruas jalan Cimandiri. Jalan Cimandiri yang rindang di belakang Gedung Sate memang menjadi tujuan orang yang hendak mencoba mencicipi sate jando yang terkenal itu.

Jalan Cimandiri

Written by rinaldimunir

February 22nd, 2019 at 3:59 pm

Tidur Siang Sejenak di Kampus

without comments

Setelah jam 14.00 siang biasanya mata saya lelah setelah cukup lama berada di depan komputer atau mengajar. Selain lelah mata, juga lelah otak. Kalau sudah begitu, biasanya saya pergi menuju ruang rapat yang sepi, lalu menyusun kursi-kursi berjejer. Selanjutnya saya merebahkan badan di atas jejeran kursi itu, meletakkan ponsel dan kacamata di atas kursi di depan saya, lalu tiduranlah saya sekitar setengah jam hingga satu jam. Lumayan segar lagi setelah bangun. Otak dan matapun punya hak untuk istirahat.

Rupanya tidur siang adalah sunnah yang dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda (sumber dari sini dan ini):

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim)

Keberkahan tidur siang sejenak juga disebutkan di dalam Al-Quran:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (Ar-Ruum :23)

Jadi, tidur siang itu sunnah. Tidur siang yang dilarang adalah tidur setelah sholat Subuh dan setelah Sholat Ashar.

Tidur sejenak siang hari memiliki manfaat, antara lain membuat pikiran segar kembali untuk beraktivitas berikutnya. Saya pernah membaca sebuah artikel tentang kebiasaan orang Italia dan Spanyol tidur siang. Lepas tengah hari mereka menutup pintu-pintu tokonya untuk tidur siang. Satu jam setelah tidur mereka membuka tokonya kembali.

Beberapa kantor perusahaan IT modern seperti Google menyediakan dipan untuk tidur siang. Karyawannya bisa relax sejenak sejenak dari aktivitas coding. Kantor Bukalapak di Bandung pun menyediakan ruangan tidur lengkap dengan dipannya.

Jadi, tidak salah juga saya tidur sejenak di kantor saat setelah lepas Dhuhur. Kalau saya agak cape, atau kepala berat dan pusing, saya pergi ke ruang rapat itu. Tidak ada kasur, kursi-kursipun jadilah. Tidur dulu ah…..

Written by rinaldimunir

February 18th, 2019 at 4:37 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Bapak Penjual Ember Keliling

without comments

Seorang penjual ember dan baskom keliling lewat di dekat rumah saya di Antapani.  Penampilannya menarik perhatian saya. Hanya bersendal jepit, baju kaos yang sudah baah dengan keringat, dia membawa begitu banyak ember dan baskom berukuran besar-besar. Dua buah baskom dipegang pada masing-masing tangannya, tujuh  buah ember berukuran besar ditumpuk menjadi “topi” menutupi kepalanya, dan beberapa ember serta keranjang plastik diselempangkan di belakang punggungnya.

Berat sekali beban yang dipikulnya. Sambil berjalan kaki, dua ember di tangannya saling diadunya menghasilkan bunyi gaduh untuk menarik perhatian orang. Dia berharap ada orang yang membeli ember atau baskom itu. Dia berkeliling perumahan di Antapani menawarkan embernya.

Saya dulu pernah membeli ember besar dari mamang seperti ini. Harganya sekiitar 60 ribu. Menurut saya ember yang dijualnya sangat kuat, terbuat dari bahan karet yang kenyal. Bahkan diinjak-injak oleh anak kecilpun tidak akan pecah.

Saya tanya ini produksi ember dari mana. Penjual itu mengatatakan pabriknya di Tangerang. Dia hanya menjajakan secara keliling.

Kasihan bapak itu. Sedari tadi dia berkeliling belum ada yang laku. Ketika saya keluar rumah lagi, saya menemukannya berjalan di pinggir jalan besar, masih dengan jumlah ember yang sama.

Bapak penjual ember keliling terus mencoba peruntungan nasib. Mudah-mudahan ada orang yang mau membeli embernya sehingga dia pulang tanpa tangan hampa.  Anak istrinya tentu menunggu jerih payahnya di rumah.

Semoga lelahnya menjadi pahala, berkah dan penghapus dosanya karena mencari rezeki secara halal.

Written by rinaldimunir

February 14th, 2019 at 11:37 am

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Kebiasaanku Bila Bepergian

without comments

Saya punya beberapa kebiasaan jika bepergian ke luar kota.  Kebiasaan ini saya lakukan adalah hasil lesson learned dari kejadian apes  yang dialami orang kain, Agar kejadian yang sama tidak menimpa saya, maka saya selalu mengamalkan tiga kebiasaan di bawah ini.

Kebiasaan 1.

Kebiasaan saya kalau pergi ke luar kota adalah selalu meninggalkan SIM, STNK, dll di rumah. Saya cukup membawa KTP dan beberapa ATM. Ini untuk mengantisipasi kalau dompet hilang maka tidak seluruh kartu penting hilang.

Sabtu kemarin ketika pergi tugas mengajar ke Lampung saya tinggalkan lagi SIM dan STNK di rumah. Tapi hari Senin saya lupa memasukkannya ke dalam dompet. Alhasil, ketika bawa motor saya baru sadar ketinggalan di rumah. Sudah tangung mau balik lagi ke rumah. Sudah setengah perjalanan. Saya khawatir saja ada polisi yang razia. Jadilah saya celingak-celinguk dan waspada. Lewat jalan alternatif yang tidak ada polisinya. Nakal.

Ketika pulang kantor kekhawatiran yang sama kena razia terulang lagi. Tapi alhamdulilah tidak ada. Polisinya sibuk mengatur kemacetan saat jam pulang kerja.

Sekarang kalau pergi ke luar kota lagi saya harus pasang alarm di HP: ingat, SIM dan STNK di lemari!!! Alarm itu akan berbunyi pada hari Senin pagi.

Kebiasaan 2

Selain meninggalkan SIM dan STNK di rumah, saya juga punya kebiasaan memasukkan dua kartu ATM di dalam tas ransel setiap pergi ke luar kota (saya backpackeran). Saya punya tiga kartu ATM dari tiga bank berbeda: BNI, Muamalat, dan BSM. BNI buat penampungan gaji PNS, Muamalat dan BSM buat masa depan .

Nah, kartu ATM dan Muamalat saya selipkan di dalam tas ransel. Kartu BNI di dalam dompet. Jadi, jika dompet saya hilang atau ketinggalan, saya tidak panik kehabisaan uang buat makan atau beli tiket bus. Masih ada dua kartu ATM di dalam tas ransel. Bayangkan jika kita berada pada situasi dimana tidak kenal seorang pun di sebuah tempat, kemana mau minta uang? Oh ya, saya juga menyelipkan dua atau tiga lembar uang 10.000-an di dalam tas.

Kebiasaan ini saya lakukan berkaca dari pengalaman seorang teman, rekan saya, yang ketinggalan dompet di tempat penginapan. Dia sudah sampai di bandara tujuan, tetapi mau pulang ke rumah tidak punya uang. Setelah dia bongkar semua sudut di dalam tas ranselnya, alhamdulillah nyelip uang 3000.  Dia akhirnya bisa pulang ke rumah naik angkot.  Dia mengatakan sering memasukkan uang receh ke dalam tasnya, siapa tahu nanti diperlukan saat dibutuhkan. Ternyata memang sangat dibutuhkan saat terjepit seperti itu.

Sebuah peribahasa mengatakan jangan simpan semua telur di dalam satu keranjang. Jatuh keranjang, pecah semua telur. Simpanlah telur di dalam beberapa keranjang.

Kebiasaan 3

Kalau berada di bandara lalu KTP ketinggalan atau hilang, bagaimana? Tentuk kita akan kesulitan melakukan check-in, apalagi SIM juga sudah disimpan di rumah.

Kalau berada diluar negeri lalu paspor hilang, bagaimana? Tidak kita tidak bisa melewati imigrasi. Kepulangan tertunda, harus lapor dulu ke Kedubes.

Saya selalu memfoto semua identitas dan kartu penting: KTP, paspor, kartu NPWP, bahkan halaman pertama buku tabungan. Semua foto ada di dalam memori hp. Bukan apa-apa, jaga-jaga saja kalau ada apa-apa. Memang foto KTP atau paspor tidak bisa dijadikan bukti identitas diri di bandara, tetapi sering berguna jika dianggap “pendatang haram” atau orang tidak jelas. Tunjukkan saja foto identitas tersebut bersama tiket pesawat.

Namun ada sisi praktisnya punya foto identitas penting tersebut. Seringkali pihak pengundang meminta foto kartu NPWP, halaman pertama buku tabungan, dan KTP. Buat bukti potongan pajak katanya. Atau minta foto paspor. Buat dibelikan tiket, katanya. Nah, kita kan tidak selalu bawa paspor , NPWP, buku tabungan. Tapi karena fotonya ada di hp, tinggal kirim saja pakai WA atau email via hp. Tidak repot buka laci lemari mencari dan memfotonya lagi.

Dengan teknologi internet yang sangat mudah saat ini, kita pun dapat menyimpan foto-foto itu secara otomatis di private cloud., misalnya di  onedrive atau dropbox. Kita pun dapat mensinkronkan ponsel dengan Google Photo sehingga setiap kali memotret foto langsung terunggah ke onedrive.

Written by rinaldimunir

February 7th, 2019 at 7:10 am

Posted in Pengalamanku